Friday, 16 February 2018

Tempat Offroad paling seru di Mesir

Liburan musim dingin kali ini sepertinya gue lebih sering menghabiskan waktu untuk berpergian ke luar kota ketimbang menjalani rutinitas yang gue cintai berupa ‘enggak melakukan kegiatan apapun diatas kasur’. Memang salah satu resolusi yang gue tuliskan ditahun ini adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di Mesir, dan Alhamdulillah bisa tercapai.
Kadang hal-hal iseng yang gue inginkan dan dituliskan di buku catatan yang gue miliki, bisa terjadi tanpa gue sangka. Kuncinya adalah  sing penting yaqin! The power of Law of attraction.

Kali ini gue akan menceritakan tentang salah satu kota di Mesir yang bernama Siwa, yang merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh para mahasiswa Indonesia disini dan juga para traveller yang berkunjung ke Mesir.
Perjalanan kemarin, di mulai pagi hari. Tepatnya jam satu pagi. Walaupun di grup sudah dibilangi agar berkumpul ketika jam 12 malam, tetap saja akan ngaret. Rombongan gue kali ini terdiri dari 13 orang, 6 cowo serta sisanya adalah ciwi-ciwi. Sebetulnya gue lumayan bimbang untuk ikutan berangkat, karena sebelumnya gue sudah pernah ke dua kota tersebut di tahun lalu. Tapi karena biaya yang ditawarkan kali ini lebih murah dibandingkan harga biasanya, makanya gue ikutan. Terlebih lagi, gue masih ketagihan dengan offroad di Siwa.
Yang gue siapkan hanyalah dua celana panjang, mengantisipasi celana gue akan robek seperti di Sinai kemarin, dua kaos tipis, powerbank, serta satu novel yang sudah berbulan-bulan enggak selesai dibaca. Tau alasannya kenapa gue hanya membawa peralatan seadanya seperti itu? Karena destinasi yang gue tuju adalah padang pasir, bukan bukit Sinai yang dingin itu. Ditambah lagi, cuaca Kairo yang sudah tidak terlalu dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Tapi semua yang gue rencanakan, tiba-tiba hancur berantakan. Ketika sampai di tempat pemberhentian untuk makan siang, cuaca yang gue kira akan cerah ternyata digantikan dengan awan berwarna gelap serta hujan yang pelan-pelan semakin deras turunnya. Apakah dingin? Banget, nyet. Pake nanya segala lagi lu.
Kan yang ngomong lu sendiri, su
Jaket yang gue bawa sama sekali enggak berguna, kulit gemuk gue pun sama saja . Enggak bisa menahan kencangnya angin serta hujan. Liburan yang gue kira akan berakhir dengan bahagia, ternyata sudah ada cobaannya sebelum sampai ke tempat tujuan. “Harusnya gue enggak ikutan” kalimat ini terus-terusan bermunculan di kepala gue. Sampai akhirnya, tanpa sengaja ada rombongan mahasiswa Indonesia lainnya yang beristirahat di tempat yang sama seperti rombongan gue. Setelah ditanya, ternyata mereka baru saja pulang dari tempat yang ingin gue tuju. Ketika ditanya tentang cuaca disana, jawaban mereka adalah,
“Iya. Disana ujan terus cui. Awet bos”
HALAH TAY
**
Destinasi pertama yang kita kunjungi di Siwa merupakan Jabal Dakrur. Tempat yang biasanya akan ramai didatangi oleh para ketua kabilah-kabilah yang ada di kota Siwa setiap tahunnya untuk membahas kejadian-kejadian yang terjadi di kota tersebut. Biasanya perkumpulan ini diadakan setelah panen kurma. Wajar saja, karena memang kota ini terkenal dengan banyaknya kebun kurma. Nah, selain orang-orangnya yang ramah, disini kita bisa membeli kurma dengan berbagai rasa sebagai oleh-oleh. Makanya gue enggak kapok pergi ke Siwa.
Jabal Dakrur

Danau garam berasa salju

Rombongan gue enggak bisa berlama-lama di tempat ini karena cuaca disini kurang mendukung. Hujan yang semakin deras, serta  waktu offroad yang sebentar lagi akan di mulai. Tapi sebelum offroad kita sempat mengunjungi danau garam. Gue sebetulnya sudah pernah mengunjungi tempat ini, tapi ketika awal kesini belum sempat mencicipi air danaunya. Apa benar asin, atau jangan-jangan manis kayak muka gue.
Gilani
Dan akhirnya offroad yang gue tunggu-tunggu datang juga. Asyeek!!
Alhamdulillah-nya, ketika offroad hujannya sudah berhenti, hanya menyisakan hawa-hawa dingin yang terkadang suka menusuk-nusuk badan. Satu mobil berisikan 7 orang. Inti dari offroad ini sebenernya hanyalah mengelilingi padang pasir menggunakan mobil. Tapi yang seru adalah si supirnya ini. mereka dengan seenaknya saja mengambil jalur ekstrim. Kayak merasa enggak berdosa aja gitu, bikin penumpangnya olahraga jantung dan mengeluarkan sumpah serapah. Orang-orang kayak gini sih pasti SIM nya nembak. Yaqin akutu. Gue pun masih enggak menyangka, kok bisa ya padang pasirnya seperti ini. Dan yang lebih gendeng-nya lagi, mobilnya kok ya kuat menghadapi jalur seperti ini. Sesekali sepertinya gue harus melihat di situs jual beli mobil seperti ini. Biar di Jakarta nanti mobil gue siap diajak kemana-mana.


Setelah dibikin mabok, kita diantarkan menuju oase air panas, sambil menghangatkan kaki plus minum teh hangat khas Siwa. Gue mulai enggak peduli terhadap suasana dingin ini, karena terlalu banyak hal menyenangkan yang bisa gue nikmati saat ini. Seandainya saja kita lebih fokus dengan hal yang menyenangkan dan banyak bersyukur, ketimbang terlalu sering mengeluh. Pasti akan lebih bahagia hidup ini.

Kesambet apaan, bisa nulis bijak gini
Setelah diantarkan ke dua oase, air panas dan dingin, para supir mengetes kejantanan kami para penumpang pria. Oh tentu saja, gue enggak teriak-teriak minta tolong. Tapi ini beneran gila jalanannya. Naik, kemudian belok seenak jidat si supir, lalu tiba-tiba posisi mobil sudah nungging kedepan, bersiap untuk meluncur kebawah. Untung pantat gue masih tetap di kursi, kalo misalnya akibat si supir yang mengendarai mobil seenaknya kemudian pantat gue pindah tempat ke mukanya pak supir, gimana? Bukan salah gue kan ya kalo hidungnya terhalang sama pantat gue? Naik mobil ini, serasa menaiki wahana yang ada di pasar malam. Enggak ada pengamanannya. Tapi bikin nagih!
Oase air dingin

 Perjalanan berakhir dengan Sandboarding. Gue enggak mau nulis gimana keseruannya, karena sebelumnya sudah gue tulis. Coba aja baca disini ya.

Kalau difikir-fikir lagi, sepertinya gue memang salah kostum juga sih. Karena mengira tempat ini akan dipenuhi sinar matahari, eh kenyataannya malah sebaliknya. Ke tempat dingin seperti ini malah mengenakan sandal gunung, bukannya menggunakan sepatu boots yang bisa membuat kaki lebih hangat. Sepertinya gue harus cek Tokopedia untuk bisa melihat berbagai macam sepatu pria casual yang harganya terjangaku untuk gue gunakan di Mesir. Siapa tau kedepannya gue bisa menjelajahi Mesir di kota-kota lainnya, atau siapa tau nanti gue akan tidur di tengah padang pasir, seperti yang gue alami di tahun kemarin, yaitu bermalam di tengah gurun padang pasir. Lebih banyak pilihan sepatu-sepatu bagus dan terjangkau di Indonesia ketimbang disini.
Sebelum kembali ke hotel, kita dibawa ke Camp mereka untuk beristirahat sekaligus makan. Ini memang sudah termasuk dari biaya offroad. Disini kita akan diberi makan berupa ayam, yang cara masaknya benar-benar ruar biyasak. Mereka meletakkan ayam yang telah diberi bumbu, dibawah tanah. Enggak tepat dibawah tanah juga sih. Jadi didalam tanah tersebut terdapat tong yang nantinya akan ditaruh lauk serta nasi yang akan dihidangkan. Ditambah lagi, si koki Mesir ini mempraktekan cara menaruhnya dengan bahasa arab yang di campur dengan bahasa Korea. Sarange oppa.
Sambil menunggu proses masaknya, gue serta yang lainnya berendam di kolam air panas. Gila. Asoy banget. Setelah beberapa hari sebelumnya enggak pernah mandi, akhirnya gue mandi juga. Senior-senior gue malah lebih parah, seminggu lebih enggak mandi. Gue engga tau deh, seberapa banyak daki yang ada di sore hari itu.

Hah, gue enggak akan pernah bosan dan menyesal untuk datang ke tempat ini lagi. I'm in love with you Siwa!!

5 comments:

  1. Udah optimis panas dan bawa barang seadanya, malah taunya hujan. Jadi inget pas ke Bandung waktu itu. Aturan cuma seminggu, tapi 5 hari berturut hujan terus dan nggak jadi-jadi pergi. Liburan pun diperpanjang jadi dua minggu demi tetap bisa main ke Bukit Moko. Tapi ya tetep aja waktunya kebanyakan tiduran di kontrakan temen. :(

    Maaf ya, saya nggak nembak SIM. Saya pakai biro jasa. Wqwq, padahal intinya sama. :p

    ReplyDelete
  2. Jadi pengin jalan-jalan ke mesir hehe. nice post btw

    ReplyDelete
  3. Nama Jabal Dakrur biasanya cuma denger aja, tapi ini lihat langsung, ya, meskipun hanya lewat foto aja. Makasih lho..
    Siapa tahu nanti bisa kesini juga, pengen ke turki juga..

    Mungkin aku juga bakal merasakan hal yang sama, dan nggak akan bosan kalau ke situ. Btw, nggak ada yang jualan kah, Mas? he

    ReplyDelete
  4. sepanjang jalan kenangan aku terfokus sama bagian "Seandainya saja kita lebih fokus dengan hal yang menyenangkan dan banyak bersyukur, ketimbang terlalu sering mengeluh. Pasti akan lebih bahagia hidup ini. "
    iya ini tumben banget, kesambet peri garam apa gimana..
    tapi bener ugaaa tuuu begitu, terkadang kita fokus sama keluh kesah yang ga guna buat pikiran makin sempit. jadi lupa bersyukur.
    itu oase air dingin talentnya adem ya *eh

    terus, di pic pertama kirain om jin di pilem jin dan jun -_-

    dannnn, aku kira di mesir cuma ada musim panas yang gersang, baiklahh jadi tertarik. buat giveaway dong tour ke mesir dan sekitarnya gitu.

    ReplyDelete
  5. sumpah fotonyaaa bikin iri kaya di gugel gugel gituu
    semoga suatu hari bisa kesana, Aamiin

    aku herannya, mobilnya gak selip ya?
    keinget kalo di padang pasirnya bromo motor kaya udah engaaap buat melajuu
    sama gak kena pasir pasir gitu matanya? gak kelilipan?
    haha, noraknya sayaa

    ReplyDelete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong okeee :))