Saturday, 16 May 2015

Temanku yang ....

Makin bertambahnya waktu, makin bertambah pula pengalaman yang kita miliki. Silih waktu terus berganti, begitu juga dengan teman-teman yang kita punya saat ini. Kalo dulu, gue pernah merasa(hampir) gila karena kehilangan seorang sahabat, perlahan gue mulai banyak belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu.
Alhamdulillah ketika gue pergi ke Mesir, gue punya banyak teman yang sebelumnya memang gue kenal dari Indonesia. Khususnya teman-teman satu pondok dulu. Teman yang saling merasakan perjuangan yang sama saat menjadi santri dulu, perjuangan yang sama ketika mendapat hukuman, perjuangan yang sama ketika menjadi santri jahat, perjuangan ketika menjalani ujian siswa akhir, dan perjuangan saat punya adek-adek gemesh dulu.
Yang terakhir, agak sesat dikit lah.
Ketika awal-awal tinggal disini, fikiran gue masih ngambang. Masih bingung harus mengerjakan apa. Di lain sisi, temen-temen gue sudah memiliki hal-hal apa aja yang ingin diraih. Temen yang gue harapkan untuk bisa saling motivasi, juga nggak kunjung datang. Sebenernya hal yang sia-sia juga sih, menunggu seseorang yang entah siapakah dia, dan kapan datangnya.
 Mulai setuju dengan anggapan orang-orang, bahwasanya kuliah itu adalah dunia individualis. Lebih mementingkan diri sendiri, ketimbang orang lain. Temen-temen deket yang sebelumnya sering menghabiskan waktu bareng-bareng, sekarang juga perlahan mulai sibuk dengan perkuliahannya dan berbagai macam tugas-tugas yang ada.
Nggak mau menyalahkan keadaan juga sih.
Hal ini sebenernya memberikan dampak yang positif sih. Dengan kata lain, kita harus berusaha sekuat mungkin tanpa harus berpangku tangan dengan orang lain. Usaha, doa dan yang terakhir pasrah dengan kehendak Allah. Nggak ada yang sia-sia kok dari semua hal yang dikerjakan. Walaupun sebenernya tau, bahwa hasilnya nanti kurang memuaskan tapi tetap berusaha sekuat tenaga, gue rasa itu hal yang harus diapresiasi. Dia berani melawan dirinya sendiri, tanpa memperdulikan pandangan orang lain.
Banyak hal yang dikhawatirkan saat menjadi mahasiswa perkuliahan. Khawatir nilai jelek, khawatir nggak naik ke tingkat selanjutnya, khawatir nggak lulus tepat pada waktunya, dan masih banyak hal-hal yang dikhawatirkan lainnya. Yah, namanya juga mahasiswa, wajar aja ada hal-hal yang dikhawatirin seperti ini. Toh, kalo nggak mau ada hal yang dikhawatirin, kenapa nggak berhenti dari perkuliahan kemudian menyandang status pengangguran saja?

Yah, bagaimana pun juga, setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Begitu juga dengan teman-teman yang gue miliki saat ini. Se-penting apapun mereka dalam kehidupan gue saat ini, gue nggak akan pernah mau memaksa mereka. Memaksa mereka untuk selalu ada, untuk selalu bercerita, untuk selalu senyum, untuk selalu bersama gue sampai kapan pun juga. Gue nggak mau menjadi manusia se-egois itu juga.
Sejauh apa pun temen terbaik gue pergi, gue yakin mereka akan selalu ingat dan akan kembali menemui gue lagi. Dan kalo pun, seseorang yang telah gue anggap menjadi teman baik, tapi kenyataannya dia pergi meninggalkan gue dan lebih memilih teman-teman barunya... toh, senggaknya gue mengetahui satu hal, mana teman yang baik dan harus diperjuangin dan mana yang bukan.
**
Seharusnya saat ini, gue sibuk baca buku pelajaran buat ujian nanti hari Minggu nanti. Etapi malah duduk depan laptop, terus curhat beginian lagi. Besok bakalan bangun jam berapa ini?
Eee... kenapa sekarang jadi inget si dia. Ah kampret, gara-gara nulis sambil dengerin lagunya Raisa jadi baper gini.
Si dia apa kabar ya?

Wednesday, 13 May 2015

Mamahku yang amat .....

Mungkin masalah yang sering dialami oleh mahasiswa perantuan luar negri  adalah komunikasi dengan keluarga yang berada di rumah. Alhamdulillah, gue berda di zaman sekarang yang serba canggih. Sehingga masalah komunikasi dengan orangtua, nggak sesulit pada zaman dulu. Yang kalo mau nelpon rumah, harus beli kartu khusus.
Orangtua gue, termasuk yang memang telat menggunakan hape canggih. Intinya, punya hape itu, bisa buat nelpon, sms, dan sekedar foto-foto pas acara arisan atau nikahan, udah cukup. Tapi makin berkembangnya tekhnologi, orangtua gue mau nggak mau harus bisa menggunakan aplikasi seperti Whatsapp ataupun Line, untuk tetap menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Gue dan adik gue, Faizah.
Nyokap, tipe orangtua yang jago masak soto betawi dan makanan-makanan enak lainnya. Disamping itu, beliau juga posesif. Banget. Kebetulan, saat ini gue mau membahas sifat posesifnya sih, bukan tentang kehebatan beliau dalam dunia masak-memasak. Karena nggak ada gunanya juga sih membahas makanan nyokap, karena Faizah nggak mau bikin makanan rumah juga untuk gue. Padahal harapan gue sebagai kakaknya yang bersama-sama tinggal di negara orang lain adalah adik yang rajin masak - adik yang empat hari dalam seminggu, membawakan makanan ke rumah kakaknya, yaitu gue sendiri - kakaknya kenyang - adik senang, karena masakannya habis - kami berdua hidup bahagia. Kenyataannya? JAUUU BANGETTT TJOOY!! JAUUUH. ASELI DAH!!
Gue, masak sendiri? Nggak deh kayaknya. Masak nasi aja masih gosong. Masak air, kompornya dibiarin nyala semaleman, gue asyik tidur. Beruntung, nggak kebakaran rumah gue. Makanan yang saat ini bisa gue masak hanyalah Indomie goreng double, ditambah dua telor. Porsi untuk dua orang, tapi gue makan sendiri. Ganteng kan gue?
Makanan internasional
Kembali ke sifat posesif nyokap.
Hampir setiap malam, nyokap chat ke gue via Whatsapp. Menyuruh gue untuk tidur.
‘Fauzi anakku, jangan tidur malam-malam ya sayang’
Dan gue nggak membalas chat beliau.
Karena menurut gue, di Indonesia sudah tengah malam, dan beliau pun pasti sedang tahajud. Sebagai anak yang baik, gue nggak mau menganggu ibadah nyokap. Sehingga, gue berencana untuk membalas chat beliau, pagi di esok harinya.
Oke, itu alasan aja sih. Sebenernya, kalo gue bales disaat itu juga, gue ketahuan belum tidur. Hehe... he.. hee.
MAH, MAAPIN, MAH. INI LAGI USAHA BIAR NGGAK TIDUR MALEM KOK. MINTA DOANYA, MAH YA. UANG KIRIMANNYA JUGA YA, MAH JANGAN LUPA. LLLL
Pagi ke-esokan harinya, gue lupa untuk membalas chat beliau. Pagi itu, gue disibukkan dengan pengambilan hasil tes darah, untuk kemudian hasil tes darah itu sebagai syarat pembuatan kartu mahasiswa Al-Azhar.
Siang harinya, nyokap mengirim chat lagi,
Nyokap: ‘Fauziiii’
Gue: ‘Mamaaahh.... maahh... maahh... maah’

*ini kenapa jadi teriak-teriak gini sih ahelah!!*
Nyokap: ‘Kamu kok nggak bales Whatsapp mamah sii?’
Gue: ‘I-iya, mah. Lupa. Baru aja mau bales, eh mamah duluan yang nge-chat’

Dan setelah itu, gue menelpon beliau via Line.
Bercerita tentang segala hal apa saja yang gue lakukan minggu ini. Bercerita, kalo saat ini gue benar-benar meminta doa restu dari mereka untuk menghadapi ujian. Bercerita, kalo Faizah nggak memberikan gue makanan, tapi lebih sering meminta uang dan minta traktiran kepada gue. Bercerita, kalo gue ingin kurus, tapi jawaban orangtua gue hanyalah suara gelak tawa. Seolah,
‘Mah, uzi mau kurus’
‘HAHAHAH’
Tawa mereka yang gue artikan dengan, ‘SUSAH, MAS UZII. SUSAAAHHH!! MENDEKATI NGGAK BISA!!’
Dibalik ke-posesifan dari orangtua, khususnya nyokap, gue merasa bahagia. Karena masih ada orang-orang yang selalu mendukung gue. Dan di lain sisi gue sadar, bahwa segala hal yang gue lakukan untuk kebahagian mereka. Se-nggaknya, kalo pun nantinya gue belum bisa memenuhi harapan mereka, gue nggak mau menyerah. Karena mereka selalu mendukung dan berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya setiap saat.
**
Hampir sebulan nggak nulis, rasanya aneh. Bulan ini memang lagi masa-masa ujian bagi seluruh mahasiswa Al-Azhar sih. So, gaes.... sekarang gue dan temen-temen Masisir lainnya, minta doa untuk dipermudah menghadapi ujiannya ya! Hehe. Supaya, semua ilmu yang dipelajari berkah. Syukron, gaes!