Wednesday, 28 October 2015

Renungan di malam hari

Sekarang ini, gue sedang duduk tepat di tempat hits para mahasiswa Indonesia yang, beruntung, kuliah di Mesir. Tempatnya sederhana kok. Hanya toko yang menjualkan beraneka ragam jus dari buah-buahan. Tapi entah kenapa, tempat ini menjadi salah satu tempat ternyaman untuk ketawa bareng teman-teman, kumpul-kumpul kepanitiaan, sampai tempat untuk menyendiri memikirkan hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum.
Ditemani satu gelas jus alpukat plus eskrim coklat yang belum dicicipi sama sekali, gue sedang duduk sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangan. Pandangan gue tertuju ke langit, tanpa bintang, hanya bulan yang dilewati oleh awan-awan. Apa hidup gue sama halnya seperti bulan itu ya? Sendiri, tanpa ditemani oleh bintang-bintang. Sendiri, dan hanya dilewati oleh awan-awan yang se-enaknya saja jalan. ‘Haaaah… kenapa hidup gue gini amat sih?
Terkadang gue benci dengan salah satu kebiasaan yang gue miliki. Membuat orang lain untuk tersenyum kembali, membuat orang lain melupakan kesedihannya sejenak, membuat orang lain agar tidak berburuk sangka terhadap orang lain. Kayak motivator gitu ya? Padahal sejatinya sih, gue dan orang itu berada diposisi yang sama. Sama-sama memiliki permasalahan. Dan bodohnya, ketika telah selesai melakukan hal itu terhadap orang lain, tanpa disadari gue seolah meminta balasan dari mereka. Bego banget kan? Seharusnya kita hanya berharap kepada Allah saja bukan?
Hampir sejam, gue duduk disini. Gue mencopot headset yang menggantung ditelinga. Sejam ini ditemani oleh lagu-lagu Indie yang entah apa nama judul dan bandnya. Gue terlalu tidak peduli dengan judul lagu-lagu maupun band yang terlist didalam hape gue. Selama dentuman drum, petikan gitar, dan liriknya bagus akan gue download kemudian disimpan di hape.
Gue jadi ingat dengan film Paper Town. Film yang melatarbelakangi tentang kisah persahabatan, kekaguman dalam diam, dan tentang cinta. Entah kenapa gue kepedean, merasa bahwa kisah si cowo pemeran utama ini ada persamaannya dengan hidup gue. Bedanya, dia punya sahabat yang meskipun sudah mempunyai kekasih, tapi masih bisa diajak gila bareng. Dia punya seorang gadis yang ditaksirnya dari masa kecil sampai sekolah menengah atas. Dia… kayaknya, perbedaannya banyak sih. Nggak usah dilanjutin ya.
Banyak sih, pelajaran yang bisa gue ambil. Contohnya, ketika mendapatkan suatu masalah yang sekiranya susah untuk dihadapi oleh seorang diri, coba berbagi ke teman yang dipercaya. Dengan begitu, mungkin saja bisa ditemukan jalan tengahnya. Syukur-syukur orang itu mau menolong kita. Masalahnya, gue belum nemu sih. Nggak tau deh, seperti kekurangan rasa kepercayaan terhadap orang lain. Apa karena kenangan buruk di masa lalu masih teringat sampai sekarang? Hm… bisa jadi sih.
Seorang cowo harus memiliki planning untuk masa depannya. Entah itu lima tahun atau beberapa tahun kedepan. Gue udah punya kok, tinggal actionnya aja. Semoga bisa. Doain ya, gaes. Kemudian pelajaran, tentang persoalan menganggumi orang lain. Nggak ada salahnya untuk menganggumi orang lain, sekarang gue juga seperti itu juga kok. Tapi ketahuilah, bahwa orang yang dikagumi itu bukan segalanya. Tetap mandiri, dan bapernya dikurangi, toh orang yang kita kagumi itu tidak tahu dan meminta untuk dikagumi, bukan? Dia hanyalah seorang gadis, sama halnya seperti yang lain.
Di saat sudah tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya untuk menjaga suatu cerita, dan seorang gadis itu hanyalah gadis biasa, yang sama seperti dengan gadis-gadis lainnya, kenapa nggak berharap kepadaNya. Toh semua yang ada didunia ini milikNya, bukan?
Kemarin sempet baca jawaban di ask.fm/bramantyo17 jawabannya seperti ini,
Gw butuh ketemu sm pencipta gw 5-6x dalam sehari. Gw butuh jadi cengeng 5x10 menit sehari setelah 24 jam sok tangguh di hadapan dunia.
Dari sekian banyak jawaban di ask.fm nya, yang ini sih yang paling bagus menurut gue. Jawaban-jawaban lainnya agak-agak semi-sesat soalnya.
 Jus alpukat pesanan gue telah habis, dan sepertinya renungan malam ini pun telah usai. Sekarang gue ingin bergegas pulang, menutup diri dengan selimut tebal. Yah, musim dingin telah dimulai.  Mesir sudah dua hari di guyur hujan, bahagia sih. Jarang-jarang hujan turun di negri ini.
Udah dulu ya.

Monday, 12 October 2015

Derita Mahasiswa luar negri

Selain faktor bahasa, perbedaan yang paling jelas antara mahasiswa yang kuliah dalam negri dan luar negri adalah mengurusi perpanjangan visa. Beruntung gue tinggal di zaman sekarang, dari cerita-cerita yang gue dengar dari orang-orang yang kuliah disini terdahulu, mereka rela untuk tidur di depan kantor imigrasi sehari sebelumnya, agar bisa menyelesaikan urusannya dengan cepat. Bagi orang-orang yang datang setelah sholat shubuh, kemungkinan besar tidak akan bisa mengurusi perpanjangan visa di hari itu. Sadis ya?
Tapi yang lebih nyesek sih, ketika seseorang yang sudah rela tidur di depan kantor imigrasi, kemudian ketika tiba gilirannya, kemudian dengan santainya sang petugas mengatakan,
Bukroh yaa walad”
Artinya,
“Besok aja ya, nak. Sekarang  udah azan nih. Pucing pala belbie. Mau bobo cantik dulu”
Padahal antriannya melebihi antrian pembagian sembako. Dan ketika sudah berhadapan dengan petugasnya, disuruh dateng besok. Kambing banget kan? Minta di lemparin tombak kan?
Alhamdulilllah, kayaknya zaman gue saat ini nggak perlu sampai bikin kemah juga sih, untuk memperpanjang visa. Tapi tetep sih harus dateng pagi-pagi, kalo nggak mau di gituin sama petugasnya.
**
Jadi, senin pagi kemarin, gue berencana untuk memperpanjang masa visa. Walaupun sebelumnya gue nggak bisa tidur, tapi gue udah bertekad agar bisa menyelesaikannya di hari itu juga. Kalo udah selesai, gue yakin akan bisa tidur lebih pulas dan lebih damai. Tapi terkadang sebelum mau tidur, gue jadi ke-inget dengan si ‘dia’. “Kamu disana baik-baik aja kan? Udah nggak sering ngupil lagi kan? Kalo ada yang godain kamu, kamu pukul aja. Pake meja belajar ya”.
Oke, FOKUS!!

Berhubung kantor imigrasi letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga gue berangkat lumayan pagi. Jam setengah tujuh, gue sudah selesai mandi. Ini rekor baru. Iya, rekor baru. Karena biasanya di jam-jam ini, gue akan ditemukan tergeletak diatas kasur dengan kondisi mata tertutup, tapi tetep unyu kok.
Hari itu gue ditemani oleh salah satu teman gue yang cukup senior, Hamdi. Entah niat dia kesini untuk belajar ilmu agama atau ilmu tata boga, yang jelas dia lebih memilih masak-memasak. Tapi gue bersyukur sih, karena ada yang suka buat teh di pagi hari. Dapur rumah terlihat lebih rapi, dan terkadang banyak makanan enak yang tersedia diatas meja. Meskipun makanan itu belum terjamin kebersihannya sih ya. Tapi setidaknya bisa mengenyangkan perut lah. Kemungkinan buruknya, yaah paling hanya kejang-kejang sebentar. Alhamdulillah, belum sampai ada yang kejang-kejang, ketika memakan masakannya Hamdi.
Mungkin kalo ada yang bertanya,
“Hamdi, sebenernya tujuan lu kesini buat apa sih?”
“MAU JADI BAJAK LAUT!!”
“Seriusan gue?”
“Gue serius, njiir”
“Gue gampar nih. Tujuan elu kesini sebenernya mau jadi apa?”
“Jadi bajak laut. Kayak Sanji gitu, jago masak”
“SEMERDEKA ELU AJA BODO AMAT”
**
Sesampainya di kantor imigrasi, sudah banyak orang-orang mengantri di dalam ruangan. Hari itu memang jadwalnya untuk orang Indonesia, Malaysia dan Rusia. Beruntung gue mendapatkan antrian yang nggak panjang-panjang, nggak pendek-pendek juga. Sedang lah. Rejeki anak sholeh banget emang dah ah.
“Ini yang di foto copy, apaan aja dah?”
“Paspor aja udah. Foto bawa kan?”
“Foto keluarga? Foto bareng pasangan? Gue nggak ada tuh yang sama pasangan”
“Pas foto, kambing. Elu jadi jomlo, jangan ngenes-ngenes gitu juga, cuk”
“yee maap”
Pembagian tugas pun dimulai. Gue yang antri, si Hamdi tiduran di pojok ruangan. Agak sedih juga sih, karena harus antri sendiri, sedangkan temen gue yang lainnya, asik tidur di dalam kantor. Tapi, yah karena memang ini paspor gue, ya harus antri sendiri.
“Eh, ini beneran Tasdiqnya? Kok beda?” kata senior gue lainnya.
“Gue kemarin dikasihnya kayak gitu kok”
“Oh, yaudah”
Petugas yang berjaga hari itu hanya ada satu orang, perempuan pula. Dan dia harus melayani antrian cowok dan cewe. Yang lebih bikin kesel, dia lebih memilih antrian cewe ketimbang mengurusi antrian cowo. Dua orang cewe, setelah itu baru cowo. Jadinya nggak heran, antrian cewe yang sebelumnya lebih panjang, malah lebih cepet selesainya dibandingkan barisan cowo.
Mau ngatain tapi ntar dosa. Huffft.
Kesabaran gue pun akhirnya berakhir. Hanya dua orang lagi yang berdiri didepan gue, dan setelah itu tibalah giliran gue. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep harus bersabar karena si ibu-ibu petugasnya terlihat kecapean. Sesekali dia jalan menuju meja temannya, ngobrol sebentar, kemudian mengambil gelas yang telah berisikan teh hangat, diminumnya. Tangannya cepat, mencomot makanan ringan di meja temannya yang lain.
Agak penjahat sih, tapi sepertinya dia lapar.
Giliran gue pun tiba.
“Bukan ini kertas tasdiqnya. Salah” Teriak petugasnya.
“Lah, kemaren gue dikasihnya yang kayak gini, bibi”
“Bukan. Kertas tasdiq itu bayar lagi. Kamu bayar nggak?”
“Kemarin saya nggak disuruh bayar”
“Salah kamu. Sana minta dulu”
“Ta... ta... tapi, bibi”
“Yak, selanjutnya”

Perjuangan gue mulai berangkat pagi-pagi, kemudian antri panjang-panjang, dan berakhir dengan penolakan oleh ibu-ibu petugas, nyesek. Asli nyesek. Tapi nggak apa-apa, ini sebagai pelajaran. Supaya besok-besok gue memang harus bawa tombak ataupun meja belajar. Kalo si ibu-ibu ini nolak lagi, bisa gue ancem nantinya. 
Semoga derita seperti ini, cepat terselesaikan oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Terutama gue. Amin.

Friday, 2 October 2015

"Maaf ya, karena kemarin...."

Minggu depan, aktivitas perkuliahan kembali dimulai. Menakutkan? Nggak sih sebenernya. Kuliah disini terserah setiap individunya masing-masing. Ingin masuk setiap hari, silahkan. Nggak masuk kuliah sama sekali dan hanya mengikuti ujian saja, boleh-boleh aja. Enak ya? tapi jujur deh, gue lumayan takut juga sih ke depannya nanti, kalo sudah kebiasaan diberi kebebasan seperti ini. Takut nantinya, gue jadi terlalu santai. Ketika sudah diterima kerja, bukannya masuk dan sibuk dengan tugas yang diberikan atasan, gue malah santai di rumah kemudian makan ketoprak dua bungkus sambil main PES. Ngomongin ketoprak, gue jadi kangen pacar orang makanan-makanan rumah deh.
Tapi semoga nggak begitu-begitu amat lah ya.
Kedatangan anak-anak baru kemarin, membawa keberkahan tersendiri untuk senior seperti gue. Ketika malam hari dan di rumah tidak ada makanan, dengan langkah semangat gue akan berjalan ke arah rumah anak baru. Nikmat rasanya, ketika mengetahui arah perut gue. Maksud gue, sungguh amat nikmat rasanya ketika gue tau harus dibawa kemana perut ini. Nggak ada lagi ceritanya tuh, gue sedih karena perut protes minta diisi tiap dua jam sekali. Walaupun belum tentu ada makanan disana juga sih, tapi setidaknya gue berfikiran positif. InsyaAllah dapet. Kalo seandainya anak-anak baru kemarin mahram gue, bakalan gue cium tuh.
Tapi, yah... namanya juga seandainya.
Melihat anak-anak baru yang semangat belajar, membuat gue bercermin kepada diri sendiri. Seraya akan mengatakan,
“Gila, masa iya gue kalah sama junior”
“Harus semangat lah. Kalo gue nggak belajar, terus mereka nanya-nanya gue, mau jawab apa?”
“Tapi kalo mereka nanya, dimana jodoh gue, gue mau jawab apa?”
“Kayak mereka punya pacar aja, hih”
“Tapi kayaknya sih banyak yang punya”
“Kalo ada yang berani ngatain gue jomblo, gue tombak orangnya”
“Eh, tapi kalo mereka beneran ngatain gue jomlo, gue kan sensitif. Nanti gue yang sedih dong”
“KYAAAA..... KYAAA.. KYAAA”
Bentar.
KAMBING. KENAPA TULISANNYA JADI ALAY AMAT DAH ELAAAAH.
Kedatangan anak baru kesini, membuat fikirin gue lebih manusiawi sih. Alhamdulillah, berkat kedatangan mereka gue nggak berniat lagi membahas tentang orang-orang terdekat gue mulai pergi lah, atau tentang mereka lebih asyik dengan teman-teman baru mereka lah. Yah, mungkin benar juga sih dari apa yang gue baca,
‘Kalo bukan kamu yang meninggalkan, berarti kamu yang akan ditinggalkan’.
Gue nggak tau sih, itu tulisan siapa. Tapi sepertinya gue mulai percaya dengan kata-kata itu. Yasudahlah, cukup buat gue terlalu peduli dan sibuk memikirkan orang lain. Niatnya ingin membantu, malah berakhir seperti dimanfaatkan kemudian ditinggalkan. Sebelumnya gue nggak ingin mempercayai kata-kata tersebut, tapi bukti nyatanya telah gue alami kok.
Ketika berpapasan dengan seorang teman, yang sudah gue anggap seperti sahabat sendiri, toh bukti nyatanya orang itu tidak akan pernah menyapa duluan. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sering. Rajin banget ya gue, sampai dihitung seperti itu.
Sudah lah, kewajiban gue saat ini hanyalah belajar yang benar, menjadi lebih baik dan fokus untuk membanggakan kedua orang tua. Untuk mereka yang mulai pergi-pergi, sudahlah nggak apa-apa kok. Nama kalian selalu gue sebut disetiap doa.
Mau tau nggak, bunyi doanya seperti apa?

Seperti ini nih,
“Ridhai lah kami(orang-orang terdekat gue) dalam menuntut ilmu, jadikan ilmu kami bermanfaat nantinya, permudahlah kami dalam menuntut ilmu, jadikanlah kami hambaMU yang menuruti perintahMU. Jika hamba bukan sahabat baik untuk mereka(orang-orang terdekat gue), berikan lah mereka sahabat-sahabat yang baik, yang bisa membawanya ke jalanMU”.

Tenang, gue nggak sampai setega itu kok, untuk mendoakan hal-hal buruk kepada kalian.
**
Sorry sebelumnya nih. Asli, mungkin ini tulisan ter-random yang pernah gue bikin. Maapin yaak. Karena minggu kemarin sibuk mengurusi kepanitia-an, jadinya ya kaku lagi nulisnya. Semoga kedepannya bisa lebih asik lagi tulisannya.
Sini peluk dulu laah....

Ads