Sunday, 20 September 2015

Harapan untuk para mahasiswa baru

Karena kemarin ikutan tantangan tulisan tiga rasa dari blognya si Adi, gue jadi kecanduan nulis fiksi. Fiksi tentang percintaan gitu. Yah, meskipun gue belum pernah merasakan sama sekali, setidaknya gue nggak bego-bego banget lah tentang hal seperti itu. Tapi, sekarang mau nulis kayak biasanya aja, nulis tentang kisah sehari-hari.
Dua minggu kemarin, Mesir kedatangan banyak tamu dari Indonesia. Sama seperti diri gue di tahun kemarin, mereka ini adalah para calon mahasiswa-mahasiswi baru di universitas Al-Azhar. Waktu satu tahun itu kayaknya cepet banget ya, nggak terasa sekarang jadi senior yang ngurusin dede-dede emesh. Kebetulan juga, kemarin sempat menjadi panitia makanya belum bisa nulis postingan baru lagi.
Gue pribadi nggak ingin terburu-buru menjadi senior, enak-an jadi junior. Kemana-mana ada yang nganterin, mau jalan-jalan dibayarin ongkos kendaraannya, pas laper ditraktir makanan. Seandainya tahun lalu senior yang mengurusi gue seperti itu, mungkin sekarang gue udah jadian. Kemana-mana selalu ada seseorang yang menemani. Tapi, Alhamdulillah peristiwa itu nggak terjadi. Toh juga, hampir yang mengurusi keperluan gue tahun kemarin cowo-cowo semua. Jomlo lagi.
Anak-anak baru tahun ini jumlahnya juga lebih banyak, ketimbang angkatan gue tahun lalu. Semangatnya pun cukup mencengangkan. Baru kali ini sih, ketika jemput dede-dede emesh di bandara, kemudian salah satu dari mereka ada yang berkata,
“Bang, kapan kita main futsal?”
Lalu disambung dengan kata-kata,
“Main basket juga kapan nih, bang? Udah nggak sabar”
“Jalan-jalan ke sungai Nil-nya juga kapan?”
“Abang kok diem aja sih, iih jomlo ya”
EH, KAMBING. ELU TUH BARU SAMPE BANDARA, UDAH NGAJAK MAIN FUTSAL. NGATAIN JOMLO LAGI, JAHAT BANGET IIIH.
Ini baru sebagian kecil dari anak baru
Menjadi senior, menuntut gue untuk bisa lebih baik lagi. Setidaknya gue nggak ingin junior-junior yang sekarang, mendapatkan hal negatif dari gue. Bukan pencitraan kok, tapi lebih kepada mengajarkan mereka untuk belajar kehidupan di Mesir. Mengajarkan mereka sedikit-sedikit bahasa Ammiyah, walaupun gue pribadi juga masih kurang banget dengan hal itu, tapi setidaknya kalo urusan beli makanan, naik mobil, minta uang, minta kasih sayang ke orang lain, gue bisa lah ngomongnya. Pengendara mobil disini pun, nggak ada yang membawa kendaraannya dengan pelan. Berbeda dengan di Indonesia. Kalo diibaratkan sih, mungkin pengendara-pengendara mobil pribadi dan lainnya, sama seperti pengendara angkot-angkot yang ada di ibu kota. Sesuka hatinya aja. Makanya jangan heran, kalo kebanyakan mobil di Mesir itu ada bekas tabrakannya. Itu syudah biasa yaa dede-dede.
Tapi harapan terpenting yang gue inginkan dari dede-dede baru ini sih, semoga kehidupannya disini nantinya nggak menghilangkan niatan awal dari rumah. Yah udah jauh-jauh dari rumah, biaya yang dikeluarkan juga nggak sedikit dan untuk bisa kesini perlu usaha yang lebih, percuma dong kalo terlena. Tapi itu semua kembali ke individunya masing-masing sih.
Asikin aja hidup di Mesir. Oh iya, kalian jangan pacaran dulu ya. Ingat, temen-temen gadis kalian saat ini sebetulnya milik senior, yang nantinya akan dipersunting oleh senior-senior yang diatas kalian, diatas gue juga kok. Ingat ya. Nggak mau kan durhaka sama senior? Nggak mau dikasih racun di makanan kalian kan?


Thursday, 3 September 2015

Sebuah do'a dalam diam

Jam sepuluh siang, aku telah berada di teras masjid ini. Aku hanya ingin singgah di rumah Allah dan perlahan membiarkan setiap masalah-masalah yang kupunya meluap keluar dari dalam kepalaku. Mungkin banyak orang lain di luar sana yang memiliki permasalahan lebih rumit ketimbang diriku, tapi setidaknya aku tahu kemana aku harus kembali.
Terkadang aku ragu dengan keabsahan, tentang sebutan untuk seseorang teman yang selalu menghabiskan waktunya dengan teman yang lain. Apa sebutannya? 'Sahabat’? Seperti itu kah panggilannya? Di umurku yang duapuluh satu pun, seoalah aku belum menemukan sosok itu. Mungkin karena dulu aku memiliki sebuah kenangan tentang sebuah pengkhianatan, sehingga menjadikan diriku seperti ini. Tidak ada jaminan bukan, jika satu tahun, dua tahun, ataupun tahun-tahun berikutnya, orang itu tetap menjaga rahasia-rahasia yang telah kita ceritakan kepadanya?
Di tempat aku duduk ini, aku bisa melihat sosok gadis itu. Kepalanya dibungkus dengan pasmina berwarna hitam, kemudian wajahnya di hiasi dengan kacamat berbentuk persegi yang sesekali jatuh turun menyentuh ujung hidungnya. Dia menggunakan kemeja coklat muda yang menurutku warnanya seperti kopi ekspresso yang sering ku pesan, dan lalu kakinya ditutupi oleh rok hitam panjang polos. Anggun. Satu kata, yang perlahan keluar dari mulutku tanpa kusadari. Di jarinya terdapat sebuah tasbih digital berwarna hitam. Kontras dengan kulitnya yang berwarna putih.
Gadis ini yang telah membuatku perlahan menjadi agak rajin untuk mendatangi masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Gadis ini yang membuatku selalu ingin untuk memperbaiki diri agar lebih baik lagi setiap harinya. Gadis ini yang selalu diam-diam aku sebut namanya disetiap do’a ku setelah selesai sholat fardhu maupun sunnah.

Semoga suatu saat nanti aku bisa menghabiskan sisa hidup ku bersamanya...
‘...  kalau pun nantinya aku memang tidak pantas untuk bersanding dengannya, sandingkan lah gadis ini dengan pria yang bisa menuntunnya ke jalan-Mu
 Do’a ku yang saat ini hampir memasuki satu tahun lima bulan.

Sebetulnya, salah tidak sih, seseorang bersemangat karena orang lain?
Mungkin aku memang tidak memiliki seseorang untuk berbagi cerita untuk saat ini, dan aku tahu bahwa  gadis berkacamata itu juga tidak akan pernah tahu apa isi hatiku. Tapi, aku yakin semua ini adalah rencana-Nya. Meskipun ku mengetahui aku tidak memiliki ke dua hal yang kusebutkan diatas, setidaknya aku memiliki Allah. Yang akan selalu mendengarkan do’a hamba-hambanya dan pasti mengabulkannya. Setidaknya aku bahagia, setiap ku bayangkan disetiap sujudku, Allah mengelus rambutku lalu berkata,

Berdo’a lah kepadaku, akan ku kabul kan segala permohonanmu. Segalanya”
**
Ini Fiksi kok.

Tulisan fiksi pertama yang gue publish di blog. Dan tulisan ini ikutan dalam acara tulisan tiga rasa yang diadakan oleh adi di blognya, bisa ikutan dan baca contoh tulisannya dengan klik link ini. Baiknya ikutan juga sih, selain untuk meramaikan juga untuk belajar menulis dari sudut pandang yang lain. Ditunggu partisipasi kalian, gaees...