Saturday, 3 December 2016

Duhai senior-senior ku yang keren

Minggu kemarin, para pelajar Indonesia yang berada di Mesir atau yang biasa di sebut dengan panggilan Masisir, disajikan dengan berbagai film-film keren karya anak bangsa. Salah satu film yang paling gue inget adalah film Ketika Cinta Bertasbih. Sebenernya filmnya ada banyak, kalau nggak salah ada dua.
Eh, tapi kayaknya lebih.
Namanya kan festival film.
Tapi nggak tau juga sih ada berapa.
Bodo ah~
PPMI Mesir
Film Ketika Cinta Bertasbih ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan Kang Abik, panggilan akrab untuk Habiburahman el-shirazy, yang juga merupakan senior gue di kampus Al-Azhar. Nggak tau juga deh, kenapa gue bangga dengan hal itu. Padahal yang bikin buku bukan gue, ikut ngasih dana untuk filmnya juga nggak. Aneh ya?
PPMI Mesir
Selain Kang Abik, sebetulnya ada kaka Zeze Shahab. Salah satu aktor perempuan yang turut datang ke Mesir. Kemarin itu gue baru pertama kali melihat sosok kakak Zeze Shahab, selain baik, dia juga punya senyuman yang manis. Wajar aja banyak dari masisir yang ingin foto bareng dengannya. Hitung-hitung, biar bisa pamer di sosmed juga kan(?)
Gue?
Gue nggak terlalu suka foto-foto seperti itu, malu. Lebih enak melihat orang-orang yang sibuk mengantri demi foto bareng dengan kakak Zeze. Lucu aja gitu. Eh tapi, kayaknya senior gue, yang menemani kaka Zeze Shahab jalan-jalan di museum kemarin dengan pasminanya berwarna merah, nggak kalah lucu juga. Tapi siapa ya nama senior gue itu? Ah, lupa.
PPMI Mesir
Suaminya kaka Zeze juga ikut kesini, dan gue baru tau ternyata suaminya pun nggak kalah keren. Terkadang hal kecil seperti ini yang menyuntikan semangat ke diri gue untuk menjadi pria yang lebih keren. Mindset gue adalah ketika diri lu berhasil menjadi sosok pria yang hebat, nantinya akan dipertemukan dengan wanita yang keren juga. Atthoyibin lii thoyibat. Lelaki yang baik dengan wanita yang baik.
Nggak salah kan, kalau gue mikir demikian?
Kenapa malah nge-bahas jodoh dah, Nyet?
Selain Kang Abik, ada penulis lain yang gue sukai. Ahmad Fuadi. Beliau adalah penulis Trilogi yang buku-bukunya menjadi best-seller, dan masih ada benang merahnya dengan diri gue. Kalau Kang Abik adalah senior gue di kampus sekarang ini, kalau Ahmad Fuadi adalah senior gue ketika di pondok dulu.
http://dwiyuniarsih28.blogspot.com.eg/
Bentar.
Sebenernya mereka nggak kenal sama gue juga sih, tapi kenapa jadi sok akrab gini dah.
Biarin amat lah ya.
Mereka nggak baca juga.
Nggak tau deh, melihat para senior-senior yang bisa menulis buku sekeren itu, bahkan sampai buku-bukunya di film kan, bikin diri gue minder. Pertanyaan ke diri sendiri berupa,
“Mereka bisa bikin buku best-seller, nah elu kapan, nyet?”
“LU KAPAN MAU NULIS? SPIK DOANG KATANYA MAU JADI PENULIS LU! DASAR ONTA!”
“Jodoh lu sebenernya dimana dah? Kok nggak dateng-dateng dah, Ji”
“Diet apa kabar?”
Gue sampai bosan, dengan pertanyaan yang gue buat itu.
Sepertinya yang gue harus lakukan untuk saat ini adalah menuliskan mimpi gue itu diatas lembar buku catatan, kemudian mempercayai bahwa hal itu pasti terwujud, sambil berusaha dan tidak lupa minta ridho Allah, lalu menjalani hidup dengan damai.
Seperti Tweet yang gue temukan tadi malam, tulisannya kurang lebih seperti ini,
“Lepaskan kemarin, tundalah esok, rayakan hari ini”
Gue sepertinya terlalu takut dengan segala kemungkinan yang terjadi di esok hari, sampai lupa untuk merayakan hari ini.
Duhai senior-senior yang keren plus baik hati, doakan ane supaya jadi penulis hebat yang bermanfaat, dan izin kan ane untuk bisa, atau kalau bisa sih melebihi antum-antum. Syukron!