Monday, 27 April 2015

Trem penguji kesabaran

Gue sering banget menemui tulisan yang mengatakan, ‘Kuliah di luar negri itu harus siap mental’. Dan sekarang gue mempercayai kata-kata itu. Hampir setiap hari, banyak kejadian yang mengharuskan agar mental ini lebih baik lagi. Apa semua kejadian-kejadian kampret yang menimpa gue ini disebabkan karena menulis aib temen-temen gue di blog? Duh, gue merasa berdosa kayak gini. Etapi asyik juga sih, nulis aib temen-temen sendiri. Cobain deh, bikin ketagihan!!
Salah satu ujian mental di negri Mesir ini adalah ketika menaiki kendaraan umumnya. Semua kendaraan umum yang ada, menyajikan ujian yang berbeda. Inti ujiannya hanya dua sih, ujian sabar dan kekuatan mental.
Terlebih Trem yang ada disini.
Tremnya yang disamping bis
Jadi, setelah mengantarkan adik gue sampai rumahnya, gue hendak pergi menuju sekertariat almamater. Punya adik yang kuliah bareng di negri orang, membuat tugas gue bertambah. Salah satunya, menemaninya untuk mengambil uang. Sebenernya ini hanya akal-akalannya aja sih, supaya ketika pulang dari ATM nanti, dia bisa makan gratis. Kita ambil uang bareng, tapi giliran bayar makan gue yang ditunjuk. Iya, sedih. Padahal uang yang gue ambil, lebih sedikit dari dia. setiap gue menyuruhnya untuk membayar makanan yang kita makan, dengan entengnya dia berkata,‘Mas, keperluan cewe itu banyak. Mas, tega emangnya sama Faizah?’.
Tuh, jadi serba salah, kan? Yang ngambil duitnya banyak dia, tapi gue juga yang disuruh bayarin makan.
Trem gue yang naiki ketika itu sedang sepi penumpang. Yang ada hanyalah musik Mesir yang dinyalakan dengan volume maksimal. Supir sini, nggak peduli juga sih, kita seneng atau kesel disajikan dengan lagu seperti itu. Intinya, si supir seneng sama lagunya, si supirnya bisa ketawa haha-hihi. Penumpangnya mabok atau pingsan, bodo amat. Yang penting bagi si supir sih, ‘AYO GOYANG DUMANG, BIAR HATI SENANG, SEMUA MASALAH JADI HILANG’.
Ini salah satu contoh lagunya...
Kalo ada supir Mesir yang beneran nyanyi lirik itu, gue tendang hidungnya sampe copot. Asli.
Eboong deng. Takut duluan.

Setelah duduk manis, dan menutup pintunya. Tiba-tiba pintu itu terbuka lagi. Karena si supir membawa mobilnya terlalu cepat, sehingga pintu yang mendadak terbuka itu menutup sendiri dan menimbulkan suara benturan yang keras.
Abang supir: ‘KENAPA PINTUNYA NGGA DITUTUP HAH?!! KALO RUSAK MAU TANGGUNGJAWAB HAH!!’ Teriak si abang supir. Nafasnya bau. Bau naga, telor busuk, sambel terong, kentang goreng jadi satu. Tak lupa muncrat. Lengkap banget penderitaan gue. Banjir muka gue.
Gue: ‘Ta.. ta.. tadi udah ditutup pintunya, bang’ jawab gue terbata-bata.
Abang supir: ‘KAMU JANGAN DUDUK DI DEKET PINTU
Gue: ‘Iy... Iyaa bang. Tadi beneran udah ditutup kok
Kemudian masuk beberapa rombongan anak muda, dengan hidungnya yang dipaksakan mancung. Dengan anggunnya mereka duduk, kemudian memberikan uang seadanya kepada supir.
Perdebatan dimulai lagi. Si supir merasa uang yang diberikan tidak sesuai dengan tarif yang ada. Kali ini, gue duduk ditengah-tengah orang yang sedang berteriak-teriak di dalam trem, dengan air muncratan dari kedua belah pihak, dan bau nafas mereka yang menyatu. ‘GUE NYERAH, NYERAH!! GUE CUMAN MAU PULANG KE SEKERTARIAT DENGAN AMAN. ITU AJA. GUE NANGIS JUGA DAH INI. KAMPREETTT!! TOLONGIN ABANG HAYATI!! KYAAA... KYAAA’
 Gue baru tersadar, ternyata gue belum memberikan uang ongkos kepada supirnya. Tapi anehnya, ketika uangnya diberikan, si abang supir mengembalikkan uangnya. Karena berisiknya suara musik dan perdebatan, gue nggak bisa mendengarkan apa yang diucapkan abang supir.
‘Ah, deket aja juga. Mungkin si abangnya, nggak mau nerima uangnya’ kata gue dalam hati, mencoba berbaik sangka.
Dan ketika hampir mendekati tempat tujuan, gue memberikan uangnya lagi.
Gue: ‘Bang, ini duitnya’ sambil memberi uang setengah pond.
Abang supir: ‘lalal – hahah -  hihi
Gue: ’Lah, kampret. Ini abangnya ngomong apaan si’ kata gue dalam hati
*menukar uang setengah pond dengan satu pond
Gue: ‘Nih, bang’ kata gue sambil memberikan uang satu pond
Abang: ‘Nah ini bener

Gue: ‘Lah, onta bunting! Kan jaraknya deket, kampret.Nggak sampe sejam juga, onta!! Gue doain idung lu pesek. Amin’ kata gue setelah turun dari trem.

Friday, 17 April 2015

'Serba salah gue disini'

Banyak hal-hal yang terkadang nggak masuk akal. Satu contoh kecilnya, ketika kita berniat baik, tapi di mata orang lain, ‘Lo ngapain? Sok asyik lau’. Kadang hal seperti ini yang bikin kita, gue terutama, males untuk berbuat baik. Seolah niat baik kita, hanya dianggap perbuatan yang salah di mata orang lain.
Yah, namanya juga manusia. Kita yang kerja susah payah, mereka dengan santainya menjelek-jelekkan diri kita. Untung gue tomat. *apasih.
Kalo boleh flashback sebentar, sebenernya tulisan gue yang kemarin-kemarin itu membahas temen-temen gue. Membahas kejelekan temen gue sih lebih tepatnya. Dan memang nggakada baik-baiknya yang gue tulis. Secara nggak langsung, sama halnya gue menggibahkan atau menjelek-jelekkan mereka di tulisan gue. Kemudian gue posting di blog, posting di Facebook, dan terakhir posting tentang kejelekkan mereka di Facebook mereka sendiri. Yap, gue bajak Facebook mereka, kemudian gue posting tulisan itu.
Gue mah gitu orangnya.
Sebenernya sedih juga sih menjelek-jelekkan temen sendiri. Tapi, kok rasanya seneng aja gitu ya. #BHAHK
Di almamater gue, ada jadwal rutin sholawatan. Setiap hari selasa malam. Sebenernya yang diharapin sih bukan sholawatan, tapi makanannya. Bukan gue aja sih yang mengharapkan hal itu, temen-temen gue yang lain sama aja. Walaupun sampai kapan pun gue tanya, perdebatan kita akan seperti ini,
Temen: ‘Gue tuh niat sholawatan, ji. Bukan cari makan’
Gue: ‘Yaudah, nanti lo nggak usah makan ya. Jatah lo buat gue. Liat perut gue? Emang cukup cuman satu porsi bakso? Nggak kan?’
Temen: ‘Jangan gitu juga dong, ji. Setiap orang kan udah dikasih jatah makanan masing-masing. Lo nggak boleh ambil jatah orang lain. Nanti dosa. Masuk neraka.
Gue: ‘Bawel lu, kaya janda. Gue becanda, nyet’
Siang sebelum acara di mulai, senior-senior yang menjabat sebagai home staff sibuk dengan acara masak-masak. Sebenernya nggak senior-senior banget sih, tapi supaya keliatan gue lebih muda aja sih intinya. Kebetulan malam ini rencananya masak soto. Gitu.
Entah kebetulan atau memang ada panggilan khusus, yang selalu menghadirkan teman gue ketika acara masak-masak seperti ini. Temen gue bernama Adi selalu datang ketika acara makan-makan. Benar-benar seperti makhluk perusa suasana, dan pegurang jatah makanan orang lain.
Kedatangannya akan selalu seperti ini,
Dia masuk rumah – berkata ‘Apa kabar nih, ustad? Baik kan?’ – kemudian duduk, padahal nggak ada yang menyuruh dia sama sekali. NGGAK ADA SAMA SEKALI – mencomot makan dengan biadab – dan diulangi setiap rumah lainnya.
Bisa dibilang, gue bosen juga sih ketemu sama manusia ini. Awal perjumpaan gue dengan Adi, ketika kami masih kecil. Tepatnya, ketika kita satu kelas bareng di kelas empat SD. Kemudian perjumpaan itu berlanjut ketika gue masuk pondok. Sampai kita lulus, satu angkatan juga. Ketika datang waktu masa pengabdian pondok, kita ditempatkan di satu tempat yang sama. Sebelum kita pergi ke Mesir, kita menetap di kampus inggris bersama. Dan pada akhirnya, kita kuliah bareng di Mesir. BERSAMA LAGI. Astagfirullahaladzim, KENAPA HARUS YANG SESAMA JENIS SIHH?!!
Bayangkan, seberapa sering dia menghabiskan jatah makanan gue? Banyak banget kan? Emang kampret.
Tapi berbeda dengan hari selasa kemarin. Berhubung makanannya belum jadi, dia berinisiatif untuk membantu para senior untuk memasak. Sebetulnya para senior sudah menyuruh gue untuk membantu mereka masak, berhubung kemarin itu gue sedang dalam keadaan yang kurang baik, makanya gue lebih memilih tidur ketimbang sekedar membantu masak. Ini alasan basi banget sih.
Dan seperti jagoan yang terlambat datang, adi berkata,
Adi: ‘Parah lo, ji. Mau enaknya doang. Emang otak perut doang lo, hahah. Kalah sama gue. Eh bang Jeki, ini cuman cabutin daging dari tulangnya doang kan?’
Bang Jeki: ‘Iya. Dagingnya nanti taruh sini ya’
Adi: ‘Iya, bang’
Bang Jeki: ‘Astagfirullahadzim.... lo makanin tulangnya ya?’
Adi: ‘Iya. Emangnya kenapa?’
Bang Jeki: ‘Itu kan tulangnya mau dimasak. Biar kaldu ayamnya terasa nanti di soto’
Gue: ‘TUH LU LIAT KAN, JEK? NOH KAYAK GITU TUH DIA. EMANG BIASANYA CUMAN MAKAN DOANG. UDAH TULANG MASIH AJA DI ISEP-ISEP. MARAHIN AJA, MARAHIN, JEK. MAMAM TUH, MAMAM DIMARAHIN SAMA SENIOR. BEHAHAH’
Adi: ‘Ji, lo mau pulang kan? Gue ikut pulang ke rumah lo aja ya. Jadi serba salah gue disini’
Gue: ‘Iya, tapi nanti, di. JEK, MARAHIN LAGI NIH ORANGNYA, CUUK!! HAHAHA’

Saturday, 11 April 2015

Siapa yang pinter? Siapa yang jadi pembantu baru?

Setelah kejadian beberapa hari lalu kemarin, gue mendapatkan motivasi untuk lebih percaya diri menjadi mahasiswa yang kuliah di Mesir. Sebuah suntikan motivasi, yang menunjukan bahwa,
Wah, ternyata gue punya temen  yang otaknya gesrek juga ya. Lebih parah dari gue lagi. Alhamdulillah’
Seperti yang pernah gue bahas sebelumnya, bahasa yang digunakan di Mesir itu adalah bahasa gaul, atau yang biasa disebut lughoh ammiyah, bahasa yang nggak gue pelajari selama di pondok. Ketika di pondok, gue belajar bahasa Arab baku, atau lughoh fushah. Yang segala sesuatunya harus berdasarkan kaidah Nahwu dan Shorf. Tapi ketika gue sampai di negri ini, gue jarang mendengar orang Mesir berbicara dengan lughoh fushah.
Jadi selama tujuh tahun di pondok gue belajar Nahwu dan Shorf sampai mabok, tapi ketika disini gue harus berbicara lughoh ammiyah. Kayak dibecandain sama ustad-ustad gue dulu. Dan kalau pun gue ajak mereka ngobrol dengan lughoh fushah, mereka menertawakan gue, mereka nggak paham. Intinya  komunikasi antara kita terputus.
Gue: ‘Bang, saya mau beli baju biru yang diatas situ. Harganya berapa ya?’
Penjual baju: ‘Aisyah sedang makan roti dan minum susu’
...
GUE NGGAK NANYA AISYAH!! KENAL JUGA KAGAK SAMA DIAA!! GUE MAU BELI BAJU, ABANG YANG BULUNYA BANYAAAKKK!!! BELI BAJU. B-A-J-U. GUE NANGIS JUGA INIH. ASTAGFIRULLAHALADZIM!! Eh, tapi kalo cakep boleh juga sih dikenalin sama Aisyah.
Yah seperti itu contoh kecilnya. Bikin sedih.
Kalo kejadian kemarin itu kayak gini.
Jadi siang kemarin itu, gue bersama Alam pulang dari kantor PPMI setelah selesai menaruh barang-barang untuk acara kepenulisan bagi mahasiswa baru. Kebetulan kita panitia bareng. Dan kebetulan juga kita panitia yang amat sangat jarang kerja juga sih, jadi akur gitu.
Alam: Ji, kita ke rumah gue dulu ya. Gue mau ambil baju, abis itu ke rumah lu.
Gue: Iya santai.
Alam: Nanti sekalian numpang mandi juga ya.
Gue: Iya santai.
Alam: Sabun, odol sama handuk ada kan?
Gue: Iya ada
Alam: Eh, sampo ada kan? Gue mau tampil keren loh nanti.
Gue: Iya.
Alam: Serius loh, ji. Ada nggak?
Gue: UDEH DIEM NAPEH. BAWEL BANGET KAYAK PEMBANTU BARU LU!! PANAS INI, NYET.

Bulan ini sudah memasuki musim panas. Banyak tanda-tanda, kalo saat ini musim panas. Selain bunga yang mekar di taman-taman, angin panas yang biasanya hadir setiap siang, ada satu hal lagi yang hanya terjadi ketika musim panas. Jumlah lalat yang hadir di rumah tambah banyak. Yang terakhir itu, yang biasanya bikin stress.
Sebelum pergi ke rumah gue, kita mampir terlebih dahulu di warung untuk membeli yang dingin-dingin. Dan bersyukur, Alam sudah nggak bawel lagi kayak pembantu baru.
Alam: Ji, gue susu coklat.
Gue: Lah, yang mau beliin lu siapa?
Alam: Yaelah, ji gitu banget.
Gue: Duitnya kurang inih, cuy kalo beli dua.
Alam: Nih gue tambahin.

Sebenernya gue ragu untuk beli minuman ini. Dikarenakan uang yang saat ini gue punya, hanya selembar uang lima pond Mesir dengan bentuk yang lecek, serta telah robek, dan disambung kembali dengan solasi. Kalo di Indonesia gue yakin masih bisa diterima, kalo disini terkadang ammuhnya(pamannya) menolak uang sobek.
‘pokoknya abis gue bayar, gue mendadak bego. Titik’
Gue: dzaa yaa ammu (nih duitnya, bang)
Ammu: *ngambil duit
Ammu: Hesssshhh..... hesssshhh.....
*menghilang
Tepat ketika Ammu berdesis seperti itu, kita telah meninggalkan warung dan menikmati minuman yang kita beli dengan uang yang sobek itu. Sebenernya si ammuh itu nggak mendesis, hanya saja kebiasaan orang Mesir memang kebanyakan seperti itu ketika memanggil orang lain.
Setelah minuman itu abis,
Gue: Lu sadar nggak tadi, kita dipanggil sama si ammunya?
Alam: Sadar kok. Tapi pura-pura nggak tau aja.
Gue: Tumben pinter. Tadi emang sebenernya kita dipanggil sih.
Alam: Kenapa emangnya?
Gue: Duitnya sobek tadi.
Alam: Wah parah lu, ji. Terus gimana dong? Kita balik lagi nih. Gue tapi nggak ada duit lagi. Itu tadi sebenernya untuk ongkos pergi sih, nanti gue bayarin ongkos ke Azhar ya.
Gue: Bawel lu, kayak pembantu baru.

Monday, 6 April 2015

Bulan

On the night like this-Mocca
Bulan, apa sejatinya dirimu tau engkau diciptakan untuk menerangi manusia hanya di saat malam hari saja? Jikalau kamu mengetahui hal itu, terkadang aku iri terhadapmu. Hanya sesaat dan terkadang saja, tidak selalu. Karena kamu mengetahui siapa dirimu yang sesungguhnya.
http://joyousoasis.com/

Seandainya saja, aku dianugrahi hal seperti itu...
Aku akan membunuh perasaanku ini. Rasa yang selalu muncul di saat waktu yang tidak tepat.
Ketika sedang asyik bercanda dengan teman-temanku, wajahnya muncul. Lagi. Wajahmu muncul lagi. Seperti tergambar jelas, disaat bibir indahmu itu membentuk senyuman. Seperti baru saja aku melihat hal itu. Padahal sejatinya, hal itu sudah seminggu yang lalu, bukan?
Aneh ya?
Jujur, aku benci dengan rasa ini. Sebuah rasa yang tidak bisa diartikan dengan akal manusia. Rasa yang muncul begitu saja tanpa izin terlebih dahulu. HAH!! Persetan dengan semua ini.
Senyumanmu...
Sifat tak acuhmu...
Sifat penyayangmu...
Apakah kamu memiliki penawarnya? Aku ingin membeli banyak penawar itu, agar rasa ini tidak muncul disaat waktu yang tidak tepat.
Pertanyaannya saat ini bukan hanya,
“Apa kamu mempunyai rasa yang sama?”
Tapi,
“Apakah kamu bahagia dengan semua ini?”
Susah sekali untuk mengucapkan kata-kata seperti itu. Saat ini hanya berdoa yang bisa dilakukan. Mendoakanmu agar selalu dijaga olehNya, selalu tersenyum, selalu ikhlas dengan segala apa yang diberikan, dan yang terakhir selalu diberikan yang terbaik. Terbaik dari yang terbaik. Karena, wanita sepertimu memang hanya pantas untuk mereka yang terbaik bukan?
Doa ini pasti akan dikabulkan olehNya.
Kairo, Saqr, dua pagi.

Thursday, 2 April 2015

Kuliah kalah

Banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi mahasiswa di universitas terkenal. Bahkan, nggak sedikit yang ingin kuliah di luar negri. Gue contohnya.
Ketika di pondok dulu, kebanyakan ustad-ustad gue menceritakan pengalamannya kuliah di negri Piramid tersebut. Dari kemudahan belajar di kampusnya, perkuliahan yang tidak terikat dengan absensi, sampai jalan-jalan ke Piramid, Spinx, dan Alexandria, dan masih banyak lagi yang enak-enak.
Ketika itu, dengan polosnya gue bertanya kepada ustadnya,
Gue: Masa, ustad?
Ustad: Iya, bener. Makanya kalian belajar yang rajin ya, supaya bisa kesana.
Gue: MASA BODOO WOYY!! LAGIAN NGGAK ADA YANG NANYA JUGA SII. HIH!!
Kata gue dalam hati.
Kenapa gue berasa jadi santri yang nggak ada baik-baiknya Yaa Rabb!!
Sebelum datang kesini, banyak mahasiswa lulusan Mesir menasehati gue berupa,
‘Zi, kamu yang kuat disana yaa’
Ambigu banget sarannya.
Sesampainya disini, gue nggak menemukan perkataan ustad gue yang enyak-enyak itu. Nyatanya, tempat kuliah gue yang jaraknya jauh dari rumah. Hampir sejam, jika di tempuh dengan bis umum.  Setiap hari harus rela berdesak-desakkan dengan orang lain, yang tentunya ukuran tubuh mereka jauh lebih besar dari badan orang asia. Menahan nafas, ketika berada dibawah ketek orang Mesir. Walaupun gue berpositif thinking dia memakai deodorant sekalipun, tetep gue harus tahan nafas. Kita nggak tau juga kan, apa yang terjadi di masa depan? Kalo tiba-tiba gue pingsan, dan tubuh gue digrepe-grepe. Geli sendiri gue bayanginnya.
Saat kedatangan gue disini, hal yang gue lihat ketika bis jemputan meninggalkan bandara adalah padang pasir dan dihiasi dengan berbagai tanaman-tanaman hijau. Kontras, tapi enak diliat. Kemudian perlahan mata ini disajikan dengan kemacetan jalan raya, ‘Sama aja kayak di Jakarta’, gumam gue. Dan tibalah dimana mata gue disajikan dengan bermacam-macam bangunan kubus, kotak-kotak, dan tidak ber-genteng. ‘Beneran sampe di Mesir juga gue’.
Mungkin diantara sekian banyak mahasiswa baru, hanya gue yang masih belum menemukan jati diri untuk menjadi mahasiswa yang baik disini. Kalo mahasiwa-mahasiswa lain dengan bangganya memasang foto mereka berada di masjid Azhar, gue nggak. Gue masih kefikiran, ‘Mampus, gue mau bawa apaan nanti ke Indonesia. Belum siap gue ditanya. Gue lebih sering futsalan, dan nulis di blog, ketimbang kuliah. Langsung nikah aja deh’.
Diawal-awal, gue merasa menjadi mahasiswa disini bukan hal yang sulit. Cukup menunggu temen-temen untuk kuliah bareng, dan gue nggak akan ketinggalan pelajaran di kampus. Kenyatannya nggak seperti itu. Orang-orang yang gue tunggu, lebih fokus mengurusi perkuliahannya sendiri, ketimbang harus mengajak teman-temannya kuliah bareng.
....
Dan bodohnya, gue baru sadar sekarang.
Ibaratanya, saat ini gue kalah start dibandingakan temen-temen gue lainnya. Jauh dibelakang mereka. Baru sadar juga sih, ternyata dunia perkuliahan itu, kebanyakan mahasiswanya bersifat individualis. Tapi bukan berarti semuanya bersifat individualis sih, ada banyak juga yang saat kuliah mengajak temennya. Gue percaya itu kok. Buktinya gue pernah diajak juga sama temen gue yang lain.
Temen gue(TG): Jii, lo dimana?
Gue: Rumah
TG: TURUN SEKARANG!! KITA KULIAH BARENG!!
Gue: Ta.. ta.. tapiii kan gue...
TG: JANGAN BANYAK ALASAN!!
Tuut... tuuut.... tuut...
Setelah cuci muka dan mengganti pakaian seadanya, gue bergegas ke tempat perjanjian. Sampai disana, gue melihat tiga orang seperti sedang menunggu seseorang,
Gue: Lo kenapa sih?
TG: Lo baru bangun kan? Udah kita berangkat kuliah yuk, nanti telat.
Gue: Bego. Kampus kita kan beda. Gue juga belom beli krudung, cadar, alis gue juga belom disisir, kalo mau masuk kampus lo. Bulu mata gue juga belom di catok.
TG: Siapa yang nyuruh lo masuk kuliah banat hah?!! Lo ke kampus lah, sekalian anterin kita. (banat:perempuan)
Gue: Hari ini gue nggak ada jadwal kuliah. Astaghfriullahaladzim. Lo seenaknya aja nyuruh-nyuruh orang siih.
TG: Eh, masa deh? Hahaha. Yaudah lo pulang gih sana. Hushh... hushhh.... ahahaha.
Gue: KUDA NIL, ORANG UTAN, MACAN TUTUL, TAPIR KAKI EMPAT!!! LO YANG MAKSA GUE DATENG, DAN SEKARANG LO JUGA YANG MAKSA GUE BUAT PULANG. KALO BUKAN SAHABAT, GUE SUNDUL LO!!
**
Yah, semoga aja kedepannya nanti, gue bisa lebih baik lagi. Senggaknya bisa menunaikan kewajiban yang diberikan oleh orangtua dengan maksimal. Semoga.

Ads