Sunday, 27 November 2016

Piramid hack, cara gampang dan hemat jalan-jalan di Piramida Mesir

Kemarin, bermula dari grup Whatsapp,  gue serta lima teman lainnya pergi ke bangunan paling iconic yang ada di Mesir. Bangunan yang masuk ke dalam kategori tujuh keajaiban dunia, yaitu senyuman kamu Piramid Giza. 
@zulfikar_fawzi
Oh iya, kalian tau nggak kalau dalam bahasa arab itu tulisan giza itu bukan menggunakan huruf “ غ“ tapi dengan huruf “ ج“.
Oke lanjut!
Sebelumnya gue sudah pernah menjelajahi tempat ini dengan menggunakan bis, ketika mahasiswa baru di tahun pertama. Tapi kali ini, karena jumlah peserta yang ikut sedikit, dan nggak memungkin juga menyewa bis, gue serta teman-teman yang lain memutuskan untuk naik kereta. Yah, sekalian aja gue share caranya. Kali aja, ada yang mau nyoba juga.
Sebetulnya otak dibalik perjalanan ini adalah sosok manusia yang biasa dipanggil Penyu. Semua bermula dari grup whatsapp, dengan gayanya yang sok asik, si Penyu mengirim chat yang kurang lebih isi chatnya seperti ini,
“Gimana kalau hari senin kita pergi ke Piramid?” tulisnya.

@zulfikar_fawzi
Si Penyu mengusulkan ide ini di hari sabtu. Tepat dua hari sebelum hari H. Kurang sok asik apalagi coba.
Dari pertanyaan itu, yang menjawab hanya  5 dari jumlah seluruh penghuni grup yang berjumlah sebanyak 30-an orang. Dan jawaban teman-teman gue,
“Aku sih yes, nggak tau kalo mas Anang yang lain” jawab orang pertama.
*kirim emot jempol dengan berbagai warna* jawaban orang kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Setelah itu si Penyu dengan inisiatifnya mengirimkan pesan (lagi) yang bertuliskan daftar untuk para orang-orang yang akan berangkat ke Piramid di hari senin esok hari.
**
Berikut ini cara ala mahasiswa kere seperti gue untuk bisa pergi ke Piramid dengan budget sehemat mungkin.
Stasiun Ramsis
“Yang bener aja, cuma kita ber-enam doangan nih? Yang lainnya mendadak nikah atau gimana dah? Si Penyu juga nggak dateng, wasu!” kata gue. Dalam hati.
Itulah hal  pertama yang gue ucapkan ke diri sendiri ketika bertemu dengan teman-teman yang jumlah sedikit, di tempat yang telah kita tentukan sebelumnya, yaitu stasiun Ramsis. Ekspektasi gue yang mengira bahwa perjalanan ini akan seru dan ramai ternyata harus pupus seketika. Terakhir gue lihat di grup yang namanya tertulis di acara ini mencapai angka belasan, itu berarti setengah anggota grup akan ikut jalan-jalan ke Piramid. Tapi kenyataannya... ya gitu.
Untuk menaiki kereta ini hanya perlu mengeluarkan uang sebesar satu pound (1 pound Mesir = Rp.1000, untuk saat ini) dengan kereta ini, gue dan teman-teman lainnya akan menuju stasiun Giza, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan tramco (baca:angkot).


@zulfikar_fawzi
Tramco
Setelah turun di stasiun Giza, gue dan teman-teman yang lain telah ditunggu oleh para supir tramco. Sebenernya nggak ditunggu juga sih. Si supir mengatakan, bahwa akan menurunkan kami tepat di gerbang pintu belakang Piramid, gerbang yang dekat dengan patung Spinx, kalau kami membayar 5 pound.
Ketika di tengah perjalanan, ada om-om yang memaksa ikut naik, padahal kondisi mobil yang sedang gue tumpangi telah penuh. Dengan santainya dia duduk tepat disamping pak supir. Lebih tepatnya, dia masuk dari pintu supir, dan duduk cantik disampingnya. Setelah di telusuri lebih jauh, ternyata si om kampret ini adalah salah satu agen travel yang biasa mangkal di jalan menuju pintu masuk Piramid. Dan sialnya, si om kampret ini menyuruh gue dan lima teman lainnya untuk turun dari mobil, kemudian mengikutinya menuju sebuah kantor agen travel.
Tiga menit setelah dia mengajak kami masuk ke ruangannya, kami langsung bubar jalan. Pergi aja gitu, tanpa dosa. Niatnya mau hemat, malah diajak ikutan travel.
Minta banget di sundul nih si ammu(baca: om-om) travelnya
Untungnya, gerbang Piramid nggak jauh dari tempat kami dipaksa turun.

@zulfikar_fawzi
Kartu mahasiswa
Sebenernya poin paling penting dari perjalanan ini adalah benda kecil ini. Percuma kalian mengikuti tips yang pertama dan kedua, kalau benda ajaib ini nggak dibawa.Tarif biasanya untuk turis itu sekitar 100 pound, dengan kartu ajaib ini kami para mahasiswa perantau mental hemat, hanya perlu membayar 40 pound. Bagi yang nggak punya? Ya tinggal minjem sama yang punya.
Sepertinya (menurut gue ya) orang Mesir itu susah untuk membedakan wajah para orang asing. Entah itu yang dari Asia, Eropa ataupun yang lainnya. Gue sendiri masih seperti itu sih, masih ketuker-tuker melihat wajah orang Mesir.
Contohnya,
Ketika naik bis untuk pulang ke rumah, wajah supir yang gue temui mirip dengan wajah penjual pulsa yang gue beli tepat sebelum gue menaiki bis. Dan setelah gue turun, kemudian mampir di kedai penjual minuman di pinggir jalan, wajahnya mirip juga. Ya kayak gitu lah. Sama-sama mancung, sama-sama punya jenggot tebel, sama-sama suka shisa, sama-sama suka ngomong bahasa arab, sama-sama suka tomiyah. Ya gitu lah.
Perjalanan kami ini sebenernya untuk mau pamer kaus angkatan, karena ketika di pondok kami satu angkatan. Tepatnya angkatan 2012.




Di saat sedang asik foto bareng, kami dihampiri oleh turis asing. Dia mengenakan kaus polo berwarna hitam, celana pendek serta mengenakan topi berwarna putih, tipikal bapak-bapak ketika ingin potong rambut di sore hari. Ketika ngobrol-ngobrol, gue baru tahu bahwa dia berasal dari Spanyol. Dia sempat menunjukan galeri foto di hapenya, dan memerkan fotonya bersama salah satu legenda pemain bola yaitu Zinadine Zidane. Untungnya saat itu, gue nggak mengaku bahwa gue fans Barcelona, yang berarti gue adalah fans dari tim musuh bebuyutannya.



Ketika gue serta yang lainnya sudah capek dengan foto-foto serta loncat-loncat dengan latar belakang patung Spinx serta Piramid, datanglah Penyu. Iya, si manusia kampret itu akhirnya datang juga. Walaupun terlambat, setidaknya dia datang.  
Mungkin hanya itu aja sih tips nya, semoga membantu ya!!
Oh iya, untuk pulangnya, kurang lebih sama saja kok. Tinggal naik tramco yang mengarah ke stasiun Giza, kemudian lanjut naik kereta menuju Ramsis. Gampang kan?
Lebih susah menaklukan hati kamu.

@zulfikar_fawzi

Monday, 7 November 2016

"Loncat-loncat aja, ji"

“Mi, pinjem anduk dong” kata gue.
“Gue nggak punya, belom beli juga nih” jawab Fahmi.
"Hasu, beneran loh. Minjem bentaran aja"
“Yaelah, kayak dulu di pondok aja sih, mat. Loncat-loncat gih” lanjutnya.

Ini percakapan antara gue dengan Fahmi, teman gue yang rumahnya saat itu sedang gue tumpangi untuk beberapa hari selama gue berada di Alexandria.
Dan percakapan itu, berhasil membawa fikiran gue menuju kenangan saat di pondok dulu. Agak lebay sih memang, hal sepele seperti ini saja bisa membuat diri gue Flashback ke moment yang sudah berlangsung empat tahun lalu. Tapi, ya masa bodo lah ya.
Kali ini gue cerita sedikit tentang pengalaman di pondok gue aja lah ya. Jarang-jarang juga kan?
Penasaran kan sama ceritanya?
Ceritanya kalian pura-pura penasaran aja lah ya
Oke, gue ceritain nih.
**

Pondok gue memiliki banyak sekali kegiatan mulai dari pagi hingga malam. Pagi hari di mulai dengan teriakan pengurus ke penjuru asrama, serta bunyi berisik dari pintu yang dipukul oleh gayung. Yang melakukan hal itu ya, pengurus juga. Tujuannya supaya para anggota -gue salah satu anggotanya- bangun dari tidurnya, kemudian mempersiapkan dirinya untuk shalat shubuh. Biasanya para anggota yang telah bangun dari kasurnya, mereka beranjak pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sisanya, ada yang melanjutkan tidur di dalam lemari, atau di tempat jemuran. Tapi kebanyakan dari para anggota, termasuk gue, melanjutkan tidurnya didepan kamar mandi. Entah mereka jongkok, duduk, ataupun sambil berdiri. Tinggal bersenderan di tembok, tidur lagi deh. 
Pengurus yang iseng, dan kampret, biasanya akan berjaga di sekitar kamar mandi. Di tangannya ada gayung yang terisi penuh oleh air. Yang kemudian airnya disiramkan di tempat duduk, serta tembok. Tujuannya agar para anggota tidak bisa bersenderan ke tembok. Setelah itu, pengurus kampret akan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa meminta maaf kepada para anggota yang telah mereka ganggu tidurnya. 
Sebelum adzan shubuh, para anggota yang telah selesai berwudhu, duduk rapi didepan kamar. Membuat dua baris shaf rapi, sambil memegang Al-qur’an. Tapi yang dilakukan setelah itu adalah kami memegang pundak teman yang duduk disamping kami, tujuannya untuk  bergantian pijet-pijetan supaya mata ini tetap terjaga dari rasa kantuk. Walaupun, kami para anggota tau, kalau hal itu sia-sia.

Ya obat dari rasa ngantuk itu kan cuman dengan tidur. Bener kan? 

Ketika ada pengurus yang sedang berkeliling, baru lah kami para anggota pura-pura membuka halaman Al-qur’an. Dan hal itu diulang, sampai masuk waktu untuk shalat shubuh berjamaah.
**
Jam 6 pagi, itu tandanya dapur telah terbuka. Yah, walaupun aslinya memang nggak ada pintunya juga sih. Makanan pagi hari nggak akan jauh-jauh dari rasa pedas. Entah itu sambel terasi, sambel kerupuk, tempe dengan kecap pedas yang biasanya disebut tempe oli, sambel pecel, dan sambel-sambel yang lain. Itu ketika zaman gue sih, nggak tau deh kalo saat ini menu makanannya seperti apa.
Sebelum berangkat menuju dapur, yang disiapkan pertama kali dari kamar adalah sandal. Iya, kalau nggak ada sandal, nggak bisa berangkat ke dapur. Kalau nggak punya piring, kan bisa pinjam ke teman yang telah selesai makan.
Serius deh, hidup di pondok dulu kayaknya gampang banget. Yang susah hanya menjadi petugas piket asrama hari kamis aja.
Selesai makan, biasanya para santri langsung menuju kamar mandi yang terletak disebrang dapur. Hanya kamar mandi, tanpa toilet. Kamar mandi ini biasa disebut dengan sebutan Ancol, kepanjangannya nggak usah dikasih tau juga lah ya. Kamar mandi ini, memiliki bak yang panjang, dan tingginya hanya sepinggang. Kemudian setiap kamar mandi hanya dipisahkan oleh tembok-tembok yang tingginya hanya sepundak orang. Jadi yang mandi disamping kita, bisa terlihat.
Nggak ada handuk, nggak ada gayung. Ketika mandi disini hanya menggunakan piring, bahkan banyak juga yang hanya menggunakan tangannya langsung untuk membasahi badannya dengan air. Sabun? Ya minjem lah. Jadi kalau misalkan yang mandi sepuluh orang, biasanya yang bawa sabun hanya satu atau dua orang. Nggak mungkin semuanya yang mandi bawa sabun. Sampho? Biasanya sebelum makan, mereka yang ingin membersihkan rambutnya telah menaruh samphonya diatas kepala mereka. Jadi saat mereka makan, kepala mereka seperti terkena kotoran burung. Padahal aslinya mah ya sampho.

Kalau dari semua yang mandi nggak ada yang bawa sabun, yaah. . . .  Santai aja lah. Mau pamer sama siapa juga, toh satu pondok isinya cowo semua. 
Setelah selesai mandi, mereka nggak langsung mengenakan pakaian mereka. Tapi mereka lompat-lompat terlebih dahulu, supaya badannya nggak terlalu basah. Yah, walaupun basah-basah juga sih. Jadi setiap gue masuk ke kamar mandi Ancol ini, gue akan melihat sekeliling, setelah menemukan ada yang sedang loncat-loncat, gue akan berjalan menuju tempatnya.

Itu kalau gue sedang bawa sabun.
Kalau nggak bawa sabun, ya gue akan berusaha mendekati teman gue yang bawa sabun.

Kalau nggak ada yang bawa, ya bodo amat lah. Yang penting basah.
Ehe

**
Kangen juga sama moment loncat-loncat itu.
Hmm...
Kalau kamu, kangen sama aku nggak?
Cie gitu
 sumber: http://gontor.ac.id
http://weknowmemes.com/
i.imgflip.com


Ads