Saturday, 17 September 2016

Apa semua anak kecil baik?

Wajah menggemakan, pipi yang menyerupai tahu bulat, ukuran lengan tangan dan betis kaki yang susah dibedakan, rebutan para perempuan, tak terkecuali oleh teman gue yang perempuan, dan juga yang seringkali dilempari dengan pertanyaan,
‘Iiih kamu apa kabar? Cuamaaaat’
‘Siapa sih ayahnyaaa?’
‘Ini anak capaaa cee? Lucu bet, lucu bet’ Ini ngomongnya sambil nyemburin ludah.
‘Kamu laper haa? Sini ammah(baca:bibi/tante) suapin. aaaam’ Yang ini nafasnya bau bunga bangke.
‘Ha kamu mau minum starbak? Iiih tante juga mau tauk. Minta duit sama ayah kamu yuk’ dia yang nanya, dia juga yang jawab. Bapaknya juga di palak lagi.
Anak kecilnya kuat banget, nggak nangis.

Tapi bicara anakonda kecil yang ada di Mesir, sifatnya jauh berbeda dengan anak kecil yang berada di Indonesia. Usilnya itu minta ditendang, tapi karena masih kecil, plus wajahnya imut dan hidungnya mancung, jadi nggak tega aja untuk ngelakuinnya.
Beberapa hari kemarin gue juga mengalami penganiyaan oleh anak kecil.
Jadi, cerita ini bermula ketika gue ingin main ke rumah teman gue di distrik 10, yang mengharuskan gue untuk naik bis terlebih dahulu. FYI, disini jadwal bis itu nggak ada yang pasti. Jauh berbeda dengan jadwal bis yang ada di Eropa sana, yang sudah terjadwal rapi, yang bisnya rapi, wangi, teratur, rajin menabung, bikin masakan buat mertua, suka silat, bisa kayang, ya pokoknya beda lah.
Setelah lebih dari dua jam menunggu bis di terminal, gue menyerah. Bisnya nggak ada tanda-tanda datang, dan panas Mesir yang lagi emang kampret-kampretnya. Inilah salah satu penyebab, kenapa kulit gue ‘lebih mencolok’ ketimbang teman-teman yang lain.
Gue memutuskan untuk kembali ke rumah. Panas Mesir kalau siang hari emang gitu, becandanya keterlaluan. Ditambah lagi, para pengendara mobil ataupun motor yang membawa kendaraannya seperti sedang di taman bermain. Ngebut aja yang penting, kalau nabrak orang paling hanya teriak,
Ma’alsy habibi
Di Mesir kayak gitu. Makanya kalau mau ngerasain sensasinya main sini ke Mesir, jengukin gue. Bawain duren sama tahu kupat sekalian.
Ketika di perjalanan pulang, gue lebih memilih untuk mengahampiri warung untuk membeli sebotol air mineral. Meskipun dari kejauhan, gue bisa dengar teriakan orang yang sedang berjualan minuman. Gue sering dengar teriakannya, tapi sampai sekarang gue nggak tau, si penjual itu berteriak apa. Yang gue tangkep hanyalah,
UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAH UWAAAAAAAAH’
Padahal dia jualan air perasan dari buah kurma loh. Tapi... Ya suka-suka dia ajalah, semerdeka dia aja pokoknya. Kalau gue tegur, takutnya gue disiram air kurma. Nanti kalo gue ketagihan gimana? Kalau gue minta disiram lagi gimana? Ha? Ha? Siapa yang mau tanggung jawab? Ha? Jawab?!!
Anjir, ga mutu banget tulisannya
Tempat tinggal di Mesir itu kebanyakan berupa flat. Kayak rumah susun gitu, tapi lebih sedikit rumahnya. Jadi kayak satu gedung gitu, terdiri dari lima rumah. Tiap lantai ada satu rumah, misalnya kayak gitu.

Rumah gue terletak di lantai tiga, lantai satunya diisi oleh teman-teman gue yang perempuan, lantai dua diisi oleh yang punya gedung, bapak kost gitu lah, nah baru lantai tiga rumah gue. Sisanya masih kosong tanpa penghuni. Biasanya gerbang pagar itu di kunci, dan kebetulan juga kunci gue baru saja hilang. Tapi mungkin karena rejeki anak sholeh seperti gue ini, pintu gerbang tidak di kunci.
Langkah kaki gue terhenti, karena melihat anak bapak kost yang paling kecil sedang membenarkan kunciran rambutnya, serta wajahnya tersenyum kearah gue. Dia mengenakan kaus lengan pendek berwarna pink serta celana pendek dan juga menggunakan sandal jepit, yang membuatnya semakin manis. Ketika gue menanyakan kabarnya, dia datang menghampiri. Bukannya keluar dari pintu, dia lebih memilih untuk melewati sela-sela besi yang ada (namanya juga bocah), kemudian menjawab pertanyaan gue sambil menunjukkan giginya.
Bahagia gue itu sederhana, di senyumin sama anak kecil aja udah senang.
Kemudian anak kecil itu bertanya kepada gue,
Fien miftah?’ (baca:mana kunci kamu, ka?)
Matruk fil bait yaa bint’ (baca:ketinggalan di rumah, dek) kata gue bohong.
Yang dilakukannya setelah itu adalah dia memegang besi gerbang, kemudian menutupnya dengan cepat.
Lalu dia pergi sambil tersenyum.
Ketika wajahnya masih menghadap gue, botol air yang ada digenggaman gue, langsung menghilang. Terlempar menuju muka kampretnya.
Nggak kena.
Telek.
Yang gue lakukan sehabis itu hanya menatap wajahnya, sambil mulut gue mengeluarkan kata-kata berupa,
‘HASYU’
‘LU MAU KEMANA, SYU?!!!’
‘GUE MAU NAIK INIIIIIH, NYET!!’
‘MALAH DITUTUP LAGI’
‘PAKE KETAWA LAGI LU’
‘BERUNTUNG NGGAK KENA BOTOL GUE TUH MUKA LU’
‘AAARRRGGHHHH’
‘KYAAA KYAAA’
Nunggu lama-lama di terminal, panas-panasan di jalan, dan sekarang dikerjain sama anak kecil kampret.
Masih nganggep semua anak kecil baik, ha?
sumber: foto 1, foto 2

Tuesday, 6 September 2016

Teruntuk kenangan masa lalu

Pertanyaan yang sering kali keluar dari mulut teman-teman gue untuk saat ini,
‘Lu kapan, Ji? Temen-temen deket lu udah pada mau nikah tuh. Lu nggak mau nyusul?’
Tapi, hal sebaliknya yang sering muncul di kepala gue adalah,
‘Hapalan lu kapan nambahnya, Nyet? Nonton vlog mulu sih, bego amat lah. Buang-buang waktu’
‘Mau ngurusuin badan, tapi makan mulu. Resolusi doang, realisasinya mah nggak’
‘Kuliah disini udah dapet apa? Selain di godain orang pas nge-gym’
‘Passion itu sebenernya penting nggak sih?’
‘Belajar manage waktu sama uang, Nyet. Hidup hemat kek’
**
Setiap orang mempunyai skala prioritas yang berbeda-beda pula. Ada yang merasa nikah merupakan prioritasnya untuk saat ini, dan ada juga yang menganggap nikah itu, ya emang bisa dilakukan nanti saja. Ketika segala hal yang ingin di realisasikan telah terwujud, ataupun ketika segala hal yang bisa membuat kedua orangtuanya bahagia telah selesai dilaksanakan. Baru setelah itu baru berfikiran untuk menjalin hubungan hubungan serius dengan orang lain.
Gue nggak masalah juga sih, sama orang-orang yang memilih untuk nikah muda. Itu kan urusannya.
Terkadang gue jadi kepikiran juga, siapa ya cewe yang akan gue perjuangkan nantinya? Ini semua gara-gara ngobrol sama orang yang pada ngebet nikah sih, kampret. Serasa menjadikan mereka kambing hitam ya? Tapi emang kenyataannya gitu.
**

Tugas gue yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah membuat majalah online untuk salah satu organisasi yang ada disini. Salah gue juga sih, menulis program kerja yang gue sendiri pun nggak paham cara bikinnya. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa ingin melakukan hal ini. Pertama, karena gue sama sekali belum menemukan majalah berbentuk online yang ada di Mesir. Kedua, ya emang biar terkenal aja gitu.
Nggak bermutu banget kan alasannya?
Setelah bosan membaca banyak tulisan tentang cara pembuatan majalah online, sekarang gue mengarahkan kursor menuju folder-folder film.
‘Kayaknya film download-an kemarin, masih banyak yang belom di tonton deh’ fikir gue.
Saat asik cari-cari film, nggak sengaja melihat folder file yang bertuliskan ‘Memories’. Dan setelahnya malah asik melihat foto-foto yang sudah ada sejak tiga tahun lalu.
Satu foto yang membuat diri gue termenung lumayan lama, dan mengingat moment di tiga tahun yang lalu.
**
Hal yang paling bisa diingat dari si wanita ini adalah ketika gue dengannya bertemu di salah satu mall yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Itu pun, setelah ngobrol lama dan akhirnya bisa membuat kesepakatan untuk bertemu berdua di hari menuju senja itu. Btw, dia suka dengan senja. Gue malah sebaliknya.
Ah, gue masih ingat sore hari itu.
Dia mengenakan krudung berwarna ungu, serta abaya yang berwarna senada. Tampilannya mirip kayak ibu-ibu pengajian pas acara mamah Dedeh, bukan? Haha. Kacamata yang ia kenakan, semakin membuat dirinya terlihat pintar. Memang pada dasarnya dia pintar kok. Kalau kata teman-temannya, dia itu salah satu sosok manusia yang sering sekali tidur di kelas. Tapi menurut gue ya bebas aja lah, pintar, cantik, salah satu murid yang cukup di kenal oleh satu angkatan, terus ada yang salah dengan sering tidur di kelas? Murid lain juga banyak kali. Nah, untuk yang ini gue sama dengan dia. Sama-sama suka tertidur di kelas. Bedanya, ya nilai gue nggak lebih baik dari dia aja sih. Hahaha.
‘Kamu kalau ngajak nonton film kayak gitu, si Riani suka tuh. Aku kurang ngerti alur ceritanya’
‘Kemarin adek aku dimarahi sama ayah, karena ketahuan deket sama cowo’ Katanya sambil tertawa.
‘Dia ketahuan, setelah ayah meriksa hapenya’
‘Abis itu dia marahin aku, karena aku nggak bantuin dia’
‘Hahaha’
‘Oh iya, jadinya kamu mau lanjut kuliah dimana?’
‘Aku sekarang lagi sibuk ngurus berkas-berkas yang dibutuhin nih. Doain biar semuanya lancar ya!!’
‘Mungkin kalau semua berjalan lancar, tiga bulan lagi aku mulai kuliah. Nanti aku kabarin kamu deh kalau udah deket-deket hari H’
‘Sekarang kamu fokus aja sama yang ingin kamu raih, tunjukkin kalau kamu tuh bisa’
‘Kamu pasti bisa kok. Masa segini aja udah nyerah’
Kalimat-kalimat itu yang masih sering teringat di kepala gue. Raut mukanya ketika berbicara, serta senyumnya saat dia tertawa. Gue rela seharian mendengarkan dia berbicara tentang apa saja. Ah, dulu kayaknya sederhana banget untuk bahagia. Sekarang? Apa-apa terlalu difikirkan berlebihan, bukan bersyukur dengan apa yang di punya, tapi selalu memikirkan apa yang kurang. Gimana bisa menjadi makhluk yang bersyukur?
Sekarang dia sudah mempunyai pasangan yang selalu bisa membuat dirinya bahagia. Dan gue masih saja berada di titik yang sama, terpaku dengan kenangan yang sudah terjadi di tiga tahun yang lalu. Ada dua jenis orang yang menyikapi sebuah kenangan. Pertama, orang yang tidak akan larut dalam sebuah kejadian, lalu selanjutnya yang dia lakukan adalah menciptakan hal-hal baru yang selanjutnya akan membuat kenangannya menjadi beragam. Dan yang kedua, orang yang terjebak dalam sebuah kenangan, dan tidak ingin menciptakan hal-hal baru untuk di kenang selanjutnya.
**
Mungkin kalau di awal tadi gue menuliskan untuk belajar me-manage waktu serta uang, sepertinya gue punya satu hal lagi yang harus dikerjakan untuk sekarang ini, manage hati. Terimakasih untuk kenangan yang telah hadir di masa lalu. Dan terimakasih untuk segala lagu-lagu Mocca yang selalu menemani.
Sekarang memang sudah waktunya untuk bisa berdamai dengan masa lalu, agar nantinya bisa terbuka dengan orang baru. Dan sebelum bisa berjalan beriringan dengan sosok gadis yang benar-benar gue sayang, alangkah baiknya kalau gue mempersiapkan semuanya. Ilmu, mental, ekonomi, serta kesiapan untuk menghadapi calon mertua. Sama seperti perkataannya Tirta disini,


Yah, semoga saja semua bisa berjalan lebih baik dari yang sebelumnya.

-Tulisan ini diikut sertakan untuk giveaway @romeogadungan

Ads