Friday, 26 December 2014

Lika-liku perkuliahan di Mesir

Sebenernya, tinggal menghitung hari aja sebelum ujian termin pertama (kalo di Indo UTS) di mulai. Tapi banyak banget hal yang ada di fikiran gue saat ini. Mulai dari keluarga, temen, cinta, dan pelajaran tentunya. Nggak mikirin tentang cinta juga sih. Toh, cewe yang gue taksir udah punya peliharaan.
Eemm.... Bukan hewan peliharaan, tapi pasangan. Iya, pasangan. Ituh maksud gue. Duh, susah banget sih nge-ikhlasinnya.
Gue kira kuliah disini tuh, tinggal duduk manis di perkuliahan, dengerin semua penjelasan dukturoh (baca: dosen), beli buku-buku pelajaran yang diperlukan, dan kenalan dengan para mahasiswa dari berbagai negara. Tapi kenyatannya nggak kayak gitu. Sebenernya, gue pengen kenalan sama mahasiswi-mahasiswi sih. Berhubung kampusnya nggak campur cowo-cewe, dan temen-temen cewe gue nggak ada yang peka buat memperkenalkan gue kepada temen-temen kampus mereka, yaah... gue harus menerima kenyataannya. Toh temen cewe gue, cuman luarnya aja yang cewe, sifatnya mah, ya kayak cowo. Nobar bola juga.
Banyak proses yang harus dilakukan untuk menjadi mahasiswa Al-Azhar. Mulai dari nama kita harus ada di daftar kelas bahasa, kemudian pemeriksaan darah, dan yang terakhir nama kita tercantum di jurusan yang kita pilih. Susunannya sih gampang, TAPI PROSESNYA YANG RIBET!! Kalo masuk kuliah sih, terserah. Boleh-boleh aja. Tapi nama-nama kita itu loh, sebagai mahasiswa baru, belum kecantum di daftar mahasiswa Al-Azhar. Berasa kayak mahasiswa gelap. Muka udah gelap, jadi mahasiswa gelap juga. Duh, kenapa ngenes amat sih! Yah, walaupun gelap gini, tapi manis kok. Kata nyokap aja, gue ganteng.
Agak maksa sih emang.... 
Gue sendiri nggak terlalu ambil pusing tentang persoalan nama-nama mahasiswa yang kecantum, toh itu semua udah ada yang ngerjain. Abang-abang senior PPMI dan panitia mahasiswa baru. Jujur aja, gue prihatin sama masalah ini. Soalnya yang ngurusin hal ini, para mahasiswa juga. Senior-senior gue. Dan mereka akan ikut ujian juga nantinya. Yah, gue percaya kok, setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Dan mungkin aja, waktu yang mereka habiskan untuk mengurus semua hal ini, menjadi sebuah kunci kemudahan mereka dalam menjawab ujian nanti.
Sok bijak banget ya, gue?
Walaupun nama-nama kita belum kecantum sebagai nama mahasiswa-mahasiswi di Al-Azhar, tapi semangat belajar kita jangan pernah di remehkan. Dari pagi, siang, sore sampai malem selalu berpegangan erat dengan buku-buku. Gaul kan? BANGET!!
PPMI Mesir
Sebenernya bukan KITA. Tapi temen-temen gue doang. Gue sih cuman pegangin hape doang. Padahal sih nggak ada notif BBM atau What’s app dari si dia. Sekalinya ada notif masuk, yaa sekedar Broadcast obat pemutih wajah. Padahal nggak usah pake obat pemutih gitu, wajah cewe-cewe juga keliatan bersinar kok. Asalkan, sering-sering wudhu dan nutup auratnya aja. Syahdu banget yaa tulisannya? Sama kayak hati gue. Sama-sama teduh.
Saat ini gue belum bisa menemukan seorang partner untuk belajar bareng. Iri juga sama mereka yang udah punya partner. Gampang-gampang susah sih, sebenernya untuk ngedapetin partner kayak gitu. Ketika gue ngajak temen untuk bimbel bareng, temen gue nolak. Ketika gue lagi males-malesan, temen gue udah berangkat bareng sama temen gue yang lainnya. Kampret kan? Yah, memang nggak usah terlalu berharap sama orang lain juga sih. Hidup itu kan selalu berputar. Walaupun sebelumnya pernah menjadi temen baik antara satu sama lain, suatu saat bisa berubah menjadi sosok orang asing yang nggak pernah kenal.
Saat ini gue lagi deket dengan beberapa temen-temen cewe yang satu almamater sama gue. Yah, cewe yang gue maksud diatas tadi yaaa mereka ini. Cewe pejantan tangguh. Namanya si Endut, Alis tebal, Mak Lampir, dan si Labil. Namanya sengaja disamarin biar misterius gitu.
Dapet feel misteriusnya nggak?
Oh nggak dapet?
Iya, nggak apa-apa kok.
Terkadang gue dapet pelajaran baru dan penting dari mereka. Iya, terkadang doang kok. Tapi dari pelajaran yang gue dapet dari temen gue yang sebelumnya, gue nggak mau terlalu berharap dari mereka. Bukankah berharap lebih hanya menimbulkan sakit yang berlebih juga? Terlebih lagi, mereka cewe dan pelajarannya juga berbeda dengan yang gue pelajari di kampus. Maka dari itu, ya gue harus bersama temen-temen gue yang lainnya. Yang cowo. Gue nggak berharap juga sih, bertemu dengan partner yang nantinya bisa saling motivasi dan hina-hinaan tanpa tersinggung gitu. Gue hanya ingin menikmati semua proses yang ada. Biarkan mengalir aja. Toh, untuk mendapatkan seorang partner kaya gitu, nggak bisa dipaksakan dan pastinya akan membutuhkan waktu yang lama.
Yah, semua lika-liku yang ada saat ini memang lebih baik untuk di nikmati, sehingga bisa dijadikan cerita di masa depan, kan? Ketimbang selalu dipikirin terus, dan dibawa susah. Makin tambah stress. Udah JOMBLO, strees lagi.

Monday, 22 December 2014

Kisah hampir tragis di kampus Mesir

Ngomongin tentang Negara Mesir itu nggak akan ada habisnya.
Selalu memberikan kehangatan baru.
Sama kayak senyuman kamu, emuuach.
Gilani, nyet.
Salah satu sifat wajib yang dimiliki oleh setiap orang Mesir adalah suara kerasnya. Dari yang muda sampai tua, kalo ngomong pasti kenceng. Nggak ada yang mau ngalah. Serasa tinggal di hutan gitu lah. Padahal duduknya sebangku, tapi pas ngobrol kayak ngajak brantem. Coba kalo gue berani, bakalan gue sundul tuh hidung.
‘LO DIEM!!! NGOMONGNYA NGGAK USAH KENCENG-KENCENG, BISA?! ITU IDUNG, KENAPA SONGONG GITU. KENAPA SOK-SOK MANCUNG HAAH!! GUE SUNDUL NIH’
Tapi kenyataannya ya nggak mungkin kayak gitu lah. Badan gue juga nggak setinggi orang sini. Yang ada malah pipi gue di tampar sama hidung mereka. Tragis.
Yah, selain harus kuat fisik dan mental untuk tinggal disini, para mahasiswa juga di tuntut untuk memiliki sifat sabar yang lebih juga. Ehmm… sebenernya nggak di tuntut juga sih, tapi memang udah kayak kewajiban mendasar yang harus dipunya gitu.
Udara pagi hari di Kairo begitu sejuk dan sunyi. Nggak ada suara teriakan om-om ber-hidung besar maupun bunyi klakson dari bawah flat gue. Waktu itu memang cocok banget digunain untuk berlama-lama dengan Sang Pencipta. Berlama-lama untuk menceritakan semua keluh kesah yang dipunya dan melafadzkan ayat suci-Nya. Setiap ada perasaan malas yang hinggap di hati gue, pasti gue akan bilang ke diri gue sendiri, ‘Bacain TL cewe idaman aja kuat ber jam-jam. Masa curhat sama Sang Kuasa nggak kuat?’ Bijak banget kan? Berasa tambah gaaanteng gue *kibasinrambut.
Pagi ini gue harus berangkat ke kampus pusat, guna untuk mengurus perkuliahan. Sebenernya bukan gue doang sih. Temen-temen gue yang lain juga begitu. Berhubung mahasiswa baru angkatan gue termasuk banyak, sekitar empat ratusan, jadi ada jadwalnya. Hari ini giliran siapa, dan hari besok siapa. Kalo hari ini dan besok kamu naksir aku, nggak apa-apa kok. Aku teh ikhlas. Abaikan kalimat yang terakhir.
Sampainya disana, temen-temen gue udah pada kumpul dan udah pada siap buat antri pembayaran. Sedangkan gue baru dateng dan berkas yang gue punya juga belum siap untuk dikumpulin. Sebenernya gue berfikiran positif sih, kalo temen-temen gue juga belum siap berkasnya, tapi kayaknya salah.  Yah, namanya juga cowo. Pasti selalu salah.
Ketika temen-temen gue udah sibuk antri, gue baru fotocopy berkas-berkas yang gue punya. Sebenernya bukan gue juga sih yang fotocopy, gue minta tolong ketua angkatan gue. Untung orangnya baik. Yah, pokoknya nama dia harus terlihat bagus di blog gue. Siapa tau dia baca, kan gue juga yang dibantuin. AZEEK.
Ketika gue jalan sendiri menyusuri luasnya kampus, terdengar teriakan panggilan dari arah belakang,
‘HEIII, AHMADD!!!’
*pake bahasa arab pastinya
Gue abaikan
‘WOYYY AHMADDD!!’
Kali ini teriakannya lebih kenceng.
‘AHMADDD!!!’
‘AHMADD MANAA… AHMADD MANAA… DIMANAAA??’
‘DI JONGGOOLL’
Oke, yang terakhir itu murni bohong. Nggak mungkin juga orang Mesir paham sama sinetron Indo.
Detik berikutnya gue diem. Perlahan kepala gue menoleh ke arah suara. Mata gue masih mencari siapakah gerangan, yang berteriak memanggil nama gue. Yap, gue menemukannya. Ternyata yang dimaksud ‘AHMAD’ adalah temennya. Bukan gue. Dan ternyata, orang yang berteriak itu berdiri nggak lebih dari tiga meter dari si ‘AHMAD’. Tapi teriakannya membuat semua orang melihat ke arahnya.  Serasa kayak di hutan ya?
Bagi kalian yang bernama, Ahmad, Abdullah, Mahmud, ataupun  Muhammad, harus lebih siapin mental ya, untuk tinggal disini.
Setelah selesai menunggu sang ketua angkatan mem-fotocopy berkas yang gue punya, gue beranjak menuju tempat pembayaran. Barisannya nggak panjang-panjang banget sih. Tapi antriannya nggak ada kemajuan setelah satu jam lebih menunggu.
Gue inget atas pesan kakak senior tentang masalah pembayaran.  Harus bisa sabar.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Sholat dulu’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Lanjut besok ya’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Lusa besok, baru buka lagi’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Minggu depan, baru kita buka lagi’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Tahun depan, baru kita urus lagi. Sekarang saya mau mencari AHMAD’.
Nggak usah sabar kalo yang terakhir itu. Bakar aja orangnya. BAKAR!! Kalo perlu, kita sundul aja idungnya rame-rame, yuuk. SUNDULL SAMPE PESEK.
Da aku mah selalu tersenyum. Tapi kalo digituin juga bisa nyundul juga atuuh.
 Alhamdulillah, petugasnya nggak ada yang bilang kayak gitu. Dan tentunya, acara bakar manusia ataupun sundul idung berjamaah nggak terjadi. Mahasiswa baru bisa dengan tenang melangkahkan kakinya keluar kampus dengan gembira, sambil mengangkat kuitansi pembayaran. Bahagia itu sederhana, kawan.

sumber: http://uranelowbet.blogspot.com/2013/05/sabar-and-try-to-smile.html

Sunday, 14 December 2014

Fenomena mahasiswa baru Al-Azhar Mesir

Kuliah di luar negri itu nggak seindah bayangan orang-orang kok. Butuh perjuangan ekstra untuk kuliah di luar negri. Perjuangan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, perjungan untuk bisa bicara dengan bahasa sini, sampe perjuangan nungguin bis yang nggak dateng-dateng. Sama halnya, kayak perjuangan aku nungguin balesan cinta kamu. *emuuach
Geli, nyet
Tulisan kali ini, gue mau ngebahas hal-hal yang ringan aja. Nggak usah ngebahas tentang perkuliahan dulu. Apalagi ngebahas tentang kelas gue. Yah, mungkin sampai semester satu ini berakhir, gue nggak akan hapal dan kenal dengan para temen-temen satu kelas. Karena jumlah muridnya yang mencapai angka seribu. Bisa bayangin, temen satu kelas lo berjumlah seribu orang? Nggak bisa kan? 
Berasa lagi nonton konser dangdut. Rame. Nggak ada yang pake helm aja
Yah, lebih baik bayangin gue aja sih. Hah? Apa? Paru-paru lo sakit abis bayangin gue? Yes. Mamam tuh sesek nafas.
Keunikan menjadi mahasiswa di Mesir itu banyak. Salah satunya adalah kita para mahasiswa sini, khususnya para mahasiswa baru, mempunya sebuah film wajib yang harus ada di laptop. Sebuah film yang memotivasi para mahasiswa Mesir untuk lebih semangat dalam segala hal. Mulai dari semangat belajar, sampai semangat untuk mencari jodoh. Yang terakhir itu, gue banget lah pokoknya. Sebuah Film yang mengajarkan tentang sebuah arti ‘Proses belajar’. Yap, film itu berjudul Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 My anaconda don’t want none unless you got buns, hun
.....
Err.... Kayaknya ada yang salah. Oh iya! Judulnya, Ketika Cinta Bertasbih. Iya, film yang biasa disebut KCB itu tuh. Bukan Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
Tampar gue, kalo gue nyanyi lagi. Tampar!!
id.wikipedia.org
Sebelum gue pergi kuliah, temen-temen gue disibukkan dengan nobar film ini. Sebenernya, gue males sih nonton film ini. Soalnya yang nonton cowo semua. Kebayang dong, ini film bertemakan cinta, tapi yang nonton cowo semua. Agak geli-geli gimanaaa gitu. Apalagi kalo temen gue terlalu menghayati film ini, dan gengam tangan gue. Nggak usah deh. Daripada tangan gue di genggam sama cowo, lebih baik gue berangkat kuliah lebih awal atau lebih baik gue nyanyi,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 Tampar gue sekarang!!
Yah, walaupun rencana berangkat kuliah lebih awal, sempat terlintas di kepala, tapi gue lebih milih untuk nonton juga sih. Film ini berceritakan tentang kisah seorang mahasiswa bernama Azzam yang kuliah di Al-Azhar Kairo selama sembilan tahun sambil berjualan bakso dan tempe. Kisah ini nggak semuanya salah sih, tapi nggak semuanya bener juga. Film ini akan terlihat lebih salah, kalo si Azzam nyanyi  Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
.....
Adegan yang gue masih inget sampai sekarang adalah ketika Azzam menolong Anna. Seorang wanita sholehah, yang pada akhirnya akan menjadi istrinya Azzam. Kalo di dalam cerita, temennya Anna kecopetan di bis, dan itu memang benar sering terjadi. Maksud gue, disini memang rawan pencopetan dan kisah itu memang bener adanya. Adegan yang bikin gue bingung adalah ketika Azzam pulang ke rumah, setelah menolong Anna. Di filmnya digambarkan, kalo Azzam pulang naik taksi menuju rumanya melewati tiga Piramid. Padahal kenyataannya, rumah Azzam nggak sejauh itu kok.  Ibaratnya, kita mau pulang dari Tangerang menuju Jakarta. Tapi kita pergi ke Bandung dulu, baru ke Jakarta. Capek ya? Kasian supirnya. Mendingan nyanyi dulu deh, pak supir. 
Tapi terlepas dari itu, film ini punya banyak hal yang bisa diambil. Menuntut ilmu itu memang harus seperti itu. Di salah satu hadits juga menerangkan, kalo salah satu syarat untuk menjadi penuntut ilmu adalah waktu yang lama. Nggak menutup kemungkinan kok, kalo yang kuliahnya lama selesai bisa sukses dan ilmunya bermanfaat buat orang lain. Gue inget dengan pesan Kyai gue,
“Hidup itu nggak hanya berurusan dengan sekedar makan, kerja, kawin. Kalo kayak gitu, kambing juga bisa”
Selain tentang lamanya seorang mahasiswa menuntut ilmu, film itu mengajarkan kalo orang yang baik, akan bertemu juga dengan yang baik. Laki-laki yang baik akan bertemu dengan perempuan yang baik. Sama halnya dengan pesan yang disampaikan oleh kyai gue,
“Jangan pernah bosan jadi orang baik”
Karena semuanya akan ada balasannya kok.
Sekian dulu tulisannya. Semoga tulisan ini bisa bermnafaat yah...
Dan semoga ada perempuan khilaf yang naksir yah... banyak juga nggak apa-apa kok. Serius.
Emuuach :*

Saturday, 6 December 2014

Uniknya belajar di Al-Azhar Kairo

Dinginnya malam Kairo, memang lebih enak untuk dihabiskan dengan berdiam diri di kamar. Gue lebih memilih untuk tidur di atas kasur, pake selimut motif bunga-bunga *antimainstream, di temanin dengan segelas teh anget, sambil streamingan nonton film horor. Ketimbang harus jalan sama pacar. Udah dingin, dikit-dikit minta di beliin minuman anget, minta beliin kaos, sweater, jaket, sarung tangan, syal, penutup kuping, penutup kepala, gadget. INI PACAR ATAU PERAMPOKK, WOYY!!
Tentunya, yang jalan sama pacar itu, bukan gue. Ini lebih untuk sindiran aja, buat mereka yang lagi pacaran ataupun PDKT. Semoga gagal, akhi. Amiin.
Nikmat yang sampai sekarang gue syukuri selain bisa kuliah di salah satu universitas tertua di dunia, adalah dengan bertemu temen-temen baru, sahabat-sahabat baru. Yah, walaupun belum ketemu perempuan khilaf yang naksir sama gue, tapi gue masih tetep bersyukur kok. Akuuh kuat, kok. Akuuh kuat kok, mah, pah.
TISUUU MANA TISUUU!!!
Mereka, temen-temen baru gue ini adalah contoh mahasiswi rajin. Sahabat baru gue itu kebetulan perempuan. Walaupun sifatnya memang agak sedikit jantan sih. Selain kuliah, mereka juga sering talaqi sama syekh-syekh Azhar. Mulai dari pelajaran Fiqh, Hadits, Mawaris, Sirotu an-nabawiyah, sampai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan pun, mereka ikutin. Yang paling semangat sih, tentang pelajaran pernikahan itu kayaknya. Mereka ini lah, yang sering jadi Mood booster gue untuk semangat belajar, ketika gue males. Masa sebagai cowo ganteng, gue kalah sama perempuan. Masa sebagai calon imam rumah tangga di masa depan nanti *amiin, kalah sama ma’mum nya. MALU!!
Emm... yang bilang gue ganteng saat ini baru empat orang aja sih. Nyokap, bokap, sama dua adek perempuan gue. Iya, baru itu doang. Temen gue nggak ada yang bilang. Kamfret kan mereka? Mereka memang perempuan-perempuan jantan. Jahat iih...
Astagfirr... kenapa gue jadi ngondek giniii!!

Mereka perempuan jantan. Tapi, ketika mereka nraktir gue, mereka adalah bidadari :*
Oke, sekarang fokus sama judulnya.
Cara pembelajaran di Al-Azhar Mesir itu ada dua. Pertama, belajar di kampus seperti layaknya mahasiswa-mahasiwa lainnya. Dan yang kedua, adalah belajar langsung dengan para syekh-syekhnya yang bertepat di masjid Azhar. Sebenernya sih, apa yang diajarin oleh syeikh-syeikhnya itu nggak termasuk pelajaran yang nantinya di ujikan di kampus. Jadi bagi yang berminat, bisa ikut belajar dengan syeikhnya (dibaca: Talaqi), kalo nggak mau, ya nggak usah dateng. Kalo niat belajar lo hanya sekedar  untuk mendapatkan nilai yang bagus ketika ujian, lebih baik nggak usah dateng. Tapi, kalo niat lo memang untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan keberkahan dari syeikhnya, sangat amat dianjurkan untuk mengikuti Talaqi. Keren ya, bahasanya? Jadi berasa ganteng gue.
Yang mau muntah silahkan...

Tapi kalo ngeliat foto ini, gue beneran ngerasa jadi cowo keren
Zaman sekarang, orang-orang itu mengikuti arus perkembangan, dan perlahan-lahan melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Contoh kecilnya, seorang muslimah nggak mau pake kerudung, dan lebih milih untuk mempercantik rambut, memputihkan kulit dan lain sebagainya. Maklum gue cowo, dan nggak tau kebutuhan cewe. Tapi kalo malem udah berubah kok... *maapinAimYaaOwooh.Gue pribadi malah mau pake kerudung. Kalo perlu, pake cadar sekalian deh. Tapi itu semua dilarang sama adek gue. Coba bayangin? Niat baik gue dilarang sama adek gue. Emm.. emang nggak boleh sih, cowo pake kerudung. Sebenernya, tujuan gue supaya bisa masuk kampus perempuannya aja. Biar bisa selfie sama perempuan-perempuan Mesir. kan cucoook tuh, cyiinn....
*Kemudian ada hening yang panjang. Panjaaanggg banget....
Kalo perempuan mau kulitnya jadi lebih putih, gue nggak mau. Gue bersyukur dengan kulit gue yang coklat manis kayak sekarang ini. Kayak susu coklat bubuk gitu lah. Tapi perempuan malah mau kulitnya berubah jadi putih. Mikir dong... MIKIR?!! Eemm... Jujur. Sebenernya gue udah nyoba sih, tapi yaa kenyataannya... ya gitu. Emang susah dirubah. Cakiiiit tau, qaqa. CAKIITTT!!
Geli, nyeet
Nggak usah gue sebutin dalilnya, kalo pake jilbab itu wajib kan? Udah gede semua kok. Pasti tau, mana yang harus dikerjain dan mana yang harus dihindarin. Perempuan cantik itu nggak usah beli alat kecantikan mahal-mahal kok. Cukup wudhu dan jaga pandangannya, udah bikin lemes cowo yang ngeliat.
Selain ilmu yang dicari di Talaqi, orang-orang ingin meminta keberkahan oleh syekh-syeknya. Oleh guru-gurunya. Dan pemikiran ini mungkin udah jarang ditemuin oleh para anak muda.
Logikanya gini....
Kita belajar oleh syekh, yang ilmu agamanya nggak usah diragukan lagi. Dan InsyaAllah, beliau-beliau ini mempunyaii amalan yang lebih banyak ketimbang diri kita. Bahkan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta lebih dekat, ketimbang kita ini yang masih sering kelupaan untuk sholat tepat waktu. Kalo sudah deket dengan Sang Pencipta, sebuah doa akan lebih mudah untuk dikabulkan, kan? Kebayang dong gimana mujarabnya sebuah doa, ketika beliau-beliau berdoa untuk para murid-muridnya, ‘Permudahlah murid-muridku dalam belajar, dan menghadapi ujian’. Dan diri kita termasuk murid-muridnya yang di doakan itu? Ampuh banget, men.
Masjid Al-Azhar

Contohnya Talaqi kayak gini. Tapi ini di masjid lain
Dan belajar di kampus itu butuh perjuangan berat. Mungkin hanya di kampus gue aja, jumlah bangku yang ada, lebih sedikit ketimbang jumlah muridnya. Sekarang, gue akan tunjukin sedikit fotonya aja deh. Untuk kisah pertama kali gue masuk kelas, akan gue ceritain nanti. Pokoknya nanti. Entah itu tulisan depan, atau kapan. Pokoknya nanti deh ya....
Ini belom yang lesehan di lantai dan samping dukturohnya (baca:dosen) ya....

Perempuan itu, emang beneran naik di atas meja. CATET!
Oh iya, satu lagi.... Jangan lupa buat saling mendoakan. Ketika diri lo mendoakan hal yang baik untuk orang lain, maka diri lo sendiri akan mendapatkan kebaikan itu. Yang pernah gue denger sih gitu. Kalo salah mohon di koreksi. Doain buat ujian gue nanti ya.... dan doain, supaya si ‘dia’ juga naksir sama gue. Emmuuachh...