Tuesday, 8 August 2017

Menerima

Menurut gue, hal paling mudah untuk dilakukan selain ngupil adalah menyalahkan orang lain. Sepertinya gampang aja gitu kan, menyalahkan orang lain. Padahal yang sebetulnya salah adalah diri kita sendiri. Seperti contohnya, ketika gue sedang mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang, tiba-tiba kendaraan yang berada di posisi depan gue rem mendadak, gue akan dengan mudahnya menyalahkan pengemudi tersebut. Padahal kalau di teliti lagi, mungkin saja pengemudi tersebut memberentikan kendaraannya karena yaaa memang disitu tempat parkirnya. Gue nya aja yang bodoh ngebut di tempat parkir.
Sama seperti kejadian kemarin di jalanan Jakarta.
Sebuah motor melaju dengan cepat di jalur berlawanan, niatnya untuk mendahului kendaraan yang ada didepannya. Mungkin karena pengelihatan motor ini hanya terfokus untuk mendahului kendaraan didepannya, sehingga dia tidak melihat sebuah mobil yang sedang melaju cukup cepat dari arah berlawanan. Kemudian apa yang terjadi?
Apakah pengendar motor itu buru-buru memperlambat lajunya? Oh enggak. Yang dilakukan oleh pengendara motor itu adalah membuka kaca helmnya, kemudian kepalanya bergerak kebelakang, lalu dengan cepat memajukan kepalanya sambil mengeluarkan air dari mulutnya tepat ke kaca mobil. Mantap kan? Yang mengambil jalur orang padahal si pengendara motor tersebut loh, tapi dia lebih galak. See, betapa mudahnya menyalahkan orang lain?
Asumsi gue, air yang keluar dari mulut pengendara tersebut adalah ludah. Tapi kalau menurut kalian air itu adalah kuah soto, ya enggak apa-apa juga.
**
Sepertinya gue punya sifat seperti itu. Lebih mudah menyalahkan orang lain, ketimbang intropeksi diri. Sifat ini seharusnya sudah lama gue tinggalkan, karena sepertinya engga ada manfaatnya untuk diri sendiri.  Kenapa baru sadarnya sekarang ya?
Karena hal ini lah, sepertinya gue susah untuk menerima lingkungan baru. Gue selalu menyalahkan orang lain, merasa diri ini paling benar. Kenapa engga mencoba berada di posisi orang yang lain. Melihat dari sudut pandangnya. Kalau sekiranya memang diri kita yang salah, kita yang meminta maaf. Bukan malah menyalahkan orang lain. Pantes aja temen gue sedikit. Tiap ada orang yang ingin mencairkan suasana malah gue berfikiran negatif. Menganggap dirinya sebagai sosok manusia yang sok asik.
Aduh bego banget sih, mat.
Sama seperti pribahasa yang bunyinya,
‘Gajak di pelupuk mata tak tampak. Semut di seberang lautan tampak’
Yah, semoga  Fauzi di masa depan tidak melakukan hal ini lagi. Lebih banyak belajar untuk menerima, dan bukan menyalahkan orang lain.

2 comments:

  1. akupun semoga begitu, ga reaktif tapi proaktif

    ReplyDelete
  2. wihh sangar bener pengendaara motornya, semoga selamat sampe tujuan orangnya.. dan sadar

    ReplyDelete

cara bersedekah paling mudah, berkomentar di Blog ane ini