Monday, 30 March 2015

Dewa buaya dan air terjun tertinggi

Kalo diinget lagi, saat pertama kali gue menginjakkan kaki di negri Piramid ini.... Hal pertama yang keluar dari mulut gue,
“Eh serius, ini di Mesir? Mampus, beneran sampe gue”
 Berbeda dengan mahasiswa baru lainnya yang memiliki sinar kebahagiaan di matanya, gue nggak. Mata gue memperhatikan bandara dengan seksama, berharap melihat banyak taksi Blue bird yang mangkal di depan bandara, berharap mendengarkan teriakan orang-orang seperti,
“Jadi beda ya, satu purnama di New York dan di Jakarta”
Ternyata usaha itu sia-sia. Yang gue lihat hanya orang-orang yang memiliki ukuran badan lebih besar dari orang asia, bulu mereka yang lebih banyak dan menyembul dari kerah bajunya, dan teriakan-teriakan berbahasa Arab, yang entah apa artinya.
Nggak terasa, sekarang hampir setengah tahun tinggal di negri ini. Perlahan, hati gue membuka pintunya untuk mencintai kamu. Eh, negri ini maksudnya.
Cara paling mudah, menurut gue, untuk mencintai negri baru ini adalah dengan jalan-jalan ke tempat wisatanya. Ini murni versi gue. Berbeda dengan versi mahasiswa-mahasiswi baru lainnya, yaitu dengan cara mengikuti perkuliahan setiap hari, dengar penjelasan dukturoh , mengikuti pengajian bersama Syekh. Yah, mungkin mahasiswa Mesir yang gesrek pemikirannya hanya gue aja. Yang lebih suka nulis di blog, ketimbang mengaji bersama. Lebih terkenal dengan panggilan, ‘Oh, si Fauzi blogspot itu’, bukan yang dikenal dengan, ‘Oh, si Fauzi yang ganteng itu ya, yang sering kuliah, yang rajin ngaji itu. Kenal kok, dia calon menantu idaman banget’. Seandainya aja ada yang bilang seperti itu, hidup gue akan lebih bahagia dan tentunya hidup gue ke depannya pasti lebih asooy.
Walaupun kemarin sempat sakit dan terhampar di kasur selama tiga minggu, tapi ketika acara jalan-jalan bersama almamater, badan gue mendadak lebih baik. Lebih sehat dan lebih bugar. Pokoknya, pala belbie udah nggak pucing lagiiih, pokoknya udah kuat kok buat kibas-kibas rambut.
*Oke, itu tulisan ter-gilani yang pernah gue tulis.
Perjalanan itu membawa kita menuju tempat Qorun, seorang yang kaya raya tapi pelitnya kebangetan.
Entah ini benar tempat si Qorun itu atau bukan, tapi dari penjelasan yang gue dengarkan dari penjaganya, tempat ini adalah singgasana dewa buaya. Buaya darat atau laut ataupun air tawar, entahlah gue juga nggak tau. Dia playboy ataupun setia sama pasangannya, gue juga nggak menanyakan hal itu kepada penjaganya. Lagi pula, memang nggak penting juga sih pertanyaan yang ada di benak gue saat itu.
Yang membuat bangunan ini keren adalah dari arsitektur bangunannya. Bangunan ini ada empat tingkat, dan tingkatan itu menunjukkan perbedaan kasta. Dan yang lebih kerennya lagi, ada satu waktu dimana cahaya matahari bisa masuk bangunan ini sampai tepat di letak kursi sang dewa buaya berada. Tapi saat ini, kursinya sudah berada di museum.

Berangkat ke tempat selanjutnya, yaitu air terjun tertinggi di Mesir. Di perjalanan itu, para pesera mendadak merasa lemas, lesu dan lunglai, dan meminta panitia untuk mengeluarkan jatah makanan. Gue juga termasuk yang memaksa jatah makanan sih. Padahal, kalo boleh jujur,  jarak tempuh dari tempat pertama ke tempat selanjutnya nggak jauh-jauh banget. Yah, mereka memang rapuh.DASAR MANUSIA RAPUH!! LEMAH!! HIIH JIJIK!!
Terlebih temen gue Zul, yang notabennya sekarang sebagai kepala rumah tangga. Ketika di Indo dia bisa merayu istrina agar memasak makanan spesial untuk dirinya. Disini berbeda. Dia yang paling buas ketika acara makan-makan. Jatah makanan gue juga diambil sama dia, dan dengan mudahnya dia berkata, 'Lo sana minta lagi gih, gue laper. Takutnya kurang'.
Semoga suatu saat  Zul bisa kembali ke jalan yang benar. Amin.
Walaupun judulnya air terjun, tetep aja samping-sampingnya padang pasir. Tapi disamping itu, terdapat danau juga sih. Sempet naik perahu juga, dan nyanyi-nyanyi bareng. Bareng orang-orang Mesir. Ketika kita menyanyikan lagu Indonesia, mereka berusaha menyanyi bareng. Walaupun pada akhirnya.... yah, lebih baik mereka diem aja sih, ketimbang ikutan nyanyi. Dan giliran mereka bernyanyi, kita hanya bertepuk tangan. Makin kenceng kita bertepuk tangan, nyanyian mereka lebih heboh, dan jogget mereka juga lebih dahsyat. Padahal diatas perahu kecil, tapi nggak tau diri. Sekalipun gue berteriak ke mereka,




“Bang, nyanyinya udahan. Suara lo jelek. Jangan joget, bang. Kalo jatoh, kita nggak akan mau bantuin loh”
Mereka nggak akan paham juga sih, apa yang gue omongin. Ujungnya, mereka hanya, ‘HA-HA-HA-HI-HI-HI, LUTHUU LUTTHUU’
GELOOO ETAAA TEEEEH. GELOOO!! GELOO!!
Alhamdulillah nggak ada yang sampe jatuh ke danau. Gue rasa, sekalipun orang Mesir jatuh ke danau, bulu-bulu mereka akan membawa mereka ke pinggir danau. Walaupun nggak bisa dibuktikan juga sih ucapan gue ini.
Destinasi terakhir adalah gurun pasir. Sebenernya kita dijanjikan untuk bermain-main pasir, tapi karena berhubung waktunya udah sore banget dan para pesertanya kelelahan karena kebanyakan lompat bebas di air terjun, sehingga hanya foto-foto di sakhranya.
 
Aslinya mah rapuh kalo nggak dikasih makan


Peluk abang adek. Abang lelah...

**
Tiga minggu gue nggak nulis. Yah, karena kemarin lagi nggak enak badan aja sih. Semoga ke depannya bisa nulis lagi. Minimal tiap minggu satu tulisan laah.
SemangART!



Friday, 13 March 2015

Peristiwa di malam Jum'at

Uhuuk...
Minggu ini pekerjaan baru yang gue jalani sebagai mahasiswa perantauan adalah menjaga rumah. Kalo di awal-awal gue sering pergi, dan nggak pernah piket masak sama sekali, di minggu ini gue dipaksa untuk menetap di rumah. Bukan karena di hukum sama anak-anak kamar sih, tapi karena kondisi badan gue yang lagi drop banget.
Dua hari berturut-turut olahraga. Sore hari ikut kompetisi lomba basket, dan besok paginya langsung ikut futsalan bareng temen-temen se-organisasi. Dan kedua-dua nya nggak membantu gue untuk lebih bersinar dan dikenal orang-orang sebagai pemain hebat. Sebaliknya. Gue akan terkenal sebagai pemain bego, yang nggak bisa melempar bola ke ring lawan.
Huffft.
Tapi dengan sakit yang gue alami sekarang, gue jadi lebih tau sih, siapa saja yang memang harus dianggap teman haqiqi dan temen yang hanya sebatas ‘temen’ aja. Disamping itu, sakit ini juga membawa kebahagian bagi temen-temen kamar gue. Karena dengan ini, kulkas rumah mempunyai stock buah-buahan lebih ber-varian ketimbang hari-hari sebelumnya. Temen-temen gue memang bener syeetan. Bahagia diatas penyakit yang gue derita. Bahkan ada yang bilang,
“Ji, sering-sering sakit aja ya!”
BANGCHATT!!
Tapi dengan begini, gue bisa lebih mengenal temen-temen rumah sih.
Hari libur kuliah untuk mahasiswa Mesir adalah hari Jum’at. Sama halnya ketika gue di pondok dulu. Jadi ibaratnya, malam Jum’at itu waktunya untuk santai-santai dan kumpul-kumpul bareng. Karena kondisi gue yang susah untuk keluar kamar, jadilah gue penjaga rumah. Sedangkan temen-temen gue yang lain sibuk pergi. Pokoknya, nggak ada yang di rumah. Padahal sejatinya mereka juga sama aja sih, makhluk tuna asmara yang nggak merasakan kasih sayang. Tapi fikiran gue itu salah.
“Lo abis darimana, do? Lama banget” kata gue ke Ridho.
“Tadi kan gue keluar tuh. Eh ketemu Lupy sama Wia, diajak minum jus dulu. Makanya lama”
“OH, JADI KAMU LEBIH MILIH MEREKA KETIMBANG AKUUH? KAMU TEGAAA... TEGAAA!!” oke, ini asli lebay.
Semangat makan gue mulai hilang. Makanan yang gue pesen ternyata udah dingin, nggak ada sama sekali panas-panasnya. Walaupun nggak panas, tetep dimakan-makan juga sih. Kayaknya temen rumah memang bahagia, kalo gue sakit lama. Yah, satu-satunya cara untuk menghadapi setan, memang harus memperbanyak istighfar. Astagfirullah.
Ketika menikmati makanan yang terlanjur dingin ini, Ridho menggelar kasurnya disamping laptop. Kemudian memanggil Ilyas.
“Ilyas, ayook cepetan”
“Lo mau ngapain?” kata gue
“Sunnah rosul. Kan malem Jum’at, ji”
“DASAAAR SETAAAN!! PANTESAN GUE SAKIT, KALO RUMAH GUE KAYAK GINI SEMUA PENGHUNINYA” kata gue dalam hati.
“Mulainya pas jam sebelas loh, do. Nyalain lagunya dong”
“Iya”
Alhamdulillah
Ternyata dugaan gue, kalo mereka ingin melakukan hal yang tidak senonoh ternyata salah. Mereka sibuk mijat-memijat dengan durasi waktu yang telah mereka sepakati.
Jadi, dihadapan gue sekarang, ada seorang pria tidur diatas kasur lipat, dan satu pria lagi sedang meremas-remas paha orang yang tidur diatas kasur itu. Disampingnya ada sebuah laptop yang memutar lagu dangdut berjudul Aku mah apa atuh. Dan ketika mijat-memijat, mereka berdua sibuk membahas tentang goyang dribble.
“Wah, gue kecepetan mijetnya”
“Pelan-pelan aja makanya. Nikmatin”
“Iya. Udah ente diem aja”
“Oh iya, ente tau nggak orang yang goyang dribble itu, jantungnya bisa mendadak langsung berenti loh”
“Seriusan?”
“Iya loh, jadi nanti blaa...blaaa...blaa”
“Yaa Allah, bukakan pintu hati mereka. Berikan mereka hidayahMu” kata gue dalam hati.

Sunday, 8 March 2015

Pertandingan tak terlupakan

Cuaca di Mesir sekarang ini, memasuki cuaca yang aneh. Cuacanya labil. Ketika siang hari, udaranya panas. Debunya juga menambah panas ketika di siang hari. Yang paling harus dikasihani adalah para makhluk halus.Para perempuan. Dari rumah, udah tampil maksimal, make-up dari pagi, pake bedak ber-kilo-kilo. Eh pas keluar rumah, bedaknya berubah jadi debu. Yang tadinya putih, menjadi buluk. Kasian.
Dan ketika malam, cuacanya berubah drastis. Menjadi dingin. Padahal musim dinginnya udah lewat. Emang cuacanya aja labil. Sama kayak temen-temen gue yang lainnya. Pada labil. Jauh-jauh pergi ke Mesir, masih aja labil. Bego.
Gue juga masih sering sih.
Mahasiswa Mesir sekarang, sedang disibukkan dengan kompetisi olahraga. Entah sepak bola, maupun basket. Pesertanya dari setiap kedaerahan. Kebetulan gue masuk di keluarga besar daerah Jakarta. Dan ke-keluarga Jakarta ini, mempunyai musuh bebuyutan yaitu keluarga besar Jawa barat. The Jak versus Viking gitu. Gue juga nggak terlalu mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia sih. Yang lebih gue tahu, hanyalah brantemnya ketimbang main bolanya.
Adapun motto kekeluargaan gue, ‘Kalah menang, yang penting ribut’. Horor. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang nggak pernah ribut walaupun pernah kalah. Kalo pun bikin keributan, yang di takutkan adalah kalo sampai warga aslinya turun tangan. Bukan turun tangan juga sih, takutnya kalo orang Mesir hidungnya tambah panjang, kemudian kita para pelajar Indonesia, di tampar sama hidungnya.
Orang Mesir: Ta’al yaa walaa (WOII, SINI LO!!)
Plaak... plaak... plaaak.... plaaakk
Mahasiswa Indonesia:  Aww... awww.... aww... aww....
Anti klimaks.
Untungnya, ini hanya terjadi di lapangan aja, nggak sampai di kegiatan sehari-hari. Kasian aja gitu, kalo sampe ada cewe khilaf dari keluarga Jawa barat yang nge-fans sama gue gitu, terus gara-gara pertengkaran ke keluargaan itu, dia nggak bisa deket-deket lagi sama gue. Kan kasian.
Yah, walaupun sampai sekarang belum ada cewe khilaf yang nge-fans sama gue juga sih.
Di turnamen ini, gue ikut turnamen basket. Oke, ini sebuah kebetulan. Murni kebetulan. Sejatinya, karena kebanyakan para pemain-pemain basket hebat dari Jakarta telah pulang ke Indonesia dan nggak pulang ke Mesir lagi, makanya gue bisa ikut main di turnamen ini.
Dan disini lah gue. Di acara turnamen basket, dengan para peserta orang-orang hebat, sedangkan gue hanya lah manusia yang tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam memainkan bola basket.
“Yang gue sebut tadi, main pertama ya. Yang belum disebut, mainnya nanti. Kita gantian-gantian kok. Tenang aja” kata senior gue.
“Sip”
“Sebelum kita mulai, kita doa dulu. Al-fatihah...
“Oh iya satu lagi. Mereka ini mainnya cepet dan kasar. Hati-hati kena sikut mereka. Nanti mainnya santai aja ya”
Anying. Belum main, udah dikasih kabar nggak gembira kayak gini. Ngomongnya santai banget lagi.
“KPJ.... KALAH MENANG BRANTEM!!”
“WOOOII!!!”
Dan tentu saja, nama gue nggak disebut untuk bermain pertama kali. Sekarang gue hanya menjadi pemain pengganti, sekaligus merangkap menjadi suporter. Walaupun begitu, gue seneng aja sih jadi suporter. Bisa teriak-teriak.
Attack woiii!!!”
“Langsung defanse, mereka langsung serangan balik itu, coyy!!”
“Bang, es teh duaa!!”
Kalo liat pertandingan kayak gini, entah kenapa gue gemes sendiri sama pemain-pemainnya. Ada yang nggak mau lari, ada yang hanya ikut menyerang ke ring musuh dan nggak mau balik lagi, ada yang hanya minta bola aja. Ada? Adaa. Emm... itu ciri-ciri gue sih kalo main.
Dan ketika quarter kedua mau dimulai,
“Ji, lo main. Lo under ring aja ya nanti. Jangan terlalu maju kedepan”
“Tenang. Gue juga nggak mau banyak lari-lari. Sadar diri, badan gue susah diajak lari” kata gue dalem hati.
Pertandingan pun di mulai.
“Zii, lo maju ke depan. Ayo lari-lari!!” kata temen gue yang merangkup sebagai pelatih. Gadungan.
“Ayoo... Attack!!”
“Ji, lo tunggu di under ring musuh. Cepet larii!!”
Syetan!! Tadi kan gue disuruh deffanse. Kenapa sekarang malah disuruh maju!! ARRGGHH!!
***
Pertandingan diakhiri dengan kemenangan keluarga Jakarta, dengan skor yang lumayan memuaskan. Gue sendiri telah memberi kontribusi yang cukup baik. Membuat pelanggaran lima kali. Three second di garis pertahanan musuh dua kali. Nggak pernah sekali pun melempar bola ke ring musuh. Alhamdulillah, nggak memasukkan bola ke ring sendiri juga. Bisa dibilang permainan perdana gue ini gagal. GAGAL TOTAL.
BANGSYHAAAD
....
Yah, semoga permainan selanjutnya gue bisa main lebih baik dari pertandingan pertama. Semoga. Se-nggaknya, gue bisa lempar bola ke ring musuh. Walaupun sekali. Biar nggak keliatan, bego-bego banget.

Sunday, 1 March 2015

Jangan nyanyi woyy!!

Salah satu nikmatnya jadi mahasiswa Mesir, adalah dengan mudahnya kita belajar ilmu langsung dari para ahlinya. Biasa disebut, pengajian bersama syekh. Sebenernya ini nggak diwajibkan untuk para mahasiswa juga sih, hanya bagi yang minat aja. Kalo nggak minat, yaa nggak usah dateng. Tapi apa gunanya mahasiswa yang rela jauh pergi ke negara orang lain, kalo pada akhirnya tidur-tiduran, main PES, main hape? Apa? Hah? Apa? Begal? Goyang dumang? Hah? Goyang basket? Hah? Hah? Apa? JAWAB?!!
Ini kenapa ngaco gini, nyet.
Okeh, fokus.
Sebenernya gue neubie juga sih, tentang ngaji-ngaji sama syekh.
Gue pribadi, baru-baru ini sadarnya untuk mengikuti pengajian bersama syekh. Dulunya paling rajin nonton film, main PES, terakhir ini download DOTA2. Walaupun pada akhirnya, gue nggak mainin juga gamenya. Tapi karena sekarang gue bersama dengan orang-orang  yang mempunyai jiwa semangat untuk mengikuti pengajian, makanya gue terbawa aura positif mereka. Bahkan terkadang, karena mereka selalu bersemangat untuk mengaji, gue sering memberikan mereka aura negatif.
“Rahmat, Ashrof, Zaki coba dengerin gue. Kalian jangan kebanyakan belajar ya, nanti masuk neraka loh”
“Kalo keseringan belajar, nanti bikin kalian dapet nilai besar. Terus nanti jadi sombong deh. Ujungnya bakalan masuk neraka. Tuh, serem kan?”
Tiap kali gue berkata itu, yang mereka lakukan hanya berdzikir, agar gue selalu diberi petunjuk. Terkadang sampe mau nge-ruqyahin gue berjamaah. Dan alhamdulillah, gue bisa menghindar.
Tapi, di pengajian waktu itu, terdengar suara orang bernyanyi di tengah penjelasan syekh.
Jadi, sabtu sore itu, jadwal gue mengaji pelajaran Fiqih. Tentang sholat. Walaupun kedengarannya pelajaran gampang, sebenernya nggak segampang apa yang difikirkan. Mulai dari tata cara sholat yang benar itu gimana, yang imam itu sebenernya cowo atau cewe, kenapa cowo itu selalu salah, sedangkan cewe selalu benar. Yang terakhir itu boong deng.
Setiap ada pengajian seperti ini, pasti banyak ditemukan banyak hape yang tergeletak diatas meja syekh. Bukan karena disita oleh syekhnya, akan tetapi semua itu karena mahasiswa-mahasiswa sini merekam apa yang dibicarakan oleh syekh dengan hapenya. Rajin banget ya mereka? Emang aura yang gue dan mereka miliki, berbeda jauh. Gue pribadi sih, lebih suka nulis apa yang dibicarakan oleh syekh, ketimbang ngerekam suara beliau. Toh, sekalipun gue masih belum paham, gue bisa bertanya sama Rahmat, temen se-flat gue yang rajin ngaji, ataupun gue nonton ulang pengajian syekhnya di Youtube. Biasanya sih diupload.
Begitu juga dengan salah satu temen gue, Asraf. Dia sibuk memperhatikan bukunya dan terkadang mencatat. Padahal ketika itu, syekhnya belum menerangkan suatu persoalan. Rajin sama sotoy, terkadang memang beda tipis. Sama halnya temen-temen gue yang lainnya, dia juga merekam perkataan syekh menggunakan hapenya.
“Srof, ini lagi ngerekam suaranya syekh?”
“Iya”
“Oh”
Kau harus bisa... bisaa... berlapang dada. Karena semua tak lagi sama. Nanana, gue lupa liriknya. Yang penting nyanyi, nanana.... kok gue ganteng amat... aa.. aa...
“.....”
“Suara gue merdu ya, srof? Sampe diem gitu lo. Aaah, jadi maluu gue” kata gue, sambil menepuk bahu Asrof.
“Ji”
“Iya, apaan?”
“LO NYANYI LAGI DIDEPAN REKAMAN GUE, GUE GAMPAR MUKA LO. ITU NAFAS BAUNYA KAYAK NAGA. JANGAN NYANYI LAGI LO!!”
“Lah, nafas gue wangi kali. Wangi lemon. Dih sotoy. Jadi cowo sensian. PMS ye lo?” kata gue. Dalam hati.

Walaupun di tengah pengajian ada hal nista semacam itu, tapi nggak sampai kedengaran syekhnya kok. Percuma aja dulu ketika gue di pondok nakal, kalo nggak punya akal untuk mengatasi hal kayak gini. Semoga ketika pengajian di minggu depan gue nggak nyanyi lagi. Amin.