Monday, 16 January 2017

Bermalam di tengah gurun pasir

Selama gue tinggal di Mesir, belum pernah sama sekali gue berkemah di tengah gurun. Dan gue rasa, masih banyak mahasiswa di Mesir yang belum merasakan sensasi tidur di tengah gurun. Tapi, di bulan November kemarin, gue resmi menjadi anak gurun sejateee. Gue sudah tidur tepat di tengah gurun, dibawah sinar bintang-bintang, dikelilingi oleh bebatuan yang entah lah itu bentuknya mirip-mirip dengan orang yang bilang, “Kita nggak usah pacaran ya, tapi kalau kamu mau kemana-mana, hubungi aku aja ya” sama-sama nggak jelas. Dan dengan ini gue merasa lebih keren ketimbang kalian, duhai anak masisir yang belum pernah tidur di tengah gurun.
Dasar cupu!
Nggak deng. Opening gue becanda. Jangan serius gitu lah anak kuda.
Jadi gini..
Perjalanan kali ini, gue berangkat tidak sendiri. Gue nggak se-gila itu juga, untuk menginap di tengah gurun sendirian. Kalau gue di patok sama Anakkonda, cerita ini nggak akan kalian baca. Ya kan? he he he.
Oke, lanjut!
Jadi petualangan kemah ini, diikuti oleh gue serta tiga puluh orang lainnya, yang terdiri dari para anggota grup Whatsapp. Kenapa banyak? Ya suka-suka lah. Kenapa banyak nuntut sih kayak Nitizen.
Sewot amat, nyet
Tepat pagi hari, di hari yang telah di tentukan, kami berkumpul didepan kedai penjual jus-jus buah. Pagi itu toko-toko masih sepi, begitu pula dengan kedai penjual jus. Jalanan Kairo di pagi hari itu nggak seramai seperti jalanan di Jakarta, yang pagi hari sudah macet dimana-mana. Gang keluar-masuk rumah gue dulu saja, biasanya sudah macet sejak jam 7 pagi. Biasanya aktifitas Kairo mulai terlihat ketika jam 10 pagi. Di pagi hari itu, yang ramai hanyalah kedai penjual tomiyah. Kalau di ibaratkan di Jakarta, yang ramai itu hanyalah tukang nasi uduk. Selain itu masih sepi.
Jarak tempuh dari tempat kami sekarang menuju lokasi gurun yang ingin kami kunjungi, sekitar 5 jam. Kami menaiki bis yang telah kami sewa sebelumnya untuk menuju tempat itu. Sebetulnya, bukan kami juga sih yang mengurus transportasi dan segalanya. Ada senior kami yang sudah pernah kesana, dan sekarang merangkap menjadi guide kami.
Perjalanan jauh di Mesir itu nggak ada asiknya. Kanan-kiri jalan hanya padang pasir yang tidak ada ujungnya. Sesekali hanya ada bangunan kubus dengan warna-warna yang berbeda. Tapi, kalau sedang beruntung, lu akan menemukan orang yang berdiri membelakangi jalan, sambil menundukkan kepalanya.


Kalau lu ketemu dengan hal seperti itu, ga usah diperhatiin terlalu serius juga deh. Paling itu supir yang lagi kencing. Sama seperti supir bis gue.
Didalam bis,
Cewe: “Lah, kok berenti disini sih? Udah sampe ya?”
Cowo: “Kita kan baru jalan, ukhti. Kita lagi nunggu supirnya. Tuh dia lagi diluar”
Cewe: “Hah! Ngapain?”

*Kemudian buka jendela*
*Ngeliat dengan khusuyuk*

AAAAA.... KYAAAA.... KYAAA

Cewe: “Iiih supirnya kencing”
Cowo: “NGAPAIN DILIATIN JUGA SIH, UKHTI!”
Cewe: “Kan pengen tau”
Cowo: “Semerdeka elu aja, nyet. Bodo amat ah”

**
Setelah 5 jam perjalanan, bis berhenti di pinggir jalan. Didepan bis, sudah ada 5 mobil yang akan mengantarkan kami menuju gurun.
Perjalanan yang sesungguhnya akan di mulai, madefakah!!
Yang 5 jam tadi? Anggap aja perjalanan dengan bis itu sebagai pemanasan.


Gue tiba tepat di sore hari. Sekitar jam 4 sore. Perjalanan ini sebenernya menuju tiga tempat yang berbeda, tempat yang pertama kami kunjungi adalah bukit kristal. Beneran kristal, nyet. Di tengah padang pasir, dan disana ada kristalnya. Kecil-kecil gitu, kayak batu. Sebenernya mau gue ambil banyak, terus gue jual ketika pulang nanti. Tapi bukan seperti itu sikap pria pecinta lingkungan. Bukan seperti itu cuy!!
Sayangnya, di bukit kristal itu hanya sebentar. Karena waktu sudah menjelang malam, dan kami harus ke tempat selanjutnya. Jadi ini beberapa foto ketika kami berada di bukit kristal.








Matahari sudah terbenam, mobil yang kita tumpangi sudah mulai berjalan di gurun, bukan di aspal lagi. Supir mobil gue ini beda dari supir mobil lainnya. Apakah dia orang Ciamis? Bisa bahasa sunda? Oh, bukan. Dia masih orang Mesir, bahasa Arabnya jago. Maksud gue, dia lebih milih jalur jalan yang berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Berbekal cahaya lampu mobil, gue bisa melihat bahwa sudah ada batu-batu kecil yang disusun rapi sebagai penanda untuk mobil-mobil yang akan melewati daerah tersebut. Mobil-mobil yang lain, mereka mengikuti jalan yang sudah diberikan tanda. Sedangkan mobil gue, keluar jalur yang sudah di tandai itu.
Bukannya banyak doa, yang gue serta teman-teman lain lakukan adalah teriak-teriak.
“YANG KENCENG, BANG!!”

“ASOY BANG!! TERBANG-TERBANG GITU LAGI DONG, BANG!! MANTAAAAPP”

“AYO BALAP MOBIL YANG LAIN, BANG”

“ANJIR, SUPIR KITA KEREN BANGET INIH ASLI. YANG LAIN CUPU. YIHAAAA!!”

Nggak supirnya, nggak penumpangnnya. Sama-sama gila.
Mata gue susah untuk melihat pemandangan sekitar. Karena memang sudah gelap ketika itu (ya kan emang udah malem, nyet). Yang bisa terlihat hanya kendaraan teman-teman yang lainnya, serta batu-batu tinggi. Gue nggak tau juga sih itu batu apa. Pokoknya, jumlahnya banyak.
Selagi abang-abang supir menurunkan peralatan kemah, gue serta para cowo yang lain duduk-duduk diatas batu. Ternyata batu ini seperti batu karang laut, dan katanya juga zaman dahulu kala, tempat ini sejatinya adalah lautan. Dan batu-batu besar yang gue lihat sebelumnya adalah karang laut. Bayangin betapa besarnya batu-batu ini. Gue nggak sabar untuk melihat pemandangan ini di esok hari.






Acara malam ini dibuka dengan makan-makan bersama. Makan nasi ayam, serta sup kentang. Aiiih... cobain deh, makan anget-anget di tengah dinginnya gurun pasir. Nikmat banget tjoy. Yang penting, jangan sampai kekenyangaan aja sih. Kalau kekenyangan ya paling,
“Bang, gue mau kencing nih. Dimana ya?” Kata temen gue.

“Yaelah, kalo mau kencing ya dibelakang batu aja udah gih. Terus kalo lu mau BAB, pasirnya digali dulu, abis itu jangan lupa di tutup lagi”
Gimana? Mantap? Mirip kucing gitu kan?
Tapi kalau difikir-fikir, tempat gue ini kan dekat dengan batu juga. Apa jangan-jangan ada orang yang boke.... ah udahlah. Udah lewat juga.
Untuk tidurnya, kita nggak sampai mendirikan kemah gitu kok. Masing-masing dari kita, diberikan satu buah sleeping bag.
Mumpung masih di Mesir, cobain gih tidur di tengah padang pasir kayak gini, cuy...
Dan yang belum main kesini, cobain kemah disini lah. Jangan pergi ke Piramid doang. 


Thursday, 5 January 2017

Ujian tahun baru

IZAYY!!
Nggak terasa sudah masuk tahun baru aja. Sudah bulan Januari lagi. Dan, sudah berapa resolusi tahun kemarin yang sudah tercapai?
Bentar-bentar...
Gue mau nyapu blog dulu. Sudah lumayan juga blog ini nggak di jamah lagi. Dan kenapa semut di layar ini susah banget di hilangkan?
*ambil sapu*
*kemudian nyanyi*
mesyi
Sebagian orang merasa bahwa menuliskan resolusi itu adalah suatu kewajiban penting yang dikerjakan ketika awal tahun. Dan sebagian yang lain, ya sebaliknya. Menuliskan resolusi itu nggak penting-penting banget, toh resolusi yang di tahun sebelumnya belum semua terlaksanakan. Kalau gue sendiri, menganggap bahwa menuliskan resolusi itu suatu hal asik yang nggak ada salahnya untuk dikerjakan. Gue merasa bahagia aja gitu, memimpikan hal-hal yang gue ingin lakukan, tertulis di lembaran kertas. Walaupun belum tentu tercapai, tapi bukannya Walt Disney juga sebelumnya bermula dari mimpi ya?
Nah, kalau kalian sendiri gimana?
Tahun baru ini diawali dengan ujian termin satu mahasiswa Al-Azhar. Iya, hari pertama gue ujian tepat ketika tanggal satu Januari kemarin. Nggak ada kembang api, nggak ada bakar-bakar mantan pacar orang ayam, pokoknya sederhana banget.
Ujian di awal tahun seperti ini, terlebih ketika uang bulanan belum turun itu rasanya agak ngilu. Ujian pertama gue adalah tentang Qodoya Fiqh. Qodoya di semester sekarang ini membahas tentang hukum akad jual beli dalam Islam. Bukunya lumayan tebel, sekitar 300 halaman. Kalau buat alas tidur, nggak nyaman sama sekali. Tapi kalau buat nabok orang, lumayan sakit lah. Apalagi kalau didalam bukunya diisi sama gembok, piring, dan alat-alat berat lainnya, beeuh.. mantap. Dari sekian banyak halaman, soal yang keluar hanya 6. Pokoknya yang tahu isi soal hanya Allah dan duktur (baca:dosen).
Kali ini gue akan bercerita sedikit tentang hal yang gue rasakan ketika ujian.
Pagi itu, selimut-selimut masih menutupi badan gue serta teman-teman rumah gue. Banyak yang tidak ingin beranjak dari kasurnya. Suara adzan shubuh baru saja selesai berkumandang. Suasana pagi hari di Kairo di bulan ini selalu saja sama. Selalu dingin. Huft.
YE KAN EMANG LAGI MUSIM DINGIN SIANYING. KALO MUSIM RAMBUTAN, BUKAN SELIMUT YANG NUTUPIN BADAN ELU, TAPI SEMUT. MAKANYA, KALO ABIS MAKAN RAMBUTAN, KULITNYA DIBUANG!
Suasana pagi di musim dingin ini memang lebih nikmat untuk goler-goler di atas kasur sambil selimutan. Tapi atas nama ujian, gue nggak tidur. Gue sadar bahwa buku didepan gue ini tebelnya sungguh aduhai... mau nangis abdi teh sebenernya. Tapi gue nggak. Gue nggak boleh gitu. Hanya pecundang yang kalah sebelum bertanding. Tapi kalau nangis dikit, ya nggak apa-apa juga lah.
Gue ujian tepat jam 1 siang, itu berarti masih ada banyak waktu untuk scroliing foto cewe idaman di Instagram. Duh, senyumnya. Warna pakaiannya yang serasi dengan warna krudungnya. Duh! Apalagi ketika gue menemukan fotonya yang sedang duduk santai ketika sore hari. Di foto itu dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dengan pashmina berwarna abu-abu. Duh!
Sebentar.
Ini kenapa gue malah cerita tentang cewe yang gue taksir deh.
Dan kenapa kalian masih tetap baca paragraf tentang cewe yang gue taksir itu?
Bubar nggak?!!
Bubar kampret!
LAH MARAH-MARAH SENDIRI SI AKANG
**
Setiap kali ujian seperti ini, gue akan selalu didatangi oleh rasa ‘deg-deg’an, serta rasa ingin cepat selesainya waktu ujian. Tapi di lain sisi, gue takut kalau gue nggak bisa jawab pertanyaan. Terus apa yang harus gue lakukan? Mau teriak jadinya, ‘KYAAAA.... KYAAA.. KYAAA’.
Ketika pengawas membagikan kertas soal, gue akan mengabaikannya terlebih dahulu. Dan lebih fokus untuk mengisi kolom-kolom yang harus diisi di lembaran jawaban. Seperti nama, nama fakultas, tanggal, tanggal jadian, tanggal putus, tanggal ketika dianggap ‘kita lebih baik temenan aja ya!’. Dan setelah selesai menuliskan hal itu, baru lah gue akan memperhatikan lembaran soal.
Ketika lembaran soal gue baca, gue akan memejamkan mata. Seperti di film Sherlock Holmes, otak gue seperti sedang membuka buku, kemudian mencari di halaman berapa letak soal ini berada. Tapi ketika gue lebih fokus, dan tentu saja memejamkan mata, yang terjadi malah sebaliknya. Gue nggak menemukan letak soal itu. Gue nggak tahu juga, ketika memejamkan mata sepertinya bukan buku Qodoya yang tergambarkan di otak, melainkan buku catatan milik gue, yang hampir isinya tertulis nama gadis itu, serta beragam harapan-harapan baik untuk si gadis itu. Gadis pashmina abu-abu.
Ah, semoga saja jawaban yang gue tuliskan di lembar kertas jawaban itu semuanya benar. Kalau pun nggak semuanya, minimal 80% benar lah. Amin.
Sebetulnya gue benci untuk mengatakannya, tapi...
Sepertinya gue harus lebih fokus dengan ujian, serta melengkapi hal-hal yang ingin gue kerjakan terlebih dahulu, ketimbang membayangkan gadis yang gue idamkan itu. Dan seperti yang gue tuliskan diatas. Melupakan gadis ini, si pemilik senyuman indah, sepertinya juga masuk ke dalam salah satu daftar resolusi yang gue buat.
Apakah ini #ResolusiSulit?
Gue harap, nggak sesulit seperti yang dibayangkan.
Hehehe.




Izaay: Apa kabar?

Mesyi: Oke, lanjut!!

Ads