Advertisement

Artikel Terbaru

Lihat semua →
Temanku ternyata
Dailylife

Temanku ternyata

Kalo di kelompokkan, mahasiswa disini tinggal berdasarkan tiga kelompok. Pertama, hidup bersama temen-temen se-almamater. Kedua, hidup bersama orang-orang yang satu daerah. Dan yang terakhir, bedasarkan mediator yang membawanya dari Indonesia menuju Mesir. Kebetulan gue tinggal bareng temen-temen almamater. Yang dulunya senior di pondok, sekarang jadi senior disini. Dulunya bagian pengurus masjid, yang tugasnya mukulin santri supaya maju ke shaf depan, sekarang jadi senior di kampus. Terkadang ketika gue memandang wajah senior gue ketika tidur, “Ini manusia, dulu mukul gue pake sajadah supaya maju ke shaf paling depan. Kalo sekarang gue lempar mukanya pake setrika an, kira-kira dosa nggak ya?” Ada empat mahasiswa baru lain, yang tinggal serumah bareng gue. Dan diantara mereka, hanya satu orang yang rajin kuliah maupun belajar langsung dari Syekh. Sisanya, nggak terlalu semangat untuk mengerjakan hal itu. Termasuk gue juga sih. Yah, namanya juga manusia, pasti punya minat y...

·
Perjalanan berat yang ada 'plus-plus'nya
Dailylife

Perjalanan berat yang ada 'plus-plus'nya

Nggak terasa udah empat bulan tinggal di negri orang. Dan selama itu, gue masih belum juga menjiwai negri ini dengan sepenuhnya. Masih ada yang kurang. Seperti orang tersesat di keramian. Layaknya daun yang jatuh terhempas angin. Bicara tentang angin, gue jadi inget kejadian kemarin. Pagi hari, gue diajak Ria untuk mengambil barang titipan di rumah temennya. Namanya Wardah. Kayak kosmetik gitu lah namanya. Sebenernya berat sih, untuk pergi keluar rumah. Walaupun sekarang sudah memasuki akhir musim dingin, tapi tetep aja dingin kalo ke luar rumah. Hal yang biasa dilakukan oleh mahasiswa ketika musim dingin adalah bangun-makan-main PES-tidur-ulangi. Indah. Ketimbang gue harus keluar rumah, dan merasakan dingin yang menusuk tulang. Di Mesir, gue baru tau, bahwa keluar rumah ketika musim dingin itu nggak seperti hari-hari biasanya. Ada alat khusus yang harus digunakan ketika musim dingin. Namanya celana balet. Atau disebut celana monyet. Anak gaul, bilangnya sih celana gem...

·
Dailylife

Cerita seram di Mesir

Semenjak kuliah di Mesir, perlahan dan pasti, gue mulai suka nonton film horor dan acara uji nyali. Rasa suka gue ini didasari keyakinan gue karena tidak mungkin bertemu dengan para demit-demit Indonesia di negri ini. Kota ini terlalu banyak masjid, sehingga setan nggak akan berani singgah disini. Nggak mungkin juga, para kuntilanak mangkal di pohon kurma. Nggak mungkin. Batang pohon kurma tajem-tajem gitu. Bukannya ketawa-ketawa, tapi kuntilanaknya jerit-jerit. ‘AWW...’ ‘AWW....' 'SANAA...' 'SANAA..' Kuntilanak salah gaul. Gue kira, suara aneh itu hanya berasal dari makhluk astral. Ternyata di Mesir ada juga. Kejadian aneh ini terjadi di kantor sekertariat almamater gue. Malam itu, gue diajak main game CTR bareng temen gue. Namanya Arsyada. Sebelumnya, gue nggak tertarik main game ini. Game yang sempet booming ketika zaman gue TK dulu. Zaman dimana, waktu pagi gue habiskan di rental PS, ketimbang ikutan ngaji di TPA masjid deket rumah. Masa-ma...

·
Dailylife

Hal yang gue takutkan, ketika kuliah di Mesir

Terkadang, yang gue takutkan untuk kuliah di luar negri itu adalah lingkungan pertemanannya. Salah satunya sih. Kayaknya tulisan kali ini, bakalan penuh dengan curhatan gue deh. Kalo jujur sama diri sendiri, gue takut kuliah di luar negri. Takut, apa yang diharapkan oleh orang lain, nggak sesuai dengan kenyatannya. Yang orang lain tau, adalah gue kuliah di Mesir, negri yang memiliki sungai Nil, negri yang memiliki bukit Sinai, tempat nabi Musa menerima wahyu, belajar ilmu agama langsung dengan para ahli-ahlinya, dan sebagainya. Intinya, orang yang belajar di Mesir ataupun negri timur tengah lainnya, ilmu agamanya dahsyat. Padahal sejatinya, nggak segampang itu. Nggak segampang om Tukul arwana, nyuruh penontonnya bilang, ‘EAA.. EAAA... EAA’ ‘EAA... EAA.. EAAA’ ‘EAAA.. EAAA’ Terus aja ngomong gitu,sampe onta minum kolak. Disini, gue harus baca tulisan arab lagi, kejar-kejaran sama bis delapan puluh coret untuk bisa sampai kampus, selalu pegang kantong, karena disini banyak...

·