Friday, 27 November 2015

Berbagai macam hal yang tidak ada di Mesir

Banyaknya aktifitas di Mesir, tidak bisa menahan rasa rindu gue dengan kampung halaman. Disela-sela kesibukan, ada aja hal-hal yang bikin kangen dengan suasana di Indonesia. Berikut ini adalah hal-hal yang gue rindukan dari Indonesia.
1- Sentuhan tangan bokap dan nyokap
Nggak tau deh, akhir-akhir ini gue ingin bisa bersalaman dengan orangtua. Berpelukan, menikmati malam hari dengan suara-suara yang keluar dari mulut mereka. Terlebih sentuhan tangan mereka. Tangan nyokap, yang dengan mudahnya membuat makanan-makanan kesukaan gue. Dan hal ini yang mengakibatkan, gue sebagai anaknya, susah kurus jika berada di rumah. Begitu juga dengan sentuhan tangan bokap. Tangan bokap yang alhamdulillahnya bisa memberikan uang jajan kepada gue. Meskipun uang itu akan berakhir dengan dua buah kotak yang tergeletak diatas meja, dengan bertulisakan macam-macam jenis martabak. Ada hal yang berbeda ketika menerima uang dari bokap, dengan mengambil uang di ATM. Ada rasa semeriwing gitu.
2- Surat undangan nikahan
Sumber
Kalo dulu di Indonesia, hampir setiap minggu menerima surat seperti ini, disini berbeda. Gue nggak pernah menerima surat undangan. Nggak pernah melihat tenda berwarna biru, dengan sound system besar di kedua sisinya. Nggak pernah denger lagi suara dangdut, ataupun lagu-lagu shalawatan yang biasa mengudara ketika acara kondangan berlangsung. Disini gue nggak akan liat biduan joget-joget sambil menyanyikan lagu barat di remix sama lagu dangdut juga.
Dan yang terpenting, nggak pernah ada prasmanan yang makanannya se-enak ketika kondangan di Indonesia. Nggak ada somay, batagor, rendang, soto betawi, puding, brownies. Disini yah, paling apa sih... roti gandum dikasih kentang.
3- Abang-abang sari roti, susu murni, bakso, somay, burjo, dll
Sumber
Gue nggak akan pernah dengar suara-suara abang-abang ini di pagi hari, ketika di Mesir. Terkadang kangen juga sih sama suara abang-abang ini. Meskipun pernah gue isengin, tapi yaa karena itu gue kangen dengan momen seperti itu. Contohnya, ketika abang-abangnya lewat depan rumah, dengan semangat gue akan teriak,
“ABANG, BELI SOMAYNYA, BANG!!”
Yang akan selalu diikuti suara,
“FAUZI, KAMU MAKAN MULU. NGGAK MAMAH KASIH UANG KAMU, MAS. BIARIN AJA”
Kasian abang-abangnya. Ketika berharap barang dagangannya akan dibeli oleh seorang pria tampan (baca:gue) (silahkan yang mau muntah), tetapi ada suara teriakan ibu-ibu yang... yah, menghancurkan harapan si abang-abang tersebut. Uuucayang.... acian.
4- Nasi padang dan soto betawi

Sumber
Mungkin makanan ini yang paling gue rindukan. Sebungkus nasi padang yang berisikan lauk ayam pop, kemudian diguyur dengan kuah rendang, serta sambal hijau, serta daun-daunan. Apa tauk namanya, pokoknya ada sejenis sayuran hijau-hijau gitu. Ditambah lagi, soto betawi buatan nyokap. Nggak ada duanya!! Meskipun banyak yang mungkin lebih enak, tetap gue akan mengatakan soto betawi buatan nyokap adalah makanan enak. Percuma dong, ada soto betawi enak diluar sana, tapi akan berakhir dengan teriakan nyokap gue,
“FAUZI, KAMU MAKAN MULU. NGGAK MAMAH KASIH UANG KAMU, MAS. BIARIN AJA”
Sumber
Hmm... nyes kan?
Tapi, alhamdulillah kemarin sempet ada acara yang menyediakan soto betawi sebagai hidangan. Dan yak, gue nggak sempet coba makanan itu. Karena acara itu hanya sebatas para cewe-cewe yang sedang melakukan arisan. Semoga kapan-kapan bisa icip-icip makanan ini lagi. Amin.
5- Penjual online
Ini sebenernya yang membantu gue untuk berbelanja. Sebetulnya, kalo terpaksa banget sih gue baru menghubungi penjual online ini. Barang yang paling sering gue beli adalah sepatu. Karena memang ukuran sepatu gue yang diatas rata-rata, sehingga gue mencari penjual sepatu online yang biasa menjualkan sepatu dengan ukuran babon, sama seperti gue. Tapi beruntung disini, gue nggak terlalu membutuhkan hal itu, karena disini kebanyakan memiliki sepatu yang ukurannya besar-besar juga. Akhirnya, kembali ke habitat babon juga. *apasih
6- Pengamen
Sumber
Disini gue nggak akan pernah khawatir dengan sosok tak diundang seperti ini, ketika sedang makan dipinggir jalan. terkadang kesel juga sih sama pengamen. Satu grup dateng, terus dikasih uang, eeh... grup lainnya dateng. Gitu aja terus, sampai uang untuk makan habis bayar grup pengamen ini.  Kadang mau juga sih teriak kayak,
“LU CARI MANGSA YANG LAEN AE KEK, SU”
Hm...
Tapi kayaknya, kalo beneran gue teriak seperti itu, yang ada malah gue dibakar sama temen-temen satu grupnya.
7- Gramedia
Tempat yang amat teramat sangat gue rindukan. Kangen dengan tempat yang menjual berbagai banyak buku-buku, entah dari buku yang alur ceritanya nggak nyambung, sampai ke buku yang membuat pembacanya menitikan air mata. Nggak tau deh, gue masih kurang sreg aja untuk baca novel berbahasa Arab. Susah sebetulnya, tapi bukan berarti nggak bisa juga sih, hanya kurang sreg. Ini menurut pendapat gue aja.
Terlebih yang gue rindukan adalah aroma kertas dari novel yang baru dibuka sampul plastiknya. Ada kenikmatan sendiri yang belum bisa diutarakan dengan kata-kata. Gue pribadi masih belum terbiasa dengan novel berbentuk pdf seperti itu, lebih enak punya buku beneran. Terlebih gue suka baca di kamar mandi. Bad habit yang susah untuk ditinggalkan.

Mungkin segini dulu. Nanti ditambah deh, kalo nemu lagi. Ekekek.
Kalo mau nanya, atau mau nambahin, tulis di kotak komentar aja ya.

Eh, bisa kali sekalian di klik iklannya ya. Muhuehuehue

Saturday, 21 November 2015

Kisah sang penyiar radio

Suka denger siaran radio?
Suka dengan musik-musik yang sering diputar dijilat lalu dicelup dari radio?
Suka sama gue?
Yakin?
Ah jadi maluk.
Geli banget, nyet. Pembukaannya.
Selasa kemarin mungkin pengalaman pertama gue menyiarkan radio. Beruntung, almamater gue menyediakan wadah radio seperti ini, sehingga gue dan teman-teman yang lain bisa menikmati fasilitas ini. Yah, hitung-hitung mencari pengalaman. Tapi nggak semua dari teman-teman gue mengikuti kegiatan seperti ini. Dari mereka juga ada yang mengikuti kegiatan menulis majalah bulanan, kajian, fotografi, dan kayaknya masih banyak sih yang lainnya.
Jadi, ketika pembagian jadwal siaran, gue diberikan tugas di hari selasa bersama makhluk bernama Anita. Namanya cantik ya? Hm... Ta... Tapi...
Gue membawakan acara yang bernama ‘Masau’ singkatan dari ‘Masih bersama Soutika’. Sebetulnya gue ingin membawakan tema lain. Ketika kumpul pembagian tugas pun,
Si pembagi jadwal(Sambal): Sekarang, ana bagi jadwalnya ya. Yang membawakan tema tentang kejadian-kejadian baru seputar Mesir, Faruq sama Nida. Tema tentang bla... bla... bla... blaa...
Gue: “Gue apa nih?”
Sambal: “Oh iya, elu tentang apaan ya?
Gue: “Lah si kambing. Gue nanya bukannya dijawab, malah dibales nanya. Minta dilempar tombak nih” kata gue dalam hati.
 Gue: “Tentang keilmuan gitu dong”
Sambal: “Jangan elu, ji”
Gue: “Bisa aja lu becandanya. Hahaha”
Sambal: “Lah, gue serius. Siapa yang bilang becanda”
Gue: “TOMBAK MANA TOMBAK... WAH EMANG MINTA DIRAJAM PAKE TOMBAK NIH SAMBEL. eh, ORANG”

Dan pada akhirnya, jadwal siaran gue jatuh di hari selasa. Dengan tema yang aduhai sekali. Tema yang tidak berkaitan dengan keilmuan, melainkan tema yang teramat santai. Misalnya, tentang meng-gibah-kan orang selama dua jam kedepan. Ataupun tentang tips-tips nggak nyambung. Yah, seperti itu. Sedih ya? ketika gue tanya, alasan gue nggak diberikan tema yang berkaitan tentang keilmuan,
Sambal: “Jangan, ji. Gue nggak mau lu menyesatkan orang-orang lain. Cukup lah temen-temen deket elu aja ya” ucapnya. Santai. Santaaaii banget kayak lagi di pantai.
Fauzi, yang sabar ya. Harus sabar. Walaupun orangnya minta digampar. Tapi sabar ya.
Ketika selasa sore...
Kira-kira materi yang gue siapkan ketika itu hanya berupa tips-tips sesat menghadapi musim dingin, dan tentang bulan November gembira. Karena di bulan ini, banyak banget yang ulang tahun. Fikiran gue ketika itu, ‘Ah cukup lah ini. Nanti kan ditambah sama materinya si Anita’. Begitu gue Whatsapp Anita,
Gue: “Posisi?”
Anita: “Di lapangan. Masih ada lomba nih, ka” padahal umurnya lebih tua dari gue.
Gue: “Ok. Eh, udah ada materi?”
Anita: “Belom, ka. Kaka sendiri?”
Gue: “Hahah. Sama gue juga belom” padahal gue mau nangis.
Gue: “LAH SI POKEMON!!! TERUS KALO GINI, MAU NGOMONG APAAN PAS SIARAAAN NANTI BANCAAATTT!!!” teriak gue dalam hati.

Satu jam belum ada tanda-tanda kedatangan Anita. Si Sambal tadi pun juga belum datang. Si Sambal memang hampir setiap hari datang untuk membimbing para junior-junior yang baru masuk.Tepat sepuluh menit sebelum siaran, mereka berdua datang. Kompak. Keringat segar masih mengalir dari dahi mereka berdua, mereka memang peserta lomba. Tapi, gue juga keringatan juga sih. Keringat karena belum makan, dan ditambah partner gue nggak punya persiapan apa-apa.
Anita: “Ka, gue grogi nih”
Gue: “Yaelah, santai aja kali”
*dalam hati: “LAH ELU KIRA GUE KAGA?!!”

Siaran itu akhirnya dimulai. Pembukan dibuka oleh omongan gue pertama kali, meskipun agak sesat tapi niatnya nggak mau menyesatkan orang lain kok. Seriusan deh. Kemudian Anita pun berbincang-bincang juga. Jujur, gue sama makhluk bernama Anita ini belum pernah ngobrol sama sekali, tapi disuruh untuk siaran berdua.
Anita: “Ka, lagu pembukanya ini aja. Asoy nih lagunya”
Gue: “Mana coba denger?”
*setelah mendengarkan beberapa saat*
Gue: “Nit, lagu pertamanya jangan itu ya. Lagu itu lo puter sendiri di rumah aja”

Siaran gue dibuka dengan tips sesat untuk menghadapi musim dingin. Walaupun nggak nyambung, tapi bodo amat. Yang siaran gue ini. Obrolan selanjutnya adalah Anita menyampaikan salam-salam yang masuk di Twitter dan juga di hapenya. Ada salam untuk seseorang yang sedang ulang tahun, ada juga yang salam sekaligus request lagu Gigi yang berjudul Akhirnya. Dan salam itu tertuju kepada gue. Apakah se-hina itu diri gue?
Siaran ini berakhir dengan damai dan tenang. Meskipun terjadi beberapa kali kesalahan, semoga itu terakhir kalinya. Meskipun kita kurang materi, tapi Alhamdulillah masih bisa membicarakan hal-hal yang nggak jelas dan hal-hal sesat lainnya.  Yah, minggu depan semoga bisa lebih baik. Semoga.
Bagi yang ingin mendengarkan siaran radio gue bisa dibuka http://ikpmkairo.com disitu nanti ada gambar nya kok disebelah kanan. Atau bisa juga download Tune-in di Google playstore maupun di Appstore.
**
Btw, gue rencananya ingin membuat domain. Kasian juga sih sama blog ini, hampir tiga tahun belom pernah dikasih domain ataupun mengadakan Give away sama sekali. Kalo kalian ada saran untuk nama domain gue, komen aja ya. Ekekek.


Saturday, 7 November 2015

Jangan datang di pagi hari!!

Suasana Kairo saat ini sedang memasuki awal musim dingin. Kalo tahun kemarin, hujan hanya turun sekali atau dua kali, gue lupa, tapi sekarang beda. Sama halnya, kayak perasaan dia ke gue, beda. Dan nggak pernah sama. Huhuhu…
Apaan sih, nyet. Ga lucu.
Sudah dua hari ini, hujan turun dengan lebat, membuat Kairo semakin sejuk. Kalo suasananya sejuk seperti ini, gue jadi inget dengan kampung gue yang terletak di Temanggung, Jawa Tengah sana. Udaranya dingin-dingin semeriwing, tetesan air hujan yang terdengar nyaring menyentuh aspal, kemudian berbagai hidangan lezat yang tersedia diatas meja makan. Tapi disini, gue nggak mengharapkan hal yang terakhir juga sih. Nggak ada gunanya untuk mengharapkan hal yang tak pasti, bukan? Yah, nggak mungkin juga ketika bangun di pagi hari, gue menemukan gule kambing tergeletak indah begitu saja di meja makan. Mahasiswa dibelahan bumi mana sih, yang di pagi-pagi buta sudah semangat memasak gule kambing? Nggak ada kerjaan banget. Lah wong skill masak sebagian mahasiswa hanya sebatas menggunakan rice cooker plus mecin.
Nggak heran jadinya, kalo anak muda zaman sekarang banyak yang sedikit-sedikit kebawa perasaan. Nyemil mecin mulu sih ya.
Entah kenapa musim dingin seperti ini, tidak membuat gue untuk bergegas tidur di malam hari. Yang terjadi adalah gue sudah menggelar kasur, mengambil selimut dari tumpukannya, dan sempat berbaring cantik diatasnya. Lima menit setelahnya, gue akan berdiri, lalu turun ke warung duapuluh empat jam yang terletak dibawah flat gue, kemudian membeli dua Indomie rebus serta tiga telur. Bukan tidur, gue malah makan. Sip. Entaps! Kalo setiap hari seperti ini, kayaknya impian gue untuk menjadi pria langsing nan aduhai, akan susah terwujud.
Selain membuat diri gue rentan sakit, hal ini juga membuat gue terlihat berhalusinasi aneh.
Jadi, gue tidur di ruang tengah. Ketika tidur dengan bahagia, serta mimpi bisa bertemu dengan cewe yang gue taksir di taman bunga, perlahan mimpi gue berubah menjadi suram. Yang sebelumnya, gue melemparkan senyum ke si cewe yang gue taksir, lalu dibalas dengan senyuman yang aduhai indah sekali itu. Sekarang berbeda. Wajah indah dari gadis yang gue taksir, perlahan berubah menjadi kura-kura. Asli serem. Lu bayangin aja, seorang yang lu taksir wajahnya berubah menjadi kura-kura. Asli serem, men. Kura-kuranya menggunakan pasmina warna hitam lagi. Suaranya yang sebelumnya halus ketika berbicara dengan gue, seperti ini,
“Ka. Apa kabar?” kata gadis yang gue taksir, lalu gue jawab dengan,
“Nggak pernah sebaik ini, ketika bisa berbincang dengan kamu”
Berubah menjadi,
“WOY, JI. JI. UWOY!! TOMAT!! UWOOY!! UWOWOWO!!”
Seketika itu gue langsung bangun, dan teriak-teriak meminta pertolongan.
Ternyata itu adalah teriakan teman gue. Dia berteriak ke arah gue yang sedang tidur manis. Badan gue digoyang-goyang, kemudian diteriak dengan membabi buta. Em… bukan goyang, gue nggak lagi goyang juga waktu tidur. YAA KALII, PAS TIDUR GUE DISAWER!! Eh, tapi nggak tau juga sih. Bahasa tepatnya digerak-gerakkan. Iya, digerak-gerakkan sedikit. Dikit banget. Kemudian diteriaki seperti itu. Dan taukah alasan dia membangunkan gue karna apa?
“Ji, bangun. Ada cewe yang mau masuk nih. Masih berantakan ruang tengahnya. Lu nggak mau ditonton pas tidur, sama cewe kan?”
Iyah, semua karena wanita. Pagi hari dengan suasana senyaman ini, se-sejuk, dan se-indah ini bukannya digunakan untuk tidur tapi malah main ke rumah orang. Dasar wanita.
“Yaelah, gue lagi mimpi indah ini. Ah elah. Pake dibangunin” teriak gue malas, sambil berdiri dan membawa selimut.
“Tapi mereka bawa gule kambing loh, plus mau nyawer juga, ji” kata temen gue.
“LAH, SERIUSAN? YA SURUH MASUK LAH. SERING-SERING AJA MAIN KESINI”
“ahahahah. Nggak mungkin, ji. Ngaco aja lu. Gih dah masuk kamar, mau beres-beres ruang tengah gue”
“KAMBING LAUT. GUE MAKAN JUGA LU!!”