Friday, 16 February 2018

Tempat Offroad paling seru di Mesir

Liburan musim dingin kali ini sepertinya gue lebih sering menghabiskan waktu untuk berpergian ke luar kota ketimbang menjalani rutinitas yang gue cintai berupa ‘enggak melakukan kegiatan apapun diatas kasur’. Memang salah satu resolusi yang gue tuliskan ditahun ini adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di Mesir, dan Alhamdulillah bisa tercapai.
Kadang hal-hal iseng yang gue inginkan dan dituliskan di buku catatan yang gue miliki, bisa terjadi tanpa gue sangka. Kuncinya adalah  sing penting yaqin! The power of Law of attraction.

Kali ini gue akan menceritakan tentang salah satu kota di Mesir yang bernama Siwa, yang merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh para mahasiswa Indonesia disini dan juga para traveller yang berkunjung ke Mesir.
Perjalanan kemarin, di mulai pagi hari. Tepatnya jam satu pagi. Walaupun di grup sudah dibilangi agar berkumpul ketika jam 12 malam, tetap saja akan ngaret. Rombongan gue kali ini terdiri dari 13 orang, 6 cowo serta sisanya adalah ciwi-ciwi. Sebetulnya gue lumayan bimbang untuk ikutan berangkat, karena sebelumnya gue sudah pernah ke dua kota tersebut di tahun lalu. Tapi karena biaya yang ditawarkan kali ini lebih murah dibandingkan harga biasanya, makanya gue ikutan. Terlebih lagi, gue masih ketagihan dengan offroad di Siwa.
Yang gue siapkan hanyalah dua celana panjang, mengantisipasi celana gue akan robek seperti di Sinai kemarin, dua kaos tipis, powerbank, serta satu novel yang sudah berbulan-bulan enggak selesai dibaca. Tau alasannya kenapa gue hanya membawa peralatan seadanya seperti itu? Karena destinasi yang gue tuju adalah padang pasir, bukan bukit Sinai yang dingin itu. Ditambah lagi, cuaca Kairo yang sudah tidak terlalu dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Tapi semua yang gue rencanakan, tiba-tiba hancur berantakan. Ketika sampai di tempat pemberhentian untuk makan siang, cuaca yang gue kira akan cerah ternyata digantikan dengan awan berwarna gelap serta hujan yang pelan-pelan semakin deras turunnya. Apakah dingin? Banget, nyet. Pake nanya segala lagi lu.
Kan yang ngomong lu sendiri, su
Jaket yang gue bawa sama sekali enggak berguna, kulit gemuk gue pun sama saja . Enggak bisa menahan kencangnya angin serta hujan. Liburan yang gue kira akan berakhir dengan bahagia, ternyata sudah ada cobaannya sebelum sampai ke tempat tujuan. “Harusnya gue enggak ikutan” kalimat ini terus-terusan bermunculan di kepala gue. Sampai akhirnya, tanpa sengaja ada rombongan mahasiswa Indonesia lainnya yang beristirahat di tempat yang sama seperti rombongan gue. Setelah ditanya, ternyata mereka baru saja pulang dari tempat yang ingin gue tuju. Ketika ditanya tentang cuaca disana, jawaban mereka adalah,
“Iya. Disana ujan terus cui. Awet bos”
HALAH TAY
**
Destinasi pertama yang kita kunjungi di Siwa merupakan Jabal Dakrur. Tempat yang biasanya akan ramai didatangi oleh para ketua kabilah-kabilah yang ada di kota Siwa setiap tahunnya untuk membahas kejadian-kejadian yang terjadi di kota tersebut. Biasanya perkumpulan ini diadakan setelah panen kurma. Wajar saja, karena memang kota ini terkenal dengan banyaknya kebun kurma. Nah, selain orang-orangnya yang ramah, disini kita bisa membeli kurma dengan berbagai rasa sebagai oleh-oleh. Makanya gue enggak kapok pergi ke Siwa.
Jabal Dakrur

Danau garam berasa salju

Rombongan gue enggak bisa berlama-lama di tempat ini karena cuaca disini kurang mendukung. Hujan yang semakin deras, serta  waktu offroad yang sebentar lagi akan di mulai. Tapi sebelum offroad kita sempat mengunjungi danau garam. Gue sebetulnya sudah pernah mengunjungi tempat ini, tapi ketika awal kesini belum sempat mencicipi air danaunya. Apa benar asin, atau jangan-jangan manis kayak muka gue.
Gilani
Dan akhirnya offroad yang gue tunggu-tunggu datang juga. Asyeek!!
Alhamdulillah-nya, ketika offroad hujannya sudah berhenti, hanya menyisakan hawa-hawa dingin yang terkadang suka menusuk-nusuk badan. Satu mobil berisikan 7 orang. Inti dari offroad ini sebenernya hanyalah mengelilingi padang pasir menggunakan mobil. Tapi yang seru adalah si supirnya ini. mereka dengan seenaknya saja mengambil jalur ekstrim. Kayak merasa enggak berdosa aja gitu, bikin penumpangnya olahraga jantung dan mengeluarkan sumpah serapah. Orang-orang kayak gini sih pasti SIM nya nembak. Yaqin akutu. Gue pun masih enggak menyangka, kok bisa ya padang pasirnya seperti ini. Dan yang lebih gendeng-nya lagi, mobilnya kok ya kuat menghadapi jalur seperti ini. Sesekali sepertinya gue harus melihat di situs jual beli mobil seperti ini. Biar di Jakarta nanti mobil gue siap diajak kemana-mana.


Setelah dibikin mabok, kita diantarkan menuju oase air panas, sambil menghangatkan kaki plus minum teh hangat khas Siwa. Gue mulai enggak peduli terhadap suasana dingin ini, karena terlalu banyak hal menyenangkan yang bisa gue nikmati saat ini. Seandainya saja kita lebih fokus dengan hal yang menyenangkan dan banyak bersyukur, ketimbang terlalu sering mengeluh. Pasti akan lebih bahagia hidup ini.

Kesambet apaan, bisa nulis bijak gini
Setelah diantarkan ke dua oase, air panas dan dingin, para supir mengetes kejantanan kami para penumpang pria. Oh tentu saja, gue enggak teriak-teriak minta tolong. Tapi ini beneran gila jalanannya. Naik, kemudian belok seenak jidat si supir, lalu tiba-tiba posisi mobil sudah nungging kedepan, bersiap untuk meluncur kebawah. Untung pantat gue masih tetap di kursi, kalo misalnya akibat si supir yang mengendarai mobil seenaknya kemudian pantat gue pindah tempat ke mukanya pak supir, gimana? Bukan salah gue kan ya kalo hidungnya terhalang sama pantat gue? Naik mobil ini, serasa menaiki wahana yang ada di pasar malam. Enggak ada pengamanannya. Tapi bikin nagih!
Oase air dingin

 Perjalanan berakhir dengan Sandboarding. Gue enggak mau nulis gimana keseruannya, karena sebelumnya sudah gue tulis. Coba aja baca disini ya.

Kalau difikir-fikir lagi, sepertinya gue memang salah kostum juga sih. Karena mengira tempat ini akan dipenuhi sinar matahari, eh kenyataannya malah sebaliknya. Ke tempat dingin seperti ini malah mengenakan sandal gunung, bukannya menggunakan sepatu boots yang bisa membuat kaki lebih hangat. Sepertinya gue harus cek Tokopedia untuk bisa melihat berbagai macam sepatu pria casual yang harganya terjangaku untuk gue gunakan di Mesir. Siapa tau kedepannya gue bisa menjelajahi Mesir di kota-kota lainnya, atau siapa tau nanti gue akan tidur di tengah padang pasir, seperti yang gue alami di tahun kemarin, yaitu bermalam di tengah gurun padang pasir. Lebih banyak pilihan sepatu-sepatu bagus dan terjangkau di Indonesia ketimbang disini.
Sebelum kembali ke hotel, kita dibawa ke Camp mereka untuk beristirahat sekaligus makan. Ini memang sudah termasuk dari biaya offroad. Disini kita akan diberi makan berupa ayam, yang cara masaknya benar-benar ruar biyasak. Mereka meletakkan ayam yang telah diberi bumbu, dibawah tanah. Enggak tepat dibawah tanah juga sih. Jadi didalam tanah tersebut terdapat tong yang nantinya akan ditaruh lauk serta nasi yang akan dihidangkan. Ditambah lagi, si koki Mesir ini mempraktekan cara menaruhnya dengan bahasa arab yang di campur dengan bahasa Korea. Sarange oppa.
Sambil menunggu proses masaknya, gue serta yang lainnya berendam di kolam air panas. Gila. Asoy banget. Setelah beberapa hari sebelumnya enggak pernah mandi, akhirnya gue mandi juga. Senior-senior gue malah lebih parah, seminggu lebih enggak mandi. Gue engga tau deh, seberapa banyak daki yang ada di sore hari itu.

Hah, gue enggak akan pernah bosan dan menyesal untuk datang ke tempat ini lagi. I'm in love with you Siwa!!

Wednesday, 7 February 2018

Kenapa Visa begitu penting di Mesir

Di tahun pertam tinggal di Mesir, gue tipikal anak yang terlalu santai menjalani kehidupan. Piket masak, hampir enggak pernah mau. Masuk kuliah, ya enggak setiap hari. Dan yang paling goblok, visa gue pernah mati setahun. Ketika itu gue enggak tau betapa pentingnya visa buat para warga negara asing yang tingga di negri orang. Baru sekarang-sekarang ini gue mulai paham betapa pentingnya buku kecil itu.
Beberapa waktu yang lalu di Mesir sempat banyak pemeriksaan oleh para petugas. Entah mereka polisi atau tentara, intinya setiap pemeriksaan pasti selalu saja dari mereka membaw senapan berlaras panjang. Bukan laras 008. Gue sundul nih kalau mikirnya itu. 
*Ituuu Saraaaasss, maliiihhh
Maraknya pemeriksaan ini terjadi ketika gue liburan kemarin.  Eh ternyata, sesampainya disini masih banyak pemeriksaan yang dilakukan disini.
Saat liburan kemarin pun, gue sempat menerima kabar bahwa ada salah satu mahasiswa yang ditangkap dan sampai di penjarakan. Karena apa? Apakah karena dia kayang di tengah jalan? Oh tentu bukan. Karena eh karena, ketika diperiksa dia ketahuan tidak mempunyai visa atau izin tinggal disini. Dan setelah diteliti lebih lanjut, mahasiswa ini adalah si Juki. Temen sd gue yang pernah gue ceritakan di tulisan ini.
Setelah lulus SD, enggak pernah ketemu. Eh tau-taunya sekarang dia mantan napi disini. Mantap jiwa lu, Juk!
 Kronologi si Juki bisa tertangkap oleh polisi disini sebenernya lebih enak untuk ditertawakan ketimbang untuk ditangisi. Dia yang siang itu bersama temannya sedang kelaparan, memutuskan untuk makan siang di kawasan distrik tujuh yang di rumah makan Thailand yang terkenal enak kwetiau gorengnya. Kalau menurut perkiraan gue yang sama sekali tidak akurat, si Juki pergi ke rumah makan ini ketika awal bulan. Di akhir bulan paling masak nasi goreng, dari sisa nasi kemarin.
Ketika sedang sabar menunggu makanan, para petugas keamanan tiba-tiba masuk ke rumah makan yang sama. Kalau beda, ceritanya bukan gini dong. Yakan? Disaat itu petugas keamanan langsung memeriksa seluruh orang yang makan di tempat itu. Mulai dari pelanggannya, bahkan sampai pelayan dan pemilik rumah makan pun diperiksa. Dari sekian banyak orang yang makan, yang tertangkap hanya dua orang. Si Juki dan satu lagi mahasiswa yang berasal dari Malaysia.
Gue masih enggak kebayang, bagaimana perut Juki saat itu. Ketika sedang menunggu makanan, eh malah tercyduk. Makanan belum datang, eh disuruh masuk mobil polisi duluan. Yang satu lagi seenggaknya lebih mending ketimbang Juki. Karena dia sudah selesai makan dan bersiap ingin pulang.
Dan singkat cerita, setelah sepuluh hari dia baru bisa keluar dari penjara. Gila.
Ini bukan pertama kalinya gue mendengar berita tentang mahasiswa Indonesia yang ditangkap karena tidak memiliki izin tinggal. Sebelumnya sudah ada satu orang. Bahkan setelah kasus si Juki pun, ada beberapa kasus yang sama, tetapi lebih parah kronologinya. Coba cari aja di Google, beberapa media sudah meliput tentang hal ini.
Setelah gue mendengar berita tentang mahasiswa yang ditangkap, gue jadi sadar betapa beruntungnya diri gue dulu ketika tidak mempunyai visa setahun dan enggak bertemu dengan para petugas keamanan seperti halnya si Juki. Dan setelah mendengar berita ini tentu saja gue enggak mau mengulangi kebodohan yang gue lakukan seperti sebelumnya. Gue harus punya visa, biar enggak was-was ketika berpergian di negri orang. Beberapa ada yang ditangkap kemudian di penjarakan, beberapa juga sampai di deportasi ke negaranya masing-masing.
Sebetulnya sekarang ini sudah lebih baik, ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Karena prosesnya enggak sampai mengharuskan gue dan para mahasiswa lainnya untuk mengantri di kantor imigrasi bersama orang-orang Rusia yang satu orangnya bisa membawa sampai lima paspor temennya. Dan ketika mengantri pun, jangan berharap bisa duduk santai di ruangan ber-ac serta mengambil kartu antrian. Lu harus bangun pagi, kalau perlu setelah shubuh sudah harus berada di gerbang kantor imigrasi.
Ini kantor imigrasi yang berada di samping asrama Al-Azhar ya. Kalau yang di daerah Tahrir, gue kurang tau.

Nah, sekarang tau kan kenapa mempunyai visa itu merupakan kewajiban bagi orang yang tinggal di negri orang lain?

Monday, 29 January 2018

Obrolan malam minggu tentang laptop tipis serbaguna (Asus VivobookPro15 N580VD)

Liburan kemarin, rasanya seneng banget akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman gue dari pondok pesantren. Dari dulu memang waktu  gue di Jakarta, lebih banyak menghabiskan waktu dengan main ke rumah teman, ngobrolin segala mimpi yang ingin diraih ketika dewasa nanti. Seru! Enggak ada tuh tema ngebahas tentang pacar, ya memang dasarnya pada enggak punya aja sih. Ehe.
Sekitar tiga tahun, gue sudah enggak ketemu dengan makhluk-makhluk gaib nan ajaib ini. Bahkan gue sendiri pun jarang bisa kontakan dengan mereka, tapi Alhamdulillah sablengnya masih tetep sama.
Setelah beberapa minggu di Jakarta, gue baru tau bahwa mereka ini punya rutinitas setiap malam minggu, yaitu bermain basket bersama di daerah Pancoran. Kemudian setelah selesai mereka akan datang ke rumah Dedi. Hanya sekedar menghabiskan sisa malam dengan main gitar, main PES, atau sekedar makan tahu isi.
Apalagi liburan kemarin bukan hanya gue saja yang pulang, tapi masih ada dua orang teman gue lainnya yang pulang. Maka dari itu kita merencanakan untuk kumpul plus bakar-bakar ayam di malam minggu setelah basketan.  
**
http://www.startlr.com
Malam itu ada sekitar 7 orang yang sudah datang. Dua orang lainnya sedang perjalanan menuju kesini. Mau diliat bagaimana pun, tempat ini tetap sama seperti tiga tahun yang lalu. Perbedaannya, temen-temen gue lebih ganteng sedikit dibandingkan sebelumnya dan beberapa orang meng-gondrongkan rambutnya.
Ada yang asik main gitar, tapi yang nyanyi suaranya enggak asik. Ada yang menyiapkan peralatan untuk masak, dan sisanya tentu saja sedang seru memainkan PES.
Yang gue sayangkan adalah laptop temen gue ini sering bikin gue serta yang lainnya untuk misuh-misuh. Ketika main PES ada aja cobaannya. Tampilan gamenya padahal sudah dibuat serendah mungkin supaya bisa lancar pas bermain, nyatanya tetep saja lag, gambarnya yang patah-patah, bahkan ketika kipernya sudah digerakkan tetep aja diem di tempat. Hasu!
Ini bukan karena gue enggak jago main PES, tentu bukan. Ini memang murni laptopnya aja yang minta dibanting.
“Sorry, cuy. Laptop tua, udah enggak kuat buat main game. Heheh. Padahal Ramnya udah gue tambah jadi 8gb” kata temen gue si pemilik laptop  yang bernama Adit, tapi lebih sering dipanggil dengan sebutan Kopi. Apakah alasannya dipangil Kopi Karena manis? Oh tentu enggak. Karena pahit? Mukanya emang pahit gitu sih kalau diliat lama-lama.
“Emangnya processornya pake apaan, pi?” kata gue.
“Pake Intel berapa ya, lupa gue. 4 tahun yang lalu, keren loh laptopnya”
“Coba pake processor yang terbaru i7 7700HQ, generasi ke tujuh intel. Bakalan lancar jaya deh semua game-game berat. Tapi inget, belinya yang tipe HQ bukan U, karena performanya jauh berbeda. Apalagi lu juga suka nge-renderin video kan. Emangnya masih mampu laptop lu? Gue aja lagi kefikiran buat punya laptop ini. Laptop gue yang dulu udah rusak uy” Entah kenapa, berkat hobi gue yang suka nonton seputar teknologi di Youtube, gue merasa jadi tambah ganteng gini.
Kaga nyambung, su!
“Gue malah baru tau kalau prosessor laptop ada yang tipe HQ dan U. Bedanya apaan tuh?”
“Setelah angka seri prosesor kan ada tulisannya tuh. Sebenernya selain dua itu ada banyak lagi. Yang gue tau, U itu ultralow voltage. Jadi lebih hemat batre. Sedangkan, HQ itu singkatan dari High Performance, ya pastinya lebih keren tenaganya. Processor i7 7700HQ 40% lebih bertenaga ketimbang i7 7500U. Walaupun sama i7 Kabylake, tapi performanya beda, Dit. Ditambah lagi, laptop yang gue kasih tau ke elu ini sudah dilengkapi dengan VGA 1050 4gb DDR5. Lu main GTA 5 pake settingan High juga bisa. Apalagi main PES, udah dilibas”
“Bentar dah, Ji. Berarti laptop ini yang HQ boros gitu? Mendingan gue beli yang ada tulisannya U dong, lebih hemat batreinya”
“Tenang, laptop ini udah dilengkapi dengan fitur Fast Charging, 60 persen hanya dalam waktu 49 menit. Performanya itu loh beda jauh, cuy. Spesifikasinya setara sama laptop gaming. Gue seumur-umur hanya tau fast charging hanya buat hape. Lu baru denger juga kan laptop ada yang punya fitur fast charging? ”
“Seriusan lu? Gue baru tau juga sih. Yah tapinya, Ji. Laptop yang punya spesifikasi kayak gitu mah, pasti tebel. Gue males bawa laptop yang berat-berat gitu, enggak praktis. Bikin pegel bawanya”  
“Ada kok laptop yang spesifikasinya persis layaknya laptop gaming, tapi bobotnya cuman 2kg, dan ketebalannya hanya 1.92mm, karena memang udah enggak ada tempat cd-rom nya. Kalo lu sering menggunakan cd-rom, mungkin ini bisa jadi kekurangannya sih. Makanya kerjaan lu jangan jalan sama gebetan mulu, tapi jadian kagak”
“Ehehehe… Kampret yak lu. Kalo yang soal cd rom sih, masih bisa diakalin kok”
Disisi lain, temen gue, Temon, sedang sibuk mempersiapkan bara api. Serta bingung sendiri cara mengambil bensin yang ada di motor temennya.
“Ini bantuin gue woi, anying. Mau makan doang lu pada. Yang punya bensin lebih, motornya sapee nih. Ambilin bensinnya dong”


“Merk laptop yang gue maksud itu Asus Vivobook N580VD. Design alumunium dari laptop ini makin bikin elegan, cuy” lanjut gue ke Adit.
“Bentar, ini laptopnya beneran tipis? Kan kerjaan gue banyak, Ji. Bakalan cepet panas dong kalo gitu”

“Dia udah dilengkapi sama Dual Fan. Bakalan efektif banget untuk mengeluarkan panas. Lu enggak usah khawatir kalo laptop ini bakalan cepet panas. Kipasnya sudah otomatis akan menyesuaikan suhu internal, dan kipas laptopnya punya dua pipa panas untuk mengusir panas dengan efiesien dan gak bakalan berisik bunyi kipasnya. Ditambah lagi RAM laptop ini sudah 8gb DDR4 yang lebih cepet 33% dibandingkan DDR3. Kerjaan lu yang banyak itu bakalan jadi lebih mudah karena Ramnya yang sudah cukup banget. Dan tentunya elu enggak perlu ngeluarin uang tambahan buat beli Ram lagi, Dit”


“Wah, sabi juga nih laptop”
“Yaudin, sekarang bantuin si Temon dulu gih. Kasian tuh, mukanya tambah mirip gembel kena asep mulu”
**
Gue baru sadar, disini gue bisa terbuka dengan teman-teman tongkrongan.  Ketika di Mesir gue lebih sering menghabiskan waktu untuk jalan sendiri atau ditemeni sama adek gue. Jarang ngobrol bareng hal-hal seperti ini dengan teman-teman gue yang cowo. Paling pas ketika mabar Mobile Legend doang. Tapi sama makhluk-makhluk ajaib ini, gue bisa terbuka. Enggak takut di nilai seperti apapun, karena toh gue juga sudah kenal mereka.
“Ayo dah mulai makannya. Laper gue anjir” kata Zaim.
“Bentar, Nyet. Itu si Ali belom dateng. Lagi di jalan bentar lagi sampe katanya” Temon menanggapi.
“Yaelah. Oii Kopi, ini password Laptop lu apaan, dengerin Via Vallen dulu dah. Daripada dengerin Icul nyanyi” teriak Zaim ke Adit yang lagi sibuk memukul meja karena kalah di permainan Mobile Legend.
“Buset dah, panjang amat password lu”
“Bacot”
Gue sendiri akan melakukan hal yang sama seperti Adit, menuliskan password yang panjang untuk laptop gue. Alasannya biar enggak sembarangan dipake sama orang lain untuk menonton film. Tapi keribetan itu enggak akan gue alami lagi, dan akan sirna dengan laptop Asus Vivobook N580VD, karena sudah ada fitur sensor sidik jari.  Dengan hanya menempalkan jari, langsung terbuka menuju Windows 10. Bakalan asik banget. Memori penyimpanannya pun diberikan dua. Ada SSD sebesar 128gb yang pastinya lebih cepat ketimbang HDD, yang nantinya bisa digunakan untuk keperluan Windows dan beberapa apliksi seperti Photoshop. Serta HDD berkapasitas 1TB untuk menyimpan segala dokumen, video ataupun games.  
“Ji, kalau layar laptop yang lu bilang tadi gimana? Gue kurang suka layar laptop gue, enggak enak banget buat iseng-iseng edit foto atau video. Apalagi buat nonton” Kata si Adit sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Abis kalah ya lu? Langsung udahan gitu mainnya. Hahaha”
“Temen-temennya pada beler. Males gue. Buang-buang bintang doang”
“Layarnya ini punya hardware dan software yang memang mengoptimalkan performa visualnya. Panelnya FHD dengan teknologi Wide angel, dan udah ada software yang mendukung kinerja layar ini. Salah satunya ada yang namanya fitur Eye Care Mode yang sengaja dirancang menghindari cedera pada retina mata. Fitur ini digunakan untuk keperluan kita para user untuk penggunaan dalam waktu yang lama. Itu baru satu, masih banyak lagi fiturnya, Dit”


“Gebetan gue aja ga peduli dengan kesehatan dompet gue. Kalah gebetan gue ini mah sama laptop”
“Sini gue peluk, Dit”
“Gue gampar lu kalo beneran, Ji. Udah lah makan dulu, si Ali udah dateng tuh”


**
“Kopi, speaker lu gimana dah nih. Suaranya pelan banget” teriak Zaim. Gue juga bingung kenapa si Zaim tengah malem gini masih doyan teriak-teriak. Masih ada keturunan manusia serigala kayaknya.
Memang benar, speaker dari laptopnya si Adit ini lebih pelan ketimbang suaranya si Icul yang sedang asik bernyanyi. Pantesan ngamuk si Zaim. Nanti ketika gue mempunyai laptop ini, kekhawatiran itu akan hilang. Karena laptop ini dilengkapi dengan audio yang dikembangkan bersama oleh Harman Kardon. Suaranya dua kali lebih kencang ketimbang laptop biasa. Gue ngeliat Harman Kardon Aura aja, salah satu produk mereka, ngiler sendiri. Apalagi laptop ini dikembangkan oleh produk yang sama. Gue enggak sabar banget sih nonton video di laptop ini. Bakalan betah seharian tanpa keluar kamar nih. Nonton One Peace bareng-bareng temen yang lain bakalan seru nih.
Atau nonton diruangan gelap, sambil selimutan, dan sesekali mengelap air mata yang keluar ketika nonton film korea. Waduh, ngebayanginnya aja bisa senyum-senyum sendiri. Kalo udah capek nonton dan ingin nulis ataupun berselancar di dunia maya, gue enggak akan typo lagi. Karena sudah ada fitur backlight keyboard berwarna putih. Dan dengan itu gue enggak perlu menyalakan lampu kamar, yang nantinya malah mengganggu teman sekamar gue yang sedang asyik tidur.
Main Spec.
ASUS VivoBook Pro N580
CPU
Intel® Core™ I7 7700HQ  quad-core 2.8Ghz TurboBoost 3,8Ghz
Operating System
Windows 10 Home
Memory
8GB DDR4 2400MHz SDRAM
Storage
1 TB + 128GB SSD
Display
15,6” (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) Glare Panel with 100% sRGB
Graphics
Nvidia GTX 1050 VRAM 4GB GDDR5
Input/Output
1 x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 1 x Fingerprint (On selected models), 1 x HDMI, 1 x USB 3.0 port(s), 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 2 x USB 2.0 port(s)
Camera
VGA Web Camera
Connectivity
Integrated 802.11a/b/g/n/ac (WIDI Support), Bluetooth V4.1
Audio
Built-in Stereo 1.6 W Quad-Speakers And Digital Array Microphone
ASUS SonicMaster Premium Technology Harman Kardon
Battery
3 Cells 42 Whrs Battery
Dimension
(WxDxH) 361.4 x 243.5 x 17.9 mm
Weight
2 Kg with Battery
Colors
Rose Gold, Royal Blue, Quartz Grey
Accessories
Exclusive Sleeve, Mini Dock
Warranty
2 tahun garansi global


**

"Jadi gimana, Dit? Lu coba-coba aja baca atau nonton seputar teknologi gitu. Atau subcribe para youtuber teknologi. Oh sama satu lagi. Pastiin laptop yang lu beli itu sudah dilengkapi dengan Windows 10 bawaan yang original, biar enggak perlu download driver-driver lagi. Dan juga nantinya bisa memaksimalkan performa laptop ini, seperti Windows Heloo, Asus Splendid, dan lainnya, Dit" Ucap gue ke Adit sambil mencuci tangan.

"Iya nih kayaknya gue harus update seputar teknologi juga. Gue subscribe di channelnya Asus Indonesia dulu deh kalo gitu biar tau informasi terbaru. Mantan gue yang dulu kan jadi brand ambasadornya Asus"

"Siapa? Tatjna Saphira?"

"Iye. Wkwkwkw"

"Hahaha tay"

*

#Asus #Vivobook #Pro15 #N580VD 

Saturday, 20 January 2018

Berselancar di padang pasir

Salah satu hal yang paling menyenangkan traveling di Timur Tengah yang terkenal dengan banyaknya padang pasir adalah Sandboardingnya. Gue masih enggak percaya, dengan berat badan yang mirip badak seperti ini, papan selancarnya masih bisa bergerak jauh di pasir. Oh sebagai catatan, Sandboarding itu akan selalu dari tempat tinggi menuju tempat rendah. Bukan sebaliknya. Itu bukan Sandboarding, melainkan sedikit penyiksaan duniawi bagi diri gue yang punya berat badan berlebih.

Yang di upload di Instagram
Realitanya

Gue suka dengan Sandboarding, bahkan lebih suka tiap melihat orang yang jatuh berguling-guling saat berselancar. Paling bahagia banget, karena dengan itu gue akan selalu melakukan,
*gulung lengan kaus
*menyipitkan mata memastikan keberadaan orang yang sedang jatuh
*mengambil nafas panjang
Kemudian meneriaki,
“MAMPUS LU”
Tapi beneran, Sandboarding itu asik. Terlebih lagi kalau tempat untuk berselancarnya tinggi. Sejauh ini, gue baru menemukan tempat Sandboarding dengan ketinggiannya yang kurang lebih 20an meter. Perjuangannya untuk bisa sampai ke tempat berselancar itu enggak mudah, dan enggak sulit juga sebetulnya. Tapi yang paling terasa adalah pegel, dan sedikit khawatir badan ini akan kejengkang ke belakang dengan posisi kepala yang terkubur di pasir.
Kejengkang ini bahasa Indonesia kan ya?




Setiap langkah kaki kita akan membuat jejak di pasir, bahkan beberapa kali harus merasakan kaki kita terpendam sejenak didalam pasir, dan akan selalu seperti itu sampai puncak. Setelah sampai puncak, kita akan menuju ke tempat yang lainnya. Bukan di tempat yang telah ada jejak kaki kita, tetapi ke tempat yang masih bersih dan memang untuk berselancar.
Tau alasannya kenapa?
Karena ketika nanti berselancar, jarak selancar kita enggak bisa jauh. Ya penyebabnya jejak kaki kita itu tadi. Biasanya sebelum mulai berselancar, ada satu orang membawa lilin, bukan untuk ngepet, tapi untuk nantinyakan digosokkan ke papan bagian bawah, agar papan yang kita gunakan licin dan bisa membawa kita lebih jauh lagi.



Gue sangat amat bersyukur karena masih bisa diberikan segala kenikmatan ini. Setiap perjalanan itu pasti punya arti tersendiri bagi para individu. Gue sampai sekarang, masih belum tau kenikmatan mendaki gunung, karena belum pernah mendaki gunung. Berysukur atas segala hal yang  ada, nanti akan ditambah oleh Allah. Bener enggak?
Beberapa tempat di Mesir sudah masuk ke daftar destinasi yang akan gue kunjungi di tahun ini. Dan sepertinya ingin mencoba hal baru selain Sandboarding. Nah kalo lu sendiri gimana?

Thursday, 11 January 2018

Jukiii, lu dimana?!!

Tiga tahun di negri orang, membuat diri gue berubah. Dan sepertinya, perubahan ini bukan menuju ke hal yang baik, melainkan ke arah sebaliknya. Ketika di pondok pesantren dulu, hidup gue bahagia. Walaupun sering kena hukuman botak dan selalu di tolak sama bapak ketika minta keluar dari pondok, tapi bahagia aja gitu. Temen gue banyak, enggak punya masalah dengan pra ustad-ustadnya. Eh ada deng. Gue pernah boong sama ustad. Iya sekali itu doang. Eh ada lagi deng. Pernah kabur dari pondok, pernah ditabok, pernah hampir berantem sama ustad. Wah gila, cukup nakal juga ternyata gue.
Perubahan yang gue rasakan adalah diri gue yang berubah menjadi tertutup terhadap orang lain. Susah bersosialisasi dengan orang lain, terlebih dengan orang baru. Dan susah untuk basa-basi, langsung to the point aja lah, biar enggak buang-buang waktu gitu. Karena hal itu, gue lebih sering jalan sendiri, lebih banyak berfikiran negatif terhadap orang lain, dan sering berfikiran,
“Ini apa gue yang terlalu serius, atau mereka yang kebangetan nyantai dah yak?”
“Selera becandaan mereka kayaknya enggak nyambung sama gue deh”
“Muka gue kenapa ganteng banget sih yak. Gimana nolak halus gombalan cewe-cewe nih”
*GILANI, SU!
Tapi perlahan gue mulai mengerti. Ternyata memang selera becandaan gue saja yang berbeda dengan mereka. Dan Alhamdulillah, gue menemukan solusinya. Gampang banget ternyata. Gue harus lebih menerima becandaan mereka saja, jangan dilawan. Ibaratnya, lingkarang pertemanan gue ini sebuah arus sungai yang kencang, dan gue yang dulu, akan selalu melawan arus sungai ini, seorang diri. Akhirnya apa? Gue yang capek sendiri, ngebatin sendiri, misuh-misuh sendiri. Sekarang, ya gue harus ikut becandaan mereka, ikutin aja arus sungai ini mengalir kearah mana.
Dan hal ini sepertinya berlaku bagi lingkaran pertemanan gue yang sekarang. Teman-teman gue yang di Mesir, teman-teman gue di dunia blog. Yang harus gue lakukan sebenarnya cuman mengurangi ego gue saja, be like water. Sama seperti quote Bruce Lee,
https://www.pinterest.com/
Gimana? Masih nyambung kan?
**
Sampai sekarang gue masih enggak menyangka, bisa di pertemukan dengan teman SD gue di negri dengan julukan seribu menara. Setelah 9 tahun lamanya. Gue masih inget, sebelum gue pergi ke Mesir, gue mampir ke rumahnya. Niatnya untuk pamitan sama makhluk kampret ini yang bernama Juki. Tapi hasilnya nihil, si Juki sedang berada di Jogja untuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya.
 Dan ketika liburan kemarin pun, gue sempat mampir ke rumahnya. Jawaban dari sodaranya malah bikin gue kaget,
“Oh dia lagi kuliah di Mesir”
“Lah… laah… gimana dah. Abang jangan becanda dong, gue tekling juga nih. Masa gue enggak pernah ketemu. Ngaco lu” kata gue dalam hati.
Sesampainya gue di Mesir, entah dorongan darimana, gue jadi semangat untuk bertemu dengan para mahasiswa-mahasiswa baru yang berasal dari Jakarta. Supaya bisa ketemu dengan dede-dede manis berkrudung? Oh tentu tidak. Bisa disembur gue sama mbak pacar berkumis tipis nanti. Alasan gue tentu saja untuk bertemu dengan si Juki. Dan ternyata makhluk kampret itu enggak ada juga. Mantap.


JUKII MANEE LUU, JUKK??!



Sampai akhirnya, nyokap mengirimkan pesan,
“Mas, ini nomernya si Juki. Kamu hubungin ya. Tadi mamah ketemu sama mamahnya Juki di pasar. Udah ya, mamah mau masak”
Gue baru tau, ternyata pasar dengan penuh pedagang sayur mayur, bisa berubah menjadi tempat reunian.
MANCING MANIAAA?!!
MANTAAAPPP
*apa sih, su. Ga jelas lu
Gue baru tau, ternyata si Juki sudah ada di Mesir dari tahun kemarin. Yang lebih hebatnya lagi, manusia ini sudah pernah merasakan tidur di penjara Mesir. Keren? Engga juga sih. Denger ceritanya selama hidup di penjara, gue baru sadar, ternyata berita yang gue baca di grup Whatsapp tempo dulu tentang orang Indonesia yang ditangkap di tempat makan, dan namanya persis dengan teman gue, ya memang benar si makhluk ini.

Melihat teman yang sudah lama tidak pernah bertemu,agak aneh sebetulnya. Tapi untung saja, si Juki ternyata belum berubah-berubah banget. Ternyata fikiran gue dulu tentang betapa sulitnya bersosialisasi, enggak terjadi. Buktinya gue nyambung aja ngobrol dengan makhluk ini. Sifatnya dulu yang santai menghadapi hidup, ternyata masih ada sampai sekarang. Bedanya? Pipinya aja yang lebih berkembang. Gue kebalikannya. Dulu pas SD, gue gendut banget. Sekarang? Kurus kok. Walaupun kenyataannya masih gemuk, enggak tau kenapa gue merasa badan gue kurus. Bodo amat ah. Hehehe.
Alasan kenapa gue masih inget sama makhluk ini? Ya karena tiga tahun berturut-turut, kita naik mobil antar jemput yang sama. Enggak penting yak? Emang!
Memang seharusnya enggak perlu berfiiran negatif. Lebih baik berfikiran positif. Toh kalaupun, setelah kita bersikap baik, tapi yang kita dapat bukan hal yang baik juga, harus selalu inget, imbalan orang sabar itu surga, bukan piring.

Monday, 4 December 2017

Paman kampus Al-Azhar Mesir

Banyak hal yang tidak mengenakan ketika belajar di Mesir. Walaupun sejatinya, semua hal tidak enak itu hilang seketika, ketika bertemu dengan para ulama-ulama yang sangat baik sekali hatinya dan sangat pemurah dalam mengajarkan ilmu-ilmu agam kepada kami.
Tapi berbeda dengan si paman kampus, yang amat sangat… duh, bahasa yang cocok untuk mendeskripsikan si paman-paman berjenggot ini apa ya. Paman pelatih kesabaran orang? Paman jenggot? Ya itulah pokoknya. Disini disebutnya suun, kalau di Indonesia mungkin seperti bagian Tata Usaha (TU) kampus.
Setiap tahun seluruh mahasiswa Al-Azhar akan mendatangi suun kampus, entah itu untuk mengambil lembaran kertas yang nantinya akan para mahasiswa gunakan untuk membayar di bagian administrasi kampus. Atau untuk mengambil kartu mahasiswa. Atau juga bisa untuk mengambil tanda bukti kita sebagai mahasiswa, dan nantinya berguna sebagai salah satu persyaratan yang harus kita bawa untuk memperpanjang visa kita di Mesir.
Tapi selain tugas paman suun yang sudah gue sebutkan diatas, ada satu hal lainnya yang membuat paman  suun ini selalu diingat oleh para mahasiswa fakultas Syariah.
Sistem perkulihan di Al-Azhar masih mengikuti masa-masa sebelumnya. Yang sebagian besar masih dikerjakan secara manual, secara tulisan tangan. Begitu juga dengan sistem administrasi kampusnya yang dilakukan dengan cara mengantri di khozinah (tempat untuk membayar uang perkuliahan). Harus seperti itu, tidak bisa dengan mentransfer uang pembayaran ke rekening kampus.
Kalau di Indonesia para mahasiswa harus membayar setiap semester, di Al-Azhar hanya membayar sekali setiap tahunnya. Dan jumlah uang yang dikeluarkan tidak lebih dari 300 ribu. Diluar untuk membeli buku-buku pelajaran serta buku-buku pendukung lainnya loh ya.
Jadi kalau secara singkat seperti ini,
Antri suun meminta kertas kecil, tanda untuk membayar- Antri di khozinah untuk membayar -  Antri lagi di suun untuk menyerahkan kwitansi pembayaran dan selanjutnya meminta kartu mahasiswa serta tanda mahasiswa untuk memperpanjang visa tinggal kita di Mesir.
Tapi.
Enggak sesederhana itu di kenyataannya, pak.
Dari rumah, gue berangkat jam tujuh pagi ketika teman-teman gue lebih banyak memilih untuk duduk santai di rumah sambil selimutan, dan meminum the hangat. Perjalanan dari rumah menuju kampus hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk jalan kaki, dan tujuh hari kalau sambil kayang. Sepanjang perjalanan banyak toko-toko yang tertutup rapat, begitu pula anjing liar yang asik tidur diatas kap mobil. Semuanya mager.
Kairo di musim dingin seperti ini memang lebih asik di habiskan dengan meminum teh hangat serta menghirup sisha, selain tidur dibawah selimut tentunya. Biasanya tiap pergi ke kampus, gue akan menemukan paman-paman tersebut sedang duduk santai didepan kafe, sambil berbicara dengan teman sepermainannya. Entah teman sepermainan klereng atau  karambol, gue enggak paham juga. Dan enggak ada niatan untuk bertanya kepada mereka juga sih.
Didepan gedung fakultas Syariah sudah ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku taman. Tujuannya sama seperti gue, untuk mengantri demi selembar kertas. Kebanyakan yang sudah datang adalah para mahasiswa Malaysia serta Indonesia. Biasanya kita akan menunggu diluar gedung, sampai gedung telah dibersihkan. Enggak ada yang tau pastinya selesai jam berapa, yang penting ketika sudah diizinkan masuk, ya baru masuk. Gitu.
Antrian sudah panjang, tapi para paman-paman petugas disini belum ada yang datang. Biasanya mereka akan datang jam Sembilan. Tapi berbeda dengan paman yang akan gue bahas sekarang.
Arah jarum kecil di jam tangan gue mengarah ke angka sepuluh, kemudian datanglah si paman ini dengan membawa segelas kecil teh hangat, denga tampang tak berdosa. Apakah dia peduli dengan banyaknya antrian yang ada didepan ruangannya? Oh tentu tidak. Dari sekian banyak ruangan di lantai satu, hanya ruangan dia saja yang dipenuhi dengan banyaknya mahasiswa seperti ini. Bahkan antrian ini sampai menutup jalan orang memasuki ruangan lainnya. Mantap? YA MANTAP LAH ALIG LU.
Gue masih bingung sih, teman-teman kerja si paman ini kalau lagi jam istirahat enggak ada yang ngomongin apa gitu. Enggak ada yang nyeletuk,
“Kita dateng jam Sembilan, dia enak-enak dateng jam sepuluh. Hih. Kzl”
“Bawa tehnya cuman satu lagi. Iiih”
“Abis kerja nanti kita jadi main karambol kan?”
 Apakah penderitaan kita sudah sampai hanya disitu? Tentu saja belum. Terkadang ketika sudah mengantri, si paman ini dengan santainya mengatakan,
“Yang sudah bayar rusum serta iqomah saja yang boleh”
TERUS YANG BELUM BAYAR ENGGAK BOLEH? PAN KITA NGANTRI BUAT NGAMBIL KERTAS TANDA BUAT BAYAAAAR, DUH ELAH MALIIIH
“Kertas tasdiq(kertas tanda bahwasanya kita mahasiswa di Al-Azhar) abis. Besok saja datangnya”
LU KASIH TAUNYA JANGAN SEKARANG MALIIIH. DARI TADIII PAGI HOY!
Yah. Seperti itu lah kurang lebih.
Kertasnya habis lah. Atau ketika antrian hanya tersisa dua orang lagi didepan kita, tapi tiba-tiba si paman ini keluar ruangan dan dengan santainya mengusir kita pergi dan menyuruh kita datang esok hari. Kzl.
Tapi walaupun begitu, yasudah lah. Sudah terjadi juga. Ikhlas saja. Anggap saja seperti bumbu kehidupan. Pasti si paman ini punya sisi baiknya juga kok, semua orang bukannya seperti itu? Punya sifat baik dan buruk? Dan meskipun begitu, toh kita para mahasiswa disini tetap bisa belajar dengan tenang. Entah belajar di kampus ataupun dengan para masayikh disini. Dan semoga saja bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari nantinya ke orang lain. Amin.
Gile. Bisa bijak gitu lu, nyet

Tuesday, 28 November 2017

Minggu bahagia

Hari minggu ini akan terasa sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Cewe yang pernah gue ceritakan di tulisan ini, ternyata dia mengiyakan ajakan gue untuk jalan bareng. Gue engak tau dia kesambet apa, gue enggak peduli juga, yang penting hari ini gue seneng karena dia mengiyakan ajakan yang enggak bermutu ini. Karena sebelumnya gue susah untuk berbicara berdua dengan cewe ini di pertemuan sebelumnya, sekarang mungkin saatnya untuk bisa mengenal lebih jauh.

https://giphy.com/
Penasaran  sama pertemuan sebelumnya? Bisa dibaca disini loh.
Biasanya yang akan gue lakukan setiap hari minggu, hanya tidur, makan serta main game, tanpa mandi seharian.  Dan kali ini entah kenapa ketika masuk kamar mandi bawaannya senyum-senyum sendiri. Ternyata rasanya naksir sama cewe seperti ini ya. Belum ketemu, sudah ketawa-ketawa geli. Baru membayangkan bisa jalan berdua, senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau sudah ketemu sama cewe ini. Semoga saja gue enggak melakukan hal bodoh yang bisa membuat si cewe jijk.
Hari itu dia memakai krudung berwarna abu-abu serta  kaus hitam panjang dengan pola garis-garis putih. Cantik banget. Walaupun kausnya mirip-mirip zebra cross sih, ya bodo amat lah. Gue masih engga menyangka, cewe cakep seperti dia mau menemani hari minggu gue si serpihan rengginang ini. Anjir. Kenapa nulis paragraf ini jadi senyum-senyum sendiri plus kangen gitu ya.
Nggilani
Rencana gue untuk kali ini, sederhana. Tipikal anak-anak muda lainnya. Menghabiskan seharian dengan orang yang ditaksir, diskusi segala hal, serta nonton bioskop bareng, dan ditutup dengan mengantarkannya kembali ke rumah dengan selamat.
Ketika sampai di salah satu mall di daerah depok, gue langsung menuju ke bioskop. Rencananya hari ini harus nonton film yang sedang hits itu. Pengabdi Setan. Bentar, engga usah mikir aneh-aneh dulu. Gue berani nonton film horror sekarang, karena sebentar lagi gue akan kembali ke Mesir. Dan di Mesir, gue kira enggak akan ada pocong atau kuntilanak, toh yang gue takuti di Mesir nanti bukan setan, melainkan harga mie goreng yang bisa 5x harga di Indonesia. Jadi gue kira nanti gue akan terlihat lebih macho dan nilai plus karena berani nonton film sera mini tanpa tutup mata dan menjerit kayak cewe. Siapa tau kan? Padahal aslinya penakut juga sih gue. Ehe.
Tiket bioskop jam dua siang, sudah habis. Begitu pula dengan jam lima. Yang tersisa hanya di jam delapan malam. Tapi kenapa gue merasa senang dengan hal ini ya? Kalau sedang naksir seseorang memangnya semenjijikan ini ya? Dikit-dikit senyum sendiri, dikit-dikit kangen. Najis.
Gue menghabiskan waktu yang tersisa dengan cewe ini dengan berlama-lama di KFC. Gue kayak orang norak kalau ke KFC disini, karena menemukan berbagai macam menu yang enggak dijual di Mesir. Dan yang terpenting, disini di sediakan nasi dan juga saus sambal yang bebas mau mengambil seberapa banyak. Kalau di Mesir hanya disediakan roti kecil dan dua buah sachet saus tomat. Perut gue di isi lima roti, enggak akan mempan juga. Emang dasarnya kentung, makan roti banyak enggak kenyang.
Mulai dari perkuliahan, dosen di kampus, serta akun lambe turah, semuanya diobrolin. Dan untungnya gue nyambung. Tiga bulan liburan di Jakarta, gue mulai membangkitkan kebiasaan lama yang dulu gue benci. Dan ternyata kebiasaan itu ada gunanya juga. Kebiasaan nonton berita gosip, ternyata mempersatukan diri kami.
Setelah cukup lama di KFC, gue mengajak cewe berkumis tipis ini untuk mencari sup durian. Katanya ada yang menjual sup durian enak disini. Sekitar lima hari untuk bisa ke tempat tersebut dari mall ini.
Engga lucu, nyet
Untuk kali ini gue mungkin akan terlihat bodoh. Karena setelah mencari diluar mall, dan mengikuti petunjuk dari Google, tempat yang gue datangi bukanlah penjual sup durian, melainkan penjual helm. Mantap.
**
Bioskop hari ini benar-benar penuh. Banyak yang menunggu sambil duduk di lantai, karena bangku yang di sediakan diluar teater terlalu sedikit dibandingkan para penonton bioskop. Ada yang sandaran sambil mendengarkan temannya bercerita, ada yang mesra-mesraa, ada yang makan nasi padang. Rame banget lah pokoknya.
Filmnya sendiri, menghibur. Film ini punya aura seram, tapi tanpa perlu menggunakan jump scare. Tapi berhubung gue akan kembali ke Mesir, gue biasa aja gitu. Enggak takut juga. Dan apakah cewe berkumis tipis ini berani? Oh tentu enggak. Sepanjang film,  waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menutupi mukanya dengan krudung dan sesekali menjerit histeris. Gue lebih banyak kaget karena si cewe berkumis tipis ini teriak, ketimbang adegan di filmnya.
Tapi bagaimanapun juga, gue senang bisa menghabiskan seharian bersama cewe berkumis tipis ini. Semua adegan yang terjadi di hari ini sepertinya sudah gue rekam. Mulai dari ekspresi wajahnya saat tertawa mendengarkan cerita sedih gue. Raut wajahnya yang serius ketika membantu gue untuk menemukan arah jalan si penjual durian. Dan wajah teduhnya ketika sedang berbicara ke gue.
Alay
Yang gue harap sekarang ini, semoga waktu cepat berlalu dan bisa membawa gue kembali untuk bertemu dengannya sekali lagi. Dan semoga saja kumisnya enggak bertumbuh lebat ketika gue bertemu dengannya nanti.

Thursday, 16 November 2017

Mahasiswa baru Mesir dan hal positif yang bisa diambil

Asli. Mesir sekarang ini, sudah berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Sekarang kalau mau pergi kemana-mana yang gue lihat segerombolan makhluk berwajah asia, kemudian salah seorang dari mereka mengucapkan kata-kata,
“Cari makan di asyir lah yuk, nyet”
Gue akan dengan sangat yakin untuk mengatakan bahwa gerombolan orang-orang ini adalah pelajar Indonesia. Bukan Malaysia apalagi Thailand. Dulu ketika tahun pertama di Mesir gue masih susah membedakan wajah pelajar Indonesia, Malaysia, dan juga Thailand. Tapi makin kesini, gue mulai sedikit paham perbedaan dari tiga negara tersebut.
Yang jadi masalah, kok gue enggak pernah melihat orang-orang ini sebelumnya ya. Gue sadar,kalau engga semua pelajar Indonesia disini mengenal gue. Begitu pun dengan gue yang tidak mengenal semua orang Indonesia yang berada di Mesir. Tapi seenggaknya, mukanya familiar lah. Tapi kali ini engga sama sekali.
Setelah di pikir lagi, ternyata gue memang sudah bukan anak baru. Sudah ada tiga angkatan dibawah gue. Pantesan saja mukanya enggak ada yang familiar. Kalau lihat gerombolan ini, kadang gue merasa tua. Walaupun gue menolak hal itu, tetep saja muka ini akan memperjelas semuanya bahwa diri gue lebih tua dari mereka, dan lebih pantas di panggil ‘om’ ketimbang ‘abang’. Tapi gue enggak akan peduli juga. Yang harus gue percaya sekarang, bahwa gue lebih keren dari mereka. Lebih keren dari faktor apa, gue pun juga belum tau. Pelan-pelan , nanti juga ketemu. Semoga.
Dan karena hal itu, setiap kali ingin menghadiri acara-acara yang biasa diadakan oleh para mahasiswa Indonesia disini, gue akan selalu kefikiran tentang,
“Duh. Mau dateng, tapi entar enggak ada yang gue kenal”
“Anak barunya kalau lebih galak dari gue, gimana dong?”
“Entar kalo gue beneran dipanggil om sama mereka, gue ngeles apa nih”
Pada akhirnya, gue tetap berada di rumah dan menyibukkan diri dengan menonton drama korea. Sip.
Tapi dengan kehadiran anak baru, gue sepertinya mendapatkan motivasi baru. Melihat anak baru yang rajin mengaji dengan para masayikh bikin gue semangat. Bahkan terkadang majlis yang dihadiri oleh anak baru ini, membuat ruangan penuh sesak bahkan sampai keluar ruangan. Semoga bisa istiqomah ya. Melihat orang-orang yang haus akan ilmu seperti ini, yang melecuti diri gue untuk selalu bangun tiap pagi, dan mencari ilmu. Dan tanpa sadar, membuat diri gue berkata,
"Jangan kalah sama bocah-bocah itu, nyet!"
Btw, sekedar mau ngasih tau aja kalau perkuliahan di Al-Azhar itu tidak ada absensi. Kapasitas ruangannya saja lebih kecil daripada jumlah mahasiswanya. Dan juga, disini tidak ada tugas kampus, serta skripsi.  Gimana, tertarik?
Anak baru sekarang pun berbeda dengan zaman gue kemarin. Mereka ditempatkan di asrama Indonesia di daerah distrik enam. Hanya cowonya saja, yang cewe tetep sama seperti sebelumnya. Tinggal bersama dengan para seniornya masing-masing. Ada sisi positifnya sih buat gue. Karena dengan hal ini, bis yang biasanya selalu gue naiki di terminal dekat rumah gue, enggak akan terlalu penuh sesak di penuhi oleh mereka para mahasiswa baru yang setiap harinya harus datang di kelas bahasa.
Kalau mau melihat dari segi positifnya, banyak juga hal yang bisa diambil ya. Harus mulai sering dibiasakan punya mindset seperti ini nih kedepannya nanti.