Tuesday, 31 May 2016

Ujian tambahan di Mesir


Saat ini, kebanyakan mahasiswa yang bertempat tinggal di Mesir sedang menghadapi ujian kampus. Kenapa sebagian besar? Ya karena mereka semua, tidak hanya kuliah di universitas Al-Azhar. Ada yang kuliah di universitas Kairo, Ainu syams, Tonto, serta Alexandaria. Sejauh ini, hanya nama-nama kampus itu saja yang gue ketahui.
Ujian gue kali ini, ternyata nggak hanya sekedar selembar kertas soal serta lembar jawaban. Ada hal lain yang membuat ujian gue kali ini terasa gila.
Jadi gini,
Senin pagi, gue serta teman serumah yang kebetulan satu jurusan telah asik belajar. Lebih tepatnya sedang berusaha menghapal seluruh buku yang akan di ujikan hari ini-yang banyak buset dah elah dua buku, cuk!!-satu buku paket, satunya lagi kitab setebel kamus John Engkol(bener nggak sih tulisannya?). Tapi kami tetap tenang. Bukan kami sih, tapi teman-teman gue yang bersikap tenang, ya kalo gue sih... yaaa gitu. Nggak usah digambarkan secara detail lagi penderitaan gue lah ya.
Pagi ini asik, karena belajar kami di temani oleh teh hangat yang rasanya manis. Dua buku yang akan di ujikan, ditambah dengan segelas teh hangat. Kurang apa coba? Tapi teh hangat pagi di rumah ini, memang sudah jadi semacam rutinitas yang memang harus dikerjakan oleh piket masak sih.
Berhubung ujian yang akan baru di mulai jam sepuluh, temen-temen gue masih fokus belajar. Sedangkan gue sedang asik, chat sama nyokap. Nggak tau deh, sampai sekarang gue masih yakin bahwa kemudahan yang gue temui saat sedang menghadapi ujian kampus seperti ini, atau pun masalah lain, pasti berkat doa nyokap. Karena doa nyokap, ujian yang gue hadapi insyaAllah di permudah. Tapi bukan berarti gue nggak ada usaha juga loh.
Jam delapan, mulai terjadi antrian kamar mandi. Dan Alhamdulillah semuanya mandi. Berbeda ketika gue di pondok. Dulu, gue malah lebih suka untuk sarapan terlebih dahulu, ketimbang mandi pagi. Fikiran gue ketika itu sih,
“Kamar mandi pasti penuh. Mendingan gue makan dulu, kenyang. Dan antriannya belum panjang. Nah, abis itu baru mandi deh. Kan antriannya udah pada berkurang tuh. Cerdas banget gue, heuheu”
Dan ketika selesai makan,
“ANCUUUKK!! AIRNYA ABIS. ITU ORANG YANG MANDI, AIRNYA DI SRUPUT JUGA APA GIMANA SIH ELAH”
Iya, dulu gue seperti itu.
Tapi sekarang perlahan berubah kok, karena setiap harinya gue pasti akan bertemu dengan teman perempuan gue, yang siapa tau aja ada jodoh gue disitu kan, makanya gue harus merubah kebiasaan yang sebenernya asik-asik aja sih dikerjakan ketika dulu. Yah, dulu kan di pondok gue isinya cowo semua, nggak ada yang krudungan. Paling yang krudungan wali santri yang sedang menjenguk anaknya.
Jam setengah sembilan, muka gue udah rapi. Rapi menurut gue sih, nggak tau deh kalo menurut orang lain. Kami, gue berempat dengan teman gue yang lain, berjalan menuju terminal terdekat. Iya, disini benar-benar jadi mahasiswa yang kemana-mana memang naik bis. Setelah duduk manis di barisan paling belakang, kami membuka buku pelajaran lagi. Gue? Gue ketika itu buka buku pelajaran juga kok.
Dan ketika perjalanan baru sampai seperempat, tepatnya baru hanya sampai kantor imigrasi, bis gue terhadang macet. Biasanya,  jarak tempuh yang dibutuhkan dari tempat gue menuju kampus, hanya sekitar setangah jam. Tapi macet ini, yang pernah gue serta teman-teman gue rasakan, jarak tempuhnya sekitar satu jam. Itu pun belum ditambah sampai kampusnya.
http://www.vignetteinteractive.com/
Mau marah-marah ngatain supirnya, nanti dosa. Ngatain jalanan Mesir, dosa juga. Akhirnya teman gue berkesimpulan,
“Kita harus turun nih. Terus naik taksi sampai kampus”
Pertanyaan yang langsung keluar di otak gue adalah,
“DIANTARA KITA SIAPA EMANGNYA YANG PUNYA DUIT, HAH?!!”
Setelah turun dan lari-lari kecil, gue serta teman-teman yang lain, mencari taksi yang berjalan di jalur yang berbeda. Tapi yang kami temukan adalah hal lain.
Teman gue, yang berkesimpulan sebelumnya, berbicara dengan supir mobil. Yang kalo gue perkirakan bunyinya seperti ini,
Fikri: “Paman, saya mahasiswa yang hari ini ujian. Paman kira-kira punya anak gadis yang bisa saya lamar?”
Bukan-bukan kayak gitu.
Fikri: “Paman, saya mahasiswa yang hari ini ujian. Bisakah kami menumpang mobil, paman?”
Paman: “Kasiiih tau ga eaaaaa”
Anggap aja percakapannya udah selesai lah ya, kemudian kami di izinkan ikut mobilnya. Kalo percakapannya dilanjutkan, kayaknya akan lebih ngaco.
Ingat kan, sebelumnya kami ingin naik taksi. Tapi yang terjadi adalah kami naik mobil pick-up. Iya, lu nggak salah baca kok. Ini pertama kali dalam seumur hidup gue, naik mobil loss bak ke kampus. rambut klimis belah samping, pakaian rapi, sepatu, tas, tapi mentalnya supporter bola. Alhamdulillah ketika naik mobil itu, gue nggak teriak-teriak menyanyikan mars Persija.
Nggak hafal juga sih.
Di mobil bak itu yang kami lakukan adalah sok-sok buka buku, walaupun gue yakin diantara kita nggak ada yang fokus mengulangi bacaannya. Ya gimana mau konsentrasi sih, INI UNTUK PERTAMA KALINYA BUAT KAMI SEMUA, MAN!! Baca buku, nggak. Foto-foto juga nggak. Ngobrol juga nggak. Yang ada hanyalah kami menutup buku, kemudian berusaha menyatu dengan alam, menikmati angin sepoi-sepoi serta menahan air mata untuk keluar. Dan berharap macet ini cepat selesai.
http://carsfriend.xyz/
Iya, ternyata di jalur lain, masih tetap macet. 
YAA ALLAH, UDAH SETENGAH SEPULUH. DAN DISINI MASIH MACET. INI NYAMPE TEMPAT LANGSUNG DIMARAHIN PENGAWAS UJIAN. KYAAAA KYAAAAAA.
Teriakan gue nggak segitunya juga sih. 
Dan ternyata pemilik mobil ini, memiliki arah tujuan lain.
Mau marah, tapi ntar dosa. Tapi memang nggak berhak marah juga sih, kan posisinya gue menumpang.
Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki bis(lagi). Sampai kampus, nggak ada waktu untuk membaca ulang buku pelajaran, langsung pergi menuju kelas. Dan Alhamdulillah pengawas ujian nggak marah-marah. Ternyata masih banyak orang yang datangnyalebih telat dari gue yang baru datang ke kelas, dan paman pengawasnya nggak marah. Pamannya baik, jadi naksir sama anak gadisnya deh.
"NIKAHKAN AKU DENGAN ANAK MU, PAMAN"
"Anak saya cowo, jenggotnya panjang, badannya keker, kamu mau juga? Istighafar ya, nak"
*lah
*pamannya nyolot
**
Minta doanya ya, supaya kami mahasiswa disini mendapatkan nilai mumtaz. Nanti doa yang baik-baik akan kembali ke kamu yang membacanya kok. Hehe.
 Sumber: dalocollis.files.wordpress.com

Wednesday, 18 May 2016

Pamit

Kemarin, ramalan cuaca mengatakan bahwa Kairo akan mencapai suhu 47 C. Malam ini saja, sudah terasa panasnya, bagaimana dengan esok hari?
Tapi, lupakan hal itu.
Saya sering memimpikan kamu. Entah kenapa, dari sekian banyak wanita yang saya kenal, wajah kamu yang muncul di mimpi saya. Kamu dengan krudung berwarna biru laut, serta kacamata kamu itu selalu datang didalam mimpi saya. Dan setelah itu, saya akan terbangun di malam hari, lalu mengucapkan kalimat ‘Astaghfirullahadzim’, tetapi kemudian saya berusaha untuk tertidur lagi. Karena malam itu, saya belum melihat senyum kamu.
Saya punya banyak hal yang ingin saya bagikan kepada kamu. Tapi saya, ingin mendengar ceritamu terlebih dahulu.
Bagaimana rasanya jadi mahasiswi rantau, yang jauh dari negri sendiri?
Apakah disana banyak pria yang menggoda kamu?
Kamu suka dengan pelajaran yang diajarkan di kampus?
Baru membayangkan jawaban yang keluar dari mulut kamu saja, sudah membuat saya tersenyum sendiri.
Sebentar, saya ingin minum kopi saya terlebih dahulu, sebelum terlalu dingin nantinya.
**
Sekarang saya mau minta maaf.
Ah, sepertinya saya telah mengulang kata ‘maaf’ berulang-ulang kepadamu, ya? Kamu pasti telah bosan dengan hal itu, bukan?
Saya terlalu mencintai kamu. Tapi sekarang saya akan melenyapkan perasaan ini, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Kamu dengan kehidupan luar biasa yang kamu miliki, serta saya dengan kehidupan saya yang biasa saja.
Oh iya,
Kamu sudah mendengarkan lagu Tulus berjudul Pamit? Kamu perlu mendengarnya, jika kamu punya waktu luang.
Ditulis tepat jam 1.47 AM. Waktu kairo.




Saturday, 14 May 2016

Jumat bahagia [TGIF]

Kali ini gue akan bercerita salah satu hal yang biasa terjadi di Mesir, dan jarang atau bahkan gue sendiri pun belum pernah menemukan hal ini terjadi di Indonesia.
Sejak SMP sampai sekarang, gue masih nggak tau apa perbedaannya hari sabtu-minggu dengan hari-hari lainnya. Bagi kebanyakan orang, hari sabtu-minggu merupakan weekend yang harus dinikmati dengan cara bersantai dengan hanya goler-goleran diatas kasur ataupun sekedar duduk bersama para teman-teman dan saling bertukar cerita. Tapi bagi gue nggak seperti itu.
SMP dulu...
Oke kayaknya kata-katanya salah,
Ketika di pondok dulu, nah baru pas, hari libur gue adalah hari jumat. Iya, hanya hari jumat saja, para santri boleh di izinkan keluar pondok dari pagi sampai sore hari, dan berolahraga sejak pagi sampai sebelum adzan shalat Jumat berkumandang. Dan hari kamis adalah hari paling kampret. Karena hari kamis, full dengan berbagai macam kegiatan. Masuk kelas-Latihan pidato-Pramuka-Latihan pidato-Lailatul hisab.
Untuk yang lailatul hisab, gue akan cerita di tulisan berikutnya.
*kalo nggak lupa juga sih
Kali ini gue nggak mau bahas tentang itu dulu.
Ketika kuliah disini, ya sama aja. Hari libur tetap hari jumat, awal aktifitas adalah hari sabtu. Tapi perbedaan yang paling membahagiakan ketika di pondok dulu dengan saat ini adalah hari kamis disini sudah nggak terlalu kampret seperti dulu, bahkan yang paling membahagiakan, kuliah disini nggak ada absen.
Sebenernya, hal seperti itu harus harus dibanggakan atau disedihkan(?)
Dan kali ini, gue mau menceritakan tentang kebahagiaan di hari jumat. Iya, tentang Thank God it’s Friday(TGIF).
Jumat kemarin, sama seperti empat minggu lalu. Gue shalat jumat di masjid yang sama. Setelah teman rumah, Rasyid, mengajak untuk shalat di masjid itu, gue jadi suka sama Rasyid.
Nggak deng, becanda.
Jangan dibayangin juga eet dah.
Sekarang kita flash back ke empat minggu lalu ya.
Jadi, pagi itu gue diajak untuk lari bersama teman rumah. Karena gue memiliki project hidup sehat serta menuju Mas Uzi langsing 2016, langsung saja gue terima ajakan itu. Kebetulan ketika itu yang ikutan lari pagi lumayan banyak, sekitar 5000 orang lah ya.
Banyak banget anjir, kayak acara Cairo runner.
Nggak sebanyak itu deng.
Yang ikutan hanya empat orang, dua teman gue, senior yang merangkap sebagai ustad, serta gue, sosok yang paling menawan di acara lari pagi ini. Yang mau muntah silahkan.
Aplikasi running telah gue buka, layaknya anak hits. Kami pun mulai pagi ini dengan berjalan cepat terlebih dahulu untuk bertemu senior kami di masjid Sayyidina Husein. Lari pagi ini kami mulai dari tempat bertemunya dengan senior, menuju Babul Futuh, dan akan berakhir di masjid ini lagi.
Jaraknya sekitar 3km.
Awal yang baik lah ya, untuk menuju hidup sehat.
Ketika sudah bersiap-siap untuk lari,
Senior: ‘Pelan-pelan aja lah ya’
Gue: ‘Nah, baru aja mau ngomong. Mending kita foto-foto gitu aja lah ya. hehe’
(hehe)
(hehe)
Bodo amat lah. Nggak kurus-kurus dah lu, Mat
Aplikasi running tetap berjalan, tapi ya gitu. Keringetan nggak, tapi dapet sih foto-foto keren.




Setelah lari-nggak-jalan-iya-poto-poto-iya tibalah kami di rumah. Ketika sampai di  rumah, Rasyid dengan lembutnya bertanya,
‘Udah pada makan? Mau aku suapin?’
Nggak-nggak.
Itu jijik banget kalau beneran terjadi.
‘Udah pada makan? Mau makan nggak nanti? Abis shalat Jumat gitu’
Nah itu kalimat yang bener.
Dan jawabannya... yaaa bisa ditebak sendiri lah ya. Siapa juga yang mau menolak, makanan gratis.
Bye-bye resolusi hidup sehat serta badan langsing
*dadah-dadah
Ketika perjalanan menuju masjid,
Rasyid: ‘Udah pernah ke masjid Rifa’i?'
Gue: ‘Belom’
Fikri: ‘Kemarin udah kesana, tapi nggak dikasih makan tuh kayak kata-kata orang’
Rasyid: ‘Derita elu itu mah. Wahahah. Mamam tuh’
Lah kita makan di masjid? Bukan di traktir sama elu, Syid? Emang ada yang kayak gitu? Boong ah
Masjid ini nggak besar-besar banget, tapi yang membingungkan, masjid ini lebih di dominasi oleh para jamaahnya yang orang Indonesia, Malaysia, pokoknya kebanyakan muka Asia nya, ketimbang orang Mesir. Bahkan yang khatib jumat, senior gue di pondok dulu. Yang memimpin baca Yasin setelah shalat, junior gue di pondok. Gue? Lah gue mah kan diajak sama si Ocid. Masa lupa? Pantesan jomlo.
Dan setelah baca Yasin serta doa, para tamir masjid  menggelar lapak, dan setelahnya mereka membawa piring yang berisikan nasi serta daging sapi.
Lah beneran makan. Makan nasi malah ini

Bye-bye resolusi hidup sehat serta badan langsing
*dadah-dadah lagi
Dan sejak itu, gue mejandi rajin ke masjid Rifa’i setiap shalat jumat.
Terimakasih Rasyid
PS:
Semoga tamir masjid disana urusannya selalu dipermudah ya. Dan semoga surah Yasin yang kami(para jamaah) khusukan untuk Syeikh Sayid Ibrohim Kholafatullah Arifa’i diterima. Iya, beliau salah satu guru disini. Kamu yang baca, juga nggak ada salahnya kirimi surah Yasin ke beliau. Kalau memang sibuk, surah Al-Fatihah nggak apa-apa juga kok. Buat saudara-saudara kamu sendiri yang sudah tiada, juga nggak apa-apa kok. Udah kirim Al-Fatihah buat mereka belum bulan ini?
Ehe

Saturday, 7 May 2016

Dear... Kopi serta manteman

*bersih-bersihsaranglaba-laba*
Uhuk
Lumayan lama nggak update tulisan baru.
.
.
.
Hmm…

Minggu-minggu ini sedang asyik belajar bareng, sedang mengejar target untuk menghabisi buku-buku yang akan di ujikan nantinya. Pelajarannya nggak jauh-jauh dari pelajaran Fiqh. Iya, disini gue salah satu maha(santri)siswa fakultas Syariah wal Qonun, dengan jurusan Syariah Islamiyah. Baru denger? Sekarang gue kasih tau.
Kalau kalian ingin bertanya,
“Jurusan lu itu, nantinya kerja di bidang apaan, Ji?”
Jawabannya adalah,
“Gue juga nggak tau, nyet. Nggak usah nanya-nanya juga”
Becanda deng.
Pertanyaan kalian itu, pernah gue tanyakan kepada si Bapake juga kok. Dan jawabannya,
“Kamu tuh belajar aja yang benar, ilmunya dibanyakin, biar pintar. Urusan kerjaan, jodoh, mati, itu udah ada yang ngatur kok, mas”
Bijak banget ya.
Kalau nggak salah, ketika itu beliau menjawab pertanyaan gue sambil makan pete deh.
Atau rawon ya?
Atau martabak?
Ini kenapa ngebahas makanan sih, nyet!!
Tapi bukan berarti, gue nggak punya rencana untuk masa depan gue nanti. Gue punya seabrek-abrek mimpi kok, yang memang sebagian telah terealisasikan dan masih banyak yang belum terlaksanakan juga sih, tapi doakan semoga semuanya tercapai ya!! Amin.
Terlepas dari buku-buku pelajaran serta buku turats, yang membahas tentang rukun islam serta pelajaran Tauhid. Kemarin gue sempat duduk-duduk bareng di salah satu kedai kopi, yang katanya sih umur tokonya sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Namanya El-Fishawy.

Dua cangkir kopi hitam, serta satu kopi susu telah diletakkan si ammu berpakaian kotak-kotak itu diatas meja kecil kami. Kali ini, tidak ada yang memesan Shisa. Karena, mahal-buset-gue-masih-kuliah-lebih-baik-duitnya-buat-beli-bahan-makanan-pas-piket-masak-nyet.
Suara turis Australia, turis China, serta paman-paman penjaga toko saling bersahutan. Kebetulan, saat itu lumayan ramai pengunjungnya. Selain pemandangan kopi, pemandangan asap-asap yang keluar dari Shisa menghiasi sore hari ini.
Sore hari, pelajaran sebagian besar telah dibaca bersama-sama, di temani kopi, serta orang-orang untuk bertukar cerita, serta pemandangan turis-turis asing yang sibuk selfie.
Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?



Obrolan kami, memang nggak jauh-jauh dari seputar hal-hal yang terjadi disini. Salah satunya, banyak banget diantara maha(santri)siswa disini yang sudah berkeinginan untuk membangun rumah tangga. Bingung kan lau? Sama. Ketika diluar sana, banyak anak-anak muda yang galau karena nggak punya pacar, meme yang bertulisan ‘Dear mantan…’, eh disini temen-temen gue malah pada banyak yang ingin membina rumah tangga. Asik ya.
Di satu sisi gue bangga, kalau teman gue memilih untuk memulai lembar baru dalam hidupnya. Di lain sisi… sedih mungkin(?)
Sedih karena,
Tandanya harus mencari teman yang ‘klik’ (lagi).
Tandanya harus memulai menceritakan kehidupan dari awal (lagi).
Tandanya harus membangun chemistry (lagi).
Bosen nggak sih kayak gitu?
Hm…
Ini kayaknya gue nya aja sih yang terlalu berlebihan sih ya.
Iya, gue nya aja yang terlalu lebay. 😅😅
**
Teman gue yang satunya lagi, sedang seru membicarakan hobi yang selama ini dia jalani. Denger ceritanya, bikin diri gue malu sendiri.
Dia hobi masak, dan tau alasannya apa?
Dulu ketika masih berada di kost-an temannya di daerah Bogor, hidupnya nggak teratur. Dia nggak bisa masak, begitu juga dengan teman kost-annya. Sehari-harinya dihabiskan untuk membeli gorengan. Tepatnya, singkong goreng. Sampai suatu saat, terbesit didalam otaknya,
“Kelaperan itu nggak enak cuk”
Dan dari situ lah, awal semuanya di mulai. Dia mulai melamar di salah satu restoran di daerah Jakarta selatan, dimarahi oleh senior, diteriaki oleh asisten koki, dan masih banyak hal pahit lainnya. Tapi hasilnya, dia bisa tuh dapet seragam koki selama tiga minggu. Padahal asisten koki yang memarahinya itu, baru mendapatkan seragam koki, setelah satu setangah bulan. Hebat ya?
Dia tau apa yang dia sukai, dan benar-benar ditekuni. Disini dia juga sempat menjadi asisten koki, di salah satu rumah makan punya orang Indonesia. Kagum sekaligus iri.
Gue, yang menurut gue sendiri adalah sosok yang suka menulis dan mau menerbitkan sebuah buku, nggak ada aksinya tuh. Masih stuck di situ-situ aja, jalan di tempat. Nggak ada action-nya. Cupu banget.
Selain temen kampret yang berbicara tentang passionnya itu, hal lain yang membuat diri gue gregetan adalah dengan melihat foto-foto teman SD gue, yang saat ini telah mengejar karirnya. Ada yang jadi wanita karir, seorang model, pelukis, menjadi seorang dokter, dan masih banyak hal lainnya.
Sedangkan gue?
Kuliah juga masih baru.
Masih galau dengan hal-hal remeh.
Masih banyak mengeluh, ketimbang ungakapan rasa syukur.
Masih apa-apa minta, bukannya menabung dan apa-apa beli menggunakan uang tabungan sendiri (yah, meskipun uangnya memang dari orangtua juga sih).
Masih tenggelam dengan satu sosok gadis kampret.
Ilmu belum punya.
Kalau difikir-fikir,
Lah kampret, ini mah beneran ngenes banget hidup gue
Huuufff...
Kayaknya fikiran tentang nikah itu, di tunda dulu kali ya. Jodohnya juga belum ada tanda-tandanya juga sih ya.
Dan untuk saat ini, harapan gue hanyalah semoga lisan ini mudah untuk selalu berdzikir mengingat nama-Nya, tangan yang mudah untuk membantu sesama, serta kaki yang mudah untuk melangkah ke masjid. Paragraf ini, tulisan gue sok asik banget, asli.
Maap ya.
Tapi masa bodo juga lah.
Kalau kamu, apa yang sedang kamu keluhkan saat ini?

Oh iya, gue mau bayar pesanan gue dulu ya...!