Sunday, 10 September 2017

Perempuan asing

Enggak tau kenapa, sifat gugup gue setiap bertemu dengan perempuan muncul lagi. Padahal gue kira, sifat gugup ini udah gue kubur dalam-dalam sejak empat tahun yang lalu. Ternyata, masih ada sisa-sisa yang tertinggal.
Di Mesir, perlahan sifat ini sudah mulai hilang pelan-pelan. Gue sudah enggak gugup ketika bertemu dengan perempuan. Sudah enggak kejang-kejang setiap pandangan mata gue bertemu dengan mereka. Pokoknya lancar-lancar aja gitu. Engga sampai ke titik ketika ditanya,
‘Eta saha?’
‘AING MAUUNG’
https://i.ytimg.com
Enggak. Enggak sampai kesurupan. Gue juga ga paham bahasa sunda.
Tapi ketika awal-awal liburan, sifat itu kembali lagi. Di Indomarket yang sedang sepi pembeli, ketika gue ingin membayarkan barang yang akan gue beli, tiba-tiba punggung serta jidat gue mengeluarkan keringet saat  bertemu dengan kasirnya. Padahal pendingin ruangannya nyala. Dan kasirnya pun bersikap biasa aja. Enggak godain gue juga. Emang gue nya yang telat puber sih ya, jadinya kayak gini. Ketemu sama perempuan, gugup. Ketemu sebentar, keringet dingin. Untung aja saat ketemu perempuan, gue enggak sampai teriak-teriak ‘AIING MAUUUNG’.
Dan mungkin cerita ini merupakan kisah pertama kali gue bertemu dengan perempuan asing yang gue ajak obrol sepanjang perjalanan dari Jogja menuju Jakarta. Gue sering naik transportasi umum, tapi baru kali ini bisa ngobrol lancar dengan orang asing. Apalagi sama perempuan.
Entah suatu keberuntungan atau kesialan, ketika mendapati tempat duduk yang tertera di tiket diduduki oleh perempuan. Bukan satu. Tapi tiga. Dua didepan serta satu disamping gue.
‘Eh, masnya duduk disamping jendela kan ya?’
‘Oh engga usah, mbak. Mbak duduk disitu aja’
Gue enggak mau terlihat cupu. Gue masih enggak bisa membayangkan kalau gue duduk dipojok, kemudian sekelilingnya para perempuan yang enggak gue kenal. Muka gue bakalan memerah? Enggak tau sih ya, kulit gue kan sawo mateng, kalau beneran berubah kayaknya agak enggak mungkin juga kan.
Kalau beneran berubah, jadi mirip tomat kali ya, bentuk muka bunder gini.
Empat jam perjalanan, gue masih sibuk dengan diri sendiri. Sibuk membuka berbagai aplikasi yang padahal mah enggak ada yang menghubungi gue juga. Main game, sinyalnya ilang-ilangan. Mau nonton pertandingan Indonesia melawan Vietnam, hanya berakhir dengan baca komenan orang-orang, dan videonya enggak menyala sama sekali.
Didepan gue ada dua perempuan, yang menurut gue masih anak SMA atau mahasiswa baru. Gue enggak tau juga. Yang gue tau setelah memperhatikan mereka, mereka saling kenal, bahkan masih ada beberapa temannya yang duduk dibelakang bangku mereka. Gue sama sekali enggak bertanya kepada mereka, karena mereka pun sibuk dengan dunianya sendiri. Lebih suka memperhatikan layar kecil yang dipegang oleh kedua tangannya. Terkadang jari-jarinya bergerak di layar, terkadang pula tertawa bersamaan dengan kencang, dan sesekali teriak-teriak ke arah temannya yang duduk di bangku belakang mereka sambil berdiri di bangku mereka.
Tapi ketika pemeriksaan tiket oleh petugas, tawa mereka menghilang. Digantikan oleh raut wajah mereka yang panik, serta kata-kata ‘mutiara’ yang keluar dari mulut mereka.
‘Tiket sama elu kan?’
‘Tadi kan sama elu, nyet. Gue engga dikasih apa-apa’
‘Yang bener lu, setan! Gue tabok lu kalo boong’
https://i.ytimg.com
Satu dari mereka jongkok dibawah. Nungging tepatnya. Berusaha mencari tiket dibawah tempat duduk. Yang satunya lagi mengambil tas yang berada diatas tempat duduk. Bongkar-bongkar, enggak ketemu juga. Wajah mereka mulai panik, setelah sadar bahwa sebentar lagi giliran meraka yang akan diperiksa oleh petugas.
Rasanya ingin gue bisikin kedua orang ini,
‘Mampus. Makanya kalo ketawa jangan muncrat-muncrat, su’
‘Kalo ngomong, santai aja engga usah sampe bediri di bangku’
GIla. Jahat banget gue.
Raut wajah panik mereka hilang, setelah petugas menyuruh mereka menunjukan identitas mereka tanpa tiketnya. Ya tiketnya hilang, gimana mau nunjukin? Setelah petugas pergi, mereka kembali seperti semula. Teriak-teriak.
Harapan gue agar mereka berhenti bicara, akhirnya tercapai. Ketika mereka memasang headset di hapenya. Tapi, wajah senang gue menghilang setelah musik yang mereka nyalakan terlalu keras, sehingga sampai terdengar oleh sekitarnya. Sial L
Setelah capek tidur, dan melihat dua orang didepan gue telah pergi entah kemana, barulah gue bisa leluasa mengajak ngobrol perempuan yang duduk disamping gue.
Ternyata dia sedang melanjutkan kuliah S2 nya di Jogja. Double degree. Satunya di UGM dengan jalur beasiswa, dan satu lagi di UII. Gue kagum loh, ada perempuan yang seperti ini, yang masih asik menikmati perkuliahan. Ketika gue tanya lebih lanjut, ternyata dia sempat mengikuti ujian untuk masuk ke kampus gue, tapi belum lulus.
Yang gue nikmati dari obrolan dengan perempuan ini karena gue dapet pencerahan dari sudut pandang baru.
‘Kamu lanjut S2 di Inggris aja nanti’
‘Sekarang fokus aja belajarnya, nanti setelah lulus kamu bisa mengambil kelas untuk jadi hakim’
‘Atau engga kamu buka konsultan aja’
‘Nikah bukan ajang lomba cepet-cepetan kok’
‘Suami saya sekarang S2 di Amerika. Saya engga mau kalah lah, makanya saya juga ambil S2. Walaupun didalam negri. Hehe’
‘Dunia kerja itu ribet. Lebih baik kamu latih skill kamu, mumpung masih kuliah’
‘Dua cewe yang duduk didepan kita, kenapa enggak di usir aja ya sama petugasnya tadi. Hahaha’
Ternyata hal yang gue takuti, ngobrol dengan orang asing terutama perempuan, engga seburuk yang gue bayangkan. Buktinya gue malah mendapatkan gambaran prospek pekerjaan dari jurusan yang gue ambil sekarang. Walaupun nantinya engga ada jaminannya juga sih, tapi seengaknya gue perlahan ada gambaran. Bego ya, masa kuliah tapi enggak tau prospek pekerjaannya nanti? Karena orangtua gue selalu berkata kepada anak-anaknya,
‘Enggak usah takut. Urusan jodoh, rezeki, mati, udah ada yang ngatur. Fokus kerjain apa yang kamu hadapi saat ini, jangan lupa berdoa ya’
Tapi asli sih, mungkin ini pengalaman pertama yang akan selalu terkenang. Ternyata apa yang gue takuti, enggak seseram dengan yang gue gambarkan di kepala. Bicara dengan orang asing itu ternyata cukup menyenangkan, ya selama nyambung aja sih. Ah, tau gitu udah gue praktekin dari tahun-tahun sebelumnya.
Sekian curhatannya.
Oh.
Dan dua perempuan yang duduk didepan gue, mucul kembali. Bahkan sepertinya, obrolan mereka akan lebih kencang serta lebih muncrat-muncrat karena mereka baru saja selesai makan. Oke siap. Harus bisa menahan diri, untuk enggak berkata kasar kepada dua makhluk itu J
hasu

Wednesday, 30 August 2017

Reuni pondok

Minggu kemarin akhirnya gue bisa main jauh. Ke luar kota. Mungkin nanti tulisannya akan gue pecah-pecah menjadi beberapa tulisan. Supaya makin banyak aja postingan di tahun ini. Percuma tiap tahunnya bayar domain, tapi jumlah postingan engga sebanyak sebelum-sebelumnya.
Kurang lebih hampir empat tahun gue engga berkunjung ke Ponorogo. Kota yang punya banyak sejarah dalam hidup gue. Karena setelah lulus dari sekolah dasar, bokap langsung melemparkan gue ke kota Reog ini. Gue jadi inget masa-masa dimana gue harus mengantri berpuluh-puluh orang untuk sekedar mendapatkan jatah makanan, masa dimana setiap jam lima sore di isi dengan diri gue yang sedang terburu-buru lari ke masjid tanpa menggunakan alas kaki, karena sandal gue raib tepat lima menit sebelum gue berangkat ke masjid.
Duh… ngomongin masa-masa gue di pondok pesantren itu seperti engga akan ada habisnya. Ada aja aib yang pernah gue lakukan ketika masih jadi santri.
Baru kali ini, gue mengunjungi  pondok bukan dengan status sebagai santri, melainkan sebagai alumni. Sebagai MahaSantri. Ketika melihat kegitan yang dilakukan oleh santri-santri, sering kali akan gue bandingkan disaat gue masih menjadi santri. Betapa enaknya mereka, dan betapa sengsaranya gue dulu saat menjadi santri. Betapa banyaknya gedung-gedung baru di zaman mereka. Dan betapa sedihnya ketika dulu saat gue mandi bukan menggunakan gayung, tapi malah menggunakan piring. Itu pun juga dengan sabun yang sudah di oper-oper ke orang lain.






Alasan gue ke pondok kemarin, karena saat itu akan berlangsung pertunjukan yang dilakukan oleh para siswa akhir. Setara dengan anak kelas tiga SMA.  Dan juga, banyak dari angkatan gue dulu yang berkunjung ke pondok, sekalian bikin reuni kecil-kecilan.
***
Sesak. Meriah. Pedagang. Kawan lama. Sempurna.
Kata-kata itu mungkin yang paling cocok menggambarkan malam pertunjukkan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika pertunjukkan seperti ini, masyarakat Ponorogo banyak yang mendatangi pondok, untuk sekedar melihat pertunjukkan walau hanya sebentar. Lapangan basket, telah berubah fungsinya menjadi tempat parkir yang padat dengan motor-motor. Anak kecil, orang yang sedang berpacaran, orangtua wali santri, semuanya menjadi satu. Semuanya menikmati pertunjukkan. Sedangkan gue malah sibuk sendiri mencari tempat duduk, karena saking banyaknya orang yang hadir di malam itu.
Beberapa pertunjukkan yang ditampilkan mengingatkan gue saat menjadi santri. Terlebih ketika tarian Malulo dengan lagunya yang berjudul Sajojo. Gue engga yakin dengan judulnya, tapi yang gue dengar yaa kata itu. Saat itu gue engga merasakan demam panggung sama sekali, dengan santainya joget kekanan dan kekiri. Karena untuk apa juga demam panggung? Toh di panggung itu bukan hanya gue seorang diri, dan lagipula pandangan mata gue yang hanya bisa melihat kabut bukan para penonton. Gue seperti joget di langit. Joget diantara awan-awan. Joget diatas burung elang.
Oke sip.
Engga nyambung, nyet!
Acara pentas seni itu ditutup dengan pertunjukkan band. Ketika si vokalis asik nyanyi, para teman-temannya yang lain menaiki panggung. Rame, gaduh, dan untung saja panggungnya tidak rusak. Meriah banget, gue pun sebagai penonton sempat menitikan air mata. Entah berapa banyak orang yang telah menginjak kaki gue. Orang-orang sudah beriringan pulang, dan tidak memperdulikan penilaian dari juri serta dari bapak pengasuh pondok.
Gue engga inget nilai setiap acara, tapi secara keseluruhan, acara pentas seni ini diberikan nilai 9.42 oleh para juri. Tapi penilaian bapak pengasuh berbeda. Acara ini diberikan nilai 10.5. Gokil. Pak Hasan sebagai pengasuh pondok juga sempat bernyanyi bersama siswa akhir sebelum memberikan penilaian.





***
Setelah acara selesai, gue menjumpai banyak teman-teman angkatan gue yang terdahulu. Nama angkatannya Pioneer. Bentuk badan mereka mungkin berubah, tapi tidak dengan sifat hangat yang mereka miliki. Kenangan-kenangan yang terdahulu pun muncul lagi. Betapa pemurahnya meraka menawarkan tempat tinggal, ketika gue singgah di daerah mereka. Betapa baiknya teman gue yang meminjami gue motor untuk nge-date sama cewe. Duh, entah kenapa gue kangen mereka. Karena menerima diri gue dengan apa adanya, tanpa berbicara dengan nada yang menyakitkan.
Sekarang ini dengan bertambah umur diri gue, malah semakin bersikap apatis. Selalu berfikiran bahwa, urusan gue ya urusan gue, urusan elu ya urusan elu. Padahal sejatinya gue hanyalah manusia yang butuh bantuan orang lain. Mungkin gue telah banyak bertemu orang-orang yang telah mengubah diri gue sehingga menjadi apatis dan tidak terbuka seperti ini. Tapi setelah malam itu, gue sadar bahwa nilai-nilai pondok yang telah diajarkan selama di pondok, sekarang pun harus masih dilakukan. Ya salah satunya bersikap baik dan saling tolong-menolong orang lain.
Syukron katsiran, zamanan pernah taalum disini. Syukron katsiran Gontor.

Tuesday, 8 August 2017

Menerima

Menurut gue, hal paling mudah untuk dilakukan selain ngupil adalah menyalahkan orang lain. Sepertinya gampang aja gitu kan, menyalahkan orang lain. Padahal yang sebetulnya salah adalah diri kita sendiri. Seperti contohnya, ketika gue sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang, tiba-tiba kendaraan yang berada di posisi depan gue rem mendadak, gue akan dengan mudahnya menyalahkan pengemudi tersebut. Padahal kalau di teliti lagi, mungkin saja pengemudi tersebut memberentikan kendaraannya karena yaaa memang disitu tempat parkirnya. Gue nya aja yang bodoh ngebut di tempat parkir.
Sama seperti kejadian kemarin di jalanan Jakarta.
Sebuah motor melaju dengan cepat di jalur berlawanan, niatnya untuk mendahului kendaraan yang ada didepannya. Mungkin karena pengelihatan motor ini hanya terfokus untuk mendahului kendaraan didepannya, sehingga dia tidak melihat sebuah mobil yang sedang melaju cukup cepat dari arah berlawanan. Kemudian apa yang terjadi?
Apakah pengendar motor itu buru-buru memperlambat lajunya? Oh enggak. Yang dilakukan oleh pengendara motor itu adalah membuka kaca helmnya, kemudian kepalanya bergerak kebelakang, lalu dengan cepat memajukan kepalanya sambil mengeluarkan air dari mulutnya tepat ke kaca mobil. Mantap kan? Yang mengambil jalur orang padahal si pengendara motor tersebut loh, tapi dia lebih galak. See, betapa mudahnya menyalahkan orang lain?
Asumsi gue, air yang keluar dari mulut pengendara tersebut adalah ludah. Tapi kalau menurut kalian air itu adalah kuah soto, ya enggak apa-apa juga.
**
Sepertinya gue punya sifat seperti itu. Lebih mudah menyalahkan orang lain, ketimbang intropeksi diri. Sifat ini seharusnya sudah lama gue tinggalkan, karena sepertinya engga ada manfaatnya untuk diri sendiri.  Kenapa baru sadarnya sekarang ya?
Karena hal ini lah, sepertinya gue susah untuk menerima lingkungan baru. Gue selalu menyalahkan orang lain, merasa diri ini paling benar. Kenapa engga mencoba berada di posisi orang yang lain. Melihat dari sudut pandangnya. Kalau sekiranya memang diri kita yang salah, kita yang meminta maaf. Bukan malah menyalahkan orang lain. Pantes aja temen gue sedikit. Tiap ada orang yang ingin mencairkan suasana malah gue berfikiran negatif. Menganggap dirinya sebagai sosok manusia yang sok asik.
Aduh bego banget sih, mat.
Sama seperti pribahasa yang bunyinya,
‘Gajak di pelupuk mata tak tampak. Semut di seberang lautan tampak’
Yah, semoga  Fauzi di masa depan tidak melakukan hal ini lagi. Lebih banyak belajar untuk menerima, dan bukan menyalahkan orang lain.

Monday, 31 July 2017

Pengendara motor di Mesir

Ketika tiba di Jakarta kemarin, cukup banyak hal yang berubah. Sepengelihatan gue ya. Mulai dari jalanannya yang semakin tinggi, tanah kosong yang telah berganti menjadi apartemen, kemudian ojek online. Tapi ada satu hal yang tetap sama, kemacetan di Jakarta. Bahkan sepertinya tambah macet ya? Atau engga? Ya gue engga tau pastinya juga sih.
Di Mesir, gue sering mendengar berita tentang ojek online. Teman-teman gue yang pernah pulang, juga beberapa kali bercerita tentang hal itu. Tentang kendaraan alternative di kala macet, bisa memudahkan untuk memesan makanan, bisa sebagai bahan upload di instastory.
Gue cukup kangen juga, melihat kendaraan motor yang begitu banyaknya di Jakarta. Terlebih ketika lampu merah, para pengemudinya sudah masang posisi paling depan. Dan ketika lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau, mereka seolah menjadi pembalap yang harus mendahului lawan-lawannya. Tapi setelah gue merasakan berkendara dengan motor di Jakarta, sepertinya gue enggak kangen-kangen banget. Biasa aja. Malah gondok sendiri.

http://industri.bisnis.com
Sebenernya gue jarang melihat pengendara motor di Mesir. Karena memang jumlah kendaraan di Mesir lebih banyak mobil daripada motor. Dan biasanya mahasiswa disana menggunakan bis ataupun angkot sebagai alat transportasi. Karena murah. Walaupun mental para supirnya engga bener juga, karena selalu membawa kendaraannya ngebut dan bikin para penumpangannya ingin berkata kasar. Pokoknya kalau naik, pegang tasbih kecil aja deh. Banyakin istighfar sama shalawat. Kalau pun sudah disuruh pelan-pelan sama ibu-ibu, tetep cuek aja dia. Selow banget lah hidupnya. Mungkin pikirannya, ‘Semasa bodo sama perkataan orang. Gue enggak peduli. Yang penting gue engga ketinggalan serial India favorit gue’. Mungkin seperti itu.  
Motor di Mesir tipenya engga jauh-jauh dari Vespa, motor ber-cc besar yang bentuknya mirip mainan di timezone. Tipe lainnya sih ada, tapi gue jarang lihat. Para pengemudinya pun juga engga ada tuh yang menggunakan helm. Kalaupun ada yang menggunakan helm, paling para mahasiswa asing, bukan penduduk Mesir asli. Tapi meskipun begitu, para pengemudi motor disini jiwa kebersamaannya cukup besar. Kalau di Indonesia, orang-orang menggunakan headseat ketika berkendara, itupun dengan kepala yang dimasukkan helm, kalau disana berbeda. Mereka memasang speaker dibagian depan motor, kemudian menyalakan musik keras-keras. Mereka melakukan itu semua dengan kondisi sadar kok. Menurut mereka, hal seperti itu gaul. Tapi menurut gue, lebih baik pengemudi seperti itu disambit pake batu aja. Kalau engga ada batu, boleh pake pasir, botol minuman. Kalaupun lu cukup ikhlas melempar sepatu milik lu ke mukanya, it’s okay. Lempar aja. Pastiin kena mukanya.

http://homershine.blogspot.co.id
Gue sebetulnya engga ada masalah dengan hal itu. Meskipun lagu yang diputar, engga familiar di telinga gue, engga apa-apa kok. Mau lagu dangdut Mesir pun, enggak masalah. Selama dia berkendara dengan baik, dan engga berenti dibawah flat rumah gue. Itu aja kok. Suara musiknya itu kenceng banget men. Beneran. Yang tadinya sudah lepas kaus dan sedang tidur depan kipas angin, untuk menghilangkan hawa panas diluar rumah, bertemu dengan pengemudi laknat seperti itu, rasanya pengen loncat kebawah, kemudian nyundul muka pengemudinya sampai pingsan. Siapa tau, ketika bangun dia lancar bahasa Indonesia, kemudian mengganti musiknya dengan lagu-lagu Kahitna. 
Seandainya saja bisa seperti itu.
Gue bisa nyanyi bareng sama pengemudinya.
Aiih… Jijik sendiri gue, membayangkan hal itu beneran terjadi.

Saturday, 22 July 2017

Duhai kuota internet...

Sudah sebulan gue liburan. Sebulan, gue nggak mendengar teriakan ammu penjual es tebu yang menyuruh untuk mampir di kedainya, ataupun teriakan ammu supir angkot yang menyuruh gue untuk memasuki kendaraannya. Kalau gue piker-pikir lagi, ternyata orang sana memang senang menyuruh-nyuruh ya. Tetangga, bukan. Mertua, bukan. Sembarangan aja nyuruh-nyuruh. Tapi kenapa gue nurut-nurut aja ya(?)
Tapi ada satu hal dari Mesir yang membuat gue ingin kembali kesana. Makanan? Tentu makanan disini jauh lebih enak di lidah gue. Pacar? Kayaknya nggak usah kita bahas tentang itu ya. Laa astahiq ana pek, huhuhu. Ammu-ammu yang gue sebut tadi? Oh tentu saja bukan. Pelajaran? Iya, tapi yang gue bahas bukan itu. Yang gue ingin bahas adalah betapa mahal dan ribetnya paketan internet di Indonesia.
http://downloadlogovektorgratis.blogspot.co.id

Ketika masa-masa UAS di kampus kemarin, gue sempet baca berita tentang dibajaknya situs proveider Indonesia. Tulisannya lucu, tapi menurut gue agak berlebihan. Tapi setelah gue merasakannya sendiri, gue setuju sama tulisan si hackernya. Kalau gue kenal sama hacker nya, gue peluk deh tuh. Mahal atau enggak, mungkin itu berbeda-beda untuk setiap orang. Tapi yang enggak gue mengerti, kenapa ribet banget sih paketan internetnya.
Kemarin, gue memilih untuk menggunakan provider telpon sejuta umat. Provider telpon yang mempunyai menara BTS banyak. Provider telpon yang juga digunakan oleh kedua orangtua gue. Jadi nggak perlu takut mahal kalau nelpon orangtua karena masih satu provider. Tau kan? Enggak tau? Yang warna merah itu loh. Udah tau kan? Udah? Nah iya itu.
Awalnya gue paketan yang 4GB, bonus 4GB untuk 4g. Seharusnya paketan itu habis untuk sebulan, tapi hanya perlu 3 hari, gue bisa menghabiskan kuota itu. Aneh? Enggak kan? Iya engga aneh sih, gue nya aja yang terlalu boros. Keseringan stalking cewe taksiran di Instagram.  
Setelah gue cari-cari lagi, ternyata ada paketan yang menyediakan kuota 45GB. Tapi sama seperti yang gue bahas diatas. Ribet! 45GB itu ternyata dibagi-bagi. 5GB untuk 3g, kemudian 10GB untuk 4g. kalau enggak salah. Engga tau kenapa, kok sepertinya 4g lebih mulia ketimbang 3g ya. Terus bagaimana nasib orang yang mempunyai hape, tetapi belum bisa 4g-an? Kenapa ribet kayak gitu ya. Apa itu hanya perasaan gue saja? Belum lagi ada sekian GB untuk tengah malam. Iya, kuota paling banyak ya ketika tengah malam itu.  Baru kali ini gue niat begadang, supaya bisa merasakan kuota internet. Hina banget. Bukannya digunakan untuk tidur, kemudian bangun di sepertiga malam untuk sholat tahajud, ini malah internetan. Goblok.
Dari 45GB itu ada juga kuota internet yang bisa di gunakan untuk streaming film. Padahal gue lebih sering nonton Youtube. Lebih sering nonton tutorial instalasi game di komputer. Lebih sering nonton review hape mahal yang nggak bisa gue beli. Lebih suka nonton pemakaian hijab. Gue memang suka nonton, tapi lebih baik kuota internetnya bukan digunakan untuk hal itu. Yang lebih berguna mungkin. Kuota internetnya dialihkan ke aplikasi Instagram, supaya gue bisa lebih leluasa stalking cewe taksiran gue. 
Kayaknya lebih engga berguna ya?
http://rhinetex.com

Dan gue baru tau juga, ternyata kuota yang gue biasa beli itu, engga bisa dibeli sama temen gue. Padahal kartunya sama. Katanya, karena kartu gue itu baru, makanya bisa menggunakan paketan tersebut.
Di Mesir nggak seribet itu. Dari yang gue rasakan. Kalau dapet jatah kuota 12GB, dipakai kapan pun bisa kok. Mau 3g, 4g, bisa. Jadi enggak ada alasan begadang supaya bisa menggunakan jatah kuota internet tengah malam.
**
Sesampainya di Jakarta, gue sudah engga punya minat lagi untuk main Mobile Legend. Padahal game ini yang bisa mengalihkan perhatian gue dari stalking cewe taksiran di Instagramnya. Tapi ketika disini, semua berubah. Sinyal yang muncul di layar hape gue, kuat. Bar-nya penuh. Tulisannya 4g. Tapi kenyataannya malah berbeda. Permainan yang seharusnya saling menghancurkan tower musuh ini berakhir dengan jagoan gue yang lari di tempat, kemudian tiba-tiba sudah mati. Wasu! Kalau terus-terusan main game ini, gue takut kena darah tinggi deh. Bukan asik nyerang tower musuh, malah asik teriak-teriak sendiri sambil banting hape.
http://www.mobandroid.web.id
Yaaah…
Yaudahlah ya. Ini mungkin hanya secuil hal yang engga gue suka ketika berada di Indonesia, tapi masih buanyak kok hal-hal yang bisa gue nikmati dari negri ini. Engga guna juga karena satu hal kecil ini bisa merusak mood diri gue seharian, lebih baik fokus untuk menikmati berbagai hal-hal menyenangkan yang engga ada di Mesir. Bener kan?  
Kayak misalnya, ketemu dengan cewe yang gue taksir itu.
Siapa tau bisa.

Sapa tau.  
Amin.

Saturday, 15 July 2017

Ahlan Syawwal!!



Setelah dua tahun lebih merasakan lebaran serta puasa di negri orang, akhirnya bisa menikmati suasana Ramadhan di tanah kelahiran. Walaupun hanya merasakan 5 kali berbuka bareng keluarga, gue bersyukur kok. Sebetulnya, gue berencana untuk pulang dari Kairo sebelum H-3 lebaran, tapi si adek menolak mentah-mentah. Katanya, terlalu lama. Udah kangen sama ibu dan bapak. Kangen kolak bikinan ibu. Kangen ketemu temen-temen. Gue juga kangen. Tapi enggak tau juga, kangen sama siapa.
Seminggu tinggal di Indonesia, rasanya bobot berat badan bertambah lagi. Setelah bersusah payah mengurangi makanan, rutin olahraga, menjaga pola hidup sehat dengan tidur tepat waktu dan bangun selalu kesiangan, sesampainya di Indonesia gue enggak tahan juga tuh dengan makanan bikinan ibu. Padahal sejatinya, ibu yang maksa gue untuk menurunkan berat badan ketika di Mesir. Ibu menyuruh seperti itu, agar ibu bisa termotivasi juga untuk menurunkan berat badannya. Tapi ketika sudah sampai di Indonesia, kenyataannya berbeda.
Seperti kemarin, ketika ibu menyuruh gue untuk bergegas mandi agar tidak terlambat shalat Ied, beliau sedang asik makan dodol betawi. Ketika di Tanya kenapa pagi-pagi sudah asik makan dodol, jawabannya ‘Ini supaya mamah semangat shalatnya, Zi. Cobain deh dodol Betawi, enak banget loh, di Mesir kan nggak ada’ itu sudah pilihan ibu, kalau nanti gue singgung tentang berat badan ibu, bakalan di cap anak badak yang durhaka gue, dan bisa-bisa muka yang pas-pasan ini di kutuk jadi lebih serem. Duh, muka yang sekarang aja enggak ngangkat, masa di kutuk jadi lebih serem.

Huhuhuhu.

http://www.indofoodstore.com/bakso
Tapi skill memasak ibu, enggak ada duanya. Masakan buatan ibu masih tetap enak, dan sukses bikin celana gue yang sebelumnya sedikit longgar, sekarang berubah membuat diri gue tersiksa ketika mengenakan celana. Hal ini memang sudah sering terjadi semenjak gue tinggal di pondok. Ketika pulang liburan pondok berbadan kurus, dan setelah sebulan berada di rumah, gue layaknya ibu-ibu yang sedang hamil 7 bulan. Ah semasa bodo amat sama perut gendut, yang penting lebaran saat ini masih bisa mencicipi masakan buatan ibu.
Berbeda dengan ibu, bapak sekarang ini berusaha ingin terlihat menjadi gaul didepan anak-anaknya. Setelah selfie bareng keluarga, bapak langsung mendekati Faizah sambil berkata, ‘Zah, bapak mau juga dong di Instagramin’. Sebagai anak yang mengerti maksud si bapak, adek gue langsung mengerjakan hal tersebut. Mencari foto yang kira-kira paling bagus, di edit sedikit kemudian upload di Instagram si bapak. Melihat bapak bahagia foto-fotonya sukses ter-posting di Instagram, gue jadi enggak enak bilang ke bapak bahwa foto-fotonya enggak ada yang nge-like.   

Enggak masalah bagi gue ataupun adek gue untuk mengajarkan bapak atau ibu menggunakan Instagram atau pun Whatsapp. Karena nantinya hal itu merupakan cara agar kami para anak-anaknya bisa selalu terhubung dengan orangtua. Cukup dua itu saja lah. Gue sama sekali nggak berharap bapak sama ibu mengenal aplikasi Musically ataupun Smule. Apalagi Bigo. Jangan sampe. Duh ngebayanginnya aja bikin jijik sendiri!
Lebaran kali ini rasanya berbeda. Sodara-sodara datang ke rumah membawa pasangannya. Keponakan yang sebelumnya berbadan mungil, sekarang gede banget kayak babon. Dan bahkan banyak keponakan baru. Beberapa dari mereka meminta oleh-oleh dari Mesir, dan setiap kali ada yang minta pasti gue pura-pura nggak denger. Bukannya pelit, tapi ya karena emang gue nya enggak mau ngasih aja. Enggak bisa digunain juga uang Mesir untuk beli fidget spinner. Dan ada pula, saudara yang sudah telah tiada di lebaran tahun ini. Waktu memang sangat cepat berlalu. Waktu, kemudian juga ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut, hal-hal itu lah yang memang tidak akan bisa di ulangi kembali.   
Ketika saudara-saudara datang ke rumah, komentarnya selalu sama, ‘Wiiih, Fauzi jadi kurus gini. Tambah tinggi lagi. Mukanya mirip-mirip kayak anak onta’. Sekarang mulai sadar kan, kenapa hampir tiap tulisan yang gue bikin selalu ada kata-kata sindirian untuk badan gue. Tau kan alasannya? Ya karena dulu badan gue terlalu besar jika dimiliki oleh satu orang. Dan untuk ucapan orang yang menilai tampang gue mirip anak onta, tengkyu banget sob.

http://yanoutofthebox.blogspot.co.id
Hhhhh


***
Lebaran kali ini ibu menyiapkan bakso untuk saudara-saudara yang akan datang ke rumah. Bapak juga sibuk memotong melon untuk nantinya dijadikan es buah. Faizah sibuk menyiapkan batu es. Disini gue paling sibuk. Di saat semua orang melakukan kegiatan yang gue ceritakan itu, gue sibuk memikirkan hal apa yang seharusnya gue kerjakan. Gue baru sadar setelah diteriaki oleh ibu, ternyata gue hanya harus membuka pintu rumah supaya orang-orang bisa masuk ke dalam rumah.
Setelah gue fikir ulang, ternyata pekerjaan gue yang paling ringan. Paling enggak berguna juga malah.
Ibu salah mengatur strategi. Jumlah saudara yang datang ke rumah ternyata lebih banyak dari perkiraan. Mungkin ibu lupa, bahwa keponakan-keponakannya sebagian besar telah mempunya istri maupun suami dan memiliki anak. Dari segi jumlah saudara-saudara yang akan datang, ibu sudah salah menghitung. Belum lagi, orang-orang yang nantinya akan menambah jumlah bakso.
Gue santai saja, karena sempat melihat ibu menyimpan beberapa buah bakso di kulkas, jatah untuk keluarga gue makan. Tapi setelah dapat laporan dari adik, gue enggak bisa santai lagi. Karena bakso simpanan itu telah di rebus, bersama bakso-bakso lain.
Bentar.
Kalian ngerasa cerita bakso ini penting enggak sih? Kayaknya enggak penting kan ya? Kita lewatin aja oke? Ending dari cerita bakso ini happy ending kok. Gue masih bisa icip satu atau dua bakso kok.
Ketika pembagian THR, gue enggak terlalu peduli. Buat apa juga? Badan segede ini masa masih berharap dikasih THR. Lebih baik gue membantu ibu menyiapkan mangkok bakso. Ditambah lagi sepupu gue yang dulunya teman TK merangkap menjadi teman TPA, sekarang sudah kerja, dan dengan santainya membagikan amplop kepada para saudara-saudar. Termasuk gue. Entah kenapa, tapi sakit aja gitu hati ini.
Bapak paling antusias di moment lebaran ini, karena setiap gue dikasih uang THR, bapak ingin memfoto gue dan memposting di Instagram miliknya. Bukan hanya ketika gue dikasih THR aja, ketika saudara-saudara gue berebut bakso, bapak malah lebih asik memfoto ekspresi muka mereka. Walaupun pada akhirnya, hasil fotonya enggak ada yang bagus, tapi bokap masih seru aja memfoto keadaan sekitar.





Akhirnya rasa rindu yang di tahan dari tahun-tahun sebelumnya, hilang juga di tahun ini. Kalau mau tau rasanya rindu, cobalah untuk merantau sekali-kali. Nantinya akan sadar betapa nikmatnya masakan buatan ibu, betapa anehnya bertemu dengan teman dekat yang jarang di temui, betapa gondoknya ketika sadar bahwa harga paketan internet disini lebih mahal ketimbang di tanah rantau.
Oh iya mumpung masih bulan Syawwal, mohon maaf lahir dan batin yaa. Maaf kalau tulisan ini terlalu banyak nyelenehnya ketimbang manfaatnya. Dan satu lagi, gue mau tau, kira-kira kalau gue bikin lomba yang hadianya berupa oleh-oleh khas Mesir, ada yang mau ikutan nggak ya?

Thursday, 20 April 2017

Kehebatan serta romantisnya Raja Mesir

Akhir bulan lalu, akhirnya kesampaian juga gue mengunjungi sisi lain Mesir. Kalau biasanya gue hanya menetap di Kairo ataupun Alexandria saja, kemarin akhirnya gue bisa pergi ke ujung Mesir bagian lainnya. Kalau kalian liat peta yang ada dibawah, gue hanya menginjakan kaki gue di dua kota di bagian atas selama dua tahun tinggal disini. Nah, di perjalanan kemarin,  gue berhasil pergi ke kota Luxor, Aswan, Abu Simbel, dan juga Hurghada.

http://kids.britannica.com
Akhirnya, resolusi yang gue buat di awal tahun kemarin, ada yang tercoret juga. Tinggal menurunkan berat badan aja nih, yang masih belum tercoret dari tahun 2015. HASU!!
Kali ini gue cerita satu tempat dulu. Sabar ya. Mengembalikan mood buat nulis susah-susah-gampang soalnya nih.
Heuheu.
Kali ini gue akan cerita tentang Abu Simbel.
Jarak dari Kairo menuju tempat yang penuh bersejarah ini, lama. Banget. Mungkin karena gue sudah jarang naik bis antar provinsi, kekebalan pantat gue untuk duduk lama-lama di bis mulai nggak sehebat dulu. Perjalanan ini sebenernya asyik-asyik saja, tapi karena jarak antar kursinya yang sempit, membuat gue beberapa kali berhasil membuat orang-orang hampir terjatuh. Ya karena sepanjang perjalanan, gue meletakkan kaki gue di jalur orang lewat. Makanya nggak heran, sering kali ada yang berteriak,
“Eee”
“Du aduh”
“Eee ayam ee ayam”
“Dibantu ya, yuk sama-sama bilang”
“Bimsalabim jadi apa prok-prok-prok”
“Yak, topinya berubah jadi anak kingkong!!”
Lah kenapa malah jadi sulap.
Ini sejak kapan ada pak Tarno di rombongan gue?!!
Okeh lanjut!
Ketika pertama kali memasuki kawasan ini, kita akan menemukan sebuah kuil yang dibuat oleh sang raja untuk persembahan bagi dewa. Di Mesir, biasanya raja disebut dengan sebutan Ramsis. Ada Ramsis satu, dua, tiga, sampai berapa gitu. Gue nggak tau. Kalau mau lebih jelas, coba langsung main kesini aja ya. Bawa sambel terasi yang banyak. Disini jarang ada yang jual. Kalau pun ada yang jual, harganya mahal uy.
Biaya tiket masuknya hanya 65Le. Sekitar 50.000 rupiah. Harga itu sudah di diskon dari harga aslinya, karena kita menggunakan kartu pelajar. Kalau mau pakai kartu puskesmas, kartu perpustakaan, kartu undangan nikah orang lain, boleh-boleh aja. Tapi nggak ada gunanya juga sih. Kecuali kamu punya skill seperti pak Tarno yang bisa merubah-rubah benda, boleh-boleh aja.  
Tempat yang gue kunjungi saat ini merupakan peninggalan Ramsis ke-dua. Sebenernya, bangunan kuil ini bukan berada disini. Bangunan itu dipindahkan dari tempat aslinya kesini. Untuk alasannya, gue pun belum tau juga. Oh iya, si Ramsis dua ini, telah memimpin Mesir hingga berpuluh-puluh tahun lamanya loh.

Kalau kalian lihat di fotonya, disitu ada empat patung yang sedang duduk. Tiga dari mereka adalah sosok dewa. Dewa Heliopolis, Memphis dan juga Thebes. Dan yang satu lagi adalah sosok si Ramsis dua itu. Dia menyamakan dirinya sendiri seperti para dewa-dewa, karena dia merasa telah memimpin Mesir dengan sangat lama. Kalau gue sih, ogah menyamakan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang tuh ada keistimewaan masing-masing. Bersyukur atuh, akhi/ukhti. Bukan malah menyamakan diri sendiri dengan orang lain. Ada yang suka bermain sulap, kayak pak Tarno. Dan ada yang suka menghabiskan jatah makanan orang lain, kayak gue. Terimalah perbedaan itu, khi.
LAH KAGA NYAMBUNGI, SU!
Yang keren dari kuil ini, jadi ada hari dimana sinar matahari bisa masuk sampai kedalam bangunan kuil. Untuk tanggalnya, nanti gue update lagi deh, kalau inget ya. Hehehe. Ruangan didalam kuil ini cukup luas, kira-kira butuh gojek lah untuk bisa mengitari seluruh ruangan. Boong deng. Didalam kuil ini tidak ada benda-benda aneh kok. Hanya patung-patung, tulisan Hieroglif yang menghiasi setiap dinding-dinding, serta beberapa ruangan kosong.
 Sampai sekarang gue masih nggak paham loh dengan tulisan Hieroglif itu. Kalau kalian ada yang paham nggak?



**
Pernah denger cerita Roro Jongrang yang dibuatkan candi? Nah, disini ternyata ada juga. Tepat disamping bangunan ini, terdapat kuil yang dibuat oleh Ramsis dua, persembahan untuk dua istrinya. Salah satu istrinya bernama Nefertari. Bentuk kuil ini sama seperti kuil yang sebelumnya, yang membedakan hanyalah patung yang berada didepan kuil. Kalau kuil sebelumnya patungnya sedang duduk, kalau kuil yang ini patungnya sedang berdiri. Ruangan dalamnya, sama juga kok.  



Selain sifatnya yang menyamakan dirinya sendiri dengan para dewa, ternyata Ramsis dua ini romantis juga ya. Sampai bikin kuil semegah ini untuk istrinya. Kalau gue disuruh bikin candi atau kuil, kayaknya berat sih. Kalau hanya disuruh beli martabak, insyaAlllah kuat lah. Beli dua? Dua martabak? Oh bisa. Dua lusin? Oh tentu. Tentu gue nggak akan mau beli. Buang-buang duit doang, njir. Jadi tay juga nantinya.
Pedagang yang jualan disini, terbilang gila. Air mineral yang biasanya 4Le, disini bisa mencapai 20Le. Mahal banget. Allahu Akbar. Sebagai salah satu mahasiswa yang berjiwa ‘pokoknya murah’, gue nggak akan membeli air itu. Lebih baik gue duduk di bis dengan tenang, buka Instagram, sambil menunggu salah satu temen gue membeli air itu. Selagi bisa malak minuman orang lain, kenapa harus beli?
Lah.
Bagi kalian yang ingin mendatangi tempat ini, gue menyarankan agar membawa kacamata serta sorban. Karena apa? Ya biar keliatan keren aja gitu. Terlebih lagi, jika kalian kesini di musim panas. Harus banget bawa kacamata hitam. Ketika masuk ke tempat ini, gue banyak menjumpai para pengunjung, yang bukan orang Mesir, sedang asik berfoto ria dengan menggunakan gamis plus sorban. Totalitas banget kan? Oh iya, dan jangan lupa, bawa air minum ya!
**
Dan sekarang pertanyaannya, kira-kira kalian berniat mengunjungi tempat ini nggak?
Yang gue tau, kalau menginginkan suatu hal, tulis saja dulu. Kalau perlu, print fotonya. Dan jangan lupa berdoa. Pasti akan tercapai kok.

Wednesday, 5 April 2017

Gym dan wangi 'semerbak'

Saat ini gue sedang menikmati rutinitas baru, berupa olahraga angkat beban. Sebetulnya bukan sebuah rutinitas baru, sudah hampir enam bulan yang lalu gue melakukan kegiatan ini. Alasan gue rutin mengikuti olahraga itu supaya berat badan gue berkurang. Supaya nggak kelihatan gendut-gendut amat kalau diajak foto bareng. Supaya kalau diajak lari, ya gue nggak sampai ngesot juga lah, karena susah lari. Supaya nggak makan tempat, ketika duduk di bangku bis atau di Tramco(sebutan untuk angkot Mesir). Udah itu aja, sesederhana itu saja kok tujuan gue untuk pergi ke Gym. Tetapi kenyataannya....
FAAAAK!! SUSAH BANGET, HASU!!

Salah gue juga sih, tiap makan ngambil porsi yang seharusnya untuk tiga orang, tapi gue makan sendiri.  Yah, kalau seperti ini terus, sepertinya panggilan Tomat untuk diri gue nggak akan hilang. Kalau mau tau kenapa gue dipanggil Tomat, bisa baca disini ya.
Bertemu dengan orang-orang yang latihan disini sebenernya hanya membuat diri gue minder. Tiap ketemu orang, badannya keker banget kayak badak. Otot tangannya seolah ingin keluar dari kaus yang sempit itu. Kayaknya makin kekar seseorang, makin sempit kausnya. Benar nggak sih?
Tapi selain bertemu dengan orang-orang yang seperti itu, banyak juga kok orang-orang rese yang berada di Gym. Kayak gue kemarin,
Jadi gini...
Hari selasa kemarin gue latihan Deadlift. Kalau yang nggak tau, coba liat gambar yang dibawah ini ya. Latihan paling bikin cepat membuat badan capek, menurut gue. Tapi Alhamdulillahnya saat itu, Gym sedang sepi. 
www.reddit.com

Ketika sedang setengah mati mengangkat barbel, ada sosok manusia dengan kaus berawarna hijau menyala, dengan kulit berwarna gelap asik melihat gue sambil tertawa. Gue paling salah tingkah kalau ketemu makhluk seperti itu. Perasaan, gerakan gue nggak salah deh. Celana gue pun nggak melorot. Kaus yang gue pakai juga biasa aja, nggak ada tulisan Ana mus murtabit.
 Btw, arti Ana mus murtabit itu kayak ‘Gue jomblo nih’. Iya, kayak gitu.
Ketika gue sedang istirahat, si makhluk kampret itu kemudian menegur orang lain yang sedang latihan. Dia bilang kalau gerakannya itu salah. Bebannya kurang berat. Atau apalah. Masih banyak loh orang sotoy plus sok asik kayak gini di Gym. Kalau gue perhatiin, si makhluk kampret ini nggak latihan apa-apa. Kerjaannya hanya menegur orang lain saja, sambil duduk santai.
**
Sesi latihan gue hari ini ditutup dengan latihan Bicep Curls. Gue sekarang sedang mengikuti program latihan dari Brodibalo Hardy, kalau kalian mau tau seputar fintess bisa ke situs dia disini ya. Biasanya kalau udah selesai latihan seperti ini, gue akan buru-buru keluar dari gym, dan langsung pulang. Tapi ketika di locker room gue bertemu dengan si makhluk kampret ini lagi.
Masih sama seperti tadi, pembawaan dia sok asik.
Dia duduk di bangku depan gue, sedangkan gue sedang sibuk sendiri mengganti pakaian serta celana. Pertanyaan dari makhluk ini nggak jauh-jauh dari,
“Nama kamu siapa?”
“Kamu dari negara mana?”
“Nama presiden kamu siapa?”
“Nama saya siapa hayo?”
“Coba tebak” 
Hampir semua pertanyaannya hanya gue jawab dengan kata “heem” “heem”.
Mungkin karena kesel nggak dapet respon yang diinginkan, dia bangkit dari bangkunya, kemudian duduk manis disamping gue.  Sambil mengulangi pertanyaannya kembali.
“Siapa presiden kamu?”
“Jokowi”
“Oh Jokowi”
Sebenernya mendengar orang-orang Mesir menyebutkan kata-kata ataupun nama-nama yang berciri khas Indonesia itu lucu loh. Tapi si makhluk kampret ini pengecualian.
Eh, bentar. Kok ketika si makhluk kampret ini duduk samping gue jadi bau kambing ya.
Ah, mungkin perasaan gue aja.
“Kalau kamu asalnya darimana?” kata gue, berusaha menanggapi obrolannya.
“Oh, kalau saya sih dari Eropa” katanya.
Nah, mulai kecium lagi nih baunya. Tapi darimana ya.
Tapi gue kurang percaya sih. Terlebih ketika dia berusaha berbicara dengan bahasa Inggris.
 “ahs@33bkfq” katanya.   
“Ha?”
Inta tafham enjlisi wala laa? Kalim enjlisi (baca: Lu paham bahasa Inggris nggak? Ngomong pake bahasa Inggris aja)” 
Ternyata bau kambing itu beneran ada. Baunya berasal dari mulut makhluk ini. Yaa Lahwi.
Ayyua ana fahim (baca: Iya, gue paham)” kata gue sambil nahan nafas.
“sfabhk%&#” kata dia lagi. Sampai air liurnya keluar dari mulutnya.
“YE ANJIR. LU NGOMONG INGGRIS DAERAH MANA ITU SETAN” Bau banget mulut lu, syu.
Kalim arobi bas (baca: Udah lah, pake bahasa Arab aja lah)” kata gue lagi. Tentunya sambil nahan nafas.
Ahh, inta laa tafham enjlisi (baca: Yah, Lu nggak paham Inggris sih ya)
ARRGHH. BAU BANGET KAMBING MULUTNYA, HASU. Udah bau, ngatain gue nggak bisa bahasa Inggris. Sebahagia dia aja lah udah.
Karena kepala gue mendadak pusing, mungkin karena menghirup bau mulutnya kali ya, gue menyudahi obrolan itu.
Harapan gue di hari esok nanti, semoga orang selanjutnya yang bertemu dengan makhluk kampret itu, punya bau mulut yang lebih ‘SEMERBAK’. Amin.