Saturday, 19 March 2016

Sebetulnya, hal seperti ini boleh nggak sih dilakukan?

Sampai sekarang, gue masih belum bisa menjawab pertanyaan yang muncul dari dalam diri gue sendiri. Dan pertanyaan ini selalu muncul saat gue berada didalam kelas. Pertanyaannya,
“Gue kok masuk kuliah, bukannya merasa pintar ya, tapi malah merasa paling bego. Apa orang lain merasakan hal yang sama?
Tapi yaudahlah, berarti secara tidak langsung, gue disuruh harus terus-terusan belajar. Dan masih banyak banget buku yang harus dibaca dan dipelajari. Bukan hanya pelajaran kampus saja, begitu juga dengan pelajaran kehidupan yang ujiannya berlangsung setiap saat. Memang harus dipersiapkan dari sekarang, bukan?
Gue yakin kok, ujian yang kita hadapi itu pasti masih dalam jangkauan kekuatan kita. Nggak mungkin, Allah memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Kayaknya sih memang manusianya saja yang terlalu drama, terlalu lemah, terlalu manja. Masa maunya enak aja tanpa ada usaha yang dikeluarkan?
Kemarin bu Risma, walikota Surabaya, datang kesini. Dan dari ucapannya yang paling gue ingat sih,
“Masa iya, mahasiswa pintar seperti kalian harus dikasih. Yang dikasih itu, orang-orang yang tidak mampu. Masa masih saja disuapi?”
Kalo sudah seperti itu, gue jadi berfikir, sebetulnya tujuan gue ke Mesir itu untuk apa sih ya? Apa yang sebenarnya gue cari di kota penuh sejarah ini?
Membuka jasa tempe online?
Atau,
Mencari seorang gadis?
Kalau kamu, apa yang kamu cari?
Hmm…
Perjalanan pulang dari acara bu Risma, sepertinya membawa kebahagian lain untuk gue. Selain mendapatkan pelajaran tentang arti sebuah kepemimpinan, gue berhasil menemukan kebahagian lain.
YEAAY
Jadi, ketika sedang menunggu bis yang mengarah ke rumah, gue melihat sosok bidadari tanpa sayap(lagi). Gue kira, hanya nyokap saja sosok bidadari tak bersayap, eh ternyata masih ada yang lain.
Gadis ini, mengenakan pashmina berwarna merah marun. Kulit putihnya, kontras dengan frame kacamata yang digunakannya. Kausnya tertutup dengan jaket jins yang ia gunakan. Roknya berwarna putih dengan corak bunga-bunga. Dia membawa tas ransel, dan selalu tersenyum ketika sedang berbicara.
Untuk namanya, gue juga nggak tahu sih. Kalau pun suatu saat nanti bisa berbicara dengannya empat mata, sepertinya gue nggak akan berani menatap matanya lama-lama deh. Lemah banget ya gue? Yah, walaupun untuk saat ini gue belum tahu siapa namanya, setidaknya dengan tulisan ini, memori tentang dirinya akan selalu abadi. Terkadang gue iri, perasaan yang gue punya terhadap orang lain, tidak bisa se-abadi tulisan yang ada di blog ini.
Kalau sosok gadis ber-pashmina merah marun itu gue jadikan sebagai pemacu semangat ketika diri ini sedang malas-malasan, boleh nggak sih?
Terkadang, ketika sedang bermalas-malasan, sosok gadis ini akan se-enaknya saja lewat didalam kepala. Seolah ingin mengatakan,
“Kamu sampai kapan mau malas-malasan? Kalo kamu seperti itu terus, nanti aku diambil sama yang lain loh!”
Huufftt

Sebetulnya, boleh nggak sih kalau seperti ini?

Thursday, 10 March 2016

Makanan wajib ketika di Darassa [MESIR]

Hampir setahun lebih beberapa bulan tinggal di Mesir, belum pernah tuh gue ketemu gadis kemudian ditanyai oleh gadis itu di angkutan umum,
“Permisi. Kamu orang Indonesia?”
Lalu berakhir dengan acara nikahan.
Enak banget.
Gue juga mau.
Kayaknya gampang banget gitu, bertemu dengan jodoh. Tapi, wajar juga sih. Gue disini masih satu tahun beberapa bulan, lah kan si mas Azam yang di film itu udah tujuh tahun di Mesir. Lah, gue nggak ada apa-apanya. Nggak minat juga sih, harus nunggu tujuh tahun hanya untuk bisa disapa oleh gadis didalam bis.
Tapi karena film itu juga sih, tanpa sadar setiap gadis yang gue temui didalam bis ketika perjalanan menuju masjid Al-Azhar, hati ini akan berkata,
“BAPAK KAMU GURU SILAT EAA? EEECIEEEEE CIEEEE”
Eh, tiba-tiba kakinya si gadis udah hilang, nyangkut di kuping. Yang terasa hanya dunia seperti berputar-putar.
UUUUMANTAP!!
Ya nggak gitu juga, nyet
 “Ini serius gadis-gadis disini nggak ada yang mau nanya asal gue darimana gitu?” kata gue dalam hati.
Dan akan berlanjut dengan gue memandang jalanan luar, kemudian tertidur.
Tapi salah satu hal yang membuat gue bahagia ketika menaiki bis yang menuju masjid Al-Azhar adalah makanannya. Jadi, sebelum sampai di masjid tersebut para pejalan kaki akan melewati tempat dagangan yang berwarna merah sebagai ciri khasnya. Jajanan asli Mesir, yang sampai sekarang seolah menjadi makanan favorit ketika gue pergi menuju masjid Al-Azhar. Namanya Kuftta. Selain makanan ini, sebenernya daerah Darrasa ini masih memiliki hal lain sebagai alasan kenapa para mahasiswa Indonesia mencintainya sih.

Tokonya ada dua. Samping-sampingan gitu
Bagi orang-orang yang pertama kali mencicipi makanan khas Mesir, mungkin makanan ini bisa menjadi alternatif pertama untuk menikmati berbagai makanan khas Mesir lainnya. Makanan ini berupa roti gandum yang ber-isi-kan daging sapi yang telah dibentuk bulat-bulat kayak bakso gitu, hati sapi, kemudian ada irisan tomat, bawang merah, mesin cuci, motor, kulkas dua pintu. Pokoknya banyak lah isinya. Bisa request yang isinya mantan juga loh! Paling dicium sama ammu (paman) penjualnya.
Harus nyoba!!
Disini gue juga jarang menemui jajanan khas Indonesia, paling hanya ketika moment-moment tertentu aja, bisa menemukan makanan khas, itu pun nggak se-enak bikinan nyokap.
Entah kenapa, sampai saat ini makanan nyokap selalu jadi juara di hati.
Gue nggak berharap juga sih, ketika sedang jalan-jalan di taman Al-Azhar, mendengar seseorang berteriak,
 “GEMBLONGNYA MASIH ANGET KAKA”
“KUE CUBITNYA JUGA BARU MATENG JUGA NIH”
“BANDREKNYA ENAK LOH, BIKIN ANGET”
“AA YANG JOMBLO JANGAN PURA-PURA BUDEG UY. BELI ATUH AA. DINGIN LOH, NGGA ADA YANG NEMENIN JUGA KAN?”
Kayaknya teriakan-teriakan itu, cukup ada di Indonesia saja.
Sekarang, lebih untuk belajar bersyukur dengan apa yang ada dan di punya saat ini. Bersyukur, meskipun disini nggak ada kue cubit ataupun kue tete, setidaknya gue masih bisa makan makanan lainnya dan nggak sampai kelaparan. Segala apa yang dipunya saat ini akan terasa kurang, kalo kita nggak bersyukur. Padahal Allah udah ngasih rumusnya, “Jika bersyukur, maka nikmat dari-Nya akan bertambah”
Nah, kalo di tempat kamu ada makanan enak apa aja?
Iya, kamu. Yang pake jilbab hitam, dan jarum pentulnya banyak itu.
Iya, kamu.
Kalo maen debus jangan sambil baca juga ya.
Oh iya, nama aku Fauzi, bukan mas Azam.

Ads