Wednesday, 25 February 2015

Temanku ternyata

Kalo di kelompokkan, mahasiswa disini tinggal berdasarkan tiga kelompok. Pertama, hidup bersama temen-temen se-almamater. Kedua, hidup bersama orang-orang yang satu daerah. Dan yang terakhir, bedasarkan mediator yang membawanya dari Indonesia menuju Mesir.
Kebetulan gue tinggal bareng temen-temen almamater.

Yang dulunya senior di pondok, sekarang jadi senior disini. Dulunya bagian pengurus masjid, yang tugasnya mukulin santri supaya maju ke shaf depan, sekarang jadi senior di kampus. Terkadang ketika gue memandang wajah senior gue ketika tidur,
“Ini manusia, dulu mukul gue pake sajadah supaya maju ke shaf paling depan. Kalo sekarang gue lempar mukanya pake setrika an, kira-kira dosa nggak ya?”
Ada empat mahasiswa baru lain, yang tinggal serumah bareng gue. Dan diantara mereka, hanya satu orang yang rajin kuliah maupun belajar langsung dari Syekh. Sisanya, nggak terlalu semangat untuk mengerjakan hal itu. Termasuk gue juga sih. Yah, namanya juga manusia, pasti punya minat yang beda.
Salah satu makhluk kamar gue bernama, Rifki. Dia sering salah tingkah dan selalu nggak mau ngalah. Terlebih di depan cewe. Manusia ini selalu berusaha hadir ketika acara futsalan. Walaupun gue sendiri, nggak mengharapkan kedatangan dia juga sih. Alasannya? Merugikan tim.
“Dia masuk tim lo aja ya?”
“Siapa?”
“Rifki”
“Eh, gue pulang duluan ya. Mainnya besok-besok aja deh. Pas Rifki nggak ada”
Kasian. Nggak ada yang mau nerima.
Dari sekian lamanya gue main futsal, baru sekarang gue menemukan pemain futsal yang heboh. Heboh ketika merebut bola dari timnya sendiri, bukan dari tim musuh. Kaki temennya ditendang-tendang, kemudian bolanya ditendang ke gawang sendiri. Cerdas. Yah, semoga suatu saat dia berubah. Semoga.
Amin.
Temen gue yang lainnya bernama Rahmat. Makhluk ini yang rajin ke masjid, ke kampus, dan mukanya hampir selalu hadir ketika pengajian bareng Syekh. Disamping itu, dia mempunyai suara bagus. Dia Qori. Tapi, cara dia melatih suaranya yang terkadang bikin jantungan.
Jadi, ketika rumah sunyi senyap, hanya suara dari satu laptop yang memutarkan film saja, tiba-tiba Rahmat teriak.
“AAARGHHH!!!”
“HAAAAA... AAAA”
“WWAAAA!!!”
Semua mata tertuju ke Rahmat.
“MAT, LO KENAPA?? LO KESURUPAN?? UDAH MINUM OBAT?!!”

"....."

"RAHMAAAT, JAWAB!!"
“Nggak. Ini lagi praktek video sholawatan nih. Heheh”
Syeeetan
Dua orang lainnya, Rofiq dan Irul, walaupun nggak semangat seperti Rahmat dalam urusan belajar, tetapi mereka semangat dibidang masak-memasak. 
Baru disini, gue dituntut untuk bisa masak. Walaupun sampai sekarang masakan gue hanya sebatas telor cabe-cabean, senggaknya masih layak untuk dimakan. Walaupun setelahnya gue nggak tau, mereka keracunan atau nggak. Senggaknya tugas gue sebagai piket masak, telah terselesaikan.
Mereka jarang masak telor seperti itu. Mereka lebih suka masak cumi, ikan maupun ayam. Kalo nggak ada, ya masak telor-telor juga sih. Kalo nggak ada, ya pilihan terakhir. Masak air di panci, ceburin mie.
Yah, semoga semuanya selalu ingat tujuan utama, belajar. Bukan semangat masak, maupun semangat tendang-tendang kaki orang.

Semoga.

Tuesday, 17 February 2015

Perjalanan berat yang ada 'plus-plus'nya

Nggak terasa udah empat bulan tinggal di negri orang. Dan selama itu, gue masih belum juga menjiwai negri ini dengan sepenuhnya. Masih ada yang kurang.
Seperti orang tersesat di keramian.
Layaknya daun yang jatuh terhempas angin.
Bicara tentang angin, gue jadi inget kejadian kemarin.
Pagi hari, gue diajak Ria untuk mengambil barang titipan di rumah temennya. Namanya Wardah. Kayak kosmetik gitu lah namanya. Sebenernya berat sih, untuk pergi keluar rumah. Walaupun sekarang sudah memasuki akhir musim dingin, tapi tetep aja dingin kalo ke luar rumah.
Hal yang biasa dilakukan oleh mahasiswa ketika musim dingin adalah bangun-makan-main PES-tidur-ulangi. Indah. Ketimbang gue harus keluar rumah, dan merasakan dingin yang menusuk tulang.
Di Mesir, gue baru tau, bahwa keluar rumah ketika musim dingin itu nggak seperti hari-hari biasanya. Ada alat khusus yang harus digunakan ketika musim dingin.
Namanya celana balet. Atau disebut celana monyet.
Anak gaul, bilangnya sih celana gemes.
Sebenernya jijik sih, liat cowo-cowo pake celana kayak gitu. Badan gede, bulu kumis sama jenggot sambung-sambung menjadi satu, pake celana gemes. Hiih. Hawa nafsu gue, selalu timbul ketika melihat mereka memakai celana gemes seperti itu. Kayak terong-terongan minta di gampar. Tapi, cara untuk mengurangi dingin memang harus pake celana gemes gitu sih. Bodo amat lah jadi terong cabe-cabean gitu. Senggaknya gue jadi yang versi syar’i. *apasih
Perjalanan menuju rumah Wardah pun dimulai.
Kita janjian di deket rumah gue. Lebih tepatnya, gue dijemput sama Ria sih. Rutinitas pertama yang dilakukan adalah menunggu bis. Hal yang paling membosankan sebenernya. Terlebih cuacanya sama sekali nggak mendukung.
Sejak tadi malem anginnya memang nggak bersahabat. Jendela rumah selalu bunyi gara-gara angin. Dan sekarang, gue merasakannya langsung. Angin ini memang beda dari biasanya. Entah ini angin atau pun hujan, intinya selurih kota Kairo berisikan debu semua.
Seandainya aja, beneran ada cabe-cabean di Mesir. Gue yakin, mereka nggak perlu repot-repot pake bedak mahal sebelum pergi keluar rumah. Tinggal boncengan bertiga ataupun berempat, kemudian keluar rumah, dan.. Voila mereka pun menjadi kue cubit.
Oke serius.
Sampainya di terminal tempat janjian, Ria maupun gue sama sekali nggak ada yang mengetahui dimana letak rumah Wardah si kosmetik ini. Sebenernya, dia bukan mahasiswi sini sih. Dia ini  mahasiswi Maroko yang lagi liburan dan tinggal bareng kakak nya yang kuliah disini. Kebetulan, dia ini temen serumahnya Sarah, temen gue di Maroko, yang dititipin barang untuk diberika ke gue dan Ria.
Dari kejauhan gue melihat perempuan bercadar. Ehm... bukan cadar sih, tapi masker. Iya, dia pake masker motor. Ternyata dia anak geng motor. Motor Ninja.
Yaa kali dah, nyet
‘Tomat ya? Temennya Sarah kan?’
‘Iya, gue temennya Sarah. Tapi nama gue Fauzi. Bukan Tomat’
‘Udah, enakan dipanggil TOMAT. Fauzi kecakepan buat lo. Hahah’
SETAN
Gini nih yang gue nggak suka. Gara-gara temen di pondok dulu, yang membuat gue terkenal dengan sebutan Tomat. Kalo temen-temen pondok sih, masih fine kalo manggil gue dengan sebutan Tomat. Tapi dia? DIA KAN BUKAN TEMEN PONDOK GUE *gigittembok. Orangtua gue aja sampai korban dua kambing, untuk menamai anaknya se-keren ini. Lah, dia se enak jidatnya aja gonta-ganti nama. Anyiiing.
 Selama perjalanan menuju rumah Wardah hujan debu masih aja turun. Make up nya Ria juga berubah menjadi kecoklatan. Perlahan mukanya berubah, yang tadinya mirip kue mochi, sekarang menjadi kue onde-onde. Alhamdulillah, gue bisa jaga hawa nafsu untuk nggak gigit kepalanya. Maacih yaa owooh.
Di rumahnya Wardah, Ria dikasih barang titipan dari Sarah. Titipan gue? Udah. Titipan Sarah untuk gue adalah sebuah buku novel Prancis yang harus gue terjemahin, dan nantinya akan didiskusiin ketika di Jakarta nanti. Dan sebuah gantungan kunci atas nama, ‘Tomato’.  

Yah, temen-temen gue memang jahat semua. Tapi gue yakin kok, di dalam lubuk hati mereka yang paling dalem, mereka itu baik.
.
.
.
.
Semoga.

Ini alasannya kenapa gue dipanggil dengan sebutan itu klik.

Sunday, 8 February 2015

Suara aneh di pagi hari

Semenjak kuliah di Mesir, perlahan dan pasti, gue mulai suka nonton film horor dan acara uji nyali.
Rasa suka gue ini didasari keyakinan gue karena tidak mungkin bertemu dengan para demit-demit Indonesia di negri ini. Kota ini terlalu banyak masjid, sehingga setan nggak akan berani singgah disini. Nggak mungkin juga, para kuntilanak mangkal di pohon kurma. Nggak mungkin. Batang pohon kurma tajem-tajem gitu. Bukannya ketawa-ketawa, tapi kuntilanaknya jerit-jerit.
‘AWW...’
‘AWW....'
'SANAA...'

'SANAA..'

Kuntilanak salah gaul.

Gue kira, suara aneh itu hanya berasal dari makhluk astral. Ternyata di Mesir ada juga.
Kejadian aneh ini terjadi di kantor sekertariat almamater gue.
Malam itu, gue diajak main game CTR bareng temen gue. Namanya Arsyada. Sebelumnya, gue nggak tertarik main game ini. Game yang sempet booming ketika zaman gue TK dulu. Zaman dimana, waktu pagi gue habiskan di rental PS, ketimbang ikutan ngaji di TPA masjid deket rumah.

Masa-masa kelam.
Perlahan, jiwa gue mulai terusik dengan teriakan temen-temen gue yang sedang bermain. Temen-temen gue yang lain, telah sukses diracuni pikirannya oleh Arsyada untuk main game gampangan itu. Mereka mulai teriak-teriak sendiri ketika main game. Kayak lagi kesurupan.
‘HMMMM’
‘AARRGHHH!!!’
‘ARGGHHHH’
‘MANA DARAHH SUCIII?!!’

Njiiir, kesurupan vampir.
Permainan ini adalah permainan favorit ketika zaman gue dulu. Anak sembilan puluhan, pasti tau game ini. Yang membuat game ini seru dan membuat tiap orang teriak-teriak kesetanan adalah kita bisa mendapatkan hadiah. Mulai dari roket, uba-uba(entah namanya apa, yang penting sering dipanggil kayak gini), bom, TNT, dan banyak lainnya.
Ketika asyik memainkan game ini, perlahan gue mendengar suara. Suaranya nggak ada enak-enaknya. Sampai sekarang pun, gue masih jijik denger suara itu.

Suara itu berbunyi,
‘Arsyadaa, hayo bangun’
‘Udah pagi, nanti telat’
‘Arsyadaaa...’
‘Hayo bangung-bangun’

'Cari darah sana..'
Ternyata itu alarm Arsyada. Alarm dengan suara rekamannya sendiri. Gue tau dia jomblo, tapi kalo sampe segitunya... kayaknya udah parah. Gue iba. Tapi yang gue lakukan, kebalikan dari itu.

'MATIIN ALARM LO!! GUE GAMPAR NIH!! CEPETAN!!' Kata gue dalem hati. 
Alarm itu bunyi berkali-kali, dan nggak ada yang mau mematikannya. Bukan nggak ada yang mau, tapi semuanya merasa jijik. Jijik karena mendengarkan suara rekaman seorang cowo, yang ber isi kan suara seperti itu.

Ternyata ada yang kondisinya lebih parah daripada gue.
Yaa Rabb, tunjukan hidayahMu kepada teman hamba. Amin.

Sunday, 1 February 2015

Hal yang gue takutkan, ketika kuliah di Mesir

Terkadang, yang gue takutkan untuk kuliah di luar negri itu adalah lingkungan pertemanannya. Salah satunya sih.
Kayaknya tulisan kali ini, bakalan penuh dengan curhatan gue deh.
Kalo jujur sama diri sendiri, gue takut kuliah di luar negri. Takut, apa yang diharapkan oleh orang lain, nggak sesuai dengan kenyatannya. Yang orang lain tau, adalah gue kuliah di Mesir, negri yang memiliki sungai Nil, negri yang memiliki bukit Sinai, tempat nabi Musa menerima wahyu, belajar ilmu agama langsung dengan para ahli-ahlinya, dan sebagainya. Intinya, orang yang belajar di Mesir ataupun negri timur tengah lainnya, ilmu agamanya dahsyat. Padahal sejatinya, nggak segampang itu. Nggak segampang om Tukul arwana, nyuruh penontonnya bilang,
‘EAA.. EAAA... EAA’
‘EAA... EAA.. EAAA’
‘EAAA.. EAAA’
Terus aja ngomong gitu,sampe onta minum kolak.
Disini, gue harus baca tulisan arab lagi, kejar-kejaran sama bis delapan puluh coret untuk bisa sampai kampus, selalu pegang kantong, karena disini banyak copet, belum lagi ngobrol sama orang arab sini yang bikin garuk-garuk idung.
Idung orang lain.
Jarang dari mereka yang berbicara bahasa arab fushah. Padahal yang gue pelajari dari dulu, sampai saat ini adalah bahasa arab fushah. Tapi kenyataannya? Mereka berbicara dengan bahasa gaul.
Kebanyakan sih, setiap gue ngobrol sama orang arab, yang terjadi adalah misunderstanding.
Kaya gini misalnya,
‘Bang, makanan saya, semuanya habis berapa ya?’
‘Itu Budi. Kalo ini idung. Tuh, gede kan?’
Nggak nyambung abiiis.
LO TUH MAU PAMER, ATAU NGAJAK BRANTEM, NJIRRR!!!
Belum lagi, dengan temen-temen disini.
Mungkin karena dulu gue pernah perhatian dan di sia-sia kan, makanya gue nggak mau terbuka lagi. Agak lebay sih, tapi emang gue pernah ngerasain kayak gitu.
Di saat gue berusaha untuk care sama orang lain, ikhlas ngebantu ketika dia lagi kesusahan, ujungnya ditinggal. Disaat ada butuhnya, dia akan singgah di kehidupan gue. Tapi, ketika dia bahagia dengan kehidupannya, dia akan lupa dengan teman-temannya. Kan setan.
Saat ini, ada empat orang yang deket sama gue. Mereka semua, cewe. Tapi sampai saat ini juga, gue masih menganggap mereka kayak cowo semua sih. Ada kalanya, gue beranggapan bahwa mereka adalah sahabat gue. Tapi terkadang juga, gue berfikiran,
‘Emangnya mereka nganggep gue sahabatnya juga?’
Temen gue yang dulu pernah deket sama gue, saat ini juga bersikap biasa-biasa aja. Memang dia duluan sih yang berangkat ke Mesir, dibandingkan gue. Ketika masih di Jakarta, gue selalu berfikir,
‘Di Jakarta, gue deket sama dia. Masa di Mesir berubah? Nggak mungkin lah’
Kenyatannya? Dia beneran berubah.
Setan.
Nggak berubah seratus persen juga sih, tapi tetep aja beda. Nggak bisa dipaksain juga sih. Kehidupan kan, nggak selalu bersama orang-orang lama. Pasti selalu bertemu dengan hal-hal baru, begitu juga dengan orang-orang baru. Gue nya aja yang bego, masih terjebak masa lalu. Terjebak dengan zona nyaman, dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru.
Semoga kedepannya gue bisa lebih baik.
Dan semoga, empat orang cewe-cewe yang kayak cowo itu, bisa selalu tersenyum setiap harinya. Ada ataupun tanpa kehadiran gue.
Laah, emang gue siapanya mereka, nyeett?!!
 Itu aja sih yang mau gue tulis. Udah jauh lebih lega sih sekarang.

Siniih peluuk...