Thursday, 20 April 2017

Kehebatan serta romantisnya Raja Mesir

Akhir bulan lalu, akhirnya kesampaian juga gue mengunjungi sisi lain Mesir. Kalau biasanya gue hanya menetap di Kairo ataupun Alexandria saja, kemarin akhirnya gue bisa pergi ke ujung Mesir bagian lainnya. Kalau kalian liat peta yang ada dibawah, gue hanya menginjakan kaki gue di dua kota di bagian atas selama dua tahun tinggal disini. Nah, di perjalanan kemarin,  gue berhasil pergi ke kota Luxor, Aswan, Abu Simbel, dan juga Hurghada.

http://kids.britannica.com
Akhirnya, resolusi yang gue buat di awal tahun kemarin, ada yang tercoret juga. Tinggal menurunkan berat badan aja nih, yang masih belum tercoret dari tahun 2015. HASU!!
Kali ini gue cerita satu tempat dulu. Sabar ya. Mengembalikan mood buat nulis susah-susah-gampang soalnya nih.
Heuheu.
Kali ini gue akan cerita tentang Abu Simbel.
Jarak dari Kairo menuju tempat yang penuh bersejarah ini, lama. Banget. Mungkin karena gue sudah jarang naik bis antar provinsi, kekebalan pantat gue untuk duduk lama-lama di bis mulai nggak sehebat dulu. Perjalanan ini sebenernya asyik-asyik saja, tapi karena jarak antar kursinya yang sempit, membuat gue beberapa kali berhasil membuat orang-orang hampir terjatuh. Ya karena sepanjang perjalanan, gue meletakkan kaki gue di jalur orang lewat. Makanya nggak heran, sering kali ada yang berteriak,
“Eee”
“Du aduh”
“Eee ayam ee ayam”
“Dibantu ya, yuk sama-sama bilang”
“Bimsalabim jadi apa prok-prok-prok”
“Yak, topinya berubah jadi anak kingkong!!”
Lah kenapa malah jadi sulap.
Ini sejak kapan ada pak Tarno di rombongan gue?!!
Okeh lanjut!
Ketika pertama kali memasuki kawasan ini, kita akan menemukan sebuah kuil yang dibuat oleh sang raja untuk persembahan bagi dewa. Di Mesir, biasanya raja disebut dengan sebutan Ramsis. Ada Ramsis satu, dua, tiga, sampai berapa gitu. Gue nggak tau. Baca kode dari mbak pacar saja belum tamat, dan sekarang harus menghapalkan jumlah raja Mesir? Nanti saja lah. Kalau mau lebih jelas, coba langsung main kesini aja ya. Bawa sambel terasi yang banyak. Disini jarang ada yang jual. Kalau pun ada yang jual, harganya mahal uy.
Biaya tiket masuknya hanya 65Le. Sekitar 50.000 rupiah. Harga itu sudah di diskon dari harga aslinya, karena kita menggunakan kartu pelajar. Kalau mau pakai kartu puskesmas, kartu perpustakaan, kartu undangan nikah orang lain, boleh-boleh aja. Tapi nggak ada gunanya juga sih. Kecuali kamu punya skill seperti pak Tarno yang bisa merubah-rubah benda, boleh-boleh aja.  
Tempat yang gue kunjungi saat ini merupakan peninggalan Ramsis ke-dua. Sebenernya, bangunan kuil ini bukan berada disini. Bangunan itu dipindahkan dari tempat aslinya kesini. Untuk alasannya, gue pun belum tau juga. Oh iya, si Ramsis dua ini, telah memimpin Mesir hingga berpuluh-puluh tahun lamanya loh.

Kalau kalian lihat di fotonya, disitu ada empat patung yang sedang duduk. Tiga dari mereka adalah sosok dewa. Dewa Heliopolis, Memphis dan juga Thebes. Dan yang satu lagi adalah sosok si Ramsis dua itu. Dia menyamakan dirinya sendiri seperti para dewa-dewa, karena dia merasa telah memimpin Mesir dengan sangat lama. Kalau gue sih, ogah menyamakan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang tuh ada keistimewaan masing-masing. Bersyukur atuh, akhi/ukhti. Bukan malah menyamakan diri sendiri dengan orang lain. Ada yang suka bermain sulap, kayak pak Tarno. Dan ada yang suka menghabiskan jatah makanan orang lain, kayak gue. Terimalah perbedaan itu, khi.
LAH KAGA NYAMBUNGI, SU!
Yang keren dari kuil ini, jadi ada hari dimana sinar matahari bisa masuk sampai kedalam bangunan kuil. Untuk tanggalnya, nanti gue update lagi deh, kalau inget ya. Hehehe. Ruangan didalam kuil ini cukup luas, kira-kira butuh gojek lah untuk bisa mengitari seluruh ruangan. Boong deng. Didalam kuil ini tidak ada benda-benda aneh kok. Hanya patung-patung, tulisan Hieroglif yang menghiasi setiap dinding-dinding, serta beberapa ruangan kosong.
 Sampai sekarang gue masih nggak paham loh dengan tulisan Hieroglif itu. Kalau kalian ada yang paham nggak?



**
Pernah denger cerita Roro Jongrang yang dibuatkan candi? Nah, disini ternyata ada juga. Tepat disamping bangunan ini, terdapat kuil yang dibuat oleh Ramsis dua, persembahan untuk dua istrinya. Salah satu istrinya bernama Nefertari. Bentuk kuil ini sama seperti kuil yang sebelumnya, yang membedakan hanyalah patung yang berada didepan kuil. Kalau kuil sebelumnya patungnya sedang duduk, kalau kuil yang ini patungnya sedang berdiri. Ruangan dalamnya, sama juga kok.  



Selain sifatnya yang menyamakan dirinya sendiri dengan para dewa, ternyata Ramsis dua ini romantis juga ya. Sampai bikin kuil semegah ini untuk istrinya. Kalau gue disuruh bikin candi atau kuil, kayaknya berat sih. Kalau hanya disuruh beli martabak, insyaAlllah kuat lah. Beli dua? Dua martabak? Oh bisa. Dua lusin? Oh tentu. Tentu gue nggak akan mau beli. Buang-buang duit doang, njir. Jadi tay juga nantinya.
Pedagang yang jualan disini, terbilang gila. Air mineral yang biasanya 4Le, disini bisa mencapai 20Le. Mahal banget. Allahu Akbar. Sebagai salah satu mahasiswa yang berjiwa ‘pokoknya murah’, gue nggak akan membeli air itu. Lebih baik gue duduk di bis dengan tenang, buka Instagram, sambil menunggu salah satu temen gue membeli air itu. Selagi bisa malak minuman orang lain, kenapa harus beli?
Lah.
Bagi kalian yang ingin mendatangi tempat ini, gue menyarankan agar membawa kacamata serta sorban. Karena apa? Ya biar keliatan keren aja gitu. Terlebih lagi, jika kalian kesini di musim panas. Harus banget bawa kacamata hitam. Ketika masuk ke tempat ini, gue banyak menjumpai para pengunjung, yang bukan orang Mesir, sedang asik berfoto ria dengan menggunakan gamis plus sorban. Totalitas banget kan? Oh iya, dan jangan lupa, bawa air minum ya!
**
Dan sekarang pertanyaannya, kira-kira kalian berniat mengunjungi tempat ini nggak?
Yang gue tau, kalau menginginkan suatu hal, tulis saja dulu. Kalau perlu, print fotonya. Dan jangan lupa berdoa. Pasti akan tercapai kok.

Wednesday, 5 April 2017

Gym dan wangi 'semerbak'

Saat ini gue sedang menikmati rutinitas baru, berupa olahraga angkat beban. Sebetulnya bukan sebuah rutinitas baru, sudah hampir enam bulan yang lalu gue melakukan kegiatan ini. Alasan gue rutin mengikuti olahraga itu supaya berat badan gue berkurang. Supaya nggak kelihatan gendut-gendut amat kalau diajak foto bareng. Supaya kalau diajak lari, ya gue nggak sampai ngesot juga lah, karena susah lari. Supaya nggak makan tempat, ketika duduk di bangku bis atau di Tramco(sebutan untuk angkot Mesir). Udah itu aja, sesederhana itu saja kok tujuan gue untuk pergi ke Gym. Tetapi kenyataannya....
FAAAAK!! SUSAH BANGET, HASU!!

Salah gue juga sih, tiap makan ngambil porsi yang seharusnya untuk tiga orang, tapi gue makan sendiri.  Yah, kalau seperti ini terus, sepertinya panggilan Tomat untuk diri gue nggak akan hilang. Kalau mau tau kenapa gue dipanggil Tomat, bisa baca disini ya.
Bertemu dengan orang-orang yang latihan disini sebenernya hanya membuat diri gue minder. Tiap ketemu orang, badannya keker banget kayak badak. Otot tangannya seolah ingin keluar dari kaus yang sempit itu. Kayaknya makin kekar seseorang, makin sempit kausnya. Benar nggak sih?
Tapi selain bertemu dengan orang-orang yang seperti itu, banyak juga kok orang-orang rese yang berada di Gym. Kayak gue kemarin,
Jadi gini...
Hari selasa kemarin gue latihan Deadlift. Kalau yang nggak tau, coba liat gambar yang dibawah ini ya. Latihan paling bikin cepat membuat badan capek, menurut gue. Tapi Alhamdulillahnya saat itu, Gym sedang sepi. 
www.reddit.com

Ketika sedang setengah mati mengangkat barbel, ada sosok manusia dengan kaus berawarna hijau menyala, dengan kulit berwarna gelap asik melihat gue sambil tertawa. Gue paling salah tingkah kalau ketemu makhluk seperti itu. Perasaan, gerakan gue nggak salah deh. Celana gue pun nggak melorot. Kaus yang gue pakai juga biasa aja, nggak ada tulisan Ana mus murtabit.
 Btw, arti Ana mus murtabit itu kayak ‘Gue jomblo nih’. Iya, kayak gitu.
Ketika gue sedang istirahat, si makhluk kampret itu kemudian menegur orang lain yang sedang latihan. Dia bilang kalau gerakannya itu salah. Bebannya kurang berat. Atau apalah. Masih banyak loh orang sotoy plus sok asik kayak gini di Gym. Kalau gue perhatiin, si makhluk kampret ini nggak latihan apa-apa. Kerjaannya hanya menegur orang lain saja, sambil duduk santai.
**
Sesi latihan gue hari ini ditutup dengan latihan Bicep Curls. Gue sekarang sedang mengikuti program latihan dari Brodibalo Hardy, kalau kalian mau tau seputar fintess bisa ke situs dia disini ya. Biasanya kalau udah selesai latihan seperti ini, gue akan buru-buru keluar dari gym, dan langsung pulang. Tapi ketika di locker room gue bertemu dengan si makhluk kampret ini lagi.
Masih sama seperti tadi, pembawaan dia sok asik.
Dia duduk di bangku depan gue, sedangkan gue sedang sibuk sendiri mengganti pakaian serta celana. Pertanyaan dari makhluk ini nggak jauh-jauh dari,
“Nama kamu siapa?”
“Kamu dari negara mana?”
“Nama presiden kamu siapa?”
“Nama saya siapa hayo?”
“Coba tebak” 
Hampir semua pertanyaannya hanya gue jawab dengan kata “heem” “heem”.
Mungkin karena kesel nggak dapet respon yang diinginkan, dia bangkit dari bangkunya, kemudian duduk manis disamping gue.  Sambil mengulangi pertanyaannya kembali.
“Siapa presiden kamu?”
“Jokowi”
“Oh Jokowi”
Sebenernya mendengar orang-orang Mesir menyebutkan kata-kata ataupun nama-nama yang berciri khas Indonesia itu lucu loh. Tapi si makhluk kampret ini pengecualian.
Eh, bentar. Kok ketika si makhluk kampret ini duduk samping gue jadi bau kambing ya.
Ah, mungkin perasaan gue aja.
“Kalau kamu asalnya darimana?” kata gue, berusaha menanggapi obrolannya.
“Oh, kalau saya sih dari Eropa” katanya.
Nah, mulai kecium lagi nih baunya. Tapi darimana ya.
Tapi gue kurang percaya sih. Terlebih ketika dia berusaha berbicara dengan bahasa Inggris.
 “ahs@33bkfq” katanya.   
“Ha?”
Inta tafham enjlisi wala laa? Kalim enjlisi (baca: Lu paham bahasa Inggris nggak? Ngomong pake bahasa Inggris aja)” 
Ternyata bau kambing itu beneran ada. Baunya berasal dari mulut makhluk ini. Yaa Lahwi.
Ayyua ana fahim (baca: Iya, gue paham)” kata gue sambil nahan nafas.
“sfabhk%&#” kata dia lagi. Sampai air liurnya keluar dari mulutnya.
“YE ANJIR. LU NGOMONG INGGRIS DAERAH MANA ITU SETAN” Bau banget mulut lu, syu.
Kalim arobi bas (baca: Udah lah, pake bahasa Arab aja lah)” kata gue lagi. Tentunya sambil nahan nafas.
Ahh, inta laa tafham enjlisi (baca: Yah, Lu nggak paham Inggris sih ya)
ARRGHH. BAU BANGET KAMBING MULUTNYA, HASU. Udah bau, ngatain gue nggak bisa bahasa Inggris. Sebahagia dia aja lah udah.
Karena kepala gue mendadak pusing, mungkin karena menghirup bau mulutnya kali ya, gue menyudahi obrolan itu.
Harapan gue di hari esok nanti, semoga orang selanjutnya yang bertemu dengan makhluk kampret itu, punya bau mulut yang lebih ‘SEMERBAK’. Amin.

Monday, 6 March 2017

Biskopnya sakit sih nih

Semua film-film yang tayang di bioskop Mesir itu aneh. Mulai dari cara beli tiketnya, filmnya, sampai subtitle yang dipakai. Berbeda dengan yang sering gue temukan di Indonesia. Makanya sampai sekarang gue masih belum tertarik untuk menonton film bisokop di Mesir. Disini, ketika ada sebuah film yang akan tayang di bioskop, gue akan dengan senang hati menunggu sampai berbulan-bulan. Menunggu, sampai film itu keluar di web penyedia film, lalu mendownload film bajakan tersebut, kemudian menontonnya di rumah dengan tenang .
http://www.shareyouressays.com
Tapi kemarin, untuk pertama kalinya gue menonton langsung di bioskop.
Sebenernya, nggak penting juga sih tulisan ini. Tapi bodo amat lah ya.
“Ayo sini, kumpulin duitnya. Biar gue yang beli tiketnya” Kata Hazmi.
Ada empat orang lainnya selain gue. Dua orang perempuan, dan dua orang laki-laki. Sebetulnya hanya dua laki-laki, tapi satu orang lagi maksa untuk ikutan. Mau diusir, tapi takut ngambek. Kalau ngambeknya hanya diam dan nggak mau ngomong, gue sih selow. Tapi, kalau ngambeknya sampe ngerusak hubungan orang lain, gimana? Nggak percaya? Percaya aja deh.
Lah maksa
Film yang ingin gue tonton sekarang adalah film yang di bintangi oleh Ryan Gosling, La La Land. Film yang di bintangi oleh saudara gue tapi berbeda ibu ini sebenernya sudah tayang cukup lama di bioskop, dan sebenernya gue sudah punya file filmnya. Tapi belum gue tonton. Kalau gue baca-baca review orang-orang yang telah menonton film ini, katanya sih seru. Tapi endingnya yang, yah gitu. Mantep lah intinya.
Sebelum membeli tiket, Hazmi bertanya ke gue serta teman-teman gue yang lain.
“Ini semuanya mau nonton La La Land? Atau ada yang mau nonton film lain?”
“Lah, kan ini emang niatnya nonton bareng, su. Lu gimana dah” kata penjual tiket.
Ini kenapa penjual tiketnya ikutan nimbrung disini.
“Oh berarti La La Land, lima tiket ya? Biasanya kalau nonton bareng sama kakak gue yang cewe, kita beda film. Gue nonton film Inggris, sedangkan dia nonton film Kamboja”
“Ah maca ci” kata penjual tiket lagi.
Allahu akbar
Ini kalau penjual tiket jawab lagi, gue shot gun juga hidungnya.
“Mat, ikut sini. Kita beli bareng”
Disini letak perbedaan bioskop Indonesia dengan Mesir.
“Mat, gimana nih? filmnya udah mulai. Kita beli tiket yang jam selanjutnya aja?”
“Iya, gitu aja”
Ketika gue sampai di bioskop, disini masih sepi pengunjungnya. Kalau kata si Hazmi sih, pengunjungnya akan rame ketika mulai malam hari. Penyebabnya apa, gue pun juga nggak tau. Tapi, kalau benar penyebabnya, karena setiap malam disini ada penari perut, tau gitu gue datengnya lebih malam. Nyesel jadinya, sampai sini ketika sore hari.
Setau gue, penari perut itu biasanya mangkal di kapal, sambil menemani orang-orang yang sedang makan malam di kapal tersebut. Kerjaannya bikin nggak fokus orang aja ya. Kalau disini beneran ada penari perut yang mangkal ketika malam hari, pasti bakalan mengirit biaya. Karena biaya yang biasanya dikeluarkan untuk melihat orang joget itu saja, perlu mengeluarkan uang sampai 400 Pound Mesir.  Gila ya.
Bentar. Ini kenapa gue jadi ngebahas si penari perut. Hhhh.
Oke lanjut.
“Kalian harus nunggu satu jam lagi, sebelum filmnya mulai. Kalau beli sekarang nggak bisa. Paham kamu?!” kata penjual tiket, yang wajahnya mirip Kingkong.
Aneh.
Mau beli tiket tapi ditahan-tahan.
Di Indonesia nggak kayak gitu ah setau gue.
Iya kan?
Dasar Kingkong.
**
Setelah sejam film dimulai, ruang teater tempat gue menonton mendadak menjadi terang, lampu ruangannya menyala, sedangkan layar yang tadinya menampilkan film, tiba-tiba mati. Filmnya habis? Beloman. Beloman abis, nyet. Kalau sebuah film habis, biasanya nama-nama pemain serta kru-kru film akan muncul di layar. Lah ini nggak.
Biskopnya sakit sih nih
Perempuan yang duduk disamping kiri gue, berdiri menginggalkan kursi. Tapi temannya nggak mengikutinya. Ketika gue melihat ke sekeliling, beberapa diantara dari mereka keluar ruangan. Tapi, sebagiannya lagi masih duduk manis. Teman-teman gue yang duduk disamping sebelah kanan , kompak mengeluarkan handphone. Ada yang buka Instagram, buka Whatsapp, ada yang buka Bigo sambil joget-joget minta dikirim diamond. Tapi setelah gue perhatikan, kayaknya dia bukan temen gue deh.
Bentar...
Kalau diliat baik-baik, kok mukanya kayak si Kingkong penjual tiket tadi.
Eh, tapi kalau difikir-fikir, muka orang Mesir memang sama semua sih di mata gue.
Ehe ehe.
Setelah sepuluh menit, lampu teater dimatikan. Kemudian film dilanjutkan lagi. Perempuan disamping gue, sudah kembali ke tempat duduknya semula, sambil membawa dua buah Pepsi serta tangan yang satunya lagi membawa bungkusan plastik.  Setau gue, kalau beli Popcorn di bioskop itu ada tempat khususnya deh. Ah ga tau juga. Mungkin isi plastik hitamnya kwetiau goreng. Atau nasi goreng. Atau ayam goreng. Ah semasa bodo.
Ketika film di mulai lagi, ini pekerjaan lumayan susah bagi gue. Susah, karena harus mengingat sampai adegan mana sebelum filmnya mendadak mati tadi. Dan juga, hal lain yang membuat diri gue malas untuk nonton bioskop disini, karena subtitle yang muncul di layar adalah tulisan Arab serta Perancis. Filmnya berbahasa Inggris, subtitlenya bahasa Arab. Mantap. Hitung-hitung belajar listening gitu lah ya. Cukup film yang berbahasa Inggris saja yang gue tonton di bioskop ini. Film-film lain seperti film Korea, Thailand, Argentina, ataupun Brazil, kayaknya nggak akan gue tonton di tempat ini. Niatnya mau refreshing, eh tapi malah kena gejala sakit kepala ringan.
Nggak mau ah.
**
“Eh, tadi kok di tengah-tengah film lampunya nyala deh? Padahal kan belum habis” kata gue.
“Semua film yang ada disini emang gitu, Mat. Ada istirahatnya” kata Hazmi.
“Bisokop apaan kayak gitu. Gue nggak mau nonton lagi di bioskop ini”
“Tapi kalau gue bayarin tiketnya, masih nggak mau?”
“Ehe. Yamaula”
Yah, begitu kira-kira perbedaan bioskop yang ada disini. Kalau nggak percaya, coba nonton disini. Sapa tau ketemu sama si Kingk... 

Wednesday, 1 February 2017

Nikmatnya nge-teh plus Sandboarding di tengah gurun

Bangun pagi di tengah gurun itu rasanya asik-asik semeriwing. Masih terasa aneh sih, ketika bangun tidur yang didapati bukan tembok, selimut, rak sepatu, melainkan sinar bulan yang perlahan-lahan menghilang digantikan dengan cahaya matahari. Biasanya, kalau bangun yang dilalukan kemudian adalah pergi ke kamar mandi. Tapi di gurun beda. Harus jalan dulu menuju batu besar, melawan angin yang berhembus lumyan dingin, kemudian melakukan segala aktifitas entah itu buang air kecil ataupun air besar besar di belakang batu tersebut. Belum lagi, kalau misalnya ada kumpulan para cewe-cewe yang di pagi hari sudah berpose untuk berfoto, mau nggak mau harus pergi ke batu yang lain.
Dasar wanita.
Pagi-pagi bukannya bersih-bersih malah foto-foto. Lipet sleeping bag punya cowo kek gitu, bikinin teh hangat, sapu-sapu gurun gitu, siapa tau ketemu harta karun. Dasar wanita.
Hih.
Kzl.
Lah, ngapa jadi ngondek dah lu, nyet
Ketika matahari mulai beranjak naik, sudah nggak ada lagi yang tidur. Begitu pun dengan gue. Biasanya kalau di rumah, jam segini masih tidur nyenak, masih bisa bermimpi jalan berduaan dengan cewe yang di taksir. Tapi di tengah gurun ini berbeda, gue beserta teman-teman yang lainnya mencari tempat asik buat foto-foto. Intinya pagi hari ini, semua orang sibuk dengan kameranya masing-masing. Semasa bodo dengan sleeping bag yang belum dilipet itu.
Yang penting pagi ini gue harus terlihat seperti cowo yang rajin bangun pagi didepan para cewe-cewe. Udah itu aja.
Salah satu hal menyebalkan di pagi hari ketika di tengah gurun itu, adalah ketika mendapati perut yang semalam baik-baik saja, mendadak pagi ini minta setoran. Setoran buang air besar. Alhamdulillah bukan gue yang merasakan hal itu, melainkan teman gue yang lain. Nggak tau kenapa, gue seneng aja nulisnya.
“Eh, gue mau BAB dibelakang, lu jagain biar nggak ada orang yang lewat”
“Sip. Jangan lupa gali pasirnya dulu, abis itu tutup lagi”
“Iya, berisik lu ah”
Analoginya kayak ada satu orang yang jagain lilin, terus yang satu lagi sedang asik ngep...
Ah, nggak enak lanjutin kalimatnya.
Gue kira, setelah bangun pagi, gue beserta rombongan yang lain langsung pergi menuju destinasi selanjutnya, ternyata nggak. Para supir-supir sedang menata meja-meja, menaruh selai roti, serta memanaskan air, yang nantinya akan kita nikmati. Baru kali ini, pagi gue diisi dengan hal yang begitu meneyenangkan. ­nge-say (baca: minum teh) di tengah padang pasir. Aduh, harus nyobain lah kalian-kalian ini, khusunya para pelajar-pelajar yang ada di Mesir.



Perjalanan selanjutnya menuju tempat paling iconic dari padang pasir ini. Bahkan benda ini sampai dilingkari sebuah pagar bikinan. Di tulisan gue sebelumnya, gue pernah bilang kalau tempat ini dulunya adalah sebuah lautan. Dan batu-batu yang gue bilang itu, merupakan batu laut, atau karang laut. Pokoknya yang ada didasar laut gitu lah. Gede banget cuy batunya. Liat aja deh foto-fotonya.







**
Sekarang matahari sedang terik-teriknya. Persediaan air minum pun juga sudah mulai habis. Dan perjalanan kali ini kita dibawa menuju ke padang pasir lainnya. Tapi tenang, tempat terakhir ini nggak kalah serunya.
Ketika telah sampai di tempat pemberhentian, yang gue saksikan didepan mata gue ini sudah bukan lagi batu-batu karang. Melainkan sebuah pasir yang menutupi sebuah bukit. Bukit pasir? Gunung pasir? Aduh, pokoknya pasirnya tinggi gitu lah. Nggak tau juga deh, kalau ada onta yang lewat tempat itu, kuat atau nggak. Tapi kemarin gue kuat kok. Alhamdulillah yaa~
Para supir mengeluarkan sebuah papan selancar, serta lilin. Guna lilin itu untuk membuat papan selancarnya licin kok, bukan untuk ngepet. Sebetulnya, gue nggak begitu tertarik juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan papan luncur. Tapi sepertinya, kalau gue melakukan hal ini, berarti gue telah mencoba untuk menaklukan rasa takut gue akan ketinggian. Harus nyoba!


Tapi bentar...
Ini pasirnya tinggi banget loh.
Apa harus banget naik? Tapi kalau nggak nyoba, bakalan rugi dong.
Hal terburuk yang akan terjadi kalau gue jatuh ketika berselancar, paling hanya celana dalem gue yang dipenuhi oleh banyak pasir. Ah gitu doang mah gampang.
Yang menyebalkan dari sandboarding ini adalah naiknya yang lama, turunnya yang hanya sekejap mata. Kampret. Papan selancar ini hanya ada empat buah, jadi ada empat orang yang akan naik menuju tempat yang paling atas. Nah, kalau mau tau gue yang mana, nah itu tuh yang selalu di posisi terakhir ketika naik, itu gue. Tapi ketika turun, biasanya gue yang mendarat paling depan. Mungkin karena hukum gravitasi kali ya.

Ginian doang mah, bisa gue.

TAY



Sebahagianya aja dah mau gaya kayak gimana


Walaupun perjalanan ini hanya dua hari, tapi kenangannya akan abadi di hati.

Cie gitu.


Monday, 16 January 2017

Bermalam di tengah gurun pasir

Selama gue tinggal di Mesir, belum pernah sama sekali gue berkemah di tengah gurun. Dan gue rasa, masih banyak mahasiswa di Mesir yang belum merasakan sensasi tidur di tengah gurun. Tapi, di bulan November kemarin, gue resmi menjadi anak gurun sejateee. Gue sudah tidur tepat di tengah gurun, dibawah sinar bintang-bintang, dikelilingi oleh bebatuan yang entah lah itu bentuknya mirip-mirip dengan orang yang bilang, “Kita nggak usah pacaran ya, tapi kalau kamu mau kemana-mana, hubungi aku aja ya” sama-sama nggak jelas. Dan dengan ini gue merasa lebih keren ketimbang kalian, duhai anak masisir yang belum pernah tidur di tengah gurun.
Dasar cupu!
Nggak deng. Opening gue becanda. Jangan serius gitu lah anak kuda.
Jadi gini..
Perjalanan kali ini, gue berangkat tidak sendiri. Gue nggak se-gila itu juga, untuk menginap di tengah gurun sendirian. Kalau gue di patok sama Anakkonda, cerita ini nggak akan kalian baca. Ya kan? he he he.
Oke, lanjut!
Jadi petualangan kemah ini, diikuti oleh gue serta tiga puluh orang lainnya, yang terdiri dari para anggota grup Whatsapp. Kenapa banyak? Ya suka-suka lah. Kenapa banyak nuntut sih kayak Nitizen.
Sewot amat, nyet
Tepat pagi hari, di hari yang telah di tentukan, kami berkumpul didepan kedai penjual jus-jus buah. Pagi itu toko-toko masih sepi, begitu pula dengan kedai penjual jus. Jalanan Kairo di pagi hari itu nggak seramai seperti jalanan di Jakarta, yang pagi hari sudah macet dimana-mana. Gang keluar-masuk rumah gue dulu saja, biasanya sudah macet sejak jam 7 pagi. Biasanya aktifitas Kairo mulai terlihat ketika jam 10 pagi. Di pagi hari itu, yang ramai hanyalah kedai penjual tomiyah. Kalau di ibaratkan di Jakarta, yang ramai itu hanyalah tukang nasi uduk. Selain itu masih sepi.
Jarak tempuh dari tempat kami sekarang menuju lokasi gurun yang ingin kami kunjungi, sekitar 5 jam. Kami menaiki bis yang telah kami sewa sebelumnya untuk menuju tempat itu. Sebetulnya, bukan kami juga sih yang mengurus transportasi dan segalanya. Ada senior kami yang sudah pernah kesana, dan sekarang merangkap menjadi guide kami.
Perjalanan jauh di Mesir itu nggak ada asiknya. Kanan-kiri jalan hanya padang pasir yang tidak ada ujungnya. Sesekali hanya ada bangunan kubus dengan warna-warna yang berbeda. Tapi, kalau sedang beruntung, lu akan menemukan orang yang berdiri membelakangi jalan, sambil menundukkan kepalanya.


Kalau lu ketemu dengan hal seperti itu, ga usah diperhatiin terlalu serius juga deh. Paling itu supir yang lagi kencing. Sama seperti supir bis gue.
Didalam bis,
Cewe: “Lah, kok berenti disini sih? Udah sampe ya?”
Cowo: “Kita kan baru jalan, ukhti. Kita lagi nunggu supirnya. Tuh dia lagi diluar”
Cewe: “Hah! Ngapain?”

*Kemudian buka jendela*
*Ngeliat dengan khusuyuk*

AAAAA.... KYAAAA.... KYAAA

Cewe: “Iiih supirnya kencing”
Cowo: “NGAPAIN DILIATIN JUGA SIH, UKHTI!”
Cewe: “Kan pengen tau”
Cowo: “Semerdeka elu aja, nyet. Bodo amat ah”

**
Setelah 5 jam perjalanan, bis berhenti di pinggir jalan. Didepan bis, sudah ada 5 mobil yang akan mengantarkan kami menuju gurun.
Perjalanan yang sesungguhnya akan di mulai, madefakah!!
Yang 5 jam tadi? Anggap aja perjalanan dengan bis itu sebagai pemanasan.


Gue tiba tepat di sore hari. Sekitar jam 4 sore. Perjalanan ini sebenernya menuju tiga tempat yang berbeda, tempat yang pertama kami kunjungi adalah bukit kristal. Beneran kristal, nyet. Di tengah padang pasir, dan disana ada kristalnya. Kecil-kecil gitu, kayak batu. Sebenernya mau gue ambil banyak, terus gue jual ketika pulang nanti. Tapi bukan seperti itu sikap pria pecinta lingkungan. Bukan seperti itu cuy!!
Sayangnya, di bukit kristal itu hanya sebentar. Karena waktu sudah menjelang malam, dan kami harus ke tempat selanjutnya. Jadi ini beberapa foto ketika kami berada di bukit kristal.








Matahari sudah terbenam, mobil yang kita tumpangi sudah mulai berjalan di gurun, bukan di aspal lagi. Supir mobil gue ini beda dari supir mobil lainnya. Apakah dia orang Ciamis? Bisa bahasa sunda? Oh, bukan. Dia masih orang Mesir, bahasa Arabnya jago. Maksud gue, dia lebih milih jalur jalan yang berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Berbekal cahaya lampu mobil, gue bisa melihat bahwa sudah ada batu-batu kecil yang disusun rapi sebagai penanda untuk mobil-mobil yang akan melewati daerah tersebut. Mobil-mobil yang lain, mereka mengikuti jalan yang sudah diberikan tanda. Sedangkan mobil gue, keluar jalur yang sudah di tandai itu.
Bukannya banyak doa, yang gue serta teman-teman lain lakukan adalah teriak-teriak.
“YANG KENCENG, BANG!!”

“ASOY BANG!! TERBANG-TERBANG GITU LAGI DONG, BANG!! MANTAAAAPP”

“AYO BALAP MOBIL YANG LAIN, BANG”

“ANJIR, SUPIR KITA KEREN BANGET INIH ASLI. YANG LAIN CUPU. YIHAAAA!!”

Nggak supirnya, nggak penumpangnnya. Sama-sama gila.
Mata gue susah untuk melihat pemandangan sekitar. Karena memang sudah gelap ketika itu (ya kan emang udah malem, nyet). Yang bisa terlihat hanya kendaraan teman-teman yang lainnya, serta batu-batu tinggi. Gue nggak tau juga sih itu batu apa. Pokoknya, jumlahnya banyak.
Selagi abang-abang supir menurunkan peralatan kemah, gue serta para cowo yang lain duduk-duduk diatas batu. Ternyata batu ini seperti batu karang laut, dan katanya juga zaman dahulu kala, tempat ini sejatinya adalah lautan. Dan batu-batu besar yang gue lihat sebelumnya adalah karang laut. Bayangin betapa besarnya batu-batu ini. Gue nggak sabar untuk melihat pemandangan ini di esok hari.






Acara malam ini dibuka dengan makan-makan bersama. Makan nasi ayam, serta sup kentang. Aiiih... cobain deh, makan anget-anget di tengah dinginnya gurun pasir. Nikmat banget tjoy. Yang penting, jangan sampai kekenyangaan aja sih. Kalau kekenyangan ya paling,
“Bang, gue mau kencing nih. Dimana ya?” Kata temen gue.

“Yaelah, kalo mau kencing ya dibelakang batu aja udah gih. Terus kalo lu mau BAB, pasirnya digali dulu, abis itu jangan lupa di tutup lagi”
Gimana? Mantap? Mirip kucing gitu kan?
Tapi kalau difikir-fikir, tempat gue ini kan dekat dengan batu juga. Apa jangan-jangan ada orang yang boke.... ah udahlah. Udah lewat juga.
Untuk tidurnya, kita nggak sampai mendirikan kemah gitu kok. Masing-masing dari kita, diberikan satu buah sleeping bag.
Mumpung masih di Mesir, cobain gih tidur di tengah padang pasir kayak gini, cuy...
Dan yang belum main kesini, cobain kemah disini lah. Jangan pergi ke Piramid doang. 


Thursday, 5 January 2017

Ujian tahun baru

IZAYY!!
Nggak terasa sudah masuk tahun baru aja. Sudah bulan Januari lagi. Dan, sudah berapa resolusi tahun kemarin yang sudah tercapai?
Bentar-bentar...
Gue mau nyapu blog dulu. Sudah lumayan juga blog ini nggak di jamah lagi. Dan kenapa semut di layar ini susah banget di hilangkan?
*ambil sapu*
*kemudian nyanyi*
mesyi
Sebagian orang merasa bahwa menuliskan resolusi itu adalah suatu kewajiban penting yang dikerjakan ketika awal tahun. Dan sebagian yang lain, ya sebaliknya. Menuliskan resolusi itu nggak penting-penting banget, toh resolusi yang di tahun sebelumnya belum semua terlaksanakan. Kalau gue sendiri, menganggap bahwa menuliskan resolusi itu suatu hal asik yang nggak ada salahnya untuk dikerjakan. Gue merasa bahagia aja gitu, memimpikan hal-hal yang gue ingin lakukan, tertulis di lembaran kertas. Walaupun belum tentu tercapai, tapi bukannya Walt Disney juga sebelumnya bermula dari mimpi ya?
Nah, kalau kalian sendiri gimana?
Tahun baru ini diawali dengan ujian termin satu mahasiswa Al-Azhar. Iya, hari pertama gue ujian tepat ketika tanggal satu Januari kemarin. Nggak ada kembang api, nggak ada bakar-bakar mantan pacar orang ayam, pokoknya sederhana banget.
Ujian di awal tahun seperti ini, terlebih ketika uang bulanan belum turun itu rasanya agak ngilu. Ujian pertama gue adalah tentang Qodoya Fiqh. Qodoya di semester sekarang ini membahas tentang hukum akad jual beli dalam Islam. Bukunya lumayan tebel, sekitar 300 halaman. Kalau buat alas tidur, nggak nyaman sama sekali. Tapi kalau buat nabok orang, lumayan sakit lah. Apalagi kalau didalam bukunya diisi sama gembok, piring, dan alat-alat berat lainnya, beeuh.. mantap. Dari sekian banyak halaman, soal yang keluar hanya 6. Pokoknya yang tahu isi soal hanya Allah dan duktur (baca:dosen).
Kali ini gue akan bercerita sedikit tentang hal yang gue rasakan ketika ujian.
Pagi itu, selimut-selimut masih menutupi badan gue serta teman-teman rumah gue. Banyak yang tidak ingin beranjak dari kasurnya. Suara adzan shubuh baru saja selesai berkumandang. Suasana pagi hari di Kairo di bulan ini selalu saja sama. Selalu dingin. Huft.
YE KAN EMANG LAGI MUSIM DINGIN SIANYING. KALO MUSIM RAMBUTAN, BUKAN SELIMUT YANG NUTUPIN BADAN ELU, TAPI SEMUT. MAKANYA, KALO ABIS MAKAN RAMBUTAN, KULITNYA DIBUANG!
Suasana pagi di musim dingin ini memang lebih nikmat untuk goler-goler di atas kasur sambil selimutan. Tapi atas nama ujian, gue nggak tidur. Gue sadar bahwa buku didepan gue ini tebelnya sungguh aduhai... mau nangis abdi teh sebenernya. Tapi gue nggak. Gue nggak boleh gitu. Hanya pecundang yang kalah sebelum bertanding. Tapi kalau nangis dikit, ya nggak apa-apa juga lah.
Gue ujian tepat jam 1 siang, itu berarti masih ada banyak waktu untuk scroliing foto cewe idaman di Instagram. Duh, senyumnya. Warna pakaiannya yang serasi dengan warna krudungnya. Duh! Apalagi ketika gue menemukan fotonya yang sedang duduk santai ketika sore hari. Di foto itu dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dengan pashmina berwarna abu-abu. Duh!
Sebentar.
Ini kenapa gue malah cerita tentang cewe yang gue taksir deh.
Dan kenapa kalian masih tetap baca paragraf tentang cewe yang gue taksir itu?
Bubar nggak?!!
Bubar kampret!
LAH MARAH-MARAH SENDIRI SI AKANG
**
Setiap kali ujian seperti ini, gue akan selalu didatangi oleh rasa ‘deg-deg’an, serta rasa ingin cepat selesainya waktu ujian. Tapi di lain sisi, gue takut kalau gue nggak bisa jawab pertanyaan. Terus apa yang harus gue lakukan? Mau teriak jadinya, ‘KYAAAA.... KYAAA.. KYAAA’.
Ketika pengawas membagikan kertas soal, gue akan mengabaikannya terlebih dahulu. Dan lebih fokus untuk mengisi kolom-kolom yang harus diisi di lembaran jawaban. Seperti nama, nama fakultas, tanggal, tanggal jadian, tanggal putus, tanggal ketika dianggap ‘kita lebih baik temenan aja ya!’. Dan setelah selesai menuliskan hal itu, baru lah gue akan memperhatikan lembaran soal.
Ketika lembaran soal gue baca, gue akan memejamkan mata. Seperti di film Sherlock Holmes, otak gue seperti sedang membuka buku, kemudian mencari di halaman berapa letak soal ini berada. Tapi ketika gue lebih fokus, dan tentu saja memejamkan mata, yang terjadi malah sebaliknya. Gue nggak menemukan letak soal itu. Gue nggak tahu juga, ketika memejamkan mata sepertinya bukan buku Qodoya yang tergambarkan di otak, melainkan buku catatan milik gue, yang hampir isinya tertulis nama gadis itu, serta beragam harapan-harapan baik untuk si gadis itu. Gadis pashmina abu-abu.
Ah, semoga saja jawaban yang gue tuliskan di lembar kertas jawaban itu semuanya benar. Kalau pun nggak semuanya, minimal 80% benar lah. Amin.
Sebetulnya gue benci untuk mengatakannya, tapi...
Sepertinya gue harus lebih fokus dengan ujian, serta melengkapi hal-hal yang ingin gue kerjakan terlebih dahulu, ketimbang membayangkan gadis yang gue idamkan itu. Dan seperti yang gue tuliskan diatas. Melupakan gadis ini, si pemilik senyuman indah, sepertinya juga masuk ke dalam salah satu daftar resolusi yang gue buat.
Apakah ini #ResolusiSulit?
Gue harap, nggak sesulit seperti yang dibayangkan.
Hehehe.




Izaay: Apa kabar?

Mesyi: Oke, lanjut!!

Saturday, 3 December 2016

Duhai senior-senior ku yang keren

Minggu kemarin, para pelajar Indonesia yang berada di Mesir atau yang biasa di sebut dengan panggilan Masisir, disajikan dengan berbagai film-film keren karya anak bangsa. Salah satu film yang paling gue inget adalah film Ketika Cinta Bertasbih. Sebenernya filmnya ada banyak, kalau nggak salah ada dua.
Eh, tapi kayaknya lebih.
Namanya kan festival film.
Tapi nggak tau juga sih ada berapa.
Bodo ah~
PPMI Mesir
Film Ketika Cinta Bertasbih ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan Kang Abik, panggilan akrab untuk Habiburahman el-shirazy, yang juga merupakan senior gue di kampus Al-Azhar. Nggak tau juga deh, kenapa gue bangga dengan hal itu. Padahal yang bikin buku bukan gue, ikut ngasih dana untuk filmnya juga nggak. Aneh ya?
PPMI Mesir
Selain Kang Abik, sebetulnya ada kaka Zeze Shahab. Salah satu aktor perempuan yang turut datang ke Mesir. Kemarin itu gue baru pertama kali melihat sosok kakak Zeze Shahab, selain baik, dia juga punya senyuman yang manis. Wajar aja banyak dari masisir yang ingin foto bareng dengannya. Hitung-hitung, biar bisa pamer di sosmed juga kan(?)
Gue?
Gue nggak terlalu suka foto-foto seperti itu, malu. Lebih enak melihat orang-orang yang sibuk mengantri demi foto bareng dengan kakak Zeze. Lucu aja gitu. Eh tapi, kayaknya senior gue, yang menemani kaka Zeze Shahab jalan-jalan di museum kemarin dengan pasminanya berwarna merah, nggak kalah lucu juga. Tapi siapa ya nama senior gue itu? Ah, lupa.
PPMI Mesir
Suaminya kaka Zeze juga ikut kesini, dan gue baru tau ternyata suaminya pun nggak kalah keren. Terkadang hal kecil seperti ini yang menyuntikan semangat ke diri gue untuk menjadi pria yang lebih keren. Mindset gue adalah ketika diri lu berhasil menjadi sosok pria yang hebat, nantinya akan dipertemukan dengan wanita yang keren juga. Atthoyibin lii thoyibat. Lelaki yang baik dengan wanita yang baik.
Nggak salah kan, kalau gue mikir demikian?
Kenapa malah nge-bahas jodoh dah, Nyet?
Selain Kang Abik, ada penulis lain yang gue sukai. Ahmad Fuadi. Beliau adalah penulis Trilogi yang buku-bukunya menjadi best-seller, dan masih ada benang merahnya dengan diri gue. Kalau Kang Abik adalah senior gue di kampus sekarang ini, kalau Ahmad Fuadi adalah senior gue ketika di pondok dulu.
http://dwiyuniarsih28.blogspot.com.eg/
Bentar.
Sebenernya mereka nggak kenal sama gue juga sih, tapi kenapa jadi sok akrab gini dah.
Biarin amat lah ya.
Mereka nggak baca juga.
Nggak tau deh, melihat para senior-senior yang bisa menulis buku sekeren itu, bahkan sampai buku-bukunya di film kan, bikin diri gue minder. Pertanyaan ke diri sendiri berupa,
“Mereka bisa bikin buku best-seller, nah elu kapan, nyet?”
“LU KAPAN MAU NULIS? SPIK DOANG KATANYA MAU JADI PENULIS LU! DASAR ONTA!”
“Jodoh lu sebenernya dimana dah? Kok nggak dateng-dateng dah, Ji”
“Diet apa kabar?”
Gue sampai bosan, dengan pertanyaan yang gue buat itu.
Sepertinya yang gue harus lakukan untuk saat ini adalah menuliskan mimpi gue itu diatas lembar buku catatan, kemudian mempercayai bahwa hal itu pasti terwujud, sambil berusaha dan tidak lupa minta ridho Allah, lalu menjalani hidup dengan damai.
Seperti Tweet yang gue temukan tadi malam, tulisannya kurang lebih seperti ini,
“Lepaskan kemarin, tundalah esok, rayakan hari ini”
Gue sepertinya terlalu takut dengan segala kemungkinan yang terjadi di esok hari, sampai lupa untuk merayakan hari ini.
Duhai senior-senior yang keren plus baik hati, doakan ane supaya jadi penulis hebat yang bermanfaat, dan izin kan ane untuk bisa, atau kalau bisa sih melebihi antum-antum. Syukron!

Sunday, 27 November 2016

Piramid hack, cara gampang dan hemat jalan-jalan di Piramida Mesir

Kemarin, bermula dari grup Whatsapp,  gue serta lima teman lainnya pergi ke bangunan paling iconic yang ada di Mesir. Bangunan yang masuk ke dalam kategori tujuh keajaiban dunia, yaitu senyuman kamu Piramid Giza. 
@zulfikar_fawzi
Oh iya, kalian tau nggak kalau dalam bahasa arab itu tulisan giza itu bukan menggunakan huruf “ غ“ tapi dengan huruf “ ج“.
Oke lanjut!
Sebelumnya gue sudah pernah menjelajahi tempat ini dengan menggunakan bis, ketika mahasiswa baru di tahun pertama. Tapi kali ini, karena jumlah peserta yang ikut sedikit, dan nggak memungkin juga menyewa bis, gue serta teman-teman yang lain memutuskan untuk naik kereta. Yah, sekalian aja gue share caranya. Kali aja, ada yang mau nyoba juga.
Sebetulnya otak dibalik perjalanan ini adalah sosok manusia yang biasa dipanggil Penyu. Semua bermula dari grup whatsapp, dengan gayanya yang sok asik, si Penyu mengirim chat yang kurang lebih isi chatnya seperti ini,
“Gimana kalau hari senin kita pergi ke Piramid?” tulisnya.

@zulfikar_fawzi
Si Penyu mengusulkan ide ini di hari sabtu. Tepat dua hari sebelum hari H. Kurang sok asik apalagi coba.
Dari pertanyaan itu, yang menjawab hanya  5 dari jumlah seluruh penghuni grup yang berjumlah sebanyak 30-an orang. Dan jawaban teman-teman gue,
“Aku sih yes, nggak tau kalo mas Anang yang lain” jawab orang pertama.
*kirim emot jempol dengan berbagai warna* jawaban orang kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Setelah itu si Penyu dengan inisiatifnya mengirimkan pesan (lagi) yang bertuliskan daftar untuk para orang-orang yang akan berangkat ke Piramid di hari senin esok hari.
**
Berikut ini cara ala mahasiswa kere seperti gue untuk bisa pergi ke Piramid dengan budget sehemat mungkin.
Stasiun Ramsis
“Yang bener aja, cuma kita ber-enam doangan nih? Yang lainnya mendadak nikah atau gimana dah? Si Penyu juga nggak dateng, wasu!” kata gue. Dalam hati.
Itulah hal  pertama yang gue ucapkan ke diri sendiri ketika bertemu dengan teman-teman yang jumlah sedikit, di tempat yang telah kita tentukan sebelumnya, yaitu stasiun Ramsis. Ekspektasi gue yang mengira bahwa perjalanan ini akan seru dan ramai ternyata harus pupus seketika. Terakhir gue lihat di grup yang namanya tertulis di acara ini mencapai angka belasan, itu berarti setengah anggota grup akan ikut jalan-jalan ke Piramid. Tapi kenyataannya... ya gitu.
Untuk menaiki kereta ini hanya perlu mengeluarkan uang sebesar satu pound (1 pound Mesir = Rp.1000, untuk saat ini) dengan kereta ini, gue dan teman-teman lainnya akan menuju stasiun Giza, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan tramco (baca:angkot).


@zulfikar_fawzi
Tramco
Setelah turun di stasiun Giza, gue dan teman-teman yang lain telah ditunggu oleh para supir tramco. Sebenernya nggak ditunggu juga sih. Si supir mengatakan, bahwa akan menurunkan kami tepat di gerbang pintu belakang Piramid, gerbang yang dekat dengan patung Spinx, kalau kami membayar 5 pound.
Ketika di tengah perjalanan, ada om-om yang memaksa ikut naik, padahal kondisi mobil yang sedang gue tumpangi telah penuh. Dengan santainya dia duduk tepat disamping pak supir. Lebih tepatnya, dia masuk dari pintu supir, dan duduk cantik disampingnya. Setelah di telusuri lebih jauh, ternyata si om kampret ini adalah salah satu agen travel yang biasa mangkal di jalan menuju pintu masuk Piramid. Dan sialnya, si om kampret ini menyuruh gue dan lima teman lainnya untuk turun dari mobil, kemudian mengikutinya menuju sebuah kantor agen travel.
Tiga menit setelah dia mengajak kami masuk ke ruangannya, kami langsung bubar jalan. Pergi aja gitu, tanpa dosa. Niatnya mau hemat, malah diajak ikutan travel.
Minta banget di sundul nih si ammu(baca: om-om) travelnya
Untungnya, gerbang Piramid nggak jauh dari tempat kami dipaksa turun.

@zulfikar_fawzi
Kartu mahasiswa
Sebenernya poin paling penting dari perjalanan ini adalah benda kecil ini. Percuma kalian mengikuti tips yang pertama dan kedua, kalau benda ajaib ini nggak dibawa.Tarif biasanya untuk turis itu sekitar 100 pound, dengan kartu ajaib ini kami para mahasiswa perantau mental hemat, hanya perlu membayar 40 pound. Bagi yang nggak punya? Ya tinggal minjem sama yang punya.
Sepertinya (menurut gue ya) orang Mesir itu susah untuk membedakan wajah para orang asing. Entah itu yang dari Asia, Eropa ataupun yang lainnya. Gue sendiri masih seperti itu sih, masih ketuker-tuker melihat wajah orang Mesir.
Contohnya,
Ketika naik bis untuk pulang ke rumah, wajah supir yang gue temui mirip dengan wajah penjual pulsa yang gue beli tepat sebelum gue menaiki bis. Dan setelah gue turun, kemudian mampir di kedai penjual minuman di pinggir jalan, wajahnya mirip juga. Ya kayak gitu lah. Sama-sama mancung, sama-sama punya jenggot tebel, sama-sama suka shisa, sama-sama suka ngomong bahasa arab, sama-sama suka tomiyah. Ya gitu lah.
Perjalanan kami ini sebenernya untuk mau pamer kaus angkatan, karena ketika di pondok kami satu angkatan. Tepatnya angkatan 2012.




Di saat sedang asik foto bareng, kami dihampiri oleh turis asing. Dia mengenakan kaus polo berwarna hitam, celana pendek serta mengenakan topi berwarna putih, tipikal bapak-bapak ketika ingin potong rambut di sore hari. Ketika ngobrol-ngobrol, gue baru tahu bahwa dia berasal dari Spanyol. Dia sempat menunjukan galeri foto di hapenya, dan memerkan fotonya bersama salah satu legenda pemain bola yaitu Zinadine Zidane. Untungnya saat itu, gue nggak mengaku bahwa gue fans Barcelona, yang berarti gue adalah fans dari tim musuh bebuyutannya.



Ketika gue serta yang lainnya sudah capek dengan foto-foto serta loncat-loncat dengan latar belakang patung Spinx serta Piramid, datanglah Penyu. Iya, si manusia kampret itu akhirnya datang juga. Walaupun terlambat, setidaknya dia datang.  
Mungkin hanya itu aja sih tips nya, semoga membantu ya!!
Oh iya, untuk pulangnya, kurang lebih sama saja kok. Tinggal naik tramco yang mengarah ke stasiun Giza, kemudian lanjut naik kereta menuju Ramsis. Gampang kan?
Lebih susah menaklukan hati kamu.

@zulfikar_fawzi