Monday, 7 November 2016

"Loncat-loncat aja, ji"

“Mi, pinjem anduk dong” kata gue.
“Gue nggak punya, belom beli juga nih” jawab Fahmi.
"Hasu, beneran loh. Minjem bentaran aja"
“Yaelah, kayak dulu di pondok aja sih, mat. Loncat-loncat gih” lanjutnya.

Ini percakapan antara gue dengan Fahmi, teman gue yang rumahnya saat itu sedang gue tumpangi untuk beberapa hari selama gue berada di Alexandria.
Dan percakapan itu, berhasil membawa fikiran gue menuju kenangan saat di pondok dulu. Agak lebay sih memang, hal sepele seperti ini saja bisa membuat diri gue Flashback ke moment yang sudah berlangsung empat tahun lalu. Tapi, ya masa bodo lah ya.
Kali ini gue cerita sedikit tentang pengalaman di pondok gue aja lah ya. Jarang-jarang juga kan?
Penasaran kan sama ceritanya?
Ceritanya kalian pura-pura penasaran aja lah ya
Oke, gue ceritain nih.
**

Pondok gue memiliki banyak sekali kegiatan mulai dari pagi hingga malam. Pagi hari di mulai dengan teriakan pengurus ke penjuru asrama, serta bunyi berisik dari pintu yang dipukul oleh gayung. Yang melakukan hal itu ya, pengurus juga. Tujuannya supaya para anggota -gue salah satu anggotanya- bangun dari tidurnya, kemudian mempersiapkan dirinya untuk shalat shubuh. Biasanya para anggota yang telah bangun dari kasurnya, mereka beranjak pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sisanya, ada yang melanjutkan tidur di dalam lemari, atau di tempat jemuran. Tapi kebanyakan dari para anggota, termasuk gue, melanjutkan tidurnya didepan kamar mandi. Entah mereka jongkok, duduk, ataupun sambil berdiri. Tinggal bersenderan di tembok, tidur lagi deh. 
Pengurus yang iseng, dan kampret, biasanya akan berjaga di sekitar kamar mandi. Di tangannya ada gayung yang terisi penuh oleh air. Yang kemudian airnya disiramkan di tempat duduk, serta tembok. Tujuannya agar para anggota tidak bisa bersenderan ke tembok. Setelah itu, pengurus kampret akan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa meminta maaf kepada para anggota yang telah mereka ganggu tidurnya. 
Sebelum adzan shubuh, para anggota yang telah selesai berwudhu, duduk rapi didepan kamar. Membuat dua baris shaf rapi, sambil memegang Al-qur’an. Tapi yang dilakukan setelah itu adalah kami memegang pundak teman yang duduk disamping kami, tujuannya untuk  bergantian pijet-pijetan supaya mata ini tetap terjaga dari rasa kantuk. Walaupun, kami para anggota tau, kalau hal itu sia-sia.

Ya obat dari rasa ngantuk itu kan cuman dengan tidur. Bener kan? 

Ketika ada pengurus yang sedang berkeliling, baru lah kami para anggota pura-pura membuka halaman Al-qur’an. Dan hal itu diulang, sampai masuk waktu untuk shalat shubuh berjamaah.
**
Jam 6 pagi, itu tandanya dapur telah terbuka. Yah, walaupun aslinya memang nggak ada pintunya juga sih. Makanan pagi hari nggak akan jauh-jauh dari rasa pedas. Entah itu sambel terasi, sambel kerupuk, tempe dengan kecap pedas yang biasanya disebut tempe oli, sambel pecel, dan sambel-sambel yang lain. Itu ketika zaman gue sih, nggak tau deh kalo saat ini menu makanannya seperti apa.
Sebelum berangkat menuju dapur, yang disiapkan pertama kali dari kamar adalah sandal. Iya, kalau nggak ada sandal, nggak bisa berangkat ke dapur. Kalau nggak punya piring, kan bisa pinjam ke teman yang telah selesai makan.
Serius deh, hidup di pondok dulu kayaknya gampang banget. Yang susah hanya menjadi petugas piket asrama hari kamis aja.
Selesai makan, biasanya para santri langsung menuju kamar mandi yang terletak disebrang dapur. Hanya kamar mandi, tanpa toilet. Kamar mandi ini biasa disebut dengan sebutan Ancol, kepanjangannya nggak usah dikasih tau juga lah ya. Kamar mandi ini, memiliki bak yang panjang, dan tingginya hanya sepinggang. Kemudian setiap kamar mandi hanya dipisahkan oleh tembok-tembok yang tingginya hanya sepundak orang. Jadi yang mandi disamping kita, bisa terlihat.
Nggak ada handuk, nggak ada gayung. Ketika mandi disini hanya menggunakan piring, bahkan banyak juga yang hanya menggunakan tangannya langsung untuk membasahi badannya dengan air. Sabun? Ya minjem lah. Jadi kalau misalkan yang mandi sepuluh orang, biasanya yang bawa sabun hanya satu atau dua orang. Nggak mungkin semuanya yang mandi bawa sabun. Sampho? Biasanya sebelum makan, mereka yang ingin membersihkan rambutnya telah menaruh samphonya diatas kepala mereka. Jadi saat mereka makan, kepala mereka seperti terkena kotoran burung. Padahal aslinya mah ya sampho.

Kalau dari semua yang mandi nggak ada yang bawa sabun, yaah. . . .  Santai aja lah. Mau pamer sama siapa juga, toh satu pondok isinya cowo semua. 
Setelah selesai mandi, mereka nggak langsung mengenakan pakaian mereka. Tapi mereka lompat-lompat terlebih dahulu, supaya badannya nggak terlalu basah. Yah, walaupun basah-basah juga sih. Jadi setiap gue masuk ke kamar mandi Ancol ini, gue akan melihat sekeliling, setelah menemukan ada yang sedang loncat-loncat, gue akan berjalan menuju tempatnya.

Itu kalau gue sedang bawa sabun.
Kalau nggak bawa sabun, ya gue akan berusaha mendekati teman gue yang bawa sabun.

Kalau nggak ada yang bawa, ya bodo amat lah. Yang penting basah.
Ehe

**
Kangen juga sama moment loncat-loncat itu.
Hmm...
Kalau kamu, kangen sama aku nggak?
Cie gitu
 sumber: http://gontor.ac.id
http://weknowmemes.com/
i.imgflip.com


17 comments:

  1. Ketika mandi disini hanya menggunakan piring
    Aneh loh
    Mandi itu biasanya pake air y
    Inu mandi pake piring
    .
    Kali misalkan engga ada yg bawa sabun gimana tuh?

    ReplyDelete
  2. Kini kita tahu kenapa kangguru loncat-loncat. Nggak punya anduk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue baru kepikiran loh ini, beneran.
      hahaha

      Delete
  3. huwooowww...nangiss deh ah.
    emang keren ya anak Gontor tuh, diajarin sederhanaaa bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. sederhananya. banget'', na :((
      huhuhu

      tapi ga bakalan terlupakan sih

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Jadi, alexandria itu nama tempat yah? Baru tau gue..

    Itu pondok mana ji? Emang kebanyakan asrama/pondok pada gitu semua yah.. ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. lu ingetnya kalo alexandria itu, nama albumnya peterpan kan? ngaku lu?!

      di jawa timur, uy. iya, emang ngenes'' gitu, tapi susah dilupain

      Delete
  6. Berat banget ya kehidupan anak pondok :(

    ReplyDelete
  7. Hahhahhaa gitu ya, lucu sih tapi miris juga.. sampe sampe pake sampo udah di atas kepala dan ngeringin badan pake loncat loncat. Tapi yang kaya gitu emang ga terlupakan yah mas
    Oh mas dulu anak gontor toh ?
    Wah kereeen..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lucu sama miris, kayaknya beda jauh deh. haha
      emang paling keinget banget sih, kalo moment kampret kayak gitu.
      ho oh.
      saa ae ah, jadi maluk

      Delete
  8. Cara jitu ya loncat-loncat ngeringin badan sambil nambah tinggi badan.. Hmm... Patut dicoba nih.

    ReplyDelete
  9. hahahaha praktis juga tinggal loncat-loncat kalau ga bawa handuk. Makasih tipsnya kalau lagi kepepet.

    ReplyDelete

Eettt..... Mau kemana?
Komen dulu dong ya :))