Monday, 14 May 2018

Try me


Sekarang ini mata gue sedang tertutup karena terlalu sering melihat senyuman yang diperlihatkan oleh orang lain. Mereka bahagia dengan pekerjaannya serta tentu saja senang dengan pencapaiannya saat ini. Sepertinya. Sedangkan gue justru kebalikannya, gue enggak senang dengan apa yang gue lakukan. Padahal kalau mau ditelusuri lebih jauh lagi, sebetulnya apa yang gue lihat dari orang lain merupakan bentuk hasil kerja kerasnya setelah berbulan-bulan lamanya, em.. mungkin bahkan bertahun-tahun sebelumnya.
Dan yang gue sadari adalah justru hal itu. bahkan karena itu gue sering dihinggapi rasa malas serta mengisi waktu dengan rasa iri serta benci terhadap pencapaian orang lain. Tapi cepat atau lambat, sifat buruk ini akan hilang karena sebetulnya kehidupan gue sebenarnya enggak seburuk itu juga. Sejatinya cara kerja hidup pun tidak seperti itu. Segala hal yang kita kerjakan enggak ada yang sia-sia. Patah hati, ekspektasi yang enggak sesuai dengan kenyataan, banyak hal yang bisa gue pelajari dari hal tersebut.
Orangtua gue selalu menasehati anak-anaknya dengan kalimat seperti ini,
“Rezeki, jodoh, serta mati itu sudah diatur oleh Allah. Jangan takut. Usaha terus”
Di tahun-tahun sebelumnya, gue sama sekali enggak mengerti dengan nasehat yang diberikan oleh kedua orangtua itu. Perlahan gue mulai paham dengan maksud yang disampaikan oleh mereka. Walaupun kenyataannya sampai sekarang pun gue masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Masih banyak rasa iri serta benci yang gue miliki untuk saat ini. Mungkin saja faktor dari mendengarkan perkataan orang lain, gue seolah menyetujui pendapat mereka. Padahal kan masih banyak sudut pandang yang bisa diambil, bukan dari orang itu saja.
Kalian paham dengan apa yang gue tulis kan? Anggep aja paham ya.
Sebetulnya masih banyak hal positif yang bisa gue ambil dari apa yang gue jalani saat ini. Mungkin karena terlalu khawatir dengan reaksi orang lain, sehingga membuat gue selalu malu-malu untuk bersikap tegas serta dewasa dalam menyikapi suatu hal. Akhirnya memilih sembunyi dan marah dengan kenyataan yang ada.
Teman-teman yang perlahan menghilang, cerita tentang patah hati yang belum terselesaikan, nilai yang tidak sesuai dengan harapan, mimpi yang seolah mustahil untuk diwujudkan, hutang balas budi terhadap kedua orangtua dan kenyataan bahwa gue seharusnya menjadi seorang lelaki dewasa dan juga menjadi panutan sebagai anak pertama, yang seharusnya tidak terlihat lemah dihadapan orang lain. Gue merasa gagal menjadi seorang lelaki.
Walaupun begitu, gue tetap percaya bahwa semua hal itu pasti bisa berubah.
Gue pernah baca caption orang di Insta story tentang salah satu hal yang selalu dilakukan ketika punya masalah. Tulisannya kurang lebih seperti ini,
"Try me. Kita liat siapa yang bisa bertahan dan menang"
Kayaknya gue harus menerapkan perilaku ini mulai dari sekarang.


Monday, 7 May 2018

WISGR, game anak bangsa yang akan mendunia




Di zaman sekarang sebetulnya telah banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengalihkan fikiran kita. Gue sendiri punya satu kegiatan yang sering dilakukan untuk sekedar melarikan diri dari kenyataan yaitu dengan bermain game. Mulai dari bermain game mobile, game komputer, pokoknya bukan bermain dengan perasaan orang lain aja gitu.

Saat ini gue sedang menikmati game mobile legend di handphone, serta game Watch dog 2 di komputer. Walaupun kedua game itu sudah lumayan lama di rilis, tapi gue masih senang untuk memainkannya. Menurut gue, terkadang suatu game itu punya punya kekuatan ‘magis’ tersendiri untuk membuat para pemainnya bisa betah berlama-lama memainkan game tersebut. Sampai lupa waktu dan berujung dengan teriakan nyokap,

“Kamu kalau begadang karena main game, besok pagi udah hilang komputer kamu ya, mas”

Dua games yang gue sebutkan di atas tadi merupakan buatan negara lain. Lalu bagaimana dengan games buatan anak bangsa? Sebenernya sudah banyak games buatan anak Indonesia yang seru untuk dimainkan. Salah satunya yang tahun kemarin cukup terkenal adalah game yang bernama tahu bulat. Gara-gara keasyikan dagang tahu, gue lupa waktu serta lupa ngabarin pacar.

Selain itu ada pula game buatan Indonesia lainnya yang cukup populer di tahun 2013 bernama Dread Out. Game bergenre horror ini menceritakan tentang berbagai macam hantu-hantu di Indonesia, mulai dari pocong, kuntilanak serta tuyul. Game ini pun juga sukses membuat pemainnya menjerit histeris. Salah satunya, Pewdiepie, yang merupakan seorang Youtuber gaming dengan jumlah subscriber terbanyak saat ini.

Gue enggak sempat mencoba memainkan game ini, karena jujur saja gue kurang suka dengan game yang bertemakan horor. Apalagi setelah melihat beberapa Youtuber yang raut wajahnya berubah ketika memainkan game Dread Out. Gue memutuskan untuk enggak mencoba game populer ini. Bukan karena takut, tapi lebih kepada gue nya yang memang enggak berani.

Sama aja itu, Mat!

Di awal tahun 2018 ini beredar kabar bahwa salah satu developer game Indonesia akan segera merilis game yang bertemakan action adventure. Berjudul WISGR. Bahkan dari yang gue dengar, game ini sempat dibandingkan dengan game-game terkenal lainnya, seperti Bastion serta Diablo II. Mantap jiwa! Sama seperti Dread Out yang mempunyai unsur khas Indonesia, game WISGR pun juga akan menyajikan beragam ‘rasa’ Indonesia didalam game ini . Contohnya seperti dialog-dialog yang akan ditampilkan nanti merupakan asli khas Indonesia. Serta peta yang akan digunakan dalam game ini akan dibuat beragam untuk mencerminkan keragaman budaya tanah air.



Keren banget!

Kekuatan ‘magis’ atau kelebihan dari game ini adalah dari story gameplay nya yang akan susah ditebak oleh para pemainnya. Sama kayak keinginan cewe, susah ditebak. Bahkan dalam game besutan Guklabs ini untuk bisa mengalahkan musuh utama para pemainnya harus lebih mengetahui taktik apa yang cocok untuk mengalahkan si musuhnya tersebut, bukan hanya dengan kekuatan yang dimiliki oleh tokoh utamanya. Berhubung WISGR bukan game horor, sepertinya gue akan mencoba game buatan anak bangsa ini.



Saat ini sudah tersedia versi demo nya yang bisa didownload dari situs Guklabs sendiri. Dan nantinya kalau sudah rilis, akan tersedia di Steam. Game ini hanya bisa dimainkan di komputer, walaupun kedepannya nanti gue rasa tidak akan menutup kemungkinan bisa dimainkan di handphone yang kita miliki. Berhubung saat ini memang banyak sekali game-game mobile yang seru untuk dimainkan.

Game besutan anak bangsa ini pun telah mendapatkan berbagai tanggapan positif di forum-forum online serta media sosial. Salah satu alasan game ini menarik peminat para pecinta game PC karena telah banyak beredar perbandingan antara game WISGR dengan Bastion serta Diablo II. Tim Guklabs juga telah melakukan berbagai pemeriksaan agar nantinya game WISGR minimal dari bug serta segala feature nya dapat dimainkan oleh setiap pemain.

Jadi gimana, tertarik untuk mencoba? Kapan lagi nyobain game buatan anak negri sendiri yang sudah digadang-gadang akan sesukses game terkenal seperti Bastion dan Diablo II. Gimana?

MANCING MANIA?
MANTAP!

Gue slengkat juga lu, Mat!

Tuesday, 1 May 2018

Serangga bangsat di musim panas


Tiga hari kemarin ada yang aneh dengan Mesir. Cuaca Mesir mendung, dan turun hujan selama tiga hari. Kalau di Indonesia hal seperti ini sudah biasa, tapi baggi gue yang sudah beberapa tahun tinggal di Mesir hal ini merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Ketika gue masih junior dulu, senior gue selalu bilang bahwa hujan di Mesir itu mempunyai tiga arti. Pertama, bertanda bahwa musim dingin akan segera datang. Biasanya terjadi di bulan oktober. Kedua, bertanda bahwa musim dingin akan segera berakhir digantikan dengan musim panas. Biasanya terjadi di bulan April. Ketiga, bertanda bahwa banyak mahasiswa Indonesia di Mesir yang akan merekam moment hujan tersebut dan mengunggahnya di media sosial. Dan kenyataannya emang bener seperti itu sih.
Kalau boleh jujur, gue lebih suka dengan musim dingin di Mesir. Selain bisa jarang mandi, malam hari terasa lebih lama dibandingkan dengan siang hari. Kalau gue hitung lagi, sepertinya saat musim dingin gue hanya mandi tiga kali seminggu. Itu belum di hitung kalau gue terpaksa mandi besar setelah mimpi basah. Di musim dingin, jadwal waktu shalat lebih enak ketimbang musim panas. Adzan shubuh mulai terdengar ketika jam setengah enam. Dan waktu shalat Maghrib dimulai ketika jam lima sore. Gue selalu berharap bisa berpuasa saat musim dingin loh, tapi kenyataannya enggak bisa terwujud sampai saat ini.
Tapi hal yang kurang menyenangkan saat musim dingin adalah nafsu makan yang bertambah tidak seperti biasanya. Dan ini berpengaruh besar terhadap gue yang ingin menjalankan hidup sehat dengan tujuan akhir mempunyai perut lebih kurus. Karena cuaca yang dingin, membuat system metabolisme dalam tubuh cepet habis, dan butuh persediaan makanan lebih banyak. Itu bahasa ngasal gue aja, intinya di musim dingin gas tabung rumah gue akan lebih sering diisi ulang. Dan itu tandanya harus mengeluarkan uang lebih juga untuk patungan.
Di musim panas, siang hari akan terasa lebih lama. Dan bikin males beraktifitas. Keluar rumah, kepanasan. Di kamar juga panas. Angin yang keluar dari kipas angina juga panas. Tempat favorit gue ketika musim panas akan jatuh kepada masjid serta warung penjual minuman dingin di pinggir jalan. Walaupun pilihan minuman yang ada, enggak sebanyak di Jakarta. Disini paling hanya ada tiga pilihan, asob, subya, dan juga tamr. Es tebu, es kelapa, dan kurma dingin. Kalau pilihan minuman di rumah makan, pastinya akan lebih banyak lagi.
Pakaian yang gue punya juga enggak mendukung di musim panas seperti ini. Kaus yang gue punya kebanyakan berwarna hitam, dan itu artinya menyerap panas matahari. Seragam yang digunakan oleh polisi disini pun juga berbeda ketika musim dingin dan musim panas. Di musim dingin mereka akan mengenakan seragam berwarna hitam, dan ketika musim panas akan memakai pakain putih.
www.teknosaurus.com

Satu hal yang enggak akan gue mengerti di saat musim panas adalah dengan munculnya serangga-serangga kecil di rumah gue. Enggak habis fikir juga, kenapa makhluk kampret itu perlahan akan muncul dari bawah alas karpet yang kami gunakan. Serangga kecil ini biasa disebut kepinding, atau bangsat. Atau juga banyak yang menyebutnya kutu busuk.
Saat tahun pertama tinggal di Mesir, rumah gue akan mengeluarkan serangga kecil ini dari lubang-lubang yang ada di tembok. Hampir semua orang yang tinggal di rumah, akan selalu bangun di pertengahan malam. Apakah ingin shalat tahajud? Sepertinya enggak. Karena ketika bangun, dia akan berucap,
“Banyak banget bangsatnya, sialan”
sambil menggaruk sekujur tubuh dan menepuk-nepuk kasur yang mereka tiduri. Lalu mengambil kasur yang sudah dibersihkan tersebut dan pindah ke ruangan lain untuk melanjutkan tidur.
Seenggak nyaman itu ketika ada kepinding di rumah lu. Tidur pun enggak akan nyaman karena serangga ini akan bergerak masuk kedalam pakaian yang digunakan, kemudian menggigit tubuh orang itu. Dan di pagi harinya, dia akan menemukan bentol-bentol di bagian tubuhnya tanpa mengetahui penyebabnya.
Gue? Gue sering banget ngalamin hal itu. Lagi asik tidur sambil buka-buka foto di Instagram, tiba-tiba ada yang gerak-gerak didalam celana. Apalagi kalau bukan serangga itu, si kepinding. Enggak mungkin juga kan tangan temen gue masuk ke dalam celana gue. Kayaknya temen-temen gue enggak ada yang semesum itu.
Bagaimana pun juga, enggak semua rumah didatangi oleh kepinding seperti yang menimpa rumah gue saat ini dan saat gue menjadi anak baru sebelumnya. Buktinya tahun kemarin rumah gue baik-baik saja, atau karena memang rumah yang gue tempati saat itu termasuk bangunan baru ya? Berbeda dengan sekarang.
https://ceritamedan.com/

Selain serangga menyebalkan itu, jadwal shalat di musim panas pun akan lebih lama dari biasanya. Adzan shubuh mulai dari jam tiga, dan shalat maghrib akan dilaksanakan ketika jarum jam mengarah ke angka tujuh. Dengan ini pun, waktu berpuasa disini akan lebih lama ketimbang di Indonesia. Seandainya jarak Indonesia dekat, gue akan dengan senang hati pulang setiap minggu.
Nyokap juga enggak ada tanda-tanda keinginan untuk menyuruh anak-anaknya pulang lagi. Sedi akutu.
Tapi sepertinya hidup akan terasa enggak ada esensi keseruannya kalau hanya memikirkan hal yang tidak disukai. Bener kan?

Sunday, 22 April 2018

Pendakian menuju gunung Sinai Mesir


Melihat temen-temen gue semasa di pondok pesantren suka dengan kegiatan mendaki gunung, gue jadi penasaran. Emang sebegitu menyenangkannya ya naik gunung? Padahal butuh waktu lama untuk bisa sampai ke puncaknya. Rasanya memang keren, bisa melihat matahari di puncak gunung bersama kawan-kawan lainnya. Apalagi setelah itu, banyak yang menyukai fotonya di Instagram. Double kebahagian.

Tapi, saat liburan kemarin ketika orangtua gue tau bahwa anak lelakinya ingin mendaki gunung, jawaban nyokap,
‘Mendingan kamu jemur handuk kamu sana, enggak usah sok-sokan naik gunung’
Sedewasa apapun seorang anak, akan terlihat seperti anak kecil di mata orangtua. Bukan Cuma gue doang yang merasa seperti ini kan? Kalian juga kan? Cuman gue doing? Serius lu enggak? Ini enggak ada yang mau nemenin gue emangnya?
Nanya lagi, gue jadiin sayur lu, mat
 **
Akhir Januari kemarin, gue serta adik gue akhirnya bisa liburan keluar kota. Setelah berbulan-bulan kita berhemat dengan makan mie rebus, akhirnya kita punya tabungan yang cukup untuk bisa pergi ke kota yang sangat istimewa di Mesir. Kota yang berbatasan dengan Negara Israel ini bernama Sinai. Dan tujuan kita kesini tidak lain adalah untuk mendaki gunung Sinai.
Apakah gue dan adik gue diizinkan? Oh pastinya. Sebenernya gue enggak tau juga sih gimana tanggapan orangtua gue saat itu. Karena kami tidak bilang-bilang ke mereka. Naluri lelaki gue saat itu lebih memilih untuk meminta maaf, ketimbang minta izin kepada mereka. 
**
Seperti biasanya adik gue akan mulai meneror hape gue dengan bermacam chat serta telfon, menyuruh kakaknya agar tidak tidur setelah shalat shubuh dan mempersiapkan berbagai peralatan yang akan dibawa untuk tiga hari kedepan. Di jadwal, kami akan berangkat jam tujuh pagi. Dan jarak rumah gue dengan titik temu lumayan jauh, kira-kira dua hari. Engga deng. Boong.
Engga lucu, su
Cukup banyak kaus yang gue bawa, karena temen gue telah mengingatkan bahwa di puncak Sinai itu dinginnya bikin mampus. Walaupun badan gue lumayan punya lemak berlebih, tapi gue lebih memilih untuk mengikuti petunjuk temen gue si Rido. Sarung tangan sudah, sorban sebagai penutup kepala pun sudah, dan celana dalem juga enggak lupa gue masukkan ke dalam tas. Segala perlengkapan telah siap dibawa. Gue siap untuk mendaki puncak gunung Sinai.
Perjalanan menuju Sinai memakan waktu kurang lebih sekitar 10 jam. Kali ini gue serta adik gue ikut jasa travel, para pesertanya pun lebih banyak yang berasal dari Negara Malaysia serta beberapa dari Thailand. Tapi para tour guide nya berasal dari Indonesia. Dan sebetulnya mereka adalah senior dan junior gue ketika di pondok pesantren dulu.
Sebelum sampai ke Sinai, kami melewati banteng Berlief yang dulunya merupakan benteng yang dibangun oleh Israel ketika merebut kota Sinai dari Mesir. Kami pun sempat mengunjungi air mata Nabi Musa. Ingat engga ayat di Al-Quran yang menerangkan bahwa nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk memukul tongkatnya ke batu dan kemudian mengeluarkan mata air?






Jam delapan malam rombongan kami sampai di hotel, dan tengah malam nanti kami akan mulai mendaki puncak gunung Sinai. Tas-tas yang kami pun nantinya akan ditaruh di bis. Kita hanya membawa badan untuk menuju puncak gunung. Gue mulai membenarkan perkataan Rido tentang udara disini. Hawa dingin di Sinai jauh berbeda dengan yang ada di Kairo.
Bukannya tidur gue malah sibuk dengan kamar mandi karena sejak dari tadi gue buang air besar. Emang asyu. Biasanya kalau dingin seperti ini gue akan menjauhi kamar mandi, mandi pun paling hanya tiga kali dalam seminggu. Dan selalu menjaga air wudhu. Alasannya supaya gue enggak sering-sering bersentuhan dengan air. Disini malah sebaliknya. Lebih sering ke kamar mandi. Mantap jiwa. Apakah ini bertanda buruk?
**
Pakaian yang gue kenakan untuk mendaki sudah lima lapis kaus, termasuk jaket. Perjalanan ini seharusnya mudah, karena gue lumayan sering olahraga serta berat badan gue telah turun 5kg sejak kepulangan dari liburan kemarin. Walaupun masih tetep gemuk juga sih. Selain rombongan kami, masih ada empat rombongan lainnya yang akan mendaki malam ini. Ketika gue melihat orang Mesir yang mengawal rombongan kami, gue merasa sangat cupu sekali. Mereka hanya menggunakan gamis, jaket kulit, serta sorban yang diikat di kepalanya. Bandingkan dengan pakaian yang gue pakai. Sedih uy, gue enggak ada macho-machonya sedikit pun.
Seinget gue ada lima pos sepanjang perjalanan menuju puncak gunung ini. Setiap bertemu dengan pos, pantat gue merasa gembira karena akhirnya bisa duduk sejenak menghilangkan rasa pegal-pegal. Sepanjang perjalanan banyak para penyewa unta yang menawarkan ke para pendaki. Kalau boleh milih, gue ingin menaiki unta itu agar cepat sampai ke puncak. Berhubung di rombongan ini ada adik gue dan dua orang temannya, Didi dan Diba, serta senior di pondok, gue lebih memilih untuk jalan kaki. Persetan dengan pegal-pegal di kaki, gue bakalan bisa sampai puncak tanpa menaiki unta!
Adik gue dua kali muntah sepanjang perjalanan. Dan untungnya enggak muntah dipakaian yang gue kenakan. Hanya butuh lima jam untuk sampai ke puncak sebetulnya, tapi gue lebih sering duduk dan menemani adik gue sepanjang perjalanan. Saat kami istirahat di pos ketiga, pertanda buruk mulai muncul lagi. Celana yang gue kenakan robek tepat dibagian bawah pantat. Enggak usah dibayangin juga lah ya. Gue pakai celana pendek kok. Tapi berhubung saat itu memang gelap gulita, gue santai saja dengan celana yang gue gunakan. Enggak akan ada yang liat juga. Lagian siapa juga sih, yang memperhatikan pantat orang lain hah?
Malam itu kami cukup beruntung karena bisa melihat salju di puncak Sinai. Enggak setebal di kutub utara juga, seenggaknya gue sudah enggak penasaran dengan bentuk salju. Ternyata bentuknya kurang lebih sama seperti es yang ada di kulkas. Gue kira setelah sampai di pos keempat, jarak menuju puncak Sinai akan dekat. Tapi enggak, nyet. Asli. Sejauh perjalanan yang telah gue tempuh, bagian ini yang paling menguji mental serta tenaga.
Didepan gue sekarang telah ada anak tangga yang ujungnya engga kelihatan. Yang gue bisa lihat saat itu hanyalah orang dari rombongan lain, yang jaraknya sangat tinggi dari posisi gue berdiri sekarang. Baru kali ini, gue mau nangis melihat betapa banyaknya anak tangga yang akan gue naiki. Pemandu rombongan gue dari orang Mesir pun telah menyuruh kami untuk beranjak dari pos ke empat menuju ke puncak Sinai. Mereka bilang,
Isyrin daiah kaman. Yalla yalla”
(Dua puluh menit lagi cuy. Ayo semangat sobat miskinqu)
Setelah mendengar perkataan si orang Mesir, Mahmud, gue bersemangat untuk cepat menaiki anak tangga ini. Begitu juga dengan adik gue. Saat itu perlahan tapi pasti, kami menaiki tangga sedikit demi sedikit, beberapa orang yang beristirahat telah kami lalui. Gue makin bersemangat dan merasa bahwa diri gue memang telah ditakdirkan untuk menjadi pendaki gunung Sinai.
Nggilani
Ketika gue melihat kebelakang, sudah lumayan banyak anak tangga yang telah gue naiki. Sekitar 20. Sedikit, tapi muka gue penuh dengan kebahagiaan. Setelah kepala gue arahkan ke atas, gue mau nangis. Rasanya kaki ini nggak mau melangkah menaiki anak tangga. Asyu masih jauh banget gilak hoi! Allahu akbar. Rasanya gue mau rebahan aja di anak tangga. Gelinding-gelinding dah bodo amat. Si Mahmud kampret juga sih, ngomongnya dua puluh menit untuk ukuran dia yang emang sering naik-turun puncak Sinai dari umur 10 tahun. Nah kalau gue serta rombongan lain yang berkekuatan minimalis, enggak cukup dua puluh menit. Kita butuh dua bulan!
Enggak sih. Alay aja lu
Di anak tangga ini gue enggak bareng dengan adik gue si Faizah. Dia masih cukup jauh dibawah sana, sedangkan gue hampir menaiki setengah anak tangga menuju puncak. Ketika disini fikiran-fikiran tentang kenikmatan menaiki gunung terbantahkan semua. Gue enggak akan lagi mau naik gunung. Cape anjir. Setelah gue perhatikan para pendaki yang akan melewati gue, adik gue serta temannya telah glayutan di badan Mahmud. Apa ya bahasa yang cocok glayutan? Pegangan. Nah itu.
 Langkah kaki gue mulai dipercepat, karena selain adik gue akan menyusul, hampir sebagian banyak dari rombongan gue telah sampai di pos terakhir. Mau cepet gimana pun, memang butuh waktu untuk gue supaya bisa terus melangkah. Setelah penuh perjuangan, akhirnya gue bisa sampai di pos terakhir. Tapi anehnya, gue malah enggak melihat rombongan gue. Udara dingin malam ini semakin menjadi-jadi. Ingin tidur, tapi udaranya kebangetan dingin. Setelah gue periksa disekitar, ternyata rombongan gue telah berada didalam warung. Sialan. Ternyata warung ini mempunya ruang yang cukup luas dan terdapat bangku panjang dibagian sampingnya. Kebanyakan dari mereka sedang menyantap mie rebus serta meminum teh hangat. Dan ada juga yang sedang asyik tidur dengan selimut.
Gue sendiri bingung mau ngapain. Mau tidur tapi kedinginan. Enggak nafsu makan. Cuma duduk, dan kemudian tanpa sadar mulai angguk-angguk karena mengantuk. Di pos ini gue sudah enggak peduli untuk naik ke puncak. Bodo amat lah, gue udah kedinginan kayak gini. Saat matahari sudah akan mulai terbit, rombongan gue mulai meninggalkan warung dan beranjak naik ke atas. Adik gue membangunkan gue untuk mengikuti rombongan lainnya. Seandainya enggak dibangunin gue yakin, gue bakalan masih asik tidur sambil kedinginan di warung itu.
Untuk naiknya enggak makan waktu lama. Beneran deket. Tapi karena dasarnya gue yang baru bangun, jadi suhu udaranya terasa lebih dingin untuk gue. Untungnya adik gue masih asik berfoto ria bareng teman-temannya, jadi gue bisa menyusul mereka. Ketika sampai, temen adik gue si Didi memberi tau bahwa celana gue robek. Dan temen adik gue yang lainnya memberikan gue selimut tipis yang gue ikat di pinggang gue untuk menutupi robekan di celana.
Gue bersyukur karena bisa menghilangkan fikiran negatif di pos kelima tadi. Fikiran bahwa gue enggak sanggup mendaki sampai puncak, akhirnya bisa teratasi. Gue bakalan menyesal banget kalau enggak naik, karena,
‘Men, keren banget pemandangannya!!!’



Tapi tetep sih, gue enggak bakalan mau naik gunung lagi.
 **
Ketika turun gunung, gue baru melihat ternyata perjalanan yang gue lalui cukup jauh. Pagi hari di gunung Sinai dengan pakain berlapis lima cuma menyiksa diri. Udaranya panas menyengat. Terlebih lagi, disini kan berbeda dengan gunung yang berada di Indonesia. Disini enggak ada pohon-pohon tinggi. Sepanjang perjalanan hanya bebatuan, serta kotoran unta.
 Saat berganti pakaian di kamar mandi, gue baru sadar. Ternyata robekan di celana gue gede banget bgst. Pantesan si Didi tau. Anjir malu banget. Untung aja gue masih pake celana pendek.
Gue baru sadar, ternyata untuk mendaki gunung itu yang gue lawan adalah fikiran negatif yang gue bikin sendiri. Dan dengan ini gue juga sadar, bahwa betapa dahsyat ciptaan Tuhan. Kayaknya gue bakalan nyoba untuk mendaki gunung ketika liburan di Indonesia nanti. Tapi kalau gue udah siap mental juga sih. Ehe.
Setelah tau anak-anaknya mendaki puncak Sinai, orangtua gue ternyata malah enggak marah-marah. Atau bisa jadi karena adek gue ikutan juga, jadi gue enggak kena marah. Ah tau gini gue minta izin ke mereka. Mungkin enggak bakalan ada adegan perut gue mules di malam hari dan celana robek ketika mendaki.
Jadi gimana? Tertarik untuk mendaki gunung enggak?

Saturday, 14 April 2018

Komputer dan penjual bagasi kampret


Gue sering denger pengalaman temen-temen gue yang sangat beruntung ketika menghadapi petugas bandara. Banyak yang membawa barang melebihi batas maksimal yang telah ditentukan tapi berhasil lolos. Caranya dengan menampilkan muka memelas, mengaku bahwa barang ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa perantauan dan petugas pun dengan senang hati megizinkannya. Tapi ketika gue praktekkan, kenyataannya enggak kayak gitu.
Asu
Sebenernya gue cukup ragu untuk membawa komputer yang telah gue beli saat liburan kemarin. Tapi berbekal cerita temen, gue meyakinkan diri sendiri serta orangtua, bahwa hal ini bukan masalah. Everythings gonna be fine. Di pemeriksaan awal pun, juga baik-baik saja. Enggak ada tanda-tanda kalau komputer gue ini akan dilarang untuk dibawa ke kabin pesawat nanti.
Sebelum memasuki ruang tunggu, ada dua petugas yang memeriksa barang bawaan penumpang. Giliran gue yang diperiksa. Petugas ini bilang, bahwa komputer gue enggak boleh dibawa naik ke pesawat. Setelah selesai diperiksa, barulah gue bertanya,
“Kalo komputernya enggak boleh dibawa ke kabin, kenapa sejak dari awal enggak ada pemberitahuan ya, mas?”
“Oh. Emang sengaja”
 Bgst
“Barangnya dititip saja di ruang maskapai kita, nanti kawan atau saudaranya ambil disana saja, mas” lanjutnya.
https://www.cnnindonesia.com

**
Ada beberapa cara agar komputer gue bisa diantarkan keMesir. Entah itu dengan gue yang pulang ke Jakarta, atau dengan membeli bagasi orang lain yang ingin berangkat ke Mesir. Sepertinya gue enggak akan mengambil opsi pertama, karena selain menghamburkan uang, nyokap gue khususnya, akan ngamuk kalau hal itu beneran terjadi. Dan bokap gue dengan senang hati akan mencoret nama gue dari kartu keluarga. 
Gue enggak mau itu terjadi.
Selain belajar di kampus-kampus Mesir, banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia disini. Ada yang membuka usaha rumah makan, menjadi tour guide, menjual bumbu serta makanan asli Indonesia, dan ada juga yang seperti gue sebutkan diatas, berjualan bagasi. Segala hal bisa dibikin uang, kalau mau.
Gue kenalan dengan penjual bagasi dari salah satu grup Facebook. Dari pengumuman yang gue baca, seminggu lagi dia akan kembali ke Mesir. Gue telah mengabari orangtua gue agar bisa mengirimkan komputer ke alamat si penjual bagasi tersebut. Semuanya berjalan lancar. Nyokap yang tadinya enggak mengizinkan, akhirnya berubah fikiran setelah memenangkan arisan. Barang telah dikirimkan ke rumah si penjual. Dan sekarang hari-hari gue diisi dengan rasa tidak sabar untuk bertemu dengan si benda kesayangan. Makin ditunggu, malah terasa makin lama.
**
Di hari h si penjual sampai ke Mesir, tanpa sadar gue telah mengirimkan banyak pesan Whatsaap, menanyakan tentang komputer gue. Yang dihubungi malah menghilang, enggak ada kabar. Oh mungkin belum beli paketan internet.
Malam harinya, si penjual ini mengabarkan bahwa komputer gue tidak dibawa. Alasannya, karena dia lupa. Asu. Karena memang gue nya yang terlalu berharap ke si penjual, makanya agak nyelekit ketika mendengar bahwa barang yang gue titipkan enggak dibawa. Tapi, si penjual ini bilang bahwa temannya nanti akan membawanya ke Mesir. Dan dengan gobloknya gue senang mendengar hal itu. Merasa bahwa masih ada setitik harapan.
Selama sepuluh hari penantian, hasilnya tetap sama. Asu memang. Gue sekarang mulai mengerti, kenapa seharusnya kita ini tidak berharap kepada manusia lain, karena hasilnya enggak selalu seperti yang kita harapkan.  Ah elah. Emang gue nya aja yang lagi sial ketemu makhluk kampret seperti ini. Atau mungkin makhluk kampret ini secara enggak langsung menyuruh gue agar berharap itu hanya kepada Yang Maha Pengasih? Haaahh… kan sudah terjadi, jadi diambil hikmahnya saja.
Walaupun telah dibohongi makhluk kampret, gue masih positive thinking bahwa komputer gue akan tetap datang. Meskipun sepertinya lebih lama dari waktu yang telah gue perkirakan.
Setelah bertemu satu orang kampret, ternyata gue masih menemukan makhluk kampret lainnya. Dari akhir Desember, sampai bulan Maret gue seperti dikerjai oleh mereka, dan komputer gue telah berkali-kali pindah tempat. Sampai akhirnya, minggu kemarin barang gue telah dibawakan oleh penjual bagasi lainnya. Enggak usah nanya, gimana ekspresi gue ketika membaca pesan dari si penjual bagasinya bahwa komputer gue telah tiba di Kairo. Seneng banget!!
https://giphy.com
Mirip kayak quote dari John Lennon,
Everything will be okay in the end. Of it’s not okay, it’s not the end.
Pernah ngerasain quote-nya si John Lennon itu cocok kayak kisah lu juga enggak?

Saturday, 17 March 2018

Kesalahan yang sering dilakukan


Ternyata selama ini gue salah jalan untuk menyikapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Terkadang gue terlalu memikirkan hal terlalu jauh, sampai tidak melakukan apa-apa. Mungkin bahasa lainnya adalah gue ini tipikal manusia yang senang menyibukkan diri dengan membuat berbagai banyak planning untuk dilakukan, tapi kerjaannya malah tidur-tiduran dan main game Mobile Legend. Banyak bacot, tapi nihil kerja.

https://list.ly

Setiap bangun pagi yang gue lakukan adalah harus mengerjakan kegiatan A di pagi hari, kemudian dilanjutkan kegiatan B, C dan seterusnya, tapi kenyataannya enggak seperti itu. Bodoh ya?
Terlalu sering aktif di sosial media, membuat diri gue lupa untuk mengharagai diri sendiri. Lebih sering membandingkan diri gue dengan orang lain, sering merasa iri karena orang lain yang seusia dengan gue telah buanyak memiliki berbagai hal yang bisa dibanggakan. Sedangkan gue malah mirip lengkuas dalam kuah rendang. Bentuknya mirip seperti rendang, tapi ketika di makan auto dimuntahin. Gimana, analoginya nyambung enggak? Enggak kan ya? Oke sip.
 Ketika sudah seperti ini yang biasa gue lakukan adalah dengan membayangkan ketika gue masih jadi santri di pondok pesantren dulu. Yang hidupnya selalu dibawah bayang-bayang ketakutan ketika melakukan kesalahan dan ketahuan oleh bagian keamanan. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep bahagia. Enggak seperti saat ini, yang hidupnya selalu khawatir dengan masa depan yang sejatinya belum terjadi.
Gue selalu bertanya, tujuan gue hidup ini sebenernya apa sih? Kenapa selalu khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi. Karena terlalu khawatir, gue malah lupa untuk memperbanyak doa kepada Allah untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi masalah.
Gue masih inget dengan ustadz pengajar Hadits ketika di pondok dulu. Beliau sangat kejam ketika mengajar, kalau menemukan muridnya mengantuk, beliau dengan langkah yang terburu-buru akan menuju meja muridnya, kemudian menendang meja muridnya tersebut. Apakah sampai disitu saja? Oh belum. Beliau akan menggetok kepala muridnya yang mengantuk itu dengan kitab bulughul maram. Mancing mania? MANTAP!
Di salah satu pelajarannya, gue jadi inget dengan Hadits yang artinya seperti ini,
Barang siapa yang ketika bangun tidurnya dan yang difikirannya hanya dunia sehingga seolah dia tidak melihat hak Allah, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam hatinya:

Kebingunguan yang tiada putus-putusnya
Kesibukan yang tidak ada ujungnya
Kebutuhan yang tidak pernah tercukupi
Khayalan yang tidak pernah berujung
Sepertinya sekarang gue mulai tau apa yang harus gue perbuat. Gue terlalu khawatir dengan hal-hal duniawi sampai melupakan Allah. Gue terlalu iri karena takut tidak bisa sesukses temen-temen seusia gue, di usia yang gue yang kebanyakan sudah mendapatkan pekerjaan serta membangun rumah tangga, gue disini malah masih sibuk dengan kuliah. Seharusnya segala sesuatu yang dikerjakan itu, ya harus dengan meminta pertolongan-Nya.  Bener enggak?
Kalau lu sendiri pernah mengalami rasa khawatir terhadap masa depan juga enggak? Punya tips lain?

Saturday, 3 March 2018

Kenapa menulis?


Ketika di pondok pesantren dulu, kehidupan gue banyak diisi dengan ketakutan akan berbagai hal. Takut nilai gue jelek dari tahun sebelumnya, dan mengecewakan orangtua. Takut diusir oleh bagian pengasuhan santri. Takut di botak sama bagian keamanan. Takut ketahuan ngomong gue-lu sama bagian bahasa. Pokoknya kehidupan remaja gue di SMP dan SMA dulu kurang lebih seperti itu. Penuh dengan berbagai ketakutan.
Pada akhirnya, ketakutan yang gue sebutkan diatas itu hampir semua gue pernah rasakan. Hanya diusir oleh bagian pengasuhan santri saja yang belum pernah. Sebetulnya gue hampir diusir ketika kelas 3 SMA dulu. Tau karena apa? Kabur ke rumah selama kurang lebih dua minggu. Mantap. Memang benar pada akhirnya gue enggak diusir, tapi setelah kejadian itu gue selalu menjadi langganan staff pengasuhan santri untuk di botak. 

Karena terlalu banyak memikirkan ketakutan itu, gue sampai lupa bahwa sebenarnya masih banyak hal yang gue bisa dilakukan daripada terlalu overthinking dengan hal-hal yang belum terjadi. Gue seharusnya punya hal yang ingin gue raih bukan malah terlalu khawatir dengan masa depan sampai tidak melakukan apa-apa. Sampai pada akhirnya gue menemukan salah satu buku Raditya Dika. Yang hampir seluruh isi buku-bukunya berisikan tentang menertawakan diri sendiri.  Dan dari dia juga, gue mulai tau tentang blog.
Setelah baca beberapa bukunya gue mulai mencoba untuk membuat blog, tapi sayangnya hal itu enggak pernah bisa kesampaian. Karena jaringan internet di lab komputer pondok gue dulu bener-bener gembel. Website sosial media di blokir semua, bikin blog pun enggak bisa juga. Yang mulai gue lakukan adalah dengan menulis diary di binder. Agak menjijikan memang, tapi asik juga. 
Eh tapi, dengan menulis seperti ini segala ketakutan-ketakutan yang gue rasakan mulai bisa teralihkan. Secara enggak langsung menulis bagi gue sebagai salah satu cara menumpahkan segala fikiran yang gue punya supaya enggak stress. Dan tentu saja gue menikmati hal ini.
**
 Awal mulai nge-blog dulu gue seperti orang gila. Hampir setiap hari selalu nulis, dan otak-atik template blog. Dan yang lebih parah, selalu memaksa teman-teman gue untuk buka blog serta membajak akun Facebook mereka untuk menyukai fanspage blog gue. Kalo diinget lagi, kenapa begitu menggelikan ya.
Hal itu gue lakukan ketika pengabdian. Jadi setelah gue lulus dari pondok pesantren, gue tidak bisa seenaknya langsung keluar, kemudian melanjutkan kuliah, lalu putus hubungan dengan pondok. Setelah lulus, pondok pesantren gue mewajibkan para alumni untuk mengabdi. Entah itu sebagai guru, sebagai mahasiswa, ataupun sebagai orang yang diajarkan secara khusus untuk berdagang. Barulah setelah satu tahun mengabdi, kita baru dibolehkan keluar pondok. Dan pengabdian ke pondok itu sebagai salah satu syarat juga untuk bisa mendapatkan ijazah.
Menulis selalu menjadi hal yang menyenangkan untuk gue kerjakan. Walaupun enggak ada komentar yang gue dapat di setiap tulisan di blog, gue enggak terlalu memperdulikannya. Gue rela untuk pergi keluar kampus hampir setiap hari, menggunakan sepeda hanya untuk bisa pergi ke warnet terdekat. Tujuannya ya untuk nulis di blog. Sampai akhirnya gue mulai tau bahwa ternyata banyak komunitas blog yang bertebaran di dunia maya. Dan kebanyakan komunitas-komunitas itu berawal dari Facebook. Dari sekian banyak itu, ada satu komunitas yang sering banget gue datangi. Namanya Blogger Energy. Gue pernah nulis juga tentang ucapan terimakasih untuk komunitas tersebut.
https://www.tumblr.com
Dan dari komunitas itu juga, gue bisa punya kesempatan untuk menerbitkan tulisan gue menjadi buku. Rasanya dulu gue hanya berangan-angan saja, eh ternyata bisa kesampaian. Mungkin di lain kesempatan gue akan cerita tentang bagaimana bisa gue menerbitkan tulisan gue. Tapi kemarin malam gue sempet kaget dan lumayan bangga dengan diri gue sendiri. Gue menemukan ada orang yang me-review buku gue yang berjudul Asam Manis Cinta di Youtube. Padahal bukunya terbit 4 tahun yang lalu. Dan yang bikin gue bangga adalah dia menyebut tulisan gue sebagai salah satu cerita yang disukainya. Goks! Yang lebih anehnya, dia bisa mengambil hikmah dari tulisan gue. Padahal gue sendiri sama sekali enggak ngerasa bahwa tulisan gue ini ada manfaatnya. Wk.
Kalau mau nonton videonya bisa klik ini ya.
Sekarang gue punya alasan lain untuk menulis. Selain sebagai bentuk pelarian, gue ingin agar tulisan gue bisa bermanfaat dan menghibur bagi orang lain. Kalau pun enggak bermanfaat, senggaknya jangan sampai menyesatkan orang lain lah.
 Buruan ikutan juga
Ikutan gih...
Nah, kalo lu sendiri apa alasan untuk menulis?

Sunday, 25 February 2018

Indahnya pantai di Matruh, Mesir

Setelah asik berkeliling padangpasir dengan supir gila di Siwa, gue serta rombongan berangkat menuju ke Matruh. Kalau sebelumnya di Siwa banyak tempat yang kita kunjungi, berbeda dengan halnya kota bernama Matruh ini. Coba baca ini deh siapa tau jadi khilaf mengunjungi Siwa seperti gue juga. Tujuan orang-orang kesini hanya untuk menikmati indahnya warna air laut yang katanya mempunyai tujuh warna yang berbeda. Dan memang hal ini enggak terdengar buruk sama sekali, bagi mereka yang telah lelah dengan kemacetan di Kairo, serta bosan melihat bangunan-bangunan kota yang sebagian besarnya berwarna coklat.

Kali ini gue bersyukur karena cuacanya seperti yang gue perkirakan ketika di Kairo kemarin. Udara yang sejuk, langit cerah, serta punya koleksi foto-foto dengan tempat-tempat menarik yang akan dipamerkan di social media. Ternyata gue sesombong ini, Astahgfirullah. Kayaknya karena sifat sombong ini, gue susah menurunkan berat badan. Apa ada hubungannya? Oh tentu saja gue enggak tau.
Sepanjang perjalanan enggak ada hal yang menarik, karena di kanan-kiri jalan hanya ada padang pasir yang terlihat seperti tidak ada ujungnya. Gue lebih senang berpergian jarak jauh di Indonesia, karena selalu banyak hal menarik yang bisa diliat di jalanan. Setiap memasuki kota di Mesir, akan selalu ada polisi yang menjaga di pintu kedatangan. Beberapa dari mereka ada yang hanya mengecek ke dalam bis, dan ada pula yang mengawal bis kita masuk ke kota tersebut. Ya salah satun yang mengawal bis kita, ya para polisi di kota Matruh. Padahal tahun kemarin ketika pertama kali ke kota ini, gue enggak menemukan hal seperti sekarang ini.
Setelah beberapa kali berpergian keluar kota di Mesir, gue mulai sadar betapa pentingnya kami paraorang-orang asing memiliki izin tinggal disini. Kalau enggak punya visa bagaimana? Beberapa dari mereka ada yang mengundurkan diri untuk tidak ikut perjalanan, dan sebagian lagi memilih untuk meminjam paspor teman yang sudah memiliki visa. Fikirannya karena para polisi, susah membedakan wajah orang asia, dan memang ada yang lolos ketika pemeriksaan. Tapi kalau ketauan dan tertangkap gimana? Disini banyak dari kita orang Indonesia yang terkadang meremehkan visa, bahkan ada yang tidak punya visa selama dua tahun. Gue sendiri pernah melakukan hal goblok ini, dengan tidak memiliki visa selama setahun. Untuk enggak sampai di deportasi ke Uganda.
**
Tempat pertama yang kita kunjungi disini adalah Kamar mandi Cleopatra. Terkenal dengan nama itu, tapi aslinya tempat ini ya pantai serta laut lepas. Disini terdapat batu besar yang di bawahnya terdapat ruangan kamar mandi Cleopatra tersebut. Untuk benar atau enggaknya, gue enggak tau juga. Yang penting gue bisa refreshing pak!

Di tengah situ tuh katanya sih Kamar Mandi Celopatra


Suasana Matruh lebih bersih ketimbang Kairo dan tentu saja jalanannya pun lebih sepi. Gue kadang enggak terlalu kangen dengan kemacetan di Jakarta, karena di Kairo itu macetnya juga sama gilanya dengan kota kesayangan gue itu. Ditambah lagi para supirnya yang seenaknya udelnya mengendarai mobil dengan kecepatan kencang. Walaupun sudah ada ibu-ibu yang menyuruh untuk lebih santai, tapi ya tetep enggak di gubris aja gitu.
Setelah puas berfoto-foto di tempat ini, kita menuju pantai Ajiba. Dari sini baru terlihat jelas, bahwa air lautnya memang memiliki banyak warna. Perpaduan antara warna biru serta warna hijau muda serta langit yang cerah, membuat hari ini semakin asik. Sayangnya, ketika sampai disini udaranya memang lumayan dingin, dan hanya kami yang datang ke tempat ini. Padahal biasanya banyak para pedagang yang menjual dagangannya di tangga menuju pantai. Karena sebelumnya sudah pernah kesini dan sudah main air di pantai ini, gue memutuskan untuk enggak turun. Selain karena yang jalannya lumayan capek, gue juga sedang kebelet boker. Kuncinya biar bisa menahan ini kan tentu saja dengan mengurangi gerak badan, serta menghindari angin. Bener gitu kan ya? Atau ada tips lainnya?


Jadi gimana, indah kan pantainya?
Tapi gue sempet nyesel karena belum mengunjui pantai-pantai indah di negri sendiri. Hah. Manusia, enggak ada puas-puasnya.