Review Vape Pod terbaik Artery Pal 2


Ternyata setelah menyoba rokok elektrik, atau yang biasa disebut vape, gue mulai tau perbedaannya dengan rokok konvesional. Sebulan ini uang gue sudah tidak pernah gue gunakan untuk membeli rokok di supermarket lagi. Tepatnya bulan lalu, gue membeli seperangkat alat vape beserta liquidnya. Mungkin sebagai catatan, rasa rokok Indonesia memang jauh lebih enak kalau di bandingkan dengan yang biasa gue temukan di Mesir. Beberapa kali saat memberikan rokok Indonesia ke warga sana, sering kali mereka berkata, “Dziii hasyisy? Haraam alaaik yaa ibni”. Kurang lebih, maksud mereka adalah mengira bahwa rokok filter yang gue berikan adalah bentuk ganja lintingan. Padahal mah bukan!
Kebiasaan gue merokok, mulai aktif lagi saat di Mesir. Jauh dari orangtua, pelarian saat ditinggalkan orang yang di sayang, statement bahwa perokok itu adalah laki banget loh! Padahal kenyataannya sih, ya bukan seperti itu. Mungkin juga, di antara dua alasan yang gue sebutkan sebelumnya, mungkin karena pengaruh dari lingkungan serta film series yang gue tonton. Bocah banget kan alasannya? Tapi, kenyataannya, hal-hal yang sering kita jumpai, yang kita lihat, secara enggak langsung membuat hal tersebut terlihat menjadi suatu hal yang wajar, bahkan hal aneh jika tidak di lakukan.
Tapi setelah merasakan dada sesak setelah bangun tidur, gue merasa bahwa merokok itu adalah suatu hal yang salah dan cepat atau lambat, gue harus menghilangkan kebiasaan buruk ini. Lalu, beralih lah gue menggunakan rokok elektrik.

Padahal mah, kalau mau berhenti ngerokok, ya berhenti aja, Nyet.
Setelah melihat berbagai review yang ada di Youtube, pilihan gue jatuh ke Pod. Singkatnya, Vape macam Pod ini bentuknya lebih kecil di bandingkan Vape yang biasanya kalian temukan di tempat umum, yang biasa disebut Mod. Selain itu, karena bentuknya mungil, penggunanya juga di permudah dengan tidak perlu mengganti kapasnya, atau membuat kawat atau apalah itu. Tinggal plug and play aja gitu. Jadi kalau coil-nya sudah tidak bagus, saat menghisap vape, rasanya seperti gosong, tinggal beli dan pasang lagi saja. Coil-nya sendiri bisa bertahan 2 minggu – 1 bulan.
Memang, uap yang di hasilkan oleh Pod, tidak sebanyak dan setebal seperti menggunakan Mod. Bagi gue yang mencari pelarian dari rokok, penggunaan Pod sudah membuat gue bahagia. Selain tidak pusing masalah putung rokok yang sering kali mengotori lantai kamar, banyaknya pilihan liquid juga membuat gue merasa menggunakan Pod adalah suatu pengalaman yang seru.

Pod yang gue gunakan saat ini bernama Artery Pal 2, yang kambingnya, setelah gue beli, beberapa minggu kemudian, keluar tipe Artery Pal 2 Pro, yang lebih keren desainnya serta powernya. Tapi, bagi gue yang baru saja menggeluti dunia vape, Pod Artery Pal 2 merupakan Pod terbaik yang pernah gue rasakan. Dari uap yang di hasilkan, rasa liquid yang gue isi di wadah Pod (catridge), serta garukan yang terasa di leher (Throat hit).

Baca juga: Celana pemikat lawan jenis
Untuk memulai vaping atau vape, Artery Pal 2 ini termasuk vape murah yang bisa dibeli. Saat gue beli harganya kisaran 350-375 ribu. sekarang, sepertinya di Online store, harganya sudah berkurang. Bandingkan, saat gue harus merokok 2 bungkus rokok sehari. 50x30=1,5 jt. Apalagi harga rokok Indonesia yang dijual di Mesir harganya bisa 2x lipat dibandingkan harga aslinya di Indonesia. Mantap kali pun. Pantas tabungan gue segitu-segitu aja.
Lalu harga coil-nya 35 ribu, lebih murah jika di bandingkan vape Pod yang ber-merk Uwell Caliburn. Dan catridge dari Artery Pal juga bisa di cuci sendiri. Jadi aman-aman saja.
Dari yang gue baca, secara garis besar, Liquid vape, terbagi ke dalam 2 kategori. Yang pertama, Freebase. Dan yang kedua, Salt Nicotine. Berhubung Artery Pal 2 milik gue adalah Pod yang fleksible, gue enggak tau bahasa vape nya apa, jadi bisa menggunakan kedua macam tipe liquid tersebut. Tinggal di sesuaikan coilnya saja. Tapi, Pod yang beredar sekarang memang sudah bisa fleksibel seperti itu sih, meskipun awalnya Pod hanya bisa menggunakan liquid Salt Nicotine karena kekuatannya yang jauh lebih kecil dengan vape open system.
Beberapa minggu yang lalu banyak beredar kabar bahwa di Amerika sedang melarang penggunaan rokok elektronik, dan memuat foto-foto para pengguna vape yang terkapar di rumah sakit sedang di infus. Tapi setelah di selidiki lebih lanjut, ternyata mereka mencampurkan liquid yang mereka gunakan dengan narkoba atau pun benda-benda yang lain.
Tapi memang karena gue merasakan bahwa Vape ini lebih ‘mending’ ketimbang rokok konvensional, jadi gue enggak terlalu peduli dengan berita-berita itu. Beberapa orang yang gue ikuti di social media pun, memberikan testimoninya, bahwa setelah mereka rutin menggunakan rokok elektronik, mereka tidak merasakan sakit apa-apa. Gue juga enggak tau, bagaimana hasil test dalam jangka waktu 10 tahun atau lebih. Yang gue temui, paling lama itu kisaran 5 tahun.
Yang enggak merokok, lebih baik tidak usah menggunakan vape. Bagi perokok yang ingin berhenti, mungkin vape bisa menjadi pengalihan, ketimbang menggunakan rokok konvensional.
Gue sudah menggunakan dua liquid freebase, yang rasa strawberry serta rasa caramel popcorn. Yang strawberry, lebih enak di gunakan sesaat setelah makan nasi. Tapi, gue enggak akan menyarankan untuk menggunakan liquid dengan rasa caramel popcorn setelah makan nasi, karena pasti rasanya kenyang banget di perut.

Selain menggunakana liquid Freebase, gue pun menggunakan liquid Salt Nic. Perbedaan dari kedua liquid itu, mungkin para perokok dulunya, lebih baik menggunakan liquid Salt Nic, karena masih ada sensasi saat merokok. Selain itu, liquid yang di hasilkan oleh Salt Nic lebih cair dibandingkan dengan Freebase yang lebih kental. Yang gue baca, kebanyakan Pod menggunakan Salt Nic karena selain lebih cair dan dapat diresap oleh kapas, juga kekuatan yang di miliki oleh Pod tidak sebesar Mod.

Baca juga: Jangan pakai kemeja Batik!!
Tapi, sejauh ini liquid favorit gue adalah yang rasa mangga. Karena selain rasa manisnya saat ditarik ke mulut. Dan begitu di hembuskan, liquid ini mengeluarkan rasa mint atau dingin, jadi bagi gue yang dulunya merokok, rasa ini udah paling bener dan paling enak banget.
Sebulan lebih menggunakan Vape, sudah enggak ada keluhan lagi dengan dada gue yang sakit saat bangun tidur. Dan sudah tidak ada lagi, putung rokok yang mengotori lantai kamar. Dan juga yang lebih terasa, sepertinya gue jadi lebih hemat sih. Gue masih sering banget, saat bermain game PUBG yang butuh perhatian lebih, gue terkadang melupakan rokok yang telah gue bakar. So, sepertinya memang lebih hemat. Ehe.

5 komentar :

  1. Selama ini isu yang paling besar tentang rokok adalah kecanduan nikotin, dan perokok pasif yang terpapar asap rokok. Apakah dengan ngevape masalah nikotin itu bisa teratasi? Begitu juga dengan kebulan asap vape, apakah sama dengan asap rokok konvensional?

    Terimakasih sebelumnya, saya nomer absen 23 pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadar nikotin di Vape berasal dri liquid yg di beli. Sejauh yg gue tau, sebenernya kadar nikotinnya jauh lebih sedikit dari rokok konvensional. Untuk yg di keluarkan itu, bentuknya uap kok. Bukan asap. Dan uapnya juga ga menyengat seperti asap rokok, dan ga ngaruh untuk yg ngisep. Setau gue sih gitu.

      Dan tolong, tugas yg diberikan minggu kemarin, taruh di meja saya

      Hapus
  2. Rasa mangga? Buseh, ada-ada saja. Durian juga ada, kah? Yang penting jangan ada rasa mantan. Pahit, sakit, dan menyesakkan dada. Wqwq.

    Ini tulisan sengaja lu taruh tengah atau gimana? Kenapa enggak rata kiri atau rata semua gitu? Taruh di tengah-tengah begitu gue berasa lagi baca puisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa anggur, apel, kopi, popcorn, ada semua. Tinggal pilih aja, Yog

      Emang templatenya begini
      Gue msih bingung juga, caranya biar rapi di kiri begitu
      Wehuehue

      Hapus
  3. Satu-satunya Pod yang pernah gue coba adalah iPod. Muehehehe iya maaf.

    Pengen nanya "ada rasa yang pernah ada gak?" tapi kalau Haw baca pasti dia bakal marah besar. Hahahaha. Btw gue baru tau kalau garukan yang terasa di leher itu artinya throat hit, selama ini gue pikir deepthroat.

    BalasHapus

Biar gue bisa baca blog kalian juga, tolong tinggalkan jejak ya!

My Instagram

Copyright © Mahasantri.. Blogger Templates Designed by OddThemes