Monday, 4 December 2017

Paman kampus Al-Azhar Mesir

Banyak hal yang tidak mengenakan ketika belajar di Mesir. Walaupun sejatinya, semua hal tidak enak itu hilang seketika, ketika bertemu dengan para ulama-ulama yang sangat baik sekali hatinya dan sangat pemurah dalam mengajarkan ilmu-ilmu agam kepada kami.
Tapi berbeda dengan si paman kampus, yang amat sangat… duh, bahasa yang cocok untuk mendeskripsikan si paman-paman berjenggot ini apa ya. Paman pelatih kesabaran orang? Paman jenggot? Ya itulah pokoknya. Disini disebutnya suun, kalau di Indonesia mungkin seperti bagian Tata Usaha (TU) kampus.
Setiap tahun seluruh mahasiswa Al-Azhar akan mendatangi suun kampus, entah itu untuk mengambil lembaran kertas yang nantinya akan para mahasiswa gunakan untuk membayar di bagian administrasi kampus. Atau untuk mengambil kartu mahasiswa. Atau juga bisa untuk mengambil tanda bukti kita sebagai mahasiswa, dan nantinya berguna sebagai salah satu persyaratan yang harus kita bawa untuk memperpanjang visa kita di Mesir.
Tapi selain tugas paman suun yang sudah gue sebutkan diatas, ada satu hal lainnya yang membuat paman  suun ini selalu diingat oleh para mahasiswa fakultas Syariah.
Sistem perkulihan di Al-Azhar masih mengikuti masa-masa sebelumnya. Yang sebagian besar masih dikerjakan secara manual, secara tulisan tangan. Begitu juga dengan sistem administrasi kampusnya yang dilakukan dengan cara mengantri di khozinah (tempat untuk membayar uang perkuliahan). Harus seperti itu, tidak bisa dengan mentransfer uang pembayaran ke rekening kampus.
Kalau di Indonesia para mahasiswa harus membayar setiap semester, di Al-Azhar hanya membayar sekali setiap tahunnya. Dan jumlah uang yang dikeluarkan tidak lebih dari 300 ribu. Diluar untuk membeli buku-buku pelajaran serta buku-buku pendukung lainnya loh ya.
Jadi kalau secara singkat seperti ini,
Antri suun meminta kertas kecil, tanda untuk membayar- Antri di khozinah untuk membayar -  Antri lagi di suun untuk menyerahkan kwitansi pembayaran dan selanjutnya meminta kartu mahasiswa serta tanda mahasiswa untuk memperpanjang visa tinggal kita di Mesir.
Tapi.
Enggak sesederhana itu di kenyataannya, pak.
Dari rumah, gue berangkat jam tujuh pagi ketika teman-teman gue lebih banyak memilih untuk duduk santai di rumah sambil selimutan, dan meminum the hangat. Perjalanan dari rumah menuju kampus hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk jalan kaki, dan tujuh hari kalau sambil kayang. Sepanjang perjalanan banyak toko-toko yang tertutup rapat, begitu pula anjing liar yang asik tidur diatas kap mobil. Semuanya mager.
Kairo di musim dingin seperti ini memang lebih asik di habiskan dengan meminum teh hangat serta menghirup sisha, selain tidur dibawah selimut tentunya. Biasanya tiap pergi ke kampus, gue akan menemukan paman-paman tersebut sedang duduk santai didepan kafe, sambil berbicara dengan teman sepermainannya. Entah teman sepermainan klereng atau  karambol, gue enggak paham juga. Dan enggak ada niatan untuk bertanya kepada mereka juga sih.
Didepan gedung fakultas Syariah sudah ada beberapa orang yang sedang duduk di bangku taman. Tujuannya sama seperti gue, untuk mengantri demi selembar kertas. Kebanyakan yang sudah datang adalah para mahasiswa Malaysia serta Indonesia. Biasanya kita akan menunggu diluar gedung, sampai gedung telah dibersihkan. Enggak ada yang tau pastinya selesai jam berapa, yang penting ketika sudah diizinkan masuk, ya baru masuk. Gitu.
Antrian sudah panjang, tapi para paman-paman petugas disini belum ada yang datang. Biasanya mereka akan datang jam Sembilan. Tapi berbeda dengan paman yang akan gue bahas sekarang.
Arah jarum kecil di jam tangan gue mengarah ke angka sepuluh, kemudian datanglah si paman ini dengan membawa segelas kecil teh hangat, denga tampang tak berdosa. Apakah dia peduli dengan banyaknya antrian yang ada didepan ruangannya? Oh tentu tidak. Dari sekian banyak ruangan di lantai satu, hanya ruangan dia saja yang dipenuhi dengan banyaknya mahasiswa seperti ini. Bahkan antrian ini sampai menutup jalan orang memasuki ruangan lainnya. Mantap? YA MANTAP LAH ALIG LU.
Gue masih bingung sih, teman-teman kerja si paman ini kalau lagi jam istirahat enggak ada yang ngomongin apa gitu. Enggak ada yang nyeletuk,
“Kita dateng jam Sembilan, dia enak-enak dateng jam sepuluh. Hih. Kzl”
“Bawa tehnya cuman satu lagi. Iiih”
“Abis kerja nanti kita jadi main karambol kan?”
 Apakah penderitaan kita sudah sampai hanya disitu? Tentu saja belum. Terkadang ketika sudah mengantri, si paman ini dengan santainya mengatakan,
“Yang sudah bayar rusum serta iqomah saja yang boleh”
TERUS YANG BELUM BAYAR ENGGAK BOLEH? PAN KITA NGANTRI BUAT NGAMBIL KERTAS TANDA BUAT BAYAAAAR, DUH ELAH MALIIIH
“Kertas tasdiq(kertas tanda bahwasanya kita mahasiswa di Al-Azhar) abis. Besok saja datangnya”
LU KASIH TAUNYA JANGAN SEKARANG MALIIIH. DARI TADIII PAGI HOY!
Yah. Seperti itu lah kurang lebih.
Kertasnya habis lah. Atau ketika antrian hanya tersisa dua orang lagi didepan kita, tapi tiba-tiba si paman ini keluar ruangan dan dengan santainya mengusir kita pergi dan menyuruh kita datang esok hari. Kzl.
Tapi walaupun begitu, yasudah lah. Sudah terjadi juga. Ikhlas saja. Anggap saja seperti bumbu kehidupan. Pasti si paman ini punya sisi baiknya juga kok, semua orang bukannya seperti itu? Punya sifat baik dan buruk? Dan meskipun begitu, toh kita para mahasiswa disini tetap bisa belajar dengan tenang. Entah belajar di kampus ataupun dengan para masayikh disini. Dan semoga saja bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari nantinya ke orang lain. Amin.
Gile. Bisa bijak gitu lu, nyet

19 comments:

  1. Ini yang nulis postingan bukan Ozi ya? Kok beda? Kok awalannya menyentuh? Kok akhirannya bijak? Kok bagus? Kok nggak ngeselin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue emang aslinya bijak kok.
      Jgan kaget gitu ah :))

      Delete
  2. Hm gue gatau harus bela siapa bang. Karena gue masih di Indonesia, gak bisa menjustifikasi tanpa ada manifestasi /halah/.

    Jadi gue punya kenalan, lumayan deket, sama petugas perpus kampus gue. Hahahahaha (bentar ketawa dulu). Gimana ya gue ceritanya :/

    Banyak temen2 gue yang memberi kesan kurang baik kepada si petugas pengembalian buku ini. Alasannya krn kurang senyum, gak ramah, dll lah. Pokoknya bikin males ke perpus deh. Kalo ga ada tugas makalah, amit2 deh. Muka petugasnya ga bersahabat.

    Nah padahal....ya, gue sebagai org yg kenal si petugas ini diluar jam kerjanya ngerasa....dia baik2 aja sih. Cuma emang cara berinteraksi/bicaranya gak 'ramah'. Tapi bukan berarti ga berhati baik ya.

    Hmm, beliau sih ngelesnya gini, "ya org S*matera mah begini ngomongnya, keras. Lagian saya juga ga cocok sebenernya kalo berhadapan langsung sama orang."

    Tapi ya menurut gue, kalo udah di posisi pekerjaan yang ngadepin orang, harus dikesampingkan dulu karakter yang 'ga suka orang'. Profesional lah.

    Tapi kadang mahasiswanya nyebelin ga bisa antri.

    Trus tapi juga kudu senyum kan ya.

    Apaan sih, gitu pokoknya.

    Sabar bang, jangan2 suun itu lagi bete. PMS.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa komen gue kayak cerpen -_-

      Delete
    2. Dia cowo. Dan emgnya bisa PMS gtu?

      Yah mau berfikiran positif gmna, jatohnya bakalan seudzon mulu sih. Hahah.
      Kita nunggu dri jam stgah tujuh, dia dteng jam 10 dan slesai jam 12. Pdhal tmen" kerjanya yg lain dteng jam 9 slesai bhkan smpe jam 1. Gmna? Udh mulai seudzon blom nih?

      Delete
  3. bisa jadi itu si Paman tersayang lagi PMS mas, jadi sensi begitu ya..
    hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue seudzon mulu sma si paman ini

      Heuheuheu

      Delete
  4. kenapa kesannay dari cerita2mu...mesir itu nggilani ya ahahah

    ReplyDelete
  5. Waah btw sampe sekarang masih kuliah di sana? Tp kayanya ga cuma di mesir aja deh. Perasaan di Indonesia pelayan masyarakat banyak yang gak mengerjakan tugasnya dengan baik. Pada telat lah gak ramah/judes seenak udel kalo ngomong, tp ya gimana lagi kan kita yg butuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya btw lagi, di HP ku template mu menggangguku 😂😂😂
      Mau baca lagi scroll ke bawah tiba2 miring malah kegeser kiri trs tulisannya ilang, dibalikin lagi gabisa. Kan kzl. Apa cuma HP ku aja yg kaya gini?

      Delete
  6. wew mungkin dia lagi galau, pengen ikut kuliah juga.. tapi dan gak bisa lagi...

    ReplyDelete
  7. Oh, paman suun itu semacam TU ya..
    Gegara paman kampus ini. Bikin orang mikir yg gk2 ya, Mas. Suudzon gitu ya. Dah ah, ngelus dada :)

    Adekku cita-cita pengen kuliah di Mesir jg, Mas. Semoga kesampaian seperti mas Ahmad..aamiin..

    ReplyDelete
  8. Ternyata sistemnya beda ya kayak di indonesia, tapi ya tetep ngantri juga,kagak bisa via online, diurus sambil selonjoran di kasur hehe

    ReplyDelete
  9. Seharusnya sistem kuno yang belum bisa transfer itu perlu diperbarui. Ya, daripada bikin panjang antrean gitu. Saya pun jadi ingat kejadian di kampus dulu, ketika sistemnya sering eror dan nggak bisa transfer ke bank itu, para mahasiswa kudu antre. Nggak boleh dititipin. Saking padatnya mahasiswa, bahkan ada yang pingsan. :')

    ReplyDelete
  10. Suun pak Suun... kenapa engkau kzlin..
    Macam mana nggak kzlin, wani piro dulu.. wani piro duluuuu~
    Hehe... sabar yaaa... pasti ada sesuatu di balik cobaan menunggu ini hehe...

    ReplyDelete
  11. ternyata di Mesir sistem pembayaran masih manual gitu ya mas, dan itu biaya per tahun 300 ribu, itu mata uang mesir atau mata uang Rupiah mas hehe

    Mas mau tanya gimana rasanya menghirup sisha?

    ReplyDelete
  12. Wah mantap di mesir ada musim dinginya. Wah manual kayak waktu gue sma aja bayar sppnya wkwkw pamanya itu kayak petugas TU ya di indo?

    Oh ya btw templatemu rada berat boi dan kalau di hp ngeselin bisa geser sendiri menunya masukan aja sih hehe

    ReplyDelete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong okeee :))