Saturday, 14 April 2018

Komputer dan penjual bagasi kampret


Gue sering denger pengalaman temen-temen gue yang sangat beruntung ketika menghadapi petugas bandara. Banyak yang membawa barang melebihi batas maksimal yang telah ditentukan tapi berhasil lolos. Caranya dengan menampilkan muka memelas, mengaku bahwa barang ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa perantauan dan petugas pun dengan senang hati megizinkannya. Tapi ketika gue praktekkan, kenyataannya enggak kayak gitu.
Asu
Sebenernya gue cukup ragu untuk membawa komputer yang telah gue beli saat liburan kemarin. Tapi berbekal cerita temen, gue meyakinkan diri sendiri serta orangtua, bahwa hal ini bukan masalah. Everythings gonna be fine. Di pemeriksaan awal pun, juga baik-baik saja. Enggak ada tanda-tanda kalau komputer gue ini akan dilarang untuk dibawa ke kabin pesawat nanti.
Sebelum memasuki ruang tunggu, ada dua petugas yang memeriksa barang bawaan penumpang. Giliran gue yang diperiksa. Petugas ini bilang, bahwa komputer gue enggak boleh dibawa naik ke pesawat. Setelah selesai diperiksa, barulah gue bertanya,
“Kalo komputernya enggak boleh dibawa ke kabin, kenapa sejak dari awal enggak ada pemberitahuan ya, mas?”
“Oh. Emang sengaja”
 Bgst
“Barangnya dititip saja di ruang maskapai kita, nanti kawan atau saudaranya ambil disana saja, mas” lanjutnya.
https://www.cnnindonesia.com

**
Ada beberapa cara agar komputer gue bisa diantarkan keMesir. Entah itu dengan gue yang pulang ke Jakarta, atau dengan membeli bagasi orang lain yang ingin berangkat ke Mesir. Sepertinya gue enggak akan mengambil opsi pertama, karena selain menghamburkan uang, nyokap gue khususnya, akan ngamuk kalau hal itu beneran terjadi. Dan bokap gue dengan senang hati akan mencoret nama gue dari kartu keluarga. 
Gue enggak mau itu terjadi.
Selain belajar di kampus-kampus Mesir, banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia disini. Ada yang membuka usaha rumah makan, menjadi tour guide, menjual bumbu serta makanan asli Indonesia, dan ada juga yang seperti gue sebutkan diatas, berjualan bagasi. Segala hal bisa dibikin uang, kalau mau.
Gue kenalan dengan penjual bagasi dari salah satu grup Facebook. Dari pengumuman yang gue baca, seminggu lagi dia akan kembali ke Mesir. Gue telah mengabari orangtua gue agar bisa mengirimkan komputer ke alamat si penjual bagasi tersebut. Semuanya berjalan lancar. Nyokap yang tadinya enggak mengizinkan, akhirnya berubah fikiran setelah memenangkan arisan. Barang telah dikirimkan ke rumah si penjual. Dan sekarang hari-hari gue diisi dengan rasa tidak sabar untuk bertemu dengan si benda kesayangan. Makin ditunggu, malah terasa makin lama.
**
Di hari h si penjual sampai ke Mesir, tanpa sadar gue telah mengirimkan banyak pesan Whatsaap, menanyakan tentang komputer gue. Yang dihubungi malah menghilang, enggak ada kabar. Oh mungkin belum beli paketan internet.
Malam harinya, si penjual ini mengabarkan bahwa komputer gue tidak dibawa. Alasannya, karena dia lupa. Asu. Karena memang gue nya yang terlalu berharap ke si penjual, makanya agak nyelekit ketika mendengar bahwa barang yang gue titipkan enggak dibawa. Tapi, si penjual ini bilang bahwa temannya nanti akan membawanya ke Mesir. Dan dengan gobloknya gue senang mendengar hal itu. Merasa bahwa masih ada setitik harapan.
Selama sepuluh hari penantian, hasilnya tetap sama. Asu memang. Gue sekarang mulai mengerti, kenapa seharusnya kita ini tidak berharap kepada manusia lain, karena hasilnya enggak selalu seperti yang kita harapkan.  Ah elah. Emang gue nya aja yang lagi sial ketemu makhluk kampret seperti ini. Atau mungkin makhluk kampret ini secara enggak langsung menyuruh gue agar berharap itu hanya kepada Yang Maha Pengasih? Haaahh… kan sudah terjadi, jadi diambil hikmahnya saja.
Walaupun telah dibohongi makhluk kampret, gue masih positive thinking bahwa komputer gue akan tetap datang. Meskipun sepertinya lebih lama dari waktu yang telah gue perkirakan.
Setelah bertemu satu orang kampret, ternyata gue masih menemukan makhluk kampret lainnya. Dari akhir Desember, sampai bulan Maret gue seperti dikerjai oleh mereka, dan komputer gue telah berkali-kali pindah tempat. Sampai akhirnya, minggu kemarin barang gue telah dibawakan oleh penjual bagasi lainnya. Enggak usah nanya, gimana ekspresi gue ketika membaca pesan dari si penjual bagasinya bahwa komputer gue telah tiba di Kairo. Seneng banget!!
https://giphy.com
Mirip kayak quote dari John Lennon,
Everything will be okay in the end. Of it’s not okay, it’s not the end.
Pernah ngerasain quote-nya si John Lennon itu cocok kayak kisah lu juga enggak?

Saturday, 17 March 2018

Kesalahan yang sering dilakukan


Ternyata selama ini gue salah jalan untuk menyikapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Terkadang gue terlalu memikirkan hal terlalu jauh, sampai tidak melakukan apa-apa. Mungkin bahasa lainnya adalah gue ini tipikal manusia yang senang menyibukkan diri dengan membuat berbagai banyak planning untuk dilakukan, tapi kerjaannya malah tidur-tiduran dan main game Mobile Legend. Banyak bacot, tapi nihil kerja.

https://list.ly

Setiap bangun pagi yang gue lakukan adalah harus mengerjakan kegiatan A di pagi hari, kemudian dilanjutkan kegiatan B, C dan seterusnya, tapi kenyataannya enggak seperti itu. Bodoh ya?
Terlalu sering aktif di sosial media, membuat diri gue lupa untuk mengharagai diri sendiri. Lebih sering membandingkan diri gue dengan orang lain, sering merasa iri karena orang lain yang seusia dengan gue telah buanyak memiliki berbagai hal yang bisa dibanggakan. Sedangkan gue malah mirip lengkuas dalam kuah rendang. Bentuknya mirip seperti rendang, tapi ketika di makan auto dimuntahin. Gimana, analoginya nyambung enggak? Enggak kan ya? Oke sip.
 Ketika sudah seperti ini yang biasa gue lakukan adalah dengan membayangkan ketika gue masih jadi santri di pondok pesantren dulu. Yang hidupnya selalu dibawah bayang-bayang ketakutan ketika melakukan kesalahan dan ketahuan oleh bagian keamanan. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep bahagia. Enggak seperti saat ini, yang hidupnya selalu khawatir dengan masa depan yang sejatinya belum terjadi.
Gue selalu bertanya, tujuan gue hidup ini sebenernya apa sih? Kenapa selalu khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi. Karena terlalu khawatir, gue malah lupa untuk memperbanyak doa kepada Allah untuk diberikan kekuatan dalam menghadapi masalah.
Gue masih inget dengan ustadz pengajar Hadits ketika di pondok dulu. Beliau sangat kejam ketika mengajar, kalau menemukan muridnya mengantuk, beliau dengan langkah yang terburu-buru akan menuju meja muridnya, kemudian menendang meja muridnya tersebut. Apakah sampai disitu saja? Oh belum. Beliau akan menggetok kepala muridnya yang mengantuk itu dengan kitab bulughul maram. Mancing mania? MANTAP!
Di salah satu pelajarannya, gue jadi inget dengan Hadits yang artinya seperti ini,
Barang siapa yang ketika bangun tidurnya dan yang difikirannya hanya dunia sehingga seolah dia tidak melihat hak Allah, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam hatinya:

Kebingunguan yang tiada putus-putusnya
Kesibukan yang tidak ada ujungnya
Kebutuhan yang tidak pernah tercukupi
Khayalan yang tidak pernah berujung
Sepertinya sekarang gue mulai tau apa yang harus gue perbuat. Gue terlalu khawatir dengan hal-hal duniawi sampai melupakan Allah. Gue terlalu iri karena takut tidak bisa sesukses temen-temen seusia gue, di usia yang gue yang kebanyakan sudah mendapatkan pekerjaan serta membangun rumah tangga, gue disini malah masih sibuk dengan kuliah. Seharusnya segala sesuatu yang dikerjakan itu, ya harus dengan meminta pertolongan-Nya.  Bener enggak?
Kalau lu sendiri pernah mengalami rasa khawatir terhadap masa depan juga enggak? Punya tips lain?

Saturday, 3 March 2018

Kenapa menulis?


Ketika di pondok pesantren dulu, kehidupan gue banyak diisi dengan ketakutan akan berbagai hal. Takut nilai gue jelek dari tahun sebelumnya, dan mengecewakan orangtua. Takut diusir oleh bagian pengasuhan santri. Takut di botak sama bagian keamanan. Takut ketahuan ngomong gue-lu sama bagian bahasa. Pokoknya kehidupan remaja gue di SMP dan SMA dulu kurang lebih seperti itu. Penuh dengan berbagai ketakutan.
Pada akhirnya, ketakutan yang gue sebutkan diatas itu hampir semua gue pernah rasakan. Hanya diusir oleh bagian pengasuhan santri saja yang belum pernah. Sebetulnya gue hampir diusir ketika kelas 3 SMA dulu. Tau karena apa? Kabur ke rumah selama kurang lebih dua minggu. Mantap. Memang benar pada akhirnya gue enggak diusir, tapi setelah kejadian itu gue selalu menjadi langganan staff pengasuhan santri untuk di botak. 

Karena terlalu banyak memikirkan ketakutan itu, gue sampai lupa bahwa sebenarnya masih banyak hal yang gue bisa dilakukan daripada terlalu overthinking dengan hal-hal yang belum terjadi. Gue seharusnya punya hal yang ingin gue raih bukan malah terlalu khawatir dengan masa depan sampai tidak melakukan apa-apa. Sampai pada akhirnya gue menemukan salah satu buku Raditya Dika. Yang hampir seluruh isi buku-bukunya berisikan tentang menertawakan diri sendiri.  Dan dari dia juga, gue mulai tau tentang blog.
Setelah baca beberapa bukunya gue mulai mencoba untuk membuat blog, tapi sayangnya hal itu enggak pernah bisa kesampaian. Karena jaringan internet di lab komputer pondok gue dulu bener-bener gembel. Website sosial media di blokir semua, bikin blog pun enggak bisa juga. Yang mulai gue lakukan adalah dengan menulis diary di binder. Agak menjijikan memang, tapi asik juga. 
Eh tapi, dengan menulis seperti ini segala ketakutan-ketakutan yang gue rasakan mulai bisa teralihkan. Secara enggak langsung menulis bagi gue sebagai salah satu cara menumpahkan segala fikiran yang gue punya supaya enggak stress. Dan tentu saja gue menikmati hal ini.
**
 Awal mulai nge-blog dulu gue seperti orang gila. Hampir setiap hari selalu nulis, dan otak-atik template blog. Dan yang lebih parah, selalu memaksa teman-teman gue untuk buka blog serta membajak akun Facebook mereka untuk menyukai fanspage blog gue. Kalo diinget lagi, kenapa begitu menggelikan ya.
Hal itu gue lakukan ketika pengabdian. Jadi setelah gue lulus dari pondok pesantren, gue tidak bisa seenaknya langsung keluar, kemudian melanjutkan kuliah, lalu putus hubungan dengan pondok. Setelah lulus, pondok pesantren gue mewajibkan para alumni untuk mengabdi. Entah itu sebagai guru, sebagai mahasiswa, ataupun sebagai orang yang diajarkan secara khusus untuk berdagang. Barulah setelah satu tahun mengabdi, kita baru dibolehkan keluar pondok. Dan pengabdian ke pondok itu sebagai salah satu syarat juga untuk bisa mendapatkan ijazah.
Menulis selalu menjadi hal yang menyenangkan untuk gue kerjakan. Walaupun enggak ada komentar yang gue dapat di setiap tulisan di blog, gue enggak terlalu memperdulikannya. Gue rela untuk pergi keluar kampus hampir setiap hari, menggunakan sepeda hanya untuk bisa pergi ke warnet terdekat. Tujuannya ya untuk nulis di blog. Sampai akhirnya gue mulai tau bahwa ternyata banyak komunitas blog yang bertebaran di dunia maya. Dan kebanyakan komunitas-komunitas itu berawal dari Facebook. Dari sekian banyak itu, ada satu komunitas yang sering banget gue datangi. Namanya Blogger Energy. Gue pernah nulis juga tentang ucapan terimakasih untuk komunitas tersebut.
https://www.tumblr.com
Dan dari komunitas itu juga, gue bisa punya kesempatan untuk menerbitkan tulisan gue menjadi buku. Rasanya dulu gue hanya berangan-angan saja, eh ternyata bisa kesampaian. Mungkin di lain kesempatan gue akan cerita tentang bagaimana bisa gue menerbitkan tulisan gue. Tapi kemarin malam gue sempet kaget dan lumayan bangga dengan diri gue sendiri. Gue menemukan ada orang yang me-review buku gue yang berjudul Asam Manis Cinta di Youtube. Padahal bukunya terbit 4 tahun yang lalu. Dan yang bikin gue bangga adalah dia menyebut tulisan gue sebagai salah satu cerita yang disukainya. Goks! Yang lebih anehnya, dia bisa mengambil hikmah dari tulisan gue. Padahal gue sendiri sama sekali enggak ngerasa bahwa tulisan gue ini ada manfaatnya. Wk.
Kalau mau nonton videonya bisa klik ini ya.
Sekarang gue punya alasan lain untuk menulis. Selain sebagai bentuk pelarian, gue ingin agar tulisan gue bisa bermanfaat dan menghibur bagi orang lain. Kalau pun enggak bermanfaat, senggaknya jangan sampai menyesatkan orang lain lah.
 Buruan ikutan juga
Ikutan gih...
Nah, kalo lu sendiri apa alasan untuk menulis?

Sunday, 25 February 2018

Indahnya pantai di Matruh, Mesir

Setelah asik berkeliling padangpasir dengan supir gila di Siwa, gue serta rombongan berangkat menuju ke Matruh. Kalau sebelumnya di Siwa banyak tempat yang kita kunjungi, berbeda dengan halnya kota bernama Matruh ini. Coba baca ini deh siapa tau jadi khilaf mengunjungi Siwa seperti gue juga. Tujuan orang-orang kesini hanya untuk menikmati indahnya warna air laut yang katanya mempunyai tujuh warna yang berbeda. Dan memang hal ini enggak terdengar buruk sama sekali, bagi mereka yang telah lelah dengan kemacetan di Kairo, serta bosan melihat bangunan-bangunan kota yang sebagian besarnya berwarna coklat.

Kali ini gue bersyukur karena cuacanya seperti yang gue perkirakan ketika di Kairo kemarin. Udara yang sejuk, langit cerah, serta punya koleksi foto-foto dengan tempat-tempat menarik yang akan dipamerkan di social media. Ternyata gue sesombong ini, Astahgfirullah. Kayaknya karena sifat sombong ini, gue susah menurunkan berat badan. Apa ada hubungannya? Oh tentu saja gue enggak tau.
Sepanjang perjalanan enggak ada hal yang menarik, karena di kanan-kiri jalan hanya ada padang pasir yang terlihat seperti tidak ada ujungnya. Gue lebih senang berpergian jarak jauh di Indonesia, karena selalu banyak hal menarik yang bisa diliat di jalanan. Setiap memasuki kota di Mesir, akan selalu ada polisi yang menjaga di pintu kedatangan. Beberapa dari mereka ada yang hanya mengecek ke dalam bis, dan ada pula yang mengawal bis kita masuk ke kota tersebut. Ya salah satun yang mengawal bis kita, ya para polisi di kota Matruh. Padahal tahun kemarin ketika pertama kali ke kota ini, gue enggak menemukan hal seperti sekarang ini.
Setelah beberapa kali berpergian keluar kota di Mesir, gue mulai sadar betapa pentingnya kami paraorang-orang asing memiliki izin tinggal disini. Kalau enggak punya visa bagaimana? Beberapa dari mereka ada yang mengundurkan diri untuk tidak ikut perjalanan, dan sebagian lagi memilih untuk meminjam paspor teman yang sudah memiliki visa. Fikirannya karena para polisi, susah membedakan wajah orang asia, dan memang ada yang lolos ketika pemeriksaan. Tapi kalau ketauan dan tertangkap gimana? Disini banyak dari kita orang Indonesia yang terkadang meremehkan visa, bahkan ada yang tidak punya visa selama dua tahun. Gue sendiri pernah melakukan hal goblok ini, dengan tidak memiliki visa selama setahun. Untuk enggak sampai di deportasi ke Uganda.
**
Tempat pertama yang kita kunjungi disini adalah Kamar mandi Cleopatra. Terkenal dengan nama itu, tapi aslinya tempat ini ya pantai serta laut lepas. Disini terdapat batu besar yang di bawahnya terdapat ruangan kamar mandi Cleopatra tersebut. Untuk benar atau enggaknya, gue enggak tau juga. Yang penting gue bisa refreshing pak!

Di tengah situ tuh katanya sih Kamar Mandi Celopatra


Suasana Matruh lebih bersih ketimbang Kairo dan tentu saja jalanannya pun lebih sepi. Gue kadang enggak terlalu kangen dengan kemacetan di Jakarta, karena di Kairo itu macetnya juga sama gilanya dengan kota kesayangan gue itu. Ditambah lagi para supirnya yang seenaknya udelnya mengendarai mobil dengan kecepatan kencang. Walaupun sudah ada ibu-ibu yang menyuruh untuk lebih santai, tapi ya tetep enggak di gubris aja gitu.
Setelah puas berfoto-foto di tempat ini, kita menuju pantai Ajiba. Dari sini baru terlihat jelas, bahwa air lautnya memang memiliki banyak warna. Perpaduan antara warna biru serta warna hijau muda serta langit yang cerah, membuat hari ini semakin asik. Sayangnya, ketika sampai disini udaranya memang lumayan dingin, dan hanya kami yang datang ke tempat ini. Padahal biasanya banyak para pedagang yang menjual dagangannya di tangga menuju pantai. Karena sebelumnya sudah pernah kesini dan sudah main air di pantai ini, gue memutuskan untuk enggak turun. Selain karena yang jalannya lumayan capek, gue juga sedang kebelet boker. Kuncinya biar bisa menahan ini kan tentu saja dengan mengurangi gerak badan, serta menghindari angin. Bener gitu kan ya? Atau ada tips lainnya?


Jadi gimana, indah kan pantainya?
Tapi gue sempet nyesel karena belum mengunjui pantai-pantai indah di negri sendiri. Hah. Manusia, enggak ada puas-puasnya.


Friday, 16 February 2018

Tempat Offroad paling seru di Mesir

Liburan musim dingin kali ini sepertinya gue lebih sering menghabiskan waktu untuk berpergian ke luar kota ketimbang menjalani rutinitas yang gue cintai berupa ‘enggak melakukan kegiatan apapun diatas kasur’. Memang salah satu resolusi yang gue tuliskan ditahun ini adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di Mesir, dan Alhamdulillah bisa tercapai.
Kadang hal-hal iseng yang gue inginkan dan dituliskan di buku catatan yang gue miliki, bisa terjadi tanpa gue sangka. Kuncinya adalah  sing penting yaqin! The power of Law of attraction.

Kali ini gue akan menceritakan tentang salah satu kota di Mesir yang bernama Siwa, yang merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh para mahasiswa Indonesia disini dan juga para traveller yang berkunjung ke Mesir.
Perjalanan kemarin, di mulai pagi hari. Tepatnya jam satu pagi. Walaupun di grup sudah dibilangi agar berkumpul ketika jam 12 malam, tetap saja akan ngaret. Rombongan gue kali ini terdiri dari 13 orang, 6 cowo serta sisanya adalah ciwi-ciwi. Sebetulnya gue lumayan bimbang untuk ikutan berangkat, karena sebelumnya gue sudah pernah ke dua kota tersebut di tahun lalu. Tapi karena biaya yang ditawarkan kali ini lebih murah dibandingkan harga biasanya, makanya gue ikutan. Terlebih lagi, gue masih ketagihan dengan offroad di Siwa.
Yang gue siapkan hanyalah dua celana panjang, mengantisipasi celana gue akan robek seperti di Sinai kemarin, dua kaos tipis, powerbank, serta satu novel yang sudah berbulan-bulan enggak selesai dibaca. Tau alasannya kenapa gue hanya membawa peralatan seadanya seperti itu? Karena destinasi yang gue tuju adalah padang pasir, bukan bukit Sinai yang dingin itu. Ditambah lagi, cuaca Kairo yang sudah tidak terlalu dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Tapi semua yang gue rencanakan, tiba-tiba hancur berantakan. Ketika sampai di tempat pemberhentian untuk makan siang, cuaca yang gue kira akan cerah ternyata digantikan dengan awan berwarna gelap serta hujan yang pelan-pelan semakin deras turunnya. Apakah dingin? Banget, nyet. Pake nanya segala lagi lu.
Kan yang ngomong lu sendiri, su
Jaket yang gue bawa sama sekali enggak berguna, kulit gemuk gue pun sama saja . Enggak bisa menahan kencangnya angin serta hujan. Liburan yang gue kira akan berakhir dengan bahagia, ternyata sudah ada cobaannya sebelum sampai ke tempat tujuan. “Harusnya gue enggak ikutan” kalimat ini terus-terusan bermunculan di kepala gue. Sampai akhirnya, tanpa sengaja ada rombongan mahasiswa Indonesia lainnya yang beristirahat di tempat yang sama seperti rombongan gue. Setelah ditanya, ternyata mereka baru saja pulang dari tempat yang ingin gue tuju. Ketika ditanya tentang cuaca disana, jawaban mereka adalah,
“Iya. Disana ujan terus cui. Awet bos”
HALAH TAY
**
Destinasi pertama yang kita kunjungi di Siwa merupakan Jabal Dakrur. Tempat yang biasanya akan ramai didatangi oleh para ketua kabilah-kabilah yang ada di kota Siwa setiap tahunnya untuk membahas kejadian-kejadian yang terjadi di kota tersebut. Biasanya perkumpulan ini diadakan setelah panen kurma. Wajar saja, karena memang kota ini terkenal dengan banyaknya kebun kurma. Nah, selain orang-orangnya yang ramah, disini kita bisa membeli kurma dengan berbagai rasa sebagai oleh-oleh. Makanya gue enggak kapok pergi ke Siwa.
Jabal Dakrur

Danau garam berasa salju

Rombongan gue enggak bisa berlama-lama di tempat ini karena cuaca disini kurang mendukung. Hujan yang semakin deras, serta  waktu offroad yang sebentar lagi akan di mulai. Tapi sebelum offroad kita sempat mengunjungi danau garam. Gue sebetulnya sudah pernah mengunjungi tempat ini, tapi ketika awal kesini belum sempat mencicipi air danaunya. Apa benar asin, atau jangan-jangan manis kayak muka gue.
Gilani
Dan akhirnya offroad yang gue tunggu-tunggu datang juga. Asyeek!!
Alhamdulillah-nya, ketika offroad hujannya sudah berhenti, hanya menyisakan hawa-hawa dingin yang terkadang suka menusuk-nusuk badan. Satu mobil berisikan 7 orang. Inti dari offroad ini sebenernya hanyalah mengelilingi padang pasir menggunakan mobil. Tapi yang seru adalah si supirnya ini. mereka dengan seenaknya saja mengambil jalur ekstrim. Kayak merasa enggak berdosa aja gitu, bikin penumpangnya olahraga jantung dan mengeluarkan sumpah serapah. Orang-orang kayak gini sih pasti SIM nya nembak. Yaqin akutu. Gue pun masih enggak menyangka, kok bisa ya padang pasirnya seperti ini. Dan yang lebih gendeng-nya lagi, mobilnya kok ya kuat menghadapi jalur seperti ini. Sesekali sepertinya gue harus melihat di situs jual beli mobil seperti ini. Biar di Jakarta nanti mobil gue siap diajak kemana-mana.


Setelah dibikin mabok, kita diantarkan menuju oase air panas, sambil menghangatkan kaki plus minum teh hangat khas Siwa. Gue mulai enggak peduli terhadap suasana dingin ini, karena terlalu banyak hal menyenangkan yang bisa gue nikmati saat ini. Seandainya saja kita lebih fokus dengan hal yang menyenangkan dan banyak bersyukur, ketimbang terlalu sering mengeluh. Pasti akan lebih bahagia hidup ini.

Kesambet apaan, bisa nulis bijak gini
Setelah diantarkan ke dua oase, air panas dan dingin, para supir mengetes kejantanan kami para penumpang pria. Oh tentu saja, gue enggak teriak-teriak minta tolong. Tapi ini beneran gila jalanannya. Naik, kemudian belok seenak jidat si supir, lalu tiba-tiba posisi mobil sudah nungging kedepan, bersiap untuk meluncur kebawah. Untung pantat gue masih tetap di kursi, kalo misalnya akibat si supir yang mengendarai mobil seenaknya kemudian pantat gue pindah tempat ke mukanya pak supir, gimana? Bukan salah gue kan ya kalo hidungnya terhalang sama pantat gue? Naik mobil ini, serasa menaiki wahana yang ada di pasar malam. Enggak ada pengamanannya. Tapi bikin nagih!
Oase air dingin

 Perjalanan berakhir dengan Sandboarding. Gue enggak mau nulis gimana keseruannya, karena sebelumnya sudah gue tulis. Coba aja baca disini ya.

Kalau difikir-fikir lagi, sepertinya gue memang salah kostum juga sih. Karena mengira tempat ini akan dipenuhi sinar matahari, eh kenyataannya malah sebaliknya. Ke tempat dingin seperti ini malah mengenakan sandal gunung, bukannya menggunakan sepatu boots yang bisa membuat kaki lebih hangat. Sepertinya gue harus cek Tokopedia untuk bisa melihat berbagai macam sepatu pria casual yang harganya terjangaku untuk gue gunakan di Mesir. Siapa tau kedepannya gue bisa menjelajahi Mesir di kota-kota lainnya, atau siapa tau nanti gue akan tidur di tengah padang pasir, seperti yang gue alami di tahun kemarin, yaitu bermalam di tengah gurun padang pasir. Lebih banyak pilihan sepatu-sepatu bagus dan terjangkau di Indonesia ketimbang disini.
Sebelum kembali ke hotel, kita dibawa ke Camp mereka untuk beristirahat sekaligus makan. Ini memang sudah termasuk dari biaya offroad. Disini kita akan diberi makan berupa ayam, yang cara masaknya benar-benar ruar biyasak. Mereka meletakkan ayam yang telah diberi bumbu, dibawah tanah. Enggak tepat dibawah tanah juga sih. Jadi didalam tanah tersebut terdapat tong yang nantinya akan ditaruh lauk serta nasi yang akan dihidangkan. Ditambah lagi, si koki Mesir ini mempraktekan cara menaruhnya dengan bahasa arab yang di campur dengan bahasa Korea. Sarange oppa.
Sambil menunggu proses masaknya, gue serta yang lainnya berendam di kolam air panas. Gila. Asoy banget. Setelah beberapa hari sebelumnya enggak pernah mandi, akhirnya gue mandi juga. Senior-senior gue malah lebih parah, seminggu lebih enggak mandi. Gue engga tau deh, seberapa banyak daki yang ada di sore hari itu.

Hah, gue enggak akan pernah bosan dan menyesal untuk datang ke tempat ini lagi. I'm in love with you Siwa!!

Wednesday, 7 February 2018

Kenapa Visa begitu penting di Mesir

Di tahun pertam tinggal di Mesir, gue tipikal anak yang terlalu santai menjalani kehidupan. Piket masak, hampir enggak pernah mau. Masuk kuliah, ya enggak setiap hari. Dan yang paling goblok, visa gue pernah mati setahun. Ketika itu gue enggak tau betapa pentingnya visa buat para warga negara asing yang tingga di negri orang. Baru sekarang-sekarang ini gue mulai paham betapa pentingnya buku kecil itu.
Beberapa waktu yang lalu di Mesir sempat banyak pemeriksaan oleh para petugas. Entah mereka polisi atau tentara, intinya setiap pemeriksaan pasti selalu saja dari mereka membaw senapan berlaras panjang. Bukan laras 008. Gue sundul nih kalau mikirnya itu. 
*Ituuu Saraaaasss, maliiihhh
Maraknya pemeriksaan ini terjadi ketika gue liburan kemarin.  Eh ternyata, sesampainya disini masih banyak pemeriksaan yang dilakukan disini.
Saat liburan kemarin pun, gue sempat menerima kabar bahwa ada salah satu mahasiswa yang ditangkap dan sampai di penjarakan. Karena apa? Apakah karena dia kayang di tengah jalan? Oh tentu bukan. Karena eh karena, ketika diperiksa dia ketahuan tidak mempunyai visa atau izin tinggal disini. Dan setelah diteliti lebih lanjut, mahasiswa ini adalah si Juki. Temen sd gue yang pernah gue ceritakan di tulisan ini.
Setelah lulus SD, enggak pernah ketemu. Eh tau-taunya sekarang dia mantan napi disini. Mantap jiwa lu, Juk!
 Kronologi si Juki bisa tertangkap oleh polisi disini sebenernya lebih enak untuk ditertawakan ketimbang untuk ditangisi. Dia yang siang itu bersama temannya sedang kelaparan, memutuskan untuk makan siang di kawasan distrik tujuh yang di rumah makan Thailand yang terkenal enak kwetiau gorengnya. Kalau menurut perkiraan gue yang sama sekali tidak akurat, si Juki pergi ke rumah makan ini ketika awal bulan. Di akhir bulan paling masak nasi goreng, dari sisa nasi kemarin.
Ketika sedang sabar menunggu makanan, para petugas keamanan tiba-tiba masuk ke rumah makan yang sama. Kalau beda, ceritanya bukan gini dong. Yakan? Disaat itu petugas keamanan langsung memeriksa seluruh orang yang makan di tempat itu. Mulai dari pelanggannya, bahkan sampai pelayan dan pemilik rumah makan pun diperiksa. Dari sekian banyak orang yang makan, yang tertangkap hanya dua orang. Si Juki dan satu lagi mahasiswa yang berasal dari Malaysia.
Gue masih enggak kebayang, bagaimana perut Juki saat itu. Ketika sedang menunggu makanan, eh malah tercyduk. Makanan belum datang, eh disuruh masuk mobil polisi duluan. Yang satu lagi seenggaknya lebih mending ketimbang Juki. Karena dia sudah selesai makan dan bersiap ingin pulang.
Dan singkat cerita, setelah sepuluh hari dia baru bisa keluar dari penjara. Gila.
Ini bukan pertama kalinya gue mendengar berita tentang mahasiswa Indonesia yang ditangkap karena tidak memiliki izin tinggal. Sebelumnya sudah ada satu orang. Bahkan setelah kasus si Juki pun, ada beberapa kasus yang sama, tetapi lebih parah kronologinya. Coba cari aja di Google, beberapa media sudah meliput tentang hal ini.
Setelah gue mendengar berita tentang mahasiswa yang ditangkap, gue jadi sadar betapa beruntungnya diri gue dulu ketika tidak mempunyai visa setahun dan enggak bertemu dengan para petugas keamanan seperti halnya si Juki. Dan setelah mendengar berita ini tentu saja gue enggak mau mengulangi kebodohan yang gue lakukan seperti sebelumnya. Gue harus punya visa, biar enggak was-was ketika berpergian di negri orang. Beberapa ada yang ditangkap kemudian di penjarakan, beberapa juga sampai di deportasi ke negaranya masing-masing.
Sebetulnya sekarang ini sudah lebih baik, ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Karena prosesnya enggak sampai mengharuskan gue dan para mahasiswa lainnya untuk mengantri di kantor imigrasi bersama orang-orang Rusia yang satu orangnya bisa membawa sampai lima paspor temennya. Dan ketika mengantri pun, jangan berharap bisa duduk santai di ruangan ber-ac serta mengambil kartu antrian. Lu harus bangun pagi, kalau perlu setelah shubuh sudah harus berada di gerbang kantor imigrasi.
Ini kantor imigrasi yang berada di samping asrama Al-Azhar ya. Kalau yang di daerah Tahrir, gue kurang tau.

Nah, sekarang tau kan kenapa mempunyai visa itu merupakan kewajiban bagi orang yang tinggal di negri orang lain?

Monday, 29 January 2018

Obrolan malam minggu tentang laptop tipis serbaguna (Asus VivobookPro15 N580VD)

Liburan kemarin, rasanya seneng banget akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman gue dari pondok pesantren. Dari dulu memang waktu  gue di Jakarta, lebih banyak menghabiskan waktu dengan main ke rumah teman, ngobrolin segala mimpi yang ingin diraih ketika dewasa nanti. Seru! Enggak ada tuh tema ngebahas tentang pacar, ya memang dasarnya pada enggak punya aja sih. Ehe.
Sekitar tiga tahun, gue sudah enggak ketemu dengan makhluk-makhluk gaib nan ajaib ini. Bahkan gue sendiri pun jarang bisa kontakan dengan mereka, tapi Alhamdulillah sablengnya masih tetep sama.
Setelah beberapa minggu di Jakarta, gue baru tau bahwa mereka ini punya rutinitas setiap malam minggu, yaitu bermain basket bersama di daerah Pancoran. Kemudian setelah selesai mereka akan datang ke rumah Dedi. Hanya sekedar menghabiskan sisa malam dengan main gitar, main PES, atau sekedar makan tahu isi.
Apalagi liburan kemarin bukan hanya gue saja yang pulang, tapi masih ada dua orang teman gue lainnya yang pulang. Maka dari itu kita merencanakan untuk kumpul plus bakar-bakar ayam di malam minggu setelah basketan.  
**
http://www.startlr.com
Malam itu ada sekitar 7 orang yang sudah datang. Dua orang lainnya sedang perjalanan menuju kesini. Mau diliat bagaimana pun, tempat ini tetap sama seperti tiga tahun yang lalu. Perbedaannya, temen-temen gue lebih ganteng sedikit dibandingkan sebelumnya dan beberapa orang meng-gondrongkan rambutnya.
Ada yang asik main gitar, tapi yang nyanyi suaranya enggak asik. Ada yang menyiapkan peralatan untuk masak, dan sisanya tentu saja sedang seru memainkan PES.
Yang gue sayangkan adalah laptop temen gue ini sering bikin gue serta yang lainnya untuk misuh-misuh. Ketika main PES ada aja cobaannya. Tampilan gamenya padahal sudah dibuat serendah mungkin supaya bisa lancar pas bermain, nyatanya tetep saja lag, gambarnya yang patah-patah, bahkan ketika kipernya sudah digerakkan tetep aja diem di tempat. Hasu!
Ini bukan karena gue enggak jago main PES, tentu bukan. Ini memang murni laptopnya aja yang minta dibanting.
“Sorry, cuy. Laptop tua, udah enggak kuat buat main game. Heheh. Padahal Ramnya udah gue tambah jadi 8gb” kata temen gue si pemilik laptop  yang bernama Adit, tapi lebih sering dipanggil dengan sebutan Kopi. Apakah alasannya dipangil Kopi Karena manis? Oh tentu enggak. Karena pahit? Mukanya emang pahit gitu sih kalau diliat lama-lama.
“Emangnya processornya pake apaan, pi?” kata gue.
“Pake Intel berapa ya, lupa gue. 4 tahun yang lalu, keren loh laptopnya”
“Coba pake processor yang terbaru i7 7700HQ, generasi ke tujuh intel. Bakalan lancar jaya deh semua game-game berat. Tapi inget, belinya yang tipe HQ bukan U, karena performanya jauh berbeda. Apalagi lu juga suka nge-renderin video kan. Emangnya masih mampu laptop lu? Gue aja lagi kefikiran buat punya laptop ini. Laptop gue yang dulu udah rusak uy” Entah kenapa, berkat hobi gue yang suka nonton seputar teknologi di Youtube, gue merasa jadi tambah ganteng gini.
Kaga nyambung, su!
“Gue malah baru tau kalau prosessor laptop ada yang tipe HQ dan U. Bedanya apaan tuh?”
“Setelah angka seri prosesor kan ada tulisannya tuh. Sebenernya selain dua itu ada banyak lagi. Yang gue tau, U itu ultralow voltage. Jadi lebih hemat batre. Sedangkan, HQ itu singkatan dari High Performance, ya pastinya lebih keren tenaganya. Processor i7 7700HQ 40% lebih bertenaga ketimbang i7 7500U. Walaupun sama i7 Kabylake, tapi performanya beda, Dit. Ditambah lagi, laptop yang gue kasih tau ke elu ini sudah dilengkapi dengan VGA 1050 4gb DDR5. Lu main GTA 5 pake settingan High juga bisa. Apalagi main PES, udah dilibas”
“Bentar dah, Ji. Berarti laptop ini yang HQ boros gitu? Mendingan gue beli yang ada tulisannya U dong, lebih hemat batreinya”
“Tenang, laptop ini udah dilengkapi dengan fitur Fast Charging, 60 persen hanya dalam waktu 49 menit. Performanya itu loh beda jauh, cuy. Spesifikasinya setara sama laptop gaming. Gue seumur-umur hanya tau fast charging hanya buat hape. Lu baru denger juga kan laptop ada yang punya fitur fast charging? ”
“Seriusan lu? Gue baru tau juga sih. Yah tapinya, Ji. Laptop yang punya spesifikasi kayak gitu mah, pasti tebel. Gue males bawa laptop yang berat-berat gitu, enggak praktis. Bikin pegel bawanya”  
“Ada kok laptop yang spesifikasinya persis layaknya laptop gaming, tapi bobotnya cuman 2kg, dan ketebalannya hanya 1.92mm, karena memang udah enggak ada tempat cd-rom nya. Kalo lu sering menggunakan cd-rom, mungkin ini bisa jadi kekurangannya sih. Makanya kerjaan lu jangan jalan sama gebetan mulu, tapi jadian kagak”
“Ehehehe… Kampret yak lu. Kalo yang soal cd rom sih, masih bisa diakalin kok”
Disisi lain, temen gue, Temon, sedang sibuk mempersiapkan bara api. Serta bingung sendiri cara mengambil bensin yang ada di motor temennya.
“Ini bantuin gue woi, anying. Mau makan doang lu pada. Yang punya bensin lebih, motornya sapee nih. Ambilin bensinnya dong”


“Merk laptop yang gue maksud itu Asus Vivobook N580VD. Design alumunium dari laptop ini makin bikin elegan, cuy” lanjut gue ke Adit.
“Bentar, ini laptopnya beneran tipis? Kan kerjaan gue banyak, Ji. Bakalan cepet panas dong kalo gitu”

“Dia udah dilengkapi sama Dual Fan. Bakalan efektif banget untuk mengeluarkan panas. Lu enggak usah khawatir kalo laptop ini bakalan cepet panas. Kipasnya sudah otomatis akan menyesuaikan suhu internal, dan kipas laptopnya punya dua pipa panas untuk mengusir panas dengan efiesien dan gak bakalan berisik bunyi kipasnya. Ditambah lagi RAM laptop ini sudah 8gb DDR4 yang lebih cepet 33% dibandingkan DDR3. Kerjaan lu yang banyak itu bakalan jadi lebih mudah karena Ramnya yang sudah cukup banget. Dan tentunya elu enggak perlu ngeluarin uang tambahan buat beli Ram lagi, Dit”


“Wah, sabi juga nih laptop”
“Yaudin, sekarang bantuin si Temon dulu gih. Kasian tuh, mukanya tambah mirip gembel kena asep mulu”
**
Gue baru sadar, disini gue bisa terbuka dengan teman-teman tongkrongan.  Ketika di Mesir gue lebih sering menghabiskan waktu untuk jalan sendiri atau ditemeni sama adek gue. Jarang ngobrol bareng hal-hal seperti ini dengan teman-teman gue yang cowo. Paling pas ketika mabar Mobile Legend doang. Tapi sama makhluk-makhluk ajaib ini, gue bisa terbuka. Enggak takut di nilai seperti apapun, karena toh gue juga sudah kenal mereka.
“Ayo dah mulai makannya. Laper gue anjir” kata Zaim.
“Bentar, Nyet. Itu si Ali belom dateng. Lagi di jalan bentar lagi sampe katanya” Temon menanggapi.
“Yaelah. Oii Kopi, ini password Laptop lu apaan, dengerin Via Vallen dulu dah. Daripada dengerin Icul nyanyi” teriak Zaim ke Adit yang lagi sibuk memukul meja karena kalah di permainan Mobile Legend.
“Buset dah, panjang amat password lu”
“Bacot”
Gue sendiri akan melakukan hal yang sama seperti Adit, menuliskan password yang panjang untuk laptop gue. Alasannya biar enggak sembarangan dipake sama orang lain untuk menonton film. Tapi keribetan itu enggak akan gue alami lagi, dan akan sirna dengan laptop Asus Vivobook N580VD, karena sudah ada fitur sensor sidik jari.  Dengan hanya menempalkan jari, langsung terbuka menuju Windows 10. Bakalan asik banget. Memori penyimpanannya pun diberikan dua. Ada SSD sebesar 128gb yang pastinya lebih cepat ketimbang HDD, yang nantinya bisa digunakan untuk keperluan Windows dan beberapa apliksi seperti Photoshop. Serta HDD berkapasitas 1TB untuk menyimpan segala dokumen, video ataupun games.  
“Ji, kalau layar laptop yang lu bilang tadi gimana? Gue kurang suka layar laptop gue, enggak enak banget buat iseng-iseng edit foto atau video. Apalagi buat nonton” Kata si Adit sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Abis kalah ya lu? Langsung udahan gitu mainnya. Hahaha”
“Temen-temennya pada beler. Males gue. Buang-buang bintang doang”
“Layarnya ini punya hardware dan software yang memang mengoptimalkan performa visualnya. Panelnya FHD dengan teknologi Wide angel, dan udah ada software yang mendukung kinerja layar ini. Salah satunya ada yang namanya fitur Eye Care Mode yang sengaja dirancang menghindari cedera pada retina mata. Fitur ini digunakan untuk keperluan kita para user untuk penggunaan dalam waktu yang lama. Itu baru satu, masih banyak lagi fiturnya, Dit”


“Gebetan gue aja ga peduli dengan kesehatan dompet gue. Kalah gebetan gue ini mah sama laptop”
“Sini gue peluk, Dit”
“Gue gampar lu kalo beneran, Ji. Udah lah makan dulu, si Ali udah dateng tuh”


**
“Kopi, speaker lu gimana dah nih. Suaranya pelan banget” teriak Zaim. Gue juga bingung kenapa si Zaim tengah malem gini masih doyan teriak-teriak. Masih ada keturunan manusia serigala kayaknya.
Memang benar, speaker dari laptopnya si Adit ini lebih pelan ketimbang suaranya si Icul yang sedang asik bernyanyi. Pantesan ngamuk si Zaim. Nanti ketika gue mempunyai laptop ini, kekhawatiran itu akan hilang. Karena laptop ini dilengkapi dengan audio yang dikembangkan bersama oleh Harman Kardon. Suaranya dua kali lebih kencang ketimbang laptop biasa. Gue ngeliat Harman Kardon Aura aja, salah satu produk mereka, ngiler sendiri. Apalagi laptop ini dikembangkan oleh produk yang sama. Gue enggak sabar banget sih nonton video di laptop ini. Bakalan betah seharian tanpa keluar kamar nih. Nonton One Peace bareng-bareng temen yang lain bakalan seru nih.
Atau nonton diruangan gelap, sambil selimutan, dan sesekali mengelap air mata yang keluar ketika nonton film korea. Waduh, ngebayanginnya aja bisa senyum-senyum sendiri. Kalo udah capek nonton dan ingin nulis ataupun berselancar di dunia maya, gue enggak akan typo lagi. Karena sudah ada fitur backlight keyboard berwarna putih. Dan dengan itu gue enggak perlu menyalakan lampu kamar, yang nantinya malah mengganggu teman sekamar gue yang sedang asyik tidur.
Main Spec.
ASUS VivoBook Pro N580
CPU
Intel® Core™ I7 7700HQ  quad-core 2.8Ghz TurboBoost 3,8Ghz
Operating System
Windows 10 Home
Memory
8GB DDR4 2400MHz SDRAM
Storage
1 TB + 128GB SSD
Display
15,6” (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) Glare Panel with 100% sRGB
Graphics
Nvidia GTX 1050 VRAM 4GB GDDR5
Input/Output
1 x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 1 x Fingerprint (On selected models), 1 x HDMI, 1 x USB 3.0 port(s), 1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 2 x USB 2.0 port(s)
Camera
VGA Web Camera
Connectivity
Integrated 802.11a/b/g/n/ac (WIDI Support), Bluetooth V4.1
Audio
Built-in Stereo 1.6 W Quad-Speakers And Digital Array Microphone
ASUS SonicMaster Premium Technology Harman Kardon
Battery
3 Cells 42 Whrs Battery
Dimension
(WxDxH) 361.4 x 243.5 x 17.9 mm
Weight
2 Kg with Battery
Colors
Rose Gold, Royal Blue, Quartz Grey
Accessories
Exclusive Sleeve, Mini Dock
Warranty
2 tahun garansi global


**

"Jadi gimana, Dit? Lu coba-coba aja baca atau nonton seputar teknologi gitu. Atau subcribe para youtuber teknologi. Oh sama satu lagi. Pastiin laptop yang lu beli itu sudah dilengkapi dengan Windows 10 bawaan yang original, biar enggak perlu download driver-driver lagi. Dan juga nantinya bisa memaksimalkan performa laptop ini, seperti Windows Heloo, Asus Splendid, dan lainnya, Dit" Ucap gue ke Adit sambil mencuci tangan.

"Iya nih kayaknya gue harus update seputar teknologi juga. Gue subscribe di channelnya Asus Indonesia dulu deh kalo gitu biar tau informasi terbaru. Mantan gue yang dulu kan jadi brand ambasadornya Asus"

"Siapa? Tatjna Saphira?"

"Iye. Wkwkwkw"

"Hahaha tay"

*

#Asus #Vivobook #Pro15 #N580VD 

Saturday, 20 January 2018

Berselancar di padang pasir

Salah satu hal yang paling menyenangkan traveling di Timur Tengah yang terkenal dengan banyaknya padang pasir adalah Sandboardingnya. Gue masih enggak percaya, dengan berat badan yang mirip badak seperti ini, papan selancarnya masih bisa bergerak jauh di pasir. Oh sebagai catatan, Sandboarding itu akan selalu dari tempat tinggi menuju tempat rendah. Bukan sebaliknya. Itu bukan Sandboarding, melainkan sedikit penyiksaan duniawi bagi diri gue yang punya berat badan berlebih.

Yang di upload di Instagram
Realitanya

Gue suka dengan Sandboarding, bahkan lebih suka tiap melihat orang yang jatuh berguling-guling saat berselancar. Paling bahagia banget, karena dengan itu gue akan selalu melakukan,
*gulung lengan kaus
*menyipitkan mata memastikan keberadaan orang yang sedang jatuh
*mengambil nafas panjang
Kemudian meneriaki,
“MAMPUS LU”
Tapi beneran, Sandboarding itu asik. Terlebih lagi kalau tempat untuk berselancarnya tinggi. Sejauh ini, gue baru menemukan tempat Sandboarding dengan ketinggiannya yang kurang lebih 20an meter. Perjuangannya untuk bisa sampai ke tempat berselancar itu enggak mudah, dan enggak sulit juga sebetulnya. Tapi yang paling terasa adalah pegel, dan sedikit khawatir badan ini akan kejengkang ke belakang dengan posisi kepala yang terkubur di pasir.
Kejengkang ini bahasa Indonesia kan ya?




Setiap langkah kaki kita akan membuat jejak di pasir, bahkan beberapa kali harus merasakan kaki kita terpendam sejenak didalam pasir, dan akan selalu seperti itu sampai puncak. Setelah sampai puncak, kita akan menuju ke tempat yang lainnya. Bukan di tempat yang telah ada jejak kaki kita, tetapi ke tempat yang masih bersih dan memang untuk berselancar.
Tau alasannya kenapa?
Karena ketika nanti berselancar, jarak selancar kita enggak bisa jauh. Ya penyebabnya jejak kaki kita itu tadi. Biasanya sebelum mulai berselancar, ada satu orang membawa lilin, bukan untuk ngepet, tapi untuk nantinyakan digosokkan ke papan bagian bawah, agar papan yang kita gunakan licin dan bisa membawa kita lebih jauh lagi.



Gue sangat amat bersyukur karena masih bisa diberikan segala kenikmatan ini. Setiap perjalanan itu pasti punya arti tersendiri bagi para individu. Gue sampai sekarang, masih belum tau kenikmatan mendaki gunung, karena belum pernah mendaki gunung. Berysukur atas segala hal yang  ada, nanti akan ditambah oleh Allah. Bener enggak?
Beberapa tempat di Mesir sudah masuk ke daftar destinasi yang akan gue kunjungi di tahun ini. Dan sepertinya ingin mencoba hal baru selain Sandboarding. Nah kalo lu sendiri gimana?