Wednesday, 24 June 2015

Gregetnya puasa di Mesir

Akhirnya, setelah sekian lama bisa nulis lagi. Nggak tau deh, kenapa di bulan puasa ini jadi males buat nulis. Yah, mungki karena nggak ada yang nyemangatin aja kali ya, makanya jadi males gini. Ini kenapa jadi tragis gini ya.
Secara garis besar, perbedaan bulan Ramadhan disini dengan di Indonesia, nggak beda jauh kok. Disini masih banyak anak kecil yang main petasan, banyak masjid yang menyediakan hidangannya, banyak warung yang buka sampai sahur. Ternyata, orang-orang sini adaaa aja kok, yang nggak taraweh-an. Namanya juga manusia. Sering khilaf.
Sebagai mahasiswa, gue dan temen-temen rumah juga rajin ke masjid ketika maghrib. Alesannya, ya karena itu. Karena nyari makanan. Kalo anak rumah pada males masak, obrolan kita akan berakhir menjadi, ‘Masjid mana nih, yang ada makanannya?’. Emm... kebetulan gue sih, yang paling sering ngomong itu.
Di puasa hari kedua juga seperti itu. Berhubung pada males masak, dengan semangat kita menuju masjid. Kebetulan saat itu, kita berangkat setelah adzan maghrib. Sampainya di masjid, para jamaah sholat maghrib telah pergi meninggalkan masjid. Kebanyakan mereka adalah orang Mesir, jadi wajar aja sih mereka nggak makan makanan yang disediakan oleh ta’mir masjid. Mungkin mereka berfikir, ‘Udah, buat para orang-orang yang bukan pribumi aja’.
Dengan santainya, kita duduk bersama para penikmat makanan gratis lainnya. Padahal belum pada sholat. Memang agak sesat juga sih temen-temen rumah gue. Di luar dugaan, ternyata ‘orang-orang yang bukan pribumi’ ini adalah kebanyakan orang Indonesia. Didepan gue, ada anak kecil yang minta jatah daging yang lebih gede. Disampingnya ada anak kecil yang rebutan nasi dengan kawan lainnya. Berasa seperti lagi kumpul warga Indonesia. Sedihnya, kenapa gue jadi keliatan paling tua ya.
Dan setelah acara makan selesai, dengan ringan kita meninggalkan masjid, untuk melaksanakan sholat di rumah. Datang-kenyang-pulang. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
Maafkan temen-temen hamba Yaa Allah.
Perbedaan puasa antara di Mesir dan Indonesia, yang paling gue rasakan adalah ketika shalat taraweh. Hampir seluruh masjid disini membaca satu juz, tiap shalat taraweh. Gue sering, hampir menitikan air mata karena hal ini. Ketika di Indonesia dulu, gue nggak pernah sholat taraweh yang tiap harinya satu juz gitu. Dan akhirnya di Mesir ini gue dipertemukan dengan hal seperti itu. Sedih. Karena ternyata lama banget. Sedih, karena lima menit hanya dihabiskan untuk satu rakaat. Pengen nangis. Sumpah lama banget. Yah seandainya gue curhat tentang hal ini kepada temen-temen lainnya juga, mana ada sih temen gue yang simpati terhadap gue, ketika lagi sedih gini. Yang ada mereka akan berkata sambil berteriak,
“LEMAH LU, MAT”
“RAPUH”
“DASAR JOMLO”
“BEHAHAHA, DASAR JOMLO LEMAH, RAPUH, PECICILAN, UTANG LU KEMAREN BAYAR SETAN!!”
Ujungnya bakalan dihina. Percuma curhat sama temen-temen yang gue punya.
Emang kebanyakan, ketika gue cerita hal sedih mereka hanya tertawa bahagia. Gue juga bingung, dimana letak hati mereka. Ah elaah. Minimal turut berduka gitu kan, tapi ya pada bahagia semua.
Tapi gue yakin kok. Seandainya nanti gue mulai terbiasa dengan hal ini, gue nggak akan ngeluh lagi kok. ((SEAINDANYA NANTI))

Alhamdulillah setiap sahur, pasti selalu ada orang yang membangunkan orang-orang rumah. Yah, mereka ini sih yang selalu bergadang, sehingga bisa membangunkan yang lainnya. Nah kalo sahur ini, Alhamdulillah temen-temen rumah pada sadar. Sadar bahwa harus masak, kalo mau makan. Tapi kemarin berhubung rumah gue dijadikan tempat buka bareng anak angkatan, sehingga masih banyak sisa makanan yang ada. Dan baru itu pertama kalinya gue sahur, tapi menunya seperti buka puasa. Nasi kuning, ayam goreng, es buah, kurma. Duh, jadi laper gue.
Tapi ada aja sih, orang yang makannya memang sengaja di lama-lama in. Nanti, kalo temennya ada yang mengingatkan,
Temen: “Bentar lagi adzan, mat”
Gue: “Iya, masih adzan kan? belom qomat iniih. Eheee. Enak loh makanannya”
Temen: “SUKA-SUKA ELU AJA DAH, NYET”


Emang susah sih ya, kalo udah kebiasaan di pondok kayak gitu. Ketika udah alumni, jawabannya tetep aja kayak gitu.

Wednesday, 17 June 2015

Masakan yang hilang

Tulisan sebelumnya, membahas tentang acara konser IKPM acoustic yang ditutup dengan adegan yang ‘sedikit memalukan’. Tulisannya bisa baca disini. Kali ini gue akan membahas tentang acara IKPM Olympiad.

Acara ini diawali dengan lomba masak-memasak yang diikuti oleh para cewe-cewe tiap angkatan. Sebenernya bisa aja sih pesertanya para cowo, yah tapi karena tujuannya ingin mengasah calon ibu rumah tangga yang baik serta bisa memasak, maka dari itu pesertanya cewe.
Temanya kali ini adalah bebek. Mungkin karena ayam dan ikan sudah terlalu mainstream kali ya, maka para panitia memilih bebek untuk menjadi temanya. Ini dugaan gue doang sih sebenernya, kalo kenyataannya panitia kurang dana... yah, mungkin ada benernya juga.
Ada lomba masak seperti ini, jadi inget sama lomba masak yang ada di tivi. Kadang kesel juga sih sama acara lomba-lomba yang ada di tivi. Mereka sedang fokus masak, tapi diberikan berbagai macam pertanyaan oleh para juri. Kan ganggu konsentrasi. Kalo gue pesertanya sih, bakalan gue tabok tuh jurinya.
Juri: “Kamu sedang apa?”
Gue: “Kupas bawang, chef”
Juri: “Ini kenapa belum mulai dimasak?”
Gue: EH KADAL, INI KAN DIKUPAS DULU. ASAL TUANG-TUANG AJA
Astagfirullahadzim, harus sabar ya. Udah mau Ramadhan.
**
Perwakilan dari angkatan gue, memasak dua bebek bakar beserta satu porsi tempe penyet, plus satu buah minuman buah-buahan. Tapi yang dibawa untuk penilaian hanya satu bebek bakar, satunya lagi ditinggalkan di dapur. Keren kan, angkatan gue? Hemat dan nggak modal memang beda tipis sih. Sebenernya, setelah setiap makanan ini di nilai oleh para juri, makanan ini akan dimakan bersama-sama oleh  setiap angkatan.
Sekarang bayangkan...
Angkatan gue ada sekitar empat puluh-an orang, lauknya hanya ada dua potong bebek bakar plus satu porsi tempe penyet. Kemudian makanan ini, dimakan bersama-sama oleh satu angkatan. Apakah kenyang? OOH JELAS TIDAK. TIDAK AKAN KENYANG.
Sedih banget ini nulisnya.

Simpel kan?

Apakah ujian untuk angkatan gue berakhir sampai disitu saja? OOH TIDAK. JELAS TIDAK. Ujian datang setelah pengumuman juara. Satu potong bebek bakar, yang ditaruh di dapur ternyata hilang.H-I-L-A-N-G. Ini salah siapa coba? Kenapa nggak semuanya yang dibawa ketika penilaian. Apakah semua penonton menyaksikan ketika juri mengumumkan nilai tiap masakan? Tidak. Senior-senior gue masih setia di dapur. Masih setia, mencari makanan yang sekiranya masakan ‘sisa’. Setelah dicari, kemudian menemukan, baru lah dimakan. Dan karena mereka menemukan, ‘wah, ada bebek sisa tuh. Sikaaat aah’ sehingga satu bebek raib.
Setelah satu bebek raib, para cewe-cewe angakatan gue pun marah-marah.
Nisa: “INI SIAPA YANG MAKAN BEBEKNYA HAH?!!” Persis banget kayak ibu kost.
Gue: “Siapa?”
Nisa: “PAUJI, KALO ENTE NGOMONG ‘SIAPA YANG NANYA’, ‘SIAPA YANG PEDULI’, ANA TABOK ENTE”
Gue: “I-Iya, ma-maap”
Robi: “Si Fauzi kali tuh. Liat aja, bibirnya berminyak gitu”
Nisa: “JADI YANG MAKAN ENTE HAH?!! NGGAK USAH MAKAN LAGI ENTE!!”
Gue: “Bu-bukan gue, mak. Ta-tapi...”
Nisa: “NGGAK USAH TAPI-TAPI AN. ENTE NGGAK USAH MAKAN. JANGAN KASIH TEMPAT KE PAUJI”
Gue: “EH, NENEK LAMPIR. BUKAN GUE YANG MAKAN. BIBIR GUE BERMINYAK, GARA-GARA GUE MAKAN SOSIS TAHU. ITU JUGA SISA MASAKAN SENIOR. BISA SANTAI NGGAK SIH!! EMANG ELU DOANG YANG BISA MARAH HAH?!! GUE JUGA!! GUE KETEKIN JUGA NIH DASAR NENEK LAMPIR GELO” Kata gue. Dalem hati.

Acara ini dimenangkan oleh angkatan paling senior. Dan tentunya bukan angkatan gue. Karena kami adalah junior, sehingga memang sengaja mengalah. Ini alasan aja sih. Kebetulan yang menang adalah senior-senior gue yang mau lulus tahun depan. Amin. Jadi wajar aja sih, para pesertanya sudah sejak dari dulu menyiapkan bekal untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.
Nggak usah disebut masakan mereka, karena memang banyak banget. Dan kebetulan orang-orang dari angkatan mereka yang hadir sedikit. Makanannya disumbang dikit kek gitu ya, ke angkatan gue. Tapi, baru mau minta udah abis. Bersih piring-piringnya. Emang liar sih senior gue*eeeh.
Acara IKPM Olympiad ini berlangsung selama tiga hari. Yah, walaupun di lomba masak, angkatan gue kalah. Tapi tidak dengan futsalnya. Angkatan gue berhasil menjuarai lomba futsal antar angkatan. Dan hanya lomba itu aja sih, yang juara. Selainnya ya, kalah semua. Bukan kalah, tapi mengalah sama senior. Mereka kan udah pada tua. Fikirannya cepet lulus, terus nikah. Yaa kita, sebagai junior mempunya suatu kewajiban untukk membuat para senior-senior tertawa bahagia. Kan nggak enak, udah tua eeeh, malah marah-marah terus. Ntar kitanya kualat.

Monday, 15 June 2015

Ketika acara night acoustic dicampur dengan jogget ria

Minggu kemarin, gue disibukkan dengan acara-acara almamater. Karena kebetulan gue anak baru, jadinya...  ya harus menjadi panitia di acara ini. Toh, senior-senior gue dulunya, juga merasakan kepanitian seperti yang sekarang ini gue rasakan. Yah bedanya, gue lebih imut dibandingankan dengan senior-senior,  ketika mereka jadi anak baru. Itu aja sih bedanya.
Kok geli ya, baca tulisan sendiri.
Di minggu ini, ada dua acara besar yang diselenggarakan oleh almamater gue. Yang pertama, IKPM acoustic. Yang kedua, IKPM Olympiad. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang-orang sholeh. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perbanyaklah. Syalala~
KENAPA MALAH NYANYI, NYET!?
Kali ini, gue akan membahas tentang IKPM acoustic terlebih dahulu. IKPM Olympiadnya, bisa diceritain besok. Besok siang. Minggu besok. Pokoknya, nanti lah diceritain.
Ketika malam IKPM acoustic, temen-temen maupun para senior-senior banyak yang ikut hadir dalam acara ini. Mungkin banyak orang mengira, ‘Halah, mahasiswa Al-Azhar Mesir itu dengernya Hadad Alwi doang. Mentoknya juga ke lagunya Opick Tombo Ati’. Kalian salah besar, gaes. Mahasiswa sini, ternyata senang dengan berbagai aliran musik. Entah itu, Pop, Rock, Indie, dangdut. Disikat semuanya. Lagu Opick juga termasuk sih.

Kemarin itu ada yang menyayikan lagu Payung Teduh. Kalo nggak salah, yang nyanyi itu adalah Muna dan Syntia. Gue harus akui, bahwa suara si Muna itu bagus, yah walaupun orangnya sih agak ‘UHUK’, tapi keren kok. Menghibur. Serius. Suara gitar, suara tingginya Syintia, bener-bener menghibur para penonton. Suara si Muna juga kok.
Dan ada juga yang menyanyikan lagu Counting Stars milik One Republic. Walaupun yang gue denger hanyalah, ‘aaa.... aaa... heaaaheaaa. Aaa.... aaa.... heahea’ kayak desahan orang minta makan gitu lah. Tapi bagus banget kok. Gue bisa bilang bagus banget, ya karena penyanyinya adalah temen se-angkatan. Kalo kagak, HIIIH!!
Sebetulnya, gue menunggu penampilan temen serumah, si Iyas dan Rofiq. Tapi karena beberapa kendala, mereka tidak bisa tampil di acara tersebut. Gue sebagai teman serumah, sebenernya sedih juga karena tidak bisa melihat mereka tampil didepan temen-temen lainnya. Tapi memang lebih baik seperti itu juga. Karena temen-temen gue ini, hanya hafal lagu Goyang dumang dan Goyang dribel bola boling. Yang pada akhirnya, gue yakin, seandainya mereka tampil, mereka hanya akan menjadi bahan cacian sampe mereka selesai kuliah. Sedih, jika membayangkan mereka menjadi bahan hinaan sampe mereka selesai kuliah. Sediiiih banget ngebayanginnya. Tapi pengen juga sih, ngehina mereka.
Astagfirulladzim
Acara malam akustik ini, ditutup dengan penampilan Alam dan Ali berjoget ria didepan para penonton tanpa ada rasa malu sedikit pun. SEDIKIT PUN. Mungkin bagi mereka, jogetan mereka adalah yang joget paling asoy se-Mesir, sampe muter-muterin badan satu sama lain. Tapi sepertinya, penonton berfikiran lain. Ketika si Alam memutar badan Ali, para penonton pun meninggalkan ruangan. Semuanya. IYAK, SELURUH PENONTON CEWE MENINGGALKAN RUANGAN. Hanya sisa beberapa teman-temannya, yang masih dengan ikhlas menyaksikan mereka berjoget ria.
Sedih membayangkan, ketika temen-temen gue sedang asyik berjoget ria, tapi para penonton dengan ringannya melangkahkan kaki ke luar lapangan. Yah, tapi nggak ada salahnya juga sih. Seandainya gue nggak kenal Alam maupun Ali, gue juga dengan sangat berbahagia untuk meninggalkan ruangan. Seandainya saja.... AH ELAH!!
Gue sering berkata dalam hati, setiap bayangan Alam dan Ali berjoget ria di malam akustik,
‘Apa kata orang tua mereka ya, seandainya mereka melihat anaknya yang kuliah jauh-jauh hanya untuk joget seperti itu? Sampe badannya muter-muter gitu lagi. Apa mungkin, nama mereka bakalan dicoret dari kartu keluarga ya?’

Sunday, 7 June 2015

Seandainya saja seperti itu

Rabu kemarin, gue dan beberapa temen lainnya, meluangkan waktu untuk mengantarkan Ziah, temen gue, pulang ke Indonesia. Nggak sampe Indonesianya juga sih, sampe bandara Kairo aja. Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa-mahasiwa lainnya yang niat pulang ke Indonesia hanya sekedar untuk liburan, temen gue disibukkan dengan salah satu agenda penting dalam kehidupannya. Yaitu, nikah.
Kepulangan Ziah ini membawa duka kepada sebagian temen-temen gue. Terutama temen-temen gue yang cewe, sedih karena salah satu teman terbaiknya harus pulang ke Indonesia untuk mengadakan acara pernikahan, tapi mereka nggak bisa ikut hadir di acara pernikahannya. Nggak bisa nyobain makanan prasmanan. Nggak bisa nyari gebetan di pesta pernikahan. Dilema banget pokoknya.
Semangat buat menempuh hidup baru!!

Salah satu temen gue, kirana, berkata seperti ini,
Kirana: ‘Mat, gue sedih si Ziah udah mau nikah. Tapi sampai sekarang, gue masih nge-jomlo aja, mat. Nggak ada yang naksir. Huhuhu. Syediiih’
Gue: ‘LAH? EMANGNYA LO DOANG YANG JOMLO? HAH? LO DOANG? HAH?!! NGGAK USAH NANGIS DEH. DASAR, CEWE LEMAH!! RAPUUH!! Kata gue dalam hati.
Kirana: ‘Mat, elu ngomong apa barusan?’
Gue: ‘Gue aus. Lo punya minum? Bagi dong’

Disaat itu, tiba-tiba gue merasa turut bersedih juga. Ketika temen-temen gue yang  cewe dengan eratnya memeluk kepergian Ziah, seolah mereka tidak ingin berpisah dengan Ziah, gue dan temen-temen cowo lain dengan sabar dan ikhlas, hanya melihat dari kejauhan. Kemudian berkata,
‘Gue juga mau dipeluk gitu, Ziah. Mau. Kita semua mau dipeluk sama kamu. Iya, kapan lagi coba? Ziah, peluk kita juga dong. Huhuhu. Syeediih, nggak dipeluk’.
Kita juga mauu :((
Errr...
Selain kesedihan yang dirasakan oleh temen-temen cewe, ternyata temen-temen cowo gue, bahkan orang yang gue nggak kenal pun, merasakan kesedihan yang sama. Sedih, karena sebentar lagi Ziah akan pulang ke Indonesia. Sedih, karena Ziah akan pulang selama enam bulan. Sedih, karena.... yaa karena Ziah mau nikah.
Ternyata mereka itu orang-orang yang naksir Ziah. Dasar jomlo hina. Hiih!
**
Entah kenapa, karena kejadian itu gue jadi kepikiran sama cewe-cewe yang gue taksir. Dari dulu sampai sekarang.
Gue pernah, dengan amat ikhlas dan suka rela, untuk berubah menjadi baik gara-gara seorang cewe. Berusaha, agar bisa deket sama cewe yang gue taksir. Berusaha, agar bisa jadi tempat ngobrol, ketika dia lagi sedih ataupun senang. Berusaha, agar bisa dekat bagikan sahabatnya sendiri. Tapi perlahan, pemikiran gue berubah...
Ketika gue naksir orang, dan berhasil menjadi tempat berbagi ceritanya, berhasil menjadi temen dekatnya, gue berkata kepada diri gue sendiri,
‘Lu punya apa, mat? Kok bisa-bisanya naksir sama cewe cakep kayak gitu. Udah cakep, baik. Lah elu?’.
‘Lu mau berharap jadian? Yang lebih hebat dari lu ada? Banyak?’
Seolah, menjatuhkan diri gue sendiri kan? Sebenernya baik nggak sih, kalo gue mikir seperti ini?
Pada akhirnya, nama cewe yang gue taksir selalu disebut setelah selesai sholat. Gue berdoa, agar mereka diberikan sosok pendamping yang baik, hebat, dan sukses dari dirinya. Karena, memang cewe yang gue taksir, selayaknya harus mendapatkan hal itu sih.
Cinta nggak harus memiliki bukan?
Apa jangan-jangan karena hal ini ya, gue nggak bisa pacaran??
Hufft...
**
Yah, tapi kalo seandainya aja, ada cewe yang naksir terus nembak gue....
Gue mah, nggak enakan nolak. Nggak enakan ngecewain yang nembak juga sih.
Ooh, seandainya....~

Monday, 1 June 2015

Kejadian didalam ujian Azhar

Alhamdulillah, akhirnya minggu-minggu ujian kemarin telah selesai.
Huffft.
Tapi masih banyak sih, temen-temen gue yang belum selesai ujiannya. Yah, mungkin ini semua karena rejeki anak sholeh ya, sehingga selesai pertama kali dibandingkan fakultas-fakultas lain.
gaes, untuk kalian yang ujiannya belum selesai..... MAMAM!! RASAKAN!! BEHAHAHAH”
Nggak tau deh kenapa setelah selesai ujian gini, jadi ada nafsu tersendiri, untuk menyembunyikan buku-buku pelajaran temen gue. Kan banyak tuh, sekarang ini ketika orang-orang ditanya tentang pelajaran, jawabannya kayak gini,
‘Duh, gue belom belajar nih’
‘Duh, gue belom siap nih’
‘Duh, gue juga nggak tau’
‘Duh, gue aja baru tau’
‘Loh, kan dukturohnya bilang kalo bab itu nggak diujiin’
‘Duh, kok gue ganteng’
‘Duh, kok gue cantik’
‘Duh, pucinnk pala belbii’
See... jawabannya seperti minta digampar gitu kan? duh, kalo gue jahat sih, udah gue tabok pake gitar dari kemarin-kemarin. Padahal yang sebenernya, mereka itu adalah orang-orang yang rajin belajar. Yang hidupnya, rumah-kuliah-masjid-ngaji-rumah. Berbeda dengan kehidupan gue yang sebatas, bangun-makan-main PES-streaming Youtube-nonton film-baca Qur’an-makan-tidur-ulangi.
Banyak yang kayak gini.
Eh, bisa kali follow gue di ask.fm/afauzizahrula hehe

Tapi ada hal yang sampai saat ini gue ingat ketika ujian kemarin.
Jadi, siang itu gue sudah berada di masjid Azhar, belajar untuk persiapan ujian di jam tiga sore nanti(kalo di Indo, jam delapan malem). Memang tempat ini adalah tempat favorit untuk belajar bagi kebanyakan mahasiswa. Entah itu cewe, cowo, yang berkeluarga dan punya anak pun, juga sering ke masjid. Bukan buat belajar sih, tapi sekedar foto-foto kemudian dimasukkan Instagram atau Facebook. Gue baru tau, ternyata orang-orang Mesir suka foto-foto narsis juga. Kayaknya, diajarin sama mahasiswa Indonesia sih. Kayaknya.
Kebetulan, tempat belajar gue saat itu berada di halaman masjid. Dimana banyak orang yang berfoto-foto ria. Padahal cuacanya panas, tapi sempet-sempetnya aja gitu ya.
Disini lah mulai kejadian itu.
Ketika itu, gue duduk di pojokkan masjid sebelah kanan belakang. Mengulangi bacaan dan hafalan pelajaran nanti secara khusyu. Sambil se-sekali menengok samping kanan dan samping kiri. Siapa tau, ada cewe Mesir yang memperhatikan gue dari jauh sambil malu-malu, mukanya ditutup-tutupi dengan kain. Kain bendera. Nggak deng. Dan Ternyata....
.
.
.
.
.
.
Nihil.
Emang presentase kemungkinannya dikit banget sih, kalo ada cewe yang merhatiin gue dari jauh. Cewe Mesir lagi.
Pandangan gue beranjak menuju halaman masjid. Ada sekumpulan cowo-cowo dengan baju ketat, dan beberapa dari mereka, mempunya bulu-bulu yang menyembul keluar dari kaosnya, sedang berfoto bersama. Karena gue nggak mau muntah di masjid gara-gara melihat para lelaki seperti itu, gue memutuskan untuk membaca buku, sambil mendengarkan musik sejenak.
Ketika sedang asyik mendengarkan lagu Snap Out It milik Arctic Monkey, para lelaki ini menghampiri. Mereka selonjoran disamping gue, yang sedang asyik membaca buku. Sampai bau busuk kaos kaki itu tercium oleh indra penciuman gue.
BAJINGJAN
Dengan santainya, si pemilik kaos kaki harum ini menyapa gue,
Si pemilik kaos kaki(SPKK): “Hai, apa kabar?”
Gue: “MAU MATI, GARA-GARA KAOS KAKI ELU BAU, NYET!!
SPKK: “Hah, apa? Ngbrolnya pake bahasa Arab aja”
Gue: ”Alhamdulillah, baek”
SPKK: “Hoo, bagus-bagus. Kamu mau ujian? Saya sudah kemarin”
Gue: “KAGA, GUE MAU JUALAN MINYAK ZAITUN. SITU MAU? BIAR KAOS KAKINYA WANGI”
SPKK: “Kamu darimana?”
Gue: “KAN GUE DARI TADI DISINI. GUE GIGIT LU”
SPKK: “Saya duluan ya”
Gue: “Kenapa nggak dari tadi aja, mabok pala belbie. Mabookk.... kezeel...kezeel belbie” kata gue dalam hati.

Eh, bentar.
Kenapa gue jadi ngondek, abis nyium bau kaos kaki? Astagfirullahadzim.
Waktu gue terbuang sia-sia, karena harus berhadapan dengan makhluk itu. Semoga suatu saat nanti, dia taubat dan nggak menggunakan kaos kaki bau itu lagi. Amin.