Wednesday, 26 October 2016

Perjalanan mencari jati diri di Alexandria

Jumat malam kemarin, tanpa perencanaan gue berangkat menuju Alexandria bareng dua orang teman gue, Fahmi dan Hasan. Nggak tau juga deh, akhir-akhir ini sepertinya lebih suka memutuskan hal secara spontan. Padahal sejatinya, gue sudah punya to do list apa saja yang harus dikerjakan minggu ini loh, tapi ya gitu... hal-hal yang harusnya gue selesaikan digantikan oleh keberangkatan gue menuju Alexandria.
Mas Uzi memang mantap!!
*lah ngaku-ngaku sendiri, njir
Bodo amat
Salah satu alasan gue pergi adalah karena gue suntuk dengan rutinitas yang ada di Kairo, butuh refreshing sedikit. Itung-itung, gue mau balas dendam aja gitu, karena ketika liburan kemarin kerjaan gue hanya di kamar-buka laptop-makan-tidur-ulangi. Walaupun gue tau sih, kalau hal ini salah. Apalagi ketika gue ngobrol sama nyokap,
Gue: *sending pictures*
Nyokap: “Loh, kamu lagi dimana, mas?”
Gue: “Alexandria, mah. Lagi suntuk di Kairo, mau refreshing aja”
Nyokap: “Mamah yang tiap hari kerja, ngurusuin rumah aja nggak suntuk, mas. Kamu tuh ada-ada aja”
Gue: “Ehe ehe ehe”
Nyokap: “Yaudah, jangan lupa belajarnya”
Berasa di sentil sama nyokap.
Oh iya, buat yang belum tau, jarak Kairo menuju Alexandria itu kurang lebih sama seperti Jakarta-Bandung gitu lah. Dan jenis kereta yang biasa membawa penumpang dari Kairo-Alexandria ada dua, kalau yang gue ceritain di tulisan ini, biasa disebut kereta adi (Kereta biasa. Biasa banget malah, nggak ada istimewanya sama sekali. Malah terkadang disebut kereta kambing). Kebetulan kereta yang gue naiki kemarin adalah jenis kereta mukayaf (kereta ber-AC yang kalau lagi sial AC-nya bocor dan dingin mampus) yang darajah tsaniyah. Gue nggak naik darajah ula ya karena harganya memang nggak pernah akur sama kantong mahasiswa (darajah tsaniyah itu sekelas kereta bisnis, darajah ula ya sekelas eksekutif).
Bentuk tiketnya seperti ini.
Nggak penting kan?
Pura-pura penasaran aja lah ya.


Sebelum masuk ke dalam stasiun, pemandangan yang gue temukan adalah para pedagang headset yang berjalan mendekati orang-orang yang berlalu lalang, sambil sering kali berteriak,
Kullu samaaah bii asyroooh, bii asyrooh, bii asyrooooh”
Yang artinya kurang lebih,
Yang mau Headset-headset, ceban... ceban... ceban...”
Iya, dia bilangnya sih gitu. Tapi, ketika kita (pembeli) menemukan headset yang bagus, nanti disuruh tambah 5 pound Mesir lagi.   

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya kereta yang gue tumpangi sampai di stasiun Siti Gabir (nggak tau deh, tulisannya bener atau nggak). Selama perjalanan gue sama sekali nggak bisa tidur, ini salah satu hal yang gue sesali sih sebetulnya. Karena dengan ini, kebiasaan buruk gue tidur setelah shubuh aktif kembali.
Perjalanan menuju rumah Fahmi, dilanjutkan dengan menggunakan kereta api. Lagi. Salah satu hal yang bikin gue bahagia, sekaligus membuat gue harus mematikan Podcast yang sedang gue dengarkan adalah karena rumah Fahmi ini tepat berada dibelakang stasiun kereta api. Gue bahagia karena ini benar-benar suasana baru yang nggak akan gue temui di Kairo (selain rumah lu yang berada di Kairo terletak dibelakang stasiun kereta api juga. Tapi ini jarang banget sih). Dan alasan gue harus selalu mematikan Podcast yang sedang gue dengar adalah ya karena setiap kereta sedang berjalan selalu membuat suara bising. Tapi sejauh ini gue suka kok dengan suara kereta ini. Terlebih kamu, aku suka kamu kok.
*Kagak nyambung, hasu
Ketika sedang mampir di baalah (baca: warung), gue sudah menemukan hal baru. Pertama, ternyata di Alexandria ada Indomie rasa kaldu udang. Kedua, karena ada Sibsi (nama snack disini, kalau di Indonesia sejenis Lays gitu) yang rasanya belum pernah gue temui di Kairo. See, bahagia gue sederhana banget kan?
Setelah menaruh tas di ruang tengah, langkah kaki membawa gue menuju ruang dapur. Tangan gue mengambil panci, kemudian mengisinya dengan air keran, lalu menaruhnya diatas kompor yang telah gue nyalakan apinya. Sambil menunggu air matang, tangan serta mata gue nggak bisa lepas dari layar hape. Malam itu gue mencoba menghancurkan keheningan malam dengan menyalakan Podcast yang sudah gue save sebelumnya di hape. Walaupun sudah tidak sesepi sebelumnya, tapi gue merasa hening. Banyak pertanyaan serta jawaban yang kemudian muncul difikiran gue. Seperti,
Sebenernya apa sih arti hidup yang gue jalani sekarang?
Hafalan juga nggak nambah-nambah. Dasar gendut!
Mau dibawa kemana arah hidup lu saat ini? Ibadahnya masih terburu-buru. Ngejar apa sih?!
Internetan doang? Belajarnya kapan?
Apa memang mencari orang yang dipercaya itu susah banget ya?
Lu nya juga sih bego, asal cerita aja
Kenapa orang yang gue percaya, malah melakukan hal seperti itu?
Emang lu maunya kayak gimana hah?!
Nggak lagi deh cerita-cerita kayak gitu
Jangan diulangi makanya, ndut!
Apa rasa tertarik gue ke perempuan itu, hanya bersifat sementara aja?
Atau harus diungkapin aja gitu, biar plong?
Ah kayaknya dia ga ada tanda-tanda suka sama gue juga sih
Anjir lah, sok-sok naksir sama orang, ilmu juga belum punya. Dasar bego! Belajar makanya!
Ini perut kenapa malah tambah ngembang, bukannya nyusuut, taiii?!! Dasar gendut!!
Ketika asik berbicara dengan diri sendiri, panci yang berisi air itu telah mengeluarkan hawa panas. Gue dengan sigap, mengambil segelas cangkir yang telah diisi sebelumnya dengan teh hijau rasa mint serta sedikit gula. Oh iya, penasaran dua orang temen gue itu pergi kemana? Mereka sudah asik melanjutkan tidurnya sejak tadi.
Malam semakin larut, semilir angin di Alexandria yang tidak sedingin di Kairo, serta suara kereta api yang sesekali menghancurkan keheningan malam, membuat malam ini terasa lebih nikmat. Sambil menikmati teh hijau serta mendengarkan lagu Mari Becerita milik Payung Teduh, semoga setelah teh hijau ini habis, segala keresahan ini menemukan penyelesainnya.
Yah, Alexandria selalu punya cita rasa yang berbeda dari Kota lainnya.
Mungkin mereka saudara. Siapa tau?

29 comments:

  1. aku baru tau kalau kairo itu dingin. aku kira disana panas kalau liat dari gambar gambarnya.
    Dan aku juga baru tau kalau alexandria itu nama kota, dan beneran ada. Karena yang aku kalau denger kata alexandria malah inget film yang di bintangi julie estelle

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya cobain main ke mesir sini.
      ehe

      ingetnya nama albumnya band peterpan yak?
      hahah

      Delete
  2. Aku juga banyak hal yang udah direncanain. Tapi entah, kalau melakukan perjalanan lebih suka yang dadakan.

    Btw, di ALexandria ada indomie rasa-rasanya masih sayang, gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya greget gitu ya kalo dadakan

      gue belom nemu tuh.
      di daerah lu udah ada emang, ri?

      Delete
  3. Jauh jauh ke Alexandria cumak buat makan Indomie Rasa Kaldu Udang, Zi? Ke Medan aja sini, aku masakin Indomie Rasa Soto Medan! :v

    Ih pemandangannya keren banget sik.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya nggak gitu juga.
      tapi makan mie'' juga sik. yah, namanya juga akhir bulan

      main sini lah.
      ehe

      Delete
  4. Wwwweew kayaknya Mesir itu keras banget. di bis jurusan Blok M...kalau ceban ya ceban beneran. Headset lah, buku lah, bahkan tongsis

    ReplyDelete
    Replies
    1. cobain kesini lah makanya, na.
      hahaha

      ntar bakalan kesel sendiri

      Delete
  5. pas lu bilang dari kairo ke alexandria gue langsung inget novel ayat-ayat cinta yang pertama, dia kan honeymoon di alexandria dan itu perjalanan lumayan juga :))

    semoga pas balik ke kairo lo gak kayak Fahri, tiba2 digrebek polisi wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. gue malah blom khatam baca atau nnton ayat'' cinta itu

      tai lu, yog ^_^

      Delete
  6. Wah, lanjalan buat ngilangin kesuntukan ya bang. Gue juga sering suntuk dan jalan-jalan sih bang, tapi gue yang sekarang di Tangerang belum pernah ke Bandung sih, gak pernah lanjalan lebih jauh dari Jakarta sejauh ini, hehehe.

    Widih, seriusan tuh ada Indomie disitu? Mantap banget tuh pasti ya bang xD

    ReplyDelete
  7. Indomie memang ada di mana2 ya bangga jadi orang indonesia karena ada indomie di seluruh dunie wheheeh.

    Kapan bisa jalan-jalan keluar negeri ya

    ReplyDelete
  8. Seru juga ya tinggal di Mesir hehe... Jika berkenan mampir juga ya ke blog atau channel youtube ku :)

    ReplyDelete
  9. Hmmmm....antum eh....anta iya hehehehe

    Anta sekarang di mesir? Kuliah di kairo iya? Belajar sungguh2, siapa tau berguna untuk bangsa indonesia

    ReplyDelete
  10. Ji Pulang ji.. jan lama-lama di kairo. Gak kangen Indonesia emang?

    Itu ngomongo sendiri ga serem ji? Tiati ntar ada yg jawab loh dibelakang. Haha..
    Romannya sih udah ketemu aisyah di Kairo niyeeee ampe sakit jiwa gituublo nya.

    ReplyDelete
  11. Jalan-jalannya di kairo mulu, gak kangen dengan suasana di indonesia bro? hehehe
    sekali2 boleh juga tuh ajak2 temen2 kampus di kairo travelling ke indonesia, kenalin nasi padang, sate, dan nasigoreng siapa tau mereka suka :)) hahaha

    ReplyDelete
  12. Gue kok ingetnya Alexandria yang film itu. Iya, yang OST lagu Peterpan. Muahaha.

    Hm... kalo soal nanya-nanya sama diri sendiri mah gue sering banget. Bahkan tiap mau tidur, yang bikin akhirnya malah insomnia karena merenung terus.

    Btw,ada typo nih di kalimat, "menemukan penyelesainnya." Harusnya penyelesaiannya kan? :D

    Itu keretanya bagus, njir. :))

    ReplyDelete
  13. uji....kemana2 ternyata yg nyembuhin kegalauannya makanan yak? ckckck sabar ya nduut!! 🍲😎🐹💪😎

    ReplyDelete
  14. Kairo itu di arab atau mesir sih?? :3 gue kok lupa.....

    ReplyDelete
  15. Alexandria...sudah lama denger nama kota ini, dari buku sejarah, game, maupun karya fiksi. Pengen suatu hari bisa ke situ, berjalan-jalan di jalanan kota yg katanya sudah punya sejarah ribuan tahun itu hhehe. Itu foto yg terakhir keren banget langitnya hehehe

    ReplyDelete
  16. pedagangnya jualan headset.. kmn pedagang jual makanannya disana.. yang jual tehkotak telor asin...

    ReplyDelete
  17. pedagangnya jualan headset.. kmn pedagang jual makanannya disana.. yang jual tehkotak telor asin...

    ReplyDelete
  18. Gue nggak pernah ngebayangin kairo tuh kayak apa, tapi kayaknya seru. Kapanlah lulusnya? buruan lah sini balik ke jakarta kak~ Bahasa kairo kok kalo di denger bawaanya pengen amin mulu ya gue hahahaha

    ReplyDelete
  19. wihh KAIRO men !!!! ha ha ha .

    Ternyata banyak juga ya kereta yang tujuannya kesana ? kayak di Indonesia aja ya ? . By the way , udah berapa lama kuliah di sana bang ?

    ReplyDelete
  20. Wow asyik nih nemu bloger yang lagi tinggal di Mesir. Salam kenal ya, cees. Hehe.

    Kalem aja, semua orang (apalagi lelaki) pasti pernah/sedang/akan ngalamin yang namanya "kebimbangan". Yang penting jangan kebawa stres aja.

    Anjis malah ngasih motivasi. Maaf, maaf...

    ReplyDelete
  21. Kira2 ada g y stasiun kereta di mesir yg langsung nyampe ke indonesia?
    .
    Wah gimana tuh perasaannya pas nyalain kompor trus keluar api?

    ReplyDelete
  22. Hooo ini maksudnya mau ngeledekin gue kambing secara implisit gitu ya. Hmmmm...

    ReplyDelete
  23. Weh, alexandria, gue jadi inget band metal bang ahahaha... payah memang.

    Di kairo dingin? gue kira mau siang mau malem, itu panas cuacanya, gak berubah, eh ternyata.

    ReplyDelete
  24. kok di Indo gak ada indomie rasa kaldu udang sih? mauuuu.

    ReplyDelete

cara bersedekah paling mudah, berkomentar di Blog ane ini