Wednesday, 1 February 2017

Nikmatnya nge-teh plus Sandboarding di tengah gurun

Bangun pagi di tengah gurun itu rasanya asik-asik semeriwing. Masih terasa aneh sih, ketika bangun tidur yang didapati bukan tembok, selimut, rak sepatu, melainkan sinar bulan yang perlahan-lahan menghilang digantikan dengan cahaya matahari. Biasanya, kalau bangun yang dilalukan kemudian adalah pergi ke kamar mandi. Tapi di gurun beda. Harus jalan dulu menuju batu besar, melawan angin yang berhembus lumyan dingin, kemudian melakukan segala aktifitas entah itu buang air kecil ataupun air besar besar di belakang batu tersebut. Belum lagi, kalau misalnya ada kumpulan para cewe-cewe yang di pagi hari sudah berpose untuk berfoto, mau nggak mau harus pergi ke batu yang lain.
Dasar wanita.
Pagi-pagi bukannya bersih-bersih malah foto-foto. Lipet sleeping bag punya cowo kek gitu, bikinin teh hangat, sapu-sapu gurun gitu, siapa tau ketemu harta karun. Dasar wanita.
Hih.
Kzl.
Lah, ngapa jadi ngondek dah lu, nyet
Ketika matahari mulai beranjak naik, sudah nggak ada lagi yang tidur. Begitu pun dengan gue. Biasanya kalau di rumah, jam segini masih tidur nyenak, masih bisa bermimpi jalan berduaan dengan cewe yang di taksir. Tapi di tengah gurun ini berbeda, gue beserta teman-teman yang lainnya mencari tempat asik buat foto-foto. Intinya pagi hari ini, semua orang sibuk dengan kameranya masing-masing. Semasa bodo dengan sleeping bag yang belum dilipet itu.
Yang penting pagi ini gue harus terlihat seperti cowo yang rajin bangun pagi didepan para cewe-cewe. Udah itu aja.
Salah satu hal menyebalkan di pagi hari ketika di tengah gurun itu, adalah ketika mendapati perut yang semalam baik-baik saja, mendadak pagi ini minta setoran. Setoran buang air besar. Alhamdulillah bukan gue yang merasakan hal itu, melainkan teman gue yang lain. Nggak tau kenapa, gue seneng aja nulisnya.
“Eh, gue mau BAB dibelakang, lu jagain biar nggak ada orang yang lewat”
“Sip. Jangan lupa gali pasirnya dulu, abis itu tutup lagi”
“Iya, berisik lu ah”
Analoginya kayak ada satu orang yang jagain lilin, terus yang satu lagi sedang asik ngep...
Ah, nggak enak lanjutin kalimatnya.
Gue kira, setelah bangun pagi, gue beserta rombongan yang lain langsung pergi menuju destinasi selanjutnya, ternyata nggak. Para supir-supir sedang menata meja-meja, menaruh selai roti, serta memanaskan air, yang nantinya akan kita nikmati. Baru kali ini, pagi gue diisi dengan hal yang begitu meneyenangkan. ­nge-say (baca: minum teh) di tengah padang pasir. Aduh, harus nyobain lah kalian-kalian ini, khusunya para pelajar-pelajar yang ada di Mesir.



Perjalanan selanjutnya menuju tempat paling iconic dari padang pasir ini. Bahkan benda ini sampai dilingkari sebuah pagar bikinan. Di tulisan gue sebelumnya, gue pernah bilang kalau tempat ini dulunya adalah sebuah lautan. Dan batu-batu yang gue bilang itu, merupakan batu laut, atau karang laut. Pokoknya yang ada didasar laut gitu lah. Gede banget cuy batunya. Liat aja deh foto-fotonya.







**
Sekarang matahari sedang terik-teriknya. Persediaan air minum pun juga sudah mulai habis. Dan perjalanan kali ini kita dibawa menuju ke padang pasir lainnya. Tapi tenang, tempat terakhir ini nggak kalah serunya.
Ketika telah sampai di tempat pemberhentian, yang gue saksikan didepan mata gue ini sudah bukan lagi batu-batu karang. Melainkan sebuah pasir yang menutupi sebuah bukit. Bukit pasir? Gunung pasir? Aduh, pokoknya pasirnya tinggi gitu lah. Nggak tau juga deh, kalau ada onta yang lewat tempat itu, kuat atau nggak. Tapi kemarin gue kuat kok. Alhamdulillah yaa~
Para supir mengeluarkan sebuah papan selancar, serta lilin. Guna lilin itu untuk membuat papan selancarnya licin kok, bukan untuk ngepet. Sebetulnya, gue nggak begitu tertarik juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan papan luncur. Tapi sepertinya, kalau gue melakukan hal ini, berarti gue telah mencoba untuk menaklukan rasa takut gue akan ketinggian. Harus nyoba!


Tapi bentar...
Ini pasirnya tinggi banget loh.
Apa harus banget naik? Tapi kalau nggak nyoba, bakalan rugi dong.
Hal terburuk yang akan terjadi kalau gue jatuh ketika berselancar, paling hanya celana dalem gue yang dipenuhi oleh banyak pasir. Ah gitu doang mah gampang.
Yang menyebalkan dari sandboarding ini adalah naiknya yang lama, turunnya yang hanya sekejap mata. Kampret. Papan selancar ini hanya ada empat buah, jadi ada empat orang yang akan naik menuju tempat yang paling atas. Nah, kalau mau tau gue yang mana, nah itu tuh yang selalu di posisi terakhir ketika naik, itu gue. Tapi ketika turun, biasanya gue yang mendarat paling depan. Mungkin karena hukum gravitasi kali ya.

Ginian doang mah, bisa gue.

TAY



Sebahagianya aja dah mau gaya kayak gimana


Walaupun perjalanan ini hanya dua hari, tapi kenangannya akan abadi di hati.

Cie gitu.