Friday, 26 December 2014

Lika-liku perkuliahan di Mesir

Sebenernya, tinggal menghitung hari aja sebelum ujian termin pertama (kalo di Indo UTS) di mulai. Tapi banyak banget hal yang ada di fikiran gue saat ini. Mulai dari keluarga, temen, cinta, dan pelajaran tentunya. Nggak mikirin tentang cinta juga sih. Toh, cewe yang gue taksir udah punya peliharaan.
Eemm.... Bukan hewan peliharaan, tapi pasangan. Iya, pasangan. Ituh maksud gue. Duh, susah banget sih nge-ikhlasinnya.
Gue kira kuliah disini tuh, tinggal duduk manis di perkuliahan, dengerin semua penjelasan dukturoh (baca: dosen), beli buku-buku pelajaran yang diperlukan, dan kenalan dengan para mahasiswa dari berbagai negara. Tapi kenyatannya nggak kayak gitu. Sebenernya, gue pengen kenalan sama mahasiswi-mahasiswi sih. Berhubung kampusnya nggak campur cowo-cewe, dan temen-temen cewe gue nggak ada yang peka buat memperkenalkan gue kepada temen-temen kampus mereka, yaah... gue harus menerima kenyataannya. Toh temen cewe gue, cuman luarnya aja yang cewe, sifatnya mah, ya kayak cowo. Nobar bola juga.
Banyak proses yang harus dilakukan untuk menjadi mahasiswa Al-Azhar. Mulai dari nama kita harus ada di daftar kelas bahasa, kemudian pemeriksaan darah, dan yang terakhir nama kita tercantum di jurusan yang kita pilih. Susunannya sih gampang, TAPI PROSESNYA YANG RIBET!! Kalo masuk kuliah sih, terserah. Boleh-boleh aja. Tapi nama-nama kita itu loh, sebagai mahasiswa baru, belum kecantum di daftar mahasiswa Al-Azhar. Berasa kayak mahasiswa gelap. Muka udah gelap, jadi mahasiswa gelap juga. Duh, kenapa ngenes amat sih! Yah, walaupun gelap gini, tapi manis kok. Kata nyokap aja, gue ganteng.
Agak maksa sih emang.... 
Gue sendiri nggak terlalu ambil pusing tentang persoalan nama-nama mahasiswa yang kecantum, toh itu semua udah ada yang ngerjain. Abang-abang senior PPMI dan panitia mahasiswa baru. Jujur aja, gue prihatin sama masalah ini. Soalnya yang ngurusin hal ini, para mahasiswa juga. Senior-senior gue. Dan mereka akan ikut ujian juga nantinya. Yah, gue percaya kok, setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Dan mungkin aja, waktu yang mereka habiskan untuk mengurus semua hal ini, menjadi sebuah kunci kemudahan mereka dalam menjawab ujian nanti.
Sok bijak banget ya, gue?
Walaupun nama-nama kita belum kecantum sebagai nama mahasiswa-mahasiswi di Al-Azhar, tapi semangat belajar kita jangan pernah di remehkan. Dari pagi, siang, sore sampai malem selalu berpegangan erat dengan buku-buku. Gaul kan? BANGET!!
PPMI Mesir
Sebenernya bukan KITA. Tapi temen-temen gue doang. Gue sih cuman pegangin hape doang. Padahal sih nggak ada notif BBM atau What’s app dari si dia. Sekalinya ada notif masuk, yaa sekedar Broadcast obat pemutih wajah. Padahal nggak usah pake obat pemutih gitu, wajah cewe-cewe juga keliatan bersinar kok. Asalkan, sering-sering wudhu dan nutup auratnya aja. Syahdu banget yaa tulisannya? Sama kayak hati gue. Sama-sama teduh.
Saat ini gue belum bisa menemukan seorang partner untuk belajar bareng. Iri juga sama mereka yang udah punya partner. Gampang-gampang susah sih, sebenernya untuk ngedapetin partner kayak gitu. Ketika gue ngajak temen untuk bimbel bareng, temen gue nolak. Ketika gue lagi males-malesan, temen gue udah berangkat bareng sama temen gue yang lainnya. Kampret kan? Yah, memang nggak usah terlalu berharap sama orang lain juga sih. Hidup itu kan selalu berputar. Walaupun sebelumnya pernah menjadi temen baik antara satu sama lain, suatu saat bisa berubah menjadi sosok orang asing yang nggak pernah kenal.
Saat ini gue lagi deket dengan beberapa temen-temen cewe yang satu almamater sama gue. Yah, cewe yang gue maksud diatas tadi yaaa mereka ini. Cewe pejantan tangguh. Namanya si Endut, Alis tebal, Mak Lampir, dan si Labil. Namanya sengaja disamarin biar misterius gitu.
Dapet feel misteriusnya nggak?
Oh nggak dapet?
Iya, nggak apa-apa kok.
Terkadang gue dapet pelajaran baru dan penting dari mereka. Iya, terkadang doang kok. Tapi dari pelajaran yang gue dapet dari temen gue yang sebelumnya, gue nggak mau terlalu berharap dari mereka. Bukankah berharap lebih hanya menimbulkan sakit yang berlebih juga? Terlebih lagi, mereka cewe dan pelajarannya juga berbeda dengan yang gue pelajari di kampus. Maka dari itu, ya gue harus bersama temen-temen gue yang lainnya. Yang cowo. Gue nggak berharap juga sih, bertemu dengan partner yang nantinya bisa saling motivasi dan hina-hinaan tanpa tersinggung gitu. Gue hanya ingin menikmati semua proses yang ada. Biarkan mengalir aja. Toh, untuk mendapatkan seorang partner kaya gitu, nggak bisa dipaksakan dan pastinya akan membutuhkan waktu yang lama.
Yah, semua lika-liku yang ada saat ini memang lebih baik untuk di nikmati, sehingga bisa dijadikan cerita di masa depan, kan? Ketimbang selalu dipikirin terus, dan dibawa susah. Makin tambah stress. Udah JOMBLO, strees lagi.

Monday, 22 December 2014

Kisah hampir tragis di kampus Mesir

Ngomongin tentang Negara Mesir itu nggak akan ada habisnya.
Selalu memberikan kehangatan baru.
Sama kayak senyuman kamu, emuuach.
Gilani, nyet.
Salah satu sifat wajib yang dimiliki oleh setiap orang Mesir adalah suara kerasnya. Dari yang muda sampai tua, kalo ngomong pasti kenceng. Nggak ada yang mau ngalah. Serasa tinggal di hutan gitu lah. Padahal duduknya sebangku, tapi pas ngobrol kayak ngajak brantem. Coba kalo gue berani, bakalan gue sundul tuh hidung.
‘LO DIEM!!! NGOMONGNYA NGGAK USAH KENCENG-KENCENG, BISA?! ITU IDUNG, KENAPA SONGONG GITU. KENAPA SOK-SOK MANCUNG HAAH!! GUE SUNDUL NIH’
Tapi kenyataannya ya nggak mungkin kayak gitu lah. Badan gue juga nggak setinggi orang sini. Yang ada malah pipi gue di tampar sama hidung mereka. Tragis.
Yah, selain harus kuat fisik dan mental untuk tinggal disini, para mahasiswa juga di tuntut untuk memiliki sifat sabar yang lebih juga. Ehmm… sebenernya nggak di tuntut juga sih, tapi memang udah kayak kewajiban mendasar yang harus dipunya gitu.
Udara pagi hari di Kairo begitu sejuk dan sunyi. Nggak ada suara teriakan om-om ber-hidung besar maupun bunyi klakson dari bawah flat gue. Waktu itu memang cocok banget digunain untuk berlama-lama dengan Sang Pencipta. Berlama-lama untuk menceritakan semua keluh kesah yang dipunya dan melafadzkan ayat suci-Nya. Setiap ada perasaan malas yang hinggap di hati gue, pasti gue akan bilang ke diri gue sendiri, ‘Bacain TL cewe idaman aja kuat ber jam-jam. Masa curhat sama Sang Kuasa nggak kuat?’ Bijak banget kan? Berasa tambah gaaanteng gue *kibasinrambut.
Pagi ini gue harus berangkat ke kampus pusat, guna untuk mengurus perkuliahan. Sebenernya bukan gue doang sih. Temen-temen gue yang lain juga begitu. Berhubung mahasiswa baru angkatan gue termasuk banyak, sekitar empat ratusan, jadi ada jadwalnya. Hari ini giliran siapa, dan hari besok siapa. Kalo hari ini dan besok kamu naksir aku, nggak apa-apa kok. Aku teh ikhlas. Abaikan kalimat yang terakhir.
Sampainya disana, temen-temen gue udah pada kumpul dan udah pada siap buat antri pembayaran. Sedangkan gue baru dateng dan berkas yang gue punya juga belum siap untuk dikumpulin. Sebenernya gue berfikiran positif sih, kalo temen-temen gue juga belum siap berkasnya, tapi kayaknya salah.  Yah, namanya juga cowo. Pasti selalu salah.
Ketika temen-temen gue udah sibuk antri, gue baru fotocopy berkas-berkas yang gue punya. Sebenernya bukan gue juga sih yang fotocopy, gue minta tolong ketua angkatan gue. Untung orangnya baik. Yah, pokoknya nama dia harus terlihat bagus di blog gue. Siapa tau dia baca, kan gue juga yang dibantuin. AZEEK.
Ketika gue jalan sendiri menyusuri luasnya kampus, terdengar teriakan panggilan dari arah belakang,
‘HEIII, AHMADD!!!’
*pake bahasa arab pastinya
Gue abaikan
‘WOYYY AHMADDD!!’
Kali ini teriakannya lebih kenceng.
‘AHMADDD!!!’
‘AHMADD MANAA… AHMADD MANAA… DIMANAAA??’
‘DI JONGGOOLL’
Oke, yang terakhir itu murni bohong. Nggak mungkin juga orang Mesir paham sama sinetron Indo.
Detik berikutnya gue diem. Perlahan kepala gue menoleh ke arah suara. Mata gue masih mencari siapakah gerangan, yang berteriak memanggil nama gue. Yap, gue menemukannya. Ternyata yang dimaksud ‘AHMAD’ adalah temennya. Bukan gue. Dan ternyata, orang yang berteriak itu berdiri nggak lebih dari tiga meter dari si ‘AHMAD’. Tapi teriakannya membuat semua orang melihat ke arahnya.  Serasa kayak di hutan ya?
Bagi kalian yang bernama, Ahmad, Abdullah, Mahmud, ataupun  Muhammad, harus lebih siapin mental ya, untuk tinggal disini.
Setelah selesai menunggu sang ketua angkatan mem-fotocopy berkas yang gue punya, gue beranjak menuju tempat pembayaran. Barisannya nggak panjang-panjang banget sih. Tapi antriannya nggak ada kemajuan setelah satu jam lebih menunggu.
Gue inget atas pesan kakak senior tentang masalah pembayaran.  Harus bisa sabar.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Sholat dulu’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Lanjut besok ya’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Lusa besok, baru buka lagi’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Minggu depan, baru kita buka lagi’.
Sabar ketika petugasnya bilang, ‘Tahun depan, baru kita urus lagi. Sekarang saya mau mencari AHMAD’.
Nggak usah sabar kalo yang terakhir itu. Bakar aja orangnya. BAKAR!! Kalo perlu, kita sundul aja idungnya rame-rame, yuuk. SUNDULL SAMPE PESEK.
Da aku mah selalu tersenyum. Tapi kalo digituin juga bisa nyundul juga atuuh.
 Alhamdulillah, petugasnya nggak ada yang bilang kayak gitu. Dan tentunya, acara bakar manusia ataupun sundul idung berjamaah nggak terjadi. Mahasiswa baru bisa dengan tenang melangkahkan kakinya keluar kampus dengan gembira, sambil mengangkat kuitansi pembayaran. Bahagia itu sederhana, kawan.

sumber: http://uranelowbet.blogspot.com/2013/05/sabar-and-try-to-smile.html

Sunday, 14 December 2014

Fenomena mahasiswa baru Al-Azhar Mesir

Kuliah di luar negri itu nggak seindah bayangan orang-orang kok. Butuh perjuangan ekstra untuk kuliah di luar negri. Perjuangan untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, perjungan untuk bisa bicara dengan bahasa sini, sampe perjuangan nungguin bis yang nggak dateng-dateng. Sama halnya, kayak perjuangan aku nungguin balesan cinta kamu. *emuuach
Geli, nyet
Tulisan kali ini, gue mau ngebahas hal-hal yang ringan aja. Nggak usah ngebahas tentang perkuliahan dulu. Apalagi ngebahas tentang kelas gue. Yah, mungkin sampai semester satu ini berakhir, gue nggak akan hapal dan kenal dengan para temen-temen satu kelas. Karena jumlah muridnya yang mencapai angka seribu. Bisa bayangin, temen satu kelas lo berjumlah seribu orang? Nggak bisa kan? 
Berasa lagi nonton konser dangdut. Rame. Nggak ada yang pake helm aja
Yah, lebih baik bayangin gue aja sih. Hah? Apa? Paru-paru lo sakit abis bayangin gue? Yes. Mamam tuh sesek nafas.
Keunikan menjadi mahasiswa di Mesir itu banyak. Salah satunya adalah kita para mahasiswa sini, khususnya para mahasiswa baru, mempunya sebuah film wajib yang harus ada di laptop. Sebuah film yang memotivasi para mahasiswa Mesir untuk lebih semangat dalam segala hal. Mulai dari semangat belajar, sampai semangat untuk mencari jodoh. Yang terakhir itu, gue banget lah pokoknya. Sebuah Film yang mengajarkan tentang sebuah arti ‘Proses belajar’. Yap, film itu berjudul Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 My anaconda don’t want none unless you got buns, hun
.....
Err.... Kayaknya ada yang salah. Oh iya! Judulnya, Ketika Cinta Bertasbih. Iya, film yang biasa disebut KCB itu tuh. Bukan Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
Tampar gue, kalo gue nyanyi lagi. Tampar!!
id.wikipedia.org
Sebelum gue pergi kuliah, temen-temen gue disibukkan dengan nobar film ini. Sebenernya, gue males sih nonton film ini. Soalnya yang nonton cowo semua. Kebayang dong, ini film bertemakan cinta, tapi yang nonton cowo semua. Agak geli-geli gimanaaa gitu. Apalagi kalo temen gue terlalu menghayati film ini, dan gengam tangan gue. Nggak usah deh. Daripada tangan gue di genggam sama cowo, lebih baik gue berangkat kuliah lebih awal atau lebih baik gue nyanyi,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
 Tampar gue sekarang!!
Yah, walaupun rencana berangkat kuliah lebih awal, sempat terlintas di kepala, tapi gue lebih milih untuk nonton juga sih. Film ini berceritakan tentang kisah seorang mahasiswa bernama Azzam yang kuliah di Al-Azhar Kairo selama sembilan tahun sambil berjualan bakso dan tempe. Kisah ini nggak semuanya salah sih, tapi nggak semuanya bener juga. Film ini akan terlihat lebih salah, kalo si Azzam nyanyi  Anaconda,
My anaconda don’t
My anaconda don’t
.....
Adegan yang gue masih inget sampai sekarang adalah ketika Azzam menolong Anna. Seorang wanita sholehah, yang pada akhirnya akan menjadi istrinya Azzam. Kalo di dalam cerita, temennya Anna kecopetan di bis, dan itu memang benar sering terjadi. Maksud gue, disini memang rawan pencopetan dan kisah itu memang bener adanya. Adegan yang bikin gue bingung adalah ketika Azzam pulang ke rumah, setelah menolong Anna. Di filmnya digambarkan, kalo Azzam pulang naik taksi menuju rumanya melewati tiga Piramid. Padahal kenyataannya, rumah Azzam nggak sejauh itu kok.  Ibaratnya, kita mau pulang dari Tangerang menuju Jakarta. Tapi kita pergi ke Bandung dulu, baru ke Jakarta. Capek ya? Kasian supirnya. Mendingan nyanyi dulu deh, pak supir. 
Tapi terlepas dari itu, film ini punya banyak hal yang bisa diambil. Menuntut ilmu itu memang harus seperti itu. Di salah satu hadits juga menerangkan, kalo salah satu syarat untuk menjadi penuntut ilmu adalah waktu yang lama. Nggak menutup kemungkinan kok, kalo yang kuliahnya lama selesai bisa sukses dan ilmunya bermanfaat buat orang lain. Gue inget dengan pesan Kyai gue,
“Hidup itu nggak hanya berurusan dengan sekedar makan, kerja, kawin. Kalo kayak gitu, kambing juga bisa”
Selain tentang lamanya seorang mahasiswa menuntut ilmu, film itu mengajarkan kalo orang yang baik, akan bertemu juga dengan yang baik. Laki-laki yang baik akan bertemu dengan perempuan yang baik. Sama halnya dengan pesan yang disampaikan oleh kyai gue,
“Jangan pernah bosan jadi orang baik”
Karena semuanya akan ada balasannya kok.
Sekian dulu tulisannya. Semoga tulisan ini bisa bermnafaat yah...
Dan semoga ada perempuan khilaf yang naksir yah... banyak juga nggak apa-apa kok. Serius.
Emuuach :*

Saturday, 6 December 2014

Uniknya belajar di Al-Azhar Kairo

Dinginnya malam Kairo, memang lebih enak untuk dihabiskan dengan berdiam diri di kamar. Gue lebih memilih untuk tidur di atas kasur, pake selimut motif bunga-bunga *antimainstream, di temanin dengan segelas teh anget, sambil streamingan nonton film horor. Ketimbang harus jalan sama pacar. Udah dingin, dikit-dikit minta di beliin minuman anget, minta beliin kaos, sweater, jaket, sarung tangan, syal, penutup kuping, penutup kepala, gadget. INI PACAR ATAU PERAMPOKK, WOYY!!
Tentunya, yang jalan sama pacar itu, bukan gue. Ini lebih untuk sindiran aja, buat mereka yang lagi pacaran ataupun PDKT. Semoga gagal, akhi. Amiin.
Nikmat yang sampai sekarang gue syukuri selain bisa kuliah di salah satu universitas tertua di dunia, adalah dengan bertemu temen-temen baru, sahabat-sahabat baru. Yah, walaupun belum ketemu perempuan khilaf yang naksir sama gue, tapi gue masih tetep bersyukur kok. Akuuh kuat, kok. Akuuh kuat kok, mah, pah.
TISUUU MANA TISUUU!!!
Mereka, temen-temen baru gue ini adalah contoh mahasiswi rajin. Sahabat baru gue itu kebetulan perempuan. Walaupun sifatnya memang agak sedikit jantan sih. Selain kuliah, mereka juga sering talaqi sama syekh-syekh Azhar. Mulai dari pelajaran Fiqh, Hadits, Mawaris, Sirotu an-nabawiyah, sampai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan pun, mereka ikutin. Yang paling semangat sih, tentang pelajaran pernikahan itu kayaknya. Mereka ini lah, yang sering jadi Mood booster gue untuk semangat belajar, ketika gue males. Masa sebagai cowo ganteng, gue kalah sama perempuan. Masa sebagai calon imam rumah tangga di masa depan nanti *amiin, kalah sama ma’mum nya. MALU!!
Emm... yang bilang gue ganteng saat ini baru empat orang aja sih. Nyokap, bokap, sama dua adek perempuan gue. Iya, baru itu doang. Temen gue nggak ada yang bilang. Kamfret kan mereka? Mereka memang perempuan-perempuan jantan. Jahat iih...
Astagfirr... kenapa gue jadi ngondek giniii!!

Mereka perempuan jantan. Tapi, ketika mereka nraktir gue, mereka adalah bidadari :*
Oke, sekarang fokus sama judulnya.
Cara pembelajaran di Al-Azhar Mesir itu ada dua. Pertama, belajar di kampus seperti layaknya mahasiswa-mahasiwa lainnya. Dan yang kedua, adalah belajar langsung dengan para syekh-syekhnya yang bertepat di masjid Azhar. Sebenernya sih, apa yang diajarin oleh syeikh-syeikhnya itu nggak termasuk pelajaran yang nantinya di ujikan di kampus. Jadi bagi yang berminat, bisa ikut belajar dengan syeikhnya (dibaca: Talaqi), kalo nggak mau, ya nggak usah dateng. Kalo niat belajar lo hanya sekedar  untuk mendapatkan nilai yang bagus ketika ujian, lebih baik nggak usah dateng. Tapi, kalo niat lo memang untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan keberkahan dari syeikhnya, sangat amat dianjurkan untuk mengikuti Talaqi. Keren ya, bahasanya? Jadi berasa ganteng gue.
Yang mau muntah silahkan...

Tapi kalo ngeliat foto ini, gue beneran ngerasa jadi cowo keren
Zaman sekarang, orang-orang itu mengikuti arus perkembangan, dan perlahan-lahan melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Contoh kecilnya, seorang muslimah nggak mau pake kerudung, dan lebih milih untuk mempercantik rambut, memputihkan kulit dan lain sebagainya. Maklum gue cowo, dan nggak tau kebutuhan cewe. Tapi kalo malem udah berubah kok... *maapinAimYaaOwooh.Gue pribadi malah mau pake kerudung. Kalo perlu, pake cadar sekalian deh. Tapi itu semua dilarang sama adek gue. Coba bayangin? Niat baik gue dilarang sama adek gue. Emm.. emang nggak boleh sih, cowo pake kerudung. Sebenernya, tujuan gue supaya bisa masuk kampus perempuannya aja. Biar bisa selfie sama perempuan-perempuan Mesir. kan cucoook tuh, cyiinn....
*Kemudian ada hening yang panjang. Panjaaanggg banget....
Kalo perempuan mau kulitnya jadi lebih putih, gue nggak mau. Gue bersyukur dengan kulit gue yang coklat manis kayak sekarang ini. Kayak susu coklat bubuk gitu lah. Tapi perempuan malah mau kulitnya berubah jadi putih. Mikir dong... MIKIR?!! Eemm... Jujur. Sebenernya gue udah nyoba sih, tapi yaa kenyataannya... ya gitu. Emang susah dirubah. Cakiiiit tau, qaqa. CAKIITTT!!
Geli, nyeet
Nggak usah gue sebutin dalilnya, kalo pake jilbab itu wajib kan? Udah gede semua kok. Pasti tau, mana yang harus dikerjain dan mana yang harus dihindarin. Perempuan cantik itu nggak usah beli alat kecantikan mahal-mahal kok. Cukup wudhu dan jaga pandangannya, udah bikin lemes cowo yang ngeliat.
Selain ilmu yang dicari di Talaqi, orang-orang ingin meminta keberkahan oleh syekh-syeknya. Oleh guru-gurunya. Dan pemikiran ini mungkin udah jarang ditemuin oleh para anak muda.
Logikanya gini....
Kita belajar oleh syekh, yang ilmu agamanya nggak usah diragukan lagi. Dan InsyaAllah, beliau-beliau ini mempunyaii amalan yang lebih banyak ketimbang diri kita. Bahkan memiliki hubungan dengan Sang Pencipta lebih dekat, ketimbang kita ini yang masih sering kelupaan untuk sholat tepat waktu. Kalo sudah deket dengan Sang Pencipta, sebuah doa akan lebih mudah untuk dikabulkan, kan? Kebayang dong gimana mujarabnya sebuah doa, ketika beliau-beliau berdoa untuk para murid-muridnya, ‘Permudahlah murid-muridku dalam belajar, dan menghadapi ujian’. Dan diri kita termasuk murid-muridnya yang di doakan itu? Ampuh banget, men.
Masjid Al-Azhar

Contohnya Talaqi kayak gini. Tapi ini di masjid lain
Dan belajar di kampus itu butuh perjuangan berat. Mungkin hanya di kampus gue aja, jumlah bangku yang ada, lebih sedikit ketimbang jumlah muridnya. Sekarang, gue akan tunjukin sedikit fotonya aja deh. Untuk kisah pertama kali gue masuk kelas, akan gue ceritain nanti. Pokoknya nanti. Entah itu tulisan depan, atau kapan. Pokoknya nanti deh ya....
Ini belom yang lesehan di lantai dan samping dukturohnya (baca:dosen) ya....

Perempuan itu, emang beneran naik di atas meja. CATET!
Oh iya, satu lagi.... Jangan lupa buat saling mendoakan. Ketika diri lo mendoakan hal yang baik untuk orang lain, maka diri lo sendiri akan mendapatkan kebaikan itu. Yang pernah gue denger sih gitu. Kalo salah mohon di koreksi. Doain buat ujian gue nanti ya.... dan doain, supaya si ‘dia’ juga naksir sama gue. Emmuuachh...

Friday, 28 November 2014

Musim dingin di Mesir

Pelajaran Geografi yang kita pelajarin di sekolah, menerangkan bahwa Indonesia itu hanya memiliki dua musim. Kalo nggak musim panas, ya musim hujan. Padahal sih, masih banyak musim-musim yang ada di Indonesia. Contohnya, musim duren, musim salak, musim jambu, musim diphpin, musim galau, musim tanpa pasangan, musim hinaan sebagai jomblo, musim....  kayaknya cukup deh. Kalo gue lanjutin, nanti banyak yang sakit. Tapi terkadang, ketika musim panas masih sering turun hujan. Di musim hujan, hujannya nggak turun. Malah BBM yang naik *eeh. Untung gue ada Whatsapp, Line, sama Skype. Berasa di PHP banget kan ya, kalo pas di tungguin hujan malah nggak turun? Tapi hati aku udah nggak pernah ngerasain musim hujan lagi kok, ketika kamu ada di sampingku. *kibasinrambut
Yang mau muntah silahkan...
Tahun ini perdana gue ngerasain musim dingin di negri orang lain. Di negri Piramid, Mesir. Ternyata omongan senior-senior gue, kalo di Mesir itu ada musim dingin, itu benar. Dan yang gue nggak sangka, ternyata  kulit badan gue, yang di anugrahi lebih tebel dari orang lain, masih tetep ngerasa kedinginan. Dan minggu ini juga, perdana gue liat hujan di Mesir. Kata orang-orang sini sih, hujan disini bertanda pergantian musim.  Dari musim panas ke musim dingin. Dingin di Kairo, juga bertambah dingin. Ketika orang yang gue taksir, ternyata suka sama yang lain. Caqqqidtthh qaqa.. CAQQQIDHTT!!
Mata gue pedih, baca tulisan sendiri

See, betapa kesepiannya temen gue. Sampai punya inisiatif untuk moto hujan
Dengan pergantian musim ini, gue dituntut supaya bisa menyesuaikan dengan dinginnya Mesir. karena memang suasana kayak gini, lebih enak untuk tidur ketimbang berangkat kuliah. Terlebih kampus gue, jauh dari tempat tinggal. Selain waktu yang cocok untuk tidur, musim dingin bikin perut cepet lapernya. Gue sendiri aja juga sering kelaperan, padahal dua jam yang lalu gue baru selesai makan. Kalo kayak gini terus, kapan gue bisa kurusnya.
Err... sebenernya nggak cuman pas musim dingin doang sih, hari-hari biasanya juga kayak gitu. Ini rahasia ya. Jangan kasih tau orang lain.
Tugas paling berat ketika musim dingin kayak gini adalah ketika harus beranjak dari kasur dan selimut. Dan hal yang paling nikmat untuk dikerjakan adalah dengan tidur seharian di bawah selimut, teh hangat di samping laptop, nonton film seharian, dan ketika piket masak, nyuruh untuk makan. Rasanya gurih banget.
Beruntung disini gue bertemu dengan teman-teman baru. Temen yang bisa memotivasi gue untuk semangat belajar. Dan beruntungnya lagi, mereka adalah perempuan. Pada akhirnya ada juga kan, perempuan khilaf yang mau bertemen sama gue. Eemm... sebenernya, sifat mereka nggak ke cewe-cewe an banget sih. Mereka terkesan kayak cowo. Apalagi kalo udah ketawa. Gue sendiri, masih takut ketika mereka ketawa. Mereka nggak suka nonton sinetron, tapi lebih suka nonton bola. Malah temen cowo gue, yang suka download sinetron. Dan kayaknya, memang semua temen cewe yang gue kenal, sifatnya kayak cowo semua sih. Apa dosa Aim ya owooh??
Mereka ke cowo-cowo an
Di kampus gue sendiri, sebenernya nggak ada kewajiban bagi mahasiswanya untuk dateng setiap hari. Karena nggak ada sistem absensi. Pokoknya ketika ujian bisa jawab dan dan dapet nilai bagus, lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Gampang kan? Tapi kan bukan kayak gitu juga. Salah satu kata-kata bijak kyai gue, yang sampai kapan pun akan selalu gue inget adalah,
“Ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”
Pelan-pelan bacanya. Gue juga butuh waktu buat nangkep maksud kata-kata itu.
“Kalo kamu lebih buruk dari saya, lebih baik saya tetap hidup. Dan kamu tidak pernah ada”
Musim dingin ini memang lebih enak untuk megang gelas berisikan teh anget, ketimbang harus megang buku pelajaran. Tapi kalo gue sering megang gelas berisikan teh anget, kapan akuh genggam tangan kamuuuh, cinta? #apaansih. Ujian gue di depan mata. Dan ini yang bikin gue ‘terkadang’ nggak nyenyak untuk tidur. Padahal sih, nyenyak-nyenyak aja. Biar lebih dramatik gitu.
Ujian ini bertepatan tanggal empat Januari nanti. Itu berarti, setelah tanggal tiga januari, gue akan menghadapi ujian.
Nggak lucu, nyet
Sedangkan pelajaran yang akan di ujiakan nanti, belum gue kuasain sepenuhnya. Terlebih pelajaran bahasa Inggris. Sampai sekarang, gue masih belum paham ketika Dukturoh (sebutan dosen disini) gue nerangin pelajaran. Malah, ketika gue ikut pertama kali kelas beliau, gue kira beliau lagi ngomong bahasa arab gaul. Ternyata gue salah. Gue serasa gagal jadi mahasiswa baik yang rajin menolong dan suka menabung. Ternyata bahasa Inggris beliau ini, hanya bisa di pahami oleh orang-orang asli Mesir. dan tentunya mahasiswa-mahasiswa asing kayak gue, butuh waktu. Sama kayak kamu suka sama aku. Butuh waktu juga.
Dan disinilah mereka, temen-temen baru gue itu, ada untuk gue. Mereka akan selalu menyemangati diri gue untuk selalu belajar. Akan selalu ngasih gue makan, ketika gue laper. Kalo mereka muhrim, bakalan gue peluk, gue cium, bakalan gue.... gue... gue minta traktirannya lagi buat makan.
Thanks all *berasa artis gue
Okeh. Cukup sekian dulu tulisannya yak. Mau lanjut selimutan sambil stalking si doi lagi soalnya... dadaggh..
Oh iya, minta doanya buat ujian gue nanti ya. Sini cium dulu, emmuuach...

Tuesday, 25 November 2014

Tentang Aku, Namamu dan Sang pencipta

Dingin ini tidak seperti biasanya. Dingin di Negara orang lain itu jauh berbeda dengan dingin yang ada di negri sendiri. Terlebih di Negara yang di dominasi oleh gurun pasir dan matahari yang terik. Hujan ini hanya akan turun setiap sekali atau dua kali dalam setahun. Dan hujan ini membuatku teringat dengan senyumanmu.
Perasaan ini muncul lagi. Benci untuk mengakuinya, tapi diri ini sedang mempunya perasaan yang lain. Perasaan yang sebelumnya telah ku kunci rapat-rapat, bahkan tidak ada yang bisa menyentuhnya. Perlahan dan pasti mulai terbuka sejak aku melihat senyuman itu. Entahlah. Apakah ini hanya sebuah perasaan seseorang pria yang kagum dengan kecantikan seorang wanita atau perasaan lainnya? I don\t know.

http://meetville.com/

Tidak mungkin. Seharusnya perasaan ini harus kubuang jauh-jauh. Dan memang sebaiknya seperti itu. Perasaan ini cukup hanya aku dan Allah saja yang mengetahui. Tidak perlu orang lain mengetahui perasaan ini.
Namamu akan selalu ada dalam bait-bait doaku kepadaNya. Akan selalu terselip dalam dialogku bersama Allah. Cukup sajadah ini saja yang menjadi saksi bisu. Antara aku, namamu, dan Allah. Aku memang pengecut. Pengecut, karena hanya memendam perasaan ini seorang diri. Karena aku lebih menikmati mengagumimu dari jauh. Menikmati senyuman indahmu, lebih tepatnya. Aku tidak ingin kehilangan senyuman indah itu. Aku terlalu pengecut untuk kehilangan dirimu.

your admirer

Saturday, 22 November 2014

Jumat sehat dan tamparan maut

Kuliah jauh dari orangtua itu secara nggak langsung membuat seseorang untuk bisa hidup lebih mandiri. Hidup tanpa kebergantungan sama orang lain. Hidup sendiri, makan-makan sendiri, nyuci-nyuci sendiri, tidur pun ku sendiri... uwoooh *malahnyanyi.
Mungkin banyak banget mahasiswa-mahasiswa yang kuliah jauh dari orangtua ngerasain yang namanya home sickness. Kangen sama orangtua. Kangen sama makanan orangtua. Kangen untuk minta duit jajan yang lebih dari orangtua. Dan beruntungnya gue ngerasain penyakit itu ketika di pondok. Jadi sekarang udah agak kebal lah. Terkadang gue mau balik lagi jadi anak kecil sih. Bisa bebas dari segala permasalahan yang gue punya. Bebas dari masalah keuangan, masalah pertemanan, bahkan hingga permasalahan percintaan. Waktu kecil, nggak mungkin ada yang manggil gue 'Aloo, Mblo'. Ketika gue kecil, semua orang pada suka sama gue, karena dulu gue imut. Sekarang juga masih kok. Semoga. Tapi ada yang bilang, muka gue kayak ngajak brantem. 
SUKA-SUKA GUE LAH, KAN INI MUKA GUE, SEM!!
Okeh, lanjut 
Pipi gue dulu sering dicubit, badan gue sering dipeluk, kalo pergi-pergi sering dikasih uang jajan, kalo laper dikit langsung dikasih makanan banyak. Makanya badan gue sekarang nggak kurus. Dan kalo pun gue bisa kembali lagi jadi anak kecil, gue nggak akan pergi-pergi lagi. Gue nggak pergi keluar rumah untuk naik sepeda dan ngejar layangan siang-siang. Hasilnya kayak sekarang.... *EHEM kulit gue nggak putih.
Hari Jumat adalah hari libur untuk semua orang yang tinggal di negri Piramid. Kayak jumat pagi kemarin. Jadwal gue adalah olahraga bareng almamater pondok gue dulu. Judulnya sih ‘IKPM sehat’. IKPM itu singkatan dari Ikatan keluarga pondok modern. Itu nama almamater pondok gue disini. Mottonya sih, ‘Di badan yang sehat terdapat sedikit lemak’. Secara nggak langsung, mottonya nyinggung perasaan gue. Kayak ngajak brantem gitu lah. Untung yang bikin motto itu, senior gue. Coba yang bikin seangkatan sama gue. Heemm.... nggak gue apa-apain sih. Paling bilang, ‘Heemm’ doang depan mukanya. Gue ngomongnya pas nyeruput kuah soto lagi. Enak banget itu pasti mukanya. Bakalan GURIH.
Mottonya itu loh, ngajak brantem
Lagi pula jadi orang yang gemuk itu nggak ada salahnya kok. Ketika orangtua ngirimin uang buat lo, kemudian mereka bertanya tentang uang yang dikirim,
‘Duit yang mamah kirim buat apa, nak?’
‘Buat ini, mah. Liat aja sendiri’ *sambilnunjukperut.
Tuh kan. Ketjee nggak alasan gue?
Okeh, balik ke topik.
Sebenernya undangan buat olahraga itu, buat semuanya. Semua anak-anak almamater gue. Tapi yah kayak gitu. Yang dateng hanya segelintir orang aja. 

Cuman segini yang dateng
Padahal santri gue lebih banyak dari gambar ini

Gue terkadang heran, waktu libur kayak gini mereka malah sibuk belajar. Acara olahraga kayak gini, nggak dilakuin tiap minggu juga. Yah, mungkin emang mereka lagi mau fokus aja. Mungkin. Toh, kita emang nggak bisa maksa kehendak orang lain kan? Sekalipun itu temen deket. Tapi terkadang gue kagum sama mereka. Yang bisa mengikuti kata hatinya untuk belajar, ketimbang mengikuti ajakan temennya untuk olahraga. Ngefans gue.
Olahraga hari itu di tutup dengan sebuah kenangan. Kenangan gue main futsal dan membuat dua orang terkapar di lapangan. Dan kenangan bermain basket, lalu membuat satu orang terkapar juga dilapangan. Setalah bolanya berhasil gue blok. Sampai badan pemainnya jatoh di lapangan. Antara seneng, bahagia, dan iba jadi satu.
Mukanya nggak biasa kan ya? karena dia yang bikin mottonya

Banyak kan?
Tapi yang olahraga segini doang
Kalo di komentatorin, mungkin bakalan kayak gini,
“Yah, pemain musuh menerima operan bola dari temannya. Satu orang ditipu, dua orang berhasil diltipu juga. Astagfirullahaladzim. Istighfar, nak. nggak boleh nipu orang. Dosa. Masuk neraka loh. Oh dia jomblo kayaknya sodara. Nggak heran juga sih. Okeh, sekarang kita fokus ke lapangan lagi. Dia masih membawa bola. Sekarang dia hanya berhadapan dengan satu orang untuk mencapai ring lawan. Lompatan yang indah. Dia lay up, tapi apa yang terjadi... dengan mudah, musuh menghentikan bolanya. Aah.. sayang sekali. Hanya dengan satu tangan orang itu bisa mem-blok. Sampai jatuh. Pemain yang membawa bola itu jatoh sodara...  Wahahah... rasain!! Pantat duluan lagi yang jatoh. Sakit tuh pasti. Wahahahah!!! Oper makanye!! Jomblo sih. Hahahah”
Eer... komentatornya agak kejam emang.
Kebetulan gue yang berdiri dibawah ring. Depan gue yang mau nge-lay up
Selesai olahraga, gue masih kefikiran tentang sesuatu. Bukan mereka. Orang-orang yang sukses gue bikin cidera kakinya. Bukan. Tapi mereka, temen-temen gue yang bisa megang prinsip yang dipunya, tanpa terpengaruh sama omongan orang lain. Sedangkan gue sampai saat ini, masih terpengaruh dengan perkataan orang lain. Mau kuliah tapi nggak ada temennya, ujungnya tidur lagi. Mau belajar tapi temen ngajak makan, ujungnya ikutan makan. Padahal udah makan sebelumnya.
Gue bener-bener tertampar dan seolah baru sadar sekarang. Tertampar dengan mereka. Temen-temen gue yang bisa megang prinsipnya itu. Pengen gue peluk jadinya. Sejatinya kesuksesan seseorang itu memang diciptakan oleh diri sendiri. Bukan dari orang lain. Contohnya gini. Seandainya diri lo gagal naik kelas, apa temen lo bakalan tetep di kelas yang sama, bareng lo? Padahal dia naik kelas? Nggak mungkin. Mau mengatas namakan sebuah persahabatan? Dia punya orangtua. Dan kewajibannya adalah membahagiakan kedua orangtuanya lah. Kalo sahabat, bakalan ngajak temennya untuk belajar bareng. Senggaknya, dia bakalan nyindir temennya yang males kuliah dengan dp BBMnya, yang nunjukin dia duduk di depan dosen.
Yah, semoga kita semua bisa jadi orang-orang yang megang teguh prinsip dan nggak ikut perkataan orang lain. Sama halnya kayak cinta sih. Kalo kata orang lain pacar gue nggak cantik, tapi gue akan selalu bilang dia cantik. Dia akan selalu menjadi wanita yang sempurna dalam hati gue.
Eer... sebenernya temen gue nggak ada yang bilang kayak gitu ke gue sih.
Kan lo yang JOMBLO, nyiit...
*mati

Monday, 17 November 2014

Aku, kamu, Piramid

Minggu kemarin jadwal gue adalah jalan-jalan. Bahasa halusnya, menjelajahi setiap bangunan dan tempat-tempat bersejarah yang ada di Mesir. Bahasa kerennya, travelling gitu lah.  Tapi niat aslinya sih jalan-jalan aja. Jalan-jalan berhadiah sih. Yah, selain buat nambah pengalaman dan sedikit pengetahauan tentang tempat bersejarah yang ada di Mesir, siapa tau gue nemu cewe yang khilaf suka sama gue. Siapa tau kan? Namanya juga manusia, yang bisa dilakukan hanya usaha dan doa. Aiiih sedapp.
Perjalanan pertama, menuju salah satu keajaiban yang ada di dunia. Salah satu bangunan bersejarah yang hanya ada di Mesir. Bangunan istimewa bagi penduduk Mesir. Apalagi kalo bukan Piramid dan Spinx. Tapi tetep kamu kok yang istimewa di hati aku. Emuuach.
Gilani pek

Perjalanan ini di adakan oleh almamater sekolahan gue. Almamater SMA, lebih tepatnya. Err… bukan SMA juga sih,tapi pondok. Iya pondok pesantren. Berhubung jumlah para lulusan pondok gue banyak di Mesir, makanya ngadain jalan-jalan kaya gini. Kalo gue liat promonya, mulai dari promo di sosmed dan tulisan di bannernya, pasti ada tulisan #ArmadaJelajahKairo. Kalo menurut gue sih kurang. Seharusnya di tambahin #PariwisataBerhadiah #JalanJalanDiKairoMen #JalanJalanBertemuJodohMen #HarusDapetJodoh #AkuKamuCinta #ParaTunaAsmaraMencariCintaah #AqwuuhCayanggKamooeh.
Eer… emang agak bikin sedikit mual dan menjijikan sih tulisan yang terakhir.
Sebelum perjalanan di mulai, para senior-senior udah memperingatkan bahwa nanti di Piramid nggak usah sok akrab sama orang Mesir. Jangan ada yang mau diajak foto bareng. Jangan naik onta sebelum bilang sama seniornya. Abaikan aja orang-orang Mesir yang sok akrab di piramid nanti. Yang terakhir itu, gue udah kebal kok. Udah kebal diabaikan. Tisu mana tisu...!! Semua larangan itu di karenakan akan menguras kantong. Diajak foto bareng, ujung-ujungnya si orang Mesirnya minta uang. Naik onta, yang seharusnya bayar sekitar tiga pond, bakalan di naikkin sampe seratus pond. Kejam banget. Jomblo sih, makanya kejam mereka.
Kan yang jomblo itu elo, cuut
Karena para senior-senior peduli dan sayang terhadap para juniornya, makanya mereka memperingatkan tentang hal itu. Mulai sebelum keberangkatan, di bis, sampai di Piramidnya, senior-senior gue selalu mengingatkan. Lama-lama gue cium juga nih senior gue.
Perjalanan di mulai sekita jam delapan pagi. Tujuannya adalah Piramid di Giza. FYI, di Giza terdapat tiga piramid berukuran besar. Satu patung spinx. Dan tiga piramid berukuran kecil. Piramid-piramid kecil itu katanya sih, pemerintah yang bangun. Tiga piramid yang besar, yang gue lupa namanya ini, sebelumnya tertimbun tanah, dan baru ditemukkan. Informasi yang gue dapet dari senior yang merangkup sebagai tour guide, piraimid ini udah kebagun ratusan tahun yang lalu. Yah sebelum ada Nabi Musa. Kalo nggak salah denger gitu sih. Dan semua bangunan ini murni dibangun oleh orang zaman dulu. Mulai dari bawa batunya, dari sungai sampai ke Giza, sampai nyusunnya juga, semua dilakuin oleh manusia. Ukuran batunya juga subhanallah. Panjangnya kira-kira dua sampai lima meter. Lebarnya… pokoknya lebih lebar dari badan gue lah. Kayak gini nih bentuknya.
Keliatannya aja kecil, tapi gede banget.
Kagum, takjub, semuanya jadi satu. Alhamdulillah, gue masih diberi kesempatan untuk bisa melihat bangunan Piramid. Salah satu kejaiban dunia. Gue juga nggak kebayang, badan-badan orang dulu tuh segede apaan. Bisa bawa batu segede gini.
Sekarang lebih baik gue tunjukkin gambar-gambarnya aja deh ya. Selain bikin iri, siapa tau kalian bermimpi buat berkunjung kesini. Percaya aja deh, terkadang mimpi-mimpi gitu akan terwujud.
Makan risol di Piramid itu, sesuatu banget

Lagi khilaf narsis


Kenapa ontanya yang narsis _ _"
Piramid kecil yang gue maksud, yang ada di sebelah kanan itu. Piramid setengah jadi
Setelah puas foto-foto di Piramid, rombongan gue beranjak ke Spinx. Sayangnya, di Giza patung Spinxnya sisa satu dan yang satu lagi hanya sisa kakinya doang. 

Patungnya yang KANAN!!
Tour guide gue yang nggak lain senior gue bilang, kalo patung Spinx ini punya hal yang menarik. 
“Kalian tau kan, kalo patung Spinx ini bermuka manusia dan berbadan singa? Tapi bukan itu aja yang menarik dari Spinx. Ternyata patung Spinx ini nggak punya hidung loh. Kasian banget kan, dia udah ratusan tahun tapi nggak bisa nafas. Hahahaha…. Ha… Ha…”
Sedih gue liat ekspresi senior gue. Semoga dia cepet dapet jodoh. Amiin. Gue juga nggak tau sih, hubungannya patung Spinx sama istri. Tapi, senggaknya kalo pun ke depannya nanti masih tetep garing, istrinya bisa dipaksa buat ketawa

Monday, 10 November 2014

Someone like you


Senyuman bibir manis itu menghiasi wajah indah seorang gadis. Wajah seorang gadis yang terdapat di layar ponselku. Seorang gadis yang sampai kapan pun, tidak akan pernah bisa ku lupakan dari ingatanku. Gadis berkerudung yang memiliki senyuman indah dan memiliki sepasang bola mata yang memberikan sebuah kehangatan.
Dinginnya malam, membuat rasa rindu ini muncul dua kali lipat. Rindu yang akan selalu muncul, ketika diriku melihat wajahmu di balik layar ponselku. Aku benci untuk mengakui ini. Tapi aku sungguh ingin melihat dirimu tersenyum sekali lagi. Senyuman yang akan selalu memberikan sebuah kehangatan dan rasa nyaman.
***
‘Hei, lo Arul kan? Sorry ya tadi lama. Gue abis ujian TOEFL, jadinya agak telat. Sorry ya’
‘Oh, nggak apa-apa. Gue juga baru dateng kok. Lo Rani kan ya?’
‘Iya gue Rani. Salam kenal ya, Rul. Sekarang gue traktir deh. Sebagai permintaan maaf gue, karena telat dateng. Hihi’
Hari itu, pertama kalinya aku melihatmu secara langsung. Melihat senyuman indah yang terlukis dari bibirmu. Dan tentu saja aku melihat sepasang bola mata indah milikmu itu. Sepasang mata berwarna kecokelatan milikmu, yang selalu memberikan kebahagiaan bagi orang lain yang meilhatmu. Demi apapun juga, aku tidak akan pernah mengizinkan orang lain membuat dirimu terluka. Terlebih, membuat mata indahmu itu mengeluarkan air mata.
***
“Ran, bentar lagi gue sampe di PIM”
“Gue udah di gramednya ya, rul. Kalo udah sampe langsung ke gramed aja oke”
“Siap nyonyah. Heheh.”
“Iih, apaan sih lo, Rul”
Tut. Sambungan telefon itu terputus.
Dua minggu setelah pertemuan pertama, aku mengajakmu lagi untuk bertemu. Sebetulnya tidak perlu waktu lama bagiku untuk merasakan rindu terhadapmu. Aku selalu rindu dengan senyumanmu itu.
Mungkin saat itu, Allah mendengarkan dan langsung mengabulkan sebuah permohonanku. Permohonan agar diriku bisa melihat senyuman milikmu lagi. Egois memang. Tapi senyumanmu layaknya candu yang memberikan rasa nyaman bagiku. Aku ingin menikmati senyumanmu  sekali ini saja. Menikmati senyumanmu lebih lama lagi.
Senyummu, tertawamu, caramu bercerita tentang keseharianmu, serta kepercayaanmu terhadapku untuk mendengarkan segala ceritamu, merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa aku jelaskan. Aku terlalu takut untuk menghancurkan semua hal yang telah kubangun bersama dirimu. Aku hanyalah pecundang yang tidak bisa mengungkapkan perasaan ini terhadapmu.
***
Sudah enam bulan berlalu,sejak kepergianmu. Tidak ada lagi senyuman indah yang bisa ku lihat dari bibir indahmu. Terkadang kodrat sebagai lelaki yang seharusnya selalu tegar dalam segala hal, sering kali aku langgar. Akan selalu terselip namamu dalam doaku. Akan selalu terucap namamu di setiap sujudku. Yang hanya bisa aku lakukan saat ini adalah mendoakan untuk kebahagiaanmu. Walaupun itu bukan bersamaku.
Pertemuan kedua kita di Pondok indah mall itu menjadi pertemuan terakhir bagi kita.
‘Rul, gue pamit ya’
‘Lah, lo emangnya mau kemana? Kan gue baru sampe’
‘Bukan itu maksud gue, Rul. Hahah. Lo inget nggak, kalo gue pernah ikut ujian TOEFL?’
‘Oh, iya gue inget. Yang gara-gara itu, lo terlambat dateng kan?’
‘Betul banget. Itu salah satu persyaratan kuliah gue, Rul. Gue bakalan lanjut kuliah di luar negri. Maaf ya, Rul. Gue baru bisa ngasih tau kabar ini ke lo’
‘…’
‘Hihih, sorry ya, Arul. Terimakasih untuk dua minggu ini. Walaupun gue baru kenal, tapi gue seneng banget kok bisa kenal lo’
‘…’
‘Kita masih bisa hubungan kok, Rul. Muka lo biasa aja dong. Hahah. Lucu tau kalo liat muka lo kayak gitu’
‘Kita masih akan temenan kan, Ran?’
‘Iya, Rul. Sekarang dan untuk selamanya.’
Walaupun sebenarnya diriku masih belum bisa menerima kepergianmu, tapi aku tau suatu saat nanti, cepat atau lambat aku akan mengalami fase ini. Tapi aku tidak akan pernah menyangka kalo akan mengalami hal ini secepat seperti ini. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi. Aku ingin lebih lama melihat senyumanm itu lagi. Aku ingin lebih lama bersamamu.
When you said your last goodbye
I died a little bit inside
I lay in tears in bed all night
Alone without you by my side

Lagu Kodaline yang berjudul All I want menjadi lagu favoritku saat ini. Sudah tidak terhitung berapa seringnya, lagu itu menghiasi earphoneku.Walaupun aku membenci merindukanmu, yang berarti aku hanya akan mengingat masa lalu lagi. Tapi di lain sisi aku menyukai itu. Aku bisa merasakan lagi senyuman indahmu. Aku bisa merasakan tawamu lagi. Aku bisa merasakan semua hal, ketika diriku bersamamu lagi. Aku bisa merasakan bahwa dirimu ada disampingku.
Terkadang cara untuk mencintai seseorang adalah dengan melepaskannya. Dengan melihatnya bahagia, walaupun bukan bersama diri kita lagi. Mendoakannya adalah salah satu cara termudah untuk mencintainya. Dirimu akan selalu ada dalam ingatanku. Terimakasih untuk semuanya. Aku akan selalu mendoakan dirim dari sini. Semoga kamu baik disana. Dan aku harap, seseorang yang bersamamu saat ini, senantiasa menlindungi dirimu. Dan menjaga senyuman indah itu selalu ada.
Cause if I could see your face once more
I could die a happy man I’m sure


sumber: http://widehdwall.com/

Thursday, 6 November 2014

November istimewa

Dalam setahun, terdapat dua belas bulan. Dan bulan November menjadi bulan favorit gue setelah bulan Ramadhan. Semua orang pasti tau kalo bulan Ramadhan itu adalah bulan puasa. Bulan yang melipat gandakan sebuah amal kebaikan. Tidurnya orang puasa itu dapet pahala. Makanya, gue seneng banget tidur. Tapi terlepas dari itu semua, bulan Ramadhan menjadi salah satu bulan favorit gue, karena di bulan itu lah, para santri pulang ke rumah. Di bulan itu lah, gue bisa makan buatan nyokap gue. Di bulan itu lah, gue bisa memperbaiki gizi gue. Dan di bulan itu juga,  gue dan temen-temen pondok gue bisa kumpul bareng dan ngomongin orang pacaran yang duduk di sebelah kita,
Subhanallah, itu cewe, cantiknya kebangetan
Astagfirullah, cakep-cakep gitu, ternyata hewan peliharannya serem juga ya
Yaa Allah, itu pacarnya?! Gila..!! masih gantengan gue kali ketimbang tuh peliharaan. Eh, tuh cowo maksudnya
Tentunya, omongan itu semua menggunakan bahasa arab. Kalo pake bahasa Indonesia, mungkin sekarang gue nggak nulis hal ini.
Bulan ini adalah awal masuk musim dingin di Mesir. Lo nggak percaya kalo disini ada musim dingin? Kita tukeran deh yuk. Setiap malem, harus pake selimut kalo nggak mau kedinginan. Meskipun udah make jaket, dinginnya akan tetep terasa. Apalagi yang JOMBLO *Capslock mode on, pasti bakalan ngerasain dingin yang lebih. JOMBLO sih lo!!! Selimut yang digunain disini juga berbeda dengan yang ada di Indonesia. Yah, lo bayangin aja, bulu dada orang Mesir aja lebih tebel dari punya orang Indonesia. Apalagi selimutnya??!
Err... gue juga masih nggak tau, apa korelasi antara bulu dada sama selimut sih.
Hari selasa kemarin, gue disibukkan dengan berbagai macam kegiatan almamater. Dari pagi sampe sore. Dan baru ketika malam hari, gue sampe di daerah perumahan tempat tinggal yang gue tempatin. Sebelum pulang, kita berencana untuk istirahat dulu di salah satu... yaah, anggep aja cafe gitu. Kalo di Indonesia bakalan sering nemuin banyak angkringan dan di penuhi orang-orang sibuk yang sedang menikmati secangkir kopi. Di Mesir beda. Disini nggak ada yang bilang ‘ngopi yuk, bro’ yang ada itu kayak gini ‘ngasob yuk, qaqa’. *ini kode, biar dibayarin sama senior. Ngasob itu setau gue adalah minum air tebu. Nggak hanya tebu, tapi di tempat ini, dijual jus juga. Iya, kalian nggak salah baca dan gue emang bener ganteng kok. Seriusan.
Nggak nyambung, nyet
Selepas dari acara ngasob together, gue di tarik adek gue menuju sebuah restoran. Iya, adek kandung gue.  Alhamdulillah, gue pergi ke Mesir bareng adek kandung sendiri dan bukan adek-adek an. Jujur aja saat itu, gue udah nggak tahan dengan dinginnya kota Cairo. Tapi karena dipaksa sama adek sendiri, gue nggak bisa nolak. Apalagi ketika gue hendak meninggalkan restoran, mata adek gue sampe berkaca-kaca. Gue juga kurang tau, kapan adek gue suka makan kaca jendela (?).

Kecee kan
Hari ini, hari yang kau tunggu

Bertambah satu tahun, usiamu

Bahagialah slalu
Lagu Jamrud terdengar di seluruh restoran dan seketika itu juga, adek gue membawa sebuah kue ulang tahun. Sedih, bahagia, bangga, campur jadi satu. Ini perdananya gue ulang tahun dan dibawain kue kayak gini. Terlebih sama adek gue sendiri. Ketika adek gue bawa kue, samar-samar ada suara yang berkata,
‘Ciyeee yang jomblo selama dua puluh tahun. Selamat ya’
GUE TUSUK PAKE GUNTING KUKU, TAU RASA LO, SOF!!
Oke, sorry. Tadi kebawa suasana.
Thank you so much, dear


Acara makan-makan kue ini berakhir dengan berakhirnya gue di’eksekusi’oleh para temen-temen Mumtaza. Ketika hendak foto bareng, rambut keceeh ini, harus rela diceplokin telor. Dan ketika itu ada anak kecil arab yang berbicara di samping gue,
Anak kecil: Yaa sohbi, yaa sohbi  (hooi, bang)
Gue: *nengok ke samping
Anak kecil: hahaha
PUKULAN BEDUG MANA?? PEKULUAN BEDUG DIMANA?!! GUE KETOK JUGA TUH HIDUNG BIAR NGGAK SONGONG LAGI LO!!!   
 Ternyata temen-temen gue nggak puas hanya dengan nyeplok telor. Ketika pulang, mereka dengan membabi buta dan tanpa ampun, melempari gue dengan terigu. Lemparnya bener-bener semangat. Udah kayak orang lagi ngelempar jumroh, pokoknya. Semangat banget.


Penderitaan gue nggak hanya disitu aja.
Malam berikutnya gue dikasih kejutan lagi dari temen-temen almamater. Dikejutkan lagi dengan kue ulang tahun. Karena kejadian kemarin, mulai dari diceplokin dan dilempar terigu masih teringat jelas dalam otak gue. Teradang, gue suka horor sendiri kalo liat temen-temen gue. Yah, muka mereka memang susah untuk diajak berdamai. So, gue jaga jarak dengan mereka. Dari pada harus berakhir dengan ceplokan telor lagi.

Mukanya songong. Emangnya gue peduli?

Bersyukurnya hanya sisa kue yang kena kepala gue. Kue itu, campuran dari telor dan terigu. Intinya sama aja sih. Sebelum kena kue, gue udah berusaha kabur. Tapi apa daya. Pada akhirnya gue sukses jatoh di jalan, di ketawain orang Mesir, dan temen-temen dengan semangat lempar sisa kue ke kepala dan muka. Mereka pun tertawa bahagia. Bahagia, melihat temennya ini terdampar di jalanan. Udah kayak badak terdampar di lautan. Pokoknya tragis.

Thanks so much, bro and sis

Sunday, 2 November 2014

Hari pertama Orientasi Mahasiswa Baru di Mesir

Kewajiban pertama yang di jalankan oleh para mahasiswa baru, apalagi kalo bukan Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA). Meskipun saat ini gue kuliah di Mesir, tetep aja ada acara kayak gini. Sebenernya bukan ORMABA kayak di Indonesia juga sih. ORMABA disini lebih untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan yang dimiliki negri Mesir. Negri yang memiliki julukan seribu menara. Negri yang memiliki sejarah tentang Firaun. Negri yang mempunyai sungai terpanjang di dunia. Dan, semoga di negri ini, gue bisa menemukan belahan jiwa gue. Emm.. yah, kalo pun bukan belahan jiwa, semoga aja ada cewe khilaf yang naksir gitu.

Bersyukurnya menjadi mahasiswa perantauan, punya banyak temen baru dari berbagai penjuru negri. Hal itu juga yang menyadarkan gue, ternyata hitamnya orang Indonesia itu jauh lebih ‘baikkan’ di bandingkan dengan negara-negara lain. Entah kenapa, gue bahagia banget nulis kata-kata barusan. Dan para senior-senior yang lebih dulu tinggal di negri ini, juga akan lebih banyak berbagi pengalamannya kepada para junior-juniornya. Biasanya sih, sering dibeliin makanan khas Mesir dan di bayarin ongkos naik bis. Kalo cewe, gue peluk juga nih senior-seniornya. Ketika acara Orientasi Mahasiswa baru, senior sini juga nggak ada yang nyuruh,
"Sekarang kalian jalan jongkok muterin Piramid"
Yang ada tuh kayak gini,
"Kamu udah makan belum? Minum dulu nih, seret kan? ini tisunya, ada bekas sisa makanan di bibir kamu tuh"
Sayangnya yang bilang gitu adalah senior cowonya.
*Kemudian ada hening yang panjang... Panjang banget...
Hari pertama orientasi mahasiswa baru, terletak di Meeting hall fakultas Ushuluddin. Perjalanan dari tempat tinggal gue ke tempat itu terbilang cukup jauh. Sekitar satu bulan, lah.
Yee kalii dah, nyet
Lupakan bayangan para mahasiswa ber-sepeda ria di jalanan yang bersih sambil mendengarkan lagu sakitnya tuh disini versi Mesir. Kemudian mata ini disajikan berbagai bunga-bunga berguguran, dan telinga ini mendengarkan nyanyian merdu dari suara burung-burung. Jangan bayangkan hal itu terjadi disini.
*err.... ngeri jugasih kalo bayangin orang arab nyanyi lagu sakitnya tuh disini, sambil megangin dada. Emm.. megangin bulu dada mereka sih lebih tepatnya.
Lupakan tentang itu semua. Kenyataannya, gue dan seluruh mahasiswa dari Indonesia harus desak-desakkan naik bis delapan puluh coret bersama orang-orang Mesir, Nigeria, dan sebagainya. Yang tentunya, ukuran badan mereka jauh lebih besar dari orang Indonesia. Dan pada akhirnya, muka kita sejajar dengan ketek mereka. 

Terlebih hidung dan bulu dada mereka. Dan sejauh mata ini memandang, hanya terdapat hamparan padang pasir. Dan kuping ini akan sering mendengarkan ‘ala gambik, yaa astoh anzil huna yaa astoh, lau samah ‘akuuuh cintaaa kamuu Fauziii. Muahh muaahh muaah’ kalimat pertama dan kedua, itu yang biasanya di ucapin penumpang buat nyuruh supirnya berenti. Emm... kalo kalimat yang terakhir itu, angan-angan gue aja sih. Yaa, mungkin aja setelah baca tulisan ini, ada yang manggil gue kayak gitu. Mungkin. 
Sampainya di meeting hall, hampir seluruh bangku-bangku udah terisi penuh. Sebenernya gue kurang semangat juga sih ikutan beginian. Soalnya ketika gue kuliah di Indonesia, udah pernah ngerasain hal kayak gini. Tapi ternyata dugan gue kalo acara ORMABA itu nggak enak, salah. Gue baru sadar, ternyata acara ORMABA kayak gini dengan secara nggak langsung , mengumpulkan seluruh mahasiswa dari Indonesia untuk berkumpul dalam sebuah ruangan. Perjuangan gue pergi naik bis tadi pagi, mulai dari desak-desakan sama orang arab, cium bau keringet mereka, dan liat bulu dada mereka yang berlomba-lomba keluar dari kemeja , terbalaskan semua. Sekarang gue bisa ketemu dengan semua mahasiswa-mahasiswi Indonesia. Mahasiswi-mahasiswinya cantik-cantik lagi.

Eemm... sebenernya gue nggak terlalu semangat liat para cowo-cowonya sih. Gue lebih semangat liat cewe-cewenya. Yah, selama tujuh tahun gue di pondok emang nggak pernah ngerasain satu ruangan sama cewe sih. Tragis yak?
 *Tisuu mana tisuuu!!!
Orientasi hari ini tentang perkenalan kampus yang di sampaikan oleh staff kampusnya sendiri. Mulai dari jurusan-jurusan yang ada disini, pengenalan tentang Tallaqi, bagaimana pembagian agar perkuliahan dan tallaqi bisa berlangsung lancar. Yang terakhir itu sebenernya pertanyaan yang ditanyain temen gue sih. Yah, temen gue itu emang terkenal sebagai orang yang rajin dalam mengajukan berbagai pertanyaan. Dan tentunya semua itu disampaikan dan ditanyakan dengan bahasa arab.
*yee kali pake bahasa sunda, nyet
Untuk hari-hari ORMABA selanjutnya, gue akan cerita di cerita berikutnya yak... Masih banyak keseruan dari kegiatan ORMABA di Mesir.

sumber foto: http://aldiansahprayogi.blogspot.com/2010/07/taukah-kamu-cara-menghilangkan-bau.html

Wednesday, 22 October 2014

Sebuah perjalanan dan kecupan tak terlupakkan

Kuliah di Mesir, kurang afdhol rasanya kalo nggak pergi ke sungai terpanjang di dunia. Sungai Nil. Sungai yang memberikan limpahan air nya, kepada beberapa negara di tanah Arab. Sungai yang membuat tanah Arab nggak gersang. Sama kayak kamu gitu lah, muaach. *okeh, itu emang agak sedikit geli. Sungai yang punya beberapa restoran kece dan penari perut. Yang terakhir itu sih, yang bikin gue greget pergi ke sungai Nil *eeh.
Perjalanan ini gue lakuin bareng tiga temen gue yang lain dengan bis. Bis Mesir harganya murah, anti ngetem, tapi tetep rawan maling. Gue hanya perlu mengeluarkan uang dua pond Mesir, untuk bisa sampai kesana. Satu pond, kisaran seribu tujuh ratusan lah. Sebenernya bukan gue sih, temen gue yang bayarin. Aah... baik banget temen gue. Kalo cewe, gue peluk juga nih.
Gue sering denger pesan dari senior-senior sini, kalo bis Mesir itu rawan maling. Mulai dari hape, laptop, dompet, semuanya diambil. Tapi hati aku, cuman kamu doang kok yang bisa ngambil.
Hiih... gilaniii
Salah satu sifat orang Mesir itu, nggak mau kalah. Buktinya, kendaraan disini selalu bunyiin klaksonnya tiap menit. Sama-sama nggak mau ngalah. Kalo di Jakarta sering banget dibuat kesel dengan kelakuan supir metro mini. Kalo di Mesir, lo bakalan kesel dengan setiap pengemudinya. Yah, mereka semua kayak supir metro mini. Bedanya, hidung mereka lebih panjang dan muka mereka mirip orang arab.
Ye menurut lo?
Beruntung banget, gue dapet bis yang masih sepi penumpangnya. Jadi bisa duduk santai dan manis. Yah, semanis kamu lah. Kalo di Indonesia, paling seneng banget duduk sebelahan sama lawan jenis, kalo disini beda. Perempuan Mesir, kalo di ajak ngobrol sama cowo bakalan ngerasa ter-hina. Lupakan bayangan dikejar-kejar sama perempuan sini, di ruqyah-in, mungkin iya.
Kita sampai di Nil, malam hari. Tujuannya biar bisa liat pemandangan malam sungai Nil yang indah, sinar bulan yang menerangi sungai Nil, dan sinar lampu yang mengelilingi sungai Nil. Indah banget loh,  Mesir di malam hari.
Bohong deng. Gue pengen liat penari perutnya kok.
Night in Nile city

Mahasantri
Sampai di tempat, mata gue langsung terarah ke kapal-kapal yang ada di sungai Nil. Kata temen gue, di kapal itu lah penarinya joget. Emmm.... goyang. Emmm.... menari. Nah, di kapal itu lah penari itu menari.
Sejauh mata memandang, nggak ada tanda-tanda ada penari di kapal. Kebanyakan kapalnya kosong. Yang terdengar hanya lagu dangdut khas Mesir.  Tapi, ketika mata gue terarah ke kapal yang lain, di situ gue baru liat penarinya. Dia berjenggot, mancung, lobang hidungnya cukup gede, cukup buat menghirup gajah *yee kali dah, berjakun, bulunya tebal ngalahin bulu bang Ridho Rhoma. Ternyata yang nari cowo bukan cewe.
Lelah telah di bohongi temen, kita mampir di salah satu penjual say (teh). Sepanjang pinggiran Nil, bakalan banyak ditemukan penjual say. Sambil nungguin say, kita mesen jagung bakar. Udara saat ini, memang nge-dukung banget buat makan jagung bakar. Fikiran gue untuk makan jagung bakar kayak di puncak, punah seketika. Gue baru tau, jagung bakar disini nggak ada rasanya sama sekali. Nggak ada rasa manis-manisnya. Disini cuman jagung yang dibuka kulitnya, kemudian di bakar sama arang. Udah gitu aja. Nggak ditambahin apa-apa. Asem. Hambar. Se-hambar hidupnya para fakir asmara. *uwoooh
Kecupan ituu....
Ketika asyik menikmati sebuah say yang alhamdulillah manis, seseorang menghampiri kita. Seorang anak kecil penjual bunga mawar. Walaupun gue belum terlalu paham dengan bahasa gaul disini, gue sedikit paham dengan maksud si anak kecil ini.
Anak kecil: #$@%%*!
Gue: *ooh dia mau jual bunga mawar. Nggak mungkin dia ngatain gue berempat tuna asmara. Eemm.. sekarang emang lagi bareng temen-temen cowo doang sih.
Hal yang dia lakukan kemudian, adalah menghampiri salah satu temen gue. Fikiran gue, anak ini mau membisikkan sesuatu, karena dia membungkukkan badannya. Dugaan gue salah. Anak ini memonyongkan birbirnya dan ingin mencium pipi temen gue. WAHAHA, CIUM AJA DEK. CIUUM!!! RASAIIN LOO DI CIUM BOCAH. WAHAHA!!
Sorry, gue kebawa suasana.
Beruntung, temen gue ini bisa menghindar. Tapi... nggak untuk temen gue yang satunya lagi. Pipi dia kena cium dari anak kecil itu. Rasa kasian dan seneng jadi satu. Gue bingung harus ketawa atau prihatin. Ketika itu gue lebih prihatin, akan nasib yang menimpa temen gue. tapi sekarang gue ketawa, WAHAHAH RASAIIIN LO. HAHAHA. DI CIUM SAMA BOCAH. COBA KALO KEMAREN GUE YANG KENA CIUM, SEKARANG GUE YANG NGETAWAIN DIRI GUE SENDIRI KAN. HAHAH!!
*kemudian ada hening yang panjanggg
Okeh, ini sebagian fotonya. Ada yang di sungai Nil, dan satu lagi di bangunan eropa.
Bangunan klasik

Lagi nge-say

At bangunan tua

Bukan boy band. Apalagi girl band