Tuesday, 26 January 2016

Tempat keramat dan hal yang tidak boleh dilakukan

Ahlan.
Akhirnya ujian selesai juga.
Kemarin itu karena ada ujian, jadinya gue nggak bisa update tulisan untuk sementara waktu. Sebenernya bisa aja sih, tapi ya itu... Malas? Kayaknya bukan karena itu sih. Toh buktinya gue nulis, meskipun tersangkut didalam daftar draft.  Sepertinya, karena...
Heem...
.
.
.
Nggak ada yang ngasih semangat.
Iya. Itu aja sih.
Sedih ya?
Ah kambing lah.
Kali ini, izinkan gue untuk bercerita tentang tempat paling keramat di Mesir, menurut versi gue. Versinya mas Uzi.
....
http://www.tentik.com/

Pagi itu cuaca di Mesir cukup dingin. Walaupun kulit gue dianugerahi ‘sedikit’ lebih tebal ketimbang teman-teman gue yang lainnya, angin musim dingin masih saja menusuk-nusuk tubuh ini. Pagi itu gue telah rapi dengan jaket anti angin, untuk menghadapi dinginnya Mesir. Dan tidak lupa, gigi ini telah diolesi pasta gigi. Meskipun hanya sedikit, tapi insyaAllah nggak sampai membuat orang lain pingsan lah, ketika ngobrol bareng gue.
Nggak percaya?
Sini kita ngobrol.
Paling bau naga. Yah, dikit doang sih.
Nggak tau aroma naga? Sini kita ngobrol.
Paling kejang-kejang sebentar aja.
Planning hari ini adalah menyelesaikan pengurusan visa. Yap, sebelumnya gue pernah nulis disini. Dibaca aja dulu, kalo mau. Ditulisan itu gue bilang, bahwa pengurusan visa di masa gue ini berbeda dengan zaman-zaman dahulu. Dan  tulisan gue itu salah. Murni salah. Salah banget kampret. Ternyata sampai sekarang pun, masih ada yang nginep depan kantor imigrasi. Dan petugasnya pun terkadang membuat para pengantri emosi.
Pernah ketika itu,  gue di posisi kelima dari loket petugasnya. Hati gue ketika itu gembira, rasanya ingin meluk satpam yang bertugas di kantor imigrasi. Walaupun kumisan, nggak apa-apa lah. Toh, nggak seharian juga. Yakali. Gue juga nggak mau kalo seharian.
Dan semua rasa gembira itu, musnah ketika satpam berkumis itu berkata,
“Hari ini bukanya hanya setengah hari. Sudah-sudah, pulang sana. Huuush... hussh”
Disaat itu juga gue ketawa. Sebetulnya mau nangis, tapi karena gue tau kalo itu hanya membuat diri ini tambah ‘gitu’, akhirnya ya hanya bisa pasrah. Penantian gue yang berjam-jam, mulai dari berangkat jauh-jauh dari rumah, berdiri depan kantor imigrasi sebelum kantornya buka, kemudian antri bareng orang-orang Rusia, dan satpam itu bisa ngomong seenaknya seperti itu.
“Sakit, pak. Sakit!! Kalo saja, saya nggak takut sama bapak, saya sudah sundul, pak. Saya sundul semua kaca di kantor ini, pak!! TEGA IH SI BAPAK AAH!!”
Setelah berjuang selama tiga bulan sebelumnya, dan ditolak karena alasan, hanya buka setangah hari lah, pas giliran gue udah tutup lah, dan masih banyak hal-hal lainnya. Dan kali ini gue datang lagi ke tempat keramat ini.
Alhamdulillah gue nggak sampai menginap di tempat ini. proses pengantriannya lumayan asik. Jadi, gue menulis nama gue sehari sebelum hari dimana jadwal orang Indonesia untuk melakukan perpanjangan visa. Meskipun nama gue berada di tujuhpuluhan, yang berarti gue harus mengantri lebih lama dari orang lain, tapi nggak apa-apa. Setidaknya nggak akan diusir (lagi) sama si bapak satpam.
Hari itu gue bahagia. Setelah setahun lebih lamanya visa gue mati, akhirnya bisa diperpanjang juga. Iya, visa gue mati setahun lebih sebulan dan beruntung gue nggak sampai di deportasi. Kalo teman-teman gue telat sebulan atau dua bulan saja sudah panik, tapi nggak bagi gue.
Kayaknya gue terlalu kebanyakan piknik kali ya, makanya nggak panik. Wah, mantabs!!

Dan kalo ada Masisir yang baca tulisan ini, jangan contoh gue ya. Sayangi saja. Tapi kalo mau kasih makanan atau duit sih, juga lebih baik.