Monday, 6 March 2017

Biskopnya sakit sih nih

Semua film-film yang tayang di bioskop Mesir itu aneh. Mulai dari cara beli tiketnya, filmnya, sampai subtitle yang dipakai. Berbeda dengan yang sering gue temukan di Indonesia. Makanya sampai sekarang gue masih belum tertarik untuk menonton film bisokop di Mesir. Disini, ketika ada sebuah film yang akan tayang di bioskop, gue akan dengan senang hati menunggu sampai berbulan-bulan. Menunggu, sampai film itu keluar di web penyedia film, lalu mendownload film bajakan tersebut, kemudian menontonnya di rumah dengan tenang .
http://www.shareyouressays.com
Tapi kemarin, untuk pertama kalinya gue menonton langsung di bioskop.
Sebenernya, nggak penting juga sih tulisan ini. Tapi bodo amat lah ya.
“Ayo sini, kumpulin duitnya. Biar gue yang beli tiketnya” Kata Hazmi.
Ada empat orang lainnya selain gue. Dua orang perempuan, dan dua orang laki-laki. Sebetulnya hanya dua laki-laki, tapi satu orang lagi maksa untuk ikutan. Mau diusir, tapi takut ngambek. Kalau ngambeknya hanya diam dan nggak mau ngomong, gue sih selow. Tapi, kalau ngambeknya sampe ngerusak hubungan orang lain, gimana? Nggak percaya? Percaya aja deh.
Lah maksa
Film yang ingin gue tonton sekarang adalah film yang di bintangi oleh Ryan Gosling, La La Land. Film yang di bintangi oleh saudara gue tapi berbeda ibu ini sebenernya sudah tayang cukup lama di bioskop, dan sebenernya gue sudah punya file filmnya. Tapi belum gue tonton. Kalau gue baca-baca review orang-orang yang telah menonton film ini, katanya sih seru. Tapi endingnya yang, yah gitu. Mantep lah intinya.
Sebelum membeli tiket, Hazmi bertanya ke gue serta teman-teman gue yang lain.
“Ini semuanya mau nonton La La Land? Atau ada yang mau nonton film lain?”
“Lah, kan ini emang niatnya nonton bareng, su. Lu gimana dah” kata penjual tiket.
Ini kenapa penjual tiketnya ikutan nimbrung disini.
“Oh berarti La La Land, lima tiket ya? Biasanya kalau nonton bareng sama kakak gue yang cewe, kita beda film. Gue nonton film Inggris, sedangkan dia nonton film Kamboja”
“Ah maca ci” kata penjual tiket lagi.
Allahu akbar
Ini kalau penjual tiket jawab lagi, gue shot gun juga hidungnya.
“Mat, ikut sini. Kita beli bareng”
Disini letak perbedaan bioskop Indonesia dengan Mesir.
“Mat, gimana nih? filmnya udah mulai. Kita beli tiket yang jam selanjutnya aja?”
“Iya, gitu aja”
Ketika gue sampai di bioskop, disini masih sepi pengunjungnya. Kalau kata si Hazmi sih, pengunjungnya akan rame ketika mulai malam hari. Penyebabnya apa, gue pun juga nggak tau. Tapi, kalau benar penyebabnya, karena setiap malam disini ada penari perut, tau gitu gue datengnya lebih malam. Nyesel jadinya, sampai sini ketika sore hari.
Setau gue, penari perut itu biasanya mangkal di kapal, sambil menemani orang-orang yang sedang makan malam di kapal tersebut. Kerjaannya bikin nggak fokus orang aja ya. Kalau disini beneran ada penari perut yang mangkal ketika malam hari, pasti bakalan mengirit biaya. Karena biaya yang biasanya dikeluarkan untuk melihat orang joget itu saja, perlu mengeluarkan uang sampai 400 Pound Mesir.  Gila ya.
Bentar. Ini kenapa gue jadi ngebahas si penari perut. Hhhh.
Oke lanjut.
“Kalian harus nunggu satu jam lagi, sebelum filmnya mulai. Kalau beli sekarang nggak bisa. Paham kamu?!” kata penjual tiket, yang wajahnya mirip Kingkong.
Aneh.
Mau beli tiket tapi ditahan-tahan.
Di Indonesia nggak kayak gitu ah setau gue.
Iya kan?
Dasar Kingkong.
**
Setelah sejam film dimulai, ruang teater tempat gue menonton mendadak menjadi terang, lampu ruangannya menyala, sedangkan layar yang tadinya menampilkan film, tiba-tiba mati. Filmnya habis? Beloman. Beloman abis, nyet. Kalau sebuah film habis, biasanya nama-nama pemain serta kru-kru film akan muncul di layar. Lah ini nggak.
Biskopnya sakit sih nih
Perempuan yang duduk disamping kiri gue, berdiri menginggalkan kursi. Tapi temannya nggak mengikutinya. Ketika gue melihat ke sekeliling, beberapa diantara dari mereka keluar ruangan. Tapi, sebagiannya lagi masih duduk manis. Teman-teman gue yang duduk disamping sebelah kanan , kompak mengeluarkan handphone. Ada yang buka Instagram, buka Whatsapp, ada yang buka Bigo sambil joget-joget minta dikirim diamond. Tapi setelah gue perhatikan, kayaknya dia bukan temen gue deh.
Bentar...
Kalau diliat baik-baik, kok mukanya kayak si Kingkong penjual tiket tadi.
Eh, tapi kalau difikir-fikir, muka orang Mesir memang sama semua sih di mata gue.
Ehe ehe.
Setelah sepuluh menit, lampu teater dimatikan. Kemudian film dilanjutkan lagi. Perempuan disamping gue, sudah kembali ke tempat duduknya semula, sambil membawa dua buah Pepsi serta tangan yang satunya lagi membawa bungkusan plastik.  Setau gue, kalau beli Popcorn di bioskop itu ada tempat khususnya deh. Ah ga tau juga. Mungkin isi plastik hitamnya kwetiau goreng. Atau nasi goreng. Atau ayam goreng. Ah semasa bodo.
Ketika film di mulai lagi, ini pekerjaan lumayan susah bagi gue. Susah, karena harus mengingat sampai adegan mana sebelum filmnya mendadak mati tadi. Dan juga, hal lain yang membuat diri gue malas untuk nonton bioskop disini, karena subtitle yang muncul di layar adalah tulisan Arab serta Perancis. Filmnya berbahasa Inggris, subtitlenya bahasa Arab. Mantap. Hitung-hitung belajar listening gitu lah ya. Cukup film yang berbahasa Inggris saja yang gue tonton di bioskop ini. Film-film lain seperti film Korea, Thailand, Argentina, ataupun Brazil, kayaknya nggak akan gue tonton di tempat ini. Niatnya mau refreshing, eh tapi malah kena gejala sakit kepala ringan.
Nggak mau ah.
**
“Eh, tadi kok di tengah-tengah film lampunya nyala deh? Padahal kan belum habis” kata gue.
“Semua film yang ada disini emang gitu, Mat. Ada istirahatnya” kata Hazmi.
“Bisokop apaan kayak gitu. Gue nggak mau nonton lagi di bioskop ini”
“Tapi kalau gue bayarin tiketnya, masih nggak mau?”
“Ehe. Yamaula”
Yah, begitu kira-kira perbedaan bioskop yang ada disini. Kalau nggak percaya, coba nonton disini. Sapa tau ketemu sama si Kingk... 

Wednesday, 1 February 2017

Nikmatnya nge-teh plus Sandboarding di tengah gurun

Bangun pagi di tengah gurun itu rasanya asik-asik semeriwing. Masih terasa aneh sih, ketika bangun tidur yang didapati bukan tembok, selimut, rak sepatu, melainkan sinar bulan yang perlahan-lahan menghilang digantikan dengan cahaya matahari. Biasanya, kalau bangun yang dilalukan kemudian adalah pergi ke kamar mandi. Tapi di gurun beda. Harus jalan dulu menuju batu besar, melawan angin yang berhembus lumyan dingin, kemudian melakukan segala aktifitas entah itu buang air kecil ataupun air besar besar di belakang batu tersebut. Belum lagi, kalau misalnya ada kumpulan para cewe-cewe yang di pagi hari sudah berpose untuk berfoto, mau nggak mau harus pergi ke batu yang lain.
Dasar wanita.
Pagi-pagi bukannya bersih-bersih malah foto-foto. Lipet sleeping bag punya cowo kek gitu, bikinin teh hangat, sapu-sapu gurun gitu, siapa tau ketemu harta karun. Dasar wanita.
Hih.
Kzl.
Lah, ngapa jadi ngondek dah lu, nyet
Ketika matahari mulai beranjak naik, sudah nggak ada lagi yang tidur. Begitu pun dengan gue. Biasanya kalau di rumah, jam segini masih tidur nyenak, masih bisa bermimpi jalan berduaan dengan cewe yang di taksir. Tapi di tengah gurun ini berbeda, gue beserta teman-teman yang lainnya mencari tempat asik buat foto-foto. Intinya pagi hari ini, semua orang sibuk dengan kameranya masing-masing. Semasa bodo dengan sleeping bag yang belum dilipet itu.
Yang penting pagi ini gue harus terlihat seperti cowo yang rajin bangun pagi didepan para cewe-cewe. Udah itu aja.
Salah satu hal menyebalkan di pagi hari ketika di tengah gurun itu, adalah ketika mendapati perut yang semalam baik-baik saja, mendadak pagi ini minta setoran. Setoran buang air besar. Alhamdulillah bukan gue yang merasakan hal itu, melainkan teman gue yang lain. Nggak tau kenapa, gue seneng aja nulisnya.
“Eh, gue mau BAB dibelakang, lu jagain biar nggak ada orang yang lewat”
“Sip. Jangan lupa gali pasirnya dulu, abis itu tutup lagi”
“Iya, berisik lu ah”
Analoginya kayak ada satu orang yang jagain lilin, terus yang satu lagi sedang asik ngep...
Ah, nggak enak lanjutin kalimatnya.
Gue kira, setelah bangun pagi, gue beserta rombongan yang lain langsung pergi menuju destinasi selanjutnya, ternyata nggak. Para supir-supir sedang menata meja-meja, menaruh selai roti, serta memanaskan air, yang nantinya akan kita nikmati. Baru kali ini, pagi gue diisi dengan hal yang begitu meneyenangkan. ­nge-say (baca: minum teh) di tengah padang pasir. Aduh, harus nyobain lah kalian-kalian ini, khusunya para pelajar-pelajar yang ada di Mesir.



Perjalanan selanjutnya menuju tempat paling iconic dari padang pasir ini. Bahkan benda ini sampai dilingkari sebuah pagar bikinan. Di tulisan gue sebelumnya, gue pernah bilang kalau tempat ini dulunya adalah sebuah lautan. Dan batu-batu yang gue bilang itu, merupakan batu laut, atau karang laut. Pokoknya yang ada didasar laut gitu lah. Gede banget cuy batunya. Liat aja deh foto-fotonya.







**
Sekarang matahari sedang terik-teriknya. Persediaan air minum pun juga sudah mulai habis. Dan perjalanan kali ini kita dibawa menuju ke padang pasir lainnya. Tapi tenang, tempat terakhir ini nggak kalah serunya.
Ketika telah sampai di tempat pemberhentian, yang gue saksikan didepan mata gue ini sudah bukan lagi batu-batu karang. Melainkan sebuah pasir yang menutupi sebuah bukit. Bukit pasir? Gunung pasir? Aduh, pokoknya pasirnya tinggi gitu lah. Nggak tau juga deh, kalau ada onta yang lewat tempat itu, kuat atau nggak. Tapi kemarin gue kuat kok. Alhamdulillah yaa~
Para supir mengeluarkan sebuah papan selancar, serta lilin. Guna lilin itu untuk membuat papan selancarnya licin kok, bukan untuk ngepet. Sebetulnya, gue nggak begitu tertarik juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan papan luncur. Tapi sepertinya, kalau gue melakukan hal ini, berarti gue telah mencoba untuk menaklukan rasa takut gue akan ketinggian. Harus nyoba!


Tapi bentar...
Ini pasirnya tinggi banget loh.
Apa harus banget naik? Tapi kalau nggak nyoba, bakalan rugi dong.
Hal terburuk yang akan terjadi kalau gue jatuh ketika berselancar, paling hanya celana dalem gue yang dipenuhi oleh banyak pasir. Ah gitu doang mah gampang.
Yang menyebalkan dari sandboarding ini adalah naiknya yang lama, turunnya yang hanya sekejap mata. Kampret. Papan selancar ini hanya ada empat buah, jadi ada empat orang yang akan naik menuju tempat yang paling atas. Nah, kalau mau tau gue yang mana, nah itu tuh yang selalu di posisi terakhir ketika naik, itu gue. Tapi ketika turun, biasanya gue yang mendarat paling depan. Mungkin karena hukum gravitasi kali ya.

Ginian doang mah, bisa gue.

TAY



Sebahagianya aja dah mau gaya kayak gimana


Walaupun perjalanan ini hanya dua hari, tapi kenangannya akan abadi di hati.

Cie gitu.


Monday, 16 January 2017

Bermalam di tengah gurun pasir

Selama gue tinggal di Mesir, belum pernah sama sekali gue berkemah di tengah gurun. Dan gue rasa, masih banyak mahasiswa di Mesir yang belum merasakan sensasi tidur di tengah gurun. Tapi, di bulan November kemarin, gue resmi menjadi anak gurun sejateee. Gue sudah tidur tepat di tengah gurun, dibawah sinar bintang-bintang, dikelilingi oleh bebatuan yang entah lah itu bentuknya mirip-mirip dengan orang yang bilang, “Kita nggak usah pacaran ya, tapi kalau kamu mau kemana-mana, hubungi aku aja ya” sama-sama nggak jelas. Dan dengan ini gue merasa lebih keren ketimbang kalian, duhai anak masisir yang belum pernah tidur di tengah gurun.
Dasar cupu!
Nggak deng. Opening gue becanda. Jangan serius gitu lah anak kuda.
Jadi gini..
Perjalanan kali ini, gue berangkat tidak sendiri. Gue nggak se-gila itu juga, untuk menginap di tengah gurun sendirian. Kalau gue di patok sama Anakkonda, cerita ini nggak akan kalian baca. Ya kan? he he he.
Oke, lanjut!
Jadi petualangan kemah ini, diikuti oleh gue serta tiga puluh orang lainnya, yang terdiri dari para anggota grup Whatsapp. Kenapa banyak? Ya suka-suka lah. Kenapa banyak nuntut sih kayak Nitizen.
Sewot amat, nyet
Tepat pagi hari, di hari yang telah di tentukan, kami berkumpul didepan kedai penjual jus-jus buah. Pagi itu toko-toko masih sepi, begitu pula dengan kedai penjual jus. Jalanan Kairo di pagi hari itu nggak seramai seperti jalanan di Jakarta, yang pagi hari sudah macet dimana-mana. Gang keluar-masuk rumah gue dulu saja, biasanya sudah macet sejak jam 7 pagi. Biasanya aktifitas Kairo mulai terlihat ketika jam 10 pagi. Di pagi hari itu, yang ramai hanyalah kedai penjual tomiyah. Kalau di ibaratkan di Jakarta, yang ramai itu hanyalah tukang nasi uduk. Selain itu masih sepi.
Jarak tempuh dari tempat kami sekarang menuju lokasi gurun yang ingin kami kunjungi, sekitar 5 jam. Kami menaiki bis yang telah kami sewa sebelumnya untuk menuju tempat itu. Sebetulnya, bukan kami juga sih yang mengurus transportasi dan segalanya. Ada senior kami yang sudah pernah kesana, dan sekarang merangkap menjadi guide kami.
Perjalanan jauh di Mesir itu nggak ada asiknya. Kanan-kiri jalan hanya padang pasir yang tidak ada ujungnya. Sesekali hanya ada bangunan kubus dengan warna-warna yang berbeda. Tapi, kalau sedang beruntung, lu akan menemukan orang yang berdiri membelakangi jalan, sambil menundukkan kepalanya.


Kalau lu ketemu dengan hal seperti itu, ga usah diperhatiin terlalu serius juga deh. Paling itu supir yang lagi kencing. Sama seperti supir bis gue.
Didalam bis,
Cewe: “Lah, kok berenti disini sih? Udah sampe ya?”
Cowo: “Kita kan baru jalan, ukhti. Kita lagi nunggu supirnya. Tuh dia lagi diluar”
Cewe: “Hah! Ngapain?”

*Kemudian buka jendela*
*Ngeliat dengan khusuyuk*

AAAAA.... KYAAAA.... KYAAA

Cewe: “Iiih supirnya kencing”
Cowo: “NGAPAIN DILIATIN JUGA SIH, UKHTI!”
Cewe: “Kan pengen tau”
Cowo: “Semerdeka elu aja, nyet. Bodo amat ah”

**
Setelah 5 jam perjalanan, bis berhenti di pinggir jalan. Didepan bis, sudah ada 5 mobil yang akan mengantarkan kami menuju gurun.
Perjalanan yang sesungguhnya akan di mulai, madefakah!!
Yang 5 jam tadi? Anggap aja perjalanan dengan bis itu sebagai pemanasan.


Gue tiba tepat di sore hari. Sekitar jam 4 sore. Perjalanan ini sebenernya menuju tiga tempat yang berbeda, tempat yang pertama kami kunjungi adalah bukit kristal. Beneran kristal, nyet. Di tengah padang pasir, dan disana ada kristalnya. Kecil-kecil gitu, kayak batu. Sebenernya mau gue ambil banyak, terus gue jual ketika pulang nanti. Tapi bukan seperti itu sikap pria pecinta lingkungan. Bukan seperti itu cuy!!
Sayangnya, di bukit kristal itu hanya sebentar. Karena waktu sudah menjelang malam, dan kami harus ke tempat selanjutnya. Jadi ini beberapa foto ketika kami berada di bukit kristal.








Matahari sudah terbenam, mobil yang kita tumpangi sudah mulai berjalan di gurun, bukan di aspal lagi. Supir mobil gue ini beda dari supir mobil lainnya. Apakah dia orang Ciamis? Bisa bahasa sunda? Oh, bukan. Dia masih orang Mesir, bahasa Arabnya jago. Maksud gue, dia lebih milih jalur jalan yang berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Berbekal cahaya lampu mobil, gue bisa melihat bahwa sudah ada batu-batu kecil yang disusun rapi sebagai penanda untuk mobil-mobil yang akan melewati daerah tersebut. Mobil-mobil yang lain, mereka mengikuti jalan yang sudah diberikan tanda. Sedangkan mobil gue, keluar jalur yang sudah di tandai itu.
Bukannya banyak doa, yang gue serta teman-teman lain lakukan adalah teriak-teriak.
“YANG KENCENG, BANG!!”

“ASOY BANG!! TERBANG-TERBANG GITU LAGI DONG, BANG!! MANTAAAAPP”

“AYO BALAP MOBIL YANG LAIN, BANG”

“ANJIR, SUPIR KITA KEREN BANGET INIH ASLI. YANG LAIN CUPU. YIHAAAA!!”

Nggak supirnya, nggak penumpangnnya. Sama-sama gila.
Mata gue susah untuk melihat pemandangan sekitar. Karena memang sudah gelap ketika itu (ya kan emang udah malem, nyet). Yang bisa terlihat hanya kendaraan teman-teman yang lainnya, serta batu-batu tinggi. Gue nggak tau juga sih itu batu apa. Pokoknya, jumlahnya banyak.
Selagi abang-abang supir menurunkan peralatan kemah, gue serta para cowo yang lain duduk-duduk diatas batu. Ternyata batu ini seperti batu karang laut, dan katanya juga zaman dahulu kala, tempat ini sejatinya adalah lautan. Dan batu-batu besar yang gue lihat sebelumnya adalah karang laut. Bayangin betapa besarnya batu-batu ini. Gue nggak sabar untuk melihat pemandangan ini di esok hari.






Acara malam ini dibuka dengan makan-makan bersama. Makan nasi ayam, serta sup kentang. Aiiih... cobain deh, makan anget-anget di tengah dinginnya gurun pasir. Nikmat banget tjoy. Yang penting, jangan sampai kekenyangaan aja sih. Kalau kekenyangan ya paling,
“Bang, gue mau kencing nih. Dimana ya?” Kata temen gue.

“Yaelah, kalo mau kencing ya dibelakang batu aja udah gih. Terus kalo lu mau BAB, pasirnya digali dulu, abis itu jangan lupa di tutup lagi”
Gimana? Mantap? Mirip kucing gitu kan?
Tapi kalau difikir-fikir, tempat gue ini kan dekat dengan batu juga. Apa jangan-jangan ada orang yang boke.... ah udahlah. Udah lewat juga.
Untuk tidurnya, kita nggak sampai mendirikan kemah gitu kok. Masing-masing dari kita, diberikan satu buah sleeping bag.
Mumpung masih di Mesir, cobain gih tidur di tengah padang pasir kayak gini, cuy...
Dan yang belum main kesini, cobain kemah disini lah. Jangan pergi ke Piramid doang. 


Thursday, 5 January 2017

Ujian tahun baru

IZAYY!!
Nggak terasa sudah masuk tahun baru aja. Sudah bulan Januari lagi. Dan, sudah berapa resolusi tahun kemarin yang sudah tercapai?
Bentar-bentar...
Gue mau nyapu blog dulu. Sudah lumayan juga blog ini nggak di jamah lagi. Dan kenapa semut di layar ini susah banget di hilangkan?
*ambil sapu*
*kemudian nyanyi*
mesyi
Sebagian orang merasa bahwa menuliskan resolusi itu adalah suatu kewajiban penting yang dikerjakan ketika awal tahun. Dan sebagian yang lain, ya sebaliknya. Menuliskan resolusi itu nggak penting-penting banget, toh resolusi yang di tahun sebelumnya belum semua terlaksanakan. Kalau gue sendiri, menganggap bahwa menuliskan resolusi itu suatu hal asik yang nggak ada salahnya untuk dikerjakan. Gue merasa bahagia aja gitu, memimpikan hal-hal yang gue ingin lakukan, tertulis di lembaran kertas. Walaupun belum tentu tercapai, tapi bukannya Walt Disney juga sebelumnya bermula dari mimpi ya?
Nah, kalau kalian sendiri gimana?
Tahun baru ini diawali dengan ujian termin satu mahasiswa Al-Azhar. Iya, hari pertama gue ujian tepat ketika tanggal satu Januari kemarin. Nggak ada kembang api, nggak ada bakar-bakar mantan pacar orang ayam, pokoknya sederhana banget.
Ujian di awal tahun seperti ini, terlebih ketika uang bulanan belum turun itu rasanya agak ngilu. Ujian pertama gue adalah tentang Qodoya Fiqh. Qodoya di semester sekarang ini membahas tentang hukum akad jual beli dalam Islam. Bukunya lumayan tebel, sekitar 300 halaman. Kalau buat alas tidur, nggak nyaman sama sekali. Tapi kalau buat nabok orang, lumayan sakit lah. Apalagi kalau didalam bukunya diisi sama gembok, piring, dan alat-alat berat lainnya, beeuh.. mantap. Dari sekian banyak halaman, soal yang keluar hanya 6. Pokoknya yang tahu isi soal hanya Allah dan duktur (baca:dosen).
Kali ini gue akan bercerita sedikit tentang hal yang gue rasakan ketika ujian.
Pagi itu, selimut-selimut masih menutupi badan gue serta teman-teman rumah gue. Banyak yang tidak ingin beranjak dari kasurnya. Suara adzan shubuh baru saja selesai berkumandang. Suasana pagi hari di Kairo di bulan ini selalu saja sama. Selalu dingin. Huft.
YE KAN EMANG LAGI MUSIM DINGIN SIANYING. KALO MUSIM RAMBUTAN, BUKAN SELIMUT YANG NUTUPIN BADAN ELU, TAPI SEMUT. MAKANYA, KALO ABIS MAKAN RAMBUTAN, KULITNYA DIBUANG!
Suasana pagi di musim dingin ini memang lebih nikmat untuk goler-goler di atas kasur sambil selimutan. Tapi atas nama ujian, gue nggak tidur. Gue sadar bahwa buku didepan gue ini tebelnya sungguh aduhai... mau nangis abdi teh sebenernya. Tapi gue nggak. Gue nggak boleh gitu. Hanya pecundang yang kalah sebelum bertanding. Tapi kalau nangis dikit, ya nggak apa-apa juga lah.
Gue ujian tepat jam 1 siang, itu berarti masih ada banyak waktu untuk scroliing foto cewe idaman di Instagram. Duh, senyumnya. Warna pakaiannya yang serasi dengan warna krudungnya. Duh! Apalagi ketika gue menemukan fotonya yang sedang duduk santai ketika sore hari. Di foto itu dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dengan pashmina berwarna abu-abu. Duh!
Sebentar.
Ini kenapa gue malah cerita tentang cewe yang gue taksir deh.
Dan kenapa kalian masih tetap baca paragraf tentang cewe yang gue taksir itu?
Bubar nggak?!!
Bubar kampret!
LAH MARAH-MARAH SENDIRI SI AKANG
**
Setiap kali ujian seperti ini, gue akan selalu didatangi oleh rasa ‘deg-deg’an, serta rasa ingin cepat selesainya waktu ujian. Tapi di lain sisi, gue takut kalau gue nggak bisa jawab pertanyaan. Terus apa yang harus gue lakukan? Mau teriak jadinya, ‘KYAAAA.... KYAAA.. KYAAA’.
Ketika pengawas membagikan kertas soal, gue akan mengabaikannya terlebih dahulu. Dan lebih fokus untuk mengisi kolom-kolom yang harus diisi di lembaran jawaban. Seperti nama, nama fakultas, tanggal, tanggal jadian, tanggal putus, tanggal ketika dianggap ‘kita lebih baik temenan aja ya!’. Dan setelah selesai menuliskan hal itu, baru lah gue akan memperhatikan lembaran soal.
Ketika lembaran soal gue baca, gue akan memejamkan mata. Seperti di film Sherlock Holmes, otak gue seperti sedang membuka buku, kemudian mencari di halaman berapa letak soal ini berada. Tapi ketika gue lebih fokus, dan tentu saja memejamkan mata, yang terjadi malah sebaliknya. Gue nggak menemukan letak soal itu. Gue nggak tahu juga, ketika memejamkan mata sepertinya bukan buku Qodoya yang tergambarkan di otak, melainkan buku catatan milik gue, yang hampir isinya tertulis nama gadis itu, serta beragam harapan-harapan baik untuk si gadis itu. Gadis pashmina abu-abu.
Ah, semoga saja jawaban yang gue tuliskan di lembar kertas jawaban itu semuanya benar. Kalau pun nggak semuanya, minimal 80% benar lah. Amin.
Sebetulnya gue benci untuk mengatakannya, tapi...
Sepertinya gue harus lebih fokus dengan ujian, serta melengkapi hal-hal yang ingin gue kerjakan terlebih dahulu, ketimbang membayangkan gadis yang gue idamkan itu. Dan seperti yang gue tuliskan diatas. Melupakan gadis ini, si pemilik senyuman indah, sepertinya juga masuk ke dalam salah satu daftar resolusi yang gue buat.
Apakah ini #ResolusiSulit?
Gue harap, nggak sesulit seperti yang dibayangkan.
Hehehe.




Izaay: Apa kabar?

Mesyi: Oke, lanjut!!

Saturday, 3 December 2016

Duhai senior-senior ku yang keren

Minggu kemarin, para pelajar Indonesia yang berada di Mesir atau yang biasa di sebut dengan panggilan Masisir, disajikan dengan berbagai film-film keren karya anak bangsa. Salah satu film yang paling gue inget adalah film Ketika Cinta Bertasbih. Sebenernya filmnya ada banyak, kalau nggak salah ada dua.
Eh, tapi kayaknya lebih.
Namanya kan festival film.
Tapi nggak tau juga sih ada berapa.
Bodo ah~
PPMI Mesir
Film Ketika Cinta Bertasbih ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan Kang Abik, panggilan akrab untuk Habiburahman el-shirazy, yang juga merupakan senior gue di kampus Al-Azhar. Nggak tau juga deh, kenapa gue bangga dengan hal itu. Padahal yang bikin buku bukan gue, ikut ngasih dana untuk filmnya juga nggak. Aneh ya?
PPMI Mesir
Selain Kang Abik, sebetulnya ada kaka Zeze Shahab. Salah satu aktor perempuan yang turut datang ke Mesir. Kemarin itu gue baru pertama kali melihat sosok kakak Zeze Shahab, selain baik, dia juga punya senyuman yang manis. Wajar aja banyak dari masisir yang ingin foto bareng dengannya. Hitung-hitung, biar bisa pamer di sosmed juga kan(?)
Gue?
Gue nggak terlalu suka foto-foto seperti itu, malu. Lebih enak melihat orang-orang yang sibuk mengantri demi foto bareng dengan kakak Zeze. Lucu aja gitu. Eh tapi, kayaknya senior gue, yang menemani kaka Zeze Shahab jalan-jalan di museum kemarin dengan pasminanya berwarna merah, nggak kalah lucu juga. Tapi siapa ya nama senior gue itu? Ah, lupa.
PPMI Mesir
Suaminya kaka Zeze juga ikut kesini, dan gue baru tau ternyata suaminya pun nggak kalah keren. Terkadang hal kecil seperti ini yang menyuntikan semangat ke diri gue untuk menjadi pria yang lebih keren. Mindset gue adalah ketika diri lu berhasil menjadi sosok pria yang hebat, nantinya akan dipertemukan dengan wanita yang keren juga. Atthoyibin lii thoyibat. Lelaki yang baik dengan wanita yang baik.
Nggak salah kan, kalau gue mikir demikian?
Kenapa malah nge-bahas jodoh dah, Nyet?
Selain Kang Abik, ada penulis lain yang gue sukai. Ahmad Fuadi. Beliau adalah penulis Trilogi yang buku-bukunya menjadi best-seller, dan masih ada benang merahnya dengan diri gue. Kalau Kang Abik adalah senior gue di kampus sekarang ini, kalau Ahmad Fuadi adalah senior gue ketika di pondok dulu.
http://dwiyuniarsih28.blogspot.com.eg/
Bentar.
Sebenernya mereka nggak kenal sama gue juga sih, tapi kenapa jadi sok akrab gini dah.
Biarin amat lah ya.
Mereka nggak baca juga.
Nggak tau deh, melihat para senior-senior yang bisa menulis buku sekeren itu, bahkan sampai buku-bukunya di film kan, bikin diri gue minder. Pertanyaan ke diri sendiri berupa,
“Mereka bisa bikin buku best-seller, nah elu kapan, nyet?”
“LU KAPAN MAU NULIS? SPIK DOANG KATANYA MAU JADI PENULIS LU! DASAR ONTA!”
“Jodoh lu sebenernya dimana dah? Kok nggak dateng-dateng dah, Ji”
“Diet apa kabar?”
Gue sampai bosan, dengan pertanyaan yang gue buat itu.
Sepertinya yang gue harus lakukan untuk saat ini adalah menuliskan mimpi gue itu diatas lembar buku catatan, kemudian mempercayai bahwa hal itu pasti terwujud, sambil berusaha dan tidak lupa minta ridho Allah, lalu menjalani hidup dengan damai.
Seperti Tweet yang gue temukan tadi malam, tulisannya kurang lebih seperti ini,
“Lepaskan kemarin, tundalah esok, rayakan hari ini”
Gue sepertinya terlalu takut dengan segala kemungkinan yang terjadi di esok hari, sampai lupa untuk merayakan hari ini.
Duhai senior-senior yang keren plus baik hati, doakan ane supaya jadi penulis hebat yang bermanfaat, dan izin kan ane untuk bisa, atau kalau bisa sih melebihi antum-antum. Syukron!

Sunday, 27 November 2016

Piramid hack, cara gampang dan hemat jalan-jalan di Piramida Mesir

Kemarin, bermula dari grup Whatsapp,  gue serta lima teman lainnya pergi ke bangunan paling iconic yang ada di Mesir. Bangunan yang masuk ke dalam kategori tujuh keajaiban dunia, yaitu senyuman kamu Piramid Giza. 
@zulfikar_fawzi
Oh iya, kalian tau nggak kalau dalam bahasa arab itu tulisan giza itu bukan menggunakan huruf “ غ“ tapi dengan huruf “ ج“.
Oke lanjut!
Sebelumnya gue sudah pernah menjelajahi tempat ini dengan menggunakan bis, ketika mahasiswa baru di tahun pertama. Tapi kali ini, karena jumlah peserta yang ikut sedikit, dan nggak memungkin juga menyewa bis, gue serta teman-teman yang lain memutuskan untuk naik kereta. Yah, sekalian aja gue share caranya. Kali aja, ada yang mau nyoba juga.
Sebetulnya otak dibalik perjalanan ini adalah sosok manusia yang biasa dipanggil Penyu. Semua bermula dari grup whatsapp, dengan gayanya yang sok asik, si Penyu mengirim chat yang kurang lebih isi chatnya seperti ini,
“Gimana kalau hari senin kita pergi ke Piramid?” tulisnya.

@zulfikar_fawzi
Si Penyu mengusulkan ide ini di hari sabtu. Tepat dua hari sebelum hari H. Kurang sok asik apalagi coba.
Dari pertanyaan itu, yang menjawab hanya  5 dari jumlah seluruh penghuni grup yang berjumlah sebanyak 30-an orang. Dan jawaban teman-teman gue,
“Aku sih yes, nggak tau kalo mas Anang yang lain” jawab orang pertama.
*kirim emot jempol dengan berbagai warna* jawaban orang kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Setelah itu si Penyu dengan inisiatifnya mengirimkan pesan (lagi) yang bertuliskan daftar untuk para orang-orang yang akan berangkat ke Piramid di hari senin esok hari.
**
Berikut ini cara ala mahasiswa kere seperti gue untuk bisa pergi ke Piramid dengan budget sehemat mungkin.
Stasiun Ramsis
“Yang bener aja, cuma kita ber-enam doangan nih? Yang lainnya mendadak nikah atau gimana dah? Si Penyu juga nggak dateng, wasu!” kata gue. Dalam hati.
Itulah hal  pertama yang gue ucapkan ke diri sendiri ketika bertemu dengan teman-teman yang jumlah sedikit, di tempat yang telah kita tentukan sebelumnya, yaitu stasiun Ramsis. Ekspektasi gue yang mengira bahwa perjalanan ini akan seru dan ramai ternyata harus pupus seketika. Terakhir gue lihat di grup yang namanya tertulis di acara ini mencapai angka belasan, itu berarti setengah anggota grup akan ikut jalan-jalan ke Piramid. Tapi kenyataannya... ya gitu.
Untuk menaiki kereta ini hanya perlu mengeluarkan uang sebesar satu pound (1 pound Mesir = Rp.1000, untuk saat ini) dengan kereta ini, gue dan teman-teman lainnya akan menuju stasiun Giza, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan tramco (baca:angkot).


@zulfikar_fawzi
Tramco
Setelah turun di stasiun Giza, gue dan teman-teman yang lain telah ditunggu oleh para supir tramco. Sebenernya nggak ditunggu juga sih. Si supir mengatakan, bahwa akan menurunkan kami tepat di gerbang pintu belakang Piramid, gerbang yang dekat dengan patung Spinx, kalau kami membayar 5 pound.
Ketika di tengah perjalanan, ada om-om yang memaksa ikut naik, padahal kondisi mobil yang sedang gue tumpangi telah penuh. Dengan santainya dia duduk tepat disamping pak supir. Lebih tepatnya, dia masuk dari pintu supir, dan duduk cantik disampingnya. Setelah di telusuri lebih jauh, ternyata si om kampret ini adalah salah satu agen travel yang biasa mangkal di jalan menuju pintu masuk Piramid. Dan sialnya, si om kampret ini menyuruh gue dan lima teman lainnya untuk turun dari mobil, kemudian mengikutinya menuju sebuah kantor agen travel.
Tiga menit setelah dia mengajak kami masuk ke ruangannya, kami langsung bubar jalan. Pergi aja gitu, tanpa dosa. Niatnya mau hemat, malah diajak ikutan travel.
Minta banget di sundul nih si ammu(baca: om-om) travelnya
Untungnya, gerbang Piramid nggak jauh dari tempat kami dipaksa turun.

@zulfikar_fawzi
Kartu mahasiswa
Sebenernya poin paling penting dari perjalanan ini adalah benda kecil ini. Percuma kalian mengikuti tips yang pertama dan kedua, kalau benda ajaib ini nggak dibawa.Tarif biasanya untuk turis itu sekitar 100 pound, dengan kartu ajaib ini kami para mahasiswa perantau mental hemat, hanya perlu membayar 40 pound. Bagi yang nggak punya? Ya tinggal minjem sama yang punya.
Sepertinya (menurut gue ya) orang Mesir itu susah untuk membedakan wajah para orang asing. Entah itu yang dari Asia, Eropa ataupun yang lainnya. Gue sendiri masih seperti itu sih, masih ketuker-tuker melihat wajah orang Mesir.
Contohnya,
Ketika naik bis untuk pulang ke rumah, wajah supir yang gue temui mirip dengan wajah penjual pulsa yang gue beli tepat sebelum gue menaiki bis. Dan setelah gue turun, kemudian mampir di kedai penjual minuman di pinggir jalan, wajahnya mirip juga. Ya kayak gitu lah. Sama-sama mancung, sama-sama punya jenggot tebel, sama-sama suka shisa, sama-sama suka ngomong bahasa arab, sama-sama suka tomiyah. Ya gitu lah.
Perjalanan kami ini sebenernya untuk mau pamer kaus angkatan, karena ketika di pondok kami satu angkatan. Tepatnya angkatan 2012.




Di saat sedang asik foto bareng, kami dihampiri oleh turis asing. Dia mengenakan kaus polo berwarna hitam, celana pendek serta mengenakan topi berwarna putih, tipikal bapak-bapak ketika ingin potong rambut di sore hari. Ketika ngobrol-ngobrol, gue baru tahu bahwa dia berasal dari Spanyol. Dia sempat menunjukan galeri foto di hapenya, dan memerkan fotonya bersama salah satu legenda pemain bola yaitu Zinadine Zidane. Untungnya saat itu, gue nggak mengaku bahwa gue fans Barcelona, yang berarti gue adalah fans dari tim musuh bebuyutannya.



Ketika gue serta yang lainnya sudah capek dengan foto-foto serta loncat-loncat dengan latar belakang patung Spinx serta Piramid, datanglah Penyu. Iya, si manusia kampret itu akhirnya datang juga. Walaupun terlambat, setidaknya dia datang.  
Mungkin hanya itu aja sih tips nya, semoga membantu ya!!
Oh iya, untuk pulangnya, kurang lebih sama saja kok. Tinggal naik tramco yang mengarah ke stasiun Giza, kemudian lanjut naik kereta menuju Ramsis. Gampang kan?
Lebih susah menaklukan hati kamu.

@zulfikar_fawzi

Monday, 7 November 2016

"Loncat-loncat aja, ji"

“Mi, pinjem anduk dong” kata gue.
“Gue nggak punya, belom beli juga nih” jawab Fahmi.
"Hasu, beneran loh. Minjem bentaran aja"
“Yaelah, kayak dulu di pondok aja sih, mat. Loncat-loncat gih” lanjutnya.

Ini percakapan antara gue dengan Fahmi, teman gue yang rumahnya saat itu sedang gue tumpangi untuk beberapa hari selama gue berada di Alexandria.
Dan percakapan itu, berhasil membawa fikiran gue menuju kenangan saat di pondok dulu. Agak lebay sih memang, hal sepele seperti ini saja bisa membuat diri gue Flashback ke moment yang sudah berlangsung empat tahun lalu. Tapi, ya masa bodo lah ya.
Kali ini gue cerita sedikit tentang pengalaman di pondok gue aja lah ya. Jarang-jarang juga kan?
Penasaran kan sama ceritanya?
Ceritanya kalian pura-pura penasaran aja lah ya
Oke, gue ceritain nih.
**

Pondok gue memiliki banyak sekali kegiatan mulai dari pagi hingga malam. Pagi hari di mulai dengan teriakan pengurus ke penjuru asrama, serta bunyi berisik dari pintu yang dipukul oleh gayung. Yang melakukan hal itu ya, pengurus juga. Tujuannya supaya para anggota -gue salah satu anggotanya- bangun dari tidurnya, kemudian mempersiapkan dirinya untuk shalat shubuh. Biasanya para anggota yang telah bangun dari kasurnya, mereka beranjak pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sisanya, ada yang melanjutkan tidur di dalam lemari, atau di tempat jemuran. Tapi kebanyakan dari para anggota, termasuk gue, melanjutkan tidurnya didepan kamar mandi. Entah mereka jongkok, duduk, ataupun sambil berdiri. Tinggal bersenderan di tembok, tidur lagi deh. 
Pengurus yang iseng, dan kampret, biasanya akan berjaga di sekitar kamar mandi. Di tangannya ada gayung yang terisi penuh oleh air. Yang kemudian airnya disiramkan di tempat duduk, serta tembok. Tujuannya agar para anggota tidak bisa bersenderan ke tembok. Setelah itu, pengurus kampret akan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa meminta maaf kepada para anggota yang telah mereka ganggu tidurnya. 
Sebelum adzan shubuh, para anggota yang telah selesai berwudhu, duduk rapi didepan kamar. Membuat dua baris shaf rapi, sambil memegang Al-qur’an. Tapi yang dilakukan setelah itu adalah kami memegang pundak teman yang duduk disamping kami, tujuannya untuk  bergantian pijet-pijetan supaya mata ini tetap terjaga dari rasa kantuk. Walaupun, kami para anggota tau, kalau hal itu sia-sia.

Ya obat dari rasa ngantuk itu kan cuman dengan tidur. Bener kan? 

Ketika ada pengurus yang sedang berkeliling, baru lah kami para anggota pura-pura membuka halaman Al-qur’an. Dan hal itu diulang, sampai masuk waktu untuk shalat shubuh berjamaah.
**
Jam 6 pagi, itu tandanya dapur telah terbuka. Yah, walaupun aslinya memang nggak ada pintunya juga sih. Makanan pagi hari nggak akan jauh-jauh dari rasa pedas. Entah itu sambel terasi, sambel kerupuk, tempe dengan kecap pedas yang biasanya disebut tempe oli, sambel pecel, dan sambel-sambel yang lain. Itu ketika zaman gue sih, nggak tau deh kalo saat ini menu makanannya seperti apa.
Sebelum berangkat menuju dapur, yang disiapkan pertama kali dari kamar adalah sandal. Iya, kalau nggak ada sandal, nggak bisa berangkat ke dapur. Kalau nggak punya piring, kan bisa pinjam ke teman yang telah selesai makan.
Serius deh, hidup di pondok dulu kayaknya gampang banget. Yang susah hanya menjadi petugas piket asrama hari kamis aja.
Selesai makan, biasanya para santri langsung menuju kamar mandi yang terletak disebrang dapur. Hanya kamar mandi, tanpa toilet. Kamar mandi ini biasa disebut dengan sebutan Ancol, kepanjangannya nggak usah dikasih tau juga lah ya. Kamar mandi ini, memiliki bak yang panjang, dan tingginya hanya sepinggang. Kemudian setiap kamar mandi hanya dipisahkan oleh tembok-tembok yang tingginya hanya sepundak orang. Jadi yang mandi disamping kita, bisa terlihat.
Nggak ada handuk, nggak ada gayung. Ketika mandi disini hanya menggunakan piring, bahkan banyak juga yang hanya menggunakan tangannya langsung untuk membasahi badannya dengan air. Sabun? Ya minjem lah. Jadi kalau misalkan yang mandi sepuluh orang, biasanya yang bawa sabun hanya satu atau dua orang. Nggak mungkin semuanya yang mandi bawa sabun. Sampho? Biasanya sebelum makan, mereka yang ingin membersihkan rambutnya telah menaruh samphonya diatas kepala mereka. Jadi saat mereka makan, kepala mereka seperti terkena kotoran burung. Padahal aslinya mah ya sampho.

Kalau dari semua yang mandi nggak ada yang bawa sabun, yaah. . . .  Santai aja lah. Mau pamer sama siapa juga, toh satu pondok isinya cowo semua. 
Setelah selesai mandi, mereka nggak langsung mengenakan pakaian mereka. Tapi mereka lompat-lompat terlebih dahulu, supaya badannya nggak terlalu basah. Yah, walaupun basah-basah juga sih. Jadi setiap gue masuk ke kamar mandi Ancol ini, gue akan melihat sekeliling, setelah menemukan ada yang sedang loncat-loncat, gue akan berjalan menuju tempatnya.

Itu kalau gue sedang bawa sabun.
Kalau nggak bawa sabun, ya gue akan berusaha mendekati teman gue yang bawa sabun.

Kalau nggak ada yang bawa, ya bodo amat lah. Yang penting basah.
Ehe

**
Kangen juga sama moment loncat-loncat itu.
Hmm...
Kalau kamu, kangen sama aku nggak?
Cie gitu
 sumber: http://gontor.ac.id
http://weknowmemes.com/
i.imgflip.com


Wednesday, 26 October 2016

Perjalanan mencari jati diri di Alexandria

Jumat malam kemarin, tanpa perencanaan gue berangkat menuju Alexandria bareng dua orang teman gue, Fahmi dan Hasan. Nggak tau juga deh, akhir-akhir ini sepertinya lebih suka memutuskan hal secara spontan. Padahal sejatinya, gue sudah punya to do list apa saja yang harus dikerjakan minggu ini loh, tapi ya gitu... hal-hal yang harusnya gue selesaikan digantikan oleh keberangkatan gue menuju Alexandria.
Mas Uzi memang mantap!!
*lah ngaku-ngaku sendiri, njir
Bodo amat
Salah satu alasan gue pergi adalah karena gue suntuk dengan rutinitas yang ada di Kairo, butuh refreshing sedikit. Itung-itung, gue mau balas dendam aja gitu, karena ketika liburan kemarin kerjaan gue hanya di kamar-buka laptop-makan-tidur-ulangi. Walaupun gue tau sih, kalau hal ini salah. Apalagi ketika gue ngobrol sama nyokap,
Gue: *sending pictures*
Nyokap: “Loh, kamu lagi dimana, mas?”
Gue: “Alexandria, mah. Lagi suntuk di Kairo, mau refreshing aja”
Nyokap: “Mamah yang tiap hari kerja, ngurusuin rumah aja nggak suntuk, mas. Kamu tuh ada-ada aja”
Gue: “Ehe ehe ehe”
Nyokap: “Yaudah, jangan lupa belajarnya”
Berasa di sentil sama nyokap.
Oh iya, buat yang belum tau, jarak Kairo menuju Alexandria itu kurang lebih sama seperti Jakarta-Bandung gitu lah. Dan jenis kereta yang biasa membawa penumpang dari Kairo-Alexandria ada dua, kalau yang gue ceritain di tulisan ini, biasa disebut kereta adi (Kereta biasa. Biasa banget malah, nggak ada istimewanya sama sekali. Malah terkadang disebut kereta kambing). Kebetulan kereta yang gue naiki kemarin adalah jenis kereta mukayaf (kereta ber-AC yang kalau lagi sial AC-nya bocor dan dingin mampus) yang darajah tsaniyah. Gue nggak naik darajah ula ya karena harganya memang nggak pernah akur sama kantong mahasiswa (darajah tsaniyah itu sekelas kereta bisnis, darajah ula ya sekelas eksekutif).
Bentuk tiketnya seperti ini.
Nggak penting kan?
Pura-pura penasaran aja lah ya.


Sebelum masuk ke dalam stasiun, pemandangan yang gue temukan adalah para pedagang headset yang berjalan mendekati orang-orang yang berlalu lalang, sambil sering kali berteriak,
Kullu samaaah bii asyroooh, bii asyrooh, bii asyrooooh”
Yang artinya kurang lebih,
Yang mau Headset-headset, ceban... ceban... ceban...”
Iya, dia bilangnya sih gitu. Tapi, ketika kita (pembeli) menemukan headset yang bagus, nanti disuruh tambah 5 pound Mesir lagi.   

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya kereta yang gue tumpangi sampai di stasiun Siti Gabir (nggak tau deh, tulisannya bener atau nggak). Selama perjalanan gue sama sekali nggak bisa tidur, ini salah satu hal yang gue sesali sih sebetulnya. Karena dengan ini, kebiasaan buruk gue tidur setelah shubuh aktif kembali.
Perjalanan menuju rumah Fahmi, dilanjutkan dengan menggunakan kereta api. Lagi. Salah satu hal yang bikin gue bahagia, sekaligus membuat gue harus mematikan Podcast yang sedang gue dengarkan adalah karena rumah Fahmi ini tepat berada dibelakang stasiun kereta api. Gue bahagia karena ini benar-benar suasana baru yang nggak akan gue temui di Kairo (selain rumah lu yang berada di Kairo terletak dibelakang stasiun kereta api juga. Tapi ini jarang banget sih). Dan alasan gue harus selalu mematikan Podcast yang sedang gue dengar adalah ya karena setiap kereta sedang berjalan selalu membuat suara bising. Tapi sejauh ini gue suka kok dengan suara kereta ini. Terlebih kamu, aku suka kamu kok.
*Kagak nyambung, hasu
Ketika sedang mampir di baalah (baca: warung), gue sudah menemukan hal baru. Pertama, ternyata di Alexandria ada Indomie rasa kaldu udang. Kedua, karena ada Sibsi (nama snack disini, kalau di Indonesia sejenis Lays gitu) yang rasanya belum pernah gue temui di Kairo. See, bahagia gue sederhana banget kan?
Setelah menaruh tas di ruang tengah, langkah kaki membawa gue menuju ruang dapur. Tangan gue mengambil panci, kemudian mengisinya dengan air keran, lalu menaruhnya diatas kompor yang telah gue nyalakan apinya. Sambil menunggu air matang, tangan serta mata gue nggak bisa lepas dari layar hape. Malam itu gue mencoba menghancurkan keheningan malam dengan menyalakan Podcast yang sudah gue save sebelumnya di hape. Walaupun sudah tidak sesepi sebelumnya, tapi gue merasa hening. Banyak pertanyaan serta jawaban yang kemudian muncul difikiran gue. Seperti,
Sebenernya apa sih arti hidup yang gue jalani sekarang?
Hafalan juga nggak nambah-nambah. Dasar gendut!
Mau dibawa kemana arah hidup lu saat ini? Ibadahnya masih terburu-buru. Ngejar apa sih?!
Internetan doang? Belajarnya kapan?
Apa memang mencari orang yang dipercaya itu susah banget ya?
Lu nya juga sih bego, asal cerita aja
Kenapa orang yang gue percaya, malah melakukan hal seperti itu?
Emang lu maunya kayak gimana hah?!
Nggak lagi deh cerita-cerita kayak gitu
Jangan diulangi makanya, ndut!
Apa rasa tertarik gue ke perempuan itu, hanya bersifat sementara aja?
Atau harus diungkapin aja gitu, biar plong?
Ah kayaknya dia ga ada tanda-tanda suka sama gue juga sih
Anjir lah, sok-sok naksir sama orang, ilmu juga belum punya. Dasar bego! Belajar makanya!
Ini perut kenapa malah tambah ngembang, bukannya nyusuut, taiii?!! Dasar gendut!!
Ketika asik berbicara dengan diri sendiri, panci yang berisi air itu telah mengeluarkan hawa panas. Gue dengan sigap, mengambil segelas cangkir yang telah diisi sebelumnya dengan teh hijau rasa mint serta sedikit gula. Oh iya, penasaran dua orang temen gue itu pergi kemana? Mereka sudah asik melanjutkan tidurnya sejak tadi.
Malam semakin larut, semilir angin di Alexandria yang tidak sedingin di Kairo, serta suara kereta api yang sesekali menghancurkan keheningan malam, membuat malam ini terasa lebih nikmat. Sambil menikmati teh hijau serta mendengarkan lagu Mari Becerita milik Payung Teduh, semoga setelah teh hijau ini habis, segala keresahan ini menemukan penyelesainnya.
Yah, Alexandria selalu punya cita rasa yang berbeda dari Kota lainnya.
Mungkin mereka saudara. Siapa tau?