Monday, 6 March 2017

Biskopnya sakit sih nih

Semua film-film yang tayang di bioskop Mesir itu aneh. Mulai dari cara beli tiketnya, filmnya, sampai subtitle yang dipakai. Berbeda dengan yang sering gue temukan di Indonesia. Makanya sampai sekarang gue masih belum tertarik untuk menonton film bisokop di Mesir. Disini, ketika ada sebuah film yang akan tayang di bioskop, gue akan dengan senang hati menunggu sampai berbulan-bulan. Menunggu, sampai film itu keluar di web penyedia film, lalu mendownload film bajakan tersebut, kemudian menontonnya di rumah dengan tenang .
http://www.shareyouressays.com
Tapi kemarin, untuk pertama kalinya gue menonton langsung di bioskop.
Sebenernya, nggak penting juga sih tulisan ini. Tapi bodo amat lah ya.
“Ayo sini, kumpulin duitnya. Biar gue yang beli tiketnya” Kata Hazmi.
Ada empat orang lainnya selain gue. Dua orang perempuan, dan dua orang laki-laki. Sebetulnya hanya dua laki-laki, tapi satu orang lagi maksa untuk ikutan. Mau diusir, tapi takut ngambek. Kalau ngambeknya hanya diam dan nggak mau ngomong, gue sih selow. Tapi, kalau ngambeknya sampe ngerusak hubungan orang lain, gimana? Nggak percaya? Percaya aja deh.
Lah maksa
Film yang ingin gue tonton sekarang adalah film yang di bintangi oleh Ryan Gosling, La La Land. Film yang di bintangi oleh saudara gue tapi berbeda ibu ini sebenernya sudah tayang cukup lama di bioskop, dan sebenernya gue sudah punya file filmnya. Tapi belum gue tonton. Kalau gue baca-baca review orang-orang yang telah menonton film ini, katanya sih seru. Tapi endingnya yang, yah gitu. Mantep lah intinya.
Sebelum membeli tiket, Hazmi bertanya ke gue serta teman-teman gue yang lain.
“Ini semuanya mau nonton La La Land? Atau ada yang mau nonton film lain?”
“Lah, kan ini emang niatnya nonton bareng, su. Lu gimana dah” kata penjual tiket.
Ini kenapa penjual tiketnya ikutan nimbrung disini.
“Oh berarti La La Land, lima tiket ya? Biasanya kalau nonton bareng sama kakak gue yang cewe, kita beda film. Gue nonton film Inggris, sedangkan dia nonton film Kamboja”
“Ah maca ci” kata penjual tiket lagi.
Allahu akbar
Ini kalau penjual tiket jawab lagi, gue shot gun juga hidungnya.
“Mat, ikut sini. Kita beli bareng”
Disini letak perbedaan bioskop Indonesia dengan Mesir.
“Mat, gimana nih? filmnya udah mulai. Kita beli tiket yang jam selanjutnya aja?”
“Iya, gitu aja”
Ketika gue sampai di bioskop, disini masih sepi pengunjungnya. Kalau kata si Hazmi sih, pengunjungnya akan rame ketika mulai malam hari. Penyebabnya apa, gue pun juga nggak tau. Tapi, kalau benar penyebabnya, karena setiap malam disini ada penari perut, tau gitu gue datengnya lebih malam. Nyesel jadinya, sampai sini ketika sore hari.
Setau gue, penari perut itu biasanya mangkal di kapal, sambil menemani orang-orang yang sedang makan malam di kapal tersebut. Kerjaannya bikin nggak fokus orang aja ya. Kalau disini beneran ada penari perut yang mangkal ketika malam hari, pasti bakalan mengirit biaya. Karena biaya yang biasanya dikeluarkan untuk melihat orang joget itu saja, perlu mengeluarkan uang sampai 400 Pound Mesir.  Gila ya.
Bentar. Ini kenapa gue jadi ngebahas si penari perut. Hhhh.
Oke lanjut.
“Kalian harus nunggu satu jam lagi, sebelum filmnya mulai. Kalau beli sekarang nggak bisa. Paham kamu?!” kata penjual tiket, yang wajahnya mirip Kingkong.
Aneh.
Mau beli tiket tapi ditahan-tahan.
Di Indonesia nggak kayak gitu ah setau gue.
Iya kan?
Dasar Kingkong.
**
Setelah sejam film dimulai, ruang teater tempat gue menonton mendadak menjadi terang, lampu ruangannya menyala, sedangkan layar yang tadinya menampilkan film, tiba-tiba mati. Filmnya habis? Beloman. Beloman abis, nyet. Kalau sebuah film habis, biasanya nama-nama pemain serta kru-kru film akan muncul di layar. Lah ini nggak.
Biskopnya sakit sih nih
Perempuan yang duduk disamping kiri gue, berdiri menginggalkan kursi. Tapi temannya nggak mengikutinya. Ketika gue melihat ke sekeliling, beberapa diantara dari mereka keluar ruangan. Tapi, sebagiannya lagi masih duduk manis. Teman-teman gue yang duduk disamping sebelah kanan , kompak mengeluarkan handphone. Ada yang buka Instagram, buka Whatsapp, ada yang buka Bigo sambil joget-joget minta dikirim diamond. Tapi setelah gue perhatikan, kayaknya dia bukan temen gue deh.
Bentar...
Kalau diliat baik-baik, kok mukanya kayak si Kingkong penjual tiket tadi.
Eh, tapi kalau difikir-fikir, muka orang Mesir memang sama semua sih di mata gue.
Ehe ehe.
Setelah sepuluh menit, lampu teater dimatikan. Kemudian film dilanjutkan lagi. Perempuan disamping gue, sudah kembali ke tempat duduknya semula, sambil membawa dua buah Pepsi serta tangan yang satunya lagi membawa bungkusan plastik.  Setau gue, kalau beli Popcorn di bioskop itu ada tempat khususnya deh. Ah ga tau juga. Mungkin isi plastik hitamnya kwetiau goreng. Atau nasi goreng. Atau ayam goreng. Ah semasa bodo.
Ketika film di mulai lagi, ini pekerjaan lumayan susah bagi gue. Susah, karena harus mengingat sampai adegan mana sebelum filmnya mendadak mati tadi. Dan juga, hal lain yang membuat diri gue malas untuk nonton bioskop disini, karena subtitle yang muncul di layar adalah tulisan Arab serta Perancis. Filmnya berbahasa Inggris, subtitlenya bahasa Arab. Mantap. Hitung-hitung belajar listening gitu lah ya. Cukup film yang berbahasa Inggris saja yang gue tonton di bioskop ini. Film-film lain seperti film Korea, Thailand, Argentina, ataupun Brazil, kayaknya nggak akan gue tonton di tempat ini. Niatnya mau refreshing, eh tapi malah kena gejala sakit kepala ringan.
Nggak mau ah.
**
“Eh, tadi kok di tengah-tengah film lampunya nyala deh? Padahal kan belum habis” kata gue.
“Semua film yang ada disini emang gitu, Mat. Ada istirahatnya” kata Hazmi.
“Bisokop apaan kayak gitu. Gue nggak mau nonton lagi di bioskop ini”
“Tapi kalau gue bayarin tiketnya, masih nggak mau?”
“Ehe. Yamaula”
Yah, begitu kira-kira perbedaan bioskop yang ada disini. Kalau nggak percaya, coba nonton disini. Sapa tau ketemu sama si Kingk... 

Ads