Thursday, 25 February 2016

Tentang topeng dan candaan

Ketika ke luar rumah dengan menggunakan jaket tebal, udara di luar malah memberikan hal yang sebaliknya. Matahari seolah sedang bercanda pada makhluk bumi, begitu juga dengan angin yang semestinya bertiup kencang, tapi untuk saat ini malah anteng-anteng saja.
Hmm...
Apakah matahari dan angin mempunyai topeng layaknya manusia ya?
Terkadang gue masih nggak mengerti dengan sikap orang-orang. Pemandangan yang gue biasa temui juga, mengatakan seperti itu. Sahabat gue yang sejatinya suka teriak-teriak kalo berbicara, bisa menjadi sosok anggun didepan orang yang baru dia temui. Seperti ingin menunjukan sifat lainnya, menampakkan sikap yang berbeda saat bertemu orang baru. Seolah sahabat gue ingin memberi kesan kepada orang baru itu, bahwa dia adalah sosok wanita anggun, sosok yang penuh dengan senyum, sosok yang selalu riang. Emangnya harus seperti itu ya?
Sama seperti sahabat gue, teman gue yang lainnya pun sering bersikap seperti itu. Diluar lingkaran teman-teman dekatnya, dia berubah seperti sosok lelaki yang baik hati, tenang, ringan membantu, bersikap layaknya cowo idaman bagi gadis-gadis diluar sana. Padahal sejatinya? Omongannya terkadang seperti sebilah pisau, hanya menyakiti perasaan orang. Mungkin dalam fikirannya hanya sebuah candaan, tapi apa memang harus sekeji itu ya?
Tapi kalo kata ustad gue di pondok dulu sih,
“Zi, kalo kamu ingin merubah orang lain, coba bicara dengannya baik-baik. Kalo tidak bisa, coba gunakan tangan kamu untuk memperingatinya. Tetapi, kalo memang sudah tidak bisa, biarkan saja. Itu urasan dia dengan Allah. Kamu cukup doain aja, supaya sifat dia yang seperti itu bisa berubah”
Hmm...
Ustad gue bener kayaknya.
Sepertinya zaman sekarang candaannya kurang asik, karena isinya hanya berupa hinaan. Toh, kalo pun dicandaain balik dia malah marah-marah, bahkan ada juga yang sampai mengancam. Mbok ya to, kalo dibecandain balik nggak usah marah-marah juga sih.
Emangnya asik ya, menertawakan orang lain dengan hinaan?
**
Yah, tapi itu hanya menurut pandangan gue aja sih. Gue juga masih jauh banget dari kata orang baik, tapi nggak salah juga kan, kalo saling memperingati?
Hmm...
Kayaknya itu aja sih curhatannya kali ini.

Ehehe 

Sunday, 14 February 2016

Pertemuanku dengan gadis bercadar

Ahlan.
Pernah denger nggak, tentang qoutes seperti ini,
“Jodoh pasti ketemu”
“Jodoh itu nggak akan tertukar”
“Azab penghina jomblo”
Dan sepertinya, gue ketemu deh ketika minggu lalu. Sama sosok yang kena azab ituh jodoh gue.
Jadi, ketika itu gue sedang berangkat menuju masjid Al-Azhar. Tujuannya hendak belajar.
Pencitraan banget, nyet
Nggak tau deh, tempat favorit belajar sejak di pondok itu adalah masjid. Mungkin karena tempatnya adem semeriwing-semeriwing gitu kali yak, makanya betah. Padahal ujung-ujungnya tidur juga sih. Tapi... yah, namanya juga sudah nyaman. Susah mau pindah ke lain hati.
Lah.
Sebelumnya gue sempat singgah ke kantor imigrasi, mau liat orang-orang antri disana. Kayaknya seru aja sih, liat orang-orang yang antri. Terus tiba-tiba dari luar, gue teriak,
“RASAIN LU!! ANTRI DAH SONO!! MAMAM LUH!! HAHAHA” Sambil lempar petasan ke dalam kantor imigrasi, biar tambah rame.
Tapi percuma juga sih. Nggak ada yang paham juga. Wong, yang ngantri orang Afrika. Toh, Kalo pun sampai beneran lempar petasan, paling letak kepala gue nggak seperti saat ini. Agak bengkok ke arah kira lah... Atau mungkin, posisi kepalanya sudah  berada dibawah ketek.
Ketika jarak gue 500 meter dari kantor imigrasi, tiba-tiba ada sosok gadis berpakaian abaya hitam, serta bercadar hitam, pokoknya serba hitam, tapi matanya ituh loh nggak nahan. Gadis itu keluar dari bis dengan tergesa-gesa, lalu langkahnya terhenti depan tembok pas. Selang beberapa saat, dia menarik cadarnya kemudian mengeluarkan cairan dari mulutnya. Warna orange gitu, kirain kan, dia abis minum ekstra joss di warteg deket sini. Tapi, kalo difikir-fikir lagi, gue juga nggak pernah ketemu tuh warteg-warteg disekitar kantor imigrasi. Mau gue samperin, terus main tebak-tebakan kayaknya bukan waktu yang tepat juga. Mau samperin sambil nge-gombalin,  kok kayaknya ya nggak pas momentnya.
“Bapak kamu... ”
“HOEEEK... HOEEEK”
“Bapak kamu...”
“HOEEK... HOEEEK!!”
“Hoy, gue mau nge-gombal inih ceritanya. Perhatiin dikit napah, elaaah. Lempar batu juga nih”
“HOEEK... HOEEK... CUUUH”
“Lah, minta dilemparin batu nih orang”
Agak gimana gitu kan ya. Masa tiap gue nge-gombal dia muntah, dikiranya mulut gue sarang naga kali.
Entah kenapa saat itu, mendadak jiwa jantan gue muncul. Gue berfikir bahwa gadis bercadar dengan mata indah ini adalah jodoh gue, dan gue harus jadi superheronya. Meskipun khayalan gue bertemu jodoh itu, di taman yang indah atau diperkenalkan oleh teman, tapi kalo kenyataannya pun gue bertemu dengan jodoh gue ketika dia sedang muntah, nggak apa-apa juga deh. Ikhlas kok. Wong, ayu koyok ngene, kok diangguri to?
Dengan sigap, gue mempercepat langkah kaki gue menuju kantin yang terletak didalam kantor imigrasi untuk membeli tisu. Setelah itu, gue kembali lagi menuju gadis itu. Tetapi langkah kaki gue terhenti, ketika melihat dia telah bersandar di tembok, sambil memegang tisu yang tersisa setengah.
“Ah, telat gue”
Fikir gue ketika itu.
Tapi entah kenapa, seolah ada suara lain yang membisikkan di telinga gue,
“KASIH, JI TISUNYA!! LU UDAH BELI, NYET. KASIH GIH SONOH. NGGA MAU TAU CARANYA, HARUS KASIH DIA TISU YANG LU BELI INI, NYET”
Dengan perasaan yang masih ragu, gue melangkah mendekati sosok gadis itu. Satu langkah, dua langkah, dan akhirnya gue sampai tepat didepan gadis bercadar itu. Tangan gue menyodorkan tisu yang barusan gue beli di kantin, berharap dia mengambilnya, meskipun ketika itu dia sedang memegang tisu yang tersisa setengah.
Disaat itu, mendadak waktu berlangsung lebih lama dari biasanya. Suara-suara pejalan kaki tidak terdengar, suara-suara bis yang berlalu lalang pun juga tidak terdengar oleh telinga gue. Padahal di jam itu, adalah waktu pulang sekolah bagi para siswa-siswi Ma’had (setara dengan SMA).Yang gue dengar hanya lah detak jantung gue yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
Deeg.. deg... deeg... deg...
Nggak deng.
Nggak se-drama itu.
Alay amat, nye!!
Ketika tangan gue menyodorkan tisu, saat itu pula gadis bercadar itu memperhatikan gue, kemudian menggelengkan kepalanya. Iya, menggeleng. Bukan mengangguk. Gelengnya juga cuman dua kali kok, nggak banyak. Dikirain lagi joget kereta malam kali, kalo geleng-gelengnya berkali-kali.
Jugi jag gi jug gi jag gi jug.... keretaaa berangkaaat.
Rasanya pengen gue sundul gadis bercadar itu. Tapi, nggak boleh. Kata senior gue, itu hal yang nggak baik. Anak onta, juga tau sih kalo itu bukan hal yang baik. Lagi pula, gadis bercadar seperti itu sih harusnya dilamar, bukan disundul.
Yak, mungkin karena faktor wajah gue yang kayak mamang-mamang ini, sehingga si gadis bercadar itu menggelengkan kepalanya. Atau mungkin karena faktor lain? Hmm... semoga memang karena faktor lain, bukan karena wajah. Kalo karena faktor wajah, emm... gue sund... gue kasih duit deh tau gitu. Biar dia beli tisu sendiri.
Tapi yaudah sih, sekarang bukan saatnya galau-galau karena di geleng-gelengin sama gadis bercadar. Sekarang zamannya galau, karena belum bisa shalawatan istiqomah setiap hari. Kalo kata temen gue si Andi sih,
“Itu yang galau-galau, mungkin dia belum cinta sama Rasul”
Sungguh bijak.
Padahal yaah... kalo tidur, ya nga-nga nga-nga juga mulutnya. Ituh, nga-nga nga-nga bahasa apaan sih dah? intinya ya mulutnya terbuka pas tidur gitu. Jadi, nga-nga nga-nga means terbuka.  
Cinta segitiga zaman sekarang, juga bukan karena terjebak oleh perasaan yang harus dibagi kepada dua orang manusia. Cinta segitiga sekarang adalah cinta kepada Rasul dan cinta kepada Allah.
Kalo kata senior gue yang sering ngaji sih, kayak gini kurang lebihnya...
“Kalian itu kalo minta sama Allah, deketi dulu Rasulnya. Banyakin shalawatnya dulu”
Tuh gitu.
Jadi, masalah jodoh itu yaa minta sama Allah. Biar dikasih yang baik.
Asoy banget ah.