Monday, 28 December 2015

Perjalanan aneh yang mengasyikan

Sepertinya, baru di Mesir ini, gue hobi naik angkutan umum. Entah itu dari bis, tuk-tuk ataupun trem. Dan kayaknya, semua mahasiswa di Mesir merasakan hal itu juga sih. Niatnya ingin naik mobil mewah nan gagah, tapi apalah daya. Yang bisa kita lakukan adalah menanti bis di halte pinggir jalan. Udah gitu, bisnya rame. Bau ketiak semua. Nggak tau deh, itu bau ketiak orang lain, atau dari tubuh gue sendiri. Kayaknya sih, bau ketiak mereka. Eh, sebentar… gue kayaknya terakhir mandi hari selasa minggu kemarin deh. Apa jangan-jangan itu badan gue kali ya? Bodo ah. Auk amat.
Tapi, kemarin-kemarin ini gue sempet naik kereta. Kereta Mesir. Asli Mesir. Seriusan deh. Dan rasanya, emm… ada yang aneh tapi nikmat gitu.
Jadi gini, selasa kemarin, iya, tepat terakhir gue mandi itu, gue pergi ke Alexandria untuk mengikuti acara maulid yang ada terletak disalah satu masjid disana. Sebetulnya nggak direncanakan juga sih. Ketika gue masih nikmat tidur, si Afif menarik selimut yang gue gunakan, kemudian berkata,
“Ji. I lop yu. Muaah muaah”
Nggak deng. Nggak sehina itu juga kok.
“Ji, lu nggak kemana-mana kan? Jaga rumah ya”
Sambil mengumpulkan jiwa yang masih melayang-layang, gue menjawab,
 “Elu emangnya mau kemana ha?”
“Alex, mau maulidan. Mau ikutan?”
Sebelum gue menjawab, si Arif datang menghampiri kemudian dengan santainya berkata,
“Nggak. Fauzi jaga rumah dia. Iya kan, ji?”
“Yee, Penyu lu. Siapa bilang gue jaga rumah. Gue ikutan sih. Dih sok asik lu. Joget dulu sana gih dah”
**
Sampainya di stasiun, ternyata banyak teman-teman lainnya yang bertujuan sama seperti kita. Mereka hendak pergi ke Alexandria. Jam menunjukkan pukul 11.10 , tandanya masih ada waktu lima menit lagi sebelum kereta sampai di stasiun. Ternyata yang pergi kesana bukan hanya para teman cowo-cowonya saja, gue menemukkan teman-teman perempuan gue yang juga sedang menunggu kedatangan kereta. Seandainya menanti jodoh sama halnya seperti menunggu kereta, kayaknya enak gitu ya. Ah, seandainya. Emm… kira-kira, gimana kabar jodoh gue yang jauh disana itu ya? Sekarang dia lagi ngapain ya? Apa jangan-jangan dia lagi tanding PES sama temen-temen cowonya ya?
Ketika asik ngbrol-ngobrol sama teman yang lainnya, kereta pun tiba. Kereta yang gue tumpangi ini, sama halnya seperti KRL yang ada di Jakarta.  Kita hanya beli tiket, untuk urusan tempat duduk, itu urusannya sendiri-sendiri. Dan yang nggak kebagian tempat duduk, yaa harus sabar berdiri dulu.
Makanya, ketika kereta masih jalan dan belum berhenti di stasiun, orang-orang berjuang dengan sekuat tenaga. Mereka lari, kemudian masuk di salah satu gerbong, kemudian duduk manis di tempat duduk yang masih kosong. Kayaknya gampang gitu ya? Tapi aslinya, nggak seperti itu kok.
Ketika gue melihat para orang-orang Mesir berlari-larian untuk dapat memasuki kereta, gue dan teman-teman pun juga nggak mau ketinggalan. Kita lari juga dong. Nggak mau kalah. Biar kayak di film-film gitu, yang adegan kejar-kejaran di kereta.
Salah satu temen gue, Avi, dia juga berlari menghampiri kereta. Kemudian memegang besi yang ada disamping pintu gerbong, lalu dengan sekuat tenaga dia mengangkat badannya. Tidak berhasil. Dia tidak berhasil masuk. Percobaannya sampai tiga kali, juga tidak membuahkan hasil. Tragis. Gue pribadi kasian dengan Avi, tapi hati gue juga ingin menendang makhluk itu. Soalnya makin lama, gerbong itu datang kearah gue. Dan Avi, masih saja gelendotan di besi. Naik kaga, jatuh mulu iya. Kalo kayak gitu, gimana gue mau pegangan sama besi itu, wong besinya dipegang sama Avi. Kambing.
Tapi Alhamdulillah, nasib gue sedang mujur. Gue berhasil naik.
“YEEEESSSS!! GUE BISA. MERDEKA!!” teriak gue dalam hati.
Ketika melihat kedalam, ternyata penuh. Iya. Penuh. Semuanya. Nggak ada kursi kosong sama sekali. Dan bau ketiak. Kali ini bukan bau dari badan gue, kan tadi pagi gue udah mandi. Lalu, gue ingat akan suatu hal,
Astagfirullahaladzim. Kan tiket gue sama Afif. Orangnya kaga ada lagi. Kambing. Ntar gue disuruh turun pas ditengah jalan. Nggak lucu ah”
Setelah berdesak-desakkan dengan penumpang lain, akhirnya ketemu juga manusia itu. Meskipun berdiri, tapi setidaknya gue nggak di usir nantinya. Mata gue memandang se-isi gerbong. Penuh. Bahkan ada yang tidur diatas. Iya, ditempat yang biasanya untuk menaruh barang-barang itu. Kereta Mesir memang penuh dengan perjuangan.  Agak bingung sebetulnya, kalo mereka tiduran diatas situ, terus orang-orang akan menaruh barangnya dimana coba? Egois banget ih.
“Ji, itu masih kosong tuh. Mau disitu nggak lu? Ntar keburu diambil orang lain” kata Afif.
“Iya bentar. Inih gue mau loncat”
Haap!!
Voila, ada kingkong tiduran diatas para penumpang-penumpang lain.
Inih kenapa labil banget sih gue LL
Perjalanan dari Kairo-Alexandria adalah sekitar 5 jam. Dan Alhamdulillah, gue tidur diatas situ kurang lebih tiga jam. Enak. Nikmat. Tapi kalo difikir lagi, sepertinya hanya gue yang non-Mesir yang tiduran diatas sana. Dan paling besar kayaknya. Malu sendiri gue, tapi mau lagi. Eheuheuheu.
Mungkin itu perjalanan paling aneh, tapi mengasyikan yang pernah gue alami sejauh ini. Semoga nanti bisa lebih aneh lagi. Bhak.


Thursday, 10 December 2015

Hai

Hai
>> Minggu-minggu ini merupakan minggu sibuk untuk gue dan mahasiswa-mahasiswa Azhar lainnya. Biasa lah, bulan depan ujian sih. Dan karena sebelum-sebelumnya (mungkin) terlalu santai menanggapi perkulihan, jadi yaa sekarang ini lah sibuknya. Tapi dibandingkan ujian terakhir gue di pondok dulu, sepertinya ujian disini biasa aja. Lebih ekstrim ujian ketika gue di pondok dulu sepertinya.
Ketika kalian 3 SMA ujian apa aja?
Flashback dikit. Ujian di pondok gue dulu dibagi tiga. Pertama, ujian praktek mengajar. Kedua, ujian lisan. Ketiga, ujian tulis. Materinya? Semua pelajaran dari pertama kali masuk pondok. Alhamdulillah, gue nggak sampai gila kok. Nggak sampai gue sundul juga, ustad yang bikin soal. Tapi ketika dulu, gue kenapa semangat banget ya belajarnya. Dan ketika telah sampai disini, malah santai-santai aja. Apa karena dulu di pondok, gue dikelilingi oleh para laki-laki semua, sehingga bisa fokus belajar?
Emm.. kok agak geli gitu yaa bahasanya. (( DI-KELILINGI-LAKI-LAKI ))
Tapi bener sih,  disini lebih banyak yang difikirkan ketimbang di pondok dulu. Selain kuliah, masih ada hal-hal lain yang musti difikir. Entah itu organisasi, pengaturan keuangan, belajar masak, dan persoalan cinta.
Kadang agak aneh sih, kalo ada orang yang curhat permasalahan cintanya ke gue. Mereka minta solusi kepada orang yang tidak tau menahu apa itu cinta.
Ngerasain pacaran juga belom sempet, nyet!
Tapi sepertinya...
Gue merasakan jatuh cinta deh. Kayaknya sih.
Nggak sampai ngungkapin juga. Gue nggak seberani itu juga kok. Hanya sekedar secret admirer cupu, sama seperti sebelum-sebelumnya lah. Ketika zaman gue masih bego-bego nya, kalo naksir seseorang gue akan rajin nge-chat. Tapi sekarang udah nggak gitu juga kok. Siapa gue, berani nge-chat? Lebih enak seperti ini juga sih, memperhatikan dari jauh, hanya bisa menyebut namanya seusai shalat, memperhatikan senyumannya. Meskipun gue tau, dari cerita teman-temannya bahwa dia pernah beberapa kali jalan bersama orang lain. Bahkan makan dengan orang yang sama.
Sebenernya egois nggak sih, jatuh cinta sendiri seperti ini? Ini egois atau bodoh?
Hmm
>> Akhir-akhir ini gue malah sering membayangkan diri gue sedang berada di rumah, di Jakarta sana. Sedang  menaiki mobil di kawasan yang biasanya macet setiap pagi dan sore hari, karena kawasan itu merupakan jalur menuju kantor.  Meskipun kondisi jalanan yang macet seperti itu, gue masih bisa bernafas lega. Setidaknya masih ada suara radio yang setia menemenai perjalanan gue, dan tentunya batrai hape gue masih banyak.
Ada adik gue yang bercerita dengan semangat dari arah belakang. Menceritakan tentang teman-temannya, tentang cowo yang ditaksirnya. Obrolan ghibah. Gosip-gosip gitu. Yah, namanya juga cewe. Ntar kalo dimarahi ujungnya,
Cowo : “Udah lah, nggak usah dibahas”
Cewe : “Kok kamu gitu?”
Cowo : “Iya, maap. Nggak sengaja. Keceplosan”
Gue yang marahin, gue juga yang minta maap.
Kemudian ketika sampai ditempat tujuan, gue dan Faizah, adik gue, berjalan perlahan memandangi isi mall. Meyakinkan diri, bahwa kita telah berada di Jakarta, bukan di Mesir. Langkah kaki kami membawa ke kedai kopi, yang letaknya tidak jauh dari bioskop. Duduk dibarisan paling belakang, tepat disebelah kaca besar yang menampakkan berbagai jenis orang-orang yang berlalu-lalang. Pasangan muda-mudi yang sedang bergandengan tangan, seorang ayah yang sedang sibuk membersihkan pakaian anaknya dari sisa makanan, kemudian pandangan gue tertuju kepada lima orang wanita yang sedang asik tertawa, sambil sesekali seorang wanita dibarisan itu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Wanita itu mengenakan kerudung silver mengkilap, berbalut kemeja hitam serta dipadukan dengan celana jins. Kakinya beralaskan Converse berwarna abu-abu senada dengan warna krudungnya.
Tanpa menunggu lama, gue pergi meninggalkan Faizah yang sedang asik menikmati Moccachino hangatnya. Tangan gue sesekali mengatur letak rambut gue agar terlihat lebih rapi, meskipun gue tau hal itu sia-sia. Kemudian dengan sendirinya, membetulkan posisi gelang di tangan kiri, serta jam tangan pemberian nyokap, di tangan kanan. Langkah kaki gue semakin cepat, mengejar rombongan wanita-wanita yang sempat gue lihat dari dalam kedai kopi.
Gue memanggil nama gadis berkrudung silver itu, sambil lari menghampiri. Kemudian mengatakan,
“Hai”
“Kamu, apa kabar?”
**
Kayaknya cukup deh khayalan gue.

Friday, 27 November 2015

Berbagai macam hal yang tidak ada di Mesir

Banyaknya aktifitas di Mesir, tidak bisa menahan rasa rindu gue dengan kampung halaman. Disela-sela kesibukan, ada aja hal-hal yang bikin kangen dengan suasana di Indonesia. Berikut ini adalah hal-hal yang gue rindukan dari Indonesia.
1- Sentuhan tangan bokap dan nyokap
Nggak tau deh, akhir-akhir ini gue ingin bisa bersalaman dengan orangtua. Berpelukan, menikmati malam hari dengan suara-suara yang keluar dari mulut mereka. Terlebih sentuhan tangan mereka. Tangan nyokap, yang dengan mudahnya membuat makanan-makanan kesukaan gue. Dan hal ini yang mengakibatkan, gue sebagai anaknya, susah kurus jika berada di rumah. Begitu juga dengan sentuhan tangan bokap. Tangan bokap yang alhamdulillahnya bisa memberikan uang jajan kepada gue. Meskipun uang itu akan berakhir dengan dua buah kotak yang tergeletak diatas meja, dengan bertulisakan macam-macam jenis martabak. Ada hal yang berbeda ketika menerima uang dari bokap, dengan mengambil uang di ATM. Ada rasa semeriwing gitu.
2- Surat undangan nikahan
Sumber
Kalo dulu di Indonesia, hampir setiap minggu menerima surat seperti ini, disini berbeda. Gue nggak pernah menerima surat undangan. Nggak pernah melihat tenda berwarna biru, dengan sound system besar di kedua sisinya. Nggak pernah denger lagi suara dangdut, ataupun lagu-lagu shalawatan yang biasa mengudara ketika acara kondangan berlangsung. Disini gue nggak akan liat biduan joget-joget sambil menyanyikan lagu barat di remix sama lagu dangdut juga.
Dan yang terpenting, nggak pernah ada prasmanan yang makanannya se-enak ketika kondangan di Indonesia. Nggak ada somay, batagor, rendang, soto betawi, puding, brownies. Disini yah, paling apa sih... roti gandum dikasih kentang.
3- Abang-abang sari roti, susu murni, bakso, somay, burjo, dll
Sumber
Gue nggak akan pernah dengar suara-suara abang-abang ini di pagi hari, ketika di Mesir. Terkadang kangen juga sih sama suara abang-abang ini. Meskipun pernah gue isengin, tapi yaa karena itu gue kangen dengan momen seperti itu. Contohnya, ketika abang-abangnya lewat depan rumah, dengan semangat gue akan teriak,
“ABANG, BELI SOMAYNYA, BANG!!”
Yang akan selalu diikuti suara,
“FAUZI, KAMU MAKAN MULU. NGGAK MAMAH KASIH UANG KAMU, MAS. BIARIN AJA”
Kasian abang-abangnya. Ketika berharap barang dagangannya akan dibeli oleh seorang pria tampan (baca:gue) (silahkan yang mau muntah), tetapi ada suara teriakan ibu-ibu yang... yah, menghancurkan harapan si abang-abang tersebut. Uuucayang.... acian.
4- Nasi padang dan soto betawi

Sumber
Mungkin makanan ini yang paling gue rindukan. Sebungkus nasi padang yang berisikan lauk ayam pop, kemudian diguyur dengan kuah rendang, serta sambal hijau, serta daun-daunan. Apa tauk namanya, pokoknya ada sejenis sayuran hijau-hijau gitu. Ditambah lagi, soto betawi buatan nyokap. Nggak ada duanya!! Meskipun banyak yang mungkin lebih enak, tetap gue akan mengatakan soto betawi buatan nyokap adalah makanan enak. Percuma dong, ada soto betawi enak diluar sana, tapi akan berakhir dengan teriakan nyokap gue,
“FAUZI, KAMU MAKAN MULU. NGGAK MAMAH KASIH UANG KAMU, MAS. BIARIN AJA”
Sumber
Hmm... nyes kan?
Tapi, alhamdulillah kemarin sempet ada acara yang menyediakan soto betawi sebagai hidangan. Dan yak, gue nggak sempet coba makanan itu. Karena acara itu hanya sebatas para cewe-cewe yang sedang melakukan arisan. Semoga kapan-kapan bisa icip-icip makanan ini lagi. Amin.
5- Penjual online
Ini sebenernya yang membantu gue untuk berbelanja. Sebetulnya, kalo terpaksa banget sih gue baru menghubungi penjual online ini. Barang yang paling sering gue beli adalah sepatu. Karena memang ukuran sepatu gue yang diatas rata-rata, sehingga gue mencari penjual sepatu online yang biasa menjualkan sepatu dengan ukuran babon, sama seperti gue. Tapi beruntung disini, gue nggak terlalu membutuhkan hal itu, karena disini kebanyakan memiliki sepatu yang ukurannya besar-besar juga. Akhirnya, kembali ke habitat babon juga. *apasih
6- Pengamen
Sumber
Disini gue nggak akan pernah khawatir dengan sosok tak diundang seperti ini, ketika sedang makan dipinggir jalan. terkadang kesel juga sih sama pengamen. Satu grup dateng, terus dikasih uang, eeh... grup lainnya dateng. Gitu aja terus, sampai uang untuk makan habis bayar grup pengamen ini.  Kadang mau juga sih teriak kayak,
“LU CARI MANGSA YANG LAEN AE KEK, SU”
Hm...
Tapi kayaknya, kalo beneran gue teriak seperti itu, yang ada malah gue dibakar sama temen-temen satu grupnya.
7- Gramedia
Tempat yang amat teramat sangat gue rindukan. Kangen dengan tempat yang menjual berbagai banyak buku-buku, entah dari buku yang alur ceritanya nggak nyambung, sampai ke buku yang membuat pembacanya menitikan air mata. Nggak tau deh, gue masih kurang sreg aja untuk baca novel berbahasa Arab. Susah sebetulnya, tapi bukan berarti nggak bisa juga sih, hanya kurang sreg. Ini menurut pendapat gue aja.
Terlebih yang gue rindukan adalah aroma kertas dari novel yang baru dibuka sampul plastiknya. Ada kenikmatan sendiri yang belum bisa diutarakan dengan kata-kata. Gue pribadi masih belum terbiasa dengan novel berbentuk pdf seperti itu, lebih enak punya buku beneran. Terlebih gue suka baca di kamar mandi. Bad habit yang susah untuk ditinggalkan.

Mungkin segini dulu. Nanti ditambah deh, kalo nemu lagi. Ekekek.
Kalo mau nanya, atau mau nambahin, tulis di kotak komentar aja ya.

Eh, bisa kali sekalian di klik iklannya ya. Muhuehuehue

Saturday, 21 November 2015

Kisah sang penyiar radio

Suka denger siaran radio?
Suka dengan musik-musik yang sering diputar dijilat lalu dicelup dari radio?
Suka sama gue?
Yakin?
Ah jadi maluk.
Geli banget, nyet. Pembukaannya.
Selasa kemarin mungkin pengalaman pertama gue menyiarkan radio. Beruntung, almamater gue menyediakan wadah radio seperti ini, sehingga gue dan teman-teman yang lain bisa menikmati fasilitas ini. Yah, hitung-hitung mencari pengalaman. Tapi nggak semua dari teman-teman gue mengikuti kegiatan seperti ini. Dari mereka juga ada yang mengikuti kegiatan menulis majalah bulanan, kajian, fotografi, dan kayaknya masih banyak sih yang lainnya.
Jadi, ketika pembagian jadwal siaran, gue diberikan tugas di hari selasa bersama makhluk bernama Anita. Namanya cantik ya? Hm... Ta... Tapi...
Gue membawakan acara yang bernama ‘Masau’ singkatan dari ‘Masih bersama Soutika’. Sebetulnya gue ingin membawakan tema lain. Ketika kumpul pembagian tugas pun,
Si pembagi jadwal(Sambal): Sekarang, ana bagi jadwalnya ya. Yang membawakan tema tentang kejadian-kejadian baru seputar Mesir, Faruq sama Nida. Tema tentang bla... bla... bla... blaa...
Gue: “Gue apa nih?”
Sambal: “Oh iya, elu tentang apaan ya?
Gue: “Lah si kambing. Gue nanya bukannya dijawab, malah dibales nanya. Minta dilempar tombak nih” kata gue dalam hati.
 Gue: “Tentang keilmuan gitu dong”
Sambal: “Jangan elu, ji”
Gue: “Bisa aja lu becandanya. Hahaha”
Sambal: “Lah, gue serius. Siapa yang bilang becanda”
Gue: “TOMBAK MANA TOMBAK... WAH EMANG MINTA DIRAJAM PAKE TOMBAK NIH SAMBEL. eh, ORANG”

Dan pada akhirnya, jadwal siaran gue jatuh di hari selasa. Dengan tema yang aduhai sekali. Tema yang tidak berkaitan dengan keilmuan, melainkan tema yang teramat santai. Misalnya, tentang meng-gibah-kan orang selama dua jam kedepan. Ataupun tentang tips-tips nggak nyambung. Yah, seperti itu. Sedih ya? ketika gue tanya, alasan gue nggak diberikan tema yang berkaitan tentang keilmuan,
Sambal: “Jangan, ji. Gue nggak mau lu menyesatkan orang-orang lain. Cukup lah temen-temen deket elu aja ya” ucapnya. Santai. Santaaaii banget kayak lagi di pantai.
Fauzi, yang sabar ya. Harus sabar. Walaupun orangnya minta digampar. Tapi sabar ya.
Ketika selasa sore...
Kira-kira materi yang gue siapkan ketika itu hanya berupa tips-tips sesat menghadapi musim dingin, dan tentang bulan November gembira. Karena di bulan ini, banyak banget yang ulang tahun. Fikiran gue ketika itu, ‘Ah cukup lah ini. Nanti kan ditambah sama materinya si Anita’. Begitu gue Whatsapp Anita,
Gue: “Posisi?”
Anita: “Di lapangan. Masih ada lomba nih, ka” padahal umurnya lebih tua dari gue.
Gue: “Ok. Eh, udah ada materi?”
Anita: “Belom, ka. Kaka sendiri?”
Gue: “Hahah. Sama gue juga belom” padahal gue mau nangis.
Gue: “LAH SI POKEMON!!! TERUS KALO GINI, MAU NGOMONG APAAN PAS SIARAAAN NANTI BANCAAATTT!!!” teriak gue dalam hati.

Satu jam belum ada tanda-tanda kedatangan Anita. Si Sambal tadi pun juga belum datang. Si Sambal memang hampir setiap hari datang untuk membimbing para junior-junior yang baru masuk.Tepat sepuluh menit sebelum siaran, mereka berdua datang. Kompak. Keringat segar masih mengalir dari dahi mereka berdua, mereka memang peserta lomba. Tapi, gue juga keringatan juga sih. Keringat karena belum makan, dan ditambah partner gue nggak punya persiapan apa-apa.
Anita: “Ka, gue grogi nih”
Gue: “Yaelah, santai aja kali”
*dalam hati: “LAH ELU KIRA GUE KAGA?!!”

Siaran itu akhirnya dimulai. Pembukan dibuka oleh omongan gue pertama kali, meskipun agak sesat tapi niatnya nggak mau menyesatkan orang lain kok. Seriusan deh. Kemudian Anita pun berbincang-bincang juga. Jujur, gue sama makhluk bernama Anita ini belum pernah ngobrol sama sekali, tapi disuruh untuk siaran berdua.
Anita: “Ka, lagu pembukanya ini aja. Asoy nih lagunya”
Gue: “Mana coba denger?”
*setelah mendengarkan beberapa saat*
Gue: “Nit, lagu pertamanya jangan itu ya. Lagu itu lo puter sendiri di rumah aja”

Siaran gue dibuka dengan tips sesat untuk menghadapi musim dingin. Walaupun nggak nyambung, tapi bodo amat. Yang siaran gue ini. Obrolan selanjutnya adalah Anita menyampaikan salam-salam yang masuk di Twitter dan juga di hapenya. Ada salam untuk seseorang yang sedang ulang tahun, ada juga yang salam sekaligus request lagu Gigi yang berjudul Akhirnya. Dan salam itu tertuju kepada gue. Apakah se-hina itu diri gue?
Siaran ini berakhir dengan damai dan tenang. Meskipun terjadi beberapa kali kesalahan, semoga itu terakhir kalinya. Meskipun kita kurang materi, tapi Alhamdulillah masih bisa membicarakan hal-hal yang nggak jelas dan hal-hal sesat lainnya.  Yah, minggu depan semoga bisa lebih baik. Semoga.
Bagi yang ingin mendengarkan siaran radio gue bisa dibuka http://ikpmkairo.com disitu nanti ada gambar nya kok disebelah kanan. Atau bisa juga download Tune-in di Google playstore maupun di Appstore.
**
Btw, gue rencananya ingin membuat domain. Kasian juga sih sama blog ini, hampir tiga tahun belom pernah dikasih domain ataupun mengadakan Give away sama sekali. Kalo kalian ada saran untuk nama domain gue, komen aja ya. Ekekek.


Saturday, 7 November 2015

Jangan datang di pagi hari!!

Suasana Kairo saat ini sedang memasuki awal musim dingin. Kalo tahun kemarin, hujan hanya turun sekali atau dua kali, gue lupa, tapi sekarang beda. Sama halnya, kayak perasaan dia ke gue, beda. Dan nggak pernah sama. Huhuhu…
Apaan sih, nyet. Ga lucu.
Sudah dua hari ini, hujan turun dengan lebat, membuat Kairo semakin sejuk. Kalo suasananya sejuk seperti ini, gue jadi inget dengan kampung gue yang terletak di Temanggung, Jawa Tengah sana. Udaranya dingin-dingin semeriwing, tetesan air hujan yang terdengar nyaring menyentuh aspal, kemudian berbagai hidangan lezat yang tersedia diatas meja makan. Tapi disini, gue nggak mengharapkan hal yang terakhir juga sih. Nggak ada gunanya untuk mengharapkan hal yang tak pasti, bukan? Yah, nggak mungkin juga ketika bangun di pagi hari, gue menemukan gule kambing tergeletak indah begitu saja di meja makan. Mahasiswa dibelahan bumi mana sih, yang di pagi-pagi buta sudah semangat memasak gule kambing? Nggak ada kerjaan banget. Lah wong skill masak sebagian mahasiswa hanya sebatas menggunakan rice cooker plus mecin.
Nggak heran jadinya, kalo anak muda zaman sekarang banyak yang sedikit-sedikit kebawa perasaan. Nyemil mecin mulu sih ya.
Entah kenapa musim dingin seperti ini, tidak membuat gue untuk bergegas tidur di malam hari. Yang terjadi adalah gue sudah menggelar kasur, mengambil selimut dari tumpukannya, dan sempat berbaring cantik diatasnya. Lima menit setelahnya, gue akan berdiri, lalu turun ke warung duapuluh empat jam yang terletak dibawah flat gue, kemudian membeli dua Indomie rebus serta tiga telur. Bukan tidur, gue malah makan. Sip. Entaps! Kalo setiap hari seperti ini, kayaknya impian gue untuk menjadi pria langsing nan aduhai, akan susah terwujud.
Selain membuat diri gue rentan sakit, hal ini juga membuat gue terlihat berhalusinasi aneh.
Jadi, gue tidur di ruang tengah. Ketika tidur dengan bahagia, serta mimpi bisa bertemu dengan cewe yang gue taksir di taman bunga, perlahan mimpi gue berubah menjadi suram. Yang sebelumnya, gue melemparkan senyum ke si cewe yang gue taksir, lalu dibalas dengan senyuman yang aduhai indah sekali itu. Sekarang berbeda. Wajah indah dari gadis yang gue taksir, perlahan berubah menjadi kura-kura. Asli serem. Lu bayangin aja, seorang yang lu taksir wajahnya berubah menjadi kura-kura. Asli serem, men. Kura-kuranya menggunakan pasmina warna hitam lagi. Suaranya yang sebelumnya halus ketika berbicara dengan gue, seperti ini,
“Ka. Apa kabar?” kata gadis yang gue taksir, lalu gue jawab dengan,
“Nggak pernah sebaik ini, ketika bisa berbincang dengan kamu”
Berubah menjadi,
“WOY, JI. JI. UWOY!! TOMAT!! UWOOY!! UWOWOWO!!”
Seketika itu gue langsung bangun, dan teriak-teriak meminta pertolongan.
Ternyata itu adalah teriakan teman gue. Dia berteriak ke arah gue yang sedang tidur manis. Badan gue digoyang-goyang, kemudian diteriak dengan membabi buta. Em… bukan goyang, gue nggak lagi goyang juga waktu tidur. YAA KALII, PAS TIDUR GUE DISAWER!! Eh, tapi nggak tau juga sih. Bahasa tepatnya digerak-gerakkan. Iya, digerak-gerakkan sedikit. Dikit banget. Kemudian diteriaki seperti itu. Dan taukah alasan dia membangunkan gue karna apa?
“Ji, bangun. Ada cewe yang mau masuk nih. Masih berantakan ruang tengahnya. Lu nggak mau ditonton pas tidur, sama cewe kan?”
Iyah, semua karena wanita. Pagi hari dengan suasana senyaman ini, se-sejuk, dan se-indah ini bukannya digunakan untuk tidur tapi malah main ke rumah orang. Dasar wanita.
“Yaelah, gue lagi mimpi indah ini. Ah elah. Pake dibangunin” teriak gue malas, sambil berdiri dan membawa selimut.
“Tapi mereka bawa gule kambing loh, plus mau nyawer juga, ji” kata temen gue.
“LAH, SERIUSAN? YA SURUH MASUK LAH. SERING-SERING AJA MAIN KESINI”
“ahahahah. Nggak mungkin, ji. Ngaco aja lu. Gih dah masuk kamar, mau beres-beres ruang tengah gue”
“KAMBING LAUT. GUE MAKAN JUGA LU!!”

Wednesday, 28 October 2015

Renungan di malam hari

Sekarang ini, gue sedang duduk tepat di tempat hits para mahasiswa Indonesia yang, beruntung, kuliah di Mesir. Tempatnya sederhana kok. Hanya toko yang menjualkan beraneka ragam jus dari buah-buahan. Tapi entah kenapa, tempat ini menjadi salah satu tempat ternyaman untuk ketawa bareng teman-teman, kumpul-kumpul kepanitiaan, sampai tempat untuk menyendiri memikirkan hal-hal yang telah terjadi maupun yang belum.
Ditemani satu gelas jus alpukat plus eskrim coklat yang belum dicicipi sama sekali, gue sedang duduk sambil sesekali menggosokkan kedua telapak tangan. Pandangan gue tertuju ke langit, tanpa bintang, hanya bulan yang dilewati oleh awan-awan. Apa hidup gue sama halnya seperti bulan itu ya? Sendiri, tanpa ditemani oleh bintang-bintang. Sendiri, dan hanya dilewati oleh awan-awan yang se-enaknya saja jalan. ‘Haaaah… kenapa hidup gue gini amat sih?
Terkadang gue benci dengan salah satu kebiasaan yang gue miliki. Membuat orang lain untuk tersenyum kembali, membuat orang lain melupakan kesedihannya sejenak, membuat orang lain agar tidak berburuk sangka terhadap orang lain. Kayak motivator gitu ya? Padahal sejatinya sih, gue dan orang itu berada diposisi yang sama. Sama-sama memiliki permasalahan. Dan bodohnya, ketika telah selesai melakukan hal itu terhadap orang lain, tanpa disadari gue seolah meminta balasan dari mereka. Bego banget kan? Seharusnya kita hanya berharap kepada Allah saja bukan?
Hampir sejam, gue duduk disini. Gue mencopot headset yang menggantung ditelinga. Sejam ini ditemani oleh lagu-lagu Indie yang entah apa nama judul dan bandnya. Gue terlalu tidak peduli dengan judul lagu-lagu maupun band yang terlist didalam hape gue. Selama dentuman drum, petikan gitar, dan liriknya bagus akan gue download kemudian disimpan di hape.
Gue jadi ingat dengan film Paper Town. Film yang melatarbelakangi tentang kisah persahabatan, kekaguman dalam diam, dan tentang cinta. Entah kenapa gue kepedean, merasa bahwa kisah si cowo pemeran utama ini ada persamaannya dengan hidup gue. Bedanya, dia punya sahabat yang meskipun sudah mempunyai kekasih, tapi masih bisa diajak gila bareng. Dia punya seorang gadis yang ditaksirnya dari masa kecil sampai sekolah menengah atas. Dia… kayaknya, perbedaannya banyak sih. Nggak usah dilanjutin ya.
Banyak sih, pelajaran yang bisa gue ambil. Contohnya, ketika mendapatkan suatu masalah yang sekiranya susah untuk dihadapi oleh seorang diri, coba berbagi ke teman yang dipercaya. Dengan begitu, mungkin saja bisa ditemukan jalan tengahnya. Syukur-syukur orang itu mau menolong kita. Masalahnya, gue belum nemu sih. Nggak tau deh, seperti kekurangan rasa kepercayaan terhadap orang lain. Apa karena kenangan buruk di masa lalu masih teringat sampai sekarang? Hm… bisa jadi sih.
Seorang cowo harus memiliki planning untuk masa depannya. Entah itu lima tahun atau beberapa tahun kedepan. Gue udah punya kok, tinggal actionnya aja. Semoga bisa. Doain ya, gaes. Kemudian pelajaran, tentang persoalan menganggumi orang lain. Nggak ada salahnya untuk menganggumi orang lain, sekarang gue juga seperti itu juga kok. Tapi ketahuilah, bahwa orang yang dikagumi itu bukan segalanya. Tetap mandiri, dan bapernya dikurangi, toh orang yang kita kagumi itu tidak tahu dan meminta untuk dikagumi, bukan? Dia hanyalah seorang gadis, sama halnya seperti yang lain.
Di saat sudah tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya untuk menjaga suatu cerita, dan seorang gadis itu hanyalah gadis biasa, yang sama seperti dengan gadis-gadis lainnya, kenapa nggak berharap kepadaNya. Toh semua yang ada didunia ini milikNya, bukan?
Kemarin sempet baca jawaban di ask.fm/bramantyo17 jawabannya seperti ini,
Gw butuh ketemu sm pencipta gw 5-6x dalam sehari. Gw butuh jadi cengeng 5x10 menit sehari setelah 24 jam sok tangguh di hadapan dunia.
Dari sekian banyak jawaban di ask.fm nya, yang ini sih yang paling bagus menurut gue. Jawaban-jawaban lainnya agak-agak semi-sesat soalnya.
 Jus alpukat pesanan gue telah habis, dan sepertinya renungan malam ini pun telah usai. Sekarang gue ingin bergegas pulang, menutup diri dengan selimut tebal. Yah, musim dingin telah dimulai.  Mesir sudah dua hari di guyur hujan, bahagia sih. Jarang-jarang hujan turun di negri ini.
Udah dulu ya.

Monday, 12 October 2015

Derita Mahasiswa luar negri

Selain faktor bahasa, perbedaan yang paling jelas antara mahasiswa yang kuliah dalam negri dan luar negri adalah mengurusi perpanjangan visa. Beruntung gue tinggal di zaman sekarang, dari cerita-cerita yang gue dengar dari orang-orang yang kuliah disini terdahulu, mereka rela untuk tidur di depan kantor imigrasi sehari sebelumnya, agar bisa menyelesaikan urusannya dengan cepat. Bagi orang-orang yang datang setelah sholat shubuh, kemungkinan besar tidak akan bisa mengurusi perpanjangan visa di hari itu. Sadis ya?
Tapi yang lebih nyesek sih, ketika seseorang yang sudah rela tidur di depan kantor imigrasi, kemudian ketika tiba gilirannya, kemudian dengan santainya sang petugas mengatakan,
Bukroh yaa walad”
Artinya,
“Besok aja ya, nak. Sekarang  udah azan nih. Pucing pala belbie. Mau bobo cantik dulu”
Padahal antriannya melebihi antrian pembagian sembako. Dan ketika sudah berhadapan dengan petugasnya, disuruh dateng besok. Kambing banget kan? Minta di lemparin tombak kan?
Alhamdulilllah, kayaknya zaman gue saat ini nggak perlu sampai bikin kemah juga sih, untuk memperpanjang visa. Tapi tetep sih harus dateng pagi-pagi, kalo nggak mau di gituin sama petugasnya.
**
Jadi, senin pagi kemarin, gue berencana untuk memperpanjang masa visa. Walaupun sebelumnya gue nggak bisa tidur, tapi gue udah bertekad agar bisa menyelesaikannya di hari itu juga. Kalo udah selesai, gue yakin akan bisa tidur lebih pulas dan lebih damai. Tapi terkadang sebelum mau tidur, gue jadi ke-inget dengan si ‘dia’. “Kamu disana baik-baik aja kan? Udah nggak sering ngupil lagi kan? Kalo ada yang godain kamu, kamu pukul aja. Pake meja belajar ya”.
Oke, FOKUS!!

Berhubung kantor imigrasi letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga gue berangkat lumayan pagi. Jam setengah tujuh, gue sudah selesai mandi. Ini rekor baru. Iya, rekor baru. Karena biasanya di jam-jam ini, gue akan ditemukan tergeletak diatas kasur dengan kondisi mata tertutup, tapi tetep unyu kok.
Hari itu gue ditemani oleh salah satu teman gue yang cukup senior, Hamdi. Entah niat dia kesini untuk belajar ilmu agama atau ilmu tata boga, yang jelas dia lebih memilih masak-memasak. Tapi gue bersyukur sih, karena ada yang suka buat teh di pagi hari. Dapur rumah terlihat lebih rapi, dan terkadang banyak makanan enak yang tersedia diatas meja. Meskipun makanan itu belum terjamin kebersihannya sih ya. Tapi setidaknya bisa mengenyangkan perut lah. Kemungkinan buruknya, yaah paling hanya kejang-kejang sebentar. Alhamdulillah, belum sampai ada yang kejang-kejang, ketika memakan masakannya Hamdi.
Mungkin kalo ada yang bertanya,
“Hamdi, sebenernya tujuan lu kesini buat apa sih?”
“MAU JADI BAJAK LAUT!!”
“Seriusan gue?”
“Gue serius, njiir”
“Gue gampar nih. Tujuan elu kesini sebenernya mau jadi apa?”
“Jadi bajak laut. Kayak Sanji gitu, jago masak”
“SEMERDEKA ELU AJA BODO AMAT”
**
Sesampainya di kantor imigrasi, sudah banyak orang-orang mengantri di dalam ruangan. Hari itu memang jadwalnya untuk orang Indonesia, Malaysia dan Rusia. Beruntung gue mendapatkan antrian yang nggak panjang-panjang, nggak pendek-pendek juga. Sedang lah. Rejeki anak sholeh banget emang dah ah.
“Ini yang di foto copy, apaan aja dah?”
“Paspor aja udah. Foto bawa kan?”
“Foto keluarga? Foto bareng pasangan? Gue nggak ada tuh yang sama pasangan”
“Pas foto, kambing. Elu jadi jomlo, jangan ngenes-ngenes gitu juga, cuk”
“yee maap”
Pembagian tugas pun dimulai. Gue yang antri, si Hamdi tiduran di pojok ruangan. Agak sedih juga sih, karena harus antri sendiri, sedangkan temen gue yang lainnya, asik tidur di dalam kantor. Tapi, yah karena memang ini paspor gue, ya harus antri sendiri.
“Eh, ini beneran Tasdiqnya? Kok beda?” kata senior gue lainnya.
“Gue kemarin dikasihnya kayak gitu kok”
“Oh, yaudah”
Petugas yang berjaga hari itu hanya ada satu orang, perempuan pula. Dan dia harus melayani antrian cowok dan cewe. Yang lebih bikin kesel, dia lebih memilih antrian cewe ketimbang mengurusi antrian cowo. Dua orang cewe, setelah itu baru cowo. Jadinya nggak heran, antrian cewe yang sebelumnya lebih panjang, malah lebih cepet selesainya dibandingkan barisan cowo.
Mau ngatain tapi ntar dosa. Huffft.
Kesabaran gue pun akhirnya berakhir. Hanya dua orang lagi yang berdiri didepan gue, dan setelah itu tibalah giliran gue. Tapi walaupun seperti itu, gue tetep harus bersabar karena si ibu-ibu petugasnya terlihat kecapean. Sesekali dia jalan menuju meja temannya, ngobrol sebentar, kemudian mengambil gelas yang telah berisikan teh hangat, diminumnya. Tangannya cepat, mencomot makanan ringan di meja temannya yang lain.
Agak penjahat sih, tapi sepertinya dia lapar.
Giliran gue pun tiba.
“Bukan ini kertas tasdiqnya. Salah” Teriak petugasnya.
“Lah, kemaren gue dikasihnya yang kayak gini, bibi”
“Bukan. Kertas tasdiq itu bayar lagi. Kamu bayar nggak?”
“Kemarin saya nggak disuruh bayar”
“Salah kamu. Sana minta dulu”
“Ta... ta... tapi, bibi”
“Yak, selanjutnya”

Perjuangan gue mulai berangkat pagi-pagi, kemudian antri panjang-panjang, dan berakhir dengan penolakan oleh ibu-ibu petugas, nyesek. Asli nyesek. Tapi nggak apa-apa, ini sebagai pelajaran. Supaya besok-besok gue memang harus bawa tombak ataupun meja belajar. Kalo si ibu-ibu ini nolak lagi, bisa gue ancem nantinya. 
Semoga derita seperti ini, cepat terselesaikan oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Terutama gue. Amin.

Friday, 2 October 2015

"Maaf ya, karena kemarin...."

Minggu depan, aktivitas perkuliahan kembali dimulai. Menakutkan? Nggak sih sebenernya. Kuliah disini terserah setiap individunya masing-masing. Ingin masuk setiap hari, silahkan. Nggak masuk kuliah sama sekali dan hanya mengikuti ujian saja, boleh-boleh aja. Enak ya? tapi jujur deh, gue lumayan takut juga sih ke depannya nanti, kalo sudah kebiasaan diberi kebebasan seperti ini. Takut nantinya, gue jadi terlalu santai. Ketika sudah diterima kerja, bukannya masuk dan sibuk dengan tugas yang diberikan atasan, gue malah santai di rumah kemudian makan ketoprak dua bungkus sambil main PES. Ngomongin ketoprak, gue jadi kangen pacar orang makanan-makanan rumah deh.
Tapi semoga nggak begitu-begitu amat lah ya.
Kedatangan anak-anak baru kemarin, membawa keberkahan tersendiri untuk senior seperti gue. Ketika malam hari dan di rumah tidak ada makanan, dengan langkah semangat gue akan berjalan ke arah rumah anak baru. Nikmat rasanya, ketika mengetahui arah perut gue. Maksud gue, sungguh amat nikmat rasanya ketika gue tau harus dibawa kemana perut ini. Nggak ada lagi ceritanya tuh, gue sedih karena perut protes minta diisi tiap dua jam sekali. Walaupun belum tentu ada makanan disana juga sih, tapi setidaknya gue berfikiran positif. InsyaAllah dapet. Kalo seandainya anak-anak baru kemarin mahram gue, bakalan gue cium tuh.
Tapi, yah... namanya juga seandainya.
Melihat anak-anak baru yang semangat belajar, membuat gue bercermin kepada diri sendiri. Seraya akan mengatakan,
“Gila, masa iya gue kalah sama junior”
“Harus semangat lah. Kalo gue nggak belajar, terus mereka nanya-nanya gue, mau jawab apa?”
“Tapi kalo mereka nanya, dimana jodoh gue, gue mau jawab apa?”
“Kayak mereka punya pacar aja, hih”
“Tapi kayaknya sih banyak yang punya”
“Kalo ada yang berani ngatain gue jomblo, gue tombak orangnya”
“Eh, tapi kalo mereka beneran ngatain gue jomlo, gue kan sensitif. Nanti gue yang sedih dong”
“KYAAAA..... KYAAA.. KYAAA”
Bentar.
KAMBING. KENAPA TULISANNYA JADI ALAY AMAT DAH ELAAAAH.
Kedatangan anak baru kesini, membuat fikirin gue lebih manusiawi sih. Alhamdulillah, berkat kedatangan mereka gue nggak berniat lagi membahas tentang orang-orang terdekat gue mulai pergi lah, atau tentang mereka lebih asyik dengan teman-teman baru mereka lah. Yah, mungkin benar juga sih dari apa yang gue baca,
‘Kalo bukan kamu yang meninggalkan, berarti kamu yang akan ditinggalkan’.
Gue nggak tau sih, itu tulisan siapa. Tapi sepertinya gue mulai percaya dengan kata-kata itu. Yasudahlah, cukup buat gue terlalu peduli dan sibuk memikirkan orang lain. Niatnya ingin membantu, malah berakhir seperti dimanfaatkan kemudian ditinggalkan. Sebelumnya gue nggak ingin mempercayai kata-kata tersebut, tapi bukti nyatanya telah gue alami kok.
Ketika berpapasan dengan seorang teman, yang sudah gue anggap seperti sahabat sendiri, toh bukti nyatanya orang itu tidak akan pernah menyapa duluan. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sering. Rajin banget ya gue, sampai dihitung seperti itu.
Sudah lah, kewajiban gue saat ini hanyalah belajar yang benar, menjadi lebih baik dan fokus untuk membanggakan kedua orang tua. Untuk mereka yang mulai pergi-pergi, sudahlah nggak apa-apa kok. Nama kalian selalu gue sebut disetiap doa.
Mau tau nggak, bunyi doanya seperti apa?

Seperti ini nih,
“Ridhai lah kami(orang-orang terdekat gue) dalam menuntut ilmu, jadikan ilmu kami bermanfaat nantinya, permudahlah kami dalam menuntut ilmu, jadikanlah kami hambaMU yang menuruti perintahMU. Jika hamba bukan sahabat baik untuk mereka(orang-orang terdekat gue), berikan lah mereka sahabat-sahabat yang baik, yang bisa membawanya ke jalanMU”.

Tenang, gue nggak sampai setega itu kok, untuk mendoakan hal-hal buruk kepada kalian.
**
Sorry sebelumnya nih. Asli, mungkin ini tulisan ter-random yang pernah gue bikin. Maapin yaak. Karena minggu kemarin sibuk mengurusi kepanitia-an, jadinya ya kaku lagi nulisnya. Semoga kedepannya bisa lebih asik lagi tulisannya.
Sini peluk dulu laah....

Sunday, 20 September 2015

Harapan untuk para mahasiswa baru

Karena kemarin ikutan tantangan tulisan tiga rasa dari blognya si Adi, gue jadi kecanduan nulis fiksi. Fiksi tentang percintaan gitu. Yah, meskipun gue belum pernah merasakan sama sekali, setidaknya gue nggak bego-bego banget lah tentang hal seperti itu. Tapi, sekarang mau nulis kayak biasanya aja, nulis tentang kisah sehari-hari.
Dua minggu kemarin, Mesir kedatangan banyak tamu dari Indonesia. Sama seperti diri gue di tahun kemarin, mereka ini adalah para calon mahasiswa-mahasiswi baru di universitas Al-Azhar. Waktu satu tahun itu kayaknya cepet banget ya, nggak terasa sekarang jadi senior yang ngurusin dede-dede emesh. Kebetulan juga, kemarin sempat menjadi panitia makanya belum bisa nulis postingan baru lagi.
Gue pribadi nggak ingin terburu-buru menjadi senior, enak-an jadi junior. Kemana-mana ada yang nganterin, mau jalan-jalan dibayarin ongkos kendaraannya, pas laper ditraktir makanan. Seandainya tahun lalu senior yang mengurusi gue seperti itu, mungkin sekarang gue udah jadian. Kemana-mana selalu ada seseorang yang menemani. Tapi, Alhamdulillah peristiwa itu nggak terjadi. Toh juga, hampir yang mengurusi keperluan gue tahun kemarin cowo-cowo semua. Jomlo lagi.
Anak-anak baru tahun ini jumlahnya juga lebih banyak, ketimbang angkatan gue tahun lalu. Semangatnya pun cukup mencengangkan. Baru kali ini sih, ketika jemput dede-dede emesh di bandara, kemudian salah satu dari mereka ada yang berkata,
“Bang, kapan kita main futsal?”
Lalu disambung dengan kata-kata,
“Main basket juga kapan nih, bang? Udah nggak sabar”
“Jalan-jalan ke sungai Nil-nya juga kapan?”
“Abang kok diem aja sih, iih jomlo ya”
EH, KAMBING. ELU TUH BARU SAMPE BANDARA, UDAH NGAJAK MAIN FUTSAL. NGATAIN JOMLO LAGI, JAHAT BANGET IIIH.
Ini baru sebagian kecil dari anak baru
Menjadi senior, menuntut gue untuk bisa lebih baik lagi. Setidaknya gue nggak ingin junior-junior yang sekarang, mendapatkan hal negatif dari gue. Bukan pencitraan kok, tapi lebih kepada mengajarkan mereka untuk belajar kehidupan di Mesir. Mengajarkan mereka sedikit-sedikit bahasa Ammiyah, walaupun gue pribadi juga masih kurang banget dengan hal itu, tapi setidaknya kalo urusan beli makanan, naik mobil, minta uang, minta kasih sayang ke orang lain, gue bisa lah ngomongnya. Pengendara mobil disini pun, nggak ada yang membawa kendaraannya dengan pelan. Berbeda dengan di Indonesia. Kalo diibaratkan sih, mungkin pengendara-pengendara mobil pribadi dan lainnya, sama seperti pengendara angkot-angkot yang ada di ibu kota. Sesuka hatinya aja. Makanya jangan heran, kalo kebanyakan mobil di Mesir itu ada bekas tabrakannya. Itu syudah biasa yaa dede-dede.
Tapi harapan terpenting yang gue inginkan dari dede-dede baru ini sih, semoga kehidupannya disini nantinya nggak menghilangkan niatan awal dari rumah. Yah udah jauh-jauh dari rumah, biaya yang dikeluarkan juga nggak sedikit dan untuk bisa kesini perlu usaha yang lebih, percuma dong kalo terlena. Tapi itu semua kembali ke individunya masing-masing sih.
Asikin aja hidup di Mesir. Oh iya, kalian jangan pacaran dulu ya. Ingat, temen-temen gadis kalian saat ini sebetulnya milik senior, yang nantinya akan dipersunting oleh senior-senior yang diatas kalian, diatas gue juga kok. Ingat ya. Nggak mau kan durhaka sama senior? Nggak mau dikasih racun di makanan kalian kan?


Thursday, 3 September 2015

Sebuah do'a dalam diam

Jam sepuluh siang, aku telah berada di teras masjid ini. Aku hanya ingin singgah di rumah Allah dan perlahan membiarkan setiap masalah-masalah yang kupunya meluap keluar dari dalam kepalaku. Mungkin banyak orang lain di luar sana yang memiliki permasalahan lebih rumit ketimbang diriku, tapi setidaknya aku tahu kemana aku harus kembali.
Terkadang aku ragu dengan keabsahan, tentang sebutan untuk seseorang teman yang selalu menghabiskan waktunya dengan teman yang lain. Apa sebutannya? 'Sahabat’? Seperti itu kah panggilannya? Di umurku yang duapuluh satu pun, seoalah aku belum menemukan sosok itu. Mungkin karena dulu aku memiliki sebuah kenangan tentang sebuah pengkhianatan, sehingga menjadikan diriku seperti ini. Tidak ada jaminan bukan, jika satu tahun, dua tahun, ataupun tahun-tahun berikutnya, orang itu tetap menjaga rahasia-rahasia yang telah kita ceritakan kepadanya?
Di tempat aku duduk ini, aku bisa melihat sosok gadis itu. Kepalanya dibungkus dengan pasmina berwarna hitam, kemudian wajahnya di hiasi dengan kacamat berbentuk persegi yang sesekali jatuh turun menyentuh ujung hidungnya. Dia menggunakan kemeja coklat muda yang menurutku warnanya seperti kopi ekspresso yang sering ku pesan, dan lalu kakinya ditutupi oleh rok hitam panjang polos. Anggun. Satu kata, yang perlahan keluar dari mulutku tanpa kusadari. Di jarinya terdapat sebuah tasbih digital berwarna hitam. Kontras dengan kulitnya yang berwarna putih.
Gadis ini yang telah membuatku perlahan menjadi agak rajin untuk mendatangi masjid yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Gadis ini yang membuatku selalu ingin untuk memperbaiki diri agar lebih baik lagi setiap harinya. Gadis ini yang selalu diam-diam aku sebut namanya disetiap do’a ku setelah selesai sholat fardhu maupun sunnah.

Semoga suatu saat nanti aku bisa menghabiskan sisa hidup ku bersamanya...
‘...  kalau pun nantinya aku memang tidak pantas untuk bersanding dengannya, sandingkan lah gadis ini dengan pria yang bisa menuntunnya ke jalan-Mu
 Do’a ku yang saat ini hampir memasuki satu tahun lima bulan.

Sebetulnya, salah tidak sih, seseorang bersemangat karena orang lain?
Mungkin aku memang tidak memiliki seseorang untuk berbagi cerita untuk saat ini, dan aku tahu bahwa  gadis berkacamata itu juga tidak akan pernah tahu apa isi hatiku. Tapi, aku yakin semua ini adalah rencana-Nya. Meskipun ku mengetahui aku tidak memiliki ke dua hal yang kusebutkan diatas, setidaknya aku memiliki Allah. Yang akan selalu mendengarkan do’a hamba-hambanya dan pasti mengabulkannya. Setidaknya aku bahagia, setiap ku bayangkan disetiap sujudku, Allah mengelus rambutku lalu berkata,

Berdo’a lah kepadaku, akan ku kabul kan segala permohonanmu. Segalanya”
**
Ini Fiksi kok.

Tulisan fiksi pertama yang gue publish di blog. Dan tulisan ini ikutan dalam acara tulisan tiga rasa yang diadakan oleh adi di blognya, bisa ikutan dan baca contoh tulisannya dengan klik link ini. Baiknya ikutan juga sih, selain untuk meramaikan juga untuk belajar menulis dari sudut pandang yang lain. Ditunggu partisipasi kalian, gaees...

Sunday, 30 August 2015

Hina-nya diriku. Maafkan aku teman-teman

Salah satu hal yang terkadang membuat gue terganggu sampai saat ini adalah jadwal piket masak rumah. Mungkin karena ketika di rumah dulu gue hanya bisa masak air, mie instan dan telur ceplok, sehingga ketika piket masak disini gue terlihat amat sangat lemah dibandingkan temen-temen gue lainnya. Masih inget, ketika awal-awal hidup disini gue selalu menghilang setiap hari minggu. Karena di hari itu lah, giliran gue piket masak. Bahkan gue nggak mau megang hape selama satu hari, takut di telpon sama anak rumah untuk masak. Mungkin kalo gue jadi mereka, gue kesel sendiri sih sama orang yang seharusnya piket masak hari itu, tapi malah menghilang tanpa jelas keberadaannya. Kayak gue.
Bahkan ketika hari minggu pagi, banyak nomer-nomer asing yang menelpon ke hape gue. Berhubung gue adalah sosok manusia yang sering ber-ekspektasi terlalu tinggi, sehingga mengira yang menelpon adalah teman gadis gue. Kemungkinan penelfon ini seorang gadis cantik memang nggak ada sih, tapi, ‘Ga salah juga kali kalo gue beranggapan kayak gitu, nyeed’.
“Halo, ini sapa ya?” kata gue merdu.
“Ini Bowo, ji. Lagi dimana? Pulang dong, anak-anak rumah pada mau ngerasain masakan elu nih”
“Halo, halo, halo, Bowo. Hah, gue ganteng? Hah, apa? Gue pinter? Apa sih, wo. Sinyalnya ga jelas nih. Nanti aja ya, wo”

Tuut... tuut... tuut.
Iya, selalu berakhir seperti itu.
Akhirnya gue berada di posisi yang, ‘yaudah deh gue piket masak’. Niat yang cukup mulia dan menggebu-gebu itu perlahan menghilang ketika gue sampai di rumah. ‘Ini kenapa rumah gue rame sama orang-orang?’. Dan yak, ternyata mereka alah para pencari sinyal wifi kencang dan gratisan.
“Wah, Ji. Mau masak nih? Asik lah. Kebetulan lagi laper gue, yang lain juga. Mau masak apa, cuy?”
“Ga tau deh nih. Senggaknya ga bikin elu kejang-kejang  lah abis nyicipin masakan gue lah”
“Eh, gue mau pulang duluan ya. Ada urusan mendadak nih”
“Lah, elu nggak jadi mau ngerasain masakan gue nih?”

Alhamdulillah percakapan itu nggak pernah terjadi sampai saat ini, dan gue pun juga nggak berharap hal itu terjadi.
Kebetulan salah satu temen gue ada yang ahli bikin sambel, sehingga masakan gue kali ini ada rasa pedesnya, yah nggak hambar-hambar banget lah. Berhubung yang bisa gue masak adalah telur ceplok, jadi lah menu masakan pagi ini adalah telur ceplok sambel ala-ala shef Pauji.
Mungkin kebanyakan orang memakai kompor yang modelnya sekali di puter tombolnya ke kiri, otomatis langsung nyala. Berbeda dengan rumah gue, dan juga kebanyakan rumah-rumah lainnya yang berada di Mesir. Disini ada semacam tes ke-macho-an saat menyalakan kompor. Beberapa persiapan yang diperlukan adalah berupa sebuah korek api yang masih bisa menyala, karena kalo tidak menyala tak akan ada gunanya. Kemudian ucapan Bismillah ketika hendak menyalakan, dan ucapan Alhamdulillah setelah berhasil menyalakan.
Caranya, pertama nyalakan gasnya terlebih dahulu. Kemudian putar tombolnya ke arah kiri. Lalu akan terdengar suara gas yang muncul dari dalam kompor. Ambil korek api, lalu nyalakan kemudian dekatkan dengan kompor. Tarik nafas dalam-dalam, dan jangan lupa ucapkan Bismillah. Dekatkan dengan kompor, tangan jangan terlalu lama berada diatas kompor kalo tidak ingin tangan anda terbakar. Dan jangan terlalu cepat menarik tangan, karena hal itu tidak membuat kompor menyala dan membuat diri anda terlihat lemah. Lemah banget.
Yah, kira-kira tutorial menyalakan kompor di rumah gue seperti itu lah.
Kenapa jadi horor bet kompor rumah gue ya?
 Hal yang pertama gue lakukan adalah memasak nasi. Karena rumah gue nggak ada rice cookernya, sehingga harus diperhatikan baik-baik saat memasak. Kalo nggak diperhatiin, ya bakalan gosong. Sama kayak kamu. Iya, kamu yang jomlo.
Hal selanjutnya adalah gue memasak telor ceplok. Ini kali pertamanya, gue masak untuk orang lain. Berhubung gue nggak mau ada kesalahan dan sedang berantusias membuat hati orang bahagia, sehingga gue terlalu banyak menaburkan garam di telor yang sedang gue masak.
Biar, greget. Biar terasa gurih, ena-ena gitu. Biar masakan perdana gue ini teringat sampai kapan pun’ fikir gue ketika itu.
Berhubung jumlah orang di rumah bertambah, sehingga gue berinisiatif untuk memotong telur agar terlihat banyak. Bodohnya, gue memotongnya secara acak sehingga terlihat telornya menjadi kecil-kecil banget.
Hidangan pun tersaji di meja makan.
Nggak ada tuh ceritanya, gue menyuruh temen-temen gue untuk makan. Biar mereka saja yang mendatanginya secara langsung. Setelah ditinggal selama setengah jam, ternyata masih tersisa banyak lauknya. Kemudian selanjutnya gue mengambil piring, mengambil nasi dan lauk, serta menaruh sambal di pinggir piring. Hal yang terjadi kemudian,
Ini gue masak apaan, njiirr?!!! Ini makanan, ga berasa telor atau sambel sama sekalil. Garem semua rasanya kamprett!! Pantesan ga ada yang makan’
Hina.
Gue merasa hina banget atas hidangan yang gue sajikan.
Bukannya membuat temen-temen gue yang lain bahagia atas masakan gue yang lezat dan nikmat, tapi membuat mereka perlahan mengantri  untuk masuk kamar mandi.
Dengan ini gue bertekad agar minggu-minggu selanjutnya ketika piket masak, gue harus pergi. Iya, harus pergi. Cukup sekali dan kali ini saja, gue meracuni orang lain. Cukup. Kali ini aja. Besok-besok jangan sampe. Cukup membuat mereka mengantri di depan kamar mandi saja. Jangan sampe membuat mereka kejang-kejang. Jangan sampe.

Sunday, 16 August 2015

Perjalanan wisata anti-mainstream di Mesir

Kebanyakan orang yang sedang berlibur di Mesir, menghabiskan waktunya untuk menjelajahi Piramida, Alexandria, maupun masjid Al-Azhar. Berbeda dengan kebanyakan orang, gue dan kawan-kawan lainnya, yang berstatus mahasiswa jomlo, menghabiskan liburan dengan mengunjungi suatu daerah yang dinamakan Qonatir. Mungkin kebanyakan orang-orang masih belum familiar mendengar tempat wisata bernama Qonatir di Mesir. HAHAHA. HAHAHA, CUPU. Tapi memang sebenernya, nggak terkenal juga sih tempatnya. Emm... gue juga baru pertama kali kesana kok. Kalo kemarin nggak diajak, nggak mungkin gue cerita tentang hal ini juga sih. Ehehe.
Ga lucu, nyet
Tempat ini nggak ada spesialnya sih sebenernya. Sejauh mata memandang hanya ada air dan bendungan, terong-terongan yang sedang boncengan bertiga, kotoran kuda terhampar luas, ojek kuda bertebaran dimana-mana, dan beberapa penyewa motor yang semena-mena eee waka-waka eee. Ya gitulah. Dikiranya kita turis, padahal sejatinya kita mahasiswa disini. Mereka fikir kita nggak paham dengan apa yang mereka ucapkan kali ya? HAHA. Padahal mah bener.
Jadi gini ceritanya,
Tepat jam sebelas siang, kita tiba di terminal Qonatir. Saat itu udara Mesir sedang di puncak panasnya. Sebelum memasuki Qonatir hal pertama yang dilakukan adalah memesan makanan, supaya didalam nanti bisa makan-makan unyu gitu. Alasan sebenernya sih, ya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kebetulan cuaca di Mesir sedang panas-panasnya sekitar 40C, terlebih ada salah satu senior juga yang ikut dengan rombongan kami. Nggak tau juga sih, kenapa manusia ini harus ikutan. Bikin susah aja. Sebetulnya sih seumuran, tapi tampangnya itu terlalu dewasa(baca:tua), sehingga kita memanggilnya guru. Guru pramuka lebih pas-nya sih. Nah, kalo nanti dia tiba-tiba pingsan dijalan siapa yang mau gendong? Siapa yang mau nyuapin? Siapa yang mau bayarin? Siapa hah?  Siapa? Nggak ada. Makanya harus dikasih makan, senggaknya supaya kuat jalan gitu lah.
Ketika masuk, ada dua orang terong-terongan yang mengikuti rombongan kami. Entah apa niatnya, yang pasti mereka ikut jalan bareng. Padahal kenal juga nggak, sok asik. Tiba-tiba salah satu dari mereka sedang menaiki jembatan sambil melirik ke arah kami, kemudian, ‘Byuur’. Yak, dia terjun bebas ke dalam sungai dengan sombongnya. Dikiranya tambah ganteng kali, ketika dia lompat tinggi gitu dih.
Seandainya saja gue nggak takut ketinggian... terong itu pasti juga akan lompat ke dalam sungai sana juga sih. Gue juga nggak akan mau, walaupun diajak loncat bareng.
Banyak diantara rombongan gue yang nggak kuat untuk jalan lebih jauh lagi. Jadi ketika melihat tempat adem, langsung neduh. Adem dikit, langsung neduh. Malah ada juga yang jalannya sengaja dibelakang gue untuk numpang neduh. Bikin emosi ya, minta dikatain gitu. Tapi sayangnya nggak boleh dikatain. Sabar. Tahan.

“Cuy, kita neduh dulu yuk. Sambil makan” Kata salah satu orang dari rombongan kami.
Kayaknya suara gue sih itu.
Sebagian dari rombongan kebetulan ada yang bawa makanan, walaupun makananya belum teruji enak atau nggak, yah senggaknya bisa nambah-nambahin lah ya. Nggak tau itu gorengan isinya apa, tapi pas dicicipin kita kompak mengatakan,
“MANCING MANIA MANTAP!!!”
Bukan gitu deng,
“Wah, enak juga ini makanannya. Gratis sih ya, makanya enak”
Mungkin karena sudah terbiasa ketika di pondok dulu makan bareng-bareng ya, rebutan makanan pun sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi... Kalo di pondok dulu, gue makan bersama temen-temen cowo lainnya, dan sekarang gue berada di posisi makan bersama dengan teman cewe lainnya, harus bisa kontrol nafsunya, sedikit, didepan mereka. Tapi kebanyakan temen-temen cowo yang ikut rombongan kemarin sih pasti berfikiran kayak gini,
“Yaelah palingan cewe makanannya dikit doang. Perut mereka kan, bukan karung. Aahaha”
Dugaan kita salah.
Ternyata rombongan cewe lah yang lebih ekstrim ketika berhadapan dengan makanan. Sifat asli mereka keluar. Saling rebutan makanan. Saling rebutan untuk mencocol gorengan ke sambal. Sedih sebenernya, melihat kelakuan cewe-cewe manis seperti ini yang ternyata lebih ekstrim ketimbang diri gue sendiri. Gue merasa lemah, dan gagal jadi cowo macho. *apasih. Tapi Alhamdulillah, mereka nggak sampai jambak-jambakan rambut. Tapi bikin kesel aja sih,
“Ba, gantian dong. Udah kan ambil sambelnya?”
“......”
“Oi, ba. Gantian napeh. Yaelah dah lu”
“APAAN SIH, NGGAK LIAT GUE LAGI MAKAN HAH?!!”
“Maap, ba. Tadi gue lagi ngomong sendiri kok. Beneran deh”
“KAN YANG LAMA NGAMBILNYA ELU KAMPRET, KENAPA ELU YANG MARAH-MARAH KE GUE, EET DAH?!!” lanjut gue. Dalam hati.

Adegan rebutan makanan tambah seru, ketika salah satu temen cewe gue menunjukkan hasil kreasi agar-agar nya. Berbeda dengan rebutan gorengan, rebutan agar-agar ini seharusnya harus dilakukan dengan hati-hati, dan penuh toleransi. Tapi tidak untuk rombongan gue.
“INI PUNYA GUE”
“NGAMBILNYA JANGAN DI BEJEK WOY!!”
“WAH PARAH, MARUK BENER LU”
“INII PUNYA GUE, BUKAN PUNYA ELU. JANGAN PEGANG-PEGANG. HUUSH!”
“KYAAAA... KYAAA...”
Yah, kurang lebih se-ekstrim itu lah.

Perjalanan dilanjutkan menuju jebatan lainnya. Sepanjang perjalanan, indera penciuman kita diuji dengan  bertebarannya kotoran kuda yang tersebar dimana-mana. Dan yang gue lakukan adalah,
“Parfum sapa yang tumpah dah nih? Pungut lagi ngapa, jangan sengaja ditumpahin kayak gini”

**
Perjalanan pulang dari Qonatir kita menggunakan kapal tempur. Mungkin masih banyak yang belum tau bahwa orang-orang Mesir sendiri suka dengan menari. Bukan menari sih, tepatnya joget. Nah iya.  Jadi ketika kapal mulai berjalan, beberapa anak-anak muda yah anggap lah terong gitu, mereka mulai menyalakan musik. Lagu ajeb-ajeb gitu, tapi versi pake bahasa arab gitu lah. Karena kemarin terlalu fokus memperhatikan ibu-ibu joget, sehingga nggak ada yang merekam, jadinya ini video temen gue kemarin yang... ya gitu lah,
video


Perjalanan ini ditutup dengan dongeng yang dibacakan oleh Naura. Berceritakan tentang kisah hujan dan matahari sebagai sebuah tetesan renungan. Renungan bahwa,
“Jalan-jalan ini harus dilanjutkan lagi. Harus.”
“Untuk jalan-jalan nanti, sebaiknya aku harus menahan nafsu untuk membejek agar-agar buatan Nisa lagi” kata Naura dalam hati.


Wednesday, 12 August 2015

Arti tangisan yang tak terlupakan

Kalo sebelumnya yang gue pahami arti tangis seseorang itu hanyalah bersifat kesedihan, bersifat kehilangan, tapi sekarang tidak. Perlahan, gue menyadari bahwa suara tangisan itu bukan karena hal-hal yang sedih saja.
Contohnya,
Ketika seseorang telah meraih apa yang diinginkannya, orang tersebut bisa saja menangis. Tapi tangisannya bukan karena kesedihan yang dirasakannya, melainkan tangisan bahagia. Bahwasanya dia bisa meraih hal yang dia impikan. Tangisan bangga, karena dia bisa menunjukkan bahwa dirinya bisa mewujudkan harapannya.
Aiiih... sedap.
*kibasin rambut.
Salah satu temen cewe gue, Nanda, mempunyai masalah dengan tangisan juga. Setiap dia berbicara ke gue, mendadak suaranya melemah kemudian perlahan seperti orang yang ingin menangis. Padahal sebelumnya teriak-teriak sama temennya yang lain,
‘WOI, GUE MESEN BAKSO HOY!! MANA KRUPUK PANGSITNYA, HOY!!’
Ngomongnya nge-gas, tapi nggak nyambung. Minta ditabok gitu. Untung cakep, makanya bisa nahan emosi.
Tapi anehnya ketika dia bicara ke gue kenapa mendadak seperti orang mau nangis ya? Anehnya hal ini hanya terjadi ketika dia sedang berbicara ke gue, bukan ke orang-orang lain. Padahal ketika itu gue sedang khusyuk makan bakso, nggak mengusik Nanda sama sekali. Seriusan deh. Ya, sadar sih muka gue memang serem, dikit, tapi ya nggak gitu juga kaliii.

Bicara tentang tangisan, jadi inget kejadian di sekertariat almamater kemarin.
Jadi, malam itu gue berniat untuk menginap di kantor kesekertariatan setelah pulang dari acara pencoblosan presiden PPMI Mesir tahun ini. Tapi karena faktor udara yang panas, sehingga mata gue belum bisa tertutup ketika jarum jam mengarah mendekati angka satu.
Berhubung sudah tidak ada yang mengajak ngobrol ataupun chat, perlahan gue memaksakan diri untuk tidur. Terkadang gue sering mengkhayal sebelum tidur. Membayangkan diri gue saat itu telah berada di rumah, bangun pagi karena siraman air segayung yang diberikan oleh nyokap ke arah muka gue, dan yang tersisa hanyalah bekas air di sprei kasur dan gayung kosong yang tergeletak di atas lantai. Kemudian perlahan, samar-samar gue mendengarkan suara abang-abang yang setiap pagi selalu terdengar dari kamar gue,
‘‘Sari roti... roti sari roti... teet teet tet teet tet tee tet’’
Suara rekaman sih memang, tapi kenapa sekarang gue malah kangen denger rekaman itu ya. Yah, mungkin karena suara rekaman disini semuanya berbahasa arab, jadinya kangen sama rekaman abang-abang tukang sari roti. Abang-abang susu murni juga sih. Suara teriakan abang-abang ketoprak, nasi uduk, odong-odong, juga kangen. Apa ini berarti gue jatuh cinta sama abang-abang itu ya? Ini sebenernya gue nulis apa sih? GUE SIAPA? DIMANA GUE? DIMANAAAA?? KYAAAAA... KYAAAA.
Astagfirullahadzim, kenapa gue jadi ngondek gitu?
Oke, fokus.
Ketika asyik tidur, samar-samar gue mendengarkan suara tangisan. Bedanya, tangisan ini adalah tangisan cewe. Dan nggak ada sama sekali cewe yang tidur di kantor kesekertariatan. Awalnya gue fikir, ini hanya mimpi. Tapi ketika gue cubit pipi.... temen, kok dia gerak-gerak. Pas cubit pipi sendiri, kok sakit juga. Makin lama suara tangisan itu semakin kencang.
“Ini siapa yang nangis sih malam-malam gini, ganggu orang tidur aja” kata gue setengah sadar. Padahal aslinya takut juga sih. Dikit. Serius, dikit doang.
Gue beranggapan suara tangisan ini berasal dari temen gue yang sedang sholat tahajud, tapi yang gue liat hanyalah badan teman-teman gue lainnya yang sedang tertidur pulas. Ketika hendak pergi meninggalkan kasur tempat gue tidur, beberapa teman-teman gue sudah ada yang bangun dan ingin melaksanakan sholat shubuh.
“Do, denger suara orang lagi nangis nggak?”
“Iya nih”
Setelah lampu dinyalakan, ketemu lah ponsel laknat yang mengeluarkan suara tangisan itu. Suara tangisan seorang cewe yang sejak setengah jam lalu tidak mati-mati.
“Buset ini alarm hape, ji. Hahahah. Takut ya lu?”
“Gue takut? AHAHAHA. GUE TAKUT? NGGAK SALAH NANYA LU? HAHAHA”
“Dikit doang sih”

Setelah diselidiki ternyata hape itu punya temen gue, Alip. Anaknya rajin ngaji, tapi entah kenapa punya selera dengan suara tangisan cewe, untuk dijadikan alarm hapenya. Suara tangisan alarmnya sukses membuat gue bangun ketakutan, tapi sang pemilik hape belum juga bangun. Mau gue banting hape nya, tapi nanti ketauan kalo gue ketakutan.
Yah, ternyata suara tangisan itu tidak selalu karena sedih bukan?

Friday, 31 July 2015

Lagu kenangan terindah

Sebuah lagu bisa menjadi sangat berkesan sepanjang saat, ketika lirik lagu itu pas dengan suasana hati kita. Terkadang saat diri kita sedang sedih, tanpa disadari kita lebih menikmati lirik-lirik lagu yang dilantunkan, ketimbang mendengarkan suara musiknya. Moment itu yang sering kali membuat gue,
‘Njiir, lagunya gue banget!’ sambil nepuk dada.
Biasanya sih nepuk dada sendiri. Tapi, kalo ada yang nepuk dada orang lain juga nggak apa-apa. BEBAS.
Lagu yang terkenang sama diri gue sampai saat ini adalah Count On Me-nya Bruno Mars. Dulu lagu ini dinyanyikan oleh sahabat gue, ketika kita sedang menikmati soto Lamongan. Bingung sebenernya, harus menikmati makanan enak ini atau mendengarkan sahabat gue bernyanyi. Tapi setelah dicermati liriknya, lagu ini sukses bikin gue baper, karena telah dianggap sosok sahabat olehnya. Terlebih ketika reff nya yang berbunyi,
And I know when i need it’
‘I can count on you like 4, 3, 2’
‘And you’ll be there’
‘Cause that’s what friends are supposed to do, oh yeah’
Mirip Didi Kempot ya
http://www.newseveryday.com

Dua minggu, lagu ini menjadi daftar lagu paling sering yang gue mainkan ketika lagi sendiri. Terkadang gue suka senyum-senyum sendiri, ketika mendengarkan lagu ini. Dan sekarang gue sadar, betapa menjijikannya diri gue saat itu. Pantes aja, temen-temen yang lain sering menganggap gue gila karena senyum-senyum nggak jelas. Hina banget gue.
Yah, lagu ini hanya bertahan dua minggu saja. Karena setelah itu, dia jadian dengan temen gue yang sifatnya kurang gue suka. Gue udah larang. Tapi yah, namanya juga lagi jatuh cinta, tiba-tiba temen gue jadi budek. Mereka pun jadian. Bahagia. Gue dilupakan. Kirdun.
 Tapi sekarang kita udah baikan kok. Beneran deh. Ehee.
Sebelumnya lagu itu memiliki kesan baik untuk diri gue, tapi makin kesini lagu itu yang membuat gue sukar untuk mempercayai orang lain. Walaupun seperti itu, gue sudah mulai terbuka sedikit demi sedit sih. Tapi makin kesini, gue jadi kurang percaya untuk berbagi cerita kepada orang lain ya. Kalo pun cerita, hampir semua yang gue ceritakan gue ganti nama tokoh-tokohnya. Yang seharusnya partner cerita gue mengenal siapa sosok orang yang gue ceritakan, sekarang gue rubah agar dia nggak tau sama sekali siapa sosok itu. Termasuk sosok perempuan yang gue taksir saat ini. Seandainya mereka tau siapa sosok perempuan itu, pasti dengan bangga mereka akan mengatakan,
‘Wah, cewe itu pasti hari-harinya jadi suram gara-gara ditaksir sama elu, ji’
Yah lebih baik gue nggak usah cerita ke mereka kalo akhirnya akan kayak gitu sih.
Kalo lagu kenangan terindah kalian, apa?