Monday, 28 December 2015

Perjalanan aneh yang mengasyikan

Sepertinya, baru di Mesir ini, gue hobi naik angkutan umum. Entah itu dari bis, tuk-tuk ataupun trem. Dan kayaknya, semua mahasiswa di Mesir merasakan hal itu juga sih. Niatnya ingin naik mobil mewah nan gagah, tapi apalah daya. Yang bisa kita lakukan adalah menanti bis di halte pinggir jalan. Udah gitu, bisnya rame. Bau ketiak semua. Nggak tau deh, itu bau ketiak orang lain, atau dari tubuh gue sendiri. Kayaknya sih, bau ketiak mereka. Eh, sebentar… gue kayaknya terakhir mandi hari selasa minggu kemarin deh. Apa jangan-jangan itu badan gue kali ya? Bodo ah. Auk amat.
Tapi, kemarin-kemarin ini gue sempet naik kereta. Kereta Mesir. Asli Mesir. Seriusan deh. Dan rasanya, emm… ada yang aneh tapi nikmat gitu.
Jadi gini, selasa kemarin, iya, tepat terakhir gue mandi itu, gue pergi ke Alexandria untuk mengikuti acara maulid yang ada terletak disalah satu masjid disana. Sebetulnya nggak direncanakan juga sih. Ketika gue masih nikmat tidur, si Afif menarik selimut yang gue gunakan, kemudian berkata,
“Ji. I lop yu. Muaah muaah”
Nggak deng. Nggak sehina itu juga kok.
“Ji, lu nggak kemana-mana kan? Jaga rumah ya”
Sambil mengumpulkan jiwa yang masih melayang-layang, gue menjawab,
 “Elu emangnya mau kemana ha?”
“Alex, mau maulidan. Mau ikutan?”
Sebelum gue menjawab, si Arif datang menghampiri kemudian dengan santainya berkata,
“Nggak. Fauzi jaga rumah dia. Iya kan, ji?”
“Yee, Penyu lu. Siapa bilang gue jaga rumah. Gue ikutan sih. Dih sok asik lu. Joget dulu sana gih dah”
**
Sampainya di stasiun, ternyata banyak teman-teman lainnya yang bertujuan sama seperti kita. Mereka hendak pergi ke Alexandria. Jam menunjukkan pukul 11.10 , tandanya masih ada waktu lima menit lagi sebelum kereta sampai di stasiun. Ternyata yang pergi kesana bukan hanya para teman cowo-cowonya saja, gue menemukkan teman-teman perempuan gue yang juga sedang menunggu kedatangan kereta. Seandainya menanti jodoh sama halnya seperti menunggu kereta, kayaknya enak gitu ya. Ah, seandainya. Emm… kira-kira, gimana kabar jodoh gue yang jauh disana itu ya? Sekarang dia lagi ngapain ya? Apa jangan-jangan dia lagi tanding PES sama temen-temen cowonya ya?
Ketika asik ngbrol-ngobrol sama teman yang lainnya, kereta pun tiba. Kereta yang gue tumpangi ini, sama halnya seperti KRL yang ada di Jakarta.  Kita hanya beli tiket, untuk urusan tempat duduk, itu urusannya sendiri-sendiri. Dan yang nggak kebagian tempat duduk, yaa harus sabar berdiri dulu.
Makanya, ketika kereta masih jalan dan belum berhenti di stasiun, orang-orang berjuang dengan sekuat tenaga. Mereka lari, kemudian masuk di salah satu gerbong, kemudian duduk manis di tempat duduk yang masih kosong. Kayaknya gampang gitu ya? Tapi aslinya, nggak seperti itu kok.
Ketika gue melihat para orang-orang Mesir berlari-larian untuk dapat memasuki kereta, gue dan teman-teman pun juga nggak mau ketinggalan. Kita lari juga dong. Nggak mau kalah. Biar kayak di film-film gitu, yang adegan kejar-kejaran di kereta.
Salah satu temen gue, Avi, dia juga berlari menghampiri kereta. Kemudian memegang besi yang ada disamping pintu gerbong, lalu dengan sekuat tenaga dia mengangkat badannya. Tidak berhasil. Dia tidak berhasil masuk. Percobaannya sampai tiga kali, juga tidak membuahkan hasil. Tragis. Gue pribadi kasian dengan Avi, tapi hati gue juga ingin menendang makhluk itu. Soalnya makin lama, gerbong itu datang kearah gue. Dan Avi, masih saja gelendotan di besi. Naik kaga, jatuh mulu iya. Kalo kayak gitu, gimana gue mau pegangan sama besi itu, wong besinya dipegang sama Avi. Kambing.
Tapi Alhamdulillah, nasib gue sedang mujur. Gue berhasil naik.
“YEEEESSSS!! GUE BISA. MERDEKA!!” teriak gue dalam hati.
Ketika melihat kedalam, ternyata penuh. Iya. Penuh. Semuanya. Nggak ada kursi kosong sama sekali. Dan bau ketiak. Kali ini bukan bau dari badan gue, kan tadi pagi gue udah mandi. Lalu, gue ingat akan suatu hal,
Astagfirullahaladzim. Kan tiket gue sama Afif. Orangnya kaga ada lagi. Kambing. Ntar gue disuruh turun pas ditengah jalan. Nggak lucu ah”
Setelah berdesak-desakkan dengan penumpang lain, akhirnya ketemu juga manusia itu. Meskipun berdiri, tapi setidaknya gue nggak di usir nantinya. Mata gue memandang se-isi gerbong. Penuh. Bahkan ada yang tidur diatas. Iya, ditempat yang biasanya untuk menaruh barang-barang itu. Kereta Mesir memang penuh dengan perjuangan.  Agak bingung sebetulnya, kalo mereka tiduran diatas situ, terus orang-orang akan menaruh barangnya dimana coba? Egois banget ih.
“Ji, itu masih kosong tuh. Mau disitu nggak lu? Ntar keburu diambil orang lain” kata Afif.
“Iya bentar. Inih gue mau loncat”
Haap!!
Voila, ada kingkong tiduran diatas para penumpang-penumpang lain.
Inih kenapa labil banget sih gue LL
Perjalanan dari Kairo-Alexandria adalah sekitar 5 jam. Dan Alhamdulillah, gue tidur diatas situ kurang lebih tiga jam. Enak. Nikmat. Tapi kalo difikir lagi, sepertinya hanya gue yang non-Mesir yang tiduran diatas sana. Dan paling besar kayaknya. Malu sendiri gue, tapi mau lagi. Eheuheuheu.
Mungkin itu perjalanan paling aneh, tapi mengasyikan yang pernah gue alami sejauh ini. Semoga nanti bisa lebih aneh lagi. Bhak.


Thursday, 10 December 2015

Hai

Hai
>> Minggu-minggu ini merupakan minggu sibuk untuk gue dan mahasiswa-mahasiswa Azhar lainnya. Biasa lah, bulan depan ujian sih. Dan karena sebelum-sebelumnya (mungkin) terlalu santai menanggapi perkulihan, jadi yaa sekarang ini lah sibuknya. Tapi dibandingkan ujian terakhir gue di pondok dulu, sepertinya ujian disini biasa aja. Lebih ekstrim ujian ketika gue di pondok dulu sepertinya.
Ketika kalian 3 SMA ujian apa aja?
Flashback dikit. Ujian di pondok gue dulu dibagi tiga. Pertama, ujian praktek mengajar. Kedua, ujian lisan. Ketiga, ujian tulis. Materinya? Semua pelajaran dari pertama kali masuk pondok. Alhamdulillah, gue nggak sampai gila kok. Nggak sampai gue sundul juga, ustad yang bikin soal. Tapi ketika dulu, gue kenapa semangat banget ya belajarnya. Dan ketika telah sampai disini, malah santai-santai aja. Apa karena dulu di pondok, gue dikelilingi oleh para laki-laki semua, sehingga bisa fokus belajar?
Emm.. kok agak geli gitu yaa bahasanya. (( DI-KELILINGI-LAKI-LAKI ))
Tapi bener sih,  disini lebih banyak yang difikirkan ketimbang di pondok dulu. Selain kuliah, masih ada hal-hal lain yang musti difikir. Entah itu organisasi, pengaturan keuangan, belajar masak, dan persoalan cinta.
Kadang agak aneh sih, kalo ada orang yang curhat permasalahan cintanya ke gue. Mereka minta solusi kepada orang yang tidak tau menahu apa itu cinta.
Ngerasain pacaran juga belom sempet, nyet!
Tapi sepertinya...
Gue merasakan jatuh cinta deh. Kayaknya sih.
Nggak sampai ngungkapin juga. Gue nggak seberani itu juga kok. Hanya sekedar secret admirer cupu, sama seperti sebelum-sebelumnya lah. Ketika zaman gue masih bego-bego nya, kalo naksir seseorang gue akan rajin nge-chat. Tapi sekarang udah nggak gitu juga kok. Siapa gue, berani nge-chat? Lebih enak seperti ini juga sih, memperhatikan dari jauh, hanya bisa menyebut namanya seusai shalat, memperhatikan senyumannya. Meskipun gue tau, dari cerita teman-temannya bahwa dia pernah beberapa kali jalan bersama orang lain. Bahkan makan dengan orang yang sama.
Sebenernya egois nggak sih, jatuh cinta sendiri seperti ini? Ini egois atau bodoh?
Hmm
>> Akhir-akhir ini gue malah sering membayangkan diri gue sedang berada di rumah, di Jakarta sana. Sedang  menaiki mobil di kawasan yang biasanya macet setiap pagi dan sore hari, karena kawasan itu merupakan jalur menuju kantor.  Meskipun kondisi jalanan yang macet seperti itu, gue masih bisa bernafas lega. Setidaknya masih ada suara radio yang setia menemenai perjalanan gue, dan tentunya batrai hape gue masih banyak.
Ada adik gue yang bercerita dengan semangat dari arah belakang. Menceritakan tentang teman-temannya, tentang cowo yang ditaksirnya. Obrolan ghibah. Gosip-gosip gitu. Yah, namanya juga cewe. Ntar kalo dimarahi ujungnya,
Cowo : “Udah lah, nggak usah dibahas”
Cewe : “Kok kamu gitu?”
Cowo : “Iya, maap. Nggak sengaja. Keceplosan”
Gue yang marahin, gue juga yang minta maap.
Kemudian ketika sampai ditempat tujuan, gue dan Faizah, adik gue, berjalan perlahan memandangi isi mall. Meyakinkan diri, bahwa kita telah berada di Jakarta, bukan di Mesir. Langkah kaki kami membawa ke kedai kopi, yang letaknya tidak jauh dari bioskop. Duduk dibarisan paling belakang, tepat disebelah kaca besar yang menampakkan berbagai jenis orang-orang yang berlalu-lalang. Pasangan muda-mudi yang sedang bergandengan tangan, seorang ayah yang sedang sibuk membersihkan pakaian anaknya dari sisa makanan, kemudian pandangan gue tertuju kepada lima orang wanita yang sedang asik tertawa, sambil sesekali seorang wanita dibarisan itu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Wanita itu mengenakan kerudung silver mengkilap, berbalut kemeja hitam serta dipadukan dengan celana jins. Kakinya beralaskan Converse berwarna abu-abu senada dengan warna krudungnya.
Tanpa menunggu lama, gue pergi meninggalkan Faizah yang sedang asik menikmati Moccachino hangatnya. Tangan gue sesekali mengatur letak rambut gue agar terlihat lebih rapi, meskipun gue tau hal itu sia-sia. Kemudian dengan sendirinya, membetulkan posisi gelang di tangan kiri, serta jam tangan pemberian nyokap, di tangan kanan. Langkah kaki gue semakin cepat, mengejar rombongan wanita-wanita yang sempat gue lihat dari dalam kedai kopi.
Gue memanggil nama gadis berkrudung silver itu, sambil lari menghampiri. Kemudian mengatakan,
“Hai”
“Kamu, apa kabar?”
**
Kayaknya cukup deh khayalan gue.