Saturday, 3 December 2016

Duhai senior-senior ku yang keren

Minggu kemarin, para pelajar Indonesia yang berada di Mesir atau yang biasa di sebut dengan panggilan Masisir, disajikan dengan berbagai film-film keren karya anak bangsa. Salah satu film yang paling gue inget adalah film Ketika Cinta Bertasbih. Sebenernya filmnya ada banyak, kalau nggak salah ada dua.
Eh, tapi kayaknya lebih.
Namanya kan festival film.
Tapi nggak tau juga sih ada berapa.
Bodo ah~
PPMI Mesir
Film Ketika Cinta Bertasbih ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karangan Kang Abik, panggilan akrab untuk Habiburahman el-shirazy, yang juga merupakan senior gue di kampus Al-Azhar. Nggak tau juga deh, kenapa gue bangga dengan hal itu. Padahal yang bikin buku bukan gue, ikut ngasih dana untuk filmnya juga nggak. Aneh ya?
PPMI Mesir
Selain Kang Abik, sebetulnya ada kaka Zeze Shahab. Salah satu aktor perempuan yang turut datang ke Mesir. Kemarin itu gue baru pertama kali melihat sosok kakak Zeze Shahab, selain baik, dia juga punya senyuman yang manis. Wajar aja banyak dari masisir yang ingin foto bareng dengannya. Hitung-hitung, biar bisa pamer di sosmed juga kan(?)
Gue?
Gue nggak terlalu suka foto-foto seperti itu, malu. Lebih enak melihat orang-orang yang sibuk mengantri demi foto bareng dengan kakak Zeze. Lucu aja gitu. Eh tapi, kayaknya senior gue, yang menemani kaka Zeze Shahab jalan-jalan di museum kemarin dengan pasminanya berwarna merah, nggak kalah lucu juga. Tapi siapa ya nama senior gue itu? Ah, lupa.
PPMI Mesir
Suaminya kaka Zeze juga ikut kesini, dan gue baru tau ternyata suaminya pun nggak kalah keren. Terkadang hal kecil seperti ini yang menyuntikan semangat ke diri gue untuk menjadi pria yang lebih keren. Mindset gue adalah ketika diri lu berhasil menjadi sosok pria yang hebat, nantinya akan dipertemukan dengan wanita yang keren juga. Atthoyibin lii thoyibat. Lelaki yang baik dengan wanita yang baik.
Nggak salah kan, kalau gue mikir demikian?
Kenapa malah nge-bahas jodoh dah, Nyet?
Selain Kang Abik, ada penulis lain yang gue sukai. Ahmad Fuadi. Beliau adalah penulis Trilogi yang buku-bukunya menjadi best-seller, dan masih ada benang merahnya dengan diri gue. Kalau Kang Abik adalah senior gue di kampus sekarang ini, kalau Ahmad Fuadi adalah senior gue ketika di pondok dulu.
http://dwiyuniarsih28.blogspot.com.eg/
Bentar.
Sebenernya mereka nggak kenal sama gue juga sih, tapi kenapa jadi sok akrab gini dah.
Biarin amat lah ya.
Mereka nggak baca juga.
Nggak tau deh, melihat para senior-senior yang bisa menulis buku sekeren itu, bahkan sampai buku-bukunya di film kan, bikin diri gue minder. Pertanyaan ke diri sendiri berupa,
“Mereka bisa bikin buku best-seller, nah elu kapan, nyet?”
“LU KAPAN MAU NULIS? SPIK DOANG KATANYA MAU JADI PENULIS LU! DASAR ONTA!”
“Jodoh lu sebenernya dimana dah? Kok nggak dateng-dateng dah, Ji”
“Diet apa kabar?”
Gue sampai bosan, dengan pertanyaan yang gue buat itu.
Sepertinya yang gue harus lakukan untuk saat ini adalah menuliskan mimpi gue itu diatas lembar buku catatan, kemudian mempercayai bahwa hal itu pasti terwujud, sambil berusaha dan tidak lupa minta ridho Allah, lalu menjalani hidup dengan damai.
Seperti Tweet yang gue temukan tadi malam, tulisannya kurang lebih seperti ini,
“Lepaskan kemarin, tundalah esok, rayakan hari ini”
Gue sepertinya terlalu takut dengan segala kemungkinan yang terjadi di esok hari, sampai lupa untuk merayakan hari ini.
Duhai senior-senior yang keren plus baik hati, doakan ane supaya jadi penulis hebat yang bermanfaat, dan izin kan ane untuk bisa, atau kalau bisa sih melebihi antum-antum. Syukron!

Sunday, 27 November 2016

Piramid hack, cara gampang dan hemat jalan-jalan di Piramida Mesir

Kemarin, bermula dari grup Whatsapp,  gue serta lima teman lainnya pergi ke bangunan paling iconic yang ada di Mesir. Bangunan yang masuk ke dalam kategori tujuh keajaiban dunia, yaitu senyuman kamu Piramid Giza. 
@zulfikar_fawzi
Oh iya, kalian tau nggak kalau dalam bahasa arab itu tulisan giza itu bukan menggunakan huruf “ غ“ tapi dengan huruf “ ج“.
Oke lanjut!
Sebelumnya gue sudah pernah menjelajahi tempat ini dengan menggunakan bis, ketika mahasiswa baru di tahun pertama. Tapi kali ini, karena jumlah peserta yang ikut sedikit, dan nggak memungkin juga menyewa bis, gue serta teman-teman yang lain memutuskan untuk naik kereta. Yah, sekalian aja gue share caranya. Kali aja, ada yang mau nyoba juga.
Sebetulnya otak dibalik perjalanan ini adalah sosok manusia yang biasa dipanggil Penyu. Semua bermula dari grup whatsapp, dengan gayanya yang sok asik, si Penyu mengirim chat yang kurang lebih isi chatnya seperti ini,
“Gimana kalau hari senin kita pergi ke Piramid?” tulisnya.

@zulfikar_fawzi
Si Penyu mengusulkan ide ini di hari sabtu. Tepat dua hari sebelum hari H. Kurang sok asik apalagi coba.
Dari pertanyaan itu, yang menjawab hanya  5 dari jumlah seluruh penghuni grup yang berjumlah sebanyak 30-an orang. Dan jawaban teman-teman gue,
“Aku sih yes, nggak tau kalo mas Anang yang lain” jawab orang pertama.
*kirim emot jempol dengan berbagai warna* jawaban orang kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Setelah itu si Penyu dengan inisiatifnya mengirimkan pesan (lagi) yang bertuliskan daftar untuk para orang-orang yang akan berangkat ke Piramid di hari senin esok hari.
**
Berikut ini cara ala mahasiswa kere seperti gue untuk bisa pergi ke Piramid dengan budget sehemat mungkin.
Stasiun Ramsis
“Yang bener aja, cuma kita ber-enam doangan nih? Yang lainnya mendadak nikah atau gimana dah? Si Penyu juga nggak dateng, wasu!” kata gue. Dalam hati.
Itulah hal  pertama yang gue ucapkan ke diri sendiri ketika bertemu dengan teman-teman yang jumlah sedikit, di tempat yang telah kita tentukan sebelumnya, yaitu stasiun Ramsis. Ekspektasi gue yang mengira bahwa perjalanan ini akan seru dan ramai ternyata harus pupus seketika. Terakhir gue lihat di grup yang namanya tertulis di acara ini mencapai angka belasan, itu berarti setengah anggota grup akan ikut jalan-jalan ke Piramid. Tapi kenyataannya... ya gitu.
Untuk menaiki kereta ini hanya perlu mengeluarkan uang sebesar satu pound (1 pound Mesir = Rp.1000, untuk saat ini) dengan kereta ini, gue dan teman-teman lainnya akan menuju stasiun Giza, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan tramco (baca:angkot).


@zulfikar_fawzi
Tramco
Setelah turun di stasiun Giza, gue dan teman-teman yang lain telah ditunggu oleh para supir tramco. Sebenernya nggak ditunggu juga sih. Si supir mengatakan, bahwa akan menurunkan kami tepat di gerbang pintu belakang Piramid, gerbang yang dekat dengan patung Spinx, kalau kami membayar 5 pound.
Ketika di tengah perjalanan, ada om-om yang memaksa ikut naik, padahal kondisi mobil yang sedang gue tumpangi telah penuh. Dengan santainya dia duduk tepat disamping pak supir. Lebih tepatnya, dia masuk dari pintu supir, dan duduk cantik disampingnya. Setelah di telusuri lebih jauh, ternyata si om kampret ini adalah salah satu agen travel yang biasa mangkal di jalan menuju pintu masuk Piramid. Dan sialnya, si om kampret ini menyuruh gue dan lima teman lainnya untuk turun dari mobil, kemudian mengikutinya menuju sebuah kantor agen travel.
Tiga menit setelah dia mengajak kami masuk ke ruangannya, kami langsung bubar jalan. Pergi aja gitu, tanpa dosa. Niatnya mau hemat, malah diajak ikutan travel.
Minta banget di sundul nih si ammu(baca: om-om) travelnya
Untungnya, gerbang Piramid nggak jauh dari tempat kami dipaksa turun.

@zulfikar_fawzi
Kartu mahasiswa
Sebenernya poin paling penting dari perjalanan ini adalah benda kecil ini. Percuma kalian mengikuti tips yang pertama dan kedua, kalau benda ajaib ini nggak dibawa.Tarif biasanya untuk turis itu sekitar 100 pound, dengan kartu ajaib ini kami para mahasiswa perantau mental hemat, hanya perlu membayar 40 pound. Bagi yang nggak punya? Ya tinggal minjem sama yang punya.
Sepertinya (menurut gue ya) orang Mesir itu susah untuk membedakan wajah para orang asing. Entah itu yang dari Asia, Eropa ataupun yang lainnya. Gue sendiri masih seperti itu sih, masih ketuker-tuker melihat wajah orang Mesir.
Contohnya,
Ketika naik bis untuk pulang ke rumah, wajah supir yang gue temui mirip dengan wajah penjual pulsa yang gue beli tepat sebelum gue menaiki bis. Dan setelah gue turun, kemudian mampir di kedai penjual minuman di pinggir jalan, wajahnya mirip juga. Ya kayak gitu lah. Sama-sama mancung, sama-sama punya jenggot tebel, sama-sama suka shisa, sama-sama suka ngomong bahasa arab, sama-sama suka tomiyah. Ya gitu lah.
Perjalanan kami ini sebenernya untuk mau pamer kaus angkatan, karena ketika di pondok kami satu angkatan. Tepatnya angkatan 2012.




Di saat sedang asik foto bareng, kami dihampiri oleh turis asing. Dia mengenakan kaus polo berwarna hitam, celana pendek serta mengenakan topi berwarna putih, tipikal bapak-bapak ketika ingin potong rambut di sore hari. Ketika ngobrol-ngobrol, gue baru tahu bahwa dia berasal dari Spanyol. Dia sempat menunjukan galeri foto di hapenya, dan memerkan fotonya bersama salah satu legenda pemain bola yaitu Zinadine Zidane. Untungnya saat itu, gue nggak mengaku bahwa gue fans Barcelona, yang berarti gue adalah fans dari tim musuh bebuyutannya.



Ketika gue serta yang lainnya sudah capek dengan foto-foto serta loncat-loncat dengan latar belakang patung Spinx serta Piramid, datanglah Penyu. Iya, si manusia kampret itu akhirnya datang juga. Walaupun terlambat, setidaknya dia datang.  
Mungkin hanya itu aja sih tips nya, semoga membantu ya!!
Oh iya, untuk pulangnya, kurang lebih sama saja kok. Tinggal naik tramco yang mengarah ke stasiun Giza, kemudian lanjut naik kereta menuju Ramsis. Gampang kan?
Lebih susah menaklukan hati kamu.

@zulfikar_fawzi

Monday, 7 November 2016

"Loncat-loncat aja, ji"

“Mi, pinjem anduk dong” kata gue.
“Gue nggak punya, belom beli juga nih” jawab Fahmi.
"Hasu, beneran loh. Minjem bentaran aja"
“Yaelah, kayak dulu di pondok aja sih, mat. Loncat-loncat gih” lanjutnya.

Ini percakapan antara gue dengan Fahmi, teman gue yang rumahnya saat itu sedang gue tumpangi untuk beberapa hari selama gue berada di Alexandria.
Dan percakapan itu, berhasil membawa fikiran gue menuju kenangan saat di pondok dulu. Agak lebay sih memang, hal sepele seperti ini saja bisa membuat diri gue Flashback ke moment yang sudah berlangsung empat tahun lalu. Tapi, ya masa bodo lah ya.
Kali ini gue cerita sedikit tentang pengalaman di pondok gue aja lah ya. Jarang-jarang juga kan?
Penasaran kan sama ceritanya?
Ceritanya kalian pura-pura penasaran aja lah ya
Oke, gue ceritain nih.
**

Pondok gue memiliki banyak sekali kegiatan mulai dari pagi hingga malam. Pagi hari di mulai dengan teriakan pengurus ke penjuru asrama, serta bunyi berisik dari pintu yang dipukul oleh gayung. Yang melakukan hal itu ya, pengurus juga. Tujuannya supaya para anggota -gue salah satu anggotanya- bangun dari tidurnya, kemudian mempersiapkan dirinya untuk shalat shubuh. Biasanya para anggota yang telah bangun dari kasurnya, mereka beranjak pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sisanya, ada yang melanjutkan tidur di dalam lemari, atau di tempat jemuran. Tapi kebanyakan dari para anggota, termasuk gue, melanjutkan tidurnya didepan kamar mandi. Entah mereka jongkok, duduk, ataupun sambil berdiri. Tinggal bersenderan di tembok, tidur lagi deh. 
Pengurus yang iseng, dan kampret, biasanya akan berjaga di sekitar kamar mandi. Di tangannya ada gayung yang terisi penuh oleh air. Yang kemudian airnya disiramkan di tempat duduk, serta tembok. Tujuannya agar para anggota tidak bisa bersenderan ke tembok. Setelah itu, pengurus kampret akan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa meminta maaf kepada para anggota yang telah mereka ganggu tidurnya. 
Sebelum adzan shubuh, para anggota yang telah selesai berwudhu, duduk rapi didepan kamar. Membuat dua baris shaf rapi, sambil memegang Al-qur’an. Tapi yang dilakukan setelah itu adalah kami memegang pundak teman yang duduk disamping kami, tujuannya untuk  bergantian pijet-pijetan supaya mata ini tetap terjaga dari rasa kantuk. Walaupun, kami para anggota tau, kalau hal itu sia-sia.

Ya obat dari rasa ngantuk itu kan cuman dengan tidur. Bener kan? 

Ketika ada pengurus yang sedang berkeliling, baru lah kami para anggota pura-pura membuka halaman Al-qur’an. Dan hal itu diulang, sampai masuk waktu untuk shalat shubuh berjamaah.
**
Jam 6 pagi, itu tandanya dapur telah terbuka. Yah, walaupun aslinya memang nggak ada pintunya juga sih. Makanan pagi hari nggak akan jauh-jauh dari rasa pedas. Entah itu sambel terasi, sambel kerupuk, tempe dengan kecap pedas yang biasanya disebut tempe oli, sambel pecel, dan sambel-sambel yang lain. Itu ketika zaman gue sih, nggak tau deh kalo saat ini menu makanannya seperti apa.
Sebelum berangkat menuju dapur, yang disiapkan pertama kali dari kamar adalah sandal. Iya, kalau nggak ada sandal, nggak bisa berangkat ke dapur. Kalau nggak punya piring, kan bisa pinjam ke teman yang telah selesai makan.
Serius deh, hidup di pondok dulu kayaknya gampang banget. Yang susah hanya menjadi petugas piket asrama hari kamis aja.
Selesai makan, biasanya para santri langsung menuju kamar mandi yang terletak disebrang dapur. Hanya kamar mandi, tanpa toilet. Kamar mandi ini biasa disebut dengan sebutan Ancol, kepanjangannya nggak usah dikasih tau juga lah ya. Kamar mandi ini, memiliki bak yang panjang, dan tingginya hanya sepinggang. Kemudian setiap kamar mandi hanya dipisahkan oleh tembok-tembok yang tingginya hanya sepundak orang. Jadi yang mandi disamping kita, bisa terlihat.
Nggak ada handuk, nggak ada gayung. Ketika mandi disini hanya menggunakan piring, bahkan banyak juga yang hanya menggunakan tangannya langsung untuk membasahi badannya dengan air. Sabun? Ya minjem lah. Jadi kalau misalkan yang mandi sepuluh orang, biasanya yang bawa sabun hanya satu atau dua orang. Nggak mungkin semuanya yang mandi bawa sabun. Sampho? Biasanya sebelum makan, mereka yang ingin membersihkan rambutnya telah menaruh samphonya diatas kepala mereka. Jadi saat mereka makan, kepala mereka seperti terkena kotoran burung. Padahal aslinya mah ya sampho.

Kalau dari semua yang mandi nggak ada yang bawa sabun, yaah. . . .  Santai aja lah. Mau pamer sama siapa juga, toh satu pondok isinya cowo semua. 
Setelah selesai mandi, mereka nggak langsung mengenakan pakaian mereka. Tapi mereka lompat-lompat terlebih dahulu, supaya badannya nggak terlalu basah. Yah, walaupun basah-basah juga sih. Jadi setiap gue masuk ke kamar mandi Ancol ini, gue akan melihat sekeliling, setelah menemukan ada yang sedang loncat-loncat, gue akan berjalan menuju tempatnya.

Itu kalau gue sedang bawa sabun.
Kalau nggak bawa sabun, ya gue akan berusaha mendekati teman gue yang bawa sabun.

Kalau nggak ada yang bawa, ya bodo amat lah. Yang penting basah.
Ehe

**
Kangen juga sama moment loncat-loncat itu.
Hmm...
Kalau kamu, kangen sama aku nggak?
Cie gitu
 sumber: http://gontor.ac.id
http://weknowmemes.com/
i.imgflip.com


Wednesday, 26 October 2016

Perjalanan mencari jati diri di Alexandria

Jumat malam kemarin, tanpa perencanaan gue berangkat menuju Alexandria bareng dua orang teman gue, Fahmi dan Hasan. Nggak tau juga deh, akhir-akhir ini sepertinya lebih suka memutuskan hal secara spontan. Padahal sejatinya, gue sudah punya to do list apa saja yang harus dikerjakan minggu ini loh, tapi ya gitu... hal-hal yang harusnya gue selesaikan digantikan oleh keberangkatan gue menuju Alexandria.
Mas Uzi memang mantap!!
*lah ngaku-ngaku sendiri, njir
Bodo amat
Salah satu alasan gue pergi adalah karena gue suntuk dengan rutinitas yang ada di Kairo, butuh refreshing sedikit. Itung-itung, gue mau balas dendam aja gitu, karena ketika liburan kemarin kerjaan gue hanya di kamar-buka laptop-makan-tidur-ulangi. Walaupun gue tau sih, kalau hal ini salah. Apalagi ketika gue ngobrol sama nyokap,
Gue: *sending pictures*
Nyokap: “Loh, kamu lagi dimana, mas?”
Gue: “Alexandria, mah. Lagi suntuk di Kairo, mau refreshing aja”
Nyokap: “Mamah yang tiap hari kerja, ngurusuin rumah aja nggak suntuk, mas. Kamu tuh ada-ada aja”
Gue: “Ehe ehe ehe”
Nyokap: “Yaudah, jangan lupa belajarnya”
Berasa di sentil sama nyokap.
Oh iya, buat yang belum tau, jarak Kairo menuju Alexandria itu kurang lebih sama seperti Jakarta-Bandung gitu lah. Dan jenis kereta yang biasa membawa penumpang dari Kairo-Alexandria ada dua, kalau yang gue ceritain di tulisan ini, biasa disebut kereta adi (Kereta biasa. Biasa banget malah, nggak ada istimewanya sama sekali. Malah terkadang disebut kereta kambing). Kebetulan kereta yang gue naiki kemarin adalah jenis kereta mukayaf (kereta ber-AC yang kalau lagi sial AC-nya bocor dan dingin mampus) yang darajah tsaniyah. Gue nggak naik darajah ula ya karena harganya memang nggak pernah akur sama kantong mahasiswa (darajah tsaniyah itu sekelas kereta bisnis, darajah ula ya sekelas eksekutif).
Bentuk tiketnya seperti ini.
Nggak penting kan?
Pura-pura penasaran aja lah ya.


Sebelum masuk ke dalam stasiun, pemandangan yang gue temukan adalah para pedagang headset yang berjalan mendekati orang-orang yang berlalu lalang, sambil sering kali berteriak,
Kullu samaaah bii asyroooh, bii asyrooh, bii asyrooooh”
Yang artinya kurang lebih,
Yang mau Headset-headset, ceban... ceban... ceban...”
Iya, dia bilangnya sih gitu. Tapi, ketika kita (pembeli) menemukan headset yang bagus, nanti disuruh tambah 5 pound Mesir lagi.   

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya kereta yang gue tumpangi sampai di stasiun Siti Gabir (nggak tau deh, tulisannya bener atau nggak). Selama perjalanan gue sama sekali nggak bisa tidur, ini salah satu hal yang gue sesali sih sebetulnya. Karena dengan ini, kebiasaan buruk gue tidur setelah shubuh aktif kembali.
Perjalanan menuju rumah Fahmi, dilanjutkan dengan menggunakan kereta api. Lagi. Salah satu hal yang bikin gue bahagia, sekaligus membuat gue harus mematikan Podcast yang sedang gue dengarkan adalah karena rumah Fahmi ini tepat berada dibelakang stasiun kereta api. Gue bahagia karena ini benar-benar suasana baru yang nggak akan gue temui di Kairo (selain rumah lu yang berada di Kairo terletak dibelakang stasiun kereta api juga. Tapi ini jarang banget sih). Dan alasan gue harus selalu mematikan Podcast yang sedang gue dengar adalah ya karena setiap kereta sedang berjalan selalu membuat suara bising. Tapi sejauh ini gue suka kok dengan suara kereta ini. Terlebih kamu, aku suka kamu kok.
*Kagak nyambung, hasu
Ketika sedang mampir di baalah (baca: warung), gue sudah menemukan hal baru. Pertama, ternyata di Alexandria ada Indomie rasa kaldu udang. Kedua, karena ada Sibsi (nama snack disini, kalau di Indonesia sejenis Lays gitu) yang rasanya belum pernah gue temui di Kairo. See, bahagia gue sederhana banget kan?
Setelah menaruh tas di ruang tengah, langkah kaki membawa gue menuju ruang dapur. Tangan gue mengambil panci, kemudian mengisinya dengan air keran, lalu menaruhnya diatas kompor yang telah gue nyalakan apinya. Sambil menunggu air matang, tangan serta mata gue nggak bisa lepas dari layar hape. Malam itu gue mencoba menghancurkan keheningan malam dengan menyalakan Podcast yang sudah gue save sebelumnya di hape. Walaupun sudah tidak sesepi sebelumnya, tapi gue merasa hening. Banyak pertanyaan serta jawaban yang kemudian muncul difikiran gue. Seperti,
Sebenernya apa sih arti hidup yang gue jalani sekarang?
Hafalan juga nggak nambah-nambah. Dasar gendut!
Mau dibawa kemana arah hidup lu saat ini? Ibadahnya masih terburu-buru. Ngejar apa sih?!
Internetan doang? Belajarnya kapan?
Apa memang mencari orang yang dipercaya itu susah banget ya?
Lu nya juga sih bego, asal cerita aja
Kenapa orang yang gue percaya, malah melakukan hal seperti itu?
Emang lu maunya kayak gimana hah?!
Nggak lagi deh cerita-cerita kayak gitu
Jangan diulangi makanya, ndut!
Apa rasa tertarik gue ke perempuan itu, hanya bersifat sementara aja?
Atau harus diungkapin aja gitu, biar plong?
Ah kayaknya dia ga ada tanda-tanda suka sama gue juga sih
Anjir lah, sok-sok naksir sama orang, ilmu juga belum punya. Dasar bego! Belajar makanya!
Ini perut kenapa malah tambah ngembang, bukannya nyusuut, taiii?!! Dasar gendut!!
Ketika asik berbicara dengan diri sendiri, panci yang berisi air itu telah mengeluarkan hawa panas. Gue dengan sigap, mengambil segelas cangkir yang telah diisi sebelumnya dengan teh hijau rasa mint serta sedikit gula. Oh iya, penasaran dua orang temen gue itu pergi kemana? Mereka sudah asik melanjutkan tidurnya sejak tadi.
Malam semakin larut, semilir angin di Alexandria yang tidak sedingin di Kairo, serta suara kereta api yang sesekali menghancurkan keheningan malam, membuat malam ini terasa lebih nikmat. Sambil menikmati teh hijau serta mendengarkan lagu Mari Becerita milik Payung Teduh, semoga setelah teh hijau ini habis, segala keresahan ini menemukan penyelesainnya.
Yah, Alexandria selalu punya cita rasa yang berbeda dari Kota lainnya.
Mungkin mereka saudara. Siapa tau?

Thursday, 20 October 2016

Mesir di tengah malam

Ketika tulisan ini dibuat, mata gue masih belum bisa tertutup dengan sempurna. Saat ini tepat setengah jam lagi menuju adzan shubuh waktu Kairo. Sebelum menulis tulisan ini, gue baru selesai membaca artikel tentang bahayanya begadang semalaman suntuk. Dan ternyata, begadang semalaman suntuk itu lebih berbahaya ketimbang memakan 6 makanan Junk food.
Parah banget kan?
Kalau menurut gue nggak sih.
Tapi nggak tau deh kalo mas Anang gimana.
Sebetulnya gue benci dengan hal ini, nggak tidur semalaman suntuk, duduk didepan layar komputer selama berjam-jam, kalo bosen nonton Youtube, lanjutin main Master League PES 2016, kalo bosen main, nonton Youtube lagi. Udah gitu doang. Nggak penting kan?

Nggak tidur semalaman di negri orang, menurut gue biasa aja. Gue nggak ngerasa takut adanya pocong ataupun saudara-saudaranya itu. Toh, gue di kan nggak di Indonesia. Tapi, beda cerita lagi ya kalo gue sudah berada di Indonesia.
Hal yang amat sangat mengesalkan ketika begadang semalaman itu adalah gue harus rela mendengarkan berbagai macam bunyi alarma dari berbagai hape kepunyaan teman-teman gue yang saat itu sedang pulas tidur. Kalo mau di presentase kan, jumlah teman gue yang bangun ketika alarm berbunyi hanya 20%, sisanya ya masih meneruskan tidurnya. Dan kalo sudah seperti ini, dengan hati terpaksa gue harus mematikan seluruh hape yang menyala.
Kampret kan?
Banget.
Kayaknya jawaban mas Anang sama kayak gue deh.
Terlebih kalo ada yang memasang alarm setiap 10 menit sekali, beuh buros (baca: Tai). Mungkin niatnya yang ingin bangun sebelum shalat shubuh, agar bisa melaksanakan shalat tahajud. Tapi kenyataannya? Alarmnya nggak ngefek. Udah gitu suara alarmnya sirine ambulan,
nguuing… nguuuing…. Nguuing”
Tiap sepuluh menit, bunyi mulu.
Itu mobil ambulan kapan sampainya sih elah?!! Bisa bawa mobil nggak sih supirnya?!! Gue sundul juga nih mukanya!!
*Lah marah-marah, nyet
Pengen rasanya hati ini untuk melemparkan hape jahannam itu ke muka pemiliknya. Tapi, ya percuma aja gitu, orangnya nggak bakalan bangun. Paling, ketika pemilik hape itu sudah sadar di keesokan harinya, dia akan cerita,
“Eh, gue semalem mimpi abis di tabok sama beruang. Anjir lah, sakit banget. Dan anehnya, pipi gue masih terasa sakit loh”
Buros qitun (baca: TAI KUCING).
Kenapa gue harus di samain kayak beruang? Kenapa hah?
Selain bunyi alarm jahanam, gue harus terbiasa juga dengan ucapan-ucapan yang sering terlontar dari mulut teman-teman gue. Kalo gue nyebutnya sih, ngelindur. Kalo di daerah kalian apa? Terkadang ngelindurnya berasa kayak ngajak ngobrol aja gitu, padahal aslinya ya dia nggak sadarkan diri. Ada juga yang ngelindurnya bikin kaget, jadi ketika dia ngelindur dia berteriak,
“SABAR WOY!! GUE JUGA BARU MASUK BUSET DAH!!”
“…….”
Abis itu diem.
“Haeemm…. Haaaeemm…”
Terakhirnya baru ha hem ha hem, kayak lagi ngemilin beras. Abis itu tidur lagi.
Yang paling nikmat disaat sedang begadang itu adalah ngebecandain orang yang tidurnya ngorok. Seru aja gitu. Paling sering sih, ketika lagi ada yang asik ngorok, kepalanya ditutupin dengan sarung. Ini gue juga sebenernya nggak tega sih, tapi karena dorongan teman-teman yang lain, ya gue jadi semangat lah. Tapi, temen yang gue usilin itu, bukannya berhenti suara ngoroknya, eh tapi malah tambah kenceng. Apa semua orang yang ngorok seperti itu? Atau cuman teman gue aja?
Kayaknya udah dulu tulisannya, gue mau shubuhan dulu. Daah~

Eh btw, nanti pagi (20/10) ada acara wisuda. Mohon do’anya supaya semuanya lancar ya!!



Sumber foto: https://zeedub93.files.wordpress.com

Monday, 3 October 2016

Supir Mesir yang Meng'gemas'kan

Udara Kairo malam saat ini sudah lumayan dingin, tandanya musim dingin telah datang, dan ini bertanda juga bahwa sebentar lagi para senior-senior yang telah lama tinggal di Mesir akan berkata dengan tegas kepada anak baru seperti,
‘Lemah banget lu, gini doang pake jaket’
‘Dasar cowo gemulai’
‘Manusia rapuh, dikit-dikit ngeluh’
‘Mandi pake air dingin lah, biar macho’
Masih inget banget, ketika gue pertama kali datang ke Mesir pasti kebanyakan senior mengatakan hal seperti itu. Lumayan kesel juga, dengan perlakuan senior yang memperlakukan gue serta teman-teman gue saat kita masih mahasiswa baru. Sebetulnya pengen aja gitu teriak ke mereka,
“Kulit elu, kulit badak kali, Bang. Makanya dingin kayak gini nggak terasa”
“Yang gue pakai kan jaket sendiri, kenapa elu yang ribet dah. Dasar badak”
Tapi, apakah gue benar teriak ke para senior seperti itu? Oh, tentu tidak.
Selain ujian hidup dari senior kreatif yang seperti itu, sebenernya masih banyak banget hal kampret yang ada di Mesir.  Dan mungkin hampir semua orang yang tinggal di Mesir, pernah merasakan hal yang akan gue ceritakan ini. Hal ini terjadi setiap kali gue ingin menaiki kendaraan umum di Mesir.


Jadi, malam itu gue sedang tergesa-gesa ingin segara pulang. Kebetulan ketika itu giliran gue untuk piket masak (baca: meracuni anak rumah). Tangan gue memegang plastik yang penuh berisikan dengan barang belanjaan berupa sayur-sayuran seperti buah tomat, wortel dan buncis, bumbu masak , serta makanan favorit sejuta umat yaitu tempe serta tahu yang nggak ketinggalan gue beli. Malam ini, rencananya gue akan masak telor dadar plus bakwan yang lebih banyak tepungnya daripada sayurnya, dan juga sambel ekstra pedas untuk anak rumah.
Belanjaan sama menu masak nggak nyambung kan?
Bodo amat
Sudah setangah jam, bis yang gue tunggu tak kunjung datang. Yang bisa dilakukan hanya buka Whatsapp – tutup – buka BBM – tutup – Buka Twitter – tutup – buka Instagram – tutup – ulangi. Sok-sok sibuk megang hape, padahal sih yang nge-chat juga nggak ada. Biar dianggap sibuk aja  gitu.
Akhirnya, bis berwarna merah yang gue tunggu datang juga. Dan tumben, kali ini bis-nya melaju dengan cepat. Disaat yang sama juga, ada kendaraan lain, bis biru kecil, yang posisinya sejajar dengan bis merah yang gue tuju.
Tangan gue berusaha menunjukan sinyal kepada supir berwarna merah, tapi apalah daya yang berhenti adalah bis biru kecil kampret itu. Dengan santainya si supir memberhentikan kendaraannya tepat didepan gue, sambil berkata,
“Ayo nak, sini naik”
“Gue mau pulang ke arah Darrasah, bukan ke City Star. Ga usah sok akrab juga lu”
*laaah marah-marah*
“Oh yaudah, abang duluan ya, dek”
“SUKA-SUKA ELU AJA BANG”


Setelah selesai ngobrol, bis merah yang gue tuju malah pergi begitu saja. Hilang. Sudah pergi jauh. Ini semua gara-gara supir kampret, datang tak diundang, tapi nanya-nanya sok akrab.
“KYAAAAAAA”
Pengen nangis gue. Nunggu setengah jam, tapi nggak ada hasil.
“Eh, dek-adek”
Ternyata supir bis biru kecil bgst itu belum pergi juga.
“Oit, dek” Ulang si supir ke gue.
“Apa?” Jawab gue yang berusaha untuk terlihat seperti anak baik.
“Tolong beliin pepsi dong, nanti duitnya abang ganti”
“....”
“UUH LUH, MAMPUS LU, MAMAM TUH!! SEHAT-SEHAT DEH TUH MUKA PENUH VITAMIN” Teriak gue, sambil melempari abang supir dengan sayur-sayuran yang ada di kantong plastik belanjaan gue.
“BIAR TAMBAH IMUT TUH MUKA LU” Lanjut gue, sambil melempari abang supir dengan sisa belanjaan yang gue punya.

sumber: foto 1, foto 2

Saturday, 17 September 2016

Apa semua anak kecil baik?

Wajah menggemakan, pipi yang menyerupai tahu bulat, ukuran lengan tangan dan betis kaki yang susah dibedakan, rebutan para perempuan, tak terkecuali oleh teman gue yang perempuan, dan juga yang seringkali dilempari dengan pertanyaan,
‘Iiih kamu apa kabar? Cuamaaaat’
‘Siapa sih ayahnyaaa?’
‘Ini anak capaaa cee? Lucu bet, lucu bet’ Ini ngomongnya sambil nyemburin ludah.
‘Kamu laper haa? Sini ammah(baca:bibi/tante) suapin. aaaam’ Yang ini nafasnya bau bunga bangke.
‘Ha kamu mau minum starbak? Iiih tante juga mau tauk. Minta duit sama ayah kamu yuk’ dia yang nanya, dia juga yang jawab. Bapaknya juga di palak lagi.
Anak kecilnya kuat banget, nggak nangis.

Tapi bicara anakonda kecil yang ada di Mesir, sifatnya jauh berbeda dengan anak kecil yang berada di Indonesia. Usilnya itu minta ditendang, tapi karena masih kecil, plus wajahnya imut dan hidungnya mancung, jadi nggak tega aja untuk ngelakuinnya.
Beberapa hari kemarin gue juga mengalami penganiyaan oleh anak kecil.
Jadi, cerita ini bermula ketika gue ingin main ke rumah teman gue di distrik 10, yang mengharuskan gue untuk naik bis terlebih dahulu. FYI, disini jadwal bis itu nggak ada yang pasti. Jauh berbeda dengan jadwal bis yang ada di Eropa sana, yang sudah terjadwal rapi, yang bisnya rapi, wangi, teratur, rajin menabung, bikin masakan buat mertua, suka silat, bisa kayang, ya pokoknya beda lah.
Setelah lebih dari dua jam menunggu bis di terminal, gue menyerah. Bisnya nggak ada tanda-tanda datang, dan panas Mesir yang lagi emang kampret-kampretnya. Inilah salah satu penyebab, kenapa kulit gue ‘lebih mencolok’ ketimbang teman-teman yang lain.
Gue memutuskan untuk kembali ke rumah. Panas Mesir kalau siang hari emang gitu, becandanya keterlaluan. Ditambah lagi, para pengendara mobil ataupun motor yang membawa kendaraannya seperti sedang di taman bermain. Ngebut aja yang penting, kalau nabrak orang paling hanya teriak,
Ma’alsy habibi
Di Mesir kayak gitu. Makanya kalau mau ngerasain sensasinya main sini ke Mesir, jengukin gue. Bawain duren sama tahu kupat sekalian.
Ketika di perjalanan pulang, gue lebih memilih untuk mengahampiri warung untuk membeli sebotol air mineral. Meskipun dari kejauhan, gue bisa dengar teriakan orang yang sedang berjualan minuman. Gue sering dengar teriakannya, tapi sampai sekarang gue nggak tau, si penjual itu berteriak apa. Yang gue tangkep hanyalah,
UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAAH UWAAAH’
‘UWAAAH UWAAAAAAAAH’
Padahal dia jualan air perasan dari buah kurma loh. Tapi... Ya suka-suka dia ajalah, semerdeka dia aja pokoknya. Kalau gue tegur, takutnya gue disiram air kurma. Nanti kalo gue ketagihan gimana? Kalau gue minta disiram lagi gimana? Ha? Ha? Siapa yang mau tanggung jawab? Ha? Jawab?!!
Anjir, ga mutu banget tulisannya
Tempat tinggal di Mesir itu kebanyakan berupa flat. Kayak rumah susun gitu, tapi lebih sedikit rumahnya. Jadi kayak satu gedung gitu, terdiri dari lima rumah. Tiap lantai ada satu rumah, misalnya kayak gitu.

Rumah gue terletak di lantai tiga, lantai satunya diisi oleh teman-teman gue yang perempuan, lantai dua diisi oleh yang punya gedung, bapak kost gitu lah, nah baru lantai tiga rumah gue. Sisanya masih kosong tanpa penghuni. Biasanya gerbang pagar itu di kunci, dan kebetulan juga kunci gue baru saja hilang. Tapi mungkin karena rejeki anak sholeh seperti gue ini, pintu gerbang tidak di kunci.
Langkah kaki gue terhenti, karena melihat anak bapak kost yang paling kecil sedang membenarkan kunciran rambutnya, serta wajahnya tersenyum kearah gue. Dia mengenakan kaus lengan pendek berwarna pink serta celana pendek dan juga menggunakan sandal jepit, yang membuatnya semakin manis. Ketika gue menanyakan kabarnya, dia datang menghampiri. Bukannya keluar dari pintu, dia lebih memilih untuk melewati sela-sela besi yang ada (namanya juga bocah), kemudian menjawab pertanyaan gue sambil menunjukkan giginya.
Bahagia gue itu sederhana, di senyumin sama anak kecil aja udah senang.
Kemudian anak kecil itu bertanya kepada gue,
Fien miftah?’ (baca:mana kunci kamu, ka?)
Matruk fil bait yaa bint’ (baca:ketinggalan di rumah, dek) kata gue bohong.
Yang dilakukannya setelah itu adalah dia memegang besi gerbang, kemudian menutupnya dengan cepat.
Lalu dia pergi sambil tersenyum.
Ketika wajahnya masih menghadap gue, botol air yang ada digenggaman gue, langsung menghilang. Terlempar menuju muka kampretnya.
Nggak kena.
Telek.
Yang gue lakukan sehabis itu hanya menatap wajahnya, sambil mulut gue mengeluarkan kata-kata berupa,
‘HASYU’
‘LU MAU KEMANA, SYU?!!!’
‘GUE MAU NAIK INIIIIIH, NYET!!’
‘MALAH DITUTUP LAGI’
‘PAKE KETAWA LAGI LU’
‘BERUNTUNG NGGAK KENA BOTOL GUE TUH MUKA LU’
‘AAARRRGGHHHH’
‘KYAAA KYAAA’
Nunggu lama-lama di terminal, panas-panasan di jalan, dan sekarang dikerjain sama anak kecil kampret.
Masih nganggep semua anak kecil baik, ha?
sumber: foto 1, foto 2

Tuesday, 6 September 2016

Teruntuk kenangan masa lalu

Pertanyaan yang sering kali keluar dari mulut teman-teman gue untuk saat ini,
‘Lu kapan, Ji? Temen-temen deket lu udah pada mau nikah tuh. Lu nggak mau nyusul?’
Tapi, hal sebaliknya yang sering muncul di kepala gue adalah,
‘Hapalan lu kapan nambahnya, Nyet? Nonton vlog mulu sih, bego amat lah. Buang-buang waktu’
‘Mau ngurusuin badan, tapi makan mulu. Resolusi doang, realisasinya mah nggak’
‘Kuliah disini udah dapet apa? Selain di godain orang pas nge-gym’
‘Passion itu sebenernya penting nggak sih?’
‘Belajar manage waktu sama uang, Nyet. Hidup hemat kek’
**
Setiap orang mempunyai skala prioritas yang berbeda-beda pula. Ada yang merasa nikah merupakan prioritasnya untuk saat ini, dan ada juga yang menganggap nikah itu, ya emang bisa dilakukan nanti saja. Ketika segala hal yang ingin di realisasikan telah terwujud, ataupun ketika segala hal yang bisa membuat kedua orangtuanya bahagia telah selesai dilaksanakan. Baru setelah itu baru berfikiran untuk menjalin hubungan hubungan serius dengan orang lain.
Gue nggak masalah juga sih, sama orang-orang yang memilih untuk nikah muda. Itu kan urusannya.
Terkadang gue jadi kepikiran juga, siapa ya cewe yang akan gue perjuangkan nantinya? Ini semua gara-gara ngobrol sama orang yang pada ngebet nikah sih, kampret. Serasa menjadikan mereka kambing hitam ya? Tapi emang kenyataannya gitu.
**

Tugas gue yang sampai sekarang ini belum terselesaikan adalah membuat majalah online untuk salah satu organisasi yang ada disini. Salah gue juga sih, menulis program kerja yang gue sendiri pun nggak paham cara bikinnya. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa ingin melakukan hal ini. Pertama, karena gue sama sekali belum menemukan majalah berbentuk online yang ada di Mesir. Kedua, ya emang biar terkenal aja gitu.
Nggak bermutu banget kan alasannya?
Setelah bosan membaca banyak tulisan tentang cara pembuatan majalah online, sekarang gue mengarahkan kursor menuju folder-folder film.
‘Kayaknya film download-an kemarin, masih banyak yang belom di tonton deh’ fikir gue.
Saat asik cari-cari film, nggak sengaja melihat folder file yang bertuliskan ‘Memories’. Dan setelahnya malah asik melihat foto-foto yang sudah ada sejak tiga tahun lalu.
Satu foto yang membuat diri gue termenung lumayan lama, dan mengingat moment di tiga tahun yang lalu.
**
Hal yang paling bisa diingat dari si wanita ini adalah ketika gue dengannya bertemu di salah satu mall yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Itu pun, setelah ngobrol lama dan akhirnya bisa membuat kesepakatan untuk bertemu berdua di hari menuju senja itu. Btw, dia suka dengan senja. Gue malah sebaliknya.
Ah, gue masih ingat sore hari itu.
Dia mengenakan krudung berwarna ungu, serta abaya yang berwarna senada. Tampilannya mirip kayak ibu-ibu pengajian pas acara mamah Dedeh, bukan? Haha. Kacamata yang ia kenakan, semakin membuat dirinya terlihat pintar. Memang pada dasarnya dia pintar kok. Kalau kata teman-temannya, dia itu salah satu sosok manusia yang sering sekali tidur di kelas. Tapi menurut gue ya bebas aja lah, pintar, cantik, salah satu murid yang cukup di kenal oleh satu angkatan, terus ada yang salah dengan sering tidur di kelas? Murid lain juga banyak kali. Nah, untuk yang ini gue sama dengan dia. Sama-sama suka tertidur di kelas. Bedanya, ya nilai gue nggak lebih baik dari dia aja sih. Hahaha.
‘Kamu kalau ngajak nonton film kayak gitu, si Riani suka tuh. Aku kurang ngerti alur ceritanya’
‘Kemarin adek aku dimarahi sama ayah, karena ketahuan deket sama cowo’ Katanya sambil tertawa.
‘Dia ketahuan, setelah ayah meriksa hapenya’
‘Abis itu dia marahin aku, karena aku nggak bantuin dia’
‘Hahaha’
‘Oh iya, jadinya kamu mau lanjut kuliah dimana?’
‘Aku sekarang lagi sibuk ngurus berkas-berkas yang dibutuhin nih. Doain biar semuanya lancar ya!!’
‘Mungkin kalau semua berjalan lancar, tiga bulan lagi aku mulai kuliah. Nanti aku kabarin kamu deh kalau udah deket-deket hari H’
‘Sekarang kamu fokus aja sama yang ingin kamu raih, tunjukkin kalau kamu tuh bisa’
‘Kamu pasti bisa kok. Masa segini aja udah nyerah’
Kalimat-kalimat itu yang masih sering teringat di kepala gue. Raut mukanya ketika berbicara, serta senyumnya saat dia tertawa. Gue rela seharian mendengarkan dia berbicara tentang apa saja. Ah, dulu kayaknya sederhana banget untuk bahagia. Sekarang? Apa-apa terlalu difikirkan berlebihan, bukan bersyukur dengan apa yang di punya, tapi selalu memikirkan apa yang kurang. Gimana bisa menjadi makhluk yang bersyukur?
Sekarang dia sudah mempunyai pasangan yang selalu bisa membuat dirinya bahagia. Dan gue masih saja berada di titik yang sama, terpaku dengan kenangan yang sudah terjadi di tiga tahun yang lalu. Ada dua jenis orang yang menyikapi sebuah kenangan. Pertama, orang yang tidak akan larut dalam sebuah kejadian, lalu selanjutnya yang dia lakukan adalah menciptakan hal-hal baru yang selanjutnya akan membuat kenangannya menjadi beragam. Dan yang kedua, orang yang terjebak dalam sebuah kenangan, dan tidak ingin menciptakan hal-hal baru untuk di kenang selanjutnya.
**
Mungkin kalau di awal tadi gue menuliskan untuk belajar me-manage waktu serta uang, sepertinya gue punya satu hal lagi yang harus dikerjakan untuk sekarang ini, manage hati. Terimakasih untuk kenangan yang telah hadir di masa lalu. Dan terimakasih untuk segala lagu-lagu Mocca yang selalu menemani.
Sekarang memang sudah waktunya untuk bisa berdamai dengan masa lalu, agar nantinya bisa terbuka dengan orang baru. Dan sebelum bisa berjalan beriringan dengan sosok gadis yang benar-benar gue sayang, alangkah baiknya kalau gue mempersiapkan semuanya. Ilmu, mental, ekonomi, serta kesiapan untuk menghadapi calon mertua. Sama seperti perkataannya Tirta disini,


Yah, semoga saja semua bisa berjalan lebih baik dari yang sebelumnya.

-Tulisan ini diikut sertakan untuk giveaway @romeogadungan

Monday, 22 August 2016

Hal baru(?)

Liburan kuliah kali ini, sama sekali nggak ada yang spesial. Teman-teman kebanyakan pada pulang ke Indonesia untuk liburan. Ada yang menghabiskan waktu bersama keluarga serta teman-temannya, ada juga yang traveling ke spot-spot Instagaramble, dan sebagian lainnya sedang lamaran pernikahan.
Nggak ada tanda-tanda punya pasangan, tapi udah dilamar. Dan fotonya di publish di grup Whatsapp, good job ma fren!! Tunggu gue seperti itu juga, tunggu aja. Waktunya kapan, cukup lah itu menjadi rahasia Allah.
Teman-teman yang masih berada di Kairo pun juga pada asyik jalan-jalan ke luar kota. Iya, Mesir itu bukan hanya Kairo ataupun Alexandria, masih banyak tempat asyik untuk di jelajahi. Tapi untuk liburan sekarang, yang gue lakukan hanyalah berdiam diri di kamar sambil mendengarkan podcastnya si Adri ataupun si Iqbal.
Liburan kali ini, gue mencoba hal baru. Nge-Gym. Tahun ini gue bertekad (walaupun keseringan khilafnya)untuk mengurangi lemak yang ada di tubuh ini. Dosa udah banyak, masa ditambah lemak yang banyak juga. Kapan kuatnya, untuk menghadapi kenyataan?
Cie gitu.
Satu ruangan Gym bersama orang Mesir itu nggak buruk-buruk banget. Semua jenis cowo Mesir ada semua. Mau tipe yang seperti apa ha? Yang badannya dua kali lipat dari gue, ada. Yang badannya bulet juga, ada. Yang kurus, ada. Yang badannya berotot, banyak. Tapi sampai sekarang gue masih nggak ngerti sih, kenapa orang yang sudah mempunyai badan bagus, berotot, kenapa masih latihan di pusat kebugaran? Mau nya apa sih? Tampol juga nih. Nggak deng, boong. Yang badannya keker itu nggak mau gantian gitu sama orang yang berbadan seperti gue ini, ha? Mau nya apa ha? Ha? Ha? Jawab, nyet?!!
Jadi marah-marah kan.

Dan dari sekian banyak orang yang ada di pusat kebugaran itu, yang paling gue benci adalah orang yang sombong.
Kayaknya semua orang nggak suka sama orang yang sombong ya?
Sama kalau gitu *toss*.
Hari itu jadwal gue untuk melatih otot tangan. Ketika sedang memainkan alat fitness, datang lah si kampret dengan gayanya yang sok asik,
“Bro, gue mau masih main alat ini. Lu tunggu dulu gih sana ya, hahaha”
Kurang kampret apa?
Setelah mengetahui si kampret itu menggunakan alat yang ingin gue gunakan, maka gue mencari opsi lain dengan mendatangi tempat dumbell yang tersusun nggak rapi. Orang-orang sini terkadang suka kayak gitu sih, ya mau dibilangin tapi dia nya pake headset. Males teriak-teriak juga.
Ada sebuah botol minum di kursi duduk yang ingin gue tempati. Ketika hendak menaruh botol minum itu diatas lantai, datanglah si kampret ini. Iya, orangnya sama lagi sambil mengatakan,
“Bro, gue mau make kursinya. Lu ke tempat lainnya aja lah ya”
Gue pergi ke loker, tempat biasa orang-orang biasa mengganti bajunya, kemudian mengambil sapu yang sedang disandarkan ke tembok. Sambil menahan marah, gue datang si kampret itu dengan tangan yang memegangi sapu, kemudian memukul tepat ke lehernya.
Puas? Banget, nyet.
Tapi itu berakhir didalam benak gue aja sih. Nggak sampai kejadian.

Yang gue lakukan hanya mengelus dada, serta memaki dalam diri sendiri. Ingin rasanya meneriakan,

"DASAR BELALANG SEMBAH!!"

"Kenapa kamu tau kalau saya siluman belalang?"

Udah lah ya, kalau dilanjutin bakalan jadi ngaco tulisannya.
Sebetulnya untuk mengurangi lemak yang berada didalam tubuh kita adalah dengan memperhatikan apa saja makanan apa saja yang masuk ke dalam tubuh kita. Untuk latihan di tempat kebugaran seperti ini, sampai bertemu makhluk kampret seperti itu, sebenernya nggak penting-penting banget kok. Selama kita tidak memakan berlebih dari jumlah kalori yang dibutuhkan, badan kita akan kurus.
Kita?
Gue aja kali, elu nggak.
Walaupun udah tau caranya, tapi tetep aja makannya berlebih. Bego ya(?)
Olahraga itu niatnya biar badan sehat. Tapi kalo kasusnya seperti diri gue, ya harus olahraga biar nggak kegemukan. Nggak enak juga kalau sedang main futsal, sepak bola, ataupun basket, cepet banget capeknya kemudian di ganti sama yang lain. Sama sekali nggak enak, padahal lagi seru-serunya.
Sekarang gue jadi sedikit lebih mengerti, ternyata di pusat kebugaran bukan hanya melatih otot, tapi juta melatih kesabaran. Target gue ya minimal kuat lah kalau diajak main futsal dua jam.
Tulisan kali ini sampai sini dulu.
Buat ngelatih jari-jari tangan lagi sih.
Ehehe

Daah.
Ini ada foto before and afternya...
Before


After
Targetnya sih yaa 'mau' nya ya sama seperti makhluk ini
Kayaknya nggak susah-susah banget lah ya. Ehehe

source : satu, dua

Saturday, 6 August 2016

'Suntikan' di acara dialog santai

Akhir Juli kemarin, Kairo dipenuhi oleh orang-orang hebat, seperti Bapak Lukman Hakim Saifuddin, Bapak Mahfud MD, serta para mahasiswa-mahasiswi yang amat sangat aduhai. Emm.. Kayaknya kata ‘aduhai’ kurang cocok ya. Tapi, masa bodo amat lah ya. Yang punya blog juga siapa.
Lah, nyolot.
Mereka datang kesini untuk menghadiri acara Simposium yang berlangsung di Kairo. Acara ini adalah kali pertama disenggalarakan di kawasan Timur Tengah, dan Kairo terpilih menjadi tuan rumah.
#CIE
Biasanya acara seperti ini diadakan di Eropa, tapi gue nggak tau juga sih.
Dan kali ini, gue akan membahas hal lain. Kenapa tidak membahas acara Simposium? Karena tempo hari gue sakit, dan tidak bisa hadir dalam acara tersebut. Daripada nanti gue menceritakan hal yang sesat, lebih baik kalian main ke websitenya disini.
Meskipun gue nggak ikut, tapi sensasinya terasa banget. Buktinya, walaupun gue tergeletak di kamar, tapi gue masih bisa melihat isi hall acara. Setiap membuka aplikasi BBM ataupun Instagram, yang gue lihat adalah foto berupa pemandangan didalam ruangan yang dipenuhi oleh buanyak manusia. Dan tentunya caption yang bertuliskan,
‘Duh kepala aku pusing, kayaknya harus beli tas baru nicch’
‘Aku mau kayang di tengah jalan, kamu nggak mau ikutan gitu?’
Iya, seperti itulah captionnya. Menarik serta tidak nyambung, bukan?
Nggak deng, nggak kayak gitu captionnya. Becanda.
**
Beruntung kemarin gue sempat ikutan acara dialog santai yang pembicaranya merupakan delegasi dari berbagai tempat. Dialog santai pertama, ada tiga orang pembicara. PPI Belanda, Turki, Tunisia, serta Malaysia. Kebanyakan dari mereka bercerita tentang cultural shock yang mereka rasakan di tempat kuliah mereka saat ini.
Yang paling asyik adalah ketika bang Ali dari PPI Belanda membagikan pengalamannya. FYI, sebelum dia menjadi salah satu mahasiswa di Belanda, bang Ali merupakan ketua BEM di Universitas Indonesia. Sebetulnya, gue nggak terlalu peduli juga dengan hal itu, karena ya emang gue nggak kuliah di UI. Yang membuat hal ini menarik adalah ketika bang Ali membahas sedikit tentang hukum-hukum, membahas sedikit tentang cara mudah untuk meraih mimpi, membahas sedikit tentang menjadi masyarakat Indonesia yang bangga terhadap negrinya sendiri. Pembahasannya renyah.
Tiga tengah (Kiri PPI Malaysia, tengah PPI Belanda, kanan PPI Tunisia)
Ketika mendengar hal itu, gue serasa seperti orang yang dilempari oleh batu-batu kecil. Entah pergaulan gue disini yang masih sedikit dan hanya berkutat dengan orang-orang itu saja, tapi gue merasakan suntika baru, ketika mengikuti dialog santai seperti ini. Biasanya yang gue dengar dari curhatan teman-teman gue ya nggak jauh-jauh dari,
‘Gue galau nih, dia nggak ngasih kabar’
‘Dia sebenernya suka sama aku nggak ya?’
‘Hari ini, krudung aku manis nggak, zi? Baru beli loh’
Padahal dia cowo. Kan tai kambing.
Gue sendiri, malah belum pernah tuh diskusi sesat dengan teman-teman gue membahas politik yang terjadi di Indonesia, membahas apa yang terjadi di Irian Jaya, berbicara mengenai ekonomi islam yang sedang tren di Eropaitu, atau yang paling relevan dengan kehidupan gue di Mesir, membahas tentang islam itu kan mengajarkan untuk saling menyayangi, tapi kenapa masih ada diantara madzhab yang satu dengan lainnya saling merasa paling benar?
Hidup gue sepertinya terlalu santai ya, hanya sebagai penadah sebuah informasi. Bukan sebagai sosok pencari ilmu, yang giat mendatangi majelis-majelis ilmu, kemudian saling berbagi ilmu antar satu sama lain.
#CIE
Dan satu lagi, perkataan yang menyentuh hati gue adalah,
‘Kalau kalian membayangkan hal yang luar biasa, usahanya harus berdarah-darah untuk meraih hal tersebut’
Apakah karena zaman sekarang, manusia telah dimanjakan oleh berbagai macam alat tekhnologi yang canggih serta mempermudah segala urusan manusia, membuat manusia lupa, bahwa segala hal yang ingin dicapai itu selalu ada prosesnya?
Kampret lah, gue jarang banget nulis serius kayak gini.
Materi yang dibawakan oleh delegasi PPI Turki, Tunisia, serta Malaysia, juga seru. Membahas tentang politik Turki, sifat ramah warga Tunisia, serta...
Hmm...
Masyarakat Indonesia yang banyak berada di Malaysia tanpa memiliki pekerjaan.
Miris, kan?
Dialog santai selanjutnya, dibawakan oleh pemateri-pemateri yang merupakan alumni pondok gue. Gue kadang sering berfikir, didepan gue(ketika acara dialog berlangsung) ini banyak orang hebat. Entah itu yang kuliah di Tunisia(beda orang, bukan dari pemateri di dialog pertama), kuliah di UII dan menjabat sebagai presiden BEM, mahasiswa lulusan UII, tapi telah mengunjungi empat benua, hanya kurang benua Australia, maka dia hidupnya varokah telah mengunjungi semua benua. Kemudian ada yang menjadi mahasiswa pakistan, serta mahasiswa di Arab Saudi.
Dari kiri-kanan (PPI Tunisia, PPI Pakistan, BEM UII, UII, PPI Arab Saudi) 
Pertanyaan yang sering gue tanyakan ke diri sendiri adalah,
‘Versi terbaik dari diri gue, apakah bisa melebihi mereka ya?’
Dan lagi-lagi, obrolannya tentang Indonesia. Tentang politik, ekonomi, tentang agama. Bahkan sepertinya, senior gue yang sudah mengeliling empat benua serta penyuka buah anggur ini, lebih religius ketimbang diri gue. Lalu, sampai sejauh ini hal apa yang telah gue kuasai? Sampai saat ini, achivment apa saja yang sudah gue raih?
Pertanyaan yang sampai sekarang pun, gue nggak tau jawabannya.
Kalau kamu sendiri gimana?
**
Mungkin, di umur kita yang sekarang, nggak ada salahnya untuk belajar banyak hal, serta tidak membatasi diri dengan sedikit ilmu. Nggak keren juga, ketika jalan sama gebetan ditanya ‘ini ‘itu’, jawabannya hanya ‘angguk-angguk kepala’.
Ini hanya pikiran random gue aja. Hehehe.
Sepertinya, akan lebih memperbanyak waktu untuk membaca buku-buku lagi. Dan juga mendengarkan musik ataupun film lebih banyak lagi. Kalau saran lagu dari gue ya lagu dengan judul Nyanyian Kode dari Kasino sama Dono sih.
Daah.