Sunday, 30 August 2015

Hina-nya diriku. Maafkan aku teman-teman

Salah satu hal yang terkadang membuat gue terganggu sampai saat ini adalah jadwal piket masak rumah. Mungkin karena ketika di rumah dulu gue hanya bisa masak air, mie instan dan telur ceplok, sehingga ketika piket masak disini gue terlihat amat sangat lemah dibandingkan temen-temen gue lainnya. Masih inget, ketika awal-awal hidup disini gue selalu menghilang setiap hari minggu. Karena di hari itu lah, giliran gue piket masak. Bahkan gue nggak mau megang hape selama satu hari, takut di telpon sama anak rumah untuk masak. Mungkin kalo gue jadi mereka, gue kesel sendiri sih sama orang yang seharusnya piket masak hari itu, tapi malah menghilang tanpa jelas keberadaannya. Kayak gue.
Bahkan ketika hari minggu pagi, banyak nomer-nomer asing yang menelpon ke hape gue. Berhubung gue adalah sosok manusia yang sering ber-ekspektasi terlalu tinggi, sehingga mengira yang menelpon adalah teman gadis gue. Kemungkinan penelfon ini seorang gadis cantik memang nggak ada sih, tapi, ‘Ga salah juga kali kalo gue beranggapan kayak gitu, nyeed’.
“Halo, ini sapa ya?” kata gue merdu.
“Ini Bowo, ji. Lagi dimana? Pulang dong, anak-anak rumah pada mau ngerasain masakan elu nih”
“Halo, halo, halo, Bowo. Hah, gue ganteng? Hah, apa? Gue pinter? Apa sih, wo. Sinyalnya ga jelas nih. Nanti aja ya, wo”

Tuut... tuut... tuut.
Iya, selalu berakhir seperti itu.
Akhirnya gue berada di posisi yang, ‘yaudah deh gue piket masak’. Niat yang cukup mulia dan menggebu-gebu itu perlahan menghilang ketika gue sampai di rumah. ‘Ini kenapa rumah gue rame sama orang-orang?’. Dan yak, ternyata mereka alah para pencari sinyal wifi kencang dan gratisan.
“Wah, Ji. Mau masak nih? Asik lah. Kebetulan lagi laper gue, yang lain juga. Mau masak apa, cuy?”
“Ga tau deh nih. Senggaknya ga bikin elu kejang-kejang  lah abis nyicipin masakan gue lah”
“Eh, gue mau pulang duluan ya. Ada urusan mendadak nih”
“Lah, elu nggak jadi mau ngerasain masakan gue nih?”

Alhamdulillah percakapan itu nggak pernah terjadi sampai saat ini, dan gue pun juga nggak berharap hal itu terjadi.
Kebetulan salah satu temen gue ada yang ahli bikin sambel, sehingga masakan gue kali ini ada rasa pedesnya, yah nggak hambar-hambar banget lah. Berhubung yang bisa gue masak adalah telur ceplok, jadi lah menu masakan pagi ini adalah telur ceplok sambel ala-ala shef Pauji.
Mungkin kebanyakan orang memakai kompor yang modelnya sekali di puter tombolnya ke kiri, otomatis langsung nyala. Berbeda dengan rumah gue, dan juga kebanyakan rumah-rumah lainnya yang berada di Mesir. Disini ada semacam tes ke-macho-an saat menyalakan kompor. Beberapa persiapan yang diperlukan adalah berupa sebuah korek api yang masih bisa menyala, karena kalo tidak menyala tak akan ada gunanya. Kemudian ucapan Bismillah ketika hendak menyalakan, dan ucapan Alhamdulillah setelah berhasil menyalakan.
Caranya, pertama nyalakan gasnya terlebih dahulu. Kemudian putar tombolnya ke arah kiri. Lalu akan terdengar suara gas yang muncul dari dalam kompor. Ambil korek api, lalu nyalakan kemudian dekatkan dengan kompor. Tarik nafas dalam-dalam, dan jangan lupa ucapkan Bismillah. Dekatkan dengan kompor, tangan jangan terlalu lama berada diatas kompor kalo tidak ingin tangan anda terbakar. Dan jangan terlalu cepat menarik tangan, karena hal itu tidak membuat kompor menyala dan membuat diri anda terlihat lemah. Lemah banget.
Yah, kira-kira tutorial menyalakan kompor di rumah gue seperti itu lah.
Kenapa jadi horor bet kompor rumah gue ya?
 Hal yang pertama gue lakukan adalah memasak nasi. Karena rumah gue nggak ada rice cookernya, sehingga harus diperhatikan baik-baik saat memasak. Kalo nggak diperhatiin, ya bakalan gosong. Sama kayak kamu. Iya, kamu yang jomlo.
Hal selanjutnya adalah gue memasak telor ceplok. Ini kali pertamanya, gue masak untuk orang lain. Berhubung gue nggak mau ada kesalahan dan sedang berantusias membuat hati orang bahagia, sehingga gue terlalu banyak menaburkan garam di telor yang sedang gue masak.
Biar, greget. Biar terasa gurih, ena-ena gitu. Biar masakan perdana gue ini teringat sampai kapan pun’ fikir gue ketika itu.
Berhubung jumlah orang di rumah bertambah, sehingga gue berinisiatif untuk memotong telur agar terlihat banyak. Bodohnya, gue memotongnya secara acak sehingga terlihat telornya menjadi kecil-kecil banget.
Hidangan pun tersaji di meja makan.
Nggak ada tuh ceritanya, gue menyuruh temen-temen gue untuk makan. Biar mereka saja yang mendatanginya secara langsung. Setelah ditinggal selama setengah jam, ternyata masih tersisa banyak lauknya. Kemudian selanjutnya gue mengambil piring, mengambil nasi dan lauk, serta menaruh sambal di pinggir piring. Hal yang terjadi kemudian,
Ini gue masak apaan, njiirr?!!! Ini makanan, ga berasa telor atau sambel sama sekalil. Garem semua rasanya kamprett!! Pantesan ga ada yang makan’
Hina.
Gue merasa hina banget atas hidangan yang gue sajikan.
Bukannya membuat temen-temen gue yang lain bahagia atas masakan gue yang lezat dan nikmat, tapi membuat mereka perlahan mengantri  untuk masuk kamar mandi.
Dengan ini gue bertekad agar minggu-minggu selanjutnya ketika piket masak, gue harus pergi. Iya, harus pergi. Cukup sekali dan kali ini saja, gue meracuni orang lain. Cukup. Kali ini aja. Besok-besok jangan sampe. Cukup membuat mereka mengantri di depan kamar mandi saja. Jangan sampe membuat mereka kejang-kejang. Jangan sampe.

Sunday, 16 August 2015

Perjalanan wisata anti-mainstream di Mesir

Kebanyakan orang yang sedang berlibur di Mesir, menghabiskan waktunya untuk menjelajahi Piramida, Alexandria, maupun masjid Al-Azhar. Berbeda dengan kebanyakan orang, gue dan kawan-kawan lainnya, yang berstatus mahasiswa jomlo, menghabiskan liburan dengan mengunjungi suatu daerah yang dinamakan Qonatir. Mungkin kebanyakan orang-orang masih belum familiar mendengar tempat wisata bernama Qonatir di Mesir. HAHAHA. HAHAHA, CUPU. Tapi memang sebenernya, nggak terkenal juga sih tempatnya. Emm... gue juga baru pertama kali kesana kok. Kalo kemarin nggak diajak, nggak mungkin gue cerita tentang hal ini juga sih. Ehehe.
Ga lucu, nyet
Tempat ini nggak ada spesialnya sih sebenernya. Sejauh mata memandang hanya ada air dan bendungan, terong-terongan yang sedang boncengan bertiga, kotoran kuda terhampar luas, ojek kuda bertebaran dimana-mana, dan beberapa penyewa motor yang semena-mena eee waka-waka eee. Ya gitulah. Dikiranya kita turis, padahal sejatinya kita mahasiswa disini. Mereka fikir kita nggak paham dengan apa yang mereka ucapkan kali ya? HAHA. Padahal mah bener.
Jadi gini ceritanya,
Tepat jam sebelas siang, kita tiba di terminal Qonatir. Saat itu udara Mesir sedang di puncak panasnya. Sebelum memasuki Qonatir hal pertama yang dilakukan adalah memesan makanan, supaya didalam nanti bisa makan-makan unyu gitu. Alasan sebenernya sih, ya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kebetulan cuaca di Mesir sedang panas-panasnya sekitar 40C, terlebih ada salah satu senior juga yang ikut dengan rombongan kami. Nggak tau juga sih, kenapa manusia ini harus ikutan. Bikin susah aja. Sebetulnya sih seumuran, tapi tampangnya itu terlalu dewasa(baca:tua), sehingga kita memanggilnya guru. Guru pramuka lebih pas-nya sih. Nah, kalo nanti dia tiba-tiba pingsan dijalan siapa yang mau gendong? Siapa yang mau nyuapin? Siapa yang mau bayarin? Siapa hah?  Siapa? Nggak ada. Makanya harus dikasih makan, senggaknya supaya kuat jalan gitu lah.
Ketika masuk, ada dua orang terong-terongan yang mengikuti rombongan kami. Entah apa niatnya, yang pasti mereka ikut jalan bareng. Padahal kenal juga nggak, sok asik. Tiba-tiba salah satu dari mereka sedang menaiki jembatan sambil melirik ke arah kami, kemudian, ‘Byuur’. Yak, dia terjun bebas ke dalam sungai dengan sombongnya. Dikiranya tambah ganteng kali, ketika dia lompat tinggi gitu dih.
Seandainya saja gue nggak takut ketinggian... terong itu pasti juga akan lompat ke dalam sungai sana juga sih. Gue juga nggak akan mau, walaupun diajak loncat bareng.
Banyak diantara rombongan gue yang nggak kuat untuk jalan lebih jauh lagi. Jadi ketika melihat tempat adem, langsung neduh. Adem dikit, langsung neduh. Malah ada juga yang jalannya sengaja dibelakang gue untuk numpang neduh. Bikin emosi ya, minta dikatain gitu. Tapi sayangnya nggak boleh dikatain. Sabar. Tahan.

“Cuy, kita neduh dulu yuk. Sambil makan” Kata salah satu orang dari rombongan kami.
Kayaknya suara gue sih itu.
Sebagian dari rombongan kebetulan ada yang bawa makanan, walaupun makananya belum teruji enak atau nggak, yah senggaknya bisa nambah-nambahin lah ya. Nggak tau itu gorengan isinya apa, tapi pas dicicipin kita kompak mengatakan,
“MANCING MANIA MANTAP!!!”
Bukan gitu deng,
“Wah, enak juga ini makanannya. Gratis sih ya, makanya enak”
Mungkin karena sudah terbiasa ketika di pondok dulu makan bareng-bareng ya, rebutan makanan pun sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi... Kalo di pondok dulu, gue makan bersama temen-temen cowo lainnya, dan sekarang gue berada di posisi makan bersama dengan teman cewe lainnya, harus bisa kontrol nafsunya, sedikit, didepan mereka. Tapi kebanyakan temen-temen cowo yang ikut rombongan kemarin sih pasti berfikiran kayak gini,
“Yaelah palingan cewe makanannya dikit doang. Perut mereka kan, bukan karung. Aahaha”
Dugaan kita salah.
Ternyata rombongan cewe lah yang lebih ekstrim ketika berhadapan dengan makanan. Sifat asli mereka keluar. Saling rebutan makanan. Saling rebutan untuk mencocol gorengan ke sambal. Sedih sebenernya, melihat kelakuan cewe-cewe manis seperti ini yang ternyata lebih ekstrim ketimbang diri gue sendiri. Gue merasa lemah, dan gagal jadi cowo macho. *apasih. Tapi Alhamdulillah, mereka nggak sampai jambak-jambakan rambut. Tapi bikin kesel aja sih,
“Ba, gantian dong. Udah kan ambil sambelnya?”
“......”
“Oi, ba. Gantian napeh. Yaelah dah lu”
“APAAN SIH, NGGAK LIAT GUE LAGI MAKAN HAH?!!”
“Maap, ba. Tadi gue lagi ngomong sendiri kok. Beneran deh”
“KAN YANG LAMA NGAMBILNYA ELU KAMPRET, KENAPA ELU YANG MARAH-MARAH KE GUE, EET DAH?!!” lanjut gue. Dalam hati.

Adegan rebutan makanan tambah seru, ketika salah satu temen cewe gue menunjukkan hasil kreasi agar-agar nya. Berbeda dengan rebutan gorengan, rebutan agar-agar ini seharusnya harus dilakukan dengan hati-hati, dan penuh toleransi. Tapi tidak untuk rombongan gue.
“INI PUNYA GUE”
“NGAMBILNYA JANGAN DI BEJEK WOY!!”
“WAH PARAH, MARUK BENER LU”
“INII PUNYA GUE, BUKAN PUNYA ELU. JANGAN PEGANG-PEGANG. HUUSH!”
“KYAAAA... KYAAA...”
Yah, kurang lebih se-ekstrim itu lah.

Perjalanan dilanjutkan menuju jebatan lainnya. Sepanjang perjalanan, indera penciuman kita diuji dengan  bertebarannya kotoran kuda yang tersebar dimana-mana. Dan yang gue lakukan adalah,
“Parfum sapa yang tumpah dah nih? Pungut lagi ngapa, jangan sengaja ditumpahin kayak gini”

**
Perjalanan pulang dari Qonatir kita menggunakan kapal tempur. Mungkin masih banyak yang belum tau bahwa orang-orang Mesir sendiri suka dengan menari. Bukan menari sih, tepatnya joget. Nah iya.  Jadi ketika kapal mulai berjalan, beberapa anak-anak muda yah anggap lah terong gitu, mereka mulai menyalakan musik. Lagu ajeb-ajeb gitu, tapi versi pake bahasa arab gitu lah. Karena kemarin terlalu fokus memperhatikan ibu-ibu joget, sehingga nggak ada yang merekam, jadinya ini video temen gue kemarin yang... ya gitu lah,


Perjalanan ini ditutup dengan dongeng yang dibacakan oleh Naura. Berceritakan tentang kisah hujan dan matahari sebagai sebuah tetesan renungan. Renungan bahwa,
“Jalan-jalan ini harus dilanjutkan lagi. Harus.”
“Untuk jalan-jalan nanti, sebaiknya aku harus menahan nafsu untuk membejek agar-agar buatan Nisa lagi” kata Naura dalam hati.


Wednesday, 12 August 2015

Arti tangisan yang tak terlupakan

Kalo sebelumnya yang gue pahami arti tangis seseorang itu hanyalah bersifat kesedihan, bersifat kehilangan, tapi sekarang tidak. Perlahan, gue menyadari bahwa suara tangisan itu bukan karena hal-hal yang sedih saja.
Contohnya,
Ketika seseorang telah meraih apa yang diinginkannya, orang tersebut bisa saja menangis. Tapi tangisannya bukan karena kesedihan yang dirasakannya, melainkan tangisan bahagia. Bahwasanya dia bisa meraih hal yang dia impikan. Tangisan bangga, karena dia bisa menunjukkan bahwa dirinya bisa mewujudkan harapannya.
Aiiih... sedap.
*kibasin rambut.
Salah satu temen cewe gue, Nanda, mempunyai masalah dengan tangisan juga. Setiap dia berbicara ke gue, mendadak suaranya melemah kemudian perlahan seperti orang yang ingin menangis. Padahal sebelumnya teriak-teriak sama temennya yang lain,
‘WOI, GUE MESEN BAKSO HOY!! MANA KRUPUK PANGSITNYA, HOY!!’
Ngomongnya nge-gas, tapi nggak nyambung. Minta ditabok gitu. Untung cakep, makanya bisa nahan emosi.
Tapi anehnya ketika dia bicara ke gue kenapa mendadak seperti orang mau nangis ya? Anehnya hal ini hanya terjadi ketika dia sedang berbicara ke gue, bukan ke orang-orang lain. Padahal ketika itu gue sedang khusyuk makan bakso, nggak mengusik Nanda sama sekali. Seriusan deh. Ya, sadar sih muka gue memang serem, dikit, tapi ya nggak gitu juga kaliii.

Bicara tentang tangisan, jadi inget kejadian di sekertariat almamater kemarin.
Jadi, malam itu gue berniat untuk menginap di kantor kesekertariatan setelah pulang dari acara pencoblosan presiden PPMI Mesir tahun ini. Tapi karena faktor udara yang panas, sehingga mata gue belum bisa tertutup ketika jarum jam mengarah mendekati angka satu.
Berhubung sudah tidak ada yang mengajak ngobrol ataupun chat, perlahan gue memaksakan diri untuk tidur. Terkadang gue sering mengkhayal sebelum tidur. Membayangkan diri gue saat itu telah berada di rumah, bangun pagi karena siraman air segayung yang diberikan oleh nyokap ke arah muka gue, dan yang tersisa hanyalah bekas air di sprei kasur dan gayung kosong yang tergeletak di atas lantai. Kemudian perlahan, samar-samar gue mendengarkan suara abang-abang yang setiap pagi selalu terdengar dari kamar gue,
‘‘Sari roti... roti sari roti... teet teet tet teet tet tee tet’’
Suara rekaman sih memang, tapi kenapa sekarang gue malah kangen denger rekaman itu ya. Yah, mungkin karena suara rekaman disini semuanya berbahasa arab, jadinya kangen sama rekaman abang-abang tukang sari roti. Abang-abang susu murni juga sih. Suara teriakan abang-abang ketoprak, nasi uduk, odong-odong, juga kangen. Apa ini berarti gue jatuh cinta sama abang-abang itu ya? Ini sebenernya gue nulis apa sih? GUE SIAPA? DIMANA GUE? DIMANAAAA?? KYAAAAA... KYAAAA.
Astagfirullahadzim, kenapa gue jadi ngondek gitu?
Oke, fokus.
Ketika asyik tidur, samar-samar gue mendengarkan suara tangisan. Bedanya, tangisan ini adalah tangisan cewe. Dan nggak ada sama sekali cewe yang tidur di kantor kesekertariatan. Awalnya gue fikir, ini hanya mimpi. Tapi ketika gue cubit pipi.... temen, kok dia gerak-gerak. Pas cubit pipi sendiri, kok sakit juga. Makin lama suara tangisan itu semakin kencang.
“Ini siapa yang nangis sih malam-malam gini, ganggu orang tidur aja” kata gue setengah sadar. Padahal aslinya takut juga sih. Dikit. Serius, dikit doang.
Gue beranggapan suara tangisan ini berasal dari temen gue yang sedang sholat tahajud, tapi yang gue liat hanyalah badan teman-teman gue lainnya yang sedang tertidur pulas. Ketika hendak pergi meninggalkan kasur tempat gue tidur, beberapa teman-teman gue sudah ada yang bangun dan ingin melaksanakan sholat shubuh.
“Do, denger suara orang lagi nangis nggak?”
“Iya nih”
Setelah lampu dinyalakan, ketemu lah ponsel laknat yang mengeluarkan suara tangisan itu. Suara tangisan seorang cewe yang sejak setengah jam lalu tidak mati-mati.
“Buset ini alarm hape, ji. Hahahah. Takut ya lu?”
“Gue takut? AHAHAHA. GUE TAKUT? NGGAK SALAH NANYA LU? HAHAHA”
“Dikit doang sih”

Setelah diselidiki ternyata hape itu punya temen gue, Alip. Anaknya rajin ngaji, tapi entah kenapa punya selera dengan suara tangisan cewe, untuk dijadikan alarm hapenya. Suara tangisan alarmnya sukses membuat gue bangun ketakutan, tapi sang pemilik hape belum juga bangun. Mau gue banting hape nya, tapi nanti ketauan kalo gue ketakutan.
Yah, ternyata suara tangisan itu tidak selalu karena sedih bukan?