Saturday, 17 September 2016

Apa semua anak kecil baik?

Wajah menggemakan, pipi yang menyerupai tahu bulat, ukuran lengan tangan dan betis kaki yang susah dibedakan, rebutan para perempuan, tak terkecuali oleh teman gue yang perempuan, dan juga yang seringkali dilempari dengan pertanyaan,
‘Iiih kamu apa kabar? Cuamaaaat’
‘Siapa sih ayahnyaaa?’
‘Ini anak capaaa cee? Lucu bet, lucu bet’ Ini ngomongnya sambil nyemburin ludah.
‘Kamu laper haa? Sini ammah(baca:bibi/tante) suapin. aaaam’ Yang ini nafasnya bau bunga bangke.
‘Ha kamu mau minum starbak? Iiih tante juga mau tauk. Minta duit sama ayah kamu yuk’ dia yang nanya, dia juga yang jawab. Bapaknya juga di palak lagi.
Anak kecilnya kuat banget, nggak nangis.

Tapi bicara anakonda kecil yang ada di Mesir, sifatnya jauh berbeda dengan anak kecil yang berada di Indonesia. Usilnya itu minta ditendang, tapi karena masih kecil, plus wajahnya imut dan hidungnya mancung, jadi nggak tega aja untuk ngelakuinnya.
Beberapa hari kemarin gue juga mengalami penganiyaan oleh anak kecil.
Jadi, cerita ini bermula ketika gue ingin main ke rumah teman gue di distrik 10, yang mengharuskan gue untuk naik bis terlebih dahulu. FYI, disini jadwal bis itu nggak ada yang pasti. Jauh berbeda dengan jadwal bis yang ada di Eropa sana, yang sudah terjadwal rapi, yang bisnya rapi, wangi, teratur, rajin menabung, bikin masakan buat mertua, suka silat, bisa kayang, ya pokoknya beda lah.
Setelah lebih dari dua jam menunggu bis di terminal, gue menyerah. Bisnya nggak ada tanda-tanda datang, dan panas Mesir yang lagi emang kampret-kampretnya. Inilah salah satu penyebab, kenapa kulit gue ‘lebih mencolok’ ketimbang teman-teman yang lain.
Gue memutuskan untuk kembali ke rumah. Panas Mesir kalau siang hari emang gitu, becandanya keterlaluan. Ditambah lagi, para pengendara mobil ataupun motor yang membawa kendaraannya seperti sedang di taman bermain. Ngebut aja yang penting, kalau nabrak orang paling hanya teriak,
Ma’alsy habibi
Di Mesir kayak gitu. Makanya kalau mau ngerasain sensasinya main sini ke Mesir, jengukin gue. Bawain duren sama tahu kupat sekalian.
Ketika di perjalanan pulang, gue lebih memilih untuk mengahampiri warung untuk membeli sebotol air mineral. Meskipun dari kejauhan, gue bisa dengar teriakan orang yang sedang berjualan minuman. Gue sering dengar teriakannya, tapi sampai sekarang gue nggak tau, si penjual itu berteriak apa. Yang gue tangkep hanyalah,
UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAH UWAAAAAAAAH’
Padahal dia jualan air perasan dari buah kurma loh. Tapi... Ya suka-suka dia ajalah, semerdeka dia aja pokoknya. Kalau gue tegur, takutnya gue disiram air kurma. Nanti kalo gue ketagihan gimana? Kalau gue minta disiram lagi gimana? Ha? Ha? Siapa yang mau tanggung jawab? Ha? Jawab?!!
Anjir, ga mutu banget tulisannya
Tempat tinggal di Mesir itu kebanyakan berupa flat. Kayak rumah susun gitu, tapi lebih sedikit rumahnya. Jadi kayak satu gedung gitu, terdiri dari lima rumah. Tiap lantai ada satu rumah, misalnya kayak gitu.

Rumah gue terletak di lantai tiga, lantai satunya diisi oleh teman-teman gue yang perempuan, lantai dua diisi oleh yang punya gedung, bapak kost gitu lah, nah baru lantai tiga rumah gue. Sisanya masih kosong tanpa penghuni. Biasanya gerbang pagar itu di kunci, dan kebetulan juga kunci gue baru saja hilang. Tapi mungkin karena rejeki anak sholeh seperti gue ini, pintu gerbang tidak di kunci.
Langkah kaki gue terhenti, karena melihat anak bapak kost yang paling kecil sedang membenarkan kunciran rambutnya, serta wajahnya tersenyum kearah gue. Dia mengenakan kaus lengan pendek berwarna pink serta celana pendek dan juga menggunakan sandal jepit, yang membuatnya semakin manis. Ketika gue menanyakan kabarnya, dia datang menghampiri. Bukannya keluar dari pintu, dia lebih memilih untuk melewati sela-sela besi yang ada (namanya juga bocah), kemudian menjawab pertanyaan gue sambil menunjukkan giginya.
Bahagia gue itu sederhana, di senyumin sama anak kecil aja udah senang.
Kemudian anak kecil itu bertanya kepada gue,
Fien miftah?’ (baca:mana kunci kamu, ka?)
Matruk fil bait yaa bint’ (baca:ketinggalan di rumah, dek) kata gue bohong.
Yang dilakukannya setelah itu adalah dia memegang besi gerbang, kemudian menutupnya dengan cepat.
Lalu dia pergi sambil tersenyum.
Ketika wajahnya masih menghadap gue, botol air yang ada digenggaman gue, langsung menghilang. Terlempar menuju muka kampretnya.
Nggak kena.
Telek.
Yang gue lakukan sehabis itu hanya menatap wajahnya, sambil mulut gue mengeluarkan kata-kata berupa,
‘HASYU’
‘LU MAU KEMANA, SYU?!!!’
‘GUE MAU NAIK INIIIIIH, NYET!!’
‘MALAH DITUTUP LAGI’
‘PAKE KETAWA LAGI LU’
‘BERUNTUNG NGGAK KENA BOTOL GUE TUH MUKA LU’
‘AAARRRGGHHHH’
‘KYAAA KYAAA’
Nunggu lama-lama di terminal, panas-panasan di jalan, dan sekarang dikerjain sama anak kecil kampret.
Masih nganggep semua anak kecil baik, ha?
sumber: foto 1, foto 2

Monday, 5 September 2016

Teruntuk kenangan masa lalu

Pertanyaan yang sering kali keluar dari mulut teman-teman gue untuk saat ini,
‘Lu kapan, Ji? Temen-temen deket lu udah pada mau nikah tuh. Lu nggak mau nyusul?’
Tapi, hal sebaliknya yang sering muncul di kepala gue adalah,
‘Hapalan lu kapan nambahnya, Nyet? Nonton vlog mulu sih, bego amat lah. Buang-buang waktu’
‘Mau ngurusuin badan, tapi makan mulu. Resolusi doang, realisasinya mah nggak’
‘Kuliah disini udah dapet apa? Selain di godain orang pas nge-gym’
‘Passion itu sebenernya penting nggak sih?’
‘Belajar manage waktu sama uang, Nyet. Hidup hemat kek’
**
Setiap orang mempunyai skala prioritas yang berbeda-beda pula. Ada yang merasa nikah merupakan prioritasnya untuk saat ini, dan ada juga yang menganggap nikah itu, ya emang bisa dilakukan nanti saja. Ketika segala hal yang ingin di realisasikan telah terwujud, ataupun ketika segala hal yang bisa membuat kedua orangtuanya bahagia telah selesai dilaksanakan. Baru setelah itu baru berfikiran untuk menjalin hubungan hubungan serius dengan orang lain.
Gue nggak masalah juga sih, sama orang-orang yang memilih untuk nikah muda. Itu kan urusannya.
Terkadang gue jadi kepikiran juga, siapa ya cewe yang akan gue perjuangkan nantinya? Ini semua gara-gara ngobrol sama orang yang pada ngebet nikah sih, kampret. Serasa menjadikan mereka kambing hitam ya? Tapi emang kenyataannya gitu.
**

Tugas gue yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah membuat majalah online untuk salah satu organisasi yang ada disini. Salah gue juga sih, menulis program kerja yang gue sendiri pun nggak paham cara bikinnya. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa ingin melakukan hal ini. Pertama, karena gue sama sekali belum menemukan majalah berbentuk online yang ada di Mesir. Kedua, ya emang biar terkenal aja gitu.
Nggak bermutu banget kan alasannya?
Setelah bosan membaca banyak tulisan tentang cara pembuatan majalah online, sekarang gue mengarahkan kursor menuju folder-folder film.
‘Kayaknya film download-an kemarin, masih banyak yang belom di tonton deh’ fikir gue.
Saat asik cari-cari film, nggak sengaja melihat folder file yang bertuliskan ‘Memories’. Dan setelahnya malah asik melihat foto-foto yang sudah ada sejak tiga tahun lalu.
Satu foto yang membuat diri gue termenung lumayan lama, dan mengingat moment di tiga tahun yang lalu.
**
Hal yang paling bisa diingat dari si wanita ini adalah ketika gue dengannya bertemu di salah satu mall yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Itu pun, setelah ngobrol lama dan akhirnya bisa membuat kesepakatan untuk bertemu berdua di hari menuju senja itu. Btw, dia suka dengan senja. Gue malah sebaliknya.
Ah, gue masih ingat sore hari itu.
Dia mengenakan krudung berwarna ungu, serta abaya yang berwarna senada. Tampilannya mirip kayak ibu-ibu pengajian pas acara mamah Dedeh, bukan? Haha. Kacamata yang ia kenakan, semakin membuat dirinya terlihat pintar. Memang pada dasarnya dia pintar kok. Kalau kata teman-temannya, dia itu salah satu sosok manusia yang sering sekali tidur di kelas. Tapi menurut gue ya bebas aja lah, pintar, cantik, salah satu murid yang cukup di kenal oleh satu angkatan, terus ada yang salah dengan sering tidur di kelas? Murid lain juga banyak kali. Nah, untuk yang ini gue sama dengan dia. Sama-sama suka tertidur di kelas. Bedanya, ya nilai gue nggak lebih baik dari dia aja sih. Hahaha.
‘Kamu kalau ngajak nonton film kayak gitu, si Riani suka tuh. Aku kurang ngerti alur ceritanya’
‘Kemarin adek aku dimarahi sama ayah, karena ketahuan deket sama cowo’ Katanya sambil tertawa.
‘Dia ketahuan, setelah ayah meriksa hapenya’
‘Abis itu dia marahin aku, karena aku nggak bantuin dia’
‘Hahaha’
‘Oh iya, jadinya kamu mau lanjut kuliah dimana?’
‘Aku sekarang lagi sibuk ngurus berkas-berkas yang dibutuhin nih. Doain biar semuanya lancar ya!!’
‘Mungkin kalau semua berjalan lancar, tiga bulan lagi aku mulai kuliah. Nanti aku kabarin kamu deh kalau udah deket-deket hari H’
‘Sekarang kamu fokus aja sama yang ingin kamu raih, tunjukkin kalau kamu tuh bisa’
‘Kamu pasti bisa kok. Masa segini aja udah nyerah’
Kalimat-kalimat itu yang masih sering teringat di kepala gue. Raut mukanya ketika berbicara, serta senyumnya saat dia tertawa. Gue rela seharian mendengarkan dia berbicara tentang apa saja. Ah, dulu kayaknya sederhana banget untuk bahagia. Sekarang? Apa-apa terlalu difikirkan berlebihan, bukan bersyukur dengan apa yang di punya, tapi selalu memikirkan apa yang kurang. Gimana bisa menjadi makhluk yang bersyukur?
Sekarang dia sudah mempunyai pasangan yang selalu bisa membuat dirinya bahagia. Dan gue masih saja berada di titik yang sama, terpaku dengan kenangan yang sudah terjadi di tiga tahun yang lalu. Ada dua jenis orang yang menyikapi sebuah kenangan. Pertama, orang yang tidak akan larut dalam sebuah kejadian, lalu selanjutnya yang dia lakukan adalah menciptakan hal-hal baru yang selanjutnya akan membuat kenangannya menjadi beragam. Dan yang kedua, orang yang terjebak dalam sebuah kenangan, dan tidak ingin menciptakan hal-hal baru untuk di kenang selanjutnya.
**
Mungkin kalau di awal tadi gue menuliskan untuk belajar me-manage waktu serta uang, sepertinya gue punya satu hal lagi yang harus dikerjakan untuk sekarang ini, manage hati. Terimakasih untuk kenangan yang telah hadir di masa lalu. Dan terimakasih untuk segala lagu-lagu Mocca yang selalu menemani.
Sekarang memang sudah waktunya untuk bisa berdamai dengan masa lalu, agar nantinya bisa terbuka dengan orang baru. Dan sebelum bisa berjalan beriringan dengan sosok gadis yang benar-benar gue sayang, alangkah baiknya kalau gue mempersiapkan semuanya. Ilmu, mental, ekonomi, serta kesiapan untuk menghadapi calon mertua. Sama seperti perkataannya Tirta disini,


Yah, semoga saja semua bisa berjalan lebih baik dari yang sebelumnya.

-Tulisan ini diikut sertakan untuk giveaway @romeogadungan

Sunday, 21 August 2016

Hal baru(?)

Liburan kuliah kali ini, sama sekali nggak ada yang spesial. Teman-teman kebanyakan pada pulang ke Indonesia untuk liburan. Ada yang menghabiskan waktu bersama keluarga serta teman-temannya, ada juga yang traveling ke spot-spot Instagaramble, dan sebagian lainnya sedang lamaran pernikahan.
Nggak ada tanda-tanda punya pasangan, tapi udah dilamar. Dan fotonya di publish di grup Whatsapp, good job ma fren!! Tunggu gue seperti itu juga, tunggu aja. Waktunya kapan, cukup lah itu menjadi rahasia Allah.
Teman-teman yang masih berada di Kairo pun juga pada asyik jalan-jalan ke luar kota. Iya, Mesir itu bukan hanya Kairo ataupun Alexandria, masih banyak tempat asyik untuk di jelajahi. Tapi untuk liburan sekarang, yang gue lakukan hanyalah berdiam diri di kamar sambil mendengarkan podcastnya si Adri ataupun si Iqbal.
Liburan kali ini, gue mencoba hal baru. Nge-Gym. Tahun ini gue bertekad (walaupun keseringan khilafnya)untuk mengurangi lemak yang ada di tubuh ini. Dosa udah banyak, masa ditambah lemak yang banyak juga. Kapan kuatnya, untuk menghadapi kenyataan?
Cie gitu.
Satu ruangan Gym bersama orang Mesir itu nggak buruk-buruk banget. Semua jenis cowo Mesir ada semua. Mau tipe yang seperti apa ha? Yang badannya dua kali lipat dari gue, ada. Yang badannya bulet juga, ada. Yang kurus, ada. Yang badannya berotot, banyak. Tapi sampai sekarang gue masih nggak ngerti sih, kenapa orang yang sudah mempunyai badan bagus, berotot, kenapa masih latihan di pusat kebugaran? Mau nya apa sih? Tampol juga nih. Nggak deng, boong. Yang badannya keker itu nggak mau gantian gitu sama orang yang berbadan seperti gue ini, ha? Mau nya apa ha? Ha? Ha? Jawab, nyet?!!
Jadi marah-marah kan.

Dan dari sekian banyak orang yang ada di pusat kebugaran itu, yang paling gue benci adalah orang yang sombong.
Kayaknya semua orang nggak suka sama orang yang sombong ya?
Sama kalau gitu *toss*.
Hari itu jadwal gue untuk melatih otot tangan. Ketika sedang memainkan alat fitness, datang lah si kampret dengan gayanya yang sok asik,
“Bro, gue mau masih main alat ini. Lu tunggu dulu gih sana ya, hahaha”
Kurang kampret apa?
Setelah mengetahui si kampret itu menggunakan alat yang ingin gue gunakan, maka gue mencari opsi lain dengan mendatangi tempat dumbell yang tersusun nggak rapi. Orang-orang sini terkadang suka kayak gitu sih, ya mau dibilangin tapi dia nya pake headset. Males teriak-teriak juga.
Ada sebuah botol minum di kursi duduk yang ingin gue tempati. Ketika hendak menaruh botol minum itu diatas lantai, datanglah si kampret ini. Iya, orangnya sama lagi sambil mengatakan,
“Bro, gue mau make kursinya. Lu ke tempat lainnya aja lah ya”
Gue pergi ke loker, tempat biasa orang-orang biasa mengganti bajunya, kemudian mengambil sapu yang sedang disandarkan ke tembok. Sambil menahan marah, gue datang si kampret itu dengan tangan yang memegangi sapu, kemudian memukul tepat ke lehernya.
Puas? Banget, nyet.
Tapi itu berakhir didalam benak gue aja sih. Nggak sampai kejadian.

Yang gue lakukan hanya mengelus dada, serta memaki dalam diri sendiri. Ingin rasanya meneriakan,

"DASAR BELALANG SEMBAH!!"

"Kenapa kamu tau kalau saya siluman belalang?"

Udah lah ya, kalau dilanjutin bakalan jadi ngaco tulisannya.
Sebetulnya untuk mengurangi lemak yang berada didalam tubuh kita adalah dengan memperhatikan apa saja makanan apa saja yang masuk ke dalam tubuh kita. Untuk latihan di tempat kebugaran seperti ini, sampai bertemu makhluk kampret seperti itu, sebenernya nggak penting-penting banget kok. Selama kita tidak memakan berlebih dari jumlah kalori yang dibutuhkan, badan kita akan kurus.
Kita?
Gue aja kali, elu nggak.
Walaupun udah tau caranya, tapi tetep aja makannya berlebih. Bego ya(?)
Olahraga itu niatnya biar badan sehat. Tapi kalo kasusnya seperti diri gue, ya harus olahraga biar nggak kegemukan. Nggak enak juga kalau sedang main futsal, sepak bola, ataupun basket, cepet banget capeknya kemudian di ganti sama yang lain. Sama sekali nggak enak, padahal lagi seru-serunya.
Sekarang gue jadi sedikit lebih mengerti, ternyata di pusat kebugaran bukan hanya melatih otot, tapi juta melatih kesabaran. Target gue ya minimal kuat lah kalau diajak main futsal dua jam.
Tulisan kali ini sampai sini dulu.
Buat ngelatih jari-jari tangan lagi sih.
Ehehe

Daah.
Ini ada foto before and afternya...
Before


After
Targetnya sih yaa 'mau' nya ya sama seperti makhluk ini
Kayaknya nggak susah-susah banget lah ya. Ehehe

source : satu, dua

Friday, 5 August 2016

'Suntikan' di acara dialog santai

Akhir Juli kemarin, Kairo dipenuhi oleh orang-orang hebat, seperti Bapak Lukman Hakim Saifuddin, Bapak Mahfud MD, serta para mahasiswa-mahasiswi yang amat sangat aduhai. Emm.. Kayaknya kata ‘aduhai’ kurang cocok ya. Tapi, masa bodo amat lah ya. Yang punya blog juga siapa.
Lah, nyolot.
Mereka datang kesini untuk menghadiri acara Simposium yang berlangsung di Kairo. Acara ini adalah kali pertama disenggalarakan di kawasan Timur Tengah, dan Kairo terpilih menjadi tuan rumah.
#CIE
Biasanya acara seperti ini diadakan di Eropa, tapi gue nggak tau juga sih.
Dan kali ini, gue akan membahas hal lain. Kenapa tidak membahas acara Simposium? Karena tempo hari gue sakit, dan tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Daripada nanti gue menceritakan hal yang sesat, lebih baik kalian main ke websitenya disini.
Meskipun gue nggak ikut, tapi sensasinya terasa banget. Buktinya, walaupun gue tergeletak di kamar, tapi gue masih bisa melihat isi hall acara. Setiap membuka aplikasi BBM ataupun Instagram, yang gue lihat adalah foto berupa pemandangan didalam ruangan yang dipenuhi oleh buanyak manusia. Dan tentunya caption yang bertuliskan,
‘Duh kepala aku pusing, kayaknya harus beli tas baru nicch’
‘Aku mau kayang di tengah jalan, kamu nggak mau ikutan gitu?’
Iya, seperti itulah captionnya. Menarik serta tidak nyambung, bukan?
Nggak deng, nggak kayak gitu captionnya. Becanda.
**
Beruntung kemarin gue sempat ikutan acara dialog santai yang pembicaranya merupakan delegasi dari berbagai tempat. Dialog santai pertama, ada tiga orang pembicara. PPI Belanda, Turki, Tunisia, serta Malaysia. Kebanyakan dari mereka bercerita tentang cultural shock yang mereka rasakan di tempat kuliah mereka saat ini.
Yang paling asyik adalah ketika bang Ali dari PPI Belanda membagikan pengalamannya. FYI, sebelum dia menjadi salah satu mahasiswa di Belanda, bang Ali merupakan ketua BEM di Universitas Indonesia. Sebetulnya, gue nggak terlalu peduli juga dengan hal itu, karena ya emang gue nggak kuliah di UI. Yang membuat hal ini menarik adalah ketika bang Ali membahas sedikit tentang hukum-hukum, membahas sedikit tentang cara mudah untuk meraih mimpi, membahas sedikit tentang menjadi masyarakat Indonesia yang bangga terhadap negrinya sendiri. Pembahasannya renyah.
Tiga tengah (Kiri PPI Malaysia, tengah PPI Belanda, kanan PPI Tunisia)
Ketika mendengar hal itu, gue serasa seperti orang yang dilempari oleh batu-batu kecil. Entah pergaulan gue disini yang masih sedikit dan hanya berkutat dengan orang-orang itu saja, tapi gue merasakan suntika baru, ketika mengikuti dialog santai seperti ini. Biasanya yang gue dengar dari curhatan teman-teman gue ya nggak jauh-jauh dari,
‘Gue galau nih, dia nggak ngasih kabar’
‘Dia sebenernya suka sama aku nggak ya?’
‘Hari ini, krudung aku manis nggak, zi? Baru beli loh’
Padahal dia cowo. Kan tai kambing.
Gue sendiri, malah belum pernah tuh diskusi sesat dengan teman-teman gue membahas politik yang terjadi di Indonesia, membahas apa yang terjadi di Irian Jaya, berbicara mengenai ekonomi islam yang sedang tren di Eropaitu, atau yang paling relevan dengan kehidupan gue di Mesir, membahas tentang islam itu kan mengajarkan untuk saling menyayangi, tapi kenapa masih ada diantara madzhab yang satu dengan lainnya saling merasa paling benar?
Hidup gue sepertinya terlalu santai ya, hanya sebagai penadah sebuah informasi. Bukan sebagai sosok pencari ilmu, yang giat mendatangi majelis-majelis ilmu, kemudian saling berbagi ilmu antar satu sama lain.
#CIE
Dan satu lagi, perkataan yang menyentuh hati gue adalah,
‘Kalau kalian membayangkan hal yang luar biasa, usahanya harus berdarah-darah untuk meraih hal tersebut’
Apakah karena zaman sekarang, manusia telah dimanjakan oleh berbagai macam alat tekhnologi yang canggih serta mempermudah segala urusan manusia, membuat manusia lupa, bahwa segala hal yang ingin dicapai itu selalu ada prosesnya?
Kampret lah, gue jarang banget nulis serius kayak gini.
Materi yang dibawakan oleh delegasi PPI Turki, Tunisia, serta Malaysia, juga seru. Membahas tentang politik Turki, sifat ramah warga Tunisia, serta...
Hmm...
Masyarakat Indonesia yang banyak berada di Malaysia tanpa memiliki pekerjaan.
Miris, kan?
Dialog santai selanjutnya, dibawakan oleh pemateri-pemateri yang merupakan alumni pondok gue. Gue kadang sering berfikir, didepan gue(ketika acara dialog berlangsung) ini banyak orang hebat. Entah itu yang kuliah di Tunisia(beda orang, bukan dari pemateri di dialog pertama), kuliah di UII dan menjabat sebagai presiden BEM, mahasiswa lulusan UII, tapi telah mengunjungi empat benua, hanya kurang benua Australia, maka dia hidupnya varokah telah mengunjungi semua benua. Kemudian ada yang menjadi mahasiswa pakistan, serta mahasiswa di Arab Saudi.
Dari kiri-kanan (PPI Tunisia, PPI Pakistan, BEM UII, UII, PPI Arab Saudi) 
Pertanyaan yang sering gue tanyakan ke diri sendiri adalah,
‘Versi terbaik dari diri gue, apakah bisa melebihi mereka ya?’
Dan lagi-lagi, obrolannya tentang Indonesia. Tentang politik, ekonomi, tentang agama. Bahkan sepertinya, senior gue yang sudah mengeliling empat benua serta penyuka buah anggur ini, lebih religius ketimbang diri gue. Lalu, sampai sejauh ini hal apa yang telah gue kuasai? Sampai saat ini, achivment apa saja yang sudah gue raih?
Pertanyaan yang sampai sekarang pun, gue nggak tau jawabannya.
Kalau kamu sendiri gimana?
**
Mungkin, di umur kita yang sekarang, nggak ada salahnya untuk belajar banyak hal, serta tidak membatasi diri dengan sedikit ilmu. Nggak keren juga, ketika jalan sama gebetan ditanya ‘ini ‘itu’, jawabannya hanya ‘angguk-angguk kepala’.
Ini hanya pikiran random gue aja. Hehehe.
Sepertinya, akan lebih memperbanyak waktu untuk membaca buku-buku lagi. Dan juga mendengarkan musik ataupun film lebih banyak lagi. Kalau saran lagu dari gue ya lagu dengan judul Nyanyian Kode dari Kasino sama Dono sih.
Daah.


Sunday, 10 July 2016

Lebaran anak rantau di Mesir

Assalamualikum akhi-ukhti!!
Minal aidin wal faizin, maafkan diri ini yang sering kali perbuatan dan perkataannya menyinggung kalian. Tapi sejatinya, gue nggak sejahat itu kok. Itu mungkin karena gue terlalu semangat pas bercanda.
Ehe.
Maapin yak!!

Entah kenapa, sampai saat ini gue masih terlalu gengsi untuk mengucapkan kata maaf sambil berpelukan. Ngerasa geli aja gitu, sesama cowo berpelukan lama, kemudian mengucapkan kata maaf. Mungkin saja, setelah itu ada kejadian berupa ciuman di kening(?) Siapa yang tau juga kan?
Tapi jujur, dalam lubuk hati gue yang paling dalam ada rasa ingin melakukan hal itu, berpelukan sambil meminta maaf. Walaupun pada akhirnya kejadian itu akan berakhir seperti,
Temen:  “Ji, maaf lahir batin ya”
Gue: “Iya, gue juga ya. Muuah”
Temen: “Badan lu tinggi banget sih, Ji. Hidung gue langsung ngehirup ketek elu ini. Bau banget gule kambing, su”
Gue: “Yah maaf, nyet”
Seperti itu.
Semua.
Ujung-ujungnya gue malah dihina.
Kan ngeselin ya. Niatnya minta maaf, eh malah diajak brantem. Padahal sepengetahuan gue, sebelum berangkat shalat ied gue pake parfum kok. Dan baunya enak. Kenapa malah jadi gule kambing elaah.
Sama halnya dengan teman-teman gue, adik gue pun punya pertanyaan yang lain,
Adek: “Mas, maap lahir batin ya. Maafin aku kalau ada salah-salah kata”
Gue: “Iya, Mas juga minta maaf ya”
Adek: “Mas, aku mau punya kakak ipar nih. Mana, mas?”
Gue: “Mas mau kayang depan gedung dulu ya, Zah. Faizah fotoin, nanti mau mas kirim ke mamah sama bapak. Atau kamu mau ikut kayang bareng sama mas?”
Minal Aidin Wal Faizin semua!!
**
Lebaran tahun ini lebih yahud ketimbang tahun kemarin. Walaupun sekarang ini gue masih belum diizinkan pulang oleh nyokap, dan sepertinya bakalan susah banget diizinin sih, tapi setidaknya acara shalat ied di KBRI serta acara makan-makannya sukses menghilangkan rasa rindu gue dengan tanah air. Yang terpenting itu acara makan-makannya. Nggak tau deh, sepertinya setiap perkumpulan kalau ada embel-embel ‘Makan bersama’ pasti selalu ramai yang datang. Terbukti, buanyak banget mahasiswa yang datang. Entah itu mahasiswa yang masih sendiri, sampai mahasiswa yang telah memiliki keluarga kecil dengan tiga orang anak.
Gue kadang kepikiran,
“Lebih baik gue pulangnya nanti aja lah kalau udah punya istri sama lima anak. Bikin kejutan buat nyokap bokap, kayaknya asik tuh”
Tapi sepertinya bakalan lama banget sih, kayaknya nggak bakalan gue laksanakan fikiran itu juga lah ya.
Hampir semua jenis makanan dihidangkan di acara itu, mulai dari indomie, soto, daging, bakso, lontong, perkedel dan masih banya lagi. Yang gue sesalkan, ketika itu gue nggak bawa tas atau plastik. Gue nggak tau, tapi semenjak menjadi mahasiswa, kalau ada acara seperti ini, gue akan merasa bersalah kalau makanannya nggak habis. Bawaannya tuh mau di bungkus semua. Mikirnya,
“Mubadzir ini kalo nggak abis. Mendingan gue bawa pulang. Yah, tiga hari kedepan udah terjamin lah ya, mau makan pake apa”
Sebenernya gue doang kah yang berfikiran seperti ini, atau kalian duhai mahasiswa-mahasiswi rantau, punya pemikiran yang sama seperti gue?
Oh iya, di acara itu gue bertemu dengan sosok gadis yang... aduh, susah banget dijelaskan. Pokoknya, wajahnya itu adem, seperti pohon yang memiliki banyak daun. Bukan, muka dia nggak ada ranting atau batang, bukan kayak gitu. Tapi wajahnya tuh sejuk untuk dipandang, ngerti kan lah ya? Tapi sejujurnya sih, melihat wanita itu nggak boleh lama-lama loh, ghodul bashor.
Nama dia, gue nggak tau. Yang jelas, dia bukan satu kampus juga dengan gue. Mungkin dia jurusan, hmm... apa ya? yah, gue belum nanya-nanya lebih jauh sama teman gue yang mengenalnya. Toh gue rasa, perasaan ini hanya sesaat saja. Dan sepertinya, dia senior gue disini. Walaupun gue yakin, umur dia nggak lebih tua dari gue juga sih.
Haaaaaahhh...
Kadang gue sering bertanya terhadap diri gue sendiri, sebetulnya sampai kapan ya gue menuliskan sosok gadis di blog gue ini. Toh, belum tentu dia jodoh gue juga. Tapi bodo amat lah.
Wehehe
And the last, Minal Aidin wal faizin. Maaf kalau gue masih banyak salah kata-kata ya!!
*toss

Monday, 13 June 2016

Kenangan di bulan puasa serta kenangan yang 'muncul' lagi

Bulan puasa kali ini, benar-benar berat. Bukan berat untuk menahan lapar serta haus, tapi lebih berat untuk melupakan sejenak kenangan-kenangan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Di tahun-tahun ketika gue berada di Jakarta.
Tahun ini berarti tahun kedua gue, merasakan bulan Ramadhan di negri Piramid. Dan sampai sekarang ini, gue masih kagum dengan orang-orang dermawan yang sering memberikan bantuan kepada para orang lain, terutama kepada para mahasiswa-mahasiswi asing seperti gue ini. Ada yang memberikan bantuan berupa makanan setiap hari ketika berbuka, ada juga yang memberikan bantuan berupa uang serta bahan-bahan makanan. Uang mereka apa nggak habis ya, kalau memberi makanan setiap hari?

Tapi, bagaimana pun juga, makanan rumah itu lebih nikmat. Makanan buatan nyokap lebih nikmat. Gue masih ingat jelas, ketika bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya, nyokap gue meletakkan gorengan diatas meja makan, ada bakwan, tempe goreng, tahu isi, es buah berwarna merah muda dengan parutan kelapa, ayam goreng, sambel terasi, serta nasi yang masih mengebul. Aduuh... kenapa enak banget bayangin hal itu.
Di tambah lagi dengan pengalaman ketika gue kecil dulu, saat shalat tarawih. Lari-larian di masjid sampai barisan jamaah perempuan, pukul-pukulan menggunakan sarung yang dalamnya ada batu-batuan kecil, main petasan diluar masjid yang membuat para orang-orang dewasa misuh-misuh, serta nendang orang ketika dia sedang sujud kemudian lari keluar masjid. Duuh... masa kecilku.
Kenapa bejat banget sih.
 Astaghfirullahaladzim.
Hmm...
Kenangan lainnya, yang sampai saat ini sering menghantui sepertinya ada lagi.
Yaitu,
Si gadis pemilik senyum manis yang menyukai....
Ahh, cukup gue saja lah yang mengetahui kesukaannya, kalian nggak usah ya.
Heuheuhe...

Ini entah, gue yang terlalu bego atau memang belum pinter, tapi masa iya jadi secret admirer sampai bertahun-tahun lamanya. Wajar nggak sih?
Hanya satu gadis, dia dan dia lagi. Ketika naksir sama gadis A, misalnya. Wajah yang terbayang malah si gadis kampret itu lagi. Dan selama ini, kebanyakan hal yang gue lakukan adalah untuk bisa mengalahkan gadis itu. Walaupun sepertinya sampai sekarang, gue belum bisa mengalahkan pencapaian yang dia miliki sih. Tapi setidaknya, gue tau hal-hal apa saja yang memang harus gue benahi agar ‘sesuai’ ataupun ‘klik’ dengan gadis itu. Terlalu muluk banget nggak sih harapan gue?
Beberapa kali, gue bertanya tentang pria yang dia taksir. Tapi jawabannya selalu, “Belom ada”. Di satu sisi gue merasa bahagia karena dia ‘belum punya’, tapi di sisi yang lainnya gue seperti merasa... ‘Pendamping gadis hebat seperti kamu, harus pria yang hebat juga. Harus. Meskipun itu bukan saya’.
Paham apa yang gue maksud nggak sih kalian?
Gue nggak paham loh.


Dan terimakasih untuk lagu-lagu sendu, terlebih lagunya Payung Teduh,
Matur suwun, mas. Saya jadi ke inget sama gadis itu terus, kalau denger lagu sampean
Kayaknya itu aja sih curhatan kali ini. Dari kemarin ngebet banget untuk nulis tentang hal ini, tapi baru kesampaian sekarang.
*Di tulis saat jam setangah tiga pagi sebelum sahur, waktu Kairo.
Sumber photo: https://www.pinterest.com/

Saturday, 4 June 2016

Alasan mainstream Mahasantri tidak pulang

Tiga hari kemarin, cuaca di Mesir sangat-amat-super ngehe. Panasnya sampai 40 derajat. Ini lebih panas dari sekedar melihat gebetan jalan sama pasangan barunya. Kalau nggak percaya, main kesini deh.

Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Bukan sebentar lagi sih, di tempat kalian nanti malam sudah mulai shalat tarawih, bukan? Gue jadi kangen sensasi bulan puasa di Indonesia. Padahal baru satu tahun setengah disini, tapi udah lebay gitu. Tapi, serius... gue kangen sama pedagang pinggir jalan yang tiba-tiba menjadi ramai, kangen dengan es buah, kolak, es buah campur kolak, terlebih acara kuis ketika sahur.
“YAAAK, PASSWORDNYA APAAAAH?”
“DUA JUTAAAA BUAT ANDA”
Lah, kayaknya gampang banget nyari duit, Su.
Cuma nyebut password dapet duit.
Eh, masih ada ngga sih, acara seperti itu?
Terlebih, Ramadhan tahun ini akan di temani oleh pertandingan EURO serta COPA AMERICA. Makin yahud. Dan beruntungnya di Indonesia, siaran bola itu tepat ketika sahur dan buka puasa(bener nggak sih?). Beda disini, yang jadwal tayangnya ketika orang-orang shalat tarawih. Tapi, kita lihat nanti lah ya... kalau banyak yang nonton, gue paling ikutan nonton juga.
Teman-teman gue banyak yang pulang ke Indonesia bulan ini. Alasannya sih, macam-macam. Ada yang,
“Tahun kemarin kan udah puasa sama lebaran disini, ya tahun sekarang di Indonesia lah”
“Nyokap nyuruh pulang, Ji”
“Kemarin beli tiket promo, Ji. Murah meriah uy, makanya pulang”
“Gue mau dilamar, Ji. Makanya pulang”
Bervariasi kan jawaban mereka?
Kalau alasan gue sih,
“Tahun kemarin sama tahun sekarang, ya puasa mah sama aja. Dari sebelum shubuh, sampai adzan maghrib. Sama-sama aja”
“Nyokap nggak nyuruh pulang”
“Ada tiket promo atau nggak, ya selama nyokap nggak nyuruh pulang, ya nggak pulang, Su”
“Gue mau dilamar”
Alasan yang terakhir boong banget sih itu mah ya.
Alasan gue serta kebanyakan teman adalah ...
“Belum siap ceramah gitu lah, Ji. Ilmu gue masih nggak ada apa-apanya”
Iya, alasannya karena hal itu.
Entah lah, gue serta teman gue yang memang terlalu kepedean, tapi memang kenyataannya seperti itu. Nanya sama senior yang pulang, jawabannya juga nggak jauh-jauh seperti itu.
“Pas di Rumah disuruh ceramah gitu?”
“Ya iya, Ji”
“Terus... terus?”
“Ya pokoknya kayak gitu lah. Tapi...”
“Tapi apa?”
“Tapi masa gue ceramah gitu, tetep aja belum ada gadis yang khilaf naksir sama gue deh”
“Lu ngobrol aja sana sama tembok biar seru lah ya. Eug mau tidur”
Rasanya mau ngumpet kalau memang hal itu benar terjadi. Nah, ketimbang ngumpet di rumah setiap hari, lebih baik disini. Shalat tarawih bareng teman-teman, berburu makanan saat berbuka puasa, belajar Balagoh di Alexandria, hafalan qur’an, atau apa kek gitu. Gue lebih tergiur hal-hal itu sih. Walaupun nggak semua hal yang gue tulis itu, gue kerjakan semua.
Bisa nggak sih, berbagi hal tanpa harus berdiri didepan khalayak ramai?
Bisa nggak sih, berbagai ya ketika duduk bareng-bareng sambil minum es buah atau makan somay gitu? Yang nggak usah terlalu formal-formal banget. Dan juga, bagaimana kalau kita saling berbagi. Gue berbagi hal yang mungkin belum lu tau, dan lu sebaliknya seperti itu ke gue. Bisa nggak sih ya?

Tuesday, 31 May 2016

Ujian tambahan di Mesir


Saat ini, kebanyakan mahasiswa yang bertempat tinggal di Mesir sedang menghadapi ujian kampus. Kenapa sebagian besar? Ya karena mereka semua, tidak hanya kuliah di universitas Al-Azhar. Ada yang kuliah di universitas Kairo, Ainu syams, Tonto, serta Alexandaria. Sejauh ini, hanya nama-nama kampus itu saja yang gue ketahui.
Ujian gue kali ini, ternyata nggak hanya sekedar selembar kertas soal serta lembar jawaban. Ada hal lain yang membuat ujian gue kali ini terasa gila.
Jadi gini,
Senin pagi, gue serta teman serumah yang kebetulan satu jurusan telah asik belajar. Lebih tepatnya sedang berusaha menghapal seluruh buku yang akan di ujikan hari ini-yang banyak buset dah elah dua buku, cuk!!-satu buku paket, satunya lagi kitab setebel kamus John Engkol(bener nggak sih tulisannya?). Tapi kami tetap tenang. Bukan kami sih, tapi teman-teman gue yang bersikap tenang, ya kalo gue sih... yaaa gitu. Nggak usah digambarkan secara detail lagi penderitaan gue lah ya.
Pagi ini asik, karena belajar kami di temani oleh teh hangat yang rasanya manis. Dua buku yang akan di ujikan, ditambah dengan segelas teh hangat. Kurang apa coba? Tapi teh hangat pagi di rumah ini, memang sudah jadi semacam rutinitas yang memang harus dikerjakan oleh piket masak sih.
Berhubung ujian yang akan baru di mulai jam sepuluh, temen-temen gue masih fokus belajar. Sedangkan gue sedang asik, chat sama nyokap. Nggak tau deh, sampai sekarang gue masih yakin bahwa kemudahan yang gue temui saat sedang menghadapi ujian kampus seperti ini, atau pun masalah lain, pasti berkat doa nyokap. Karena doa nyokap, ujian yang gue hadapi insyaAllah di permudah. Tapi bukan berarti gue nggak ada usaha juga loh.
Jam delapan, mulai terjadi antrian kamar mandi. Dan Alhamdulillah semuanya mandi. Berbeda ketika gue di pondok. Dulu, gue malah lebih suka untuk sarapan terlebih dahulu, ketimbang mandi pagi. Fikiran gue ketika itu sih,
“Kamar mandi pasti penuh. Mendingan gue makan dulu, kenyang. Dan antriannya belum panjang. Nah, abis itu baru mandi deh. Kan antriannya udah pada berkurang tuh. Cerdas banget gue, heuheu”
Dan ketika selesai makan,
“ANCUUUKK!! AIRNYA ABIS. ITU ORANG YANG MANDI, AIRNYA DI SRUPUT JUGA APA GIMANA SIH ELAH”
Iya, dulu gue seperti itu.
Tapi sekarang perlahan berubah kok, karena setiap harinya gue pasti akan bertemu dengan teman perempuan gue, yang siapa tau aja ada jodoh gue disitu kan, makanya gue harus merubah kebiasaan yang sebenernya asik-asik aja sih dikerjakan ketika dulu. Yah, dulu kan di pondok gue isinya cowo semua, nggak ada yang krudungan. Paling yang krudungan wali santri yang sedang menjenguk anaknya.
Jam setengah sembilan, muka gue udah rapi. Rapi menurut gue sih, nggak tau deh kalo menurut orang lain. Kami, gue berempat dengan teman gue yang lain, berjalan menuju terminal terdekat. Iya, disini benar-benar jadi mahasiswa yang kemana-mana memang naik bis. Setelah duduk manis di barisan paling belakang, kami membuka buku pelajaran lagi. Gue? Gue ketika itu buka buku pelajaran juga kok.
Dan ketika perjalanan baru sampai seperempat, tepatnya baru hanya sampai kantor imigrasi, bis gue terhadang macet. Biasanya,  jarak tempuh yang dibutuhkan dari tempat gue menuju kampus, hanya sekitar setangah jam. Tapi macet ini, yang pernah gue serta teman-teman gue rasakan, jarak tempuhnya sekitar satu jam. Itu pun belum ditambah sampai kampusnya.
http://www.vignetteinteractive.com/
Mau marah-marah ngatain supirnya, nanti dosa. Ngatain jalanan Mesir, dosa juga. Akhirnya teman gue berkesimpulan,
“Kita harus turun nih. Terus naik taksi sampai kampus”
Pertanyaan yang langsung keluar di otak gue adalah,
“DIANTARA KITA SIAPA EMANGNYA YANG PUNYA DUIT, HAH?!!”
Setelah turun dan lari-lari kecil, gue serta teman-teman yang lain, mencari taksi yang berjalan di jalur yang berbeda. Tapi yang kami temukan adalah hal lain.
Teman gue, yang berkesimpulan sebelumnya, berbicara dengan supir mobil. Yang kalo gue perkirakan bunyinya seperti ini,
Fikri: “Paman, saya mahasiswa yang hari ini ujian. Paman kira-kira punya anak gadis yang bisa saya lamar?”
Bukan-bukan kayak gitu.
Fikri: “Paman, saya mahasiswa yang hari ini ujian. Bisakah kami menumpang mobil, paman?”
Paman: “Kasiiih tau ga eaaaaa”
Anggap aja percakapannya udah selesai lah ya, kemudian kami di izinkan ikut mobilnya. Kalo percakapannya dilanjutkan, kayaknya akan lebih ngaco.
Ingat kan, sebelumnya kami ingin naik taksi. Tapi yang terjadi adalah kami naik mobil pick-up. Iya, lu nggak salah baca kok. Ini pertama kali dalam seumur hidup gue, naik mobil loss bak ke kampus. rambut klimis belah samping, pakaian rapi, sepatu, tas, tapi mentalnya supporter bola. Alhamdulillah ketika naik mobil itu, gue nggak teriak-teriak menyanyikan mars Persija.
Nggak hafal juga sih.
Di mobil bak itu yang kami lakukan adalah sok-sok buka buku, walaupun gue yakin diantara kita nggak ada yang fokus mengulangi bacaannya. Ya gimana mau konsentrasi sih, INI UNTUK PERTAMA KALINYA BUAT KAMI SEMUA, MAN!! Baca buku, nggak. Foto-foto juga nggak. Ngobrol juga nggak. Yang ada hanyalah kami menutup buku, kemudian berusaha menyatu dengan alam, menikmati angin sepoi-sepoi serta menahan air mata untuk keluar. Dan berharap macet ini cepat selesai.
http://carsfriend.xyz/
Iya, ternyata di jalur lain, masih tetap macet. 
YAA ALLAH, UDAH SETENGAH SEPULUH. DAN DISINI MASIH MACET. INI NYAMPE TEMPAT LANGSUNG DIMARAHIN PENGAWAS UJIAN. KYAAAA KYAAAAAA.
Teriakan gue nggak segitunya juga sih. 
Dan ternyata pemilik mobil ini, memiliki arah tujuan lain.
Mau marah, tapi ntar dosa. Tapi memang nggak berhak marah juga sih, kan posisinya gue menumpang.
Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki bis(lagi). Sampai kampus, nggak ada waktu untuk membaca ulang buku pelajaran, langsung pergi menuju kelas. Dan Alhamdulillah pengawas ujian nggak marah-marah. Ternyata masih banyak orang yang datangnyalebih telat dari gue yang baru datang ke kelas, dan paman pengawasnya nggak marah. Pamannya baik, jadi naksir sama anak gadisnya deh.
"NIKAHKAN AKU DENGAN ANAK MU, PAMAN"
"Anak saya cowo, jenggotnya panjang, badannya keker, kamu mau juga? Istighafar ya, nak"
*lah
*pamannya nyolot
**
Minta doanya ya, supaya kami mahasiswa disini mendapatkan nilai mumtaz. Nanti doa yang baik-baik akan kembali ke kamu yang membacanya kok. Hehe.
 Sumber: dalocollis.files.wordpress.com