Thursday, 19 July 2018

Fitur smartphone yang menyebalkan


Selain komputer, serta beberapa buku-buku yang gue miliki disini, smartphone adalah benda penting serta berharga buat diri gue. Selain karena memang belinya menggunakan hasil uang tabungan yang gue miliki, terasa hampa aja gitu kalau hari-hari gue enggak bisa digunakan untuk stalking insta stories mantan.
Saat ini smartphone yang gue gunakan adalah Samsung Galaxy Note 4, dan masih bisa digunakan dengan baik sampai saat ini, di tahun ketiga. Foto-foto gue di Instagram pun juga sering menggunakan hasil kamera dari hape ini. Cek aja coba, abis itu di follow yak. Meskipun beberapa kali sering lag atau tiba-tiba mati sendiri, gue masih bisa memaklumi hal itu. Tapi sering kali yang gue dengar adalah smartphone dengan operasi sistem berbasis Android itu jelek, jika dibandingkan dengan iOS.
Ah, semasa bodo amat lah. Kalau pun gue ada uang, lebih baik gue membeli lensa 23mm f1.8 beserta kameranya, ketimbang membeli smartphone. Toh hape yang sekarang ini masih baik-baik saja. Kegunaannya untuk bermain game serta memantau kegiatan mantan, berlangsung dengan lancar.
https://tenor.com
Tapi dari sekian banyak aplikasi maupun sistem yang dimiliki oleh smartphone, gue masih enggak paham dengan sistem bawaan smartphone yang bernama talk back. Yang gue tahu dari aplikasi itu hanya membuat pemilik hape menjadi panik dan juga cemas. Apalagi kalau kondisinya sedang dalam suatu meeting yang bersifat formal. Diliatin oleh setiap pasang mata dalam satu ruangan, duh... jangan sampai kejadian di gue aja deh. Malu banget pasti.
Bagi yang belum tau apa itu talk back, sebaiknya kalian mengaktifkannya terlebih dahulu. Kalau sudah aktif, jangan panik sendiri. Nanti gue temenin. Biar barengan :(
Kejadian ini juga dialami oleh temen rumah gue. Dia yang terkenal dengan paling tua diantara temen rumah gue yang lain, serta terkenal dengan paling kalem, tiba-tiba datang ke kamar gue dengan suara aneh yang keluar dari hapenya.
“Eh eh mat, ini gimana dah matiinnya. Bunyi-bunyi kayak gini terus”
Dengan kesotoyan yang gue miliki, gue ambil hapenya sambil berkata,
“Gampang ini mah. Liatin gue nih biar lu tau”
“Hmmm hmmmm hmmm hmm”
“....”
“Lu kalo nyanyi kayak Nisa Syaban lagi, gue tebalikin nih meja komputer lu”
“Mendingan kita liat tutorial dari Youtube aja deh, gue lupa caranya. Ehe”
Dengan sigap, ditambah rasa takut akan rusaknya meja komputer, gue menyalakan komputer. Tapi kita sama-sama enggak tahu dengan kata kuncinya.
“Ini keywordnya apaan dah ya”
“Sini, biar gue aja”
“Lu mau tulis apaan emang?”
“Ya bukan itu juga keywordnya, gembel. Masa keywordnya, ‘cara mematikan hape yang ngomong sendiri’ aneh lu”
“Nyoh liat, nyoh... bener kan gue. Sini hape gue”
“Hmmm hmmm hmmm”
**
Ternyata selain bikin panik, sistem talk back ini membuat pemilik hape naik darah. Keren ya.

Monday, 25 June 2018

Misteri hilangnya ayam di kulkas rumah


Udah lumayan juga nih gue enggak nulis di blog. Udah bayar domain tapi enggak digunakan semaksimal mungkin. Memang pintar sekali kau, Tomat.
Mau denger alasan kenapa gue enggak nulis?
Karena kemarin itu gue UAS dan selesai ketika tanggal 11 Juni kemarin.
Karena gue nya aja yang males sih.
Ehe.
Enggak berguna ya alasannya? Bodo.
**
Banyak kejadian menarik di bulan puasa kemarin. Selain berat badan gue yang berkurang sebanyak lima kilogram, ada satu kejadian yang menyebalkan di bulan lalu.
Jadi, karena kami para mahasiswa Al-Azhar masih menjalani UAS sampai pertengahan Ramadhan, diadakanlah piket masak khusus ketika sahur saja. Diantara anak rumah lainnya, sepertinya gue adalah orang yang paling enggak bersemangat untuk bertugas menyediakan makanan untuk anak-anak rumah. Selain karena menu makanan yang bisa gue masak hanya itu-itu saja, sejujurnya gue masih trauma untuk masak.
Sampai saat ini, gue masih ingat dengan reaksi teman-teman gue ketika mencicipi makanan yang gue buat dulu. Raut mukanya kecut, enggak ada kecerian yang bisa gue temui di wajahnya. Padahal ketika masak, gue cukup yakin bahwa makanan gue akan cepat habis karena anak rumah sudah berteriak kelaparan. Kenyataannya malah tidak seperti itu. Dari delapan orang anak rumah, hanya satu orang yang memakan hasil karya gue. Itu pun juga sedikit banget.
Dan ketika gue mencoba memakan hasil masakan gue sendiri, gue mulai setuju dengan reaksi yang ditampakkan oleh temen-temen gue yang lain.
“Asin banget bgst” Maki gue dalam hati.
Padahal kejadian itu sudah lama terjadi, dan sebutulnya hal yang wajar. Karena itu adalah pertama kalinya gue masak, dan kalau hasilnya pun enggak enak, ya santai aja. Kan yang seperti itu bukan gue doang. Bener kan?
Ya kan?
Atau cuman gue doang lagi?
Oh shyit.
Mungkin yang bikin gue terlihat kurangajar, karena gue terlalu percaya diri dengan masakan yang gue buat dan menyombongkan hal itu kepada teman-teman gue yang lain. Sekarang kalau teman-teman gue sedang membicarakan menu masak, gue berusaha enggak ikutan gabung dengan obrolan mereka.
**
Akhir bulan Mei kemarin, keuangan gue sedang tidak baik. Gue ingat, di awal bulan serta pertengah bulan, gue terlalu sering membeli cemilan serta rokok. Dua halitu yang membuat keuangan gue menipis. Dan akibatnya, selama dua minggu terakhir gue harus menghemat uang yang gue punya. Untung saja di bulan puasa kemarin, undangan untuk berbuka puasa bersama jauh lebih sedikit ketimbang tahun-tahun sebelumnya, sehingga gue bisa lebih menghemat uang yang gue punya.
Tepat delapan hari sebelum bulan Mei berakhir, giliran gue untuk menjadi piket masak. Uang enggak ada, teman-teman di rumah ujian semua, mantap. Gue kefikiran untuk memasak indomie rebus serta telur goreng, tapi langsung gue tolak mentah-mentah. Karena kalau difikir lagi, kasihan teman-teman gue ini. Takutnya enggak khusyuk dengan belajarnya, dan mengganggu ujiannya, karena mendapatkan asupan gizi yang tidak baik dari indomie rebus serta telur goreng. Hanya karbohidrat, dan sedikit protein. Maka dari itu gue putuskan untuk menjual diri meminjam uang.
**
giphy.com

Di hari sebelumnya, gue telah membeli seekor ayam yang nantinya akan gue masak ketika sahur. Piket kali ini sepertinya gue cukup niat, karena selain meminjam uang, gue pun membeli lauk cukup jauh dari rumah. Alasannya, ya karena di sekitar rumah gue harga ayam jauh lebih mahal ketimbang di pasar deket rumah adek gue. Kira-kira kalau gue contohkan seperti ini,
Rumah gue yang sekarang itu ada di daerah ciputat. Sedangkan rumah adek gue berada di kebayoran lama.
Gimana, sudah dapet bayangannya?
**
Berhubung gue satu rumah dengan orang yang jago masak, gue yakin masakan gue saat sahur nanti enggak akan seburuk seperti piket masak yang sebelumnya.
“Zi, lu piket ya nanti sahur? Gue hari ini aja ya, lusa gue ujian soalnya. Jadi gue dulu aja ya” ucap temen gue.
“Oh oke”
Niatan gue untuk masak sepertinya harus ditunda. Jadwal ujian disini memang berbeda tiap fakultas. Fakultas gue sendiri, hanya dua kali dalam seminggu. Sedangkan teman gue ini jadwal ujiannya seperti layaknya puasa Daud. Hari ini masuk, besok enggak, kemudian masuk lagi. Selang-seling gitu. Sekarang gue harus mencoba mengerti posisi teman gue ini, si Huda, yang terkenal dengan mandinya yang amat sangat lama. Bisa setengah jam sendiri, nying.
Toh gue sudah beli lauk juga, jadi besok enggak perlu pergi jauh-jauh lagi untuk mencari bahan masak. Yang penting lauknya gue taruh di kulkas saja malam ini.
**
Jam dua malam, gue baru bangun. Rumah gue memang sepertinya selalu ada saja yang enggak tidur sampai waktu shubuh. Jadi enggak ada rasa takut terlambat bangun sahur.
Nampan sudah ditaruh di lantai. Nasi didalam magic jar pun telah matang, walaupun biasanya anak rumah beberapa kali tidak menekan tombol agar nasinya dimasak, namun kali ini kesalahan itu enggak terjadi. Gue sendiri, lebih penasaran dengan makanan yang akan dimasak oleh si Huda. Karena yang gue liat, dia enggak membeli lauk sama sekali. Mungkin saja, dia berbelanja saat gue tidur. Enggak tau juga kan?
Badan gue diam di tempat saat melihat Huda membawa panci yang berisikan ayam kecap. Feeling gue mengatakan bahwa ayam yang telah dilumuri oleh kecap adalah milik gue. Rasa ngantuk gue langsung hilang, digantikan oleh rasa penasaran dan rasa gundah gulana.
Alay 
Anak rumah dengan semangat memakan menu sahur, tapi gue justru kebalikannya. Walaupun enggak terlalu semangat, bukan berarti gue enggak makan juga. Tetep makan kok, kan laper juga aing. Saat makan bareng seperti ini, seharusnya gue enggak usah memikirkan hal lain, fokus dengan makanan. Karena anak rumah gue memang mirip-mirip badak kalau urusan makan. Semuanya disikat. Meleng dikit, gue enggak kehabisan lauk.
**
“Kabur kemana ayam gue kampret?!!”
Ucapan pertama kali yang muncul sesaat gue tidak melihat plastik hitam yang membungkus ayam gue di kulkas. Ketika Huda datang ke dapur sambil membawa nampan yang ingin di cuci, saat itu juga gue bertanya ke orang ini. Dan, iya bener. Dia yang memasak ayam hasil dari uang pinjaman ke teman gue. Apakah gue kesel? YA IYALAH. Apakah gue memaki-maki si Huda? Tentu tidak. Dia tipikal manusia yang lurus-lurus saja, dan gue sendiri pun merasa ini bukan kesalahan dia sepenuhnya. Kenapa plastiknya enggak gue kasih tanda kalau itu adalah bahan makanan yang akan gue masak saat sahur nanti.
Pengen ngamuk, tapi kayaknya enggak berguna juga. Dan sepertinya enggak akan di respon juga. Gue hanya bisa ngomong sendiri di kamar mirip orang gila, sambil memikirkan sahur besok akan masak apa.
giphy.com

.
.
.

Keesokan harinya saat piket sahur gue memasak nugget serta telor. Apakah bergizi? Bodo amat. Gue enggak peduli juga mau bergizi atau enggak. Yang gue fikirkan adalah apakah gue bisa bertahan hidup dengan uang lima pound untuk seminggu kedepan. Lima pound itu sekitar goceng, kalau kalian penasaran.
Ternyata yang dikira milik kita, bisa jadi hanya berupa titipan. Kayak kasus ayam gue yang hilang.
giphy.com

Monday, 14 May 2018

Try me


Sekarang ini mata gue sedang tertutup karena terlalu sering melihat senyuman yang diperlihatkan oleh orang lain. Mereka bahagia dengan pekerjaannya serta tentu saja senang dengan pencapaiannya saat ini. Sepertinya. Sedangkan gue justru kebalikannya, gue enggak senang dengan apa yang gue lakukan. Padahal kalau mau ditelusuri lebih jauh lagi, sebetulnya apa yang gue lihat dari orang lain merupakan bentuk hasil kerja kerasnya setelah berbulan-bulan lamanya, em.. mungkin bahkan bertahun-tahun sebelumnya.
Dan yang gue sadari adalah justru hal itu. bahkan karena itu gue sering dihinggapi rasa malas serta mengisi waktu dengan rasa iri serta benci terhadap pencapaian orang lain. Tapi cepat atau lambat, sifat buruk ini akan hilang karena sebetulnya kehidupan gue sebenarnya enggak seburuk itu juga. Sejatinya cara kerja hidup pun tidak seperti itu. Segala hal yang kita kerjakan enggak ada yang sia-sia. Patah hati, ekspektasi yang enggak sesuai dengan kenyataan, banyak hal yang bisa gue pelajari dari hal tersebut.
Orangtua gue selalu menasehati anak-anaknya dengan kalimat seperti ini,
“Rezeki, jodoh, serta mati itu sudah diatur oleh Allah. Jangan takut. Usaha terus”
Di tahun-tahun sebelumnya, gue sama sekali enggak mengerti dengan nasehat yang diberikan oleh kedua orangtua itu. Perlahan gue mulai paham dengan maksud yang disampaikan oleh mereka. Walaupun kenyataannya sampai sekarang pun gue masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Masih banyak rasa iri serta benci yang gue miliki untuk saat ini. Mungkin saja faktor dari mendengarkan perkataan orang lain, gue seolah menyetujui pendapat mereka. Padahal kan masih banyak sudut pandang yang bisa diambil, bukan dari orang itu saja.
Kalian paham dengan apa yang gue tulis kan? Anggep aja paham ya.
Sebetulnya masih banyak hal positif yang bisa gue ambil dari apa yang gue jalani saat ini. Mungkin karena terlalu khawatir dengan reaksi orang lain, sehingga membuat gue selalu malu-malu untuk bersikap tegas serta dewasa dalam menyikapi suatu hal. Akhirnya memilih sembunyi dan marah dengan kenyataan yang ada.
Teman-teman yang perlahan menghilang, cerita tentang patah hati yang belum terselesaikan, nilai yang tidak sesuai dengan harapan, mimpi yang seolah mustahil untuk diwujudkan, hutang balas budi terhadap kedua orangtua dan kenyataan bahwa gue seharusnya menjadi seorang lelaki dewasa dan juga menjadi panutan sebagai anak pertama, yang seharusnya tidak terlihat lemah dihadapan orang lain. Gue merasa gagal menjadi seorang lelaki.
Walaupun begitu, gue tetap percaya bahwa semua hal itu pasti bisa berubah.
Gue pernah baca caption orang di Insta story tentang salah satu hal yang selalu dilakukan ketika punya masalah. Tulisannya kurang lebih seperti ini,
"Try me. Kita liat siapa yang bisa bertahan dan menang"
Kayaknya gue harus menerapkan perilaku ini mulai dari sekarang.


Monday, 7 May 2018

WISGR, game anak bangsa yang akan mendunia




Di zaman sekarang sebetulnya telah banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengalihkan fikiran kita. Gue sendiri punya satu kegiatan yang sering dilakukan untuk sekedar melarikan diri dari kenyataan yaitu dengan bermain game. Mulai dari bermain game mobile, game komputer, pokoknya bukan bermain dengan perasaan orang lain aja gitu.

Saat ini gue sedang menikmati game mobile legend di handphone, serta game Watch dog 2 di komputer. Walaupun kedua game itu sudah lumayan lama di rilis, tapi gue masih senang untuk memainkannya. Menurut gue, terkadang suatu game itu punya punya kekuatan ‘magis’ tersendiri untuk membuat para pemainnya bisa betah berlama-lama memainkan game tersebut. Sampai lupa waktu dan berujung dengan teriakan nyokap,

“Kamu kalau begadang karena main game, besok pagi udah hilang komputer kamu ya, mas”

Dua games yang gue sebutkan di atas tadi merupakan buatan negara lain. Lalu bagaimana dengan games buatan anak bangsa? Sebenernya sudah banyak games buatan anak Indonesia yang seru untuk dimainkan. Salah satunya yang tahun kemarin cukup terkenal adalah game yang bernama tahu bulat. Gara-gara keasyikan dagang tahu, gue lupa waktu serta lupa ngabarin pacar.

Selain itu ada pula game buatan Indonesia lainnya yang cukup populer di tahun 2013 bernama Dread Out. Game bergenre horror ini menceritakan tentang berbagai macam hantu-hantu di Indonesia, mulai dari pocong, kuntilanak serta tuyul. Game ini pun juga sukses membuat pemainnya menjerit histeris. Salah satunya, Pewdiepie, yang merupakan seorang Youtuber gaming dengan jumlah subscriber terbanyak saat ini.

Gue enggak sempat mencoba memainkan game ini, karena jujur saja gue kurang suka dengan game yang bertemakan horor. Apalagi setelah melihat beberapa Youtuber yang raut wajahnya berubah ketika memainkan game Dread Out. Gue memutuskan untuk enggak mencoba game populer ini. Bukan karena takut, tapi lebih kepada gue nya yang memang enggak berani.

Sama aja itu, Mat!

Di awal tahun 2018 ini beredar kabar bahwa salah satu developer game Indonesia akan segera merilis game yang bertemakan action adventure. Berjudul WISGR. Bahkan dari yang gue dengar, game ini sempat dibandingkan dengan game-game terkenal lainnya, seperti Bastion serta Diablo II. Mantap jiwa! Sama seperti Dread Out yang mempunyai unsur khas Indonesia, game WISGR pun juga akan menyajikan beragam ‘rasa’ Indonesia didalam game ini . Contohnya seperti dialog-dialog yang akan ditampilkan nanti merupakan asli khas Indonesia. Serta peta yang akan digunakan dalam game ini akan dibuat beragam untuk mencerminkan keragaman budaya tanah air.



Keren banget!

Kekuatan ‘magis’ atau kelebihan dari game ini adalah dari story gameplay nya yang akan susah ditebak oleh para pemainnya. Sama kayak keinginan cewe, susah ditebak. Bahkan dalam game besutan Guklabs ini untuk bisa mengalahkan musuh utama para pemainnya harus lebih mengetahui taktik apa yang cocok untuk mengalahkan si musuhnya tersebut, bukan hanya dengan kekuatan yang dimiliki oleh tokoh utamanya. Berhubung WISGR bukan game horor, sepertinya gue akan mencoba game buatan anak bangsa ini.



Saat ini sudah tersedia versi demo nya yang bisa didownload dari situs Guklabs sendiri. Dan nantinya kalau sudah rilis, akan tersedia di Steam. Game ini hanya bisa dimainkan di komputer, walaupun kedepannya nanti gue rasa tidak akan menutup kemungkinan bisa dimainkan di handphone yang kita miliki. Berhubung saat ini memang banyak sekali game-game mobile yang seru untuk dimainkan.

Game besutan anak bangsa ini pun telah mendapatkan berbagai tanggapan positif di forum-forum online serta media sosial. Salah satu alasan game ini menarik peminat para pecinta game PC karena telah banyak beredar perbandingan antara game WISGR dengan Bastion serta Diablo II. Tim Guklabs juga telah melakukan berbagai pemeriksaan agar nantinya game WISGR minimal dari bug serta segala feature nya dapat dimainkan oleh setiap pemain.

Jadi gimana, tertarik untuk mencoba? Kapan lagi nyobain game buatan anak negri sendiri yang sudah digadang-gadang akan sesukses game terkenal seperti Bastion dan Diablo II. Gimana?

MANCING MANIA?
MANTAP!

Gue slengkat juga lu, Mat!

Tuesday, 1 May 2018

Serangga bangsat di musim panas


Tiga hari kemarin ada yang aneh dengan Mesir. Cuaca Mesir mendung, dan turun hujan selama tiga hari. Kalau di Indonesia hal seperti ini sudah biasa, tapi baggi gue yang sudah beberapa tahun tinggal di Mesir hal ini merupakan sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Ketika gue masih junior dulu, senior gue selalu bilang bahwa hujan di Mesir itu mempunyai tiga arti. Pertama, bertanda bahwa musim dingin akan segera datang. Biasanya terjadi di bulan oktober. Kedua, bertanda bahwa musim dingin akan segera berakhir digantikan dengan musim panas. Biasanya terjadi di bulan April. Ketiga, bertanda bahwa banyak mahasiswa Indonesia di Mesir yang akan merekam moment hujan tersebut dan mengunggahnya di media sosial. Dan kenyataannya emang bener seperti itu sih.
Kalau boleh jujur, gue lebih suka dengan musim dingin di Mesir. Selain bisa jarang mandi, malam hari terasa lebih lama dibandingkan dengan siang hari. Kalau gue hitung lagi, sepertinya saat musim dingin gue hanya mandi tiga kali seminggu. Itu belum di hitung kalau gue terpaksa mandi besar setelah mimpi basah. Di musim dingin, jadwal waktu shalat lebih enak ketimbang musim panas. Adzan shubuh mulai terdengar ketika jam setengah enam. Dan waktu shalat Maghrib dimulai ketika jam lima sore. Gue selalu berharap bisa berpuasa saat musim dingin loh, tapi kenyataannya enggak bisa terwujud sampai saat ini.
Tapi hal yang kurang menyenangkan saat musim dingin adalah nafsu makan yang bertambah tidak seperti biasanya. Dan ini berpengaruh besar terhadap gue yang ingin menjalankan hidup sehat dengan tujuan akhir mempunyai perut lebih kurus. Karena cuaca yang dingin, membuat system metabolisme dalam tubuh cepet habis, dan butuh persediaan makanan lebih banyak. Itu bahasa ngasal gue aja, intinya di musim dingin gas tabung rumah gue akan lebih sering diisi ulang. Dan itu tandanya harus mengeluarkan uang lebih juga untuk patungan.
Di musim panas, siang hari akan terasa lebih lama. Dan bikin males beraktifitas. Keluar rumah, kepanasan. Di kamar juga panas. Angin yang keluar dari kipas angina juga panas. Tempat favorit gue ketika musim panas akan jatuh kepada masjid serta warung penjual minuman dingin di pinggir jalan. Walaupun pilihan minuman yang ada, enggak sebanyak di Jakarta. Disini paling hanya ada tiga pilihan, asob, subya, dan juga tamr. Es tebu, es kelapa, dan kurma dingin. Kalau pilihan minuman di rumah makan, pastinya akan lebih banyak lagi.
Pakaian yang gue punya juga enggak mendukung di musim panas seperti ini. Kaus yang gue punya kebanyakan berwarna hitam, dan itu artinya menyerap panas matahari. Seragam yang digunakan oleh polisi disini pun juga berbeda ketika musim dingin dan musim panas. Di musim dingin mereka akan mengenakan seragam berwarna hitam, dan ketika musim panas akan memakai pakain putih.
www.teknosaurus.com

Satu hal yang enggak akan gue mengerti di saat musim panas adalah dengan munculnya serangga-serangga kecil di rumah gue. Enggak habis fikir juga, kenapa makhluk kampret itu perlahan akan muncul dari bawah alas karpet yang kami gunakan. Serangga kecil ini biasa disebut kepinding, atau bangsat. Atau juga banyak yang menyebutnya kutu busuk.
Saat tahun pertama tinggal di Mesir, rumah gue akan mengeluarkan serangga kecil ini dari lubang-lubang yang ada di tembok. Hampir semua orang yang tinggal di rumah, akan selalu bangun di pertengahan malam. Apakah ingin shalat tahajud? Sepertinya enggak. Karena ketika bangun, dia akan berucap,
“Banyak banget bangsatnya, sialan”
sambil menggaruk sekujur tubuh dan menepuk-nepuk kasur yang mereka tiduri. Lalu mengambil kasur yang sudah dibersihkan tersebut dan pindah ke ruangan lain untuk melanjutkan tidur.
Seenggak nyaman itu ketika ada kepinding di rumah lu. Tidur pun enggak akan nyaman karena serangga ini akan bergerak masuk kedalam pakaian yang digunakan, kemudian menggigit tubuh orang itu. Dan di pagi harinya, dia akan menemukan bentol-bentol di bagian tubuhnya tanpa mengetahui penyebabnya.
Gue? Gue sering banget ngalamin hal itu. Lagi asik tidur sambil buka-buka foto di Instagram, tiba-tiba ada yang gerak-gerak didalam celana. Apalagi kalau bukan serangga itu, si kepinding. Enggak mungkin juga kan tangan temen gue masuk ke dalam celana gue. Kayaknya temen-temen gue enggak ada yang semesum itu.
Bagaimana pun juga, enggak semua rumah didatangi oleh kepinding seperti yang menimpa rumah gue saat ini dan saat gue menjadi anak baru sebelumnya. Buktinya tahun kemarin rumah gue baik-baik saja, atau karena memang rumah yang gue tempati saat itu termasuk bangunan baru ya? Berbeda dengan sekarang.
https://ceritamedan.com/

Selain serangga menyebalkan itu, jadwal shalat di musim panas pun akan lebih lama dari biasanya. Adzan shubuh mulai dari jam tiga, dan shalat maghrib akan dilaksanakan ketika jarum jam mengarah ke angka tujuh. Dengan ini pun, waktu berpuasa disini akan lebih lama ketimbang di Indonesia. Seandainya jarak Indonesia dekat, gue akan dengan senang hati pulang setiap minggu.
Nyokap juga enggak ada tanda-tanda keinginan untuk menyuruh anak-anaknya pulang lagi. Sedi akutu.
Tapi sepertinya hidup akan terasa enggak ada esensi keseruannya kalau hanya memikirkan hal yang tidak disukai. Bener kan?

Sunday, 22 April 2018

Pendakian menuju gunung Sinai Mesir


Melihat temen-temen gue semasa di pondok pesantren suka dengan kegiatan mendaki gunung, gue jadi penasaran. Emang sebegitu menyenangkannya ya naik gunung? Padahal butuh waktu lama untuk bisa sampai ke puncaknya. Rasanya memang keren, bisa melihat matahari di puncak gunung bersama kawan-kawan lainnya. Apalagi setelah itu, banyak yang menyukai fotonya di Instagram. Double kebahagian.

Tapi, saat liburan kemarin ketika orangtua gue tau bahwa anak lelakinya ingin mendaki gunung, jawaban nyokap,
‘Mendingan kamu jemur handuk kamu sana, enggak usah sok-sokan naik gunung’
Sedewasa apapun seorang anak, akan terlihat seperti anak kecil di mata orangtua. Bukan Cuma gue doang yang merasa seperti ini kan? Kalian juga kan? Cuman gue doing? Serius lu enggak? Ini enggak ada yang mau nemenin gue emangnya?
Nanya lagi, gue jadiin sayur lu, mat
 **
Akhir Januari kemarin, gue serta adik gue akhirnya bisa liburan keluar kota. Setelah berbulan-bulan kita berhemat dengan makan mie rebus, akhirnya kita punya tabungan yang cukup untuk bisa pergi ke kota yang sangat istimewa di Mesir. Kota yang berbatasan dengan Negara Israel ini bernama Sinai. Dan tujuan kita kesini tidak lain adalah untuk mendaki gunung Sinai.
Apakah gue dan adik gue diizinkan? Oh pastinya. Sebenernya gue enggak tau juga sih gimana tanggapan orangtua gue saat itu. Karena kami tidak bilang-bilang ke mereka. Naluri lelaki gue saat itu lebih memilih untuk meminta maaf, ketimbang minta izin kepada mereka. 
**
Seperti biasanya adik gue akan mulai meneror hape gue dengan bermacam chat serta telfon, menyuruh kakaknya agar tidak tidur setelah shalat shubuh dan mempersiapkan berbagai peralatan yang akan dibawa untuk tiga hari kedepan. Di jadwal, kami akan berangkat jam tujuh pagi. Dan jarak rumah gue dengan titik temu lumayan jauh, kira-kira dua hari. Engga deng. Boong.
Engga lucu, su
Cukup banyak kaus yang gue bawa, karena temen gue telah mengingatkan bahwa di puncak Sinai itu dinginnya bikin mampus. Walaupun badan gue lumayan punya lemak berlebih, tapi gue lebih memilih untuk mengikuti petunjuk temen gue si Rido. Sarung tangan sudah, sorban sebagai penutup kepala pun sudah, dan celana dalem juga enggak lupa gue masukkan ke dalam tas. Segala perlengkapan telah siap dibawa. Gue siap untuk mendaki puncak gunung Sinai.
Perjalanan menuju Sinai memakan waktu kurang lebih sekitar 10 jam. Kali ini gue serta adik gue ikut jasa travel, para pesertanya pun lebih banyak yang berasal dari Negara Malaysia serta beberapa dari Thailand. Tapi para tour guide nya berasal dari Indonesia. Dan sebetulnya mereka adalah senior dan junior gue ketika di pondok pesantren dulu.
Sebelum sampai ke Sinai, kami melewati banteng Berlief yang dulunya merupakan benteng yang dibangun oleh Israel ketika merebut kota Sinai dari Mesir. Kami pun sempat mengunjungi air mata Nabi Musa. Ingat engga ayat di Al-Quran yang menerangkan bahwa nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk memukul tongkatnya ke batu dan kemudian mengeluarkan mata air?






Jam delapan malam rombongan kami sampai di hotel, dan tengah malam nanti kami akan mulai mendaki puncak gunung Sinai. Tas-tas yang kami pun nantinya akan ditaruh di bis. Kita hanya membawa badan untuk menuju puncak gunung. Gue mulai membenarkan perkataan Rido tentang udara disini. Hawa dingin di Sinai jauh berbeda dengan yang ada di Kairo.
Bukannya tidur gue malah sibuk dengan kamar mandi karena sejak dari tadi gue buang air besar. Emang asyu. Biasanya kalau dingin seperti ini gue akan menjauhi kamar mandi, mandi pun paling hanya tiga kali dalam seminggu. Dan selalu menjaga air wudhu. Alasannya supaya gue enggak sering-sering bersentuhan dengan air. Disini malah sebaliknya. Lebih sering ke kamar mandi. Mantap jiwa. Apakah ini bertanda buruk?
**
Pakaian yang gue kenakan untuk mendaki sudah lima lapis kaus, termasuk jaket. Perjalanan ini seharusnya mudah, karena gue lumayan sering olahraga serta berat badan gue telah turun 5kg sejak kepulangan dari liburan kemarin. Walaupun masih tetep gemuk juga sih. Selain rombongan kami, masih ada empat rombongan lainnya yang akan mendaki malam ini. Ketika gue melihat orang Mesir yang mengawal rombongan kami, gue merasa sangat cupu sekali. Mereka hanya menggunakan gamis, jaket kulit, serta sorban yang diikat di kepalanya. Bandingkan dengan pakaian yang gue pakai. Sedih uy, gue enggak ada macho-machonya sedikit pun.
Seinget gue ada lima pos sepanjang perjalanan menuju puncak gunung ini. Setiap bertemu dengan pos, pantat gue merasa gembira karena akhirnya bisa duduk sejenak menghilangkan rasa pegal-pegal. Sepanjang perjalanan banyak para penyewa unta yang menawarkan ke para pendaki. Kalau boleh milih, gue ingin menaiki unta itu agar cepat sampai ke puncak. Berhubung di rombongan ini ada adik gue dan dua orang temannya, Didi dan Diba, serta senior di pondok, gue lebih memilih untuk jalan kaki. Persetan dengan pegal-pegal di kaki, gue bakalan bisa sampai puncak tanpa menaiki unta!
Adik gue dua kali muntah sepanjang perjalanan. Dan untungnya enggak muntah dipakaian yang gue kenakan. Hanya butuh lima jam untuk sampai ke puncak sebetulnya, tapi gue lebih sering duduk dan menemani adik gue sepanjang perjalanan. Saat kami istirahat di pos ketiga, pertanda buruk mulai muncul lagi. Celana yang gue kenakan robek tepat dibagian bawah pantat. Enggak usah dibayangin juga lah ya. Gue pakai celana pendek kok. Tapi berhubung saat itu memang gelap gulita, gue santai saja dengan celana yang gue gunakan. Enggak akan ada yang liat juga. Lagian siapa juga sih, yang memperhatikan pantat orang lain hah?
Malam itu kami cukup beruntung karena bisa melihat salju di puncak Sinai. Enggak setebal di kutub utara juga, seenggaknya gue sudah enggak penasaran dengan bentuk salju. Ternyata bentuknya kurang lebih sama seperti es yang ada di kulkas. Gue kira setelah sampai di pos keempat, jarak menuju puncak Sinai akan dekat. Tapi enggak, nyet. Asli. Sejauh perjalanan yang telah gue tempuh, bagian ini yang paling menguji mental serta tenaga.
Didepan gue sekarang telah ada anak tangga yang ujungnya engga kelihatan. Yang gue bisa lihat saat itu hanyalah orang dari rombongan lain, yang jaraknya sangat tinggi dari posisi gue berdiri sekarang. Baru kali ini, gue mau nangis melihat betapa banyaknya anak tangga yang akan gue naiki. Pemandu rombongan gue dari orang Mesir pun telah menyuruh kami untuk beranjak dari pos ke empat menuju ke puncak Sinai. Mereka bilang,
Isyrin daiah kaman. Yalla yalla”
(Dua puluh menit lagi cuy. Ayo semangat sobat miskinqu)
Setelah mendengar perkataan si orang Mesir, Mahmud, gue bersemangat untuk cepat menaiki anak tangga ini. Begitu juga dengan adik gue. Saat itu perlahan tapi pasti, kami menaiki tangga sedikit demi sedikit, beberapa orang yang beristirahat telah kami lalui. Gue makin bersemangat dan merasa bahwa diri gue memang telah ditakdirkan untuk menjadi pendaki gunung Sinai.
Nggilani
Ketika gue melihat kebelakang, sudah lumayan banyak anak tangga yang telah gue naiki. Sekitar 20. Sedikit, tapi muka gue penuh dengan kebahagiaan. Setelah kepala gue arahkan ke atas, gue mau nangis. Rasanya kaki ini nggak mau melangkah menaiki anak tangga. Asyu masih jauh banget gilak hoi! Allahu akbar. Rasanya gue mau rebahan aja di anak tangga. Gelinding-gelinding dah bodo amat. Si Mahmud kampret juga sih, ngomongnya dua puluh menit untuk ukuran dia yang emang sering naik-turun puncak Sinai dari umur 10 tahun. Nah kalau gue serta rombongan lain yang berkekuatan minimalis, enggak cukup dua puluh menit. Kita butuh dua bulan!
Enggak sih. Alay aja lu
Di anak tangga ini gue enggak bareng dengan adik gue si Faizah. Dia masih cukup jauh dibawah sana, sedangkan gue hampir menaiki setengah anak tangga menuju puncak. Ketika disini fikiran-fikiran tentang kenikmatan menaiki gunung terbantahkan semua. Gue enggak akan lagi mau naik gunung. Cape anjir. Setelah gue perhatikan para pendaki yang akan melewati gue, adik gue serta temannya telah glayutan di badan Mahmud. Apa ya bahasa yang cocok glayutan? Pegangan. Nah itu.
 Langkah kaki gue mulai dipercepat, karena selain adik gue akan menyusul, hampir sebagian banyak dari rombongan gue telah sampai di pos terakhir. Mau cepet gimana pun, memang butuh waktu untuk gue supaya bisa terus melangkah. Setelah penuh perjuangan, akhirnya gue bisa sampai di pos terakhir. Tapi anehnya, gue malah enggak melihat rombongan gue. Udara dingin malam ini semakin menjadi-jadi. Ingin tidur, tapi udaranya kebangetan dingin. Setelah gue periksa disekitar, ternyata rombongan gue telah berada didalam warung. Sialan. Ternyata warung ini mempunya ruang yang cukup luas dan terdapat bangku panjang dibagian sampingnya. Kebanyakan dari mereka sedang menyantap mie rebus serta meminum teh hangat. Dan ada juga yang sedang asyik tidur dengan selimut.
Gue sendiri bingung mau ngapain. Mau tidur tapi kedinginan. Enggak nafsu makan. Cuma duduk, dan kemudian tanpa sadar mulai angguk-angguk karena mengantuk. Di pos ini gue sudah enggak peduli untuk naik ke puncak. Bodo amat lah, gue udah kedinginan kayak gini. Saat matahari sudah akan mulai terbit, rombongan gue mulai meninggalkan warung dan beranjak naik ke atas. Adik gue membangunkan gue untuk mengikuti rombongan lainnya. Seandainya enggak dibangunin gue yakin, gue bakalan masih asik tidur sambil kedinginan di warung itu.
Untuk naiknya enggak makan waktu lama. Beneran deket. Tapi karena dasarnya gue yang baru bangun, jadi suhu udaranya terasa lebih dingin untuk gue. Untungnya adik gue masih asik berfoto ria bareng teman-temannya, jadi gue bisa menyusul mereka. Ketika sampai, temen adik gue si Didi memberi tau bahwa celana gue robek. Dan temen adik gue yang lainnya memberikan gue selimut tipis yang gue ikat di pinggang gue untuk menutupi robekan di celana.
Gue bersyukur karena bisa menghilangkan fikiran negatif di pos kelima tadi. Fikiran bahwa gue enggak sanggup mendaki sampai puncak, akhirnya bisa teratasi. Gue bakalan menyesal banget kalau enggak naik, karena,
‘Men, keren banget pemandangannya!!!’



Tapi tetep sih, gue enggak bakalan mau naik gunung lagi.
 **
Ketika turun gunung, gue baru melihat ternyata perjalanan yang gue lalui cukup jauh. Pagi hari di gunung Sinai dengan pakain berlapis lima cuma menyiksa diri. Udaranya panas menyengat. Terlebih lagi, disini kan berbeda dengan gunung yang berada di Indonesia. Disini enggak ada pohon-pohon tinggi. Sepanjang perjalanan hanya bebatuan, serta kotoran unta.
 Saat berganti pakaian di kamar mandi, gue baru sadar. Ternyata robekan di celana gue gede banget bgst. Pantesan si Didi tau. Anjir malu banget. Untung aja gue masih pake celana pendek.
Gue baru sadar, ternyata untuk mendaki gunung itu yang gue lawan adalah fikiran negatif yang gue bikin sendiri. Dan dengan ini gue juga sadar, bahwa betapa dahsyat ciptaan Tuhan. Kayaknya gue bakalan nyoba untuk mendaki gunung ketika liburan di Indonesia nanti. Tapi kalau gue udah siap mental juga sih. Ehe.
Setelah tau anak-anaknya mendaki puncak Sinai, orangtua gue ternyata malah enggak marah-marah. Atau bisa jadi karena adek gue ikutan juga, jadi gue enggak kena marah. Ah tau gini gue minta izin ke mereka. Mungkin enggak bakalan ada adegan perut gue mules di malam hari dan celana robek ketika mendaki.
Jadi gimana? Tertarik untuk mendaki gunung enggak?

Saturday, 14 April 2018

Komputer dan penjual bagasi kampret


Gue sering denger pengalaman temen-temen gue yang sangat beruntung ketika menghadapi petugas bandara. Banyak yang membawa barang melebihi batas maksimal yang telah ditentukan tapi berhasil lolos. Caranya dengan menampilkan muka memelas, mengaku bahwa barang ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa perantauan dan petugas pun dengan senang hati megizinkannya. Tapi ketika gue praktekkan, kenyataannya enggak kayak gitu.
Asu
Sebenernya gue cukup ragu untuk membawa komputer yang telah gue beli saat liburan kemarin. Tapi berbekal cerita temen, gue meyakinkan diri sendiri serta orangtua, bahwa hal ini bukan masalah. Everythings gonna be fine. Di pemeriksaan awal pun, juga baik-baik saja. Enggak ada tanda-tanda kalau komputer gue ini akan dilarang untuk dibawa ke kabin pesawat nanti.
Sebelum memasuki ruang tunggu, ada dua petugas yang memeriksa barang bawaan penumpang. Giliran gue yang diperiksa. Petugas ini bilang, bahwa komputer gue enggak boleh dibawa naik ke pesawat. Setelah selesai diperiksa, barulah gue bertanya,
“Kalo komputernya enggak boleh dibawa ke kabin, kenapa sejak dari awal enggak ada pemberitahuan ya, mas?”
“Oh. Emang sengaja”
 Bgst
“Barangnya dititip saja di ruang maskapai kita, nanti kawan atau saudaranya ambil disana saja, mas” lanjutnya.
https://www.cnnindonesia.com

**
Ada beberapa cara agar komputer gue bisa diantarkan keMesir. Entah itu dengan gue yang pulang ke Jakarta, atau dengan membeli bagasi orang lain yang ingin berangkat ke Mesir. Sepertinya gue enggak akan mengambil opsi pertama, karena selain menghamburkan uang, nyokap gue khususnya, akan ngamuk kalau hal itu beneran terjadi. Dan bokap gue dengan senang hati akan mencoret nama gue dari kartu keluarga. 
Gue enggak mau itu terjadi.
Selain belajar di kampus-kampus Mesir, banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia disini. Ada yang membuka usaha rumah makan, menjadi tour guide, menjual bumbu serta makanan asli Indonesia, dan ada juga yang seperti gue sebutkan diatas, berjualan bagasi. Segala hal bisa dibikin uang, kalau mau.
Gue kenalan dengan penjual bagasi dari salah satu grup Facebook. Dari pengumuman yang gue baca, seminggu lagi dia akan kembali ke Mesir. Gue telah mengabari orangtua gue agar bisa mengirimkan komputer ke alamat si penjual bagasi tersebut. Semuanya berjalan lancar. Nyokap yang tadinya enggak mengizinkan, akhirnya berubah fikiran setelah memenangkan arisan. Barang telah dikirimkan ke rumah si penjual. Dan sekarang hari-hari gue diisi dengan rasa tidak sabar untuk bertemu dengan si benda kesayangan. Makin ditunggu, malah terasa makin lama.
**
Di hari h si penjual sampai ke Mesir, tanpa sadar gue telah mengirimkan banyak pesan Whatsaap, menanyakan tentang komputer gue. Yang dihubungi malah menghilang, enggak ada kabar. Oh mungkin belum beli paketan internet.
Malam harinya, si penjual ini mengabarkan bahwa komputer gue tidak dibawa. Alasannya, karena dia lupa. Asu. Karena memang gue nya yang terlalu berharap ke si penjual, makanya agak nyelekit ketika mendengar bahwa barang yang gue titipkan enggak dibawa. Tapi, si penjual ini bilang bahwa temannya nanti akan membawanya ke Mesir. Dan dengan gobloknya gue senang mendengar hal itu. Merasa bahwa masih ada setitik harapan.
Selama sepuluh hari penantian, hasilnya tetap sama. Asu memang. Gue sekarang mulai mengerti, kenapa seharusnya kita ini tidak berharap kepada manusia lain, karena hasilnya enggak selalu seperti yang kita harapkan.  Ah elah. Emang gue nya aja yang lagi sial ketemu makhluk kampret seperti ini. Atau mungkin makhluk kampret ini secara enggak langsung menyuruh gue agar berharap itu hanya kepada Yang Maha Pengasih? Haaahh… kan sudah terjadi, jadi diambil hikmahnya saja.
Walaupun telah dibohongi makhluk kampret, gue masih positive thinking bahwa komputer gue akan tetap datang. Meskipun sepertinya lebih lama dari waktu yang telah gue perkirakan.
Setelah bertemu satu orang kampret, ternyata gue masih menemukan makhluk kampret lainnya. Dari akhir Desember, sampai bulan Maret gue seperti dikerjai oleh mereka, dan komputer gue telah berkali-kali pindah tempat. Sampai akhirnya, minggu kemarin barang gue telah dibawakan oleh penjual bagasi lainnya. Enggak usah nanya, gimana ekspresi gue ketika membaca pesan dari si penjual bagasinya bahwa komputer gue telah tiba di Kairo. Seneng banget!!
https://giphy.com
Mirip kayak quote dari John Lennon,
Everything will be okay in the end. Of it’s not okay, it’s not the end.
Pernah ngerasain quote-nya si John Lennon itu cocok kayak kisah lu juga enggak?

Saturday, 17 March 2018

Kesalahan yang sering dilakukan


Ternyata selama ini gue salah jalan untuk menyikapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Terkadang gue terlalu memikirkan hal terlalu jauh, sampai tidak melakukan apa-apa. Mungkin bahasa lainnya adalah gue ini tipikal manusia yang senang menyibukkan diri dengan membuat berbagai banyak planning untuk dilakukan, tapi kerjaannya malah tidur-tiduran dan main game Mobile Legend. Banyak bacot, tapi nihil kerja.

https://list.ly

Setiap bangun pagi yang gue lakukan adalah harus mengerjakan kegiatan A di pagi hari, kemudian dilanjutkan kegiatan B, C dan seterusnya, tapi kenyataannya enggak seperti itu. Bodoh ya?
Terlalu sering aktif di sosial media, membuat diri gue lupa untuk mengharagai diri sendiri. Lebih sering membandingkan diri gue dengan orang lain, sering merasa iri karena orang lain yang seusia dengan gue telah buanyak memiliki berbagai hal yang bisa dibanggakan. Sedangkan gue malah mirip lengkuas dalam kuah rendang. Bentuknya mirip seperti rendang, tapi ketika di makan auto dimuntahin. Gimana, analoginya nyambung enggak? Enggak kan ya? Oke sip.
 Ketika sudah seperti ini yang biasa gue lakukan adalah dengan membayangkan ketika gue masih jadi santri di pondok pesantren dulu. Yang hidupnya selalu dibawah bayang-bayang ketakutan ketika melakukan kesalahan dan ketahuan oleh bagian keamanan. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep bahagia. Enggak seperti saat ini, yang hidupnya selalu khawatir dengan masa depan yang sejatinya belum terjadi.
Gue selalu bertanya, tujuan gue hidup ini sebenernya apa sih? Kenapa selalu khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi. Karena terlalu khawatir, gue malah lupa untuk memperbanyak doa kepada Allah untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi masalah.
Gue masih inget dengan ustadz pengajar Hadits ketika di pondok dulu. Beliau sangat kejam ketika mengajar, kalau menemukan muridnya mengantuk, beliau dengan langkah yang terburu-buru akan menuju meja muridnya, kemudian menendang meja muridnya tersebut. Apakah sampai disitu saja? Oh belum. Beliau akan menggetok kepala muridnya yang mengantuk itu dengan kitab bulughul maram. Mancing mania? MANTAP!
Di salah satu pelajarannya, gue jadi inget dengan Hadits yang artinya seperti ini,
Barang siapa yang ketika bangun tidurnya dan yang difikirannya hanya dunia sehingga seolah dia tidak melihat hak Allah, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam hatinya:

Kebingunguan yang tiada putus-putusnya
Kesibukan yang tidak ada ujungnya
Kebutuhan yang tidak pernah tercukupi
Khayalan yang tidak pernah berujung
Sepertinya sekarang gue mulai tau apa yang harus gue perbuat. Gue terlalu khawatir dengan hal-hal duniawi sampai melupakan Allah. Gue terlalu iri karena takut tidak bisa sesukses temen-temen seusia gue, di usia yang gue yang kebanyakan sudah mendapatkan pekerjaan serta membangun rumah tangga, gue disini malah masih sibuk dengan kuliah. Seharusnya segala sesuatu yang dikerjakan itu, ya harus dengan meminta pertolongan-Nya.  Bener enggak?
Kalau lu sendiri pernah mengalami rasa khawatir terhadap masa depan juga enggak? Punya tips lain?