Monday, 4 December 2017

Paman kampus Al-Azhar Mesir

Banyak hal yang tidak mengenakan ketika belajar di Mesir. Walaupun sejatinya, semua hal tidak enak itu hilang seketika, ketika bertemu dengan para ulama-ulama yang sangat baik sekali hatinya dan sangat pemurah dalam mengajarkan ilmu-ilmu agam kepada kami.
Tapi berbeda dengan si paman kampus, yang amat sangat… duh, bahasa yang cocok untuk mendeskripsikan si paman-paman berjenggot ini apa ya. Paman pelatih kesabaran orang? Paman jenggot? Ya itulah pokoknya. Disini disebutnya suun, kalau di Indonesia mungkin seperti bagian Tata Usaha (TU) kampus.
Setiap tahun seluruh mahasiswa Al-Azhar akan mendatangi suun kampus, entah itu untuk mengambil lembaran kertas yang nantinya akan para mahasiswa gunakan untuk membayar di bagian administrasi kampus. Atau untuk mengambil kartu mahasiswa. Atau juga bisa untuk mengambil tanda bukti kita sebagai mahasiswa, dan nantinya berguna sebagai salah satu persyaratan yang harus kita bawa untuk memperpanjang visa kita di Mesir.
Tapi selain tugas paman suun yang sudah gue sebutkan diatas, ada satu hal lainnya yang membuat paman  suun ini selalu diingat oleh para mahasiswa fakultas Syariah.
Sistem perkulihan di Al-Azhar masih mengikuti masa-masa sebelumnya. Yang sebagian besar masih dikerjakan secara manual, secara tulisan tangan. Begitu juga dengan sistem administrasi kampusnya yang dilakukan dengan cara mengantri di khozinah (tempat untuk membayar uang perkuliahan). Harus seperti itu, tidak bisa dengan mentransfer uang pembayaran ke rekening kampus.
Kalau di Indonesia para mahasiswa harus membayar setiap semester, di Al-Azhar hanya membayar sekali setiap tahunnya. Dan jumlah uang yang dikeluarkan tidak lebih dari 300 ribu. Diluar untuk membeli buku-buku pelajaran serta buku-buku pendukung lainnya loh ya.
Jadi kalau secara singkat seperti ini,
Antri suun meminta kertas kecil, tanda untuk membayar- Antri di khozinah untuk membayar -  Antri lagi di suun untuk menyerahkan kwitansi pembayaran dan selanjutnya meminta kartu mahasiswa serta tanda mahasiswa untuk memperpanjang visa tinggal kita di Mesir.
Tapi.
Enggak sesederhana itu di kenyataannya, pak.
Dari rumah, gue berangkat jam tujuh pagi ketika teman-teman gue lebih banyak memilih untuk duduk santai di rumah sambil selimutan, dan meminum the hangat. Perjalanan dari rumah menuju kampus hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk jalan kaki, dan tujuh hari kalau sambil kayang. Sepanjang perjalanan banyak toko-toko yang tertutup rapat, begitu pula anjing liar yang asik tidur diatas kap mobil. Semuanya mager.
Kairo di musim dingin seperti ini memang lebih asik di habiskan dengan meminum teh hangat serta menghirup sisha, selain tidur dibawah selimut tentunya. Biasanya tiap pergi ke kampus, gue akan menemukan paman-paman tersebut sedang duduk santai didepan kafe, sambil berbicara dengan teman sepermainannya. Entah teman sepermainan klereng atau  karambol, gue enggak paham juga. Dan enggak ada niatan untuk bertanya kepada mereka juga sih.
Didepan gedung fakultas Syariah sudah ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku taman. Tujuannya sama seperti gue, untuk mengantri demi selembar kertas. Kebanyakan yang sudah datang adalah para mahasiswa Malaysia serta Indonesia. Biasanya kita akan menunggu diluar gedung, sampai gedung telah dibersihkan. Enggak ada yang tau pastinya selesai jam berapa, yang penting ketika sudah diizinkan masuk, ya baru masuk. Gitu.
Antrian sudah panjang, tapi para paman-paman petugas disini belum ada yang datang. Biasanya mereka akan datang jam Sembilan. Tapi berbeda dengan paman yang akan gue bahas sekarang.
Arah jarum kecil di jam tangan gue mengarah ke angka sepuluh, kemudian datanglah si paman ini dengan membawa segelas kecil teh hangat, denga tampang tak berdosa. Apakah dia peduli dengan banyaknya antrian yang ada didepan ruangannya? Oh tentu tidak. Dari sekian banyak ruangan di lantai satu, hanya ruangan dia saja yang dipenuhi dengan banyaknya mahasiswa seperti ini. Bahkan antrian ini sampai menutup jalan orang memasuki ruangan lainnya. Mantap? YA MANTAP LAH ALIG LU.
Gue masih bingung sih, teman-teman kerja si paman ini kalau lagi jam istirahat enggak ada yang ngomongin apa gitu. Enggak ada yang nyeletuk,
“Kita dateng jam Sembilan, dia enak-enak dateng jam sepuluh. Hih. Kzl”
“Bawa tehnya cuman satu lagi. Iiih”
“Abis kerja nanti kita jadi main karambol kan?”
 Apakah penderitaan kita sudah sampai hanya disitu? Tentu saja belum. Terkadang ketika sudah mengantri, si paman ini dengan santainya mengatakan,
“Yang sudah bayar rusum serta iqomah saja yang boleh”
TERUS YANG BELUM BAYAR ENGGAK BOLEH? PAN KITA NGANTRI BUAT NGAMBIL KERTAS TANDA BUAT BAYAAAAR, DUH ELAH MALIIIH
“Kertas tasdiq(kertas tanda bahwasanya kita mahasiswa di Al-Azhar) abis. Besok saja datangnya”
LU KASIH TAUNYA JANGAN SEKARANG MALIIIH. DARI TADIII PAGI HOY!
Yah. Seperti itu lah kurang lebih.
Kertasnya habis lah. Atau ketika antrian hanya tersisa dua orang lagi didepan kita, tapi tiba-tiba si paman ini keluar ruangan dan dengan santainya mengusir kita pergi dan menyuruh kita datang esok hari. Kzl.
Tapi walaupun begitu, yasudah lah. Sudah terjadi juga. Ikhlas saja. Anggap saja seperti bumbu kehidupan. Pasti si paman ini punya sisi baiknya juga kok, semua orang bukannya seperti itu? Punya sifat baik dan buruk? Dan meskipun begitu, toh kita para mahasiswa disini tetap bisa belajar dengan tenang. Entah belajar di kampus ataupun dengan para masayikh disini. Dan semoga saja bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari nantinya ke orang lain. Amin.
Gile. Bisa bijak gitu lu, nyet

Tuesday, 28 November 2017

Minggu bahagia

Hari minggu ini akan terasa sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Cewe yang pernah gue ceritakan di tulisan ini, ternyata dia mengiyakan ajakan gue untuk jalan bareng. Gue engak tau dia kesambet apa, gue enggak peduli juga, yang penting hari ini gue seneng karena dia mengiyakan ajakan yang enggak bermutu ini. Karena sebelumnya gue susah untuk berbicara berdua dengan cewe ini di pertemuan sebelumnya, sekarang mungkin saatnya untuk bisa mengenal lebih jauh.

https://giphy.com/
Penasaran  sama pertemuan sebelumnya? Bisa dibaca disini loh.
Biasanya yang akan gue lakukan setiap hari minggu, hanya tidur, makan serta main game, tanpa mandi seharian.  Dan kali ini entah kenapa ketika masuk kamar mandi bawaannya senyum-senyum sendiri. Ternyata rasanya naksir sama cewe seperti ini ya. Belum ketemu, sudah ketawa-ketawa geli. Baru membayangkan bisa jalan berdua, senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau sudah ketemu sama cewe ini. Semoga saja gue enggak melakukan hal bodoh yang bisa membuat si cewe jijk.
Hari itu dia memakai krudung berwarna abu-abu serta  kaus hitam panjang dengan pola garis-garis putih. Cantik banget. Walaupun kausnya mirip-mirip zebra cross sih, ya bodo amat lah. Gue masih engga menyangka, cewe cakep seperti dia mau menemani hari minggu gue si serpihan rengginang ini. Anjir. Kenapa nulis paragraf ini jadi senyum-senyum sendiri plus kangen gitu ya.
Nggilani
Rencana gue untuk kali ini, sederhana. Tipikal anak-anak muda lainnya. Menghabiskan seharian dengan orang yang ditaksir, diskusi segala hal, serta nonton bioskop bareng, dan ditutup dengan mengantarkannya kembali ke rumah dengan selamat.
Ketika sampai di salah satu mall di daerah depok, gue langsung menuju ke bioskop. Rencananya hari ini harus nonton film yang sedang hits itu. Pengabdi Setan. Bentar, engga usah mikir aneh-aneh dulu. Gue berani nonton film horror sekarang, karena sebentar lagi gue akan kembali ke Mesir. Dan di Mesir, gue kira enggak akan ada pocong atau kuntilanak, toh yang gue takuti di Mesir nanti bukan setan, melainkan harga mie goreng yang bisa 5x harga di Indonesia. Jadi gue kira nanti gue akan terlihat lebih macho dan nilai plus karena berani nonton film sera mini tanpa tutup mata dan menjerit kayak cewe. Siapa tau kan? Padahal aslinya penakut juga sih gue. Ehe.
Tiket bioskop jam dua siang, sudah habis. Begitu pula dengan jam lima. Yang tersisa hanya di jam delapan malam. Tapi kenapa gue merasa senang dengan hal ini ya? Kalau sedang naksir seseorang memangnya semenjijikan ini ya? Dikit-dikit senyum sendiri, dikit-dikit kangen. Najis.
Gue menghabiskan waktu yang tersisa dengan cewe ini dengan berlama-lama di KFC. Gue kayak orang norak kalau ke KFC disini, karena menemukan berbagai macam menu yang enggak dijual di Mesir. Dan yang terpenting, disini di sediakan nasi dan juga saus sambal yang bebas mau mengambil seberapa banyak. Kalau di Mesir hanya disediakan roti kecil dan dua buah sachet saus tomat. Perut gue di isi lima roti, enggak akan mempan juga. Emang dasarnya kentung, makan roti banyak enggak kenyang.
Mulai dari perkuliahan, dosen di kampus, serta akun lambe turah, semuanya diobrolin. Dan untungnya gue nyambung. Tiga bulan liburan di Jakarta, gue mulai membangkitkan kebiasaan lama yang dulu gue benci. Dan ternyata kebiasaan itu ada gunanya juga. Kebiasaan nonton berita gosip, ternyata mempersatukan diri kami.
Setelah cukup lama di KFC, gue mengajak cewe berkumis tipis ini untuk mencari sup durian. Katanya ada yang menjual sup durian enak disini. Sekitar lima hari untuk bisa ke tempat tersebut dari mall ini.
Engga lucu, nyet
Untuk kali ini gue mungkin akan terlihat bodoh. Karena setelah mencari diluar mall, dan mengikuti petunjuk dari Google, tempat yang gue datangi bukanlah penjual sup durian, melainkan penjual helm. Mantap.
**
Bioskop hari ini benar-benar penuh. Banyak yang menunggu sambil duduk di lantai, karena bangku yang di sediakan diluar teater terlalu sedikit dibandingkan para penonton bioskop. Ada yang sandaran sambil mendengarkan temannya bercerita, ada yang mesra-mesraa, ada yang makan nasi padang. Rame banget lah pokoknya.
Filmnya sendiri, menghibur. Film ini punya aura seram, tapi tanpa perlu menggunakan jump scare. Tapi berhubung gue akan kembali ke Mesir, gue biasa aja gitu. Enggak takut juga. Dan apakah cewe berkumis tipis ini berani? Oh tentu enggak. Sepanjang film,  waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menutupi mukanya dengan krudung dan sesekali menjerit histeris. Gue lebih banyak kaget karena si cewe berkumis tipis ini teriak, ketimbang adegan di filmnya.
Tapi bagaimanapun juga, gue senang bisa menghabiskan seharian bersama cewe berkumis tipis ini. Semua adegan yang terjadi di hari ini sepertinya sudah gue rekam. Mulai dari ekspresi wajahnya saat tertawa mendengarkan cerita sedih gue. Raut wajahnya yang serius ketika membantu gue untuk menemukan arah jalan si penjual durian. Dan wajah teduhnya ketika sedang berbicara ke gue.
Alay
Yang gue harap sekarang ini, semoga waktu cepat berlalu dan bisa membawa gue kembali untuk bertemu dengannya sekali lagi. Dan semoga saja kumisnya enggak bertumbuh lebat ketika gue bertemu dengannya nanti.

Thursday, 16 November 2017

Mahasiswa baru Mesir dan hal positif yang bisa diambil

Asli. Mesir sekarang ini, sudah berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Sekarang kalau mau pergi kemana-mana yang gue lihat segerombolan makhluk berwajah asia, kemudian salah seorang dari mereka mengucapkan kata-kata,
“Cari makan di asyir lah yuk, nyet”
Gue akan dengan sangat yakin untuk mengatakan bahwa gerombolan orang-orang ini adalah pelajar Indonesia. Bukan Malaysia apalagi Thailand. Dulu ketika tahun pertama di Mesir gue masih susah membedakan wajah pelajar Indonesia, Malaysia, dan juga Thailand. Tapi makin kesini, gue mulai sedikit paham perbedaan dari tiga negara tersebut.
Yang jadi masalah, kok gue enggak pernah melihat orang-orang ini sebelumnya ya. Gue sadar,kalau engga semua pelajar Indonesia disini mengenal gue. Begitu pun dengan gue yang tidak mengenal semua orang Indonesia yang berada di Mesir. Tapi seenggaknya, mukanya familiar lah. Tapi kali ini engga sama sekali.
Setelah di pikir lagi, ternyata gue memang sudah bukan anak baru. Sudah ada tiga angkatan dibawah gue. Pantesan saja mukanya enggak ada yang familiar. Kalau lihat gerombolan ini, kadang gue merasa tua. Walaupun gue menolak hal itu, tetep saja muka ini akan memperjelas semuanya bahwa diri gue lebih tua dari mereka, dan lebih pantas di panggil ‘om’ ketimbang ‘abang’. Tapi gue enggak akan peduli juga. Yang harus gue percaya sekarang, bahwa gue lebih keren dari mereka. Lebih keren dari faktor apa, gue pun juga belum tau. Pelan-pelan , nanti juga ketemu. Semoga.
Dan karena hal itu, setiap kali ingin menghadiri acara-acara yang biasa diadakan oleh para mahasiswa Indonesia disini, gue akan selalu kefikiran tentang,
“Duh. Mau dateng, tapi entar enggak ada yang gue kenal”
“Anak barunya kalau lebih galak dari gue, gimana dong?”
“Entar kalo gue beneran dipanggil om sama mereka, gue ngeles apa nih”
Pada akhirnya, gue tetap berada di rumah dan menyibukkan diri dengan menonton drama korea. Sip.
Tapi dengan kehadiran anak baru, gue sepertinya mendapatkan motivasi baru. Melihat anak baru yang rajin mengaji dengan para masayikh bikin gue semangat. Bahkan terkadang majlis yang dihadiri oleh anak baru ini, membuat ruangan penuh sesak bahkan sampai keluar ruangan. Semoga bisa istiqomah ya. Melihat orang-orang yang haus akan ilmu seperti ini, yang melecuti diri gue untuk selalu bangun tiap pagi, dan mencari ilmu. Dan tanpa sadar, membuat diri gue berkata,
"Jangan kalah sama bocah-bocah itu, nyet!"
Btw, sekedar mau ngasih tau aja kalau perkuliahan di Al-Azhar itu tidak ada absensi. Kapasitas ruangannya saja lebih kecil daripada jumlah mahasiswanya. Dan juga, disini tidak ada tugas kampus, serta skripsi.  Gimana, tertarik?
Anak baru sekarang pun berbeda dengan zaman gue kemarin. Mereka ditempatkan di asrama Indonesia di daerah distrik enam. Hanya cowonya saja, yang cewe tetep sama seperti sebelumnya. Tinggal bersama dengan para seniornya masing-masing. Ada sisi positifnya sih buat gue. Karena dengan hal ini, bis yang biasanya selalu gue naiki di terminal dekat rumah gue, enggak akan terlalu penuh sesak di penuhi oleh mereka para mahasiswa baru yang setiap harinya harus datang di kelas bahasa.
Kalau mau melihat dari segi positifnya, banyak juga hal yang bisa diambil ya. Harus mulai sering dibiasakan punya mindset seperti ini nih kedepannya nanti.

Tuesday, 31 October 2017

Gadis berkumis tipis

 “Goblok. Ngapain pake dateng sih”
Kalimat yang sering kali gue ucapkan ketika ingin bertemu dengan orang baru. Entah kemana hilangnya rasa percaya diri yang gue punya ketika di rumah tadi. Setelah datang ke tempat yang telah disepakati, nyali gue malah menciut. Dan sepertinya, gue cukup sering melakukan hal seperti ini. Sifat percaya diri gue digantikan dengan perkataan,
“Mampus dah. Kalau nanti orangnya sampai kabur pas liat muka gue, gimana?”
“Duh, ngobrolin apaan ya entar”
“Bentar. Ketek gue udah engga bau lagi kan”
Mungkin memang gue nya saja yang terlalu overthinking. Ingin memberikan kesan yang baik diawal perjumpaan, malah berakhir dengan meruntuhkan kepercayaan diri sendiri. Tapi untuk yang kali ini wajar saja gue lebih gugup dari biasanya. Karena kali ini gue akan bertemu dengan sosok perempuan manis. Biasanya yang gue lakukan hanya duduk manis, sambil melihat foto-fotonya di akun Instagramnya, dan sekarang bisa bertemu dengannya secara langsung. Masih terasa aneh buat gue.
Entah kerasukan makhluk gaib mana, gue nekat mengajaknya untuk bertemu secara langsung. Padahal biasanya kalau bertemu dengan orang baru, yang gue lakukan hanya banyak diamnya, sedikit ngobrolnya. Yah, semoga saat bertemu nanti, punggung gue ini tidak mengeluarkan banyak keringat. Karena selain bau, gue bakalan malu setengah mati. Dan kemungkinan untuk bisa bertemu kembali sekitar 10%, mungkin? Ah, kayaknya sudah engga ada kemungkinan untuk berjumpa kembali.
Gue juga masih penasaran,kenapa perempuan ini menerima ajakan gue. Berawal dari gue yang mengomentari snapgramnya, kemudian sampai akhirnya bertukaran id Line.  Tapi kalau dibaca ulang jawabannya, dia tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Karena dia hanya membalas ajakan gue dengan chat yang kurang lebih bunyinya seperti ini,
“Gue juga ada acara nanti sore. Kalau mau datang, datang aja. Tapi enggak tau juga nih acara gue selesai jam berapa”
Ini artinya dia mengiyakan ajakan gue? Atau nolak?
Ah elah, semasa bodo amat. Yang penting gue harus datang.
hungryfever.blogspot.com

Jam enam lewat, gue telah sampai di kafe yang disebutkan oleh si gadis manis ini. Tapi engga tau kenapa, fokus gue sudah hilang terhadap gadis yang ingin gue temui. Fikiran gue tergantikan dengan adzan shalat isya yang sebentar lagi akan berkumandang, dan gue masih belum shalat maghrib. Gue selalu merasa hina tiap kali seperti ini, kenapa diri ini lebih asik mengakhirkan shalat, tapi selalu mengharapkan segala permintaan yang diminta untuk cepat dikabulkan. 
“Pak, disini ada musholanya kan?”
“Masuk aja, dek. Nanti belok kiri. Abis itu tanya aja lagi. Saya engga tau juga”
“........”
Ketika pintu telah dibuka, pandangan gue arahkan ke seluruh ruangan, mencari petunjuk arah mushola. Tapi yang gue dapati justru gadis yang ingin gue temui. Raut wajahnya bahagia, sepertinya sedang asyik bercanda dengan teman-temannya yang lain.  Dia  menggunaka kacamata, serta mengenakan krudung berawarna coklat muda.. Duh. Sialan! Manis banget.
Cukup dua menit gue terlihat seperti orang bodoh. Berdiri didepan pintu, dan engga sadar kalau dibelakang sudah ada beberapa pelanggan yang terhalang badan lebar gue, sehingga mereka tidak bisa masuk.  
Itu badan atau papan tulis, nyet?
**
“Boleh gabung?”
“Oh iya”
Seumur-umur, baru kali ini gue melakukan hal memalukan seperti ini. Niatnya ingin berbicara empat mata dengan gadis yang gue kenal dari Instagram, ternyata masih ada dua temannya yang asik bercerita disampingnya. Dan sialnya, setelah gue duduk, mereka bertiga asik bercerita. Gue? Mirip kayak orang bodoh. Duduk, dan berusaha mencermati cerita mereka bertiga. Dan pada akhirnya, gue menyerah. Masih bingung, kenapa perempuan kalau cerita bisa dengan santainya teriak-teriak dan engga merasa haus sama sekali. Selain langkah kaki yang kuat ketika berbelanja, ternyata mereka juga kuat dalam urusan cerita seperti ini. Baru tau gue.
Setelah satu dari mereka pulang, dan baru lah gue bisa berbicara dengan gadis ini. Namanya Nia, dia terlihat manis ketika  sedang tertawa mendengarkan cerita gue. Kacamata yang dia pakai, seolah mempertegas dirinya yang merupakan seorang guru. Gue cukup kaget, ternyata dia mempunyai kumis tipis diatas bibirnya. Kirain yang gue lihat di Instagramnya itu bohongan, ternyata beneran. Kalau di adu lebih tebal mana, kumis gue atau dia, jawabannya ya kumis gue. Kalau pun kumis dia lebih tebal, dengan kesadaran penuh, gue akan balik kanan lalu bubar jalan.
Mari kita abaikan satu temannya Nia yang lain. Gue pun juga lupa siapa namanya. Dia sedang sibuk selfie dengan berbagai gerakan yang entah sebutannya apa. Pokoknya, kadang kepalanya menghadap kanan, kiri, patah kanan, patah kiri. Mirip senam. Tapi bodoamat. Mari kita doakan saja, supaya memori hapenya masih banyak, dan engga merusak moment gue dengan Nia.  
Disaat gue sudah engga terlalu percaya dengan cinta, karena seringnya cinta gue yang bertepuk sebelah tangan (seharusnya kalian sedih membaca kalimat ini), ternyata malah di pertemukan dengan gadis berkumis tipis ini. Ketemu sama gadis mandiri seperti ini, membuat gue ingin lebih memperbaiki diri gue sendiri. Seenggaknya kalau diajak ngobrol, jawaban gue engga membuat diri gue terlihat lebih bodoh. 
Gue terlalu overthingking ya?
Kenalan juga baru, sudah terlalu berharap banyak. Hahaha. Maap.
Semoga saja besok bisa bertemu dengan gadis berkumis manis ini lagi, sebelum berangkat ke Mesir. Yah, semoga.

Sunday, 22 October 2017

Mesir, akhirnya aku kembali

Tiga bulan lebih, gue meninggalkan Mesir. Dan sepertinya gue lebih nyaman tinggal di Jakarta, ketimbang harus kembali lagi ke Kairo. Senyum dan tawa orangtua ketika melihat anak-anaknya rebutan makanan, serta ragam makanan Indonesia, itu sebagian kecil yang memberatkan hati gue untuk kembali ke sini. Oh, dan bu guru berwajah teduh itu. Duh elah, gue jadi kebayang senyuman si ibu guru berkumis tipis itu. Kayak pohon. Adem aja gitu. Semriwing.
Ada ketoprak, martabak coklat keju, ayam geprek, siomay, batagor. Duh, isi tulisan gue bakalan jadi daftar makanan doang nih kalau gue lanjutin.
https://gastronomy-aficionado.com

Kairo masih sama, tapi ada beberapa hal yang berbeda. Harga makanan maupun ongkos transportasi sekarang naik. Jauh berbeda dengan tiga bulan yang lalu. Ada yang naiknya setegah pound, ada yang naik dua pound, dan bahkan sampai dua kali lipat. Nyari makanan enak yang pas sama lidah saja, lumayan susah. Dan sekarang malah bikin kantong mahasiswa kere kayak gue makin tersiksa. Mantap.
Tapi yang paling parah, harga pulsa disini. Gila! Beli pulsa 100 pound, dapetnya 70 doang. Padahal ketika di Indonesia, gue punya cara mudah untuk mendapatkan kuota banyak dengan harga yang lebih miring. Disini hal itu engga bisa digunakan.
Gue masih ingat, ketika pertama kali sampai di Mesir, senior gue mengajak kami para juniornya untuk makan makanan khas Mesir. Harganya pun sebetulnya sesuai pilihan kita sendiri. Makanan ini biasanya terdiri dari roti gandum, sambal kacang yang rasanya ga enak sama sekali, ada telur, ada yang bentuknya kayak bakwan, tapi bukan disebut bakwan dan juga acar. Yang bisa bertahan dengan makanan itu sepertinya hanya gue dan senior gue, sedangkan teman-teman gue lainnya engga mau menyentuh sambal kacang yang rasanya hambar tersebut. Rasanya jauh dari kata enak, bikin eneg sih iya. Tapi kalo sekarang, mereka sepertinya sudah terbiasa. Karena selain harganya yang murah, makanan itu bisa mengenyangkan perut lebih lama, ketimbang makan nasi. Bisa mengirit pengeluaran.
backpackerlee.wordpress.com
Sekarang gue jadi bisa lebih menghargai, ternyata hal-hal remeh yang biasa gue temui di negri sendiri, amat sangat berarti ketika gue merantau di negri orang.
Sama seperti kebanyakan anak perantau lainnya yang engga jago masak, makan indomie masih menjadi solusi ketika perut sedang kelaparan. Tapi yang gue sayangkan, sekarang sudah amat sangat jarang ditemui indomie goreng. Engga tau juga, kenapa kenikmatan duniawi itu menghilang di Kairo. Padahal peminatnya banyak.
Awal-awal pulang gue ke Mesir setelah liburan, gue sama sekali engga nafsu untuk piket masak. Sebelumnya sama aja sih, selalu males dengan rutinitas piket masak. Masak untuk anak rumah, dengan lauk yang sejujurnya, gue juga ragu untuk memakannya. Makanya, setiap kali piket, gue berusaha mengingatkan ke teman-teman gue yang lainnya untuk membaca doa, dan menyuruh mereka untuk diam. Gue takut mereka keracunan. Itu aja. Kalau keracunan setelah menyindiri temannya karena kalah main PES, kan dosanya bertambah.
Dan tiga bulan di Indonesia, kehidupan gue amat sangat tentram. Engga ada tuh kepanikan mendapati respon orang ketika mencicipi masakan gue. Engga ada lagi ketakutan kalau gas habis ketika piket masak. Engga ada tuh rutinitas mengingatkan orang lain untuk berdoa sebelum memakan makanan gue. Yaiyalah. Kan gue engga masak. Tinggal duduk anteng, terus ngunyah.
Tapi ketika pulang kemarin, gue menemukan suatu hal yang amat sangat berguna ketika gue kembali ke Mesir. Selain membeli Indomie goreng, ada satu hal lagi yang sepertinya harus dibeli. Gue sadar dengan skill memasak gue yang masih dibawah rata-rata. Cupu sebenernya, sudah dua tahun lebih di Mesir, tapi hanya bisa masak telor ceplok. Terkadang keasinan, bahkan seringnya ketika gue memasak telur, wajan yang gue gunakan mengeluarkan banyak asap. Pokoknya, ketika gue masak, dapur penuh dengan asap. Bukan terlihat sedang memasak makanan enak, tapi malah seperti sedang penyemprotan nyamuk demam berdarah. Kok bisa? Gue nya juga sih yang salah, tiap masak yang digoreng, terlalu sedikit menuangkan minyak.
Bukan karena hemat minyak, tapi gue engga tega aja ngasih makanan ke anak orang dengan penuh minyak dimana-mana. Bukannya kenyang, malah kembung minum minyak.
Ngeles aja lagi lu, su!
Setelah pulang kemarin, apakah skill memasak gue meningkat? Oh tentu saja tidak. Rencana gue untuk belajar bikin perkedel serta ayam goreng versi nyokap, hanyalah sekedar menjadi wacana semata. Ketimbang belajar masak, gue lebih memilih untuk mengangkat air galon ke dispenser. Liat kan, betapa ga nyambungnya tulisan ini? Dari belajar masak, sampai air galon.
 Beruntungnya sebelum gue pergi kesini, adek gue mengajak gue untuk belanja kebutuhan yang akan dibawa ke Mesir.
‘Ini apaan dah, zah? Banyak banget belinya’
‘Mas engga tau?’
‘Iya nih, mas mau makan tahu. Makan siomay sama tahu, enak juga tuh. Disini emang ada yang jual?’
‘Ini tuh jadinya kayak bumbu masak gitu, Mas. Misalnya mas beli ayam atau ikan, terus dikasih air, dikasih bumbu ini, udah jadi deh makanannya. Gampang kan?’
‘CINCAYOO?!!’
‘Ayok mas, sekarang aku mau beli pencuci muka dulu yuk’
Dikacangin sama adek sendiri. Wes biyasak.
Dengan berbekal bumbu ini, senggaknya gue enggak perlu khawatir memikirkan menu makanan apa yang akan gue masak ketika piket masak nanti. Apalagi, nyokap gue menyarankan gue untuk membawa abon serta sambel pecel. Senggaknya kalau gue hanya masak telur, abon dan sambel pecel bisa menemani. Biar kalau diliat, agak ramean gitu lah ya.
https://www.amazon.com
Yah, semoga saja kenaikan harga barang-barang yang ada di Mesir ini, tidak membuat gue lupa untuk menysukuri nikmat serta menikmati hidup. Dan untuk dapur rumah, kita temanan ya. Yang akur. Mari buat masakan yang mengenyangkan. Lebih baik cita rasanya biasa-biasa saja tapi mengenyangkan, ketimbang makanan gue hanya meracuni orang lain.
Wah, perbandingan yang amat sangat tidak bermutu.
Sejatinya rindu dengan orangtua bagi anak rantau sudah menjadi hal yang biasa. Semoga saja, ketika kembali nanti gue bisa membuat mereka lebih bangga dan tersenyum lebih lebar lagi. Dan siapa tau saja, gue bisa memasakan untuk orangtua gue makanan yang enak. Yang beneran enak, dan bikinan gue sendiri. Siapa tau kan?
Duhai Mesir, i’m back!
Dan ibu guru berkumis tipis. Jaga diri ya.
Salam anak rantau!

Selamat hari santri nasional.

Sunday, 10 September 2017

Perempuan asing

Enggak tau kenapa, sifat gugup gue setiap bertemu dengan perempuan muncul lagi. Padahal gue kira, sifat gugup ini udah gue kubur dalam-dalam sejak empat tahun yang lalu. Ternyata, masih ada sisa-sisa yang tertinggal.
Di Mesir, perlahan sifat ini sudah mulai hilang pelan-pelan. Gue sudah enggak gugup ketika bertemu dengan perempuan. Sudah enggak kejang-kejang setiap pandangan mata gue bertemu dengan mereka. Pokoknya lancar-lancar aja gitu. Engga sampai ke titik ketika ditanya,
‘Eta saha?’
‘AING MAUUNG’
https://i.ytimg.com
Enggak. Enggak sampai kesurupan. Gue juga ga paham bahasa sunda.
Tapi ketika awal-awal liburan, sifat itu kembali lagi. Di Indomarket yang sedang sepi pembeli, ketika gue ingin membayarkan barang yang akan gue beli, tiba-tiba punggung serta jidat gue mengeluarkan keringet saat  bertemu dengan kasirnya. Padahal pendingin ruangannya nyala. Dan kasirnya pun bersikap biasa aja. Enggak godain gue juga. Emang gue nya yang telat puber sih ya, jadinya kayak gini. Ketemu sama perempuan, gugup. Ketemu sebentar, keringet dingin. Untung aja saat ketemu perempuan, gue enggak sampai teriak-teriak ‘AIING MAUUUNG’.
Dan mungkin cerita ini merupakan kisah pertama kali gue bertemu dengan perempuan asing yang gue ajak obrol sepanjang perjalanan dari Jogja menuju Jakarta. Gue sering naik transportasi umum, tapi baru kali ini bisa ngobrol lancar dengan orang asing. Apalagi sama perempuan.
Entah suatu keberuntungan atau kesialan, ketika mendapati tempat duduk yang tertera di tiket diduduki oleh perempuan. Bukan satu. Tapi tiga. Dua didepan serta satu disamping gue.
‘Eh, masnya duduk disamping jendela kan ya?’
‘Oh engga usah, mbak. Mbak duduk disitu aja’
Gue enggak mau terlihat cupu. Gue masih enggak bisa membayangkan kalau gue duduk dipojok, kemudian sekelilingnya para perempuan yang enggak gue kenal. Muka gue bakalan memerah? Enggak tau sih ya, kulit gue kan sawo mateng, kalau beneran berubah kayaknya agak enggak mungkin juga kan.
Kalau beneran berubah, jadi mirip tomat kali ya, bentuk muka bunder gini.
Empat jam perjalanan, gue masih sibuk dengan diri sendiri. Sibuk membuka berbagai aplikasi yang padahal mah enggak ada yang menghubungi gue juga. Main game, sinyalnya ilang-ilangan. Mau nonton pertandingan Indonesia melawan Vietnam, hanya berakhir dengan baca komenan orang-orang, dan videonya enggak menyala sama sekali.
Didepan gue ada dua perempuan, yang menurut gue masih anak SMA atau mahasiswa baru. Gue enggak tau juga. Yang gue tau setelah memperhatikan mereka, mereka saling kenal, bahkan masih ada beberapa temannya yang duduk dibelakang bangku mereka. Gue sama sekali enggak bertanya kepada mereka, karena mereka pun sibuk dengan dunianya sendiri. Lebih suka memperhatikan layar kecil yang dipegang oleh kedua tangannya. Terkadang jari-jarinya bergerak di layar, terkadang pula tertawa bersamaan dengan kencang, dan sesekali teriak-teriak ke arah temannya yang duduk di bangku belakang mereka sambil berdiri di bangku mereka.
Tapi ketika pemeriksaan tiket oleh petugas, tawa mereka menghilang. Digantikan oleh raut wajah mereka yang panik, serta kata-kata ‘mutiara’ yang keluar dari mulut mereka.
‘Tiket sama elu kan?’
‘Tadi kan sama elu, nyet. Gue engga dikasih apa-apa’
‘Yang bener lu, setan! Gue tabok lu kalo boong’
https://i.ytimg.com
Satu dari mereka jongkok dibawah. Nungging tepatnya. Berusaha mencari tiket dibawah tempat duduk. Yang satunya lagi mengambil tas yang berada diatas tempat duduk. Bongkar-bongkar, enggak ketemu juga. Wajah mereka mulai panik, setelah sadar bahwa sebentar lagi giliran meraka yang akan diperiksa oleh petugas.
Rasanya ingin gue bisikin kedua orang ini,
‘Mampus. Makanya kalo ketawa jangan muncrat-muncrat, su’
‘Kalo ngomong, santai aja engga usah sampe bediri di bangku’
GIla. Jahat banget gue.
Raut wajah panik mereka hilang, setelah petugas menyuruh mereka menunjukan identitas mereka tanpa tiketnya. Ya tiketnya hilang, gimana mau nunjukin? Setelah petugas pergi, mereka kembali seperti semula. Teriak-teriak.
Harapan gue agar mereka berhenti bicara, akhirnya tercapai. Ketika mereka memasang headset di hapenya. Tapi, wajah senang gue menghilang setelah musik yang mereka nyalakan terlalu keras, sehingga sampai terdengar oleh sekitarnya. Sial L
Setelah capek tidur, dan melihat dua orang didepan gue telah pergi entah kemana, barulah gue bisa leluasa mengajak ngobrol perempuan yang duduk disamping gue.
Ternyata dia sedang melanjutkan kuliah S2 nya di Jogja. Double degree. Satunya di UGM dengan jalur beasiswa, dan satu lagi di UII. Gue kagum loh, ada perempuan yang seperti ini, yang masih asik menikmati perkuliahan. Ketika gue tanya lebih lanjut, ternyata dia sempat mengikuti ujian untuk masuk ke kampus gue, tapi belum lulus.
Yang gue nikmati dari obrolan dengan perempuan ini karena gue dapet pencerahan dari sudut pandang baru.
‘Kamu lanjut S2 di Inggris aja nanti’
‘Sekarang fokus aja belajarnya, nanti setelah lulus kamu bisa mengambil kelas untuk jadi hakim’
‘Atau engga kamu buka konsultan aja’
‘Nikah bukan ajang lomba cepet-cepetan kok’
‘Suami saya sekarang S2 di Amerika. Saya engga mau kalah lah, makanya saya juga ambil S2. Walaupun didalam negri. Hehe’
‘Dunia kerja itu ribet. Lebih baik kamu latih skill kamu, mumpung masih kuliah’
‘Dua cewe yang duduk didepan kita, kenapa enggak di usir aja ya sama petugasnya tadi. Hahaha’
Ternyata hal yang gue takuti, ngobrol dengan orang asing terutama perempuan, engga seburuk yang gue bayangkan. Buktinya gue malah mendapatkan gambaran prospek pekerjaan dari jurusan yang gue ambil sekarang. Walaupun nantinya engga ada jaminannya juga sih, tapi seengaknya gue perlahan ada gambaran. Bego ya, masa kuliah tapi enggak tau prospek pekerjaannya nanti? Karena orangtua gue selalu berkata kepada anak-anaknya,
‘Enggak usah takut. Urusan jodoh, rezeki, mati, udah ada yang ngatur. Fokus kerjain apa yang kamu hadapi saat ini, jangan lupa berdoa ya’
Tapi asli sih, mungkin ini pengalaman pertama yang akan selalu terkenang. Ternyata apa yang gue takuti, enggak seseram dengan yang gue gambarkan di kepala. Bicara dengan orang asing itu ternyata cukup menyenangkan, ya selama nyambung aja sih. Ah, tau gitu udah gue praktekin dari tahun-tahun sebelumnya.
Sekian curhatannya.
Oh.
Dan dua perempuan yang duduk didepan gue, mucul kembali. Bahkan sepertinya, obrolan mereka akan lebih kencang serta lebih muncrat-muncrat karena mereka baru saja selesai makan. Oke siap. Harus bisa menahan diri, untuk enggak berkata kasar kepada dua makhluk itu J
hasu

Wednesday, 30 August 2017

Reuni pondok

Minggu kemarin akhirnya gue bisa main jauh. Ke luar kota. Mungkin nanti tulisannya akan gue pecah-pecah menjadi beberapa tulisan. Supaya makin banyak aja postingan di tahun ini. Percuma tiap tahunnya bayar domain, tapi jumlah postingan engga sebanyak sebelum-sebelumnya.
Kurang lebih hampir empat tahun gue engga berkunjung ke Ponorogo. Kota yang punya banyak sejarah dalam hidup gue. Karena setelah lulus dari sekolah dasar, bokap langsung melemparkan gue ke kota Reog ini. Gue jadi inget masa-masa dimana gue harus mengantri berpuluh-puluh orang untuk sekedar mendapatkan jatah makanan, masa dimana setiap jam lima sore di isi dengan diri gue yang sedang terburu-buru lari ke masjid tanpa menggunakan alas kaki, karena sandal gue raib tepat lima menit sebelum gue berangkat ke masjid.
Duh… ngomongin masa-masa gue di pondok pesantren itu seperti engga akan ada habisnya. Ada aja aib yang pernah gue lakukan ketika masih jadi santri.
Baru kali ini, gue mengunjungi  pondok bukan dengan status sebagai santri, melainkan sebagai alumni. Sebagai MahaSantri. Ketika melihat kegitan yang dilakukan oleh santri-santri, sering kali akan gue bandingkan disaat gue masih menjadi santri. Betapa enaknya mereka, dan betapa sengsaranya gue dulu saat menjadi santri. Betapa banyaknya gedung-gedung baru di zaman mereka. Dan betapa sedihnya ketika dulu saat gue mandi bukan menggunakan gayung, tapi malah menggunakan piring. Itu pun juga dengan sabun yang sudah di oper-oper ke orang lain.






Alasan gue ke pondok kemarin, karena saat itu akan berlangsung pertunjukan yang dilakukan oleh para siswa akhir. Setara dengan anak kelas tiga SMA.  Dan juga, banyak dari angkatan gue dulu yang berkunjung ke pondok, sekalian bikin reuni kecil-kecilan.
***
Sesak. Meriah. Pedagang. Kawan lama. Sempurna.
Kata-kata itu mungkin yang paling cocok menggambarkan malam pertunjukkan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika pertunjukkan seperti ini, masyarakat Ponorogo banyak yang mendatangi pondok, untuk sekedar melihat pertunjukkan walau hanya sebentar. Lapangan basket, telah berubah fungsinya menjadi tempat parkir yang padat dengan motor-motor. Anak kecil, orang yang sedang berpacaran, orangtua wali santri, semuanya menjadi satu. Semuanya menikmati pertunjukkan. Sedangkan gue malah sibuk sendiri mencari tempat duduk, karena saking banyaknya orang yang hadir di malam itu.
Beberapa pertunjukkan yang ditampilkan mengingatkan gue saat menjadi santri. Terlebih ketika tarian Malulo dengan lagunya yang berjudul Sajojo. Gue engga yakin dengan judulnya, tapi yang gue dengar yaa kata itu. Saat itu gue engga merasakan demam panggung sama sekali, dengan santainya joget kekanan dan kekiri. Karena untuk apa juga demam panggung? Toh di panggung itu bukan hanya gue seorang diri, dan lagipula pandangan mata gue yang hanya bisa melihat kabut bukan para penonton. Gue seperti joget di langit. Joget diantara awan-awan. Joget diatas burung elang.
Oke sip.
Engga nyambung, nyet!
Acara pentas seni itu ditutup dengan pertunjukkan band. Ketika si vokalis asik nyanyi, para teman-temannya yang lain menaiki panggung. Rame, gaduh, dan untung saja panggungnya tidak rusak. Meriah banget, gue pun sebagai penonton sempat menitikan air mata. Entah berapa banyak orang yang telah menginjak kaki gue. Orang-orang sudah beriringan pulang, dan tidak memperdulikan penilaian dari juri serta dari bapak pengasuh pondok.
Gue engga inget nilai setiap acara, tapi secara keseluruhan, acara pentas seni ini diberikan nilai 9.42 oleh para juri. Tapi penilaian bapak pengasuh berbeda. Acara ini diberikan nilai 10.5. Gokil. Pak Hasan sebagai pengasuh pondok juga sempat bernyanyi bersama siswa akhir sebelum memberikan penilaian.





***
Setelah acara selesai, gue menjumpai banyak teman-teman angkatan gue yang terdahulu. Nama angkatannya Pioneer. Bentuk badan mereka mungkin berubah, tapi tidak dengan sifat hangat yang mereka miliki. Kenangan-kenangan yang terdahulu pun muncul lagi. Betapa pemurahnya meraka menawarkan tempat tinggal, ketika gue singgah di daerah mereka. Betapa baiknya teman gue yang meminjami gue motor untuk nge-date sama cewe. Duh, entah kenapa gue kangen mereka. Karena menerima diri gue dengan apa adanya, tanpa berbicara dengan nada yang menyakitkan.
Sekarang ini dengan bertambah umur diri gue, malah semakin bersikap apatis. Selalu berfikiran bahwa, urusan gue ya urusan gue, urusan elu ya urusan elu. Padahal sejatinya gue hanyalah manusia yang butuh bantuan orang lain. Mungkin gue telah banyak bertemu orang-orang yang telah mengubah diri gue sehingga menjadi apatis dan tidak terbuka seperti ini. Tapi setelah malam itu, gue sadar bahwa nilai-nilai pondok yang telah diajarkan selama di pondok, sekarang pun harus masih dilakukan. Ya salah satunya bersikap baik dan saling tolong-menolong orang lain.
Syukron katsiran, zamanan pernah taalum disini. Syukron katsiran Gontor.

Tuesday, 8 August 2017

Menerima

Menurut gue, hal paling mudah untuk dilakukan selain ngupil adalah menyalahkan orang lain. Sepertinya gampang aja gitu kan, menyalahkan orang lain. Padahal yang sebetulnya salah adalah diri kita sendiri. Seperti contohnya, ketika gue sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang, tiba-tiba kendaraan yang berada di posisi depan gue rem mendadak, gue akan dengan mudahnya menyalahkan pengemudi tersebut. Padahal kalau di teliti lagi, mungkin saja pengemudi tersebut memberentikan kendaraannya karena yaaa memang disitu tempat parkirnya. Gue nya aja yang bodoh ngebut di tempat parkir.
Sama seperti kejadian kemarin di jalanan Jakarta.
Sebuah motor melaju dengan cepat di jalur berlawanan, niatnya untuk mendahului kendaraan yang ada didepannya. Mungkin karena pengelihatan motor ini hanya terfokus untuk mendahului kendaraan didepannya, sehingga dia tidak melihat sebuah mobil yang sedang melaju cukup cepat dari arah berlawanan. Kemudian apa yang terjadi?
Apakah pengendar motor itu buru-buru memperlambat lajunya? Oh enggak. Yang dilakukan oleh pengendara motor itu adalah membuka kaca helmnya, kemudian kepalanya bergerak kebelakang, lalu dengan cepat memajukan kepalanya sambil mengeluarkan air dari mulutnya tepat ke kaca mobil. Mantap kan? Yang mengambil jalur orang padahal si pengendara motor tersebut loh, tapi dia lebih galak. See, betapa mudahnya menyalahkan orang lain?
Asumsi gue, air yang keluar dari mulut pengendara tersebut adalah ludah. Tapi kalau menurut kalian air itu adalah kuah soto, ya enggak apa-apa juga.
**
Sepertinya gue punya sifat seperti itu. Lebih mudah menyalahkan orang lain, ketimbang intropeksi diri. Sifat ini seharusnya sudah lama gue tinggalkan, karena sepertinya engga ada manfaatnya untuk diri sendiri.  Kenapa baru sadarnya sekarang ya?
Karena hal ini lah, sepertinya gue susah untuk menerima lingkungan baru. Gue selalu menyalahkan orang lain, merasa diri ini paling benar. Kenapa engga mencoba berada di posisi orang yang lain. Melihat dari sudut pandangnya. Kalau sekiranya memang diri kita yang salah, kita yang meminta maaf. Bukan malah menyalahkan orang lain. Pantes aja temen gue sedikit. Tiap ada orang yang ingin mencairkan suasana malah gue berfikiran negatif. Menganggap dirinya sebagai sosok manusia yang sok asik.
Aduh bego banget sih, mat.
Sama seperti pribahasa yang bunyinya,
‘Gajak di pelupuk mata tak tampak. Semut di seberang lautan tampak’
Yah, semoga  Fauzi di masa depan tidak melakukan hal ini lagi. Lebih banyak belajar untuk menerima, dan bukan menyalahkan orang lain.